<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Cahaya ISLAM</title>
	<atom:link href="http://abuaqilah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abuaqilah.wordpress.com</link>
	<description>Mencari Titik Terang Kemurnian Islam</description>
	<lastBuildDate>Thu, 21 Jul 2011 07:48:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='abuaqilah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Cahaya ISLAM</title>
		<link>http://abuaqilah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://abuaqilah.wordpress.com/osd.xml" title="Cahaya ISLAM" />
	<atom:link rel='hub' href='http://abuaqilah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Meraih Kebenaran al-Ghadir</title>
		<link>http://abuaqilah.wordpress.com/2008/01/02/meraih-kebenaran-al-ghadir/</link>
		<comments>http://abuaqilah.wordpress.com/2008/01/02/meraih-kebenaran-al-ghadir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jan 2008 05:56:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahaya Islam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuaqilah.wordpress.com/2008/01/02/meraih-kebenaran-al-ghadir/</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Ghadir Khum adalah sebuah tempat yang berlokasi dekat Al-Juhfa yang merupakan tempat perlintasan bagi para jamaah haji yang ingin menuju Madinah, Mesir, Irak, Suriah, Najaf dan ke seluruh negeri lainnya. Tempat tersebut sangatlah strategis sebagai tempat peristirahatan dalam perjalanan mereka. Tempat tersebut menjadi tempat yang bersejarah yang dikenal dengan peristiwa &#8216;al-Ghadir&#8217;, disitulah Rasulullah Saaw [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=99&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><a href="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2008/01/images47.jpg" title="images47.jpg"><img src="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2008/01/images47.thumbnail.jpg?w=500" alt="images47.jpg" /></a><a href="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2008/01/images47.jpg" title="images47.jpg"></a></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><i></i></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><i></i></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><i>Ghadir Khum</i> adalah sebuah tempat yang berlokasi dekat Al-Juhfa yang merupakan tempat perlintasan bagi para jamaah haji yang ingin menuju Madinah, Mesir, Irak, Suriah, Najaf dan ke seluruh negeri lainnya. </font><font face="Times New Roman">Tempat tersebut sangatlah strategis sebagai tempat peristirahatan dalam perjalanan mereka. Tempat tersebut menjadi tempat yang bersejarah yang dikenal dengan peristiwa &#8216;al-Ghadir&#8217;, disitulah Rasulullah Saaw mengumunkan tentang seorang pewaris khilafah spritual dan duniawi yang akan menggantikan<span>  </span>kedudukan beliau sebagai penerus<span>  </span>risalah Ilahi, <span> </span>akan mampu bertanggung jawab dan meneruskan risalah yang beliau emban.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"> <span id="more-99"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Inilah salah<span>  </span>satu dari hari yang termashur bagi kaum muslimin dan adanya keberkahan di dalamnya. Inilah hari ketika hukum-hukum Allah Swt secara sempurna ditetapkan. Inilah yang telah memberikan kepada Sang Penutup para Rasul dan juga para pemimpin Ilahi.. Inilah hari ketika Allah Swt menguji hamba-hamba-Nya. Sebuah keberkahan yang<span>  </span>akan didapatkan bagi orang-orang yang beriman dan kecelakaan bagi orang-orang kafir. Inilah hari ketka Allah Swt menyempurnakan agama-Nya, mencukupkan nikmat-Nya<span>  </span>dan menetapkan Islam sebagai agama. Dalam ayat tersebut, Allah Swt berfirman:<i>“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmatmu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu,” <span> </span></i>(Al-Maidah ayat 3). Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, ia mengatakan, “Ayat tersebut diturunkan pada hari al-Ghadir, yakni setelah ucapan Rasulullah Saaw, <i>“Man kuntu maulahu faaliyyun maulahu.”</i> Dan ketika itu Rasulullah Saaw bersabda, “ Allah Maha Besar atas penyempurnaan agama , nikmat serta keridhaan-Nya terhadap risalahku dan wilayah Ali setelahku.”</font></p>
<p><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Satu <span> </span>topik yang sangat luar biasa yang harus dikaji dan diteliti. Namun, hendaklah diyakini bahwa khabar atas pengangkatan sayyidina Ali <i>karammallahu wajha</i> sebagai khalifah yang akan menggantikan kedudukan beliau sudah sesekali disampaikan beliau sejak awal tugas kenabian (<i>dakwah al-Islamiyah</i>) beliau yang berupa sebuah isyarat bahwa sayyidina Ali yang kelak akan meneruskan tugas beliau. Hingga pada akhirnya, pada hari tersebut sebagai ‘pengumuman resmi’ keseluruh umat di sepanjang masa. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Bagian khotbah yang terpenting di Ghadir Khum adalah kalimat: <i>“Barangsiapa yang aku tuannya maka Ali adalah maula-nya.”</i> Kalimat tersebut dengan sedikit perbedaan yang disepakati terdapat dalam semua teks yang mengkhabarkan tentang <b>Ghadir Khum</b>. Adapun dari ucapan Rasulullah tersebut, disepakati oleh kalangan Syiah dan Ahlussunnah, hanya saja, isi dan kandungannya terdapat perbedaan. Syi’ah memandang kalimat tersebut sebagai dalil tentang khilafah, imamah dan wilayah Ali bin Abi Thalib ra. Namun Ahlussunnah tidaklah berpendapat demikian, yang lebih condong<span>  </span>dengan pengertian pecinta dan penolong. Dalam hal ini, kedua belah pihak telah mengemukakan dalilnya masing-masing.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Walaupun jika seandainya kita tidak mengakui hari raya al-Ghadir sebagai hari besar, namun kandungan sejarah merupakan bukti kebesaran hari tersebut. Dan peristiwa penting yang ingin ditunjukkan pada masa itu adalah peresmian nama<span>  </span>seorang khalifah yang akan meneruskan risalah Rasul. Walaupun juga mereka setelah peristiwa ini, tidak mengakui Imam Ali as sebagai pemimpin setelah Rasul Saaw, namun bukti-bukti hadist dan riwayat yang shaheh telah mengakui otoritas kebesaran beliau (Sayyidina Ali ra). Riwayat sejarah membuktikan dialah sebagai jawara perang dan penakluk musuh. Alilah yang dikenal sebagai pendobrak pintu Khaibar dan penebas leher kepala sang kafir Amr bin Abdu Wudd dalam peperangan Khandaq. Dan Rasulullah Saaw telah mengenalkan sosok jiwa kesatria tersebut dalam peristiwa al-Ghadir.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Pesan yang ingin disampaikan pada peristiwa al-Ghadir adalah sebuah persoalan yang <span> </span>signifikan yakni kepemimpinan umat setelah Rasul Saaw. <span> </span>Dan dalam Islam seorang pemimpin terkait pada orang-orang yang beriman, adil dan sebagainya. yang akan memimpin umat serta memisahkan kepemimpinan itu dari orang-orang yang zalim.dan yang terpenting adalah kepemimpinan adalah ditentukan dari sisi Allah Swt, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 124, yang berbunyi: “<i>Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman</i>:<i> &#8220;Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia</i>&#8220;. <i>Ibrahim berkata</i>: <i>&#8220;(Dan saya mohon juga) dari keturunanku&#8221;. Allah berfirman:</i> <i>&#8220;Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang lalim&#8221;</i>. Dari ayat tersebut, Allah menjadikan kepemimpinan mereka dari nasab dan rahim yang suci. Tidaklah selain Allah yang akan mampu menjadikan imam, nabi atau khalifatullah di muka bumi ini. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Kepemimpinan yang memiliki kriteria tersebut sebagai hujjah Allah di sepanjang masa. Dan Allah tidak membiarkan bumi ini kosong dari hujjah-Nya. Kekosongan hujjah dimuka, menjadikan kesesatan bagi umat ini yang ditinggalkan oleh hujjahnya. Bagaimanapun, ketika nabi Musa as meninggalkan kaumnya untuk bermunajat dan menemui Tuhannya selama 40 hari di gunung Thur, keadaan kaumnya ketika itu meninggalkan ajaran yang dibawa oleh nabi mereka dan mereka membuat patung hewan untuk disembah.<span>  </span>Sebagaimana firman Allah Swt dalam surat Al-Baqarah ayat 51, yang berbunyi: “<i>Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang lalim.” </i><span> </span>Mereka tersesat selama nabi musa meninggalkan mereka selama empat puluh hari.<span>  </span>Bagaimana mungkin kalau sekiranya umat ini akan ditinggalkan selamanya, tanpa seorang pemimpin. Dan konsep kepemimpinan ini merupakan salah satu pokok dalam ajaran Islam. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Oleh karenanya, Islam dalam ajarannya menyangkut semua aspek kehidupan memerlukan seorang figur yang mampu menjadi pemimpin. Namun, dalam pencaharian figur yang memiliki sifat kepemimpinan ini, haruslah kita memahami atas kajian sejarah secara benar. Barulah kita akan memahami pemimpin yang memenuhi kriteria-kriteria khusus yang telah ditunjuk oleh Allah Swt dan rasul-Nya. Hingga, kriteria-kriteria tersebut akan tertanam pada sosok kepemimpinan<span>  </span>Imam Mahdi as sebagai <i>Ratu Adil</i> kelak. Dan konsep kepemimpinan inilah yang ingin diraih atas hikmah yang tersirat dalam peristiwa al-Ghadir.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Oleh : Abu Aqilah</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuaqilah.wordpress.com/99/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuaqilah.wordpress.com/99/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuaqilah.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuaqilah.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuaqilah.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuaqilah.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuaqilah.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuaqilah.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuaqilah.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuaqilah.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuaqilah.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuaqilah.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuaqilah.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuaqilah.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuaqilah.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuaqilah.wordpress.com/99/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=99&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuaqilah.wordpress.com/2008/01/02/meraih-kebenaran-al-ghadir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/956702eba1ad2fb0bb13a940c2e58d8d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Cahaya Islam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2008/01/images47.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">images47.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perjalanan Dalam Menempuh Kebenaran</title>
		<link>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/08/19/dimanakah-arah-menuju-keselamatan/</link>
		<comments>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/08/19/dimanakah-arah-menuju-keselamatan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Aug 2007 02:53:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahaya Islam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisa]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuaqilah.wordpress.com/2007/08/19/dimanakah-arah-menuju-keselamatan/</guid>
		<description><![CDATA[Al-Qur’an menjelaskan tiga persyaratan bagi setiap golongan dan agama umat ini yaitu: iman kepada Allah, beriman kepada akhirat dan melaksanakan perbuatan amal shaleh, ayat tersebut berbunyi: “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin[1], siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah[2], hari Kemudian dan beramal saleh[3], mereka akan menerima pahala dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=82&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2007/08/hazrat-zeynab-4_resize.jpg" title="hazrat-zeynab-4_resize.jpg"><img src="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2007/08/hazrat-zeynab-4_resize.thumbnail.jpg?w=500" alt="hazrat-zeynab-4_resize.jpg" /></a><br />
<span style="font-size:10pt;"></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Al-Qur’an menjelaskan tiga persyaratan bagi setiap golongan dan agama umat ini yaitu: iman kepada Allah, beriman kepada akhirat dan melaksanakan<a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1" name="_ftn1" title="_ftn1"></a> perbuatan amal shaleh, ayat tersebut berbunyi: <em>“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin<a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1" name="_ftnref1" title="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[1]</span></strong></span></span></span></a>, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah<a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2" name="_ftnref2" title="_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[2]</span></strong></span></span></span></a>, hari Kemudian dan beramal saleh<a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3" name="_ftnref3" title="_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[3]</span></strong></span></span></span></a>, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” <a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftn4" name="_ftnref4" title="_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[4]</span></strong></span></span></span></a></em><span> </span>Yang menjelaskan persyaratan keselamatan buat mereka. Apakah tujuan ayat adalah sesuatu yang telah mereka pahami? Ataukah dalam bentuk pamahaman yang lain?</font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span></p>
<p><font face="Calibri"><span id="more-82"></span></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Kaum Yahudi dan Nasrani, mereka masing-masing mengatakan bahwa mereka adalah umat yang terbaik. Klaim yang mereka dengungkan ini juga disebutkan dalam al-qur’an, yang berbunyi: “<em>Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: &#8220;Kami Ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya&#8221;. Katakanlah: &#8220;Maka Mengapa Allah menyiksa kamu Karena dosa-dosamu?&#8221; (kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya dan kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu”)<a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1" name="_ftnref1" title="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[1]</span></strong></span></span></span></a>.</em>(QS AL-Maidah ayat 18). </font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Dan dengan kesombongan kaum Yahudi, disebutkan dalam Al-qur’an dalam surat Al-Baqarah ayat 80, yang berbunyi: “<em>Dan mereka berkata:</em> <em>&#8220;Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja</em>.&#8221;<span> </span>Setelah klaim ini, adalah sebuah kebatilan yang nyata, kelanjutan ayat ini </font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">menyebutkan:<em> “Katakanlah: &#8220;Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu Hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?&#8221;</em> </font></span><font face="Calibri"><em><span style="font-size:10pt;"></span></em><span style="font-size:10pt;"></span></font></p>
<p><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;">Ayat diatas menjelaskan akan kelemahan pengetahuan mereka terhadap Tuhan. Dan pengetahuan terhadap Tuhan adalah pengetahuan secara fitrah. Manusia tanpa membutuhkan sebuah pengajaran telah menyadari kebutuhan akan Tuhannya. Oleh karenanya, manusia yang memiliki akal tidak memperoleh pemaafan bila terjadi pengingkaran terhadap Tuhan. Dalil tersebut dapat disebutkan dalam Al-Qur’an, yang berbunyi:.<span> </span><em>Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): &#8220;Bukankah Aku Ini Tuhanmu?&#8221; mereka menjawab: &#8220;Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi&#8221;. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: &#8220;Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)&#8221;,</em></span><em><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Atau agar kamu tidak mengatakan: &#8220;Sesungguhnya orang-orang tua kami Telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami Ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami Karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?&#8221;<a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2" name="_ftnref2" title="_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[2]</span></strong></span></span></span></a></span></em><em><span style="font-size:10pt;"> </span></em></font></p>
<p><font face="Calibri"><em><span style="font-size:10pt;"></span></em><span style="font-size:10pt;"><span></span>Maksudnya adalah agar orang-orang musyrik itu jangan mengatakan bahwa bapak-bapak mereka dahulu Telah mempersekutukan Tuhan, sedang mereka tidak tahu menahu bahwa mempersekutukan Tuhan itu salah, tak ada lagi jalan bagi mereka, hanyalah meniru orang-orang tua mereka yang mempersekutukan Tuhan itu. Karena itu mereka menganggap bahwa mereka tidak patut disiksa Karena kesalahan orang-orang tua mereka itu.</span><span style="font-size:10pt;"><span> </span></span></font></p>
<p><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;">Dari ayat diatas bahwa semua manusia telah mengikat janji dengan Tuhannya dan tidak menghalangi seandainya mereka yang dahulunya musyrik dari keturunan mereka untuk dapat mengenal sebuah kebenaran. Sekali lagi, bahwa pengetahuan akan pengenalan terhadap Tuhan adalah pengenalan secara fitrah. Dalam ayat Allah Swt berfirman <em>.<span> </span>Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui </em>.”<a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3" name="_ftnref3" title="_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[3]</span></span></span></span></a></span><em><span style="font-size:10pt;"> </span></em><em><span style="font-size:10pt;">(fitrah Allah: maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan).</span></em><em><span style="font-size:10pt;"></span></em></font></p>
<p><font face="Calibri"><em><span style="font-size:10pt;"></span></em><span style="font-size:10pt;">Dari penjelasan ayat diatas bahwa keselamatan tidaklah berkaitan dengan orang non muslim, disebabkan hujjah mereka terhadap Islam telah sempurna dan tanpa usaha pencaharian. Dalam kategori mereka<span> </span>hujjah Islam terhadap mereka belum sempurna dan terhalang bagi mereka untuk mendapatkan pengetahuan Islam seperti halnya pengikut Al-Masih yang hanya mengetahui pengajaran nabi Isa dan dengan pengetahuannya ia beramal<span> </span>dan dari muslim yang ia ketahui tidak beramal baik, adalah keselamatan bagi mereka. Dalam hal ini, Allamah Muttahari berkata: “<em>Seseorang bukan dikarenakan namanya kafir menyebabkan ia masuk neraka, juga bukan karena nama (Islam) menyebabkan ia masuk surga. Akan tetapi yang berpengaruh adalah iman dan amal sholeh.”</em><br />
Namun dalam kategori hujjah mereka telah sempurna, tidak ada jalan keselamatan bagi mereka kecuali menerima Islam. </span><span style="font-size:10pt;"></span></font></p>
<p><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;">Dalil diatas kita berbicara terhadap kemungkinan keselamatan bagi seseorang non Islam, bukan penetapan terhadap hukum keselamatan tersebut. Dan dengan dalil ini, apakah keselamatan tersebut menyangkut semua keberadaan golongan dan mazhab Islam? Dalam hal ini persoalan berkisar tentang orang yang beramal atas kebenaran yang ia ketahui. Tentunya dengan informasi yang cukup pada masa sekarang, dapat menilai arti kebenaran tersebut. Kecuali, mereka yang termasuk golongan <em>mustadhafiin</em>. Dan Syekh Makarim Syirazi ketika menafsirkan kaum <em>mustadh’afiin</em><span> </span>dalam surat An-Nisa ayat 97-98, adalah mereka secara pemikiran , jismani dan ekonomi tidak mampu untuk dapat mengenal kebaikan dari kebatilan atau tidak dapat menilai sebuah kebenaran akidah dan dengan keterbatasan lingkungan tempat tinggalnya, tidak dapat melaksanakan tugasnya secara sempurna serta mereka pun tidak mampu untuk berhijrah.<a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftn4" name="_ftnref4" title="_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[4]</span></span></span></span></a> </span></font></p>
<p><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;">Dalam riwayat lain, seseorang bertanya kepada Imam Musa Bin Ja’far as tentang <em>mustadhafiin</em>. Beliau as, menjawab:<span> </span>“<em>Mustadhaf</em> adalah ketika hujjah dan dalil tidak sampai kepadanya dan tidak mengetahui adanya perbedaan (mazhab dan akidah yang mengacu pada penelitian). Dan ketika mengetahui adanya perbedaan ini maka tidak disebut sebagai<em> mustadhaf.<a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftn5" name="_ftnref5" title="_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[5]</span></strong></span></span></span></a></em></span><em><span style="font-size:10pt;"> </span></em><span style="font-size:10pt;"></span></font></p>
<p><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;">Dari sinilah, kita dapat menyimpulkan bahwa dalam ayat yang pertama kali kita sebutkan, bukanlah sebuah kelebihan yang diberikan kepada kaum Nasrani dan Yahudi pada masa sekarang, dikarenakan hujjah mereka telah sempurna untuk memperoleh informasi kebenaran. Dan ayat tersebut sebahagian mufasir menyebutkan, adalah berlaku bagi umat yang terdahulu sebelum kebenaran risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saaw. Adapun umat Islam yang tidak termasuk dalam <em>mustadhafiin, </em>harus mencari nilai kebenaran dalam realitas terpecahnya umat Islam dalam berbagai golongan dan mazhab.</span><span style="font-size:10pt;"> </span></font></p>
<p><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;"></span><span style="font-size:10pt;"></span><span style="font-size:10pt;"></span></font><br />
<font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;">By: Abu Aqilah</span></font></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Calibri','sans-serif';"><font face="Calibri">[1]</font></span></span></span></span><font size="3"> </font><span style="font-size:10pt;">Shabiin ialah orang-orang yang mengikuti syari&#8217;at nabi-nabi zaman dahulu atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa.</span></p>
<p><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Calibri','sans-serif';"><font face="Calibri">[2]</font></span></span></span></span><font size="3"> </font><span style="font-size:10pt;">orang-orang mukmin begitu pula orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin yang beriman kepada Allah termasuk iman kepada Muhammad s.a.w., percaya kepada hari akhirat dan mengerjakan amalan yang saleh, mereka mendapat pahala dari Allah.</span><font size="2"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[3]</span></span></span></span><font size="3"> </font><span style="font-size:10pt;">ialah perbuatan yang baik yang diperintahkan oleh agama islam, baik yang berhubungan dengan agama atau tidak.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[4]</span></span></span></span><font size="2"> Surat Al-Baqarah ayat 62</font></p>
<p><font face="Calibri"><a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1" name="_ftn1" title="_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[1]</span></span></span></span></a></font><font size="2"> Al-Maidah ayat 18</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><font face="Calibri"><a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2" name="_ftn2" title="_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[2]</span></span></span></span></a></font><font size="2"> Al-A’raf ayat 172-173</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><font face="Calibri"><a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3" name="_ftn3" title="_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[3]</span></span></span></span></a></font><font size="2"> Ar-Ruum ayat 30<span dir="rtl"></span></font><span style="font-size:14pt;font-family:'Arabic Transparent';" dir="rtl"><span dir="rtl"></span> </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref4" name="_ftn4" title="_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[4]</span></span></span></span></a><font size="2"> Tafsir Amstal dalam terjemahan bahasa Parsi (Nemune) juz 4 hal 88</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref5" name="_ftn5" title="_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[5]</span></span></span></span></a><font size="2"> Ibid hal 89.</font></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuaqilah.wordpress.com/82/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuaqilah.wordpress.com/82/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuaqilah.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuaqilah.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuaqilah.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuaqilah.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuaqilah.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuaqilah.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuaqilah.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuaqilah.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuaqilah.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuaqilah.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuaqilah.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuaqilah.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuaqilah.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuaqilah.wordpress.com/82/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=82&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/08/19/dimanakah-arah-menuju-keselamatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/956702eba1ad2fb0bb13a940c2e58d8d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Cahaya Islam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2007/08/hazrat-zeynab-4_resize.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hazrat-zeynab-4_resize.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Adakah Suatu Perubahan Pada Hukum Allah?</title>
		<link>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/08/09/apakah-hukum-allah-mengalami-perubahan/</link>
		<comments>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/08/09/apakah-hukum-allah-mengalami-perubahan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Aug 2007 05:09:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahaya Islam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuaqilah.wordpress.com/2007/08/09/apakah-hukum-allah-mengalami-perubahan/</guid>
		<description><![CDATA[Kita menyakini bahwa Allah Swt mempunyai kekuasaan mutlak untuk mengatur makhluk-Nya. Dengan dalil ini bahwa apakah Allah Swt akan memasukkan hamba-Nya yang berbuat kebajikan kedalam neraka dan memasukkan hamba-Nya yang berbuat maksiat ke dalam surga? Tidakkah Dia adalah Maha Adil , dan melakukan perbuatan-Nya sesuai dengan hikmah dan keadilan? Dan pembahasan ini terkait ke dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=80&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2007/08/hazrat-mohamad-20_resize.jpg" title="hazrat-mohamad-20_resize.jpg"><img src="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2007/08/hazrat-mohamad-20_resize.thumbnail.jpg?w=500" alt="hazrat-mohamad-20_resize.jpg" /></a></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Kita menyakini bahwa Allah Swt mempunyai kekuasaan mutlak untuk mengatur makhluk-Nya. Dengan dalil ini bahwa apakah Allah Swt akan memasukkan hamba-Nya yang berbuat kebajikan kedalam neraka dan memasukkan hamba-Nya yang berbuat maksiat ke dalam surga? Tidakkah Dia adalah Maha Adil , dan melakukan perbuatan-Nya sesuai dengan hikmah dan keadilan? Dan pembahasan ini terkait ke dalam penjelasan ayat berikut<span>: &#8220;</span><em>Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.&#8221; (QS. Faathir ayat 43)</em></font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span id="more-80"></span></span><span style="font-size:10pt;"></span><span style="font-size:10pt;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Adalah sebuah yang dinamakan perubahan, adanya prediksi bahwa ketika seseorang memiliki sebuah pengetahuan atau informasi yang terbatas, kemudian pengetahuan tersebut bertambah sesuai dengan perubahan masa dan waktu. Atau dapat dikatakan bahwa keberadaan seorang yang memiliki pengetahuan, tetapi dalam tindakannya selalu mengarah pada kecenderungannya bukan atas dasar keadilan dan hikmah. Akan tetapi, Allah Swt jauh dari perumpamaan ini. Dan sunnah Allah yang berlaku pada masa mendatang sama halnya dengan sunnah yang berlaku pada masa lalu, dan sesekali tidak mengalami perubahan!</font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Atas dasar ini maka hikmah-Nya dan keadilan-Nya, hukum yang berlaku pada masa lalu juga berlaku pada masa kini dan kemudian. Artinya hukum yang berlaku pada umat yang terdahulu, juga berlaku untuk umat yang hidup pada masa kini. <span> </span>Dan hukuman pada orang yang berbuat dosa dan pahala yang berlaku pada manusia yang berbuat kebajikan akan terlaksana sesuai dengan hikmah dan keadilan-Nya. Manusia melalui fitrahnya juga dapat mengetahui perbuatan yang sesuai dengan hikmah dan keadilan ini, ketika masih hidup di alam dunia.</font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><span style="font-size:10pt;"></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Namun<span>  </span>tidaklah semua hukum dapat terlaksana sesuai dengan hikmah dan keadilan di dunia ini. Badan hukum yang terkait dan tindakan seorang pemberi hukum (ulama) secara personal, terkadang tidaklah mampu mengelola hukum sesuai dengan kedua asas ini. Dikarenakan dalam mengaplikasikan hukum yang ada, sering terdapat benturan-benturan oleh sekelompok masyarakat sehingga memungkinkan hukum tersebut tidak terlaksana menurut ketetapan aslinya. Seperti halnya, hukum perkawinan antar beda agama. Sangat jelas, agama melarang hal ini. Maka seharusnya dijalankan menurut syariat Islam yang sebenarnya. Akan tetapi sangat disayangkan, mereka yang bersangkutan mencoba mencari-cari dalil untuk membenarkan perbuatan ini. <span> </span>Apapun permasalahannya, syariat Islam telah mengatur ketentuan hukum tersebut dan tidaklah berhak seorang ulama untuk merubah hukum yang ada.</font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Sebuah badan hukum milik instansi pemerintah dan<span>  </span>masyarakat diharuskan memiliki perundang-undangan yang jelas dan pondasi hukum yang kuat. Sehingga dalam penerapan kebijaksanaanya tidak terpengaruh pada pihak-pihak yang tertentu, tanpa perubahan (statis) dalam sebuah situasi dan kondisi apapun. Dan peran ulama didalamnya sebagai pengayom dan pembina masyarakat dapat menjalankan tugasnya. Namun, dalam beberapa hal yang menyangkut metode, strategi pertahanan, jenis peralatan dan perlengkapan bisa jadi mengalami perubahan menurut situasi dan kondisi zaman. Misalnya penggunaan jenis senjata modern dalam pertahanan <em>(difa&#8217;)</em>, tidak merubah hukum wajib bagi pertahanan tersebut.</font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Ulama atau mujtahid dalam penetapan sebuah hukum, diharuskan tidak berdasarkan pendapat pribadi. Mereka para mujtahid memiliki otoritas penetapan hukum berupa penyingkapan sebuah nash yang dijadikan sandaran dalil untuk beramal.<span>  </span>Terkadang hukum yang disandarkan telah menggantikan hukum asli disebabkan faktor tertentu misalnya; adanya sebuah maslahat atau darurat yang disebabkan situasi dan kondisi. Hukum kedua tersebut bukanlah dianggap sebagai sebuah perubahan dari hukum pertama. Melainkan adanya hukum yang diperuntukkan dalam sebuah maslahat sebagai jalan penyelesaian dari permasalahan hukum yang pertama.</font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><span style="font-size:10pt;"></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Tidak ada kuasa atau dalil mereka melakukan sebuah wewenang penetapan perubahan sebuah hukum. Nabi Saaw dan para washinya as yang memliki <em>wilayah tasri’i</em> (bukan <em>takwini</em>) yang mendapatkan legalitas penetapan hukum, bukan perubahan dalam arti yang sebenarnya. Yang tentunya, hukum yang nabi jelaskan kepada umatnya berasal dari Allah Swt. Yang Dialah telah menetapkan segala sesuatu tanpa sebuah perubahan. Dan Dialah sebagai <em>Pemilik Ilmu Azali dan Abadi.</em></font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Islam sebagai agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saaw, yang sejak mula mendengungkan ketauhidan dan ajaran yang murni dari Tuhannya, mengajarkan bentuk syariat yang tulen dan bersih dari noda kesyirikan dan kejahilan. Penisbatan kemurnian ajaran tersebut, diabadikan dalam sebuah hadist yang berbunyi: “<em>Sesuatu yang halal disisi Muhammad adalah halal hingga hari kiamat. Dan haram di sisi beliau Saaw adalah haram hingga hari kiamat”. </em></font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Jadi dalam pengertian ayat diatas, tidak adanya perubahan hukum di sisi Allah Swt  baik hukum itu secara <em>takwini </em>maupun <em>tasri’i. </em>Ini membuktikan bahwa Dialah Yang Maha Tahu dan menetapkan ketetapan hukum-Nya sesuai dengan hikmah dan keadilan. Oleh karenanya, tidak mungkin selain-Nya akan lebih mengetahui untuk berbuat menggantikan dan merubah hukum-Nya. Dan ayat di atas, diperjelas dengan surat Ruum ayat 9 yang berbunyi: “<em>Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan Telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang Telah mereka makmurkan. dan Telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri”.</em></font></span><em><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span></em><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><span> </span></font></span><em><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span></em><span style="font-size:10pt;"></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">By : Abu Aqilah</font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><font face="Calibri" size="3"> </font><font face="Calibri" size="3"> </font><font face="Calibri" size="3"> </font><font face="Calibri" size="3"> </font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuaqilah.wordpress.com/80/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuaqilah.wordpress.com/80/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuaqilah.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuaqilah.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuaqilah.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuaqilah.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuaqilah.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuaqilah.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuaqilah.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuaqilah.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuaqilah.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuaqilah.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuaqilah.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuaqilah.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuaqilah.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuaqilah.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=80&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/08/09/apakah-hukum-allah-mengalami-perubahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/956702eba1ad2fb0bb13a940c2e58d8d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Cahaya Islam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2007/08/hazrat-mohamad-20_resize.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hazrat-mohamad-20_resize.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Makna Pertemuan Dengan Allah Itu?</title>
		<link>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/08/02/apakah-makna-pertemuan-dengan-allah-itu/</link>
		<comments>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/08/02/apakah-makna-pertemuan-dengan-allah-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2007 06:58:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahaya Islam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuaqilah.wordpress.com/2007/08/02/apakah-makna-pertemuan-dengan-allah-itu/</guid>
		<description><![CDATA[Kata pertemuan dengan Allah (liqa’ Allah) disebutkan berulang-ulang dalam al-Qur’an yang benar-benar memiliki arti “kehadiran di akhirat” . Jelaslah maksud dari “pertemuan dengan Allah” bukanlah pertemuan secara fisik seperti halnya pertemuan manusia dengan manusia lainnya yang saling berhadapan. Tentunya kita memahami bahwa Allah bukanlah substansi fisis dan memiliki warna dan menempati ruangan, atau dapat kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=70&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Calibri" size="3"> </font><font face="Calibri" size="3"><span style="font-size:10pt;">Kata pertemuan dengan Allah <strong><em>(liqa’ Allah</em></strong><em>)</em> disebutkan berulang-ulang dalam al-Qur’an yang benar-benar memiliki arti <strong>“kehadiran di akhirat</strong>” . Jelaslah maksud dari “pertemuan dengan Allah” bukanlah pertemuan secara fisik seperti halnya pertemuan manusia dengan manusia lainnya yang saling berhadapan. </span><span style="font-size:10pt;"> </span><span style="font-size:10pt;"> </span></font></p>
<p><font face="Calibri" size="3"><span style="font-size:10pt;"><span id="more-70"></span></span></font></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Tentunya kita memahami bahwa Allah bukanlah substansi fisis dan memiliki warna dan menempati ruangan, atau dapat kita lihat dengan kedua mata . Jadi, seperti yang dikatakan oleh sekelompok mufasir, malsud dari kata tersebut adalah tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam akhirat, seperti karunia, ganjaran dan azab.</font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><span style="font-size:10pt;"></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Atau bisa juga ia berarti intuisi esoteris dalam hati atau jiwa,karena terkadang manusia mencapai suatu titik dimana ia dapat melihat Tuhan dihadapannya melalui mata hatinya (sebagaimana menurut Fahrur Razi ). Dalam keadaan seperti ini , keraguan tidak akan terus bersemayam dalam dirinya.</font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><span style="font-size:10pt;"></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Keadaan seperti<span>  </span>ini<span>  </span>dapat terjadi pada sebagian orang yang di dunia ini sebagai buah dari ketakwaan, ibadah, dan penyucian diri. Pengandaran berikut, yang dikutip dalam <em>Nahj al-Balaghah</em>, menegaskan makna ini.</font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Seorang sahabat Amirul Mukminin Ali as, Dzi’lib al-Yamani, seorang yang terpelajar, suatu ketika bertanya kepada beliau mengenai apakah Ali as melihat Allah, Tuhannya. Imam as menjawab:<span>  </span>“<em>Apakah aku menyembah<span>  </span>Zat yang aku tidak dapat melihatnya?”</em> kemudian orang itu meminta beliau menjelaskannya dan Ali as menambahkan. <em>“ Mata (lahir) tidak melihatNya secara berhadapan, tetapi mata hati(jiwa) melihat-Nya melalui realitas keimanan…..”</em></font></span><em><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span></em><span style="font-size:10pt;"></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Seseorang Khawarij datang menemui Imam Bagir as, kemudian ia bertanya:<span>  </span>“<em>Apakah sesuatu yang sedang kau sembah?</em> Imam menjawab: “<em>Allah”.</em> Kemudian laki-laki itu balik bertanya: “<em>Apakah engkau melihat-Nya? </em>Beliau as menjawab: “<em>Mata-mata ini dengan penyaksiannya, tidak akan pernah melihat-Nya. Tetapi akan menyaksikan-Nya dengan realitas keimanan.”</em></font></span><em><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span></em><em><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span></em><span style="font-size:10pt;"></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Namun di akhirat, semua umat manusia akan memiliki intuisi esoteris ini karena tanda-tanda keagungan dan kekuasaan Allah akin begitu jelas sehingga tak seorangpun dapat menghindarinya. Semuanya akan memiliki keyakinan kuat akan segala sesuatu.</font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><span>                                                                                 </span><span>                                                   </span>Sumber: <em>Tafsir Nurul Qur’an</em></font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><span style="font-size:10pt;"><span><font face="Calibri"> </font></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuaqilah.wordpress.com/70/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuaqilah.wordpress.com/70/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuaqilah.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuaqilah.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuaqilah.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuaqilah.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuaqilah.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuaqilah.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuaqilah.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuaqilah.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuaqilah.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuaqilah.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuaqilah.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuaqilah.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuaqilah.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuaqilah.wordpress.com/70/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=70&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/08/02/apakah-makna-pertemuan-dengan-allah-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/956702eba1ad2fb0bb13a940c2e58d8d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Cahaya Islam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mungkinkah Melihat Tuhan Di Akhirat?</title>
		<link>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/07/07/mungkinkah-tuhan-dapat-dilihat-di-hari-kiamat/</link>
		<comments>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/07/07/mungkinkah-tuhan-dapat-dilihat-di-hari-kiamat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jul 2007 04:46:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahaya Islam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuaqilah.wordpress.com/2007/07/07/mungkinkah-tuhan-dapat-dilihat-di-hari-kiamat/</guid>
		<description><![CDATA[Telah ditetapkan melalui dalil akal bahwa Tuhan tidaklah memiliki jasad dan berbentuk, tidaklah menempati sebuah ruangan dan waktu. Hal ini menjadi dalil bahwa Tuhan Yang Agung adalah zat yang tidak dapat dilihat. Namun, sebahagian kalangan penafsir menyatakan bahwa Tuhan akan menampakkan dirinya di hari kiamat, mereka berdalil bahwa hamba-hamba yang soleh akan melihat wujud Tuhan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=67&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2007/08/sky57_resize.jpg" title="sky57_resize.jpg"><img src="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2007/08/sky57_resize.thumbnail.jpg?w=500" alt="sky57_resize.jpg" /></a></p>
<p><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;">Telah ditetapkan melalui dalil akal bahwa Tuhan tidaklah memiliki jasad dan berbentuk, tidaklah menempati sebuah ruangan dan waktu. Hal ini menjadi dalil bahwa Tuhan Yang Agung adalah zat yang tidak dapat dilihat. Namun, sebahagian kalangan penafsir menyatakan bahwa Tuhan akan menampakkan dirinya di hari kiamat, mereka berdalil bahwa hamba-hamba yang soleh akan melihat wujud Tuhan di hari kiamat, melalui ayat yang berbunyi: “</span></font><em><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';">Kepada Tuhannyalah mereka Melihat&#8221;.<a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1" name="_ftnref1" title="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';">[1]</span></strong></span></span></span></a> </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';">Apakah maksud ayat tersebut?</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"><span id="more-67"></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><span></span>Adapun penglihatan adalah terbiasnya cahaya sesuatu pada lensa mata. Ketika <span></span>proses pembiasan ini bekerja, maka akan terjadi ada ikatan antara yang sesuatu yang dilihat dan mata. Oleh karenanya, menjadikan sesuatu tersebut menempati pada tempat tertentu. Dan segala yang berbentuk membutuhkan sebuah tempat, dan yang membutuhkan yang lain adalah fakir. Dan ini tidak akan memiliki sifat Ketuhanan <em>(Uluhiyah). </em>Dari penjelasan ini maka sekiranya Tuhan bertempat, tidaklah akan melewati kemungkinan berikut ini:</font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><span style="font-size:10pt;"><span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span><font face="Calibri">1.</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span dir="ltr"></span><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;">Keberadaan tempat tersebut pada awalnya bersamaan dengan wujud Tuhan. Kalau sekiranya tempat tersebut <em>qadim </em></span><span style="font-size:10pt;">(dahulu)</span><span style="font-size:10pt;">, maka keberadaannya sama dengan keberadaan Tuhan Yang <em>Qadim.</em> Jadi, ada dua wujud yang <em>qadim</em>.</span></font></p>
<p><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;"></span></font><span style="font-size:10pt;"><span><font face="Calibri">2.</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Sekiranya Allah Swt menciptakan tempat untuk diri-Nya sendiri. Dan kita umpakan Dia (Allah) tidak membutuhkan tempat. Dengan dalil bahwa sebelum dicitakan tempat tersebut, dia telah ada. Dengan gambaran ini, bagaimana Allah Swt tidak membutuhkan tempat , kemudian setelah itu Dia membutuhkan tempat.</font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"></span><span style="font-size:10pt;"></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Dilihat dari makna ayat, maka dapatlah<span> </span>kita jelaskan sebagai berikut:</font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><span> </span></font></span></p>
<p><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;"></span><span dir="rtl"></span></font><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';" dir="rtl"><span></span></span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;"><span></span></span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;"><span></span></span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;"><span></span></span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;"><span></span></span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;"><span></span></span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;"><span></span></span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;"><span></span></span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;"><span></span></span><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;">Kata<em> Nadhiro</em> dari ayat tersebut bukanlah mempunyai makna melihat akan tetapi bermakna menunggu atau menanti. Dan maksud dari keseluruhan ayat adalah penantian rahmat dan kasih sayang Allah Swt. Ketika utusan raja Saba’ mengirimkan hadiah kepada nabi Sulaiman as, disebutkan dalam al-qu’an, Allah Swt berfirman: </span></font><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;"> </span></font><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';">&#8220;</span><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"><em><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';">Dan Sesungguhnya Aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan)menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu&#8221;.<a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1" name="_ftnref1" title="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';">[1]</span></strong></span></span></span></a></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"> </span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"></span></span><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';">Dan pengertian<em> Nadhiro</em> sebenarnya, bukanlah diartikan penglihatan. Maka kita mencoba penelusuri ayat diatas, dengan mengaitkan dengan ayat sebelumnya dan sesudahnya. </span><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"></span><span style="font-size:12pt;font-family:HQPB4;" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"><span></span></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Allah Swt berfirman:</font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB2;" dir="ltr"><span></span></span><span dir="rtl"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';"><span dir="rtl"></span> </span></font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial','sans-serif';"><span></span></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Arial">1. </font>“</span></font></span><em><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';">Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri&#8221;</span></em><em><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">. </font></span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"></span></em><span style="font-size:10pt;"></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><em><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"> </span></em></font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><em><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';">2.  &#8220;Kepada Tuhannyalah mereka Melihat</span></em><em><span style="font-size:10pt;"></span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';">&#8220;.</span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"><span></span></span></em></font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><em><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"><span></span><span></span></span></em><em><span style="font-size:10pt;"></span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"> </span></em></font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><em><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';">3.  &#8220;Dan Wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram&#8221;</span></em><em><span style="font-size:10pt;"></span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';">.</span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"><span> </span></span></em></font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><em><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"><span></span><span></span><span></span></span></em><em><span style="font-size:10pt;"></span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"></span></em></font></span><span style="font-size:10pt;"></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><em><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';">4.  &#8220;Mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat</span></em><em><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">”</font></span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';">.<a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2" name="_ftnref2" title="_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';">[2]</span></strong></span></span></span></a></span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"> </span></em></font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><em><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"></span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"></span></font></span><span style="font-size:10pt;"></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';">Pada keempat ayat diatas, ayat ketiga nampak berlawanan dengan ayat pertama. Dan ayat keempat juga berlawanan dengan ayat kedua. Dan pelu diperhatikan bahwa ayat keempat menghilangkan bentuk kekaburan seperti pada ayat yang kedua. Yang jelas, ayat yang pertama dan ketiga adalah pembagian atas manusia di hari kiamat. Dan ayat kedua dan keempat juga adanya penjelasan nasib perjalanan manusia dalam dua bentuk.</span><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';">Dari sisi lain, maka ayat keempat memaparkan tentang penantian terhadap sebuah azab, dan ayat kedua memaparkan tentang penantian terhadap rahmat Swt. Bukanlah penglihatan dan penyaksian dalam bentuk luar <em>(dhahir).</em></span><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"></span></font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"><font face="Calibri">Kesimpulan:</font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"><font face="Calibri">Dalil ayat untuk menetapkan kemungkinan Allah Swt dapat dilihat di hari kiamat, akan menyimpang dari pemahaman secara filosofis dan terhadap tujuan yang ada di dalam keempat ayat tersebut. Dari ayat, sebenarnya mengambarkan tentang pelaku ketaatan dan maksiat dan penantian keduanya terhadap nasib mereka dari turunnya rahmat Allah atau azab-Nya. Adapun penafsiran tentang penyaksian zat <em>Al-Haq</em> tidaklah berkaitan dengan ayat ini. </font></span><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'(normal text)','serif';"></span></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1" name="_ftn1" title="_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[1]</span></span></span></span></a><font face="Calibri" size="2"> An-Naml ayat 35</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2" name="_ftn2" title="_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[2]</span></span></span></span></a><font face="Calibri" size="2"> Al-Qiyaamah ayat 22 s/d 25</font></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1" name="_ftn1" title="_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[1]</span></span></span></span></a><font face="Calibri" size="2"> Al-Qiyaamah ayat 23</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuaqilah.wordpress.com/67/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuaqilah.wordpress.com/67/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuaqilah.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuaqilah.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuaqilah.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuaqilah.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuaqilah.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuaqilah.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuaqilah.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuaqilah.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuaqilah.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuaqilah.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuaqilah.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuaqilah.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuaqilah.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuaqilah.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=67&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/07/07/mungkinkah-tuhan-dapat-dilihat-di-hari-kiamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/956702eba1ad2fb0bb13a940c2e58d8d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Cahaya Islam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2007/08/sky57_resize.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sky57_resize.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Faktor GENETIK Membangun Karakter Manusia?</title>
		<link>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/06/16/faktor-genetik-membangun-karakter-manusia/</link>
		<comments>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/06/16/faktor-genetik-membangun-karakter-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jun 2007 04:26:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahaya Islam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuaqilah.wordpress.com/2007/06/16/faktor-genetik-membangun-karakter-manusia/</guid>
		<description><![CDATA[Manusia adalah makhluk yang bebas dan memilih(ikhtiar), yang bisa mencari jalan nasibnya. Dari sisi lain, manusia ditentukan oleh garis keturunannya. Mereka katakan bahwa orang tua tidak hanya menurunkan sifat-sifat lahiriah pada si anak, namun juga bisa melahirkan karakter si anak yang mencakup sisi kebaikan dan keburukan. Apakah faktor genetik ini mempunyai pengaruh yang dominan membentuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=64&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2007/08/pic_9_resize.jpg" title="pic_9_resize.jpg"><img src="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2007/08/pic_9_resize.thumbnail.jpg?w=500" alt="pic_9_resize.jpg" /></a><span style="font-size:10pt;"></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Manusia adalah makhluk yang<em> bebas</em> dan <em>memilih(ikhtiar),</em> yang bisa mencari jalan nasibnya. Dari sisi lain, manusia ditentukan oleh garis keturunannya. Mereka katakan bahwa orang tua tidak hanya menurunkan sifat-sifat lahiriah pada si anak, namun juga bisa melahirkan karakter si anak <span> </span>yang mencakup sisi kebaikan dan keburukan. Apakah faktor <em>genetik</em> <span> </span>ini mempunyai pengaruh yang dominan membentuk karakter si anak , dan bagaimana pula hubungan dengan kebebasan manusia <em>(ikhtiar)</em> dalam membangun karakternya?</font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><span>                                                     </span></font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><span></span></font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><span id="more-64"></span></font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Dan yang terpenting yang dibahas oleh para <em>psikolog </em>disini, adanya sebuah perubahan kepribadian <em>(karakter),</em><strong> Cattel</strong> <span> </span>berkeyakinan, satu pertiga perubahan kepribadian dipengaruhi oleh faktor genetik dan dua pertiga yang lain dipengaruhi<span>  </span>oleh faktor lingkungan.</font><a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1" name="_ftnref1" title="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[1]</span></span></span></span></a><font face="Calibri"> Namun <strong>E. Fromm </strong>tidak menyakini bahwa karakter akan statis dimasa usia lima tahun, dan kenyataan selanjutnya bahwa karakter manusia bisa mengalami perubahan</font><a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2" name="_ftnref2" title="_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[2]</span></span></span></span></a><font face="Calibri">.</font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Namun kita katakan bahwa faktor<em> genetik</em> bukanlah sebuah faktor yang menghalangi pengaruh pendidikan. Oleh karenanya, kita tidak melihat dan tidak pula mendengar seorang ibu melarang anaknya untuk mendapatkan pendidikan atau pengajaran, dia akan mempermasalahkan terhadap apa yang diinginkan anaknya atas keberhasilan, bahwasannya pasti tidak akan tercapai, dikarenakan ia beranggapan bahwa si anak telah terwarisi sifat dan akhlaknya.<span> </span></font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><span>                </span></font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Jadi, selain faktor genetik sebagai faktor yang berpengaruh, juga terdapat faktor lainnya yang sangat bekerja aktif pada diri manusia, diantara yang terpenting adalah: <em>pendidikan, kondisi keluarga, masyarakat, ekonomi, budaya, makanan, udara, iklim </em>dan sebagainya. Dari faktor-faktor tersebut dapat disingkat dengan sebuah kata, yaitu: <strong>lingkungan.</strong></font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Oleh karenanya, <em>pengaruh sifat perubahan lingkungan</em> yang ada pada diri manusia ada <em>dua bentuk</em> <em>pemisalan:</em></font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><span style="font-size:10pt;"><span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span><font face="Calibri">1.</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Sifat dan kriteria yang nampak<span>  </span>dalam bentuk kemampuan dan kesiapan manusia, seperti: <em>penyakit TBC</em>, seorang anak yang dilahirkan dari orang tua yang berpenyakit demikian, akan berpotensi pula akan terserang penyakit tersebut. Akan tetapi jika anak tersebut sudah dipisahkan sejak lahirnya dan dipindahkan ke lingkungan yang sehat, maka memperoleh kesehatannya.</font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><span style="font-size:10pt;"><span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span><font face="Calibri">2.</font><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Anak yang dilahirkan melalui asal usul<em> genetik</em> yang baik, maka perkembangan anak tersebut nantinya akan beradaptasi dengan lingkungan dimana ia tinggal. <span> </span>Jika ia tinggal dalam lingkungan yang kurang mendukung, maka kemampuannya pun akan pudar. Begitu juga sebagai sesuatu yang mungkin melalui pengaruh iklim dan makanan dapat merubah kondisi badan bagi manusia. Sebagaimana akhlak dan adat setempat dalam sebuah lingkungan akan membuat perubahan pada tingkatan ruh dan kejiwaan manusia.</font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><span>                </span></font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><span>        </span></font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Akan tetapi saya disayangkan, sebahagian manusia memiliki pandangan keliru, yang lupa<span>  </span>akan peranan lingkungan pada kehidupan manusia. Mengekspresikan lingkungan tersebut pada pemikiran mereka, seperti para penyair, dengan membuat pikiran mereka menyatu dengan lingkungan selain hanya bait syair yang mereka sebutkan terasa indah. Seorang penyair berkata:</font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><span>          </span></font></span><em><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span></em><em><span style="font-size:10pt;"></span></em></p>
<p><em><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Sesungguhnya pohon yang jelek<span>    </span>jelek pulalah sifatnya</font></span></em><em><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span></em><em><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><span>                                               </span></font></span></em></p>
<p><em><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Walau ia tumbuh di taman surga</font></span></em><em><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span></em></p>
<p><em><span style="font-size:10pt;"></span></em><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><span>       </span></font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><span>        </span>Yang dapat disimpulkan dari syair ini adalah pohon yang jelek tidak akan memberikan sesuatu kecuali buah yang jelek, kita juga dapat memberikan contoh yang lainnya seperti racun yang ditaburi oleh<span>  </span>bahan yang manis (racun di dalam madu), pohon kurma yang hanya membuahkan kurma (tidaklah selain kurma), dan sebagainya.</font></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><span>                                                                                     </span></font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><span>    </span></font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><span>        </span>Dalam Islam diajarkan bahwa seseorang dalam kondisi<span>  </span>bebas (memilih) untuk merubah karakternya. Yang memiliki akhlak yang baik, mungkin saja karena atas perintah hawa nafsunya, akan terjerumus ke dalam <span> </span>kenistaan. Dan yang memiliki akhlak yang jelek, melalui penerangan dan bimbingan para <em>ahli ma’rifat</em> dengan berbagai usaha instropeksi diri dapat mencapai puncak kesempurnaan.</font><a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3" name="_ftnref3" title="_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[3]</span></span></span></span></a><font face="Calibri"> Lewat pendidikan dan pengajaran inilah adalah sebuah jalan <em>ikhtiar </em>yang dimiliki oleh manusia, dalam merubah dan menemukan jati dirinya. Dalam Al-Qur’an Allah Swt berfirman: “<em>Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.”<a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftn4" name="_ftnref4" title="_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[4]</span></strong></span></span></span></a> </em>Disini para <em>psikolog </em>juga mengatakan, bahwa faktor genetik diatas umur tiga puluh tahun adalah sesuatu yang statis dan tanpa perubahan, dan karakter manusia akan selalu berubah disepanjang umurnya disebabkan oleh lingkungan. <strong>Syekh</strong> <strong>Naraqi </strong>(almarhum) dalam kitab akhlaknya menyebutkan bahwa <em>nafs</em> manusia mempunyai kesiapan di dalam mensifati adanya kontradiksi antara dua kecenderungan yang berbeda, terhadap sesuatu yang sesuai dengan kecenderungan dan yang berseberangan dengan kecenderungan tersebut. Maka perbedaan masyarakat didalam karakternya bersumber pada pemilihan terhadap bentuk-bentuk luar dari perbedaan tersebut, dan berbagai aktivitas yang berhubungan dengannya. </font><a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftn5" name="_ftnref5" title="_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[5]</span></span></span></span></a></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"> </font></span><font face="Calibri"><em><span style="font-size:10pt;"><span>        </span></span></em><span style="font-size:10pt;"></span></font></p>
<p><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;">Adanya sebuah ikhtiar disini, memberikan energi tambahan untuk menuntut sebuah perubahan. Dan ingin menjadikan akhlak yang baik tersebut selalu tertanam (malaka) pada diri kita, juga menjadikannya sebagai adat dalam kehidupan kita. <span> </span>Oleh karenanya, dalam hadist disebutkan bahwa <span> </span>perbuatan baik tersebut dilakukan secara terus-menerus adalah sesuatu yang diharapkan. Dalam kitab hadist <strong>Al-Kafi</strong>: “<em>Paling</em> <em>dicintai perbuatan disisi Allah Swt, amal yang dilakukan terus-menerus (istiqama) walaupun sedikit.”<a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftn6" name="_ftnref6" title="_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[6]</span></strong></span></span></span></a></em></span></font><br />
<span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><span></span></font></span><span style="font-size:10pt;"></span><span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri"><span></span></font></span><br />
<span style="font-size:10pt;"><font face="Calibri">Sesungguhnya para nabi tidaklah datang untuk merubah perubahan jasmani atau mengobati penyakit dikarenakan faktor genetik seperti gila, kebodohan dan sebagainya. Tetapi datang untuk keimanan kepada Allah Swt, mendidik dan memberikan pengajaran kepada masyarakat, memahami agama, mendukung kemampuan mereka, menghidupkan akal mereka dan menguasai<span>  </span>insting dengan kehendak yang berbeda. Dari sejarah menerangkan kepada kita bahwa para nabi telah membangun kesucian dan kebenaran bagi sebuah realitas budaya manusia dan masyarakat. Untuk menuju ke arah kesempurnaan melalui jalan pergerakan yang suci. Kemunculan Islam sebagai contoh<span>  </span>hidup bagi perbuatan yang berharga oleh para nabi yang menghiasi lembaran-lembaran tarikh. Dan masyarakat yang menjauhi ajaran para nabi akan terjadi penyimpangan, dan penyimpangan ini menjadi sebuah akibat bagi keadaan lingkungan dan metode pengajaran. Alhasil, faktor genetik bukanlah satu-satunya yang berpengaruh pada pembentukan karakter manusia. Namun lingkungan dan usaha kita (ikhtiar) untuk memperoleh pengetahuan dan <span></span>pengajaran <strong>ilmu agama</strong> (Islam) mempunyai peran penting dalam membangun karakter manusia .</font></span></p>
<p>By: Abu Aqilah</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1" name="_ftn1" title="_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[1]</span></span></span></span></a><font face="Calibri" size="2"> Duane P. Schultz dalam edisi Parsi berjudul Nazariye ha sahsiyat oleh tim diketuai Yusuf Karimi. Hal 310</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2" name="_ftn2" title="_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[2]</span></span></span></span></a><font face="Calibri"><span>  </span>Ibid hal 198</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3" name="_ftn3" title="_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[3]</span></span></span></span></a><font face="Calibri" size="2"> Nasir Makarim Syirazi dalam Akhlak dalam Islam hal 38.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref4" name="_ftn4" title="_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[4]</span></span></span></span></a><font face="Calibri" size="2"> Al-Qur’an Al-Karim surat Ra’d ayat 11.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref5" name="_ftn5" title="_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[5]</span></span></span></span></a><font face="Calibri" size="2"> Mulla Mahdi Naraqi dalam Ilmu Akhlak Islami, terjemah oleh Jalaluddin Mujtabawi juz 1 hal 60.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref6" name="_ftn6" title="_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Calibri','sans-serif';">[6]</span></span></span></span></a><font face="Calibri" size="2"> Kulaini dalam Al-Kafi hal 82.</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuaqilah.wordpress.com/64/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuaqilah.wordpress.com/64/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuaqilah.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuaqilah.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuaqilah.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuaqilah.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuaqilah.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuaqilah.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuaqilah.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuaqilah.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuaqilah.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuaqilah.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuaqilah.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuaqilah.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuaqilah.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuaqilah.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=64&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/06/16/faktor-genetik-membangun-karakter-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/956702eba1ad2fb0bb13a940c2e58d8d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Cahaya Islam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2007/08/pic_9_resize.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pic_9_resize.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8216;TRINITAS&#8217; Dalam Pandangan Akal Dan Qur&#8217;an</title>
		<link>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/05/30/trinitas-dalam-pandangan-akal-dan-quran/</link>
		<comments>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/05/30/trinitas-dalam-pandangan-akal-dan-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 May 2007 11:12:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahaya Islam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuaqilah.wordpress.com/2007/05/30/trinitas-dalam-pandangan-akal-dan-quran/</guid>
		<description><![CDATA[Adalah kata ‘pengikut Al-Masih’ dalam kitab-kitab teologi menggambarkan tentang keyakinan Trinitas (Tuhan Bapa, Rahul Kudus, dan Yesus Kristus) dan permasalahan- permasalahan yang mendasar yang bersumber pada akidah mereka. Tidak adanya dalil dari para pengikut Masih atas keyakinan mereka, sementara mereka mengklaim diri mereka telah menyakini monoteisme, dengan pengertian satu dalam kemajemukan. Apakah kesatuan dalam pengertian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=47&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Calibri"><a href="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2007/05/180px-hschristmosaic_resize.jpg" title="180px-hschristmosaic_resize.jpg"></a></font></p>
<p><font face="Calibri">Adalah kata ‘<em>pengikut<span> </span>Al-Masih’</em> dalam kitab-kitab teologi menggambarkan tentang keyakinan <strong>Trinitas</strong> (Tuhan Bapa, Rahul Kudus, dan Yesus Kristus) dan permasalahan- permasalahan yang mendasar yang bersumber pada akidah mereka.<span> </span>Tidak adanya dalil dari para pengikut Masih atas keyakinan mereka, sementara mereka mengklaim diri mereka telah menyakini monoteisme, dengan pengertian satu dalam kemajemukan. Apakah <em>kesatuan</em> dalam pengertian ini, berhak ada pada zat Tuhan. Sementara <em>independen </em>(kemandirian)<em> </em>terlepas pada zat-Nya dan tidak bertentangan dengan argumentasi akal?</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri"><span id="more-47"></span></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Konsep trinitas bersumber pada ajaran kitab Injil yang diragukan keasliannya, disebabkan bukanlah kitab <strong>‘Samawi’</strong> (bersumber pada wahyu Allah Swt), namun kitab injil tersebut ditulis dan disusun setelah Al-Masih diangkat oleh Allah atau setelah penyalibannya menurut perkiraan orang-orang<span> </span>nasrani. Dan masuknya konsep Trinitas pada agama Nasrani setelah kepergian Al-Masih dan para pengikutnya. </font></p>
<p><font face="Calibri">Seorang Yahudi yang bernama <strong>Paulus</strong> yang mengajarkan ajaran nasrani tersebut, dengan klaim bahwa Al-Masih telah menyatu dalam dirinya, dan ia berkewajiban menjalankan dakwah kepada seluruh masyarakat. Dia juga menyatakan bahwa Isa sebagai tebusan dosa manusia setelah penyalibannya. Adapun syariat, bukanlah suatu kewajiban bagi orang-orang selain Yahudi. <span></span>Mr. Louis, seorang cendikiawan nasrani menyatakan: <em>“Penjasadan adalah kata dari<span> </span>rahasia-rahasia Tuhan, yang akal tidak mampu untuk menalarnya. Namun tidaklah bertentangan dengan argumentasi akal.”<a name="_ftnref1" href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1" title="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:'Calibri','sans-serif';">[1]</span></strong></span></span></span></a></em></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Dan didalam<span> </span>Al-Qur’an Al-Karim telah menerangkan tentang akidah yang diselewengkan tersebut, Allah Swt berfiman:<span style="font-size:10pt;line-height:115%;"><span> </span>“</span><em>Orang-orang Yahudi berkata: &#8220;Uzair itu putera Allah&#8221; dan orang-orang Nasrani berkata: &#8220;Al masih itu putera Allah&#8221;. Demikianlah itu Ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?<a name="_ftnref2" href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2" title="_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:'Calibri','sans-serif';">[2]</span></strong></span></span></span></a></em></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><strong><font face="Calibri">Sanggahan</font></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Ada beberapa sanggahan disini, terhadap<span> </span>keyakinan trinitas:</font></p>
<p style="text-indent:-0.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 13.5pt;" class="MsoListParagraphCxSpFirst"><span><span><font face="Calibri"> 1.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';"> </span></span></span><font face="Calibri">Adanya kontradiksi yang jelas, ketika mereka menyakini bahwa setiap satu dari trinitas mempunyai<span> </span>ciri khas tersendiri dari yang lain. Padahal mereka menyakini kemajemukannya adalah suatu yang hakiki. Bagaimanakah sebuah kontradiksi ini dapat diterima akal, atau bersumber dari kebenaran wahyu?</font></p>
<p style="text-indent:-0.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 13.5pt;" class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span><font face="Calibri"> 2.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';"> </span></span></span><font face="Calibri"><span></span>Apa maksud pengertian trinitas berasal dari pengertian Tuhan Yang Satu atau Satu dalam kamajemukan? Hal ini tidaklah sesuai dengan dua pengertian berikut ini:</font></p>
<p><span><span><font face="Calibri">a.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';"> </span></span></span><font face="Calibri">Hendaklah masing-masing dari<span> </span>Trinitas tadi adalah wujud yang independen, yang satu sama lain mempunyai kriteria-kriteria tersendiri , dan yang membedakan dengan yang lain.</font></p>
<p><em><span><span><font face="Calibri">b.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';"> </span></span></span></em><font face="Calibri">Hendaklah<span> </span>keberadaan<span> </span>trinitas terwakili dengan ke-Esaannya, yang menjadikan Tuhan dengan kemajemukannya. Yang sebenarnya adalah zat Allah adalah Tunggal (<em>basit).</em></font><em><font face="Calibri"> </font></em><em><span><span></span></span></em></p>
<p><em><span><span></span></span></em><font face="Calibri">3. Menghasilkan bentuk manfaat dalam sebuah penyatuan atau kerjasama antara komponen- komponennya. Keniscayaan Tuhan terhadap apapun bentuk manfaat dan kerjasama.</font></p>
<p><font face="Calibri">Sanggahan-sanggahan diatas,<span> </span>adalah bentuk agumentasi yang mendasar, melalui penilaian dalil akal sebagai sumber hukum Islam. Dan sekiranya terjadi sebuah pengaturan alam dengan ketuhanan trinitas dan politeisme, tentunya terjadi multisistem pengaturan disini. Bila masing-masing sistem pengaturan oleh Tuhan-Tuhan tadi berbeda satu sama lain, maka akan menyebabkan kehancuran alam ini. Dalam AlQur’an, Allah Swt befirman:<span style="font-size:10pt;line-height:115%;">´”</span><em>Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu Telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai &#8216;Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.”</em><a name="_ftnref3" href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3" title="_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:'Calibri','sans-serif';"><em>[3]</em></span></strong></span></span></span></a></font><font face="Calibri"> </font></p>
<p><em><strong><font face="Calibri">Batasan-batasan <em>Ke-Tauhidan <span></span></em>Islam</font></strong></em></p>
<p style="text-indent:-0.25in;text-align:justify;margin:0 0 10pt 13.5pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">  Menyakini <strong>Ke-Esaan </strong><span></span>Allah Swt<span> </span>melalui tahapan:</font></p>
<p style="text-indent:-0.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 13.5pt;" class="MsoListParagraphCxSpFirst"><span><span><font face="Calibri">   1.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';"> </span></span></span><span dir="ltr"></span><font face="Calibri">Tauhid dalam <em>zat,</em> terbagi dalam dua bagian:</font></p>
<p style="text-indent:-0.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 31.5pt;" class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span><font face="Calibri">a.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';"> </span></span></span><span dir="ltr"></span><font face="Calibri">Zat Allah Swt <em>Tunggal </em>(<em>basit);</em> yang tidak memiliki bagian atau komponen (<em>Ahadiyah Al-Zat</em>). Baik komponen dalam bentuk luar maupun komponen yang terindera dalam otak. Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt berfirman:<span style="font-size:10pt;line-height:115%;"> </span><em>Katakanlah: &#8220;Dia-lah Allah, yang Maha Esa.”</em>(QS Al-Ikhlash ayat 1)</font></p>
<p style="text-indent:-0.25in;text-align:justify;margin:0 0 10pt 31.5pt;" class="MsoListParagraphCxSpLast"><span><span><font face="Calibri">b.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';"> </span></span></span><span dir="ltr"></span><font face="Calibri">Allah Swt yang <em>Satu,</em> yang tidak memiliki keserupaan <em>(Wahidiyyah).</em> Di dalam Al-Qur’an Allah<span> </span>Swt berfirman:<span style="font-size:10pt;line-height:115%;"><span> </span>“</span><em>Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.&#8221;</em>(QS Al-Ikhlash ayat 4). </font></p>
<p style="text-indent:-0.25in;text-align:justify;margin:0 0 10pt 13.5pt;" class="MsoNormal"><span><font face="Calibri">    Tauhid dalam</font></span><font face="Calibri"> peristilahan <em>filsafat</em> Adalah Tauhid dalam Wujud yang Mesti, tidak ada satu wujudpun yang <span></span>maujud oleh dirinya sendiri, kecuali Allah Swt.. Wujud yang demikian hanyalah Allah Swt, Yang Maha Tinggi, yang keberadaannya secara substantif merupakan keharusan, dan yang dari-Nya wujud-wujud yang lain maujud.</font></p>
<p><font face="Calibri"><span><span><span style="font:7pt 'Times New Roman';"><font size="3" face="Calibri"><em>  </em>2.</font> </span></span></span>Tauhid dalam <em>Sifat. </em><span>Penyatuan antara zat dan sifat. Sifat-sifat yang kita nisbatkan kepada Allah Swt, tak lain adalah Zat-Nya sendiri. Sifat-sifat ini bukanlah hal lain dari Diri-Nya dan ditambahkan kepada-Nya.</span></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt -4.5pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri"><span></span></font><span><span><font face="Calibri"><em>  </em> 3<em>.</em> <span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:'Calibri','sans-serif';">Tauhid dalam </span></font></span></span><font face="Calibri"><em>penciptaan</em>. Artinya, tidak ada pencipta kecuali Allah Swt. </font></p>
<p style="text-indent:-0.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 13.5pt;" class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span><font face="Calibri">  4.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';"> </span></span></span><font face="Calibri">Tauhid dalam <em>manajemen (Rububiyah),</em> yang mengelola alam semesta yang tidak membutuhkan siapapun selain-Nya.</font></p>
<p><em><span><span><font face="Calibri">  5.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';"> </span></span></span></em><font face="Calibri">Tauhid dalam <em>penyembahan. </em>Artinya, tak satu pun kecuali Allah Swt, yang patut disembah.</font><font face="Calibri"> </font></p>
<p><em><strong><font face="Calibri">Kesimpulan</font></strong></em></p>
<p><font face="Calibri"><span>Kerancuan konsep <strong><em>Trinitas</em></strong><em> </em>dengan<span> </span>penjelasan yang cukup jelas melalui dalil akal dan qur’an, terutama pada <em>Ahadiyat dan Wahdaniyat Allah Swt.</em> Ini membuktikan klaim mereka terhadap <em>monoteisme </em>dapatlah dibatalkan.<span> </span>Sementara itu Islam dengan kemurnian ajaran yang dibawa <strong>Rasul Saaw</strong> dan <strong>AhlulBaitnya as</strong> telah membuktikan ke-<em>Tauhidan yang hakiki</em>.</span></font></p>
<p>By: Abu Aqilah</p>
<p style="text-indent:-0.25in;text-align:justify;margin:0 0 10pt -4.5pt;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<hr SIZE="1" width="33%" align="left" />
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1" title="_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Calibri','sans-serif';">[1]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Calibri"> .Al-Burhan al-sadid fi hakikat al-tastlist al-tauhid hal141.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn2" href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2" title="_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Calibri','sans-serif';">[2]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Calibri"> <span></span>At-Taubah ayat 30 </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn3" href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3" title="_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Calibri','sans-serif';">[3]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Calibri"> . Surat Anbiya’ ayat 22.</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuaqilah.wordpress.com/47/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuaqilah.wordpress.com/47/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuaqilah.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuaqilah.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuaqilah.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuaqilah.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuaqilah.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuaqilah.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuaqilah.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuaqilah.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuaqilah.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuaqilah.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuaqilah.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuaqilah.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuaqilah.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuaqilah.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=47&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/05/30/trinitas-dalam-pandangan-akal-dan-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>128</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/956702eba1ad2fb0bb13a940c2e58d8d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Cahaya Islam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perayaan Maulid Nabi Saaw Sebagai Syiar Islam</title>
		<link>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/05/24/perayaan-maulid-nabi-saaw-adalah-syiar-agama/</link>
		<comments>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/05/24/perayaan-maulid-nabi-saaw-adalah-syiar-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 May 2007 08:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahaya Islam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuaqilah.wordpress.com/2007/05/24/perayaan-maulid-nabi-saaw-adalah-syiar-agama/</guid>
		<description><![CDATA[Kaum muslim di seluruh dunia memperingati perayaan Maulid Nabi yang bersejarah, untuk menyambut keberkatan dan kebahagian pada hari tersebut. Hal ini merupakan suatu adat (habit) dan syiar Islam yang turun temurun yang telah dilakukan oleh para petua terdahulu. Dalam memperingati hari kelahiran Nabi Saaw yang diperingati di seluruh pelosok di Indonesia diadakan sebuah acara tertentu, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=44&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri"><a href="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2007/05/hazrat-mohamad-9_resize.jpg" title="hazrat-mohamad-9_resize.jpg"></a></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri"><a href="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2007/05/hazrat-mohamad-2_resize.jpg" title="hazrat-mohamad-2_resize.jpg"></a></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><a href="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2007/08/hazrat-mohamad-10_resize.jpg" title="hazrat-mohamad-10_resize.jpg"><img src="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2007/08/hazrat-mohamad-10_resize.thumbnail.jpg?w=500" alt="hazrat-mohamad-10_resize.jpg" /></a></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Kaum muslim di seluruh dunia memperingati perayaan Maulid Nabi <span></span>yang bersejarah, untuk<span> </span>menyambut keberkatan dan kebahagian pada hari tersebut. Hal ini merupakan suatu adat <em>(habit)</em> dan <em>syiar</em> Islam<em> </em>yang turun temurun yang telah dilakukan oleh para petua terdahulu. Dalam memperingati hari kelahiran Nabi Saaw yang <span></span>diperingati di seluruh pelosok di Indonesia diadakan sebuah acara tertentu, misalnya dengan melantunkan syair-syair dan qasidah-qasidah pujian, pembacaan maulid<em>,</em> <span></span>ceramah yang berisikan hikmah keteladanan baginda Rasulullah Saaw dan lain sebagainya. Namun sayangnya, kaum wahabi tidaklah memanfaatkan momentum bersejarah ini, dan dianggap sebagai sebuah bid’ah yang sesat. <span></span></font></p>
<p><font face="Calibri"><span id="more-44"></span></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Islam memberikan hukum yang jelas tentang hal ini, yang mana mereka berpijak pada dalil Alqur’an dan hadist. Di dalam alqur’an Allah Swt berfirman:<em> “Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa mengagungkan syi&#8217;ar-syi&#8217;ar Allah, Maka Sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”</em> (QS Al-Hajj ayat 32)</font></p>
<p><font face="Calibri">Dalam ayat diatas berisi perintah Allah Swt untuk menghidupkan berbagai bentuk dari syiar Allah Swt, sebagai bukti kecintaan dan ketaqwaan pada diri hamba-Nya. Banyak terdapat ayat-ayat lain sebagai bentuk pengagungan syiar agama, diantaranya; dalam surat AlBaqarah ayat 125, Allah Swt berfirman: <span style="font-size:10pt;line-height:115%;">.<span> </span>“</span><em>Dan (ingatlah), ketika kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat.”</em></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Yang menjadi pengertian <strong>‘syiar Allah’</strong> disini, bahwasannya <em>Pemilik Syariat</em> (Allah Swt) telah memuliakannya dan tidak menentukannya sebagai bentuk luar <em>(misdaq)</em> yang khusus, dengan melalui perkembangan zaman telah menjadikannya sebagai <em>urf </em>(menurut kacamata pandangan masyarakat), sebagai suatu dalil didalam mengagungkan syiar-syiar agama. </font></p>
<p><font face="Calibri">Tentang kemuliaan hari kelahiran Nabi Saaw, dalam Shahih Muslim yang dinukil dari Abi Qatadah:<em><span> </span>“Sesungguhnya Rasulullah Saaw telah ditanya tentang puasa hari Senin, maka beliau berkata: “Pada hari itu aku dilahirkan dan juga pada hari tersebut Al-Qur’an diturunkan kepadaku.” </em>Dan hadist Baihaqi yang dinukil dari<span> </span>Anas : <em>“Sesungguhnya Nabi Saaw setelah kenabiaannya telah mengakikahkan dirinya dengan menyembelih seekor kambing. Dengan melalui riwayat ini, juga terdapat riwayat yang mana Abu Thalib pada hari ketujuh kelahiran Nabi Saaw telah mengakikahkan seekor kambing.”</em></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Disini kaum <em>Wahabisme </em>mengatakan, perayaan maulid tersebut sebagai sebuah bid’ah yang sesat, yang dianggap halal padahal ternyata hukumnya haram. Kita katakan disini bahwa selama kita mempunyai dalil yang jelas tidaklah hal tersebut dianggap sebagai sebuah bid’ah. adanya kerancuan terhadap interpretasi <span></span>bid’ah yang mereka pahami sebagai sebuah persoalan yang kini belum terpecahkan. Yang hakikat sesungguhnya adalah dalil syar’inya yang sudah cukup jelas. Namun bagaimanapun, argumentasi kita ajukan belumlah dapat menyakinkan mereka. Adanya unsur <em>fanatisme</em> yang hingga kini mereka pertahankan.</font></p>
<p><font face="Calibri">Sebuah landasan hukum bagi penyelenggaraan maulid Nabi Saaw adalah wujud kecintaan yang tertanam pada hati-hati pencinta Nabi Saaw yang juga diperintahkan Allah Swt dalam firman-Nya:<span style="font-size:10pt;line-height:115%;"><span> </span>“</span><em>Katakanlah: &#8220;Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”</em> (QS Taubah ayat 24). </font></p>
<p><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;"></span></font><font face="Calibri">Namun yang terpenting adalah perayaan maulid Nabi Saaw merupakan ajang dakwah yang berpontensial guna mengenang kembali jasa perjuangan dan integritas Nabi Saaw sebagai seorang pemimpin yang mengagumkan, yang memberikan keteladanan bagi umatnya,dalam Al-Qur’an juga disinggung;<span style="font-size:10pt;line-height:115%;">.<span> </span>“</span><em>Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”</em> (QS Al-Ahzab ayat 21).<em> </em>Dan sekaligus membawa pesan-pesan Islami yang berguna bagi seluruh lapisan masyarakat.</font></p>
<p>By: Abu Aqilah</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuaqilah.wordpress.com/44/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuaqilah.wordpress.com/44/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuaqilah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuaqilah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuaqilah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuaqilah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuaqilah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuaqilah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuaqilah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuaqilah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuaqilah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuaqilah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuaqilah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuaqilah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuaqilah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuaqilah.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=44&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/05/24/perayaan-maulid-nabi-saaw-adalah-syiar-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/956702eba1ad2fb0bb13a940c2e58d8d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Cahaya Islam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2007/08/hazrat-mohamad-10_resize.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hazrat-mohamad-10_resize.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apa Dibalik Tujuan Penciptaan Manusia?</title>
		<link>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/05/17/apa-dibalik-tujuan-penciptaan-manusia/</link>
		<comments>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/05/17/apa-dibalik-tujuan-penciptaan-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2007 07:54:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahaya Islam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuaqilah.wordpress.com/2007/05/17/apa-dibalik-tujuan-penciptaan-manusia/</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Tidak diragukan lagi bahwasannya Allah Swt adalah Wujud Yang Maha Kaya (tidak membutuhkan), jika demikian, mengapa manusia diciptakan? Apa tujuan dari penciptaanya? Dengan kata lain; apa diballik tujuan penciptaan manusia? Tidakkah hal ini berarti bahwa Dia (Allah Swt) adalah wujud yang melalui tujuan penciptaan manusia membutuhkan atas sesuatu? Kalau seandainya tidak mempunyai tujuan, berarti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=33&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Tidak<span>  </span>diragukan lagi bahwasannya Allah Swt<em> </em><span> </span>adalah <em>Wujud Yang Maha Kaya </em>(tidak membutuhkan), jika demikian, mengapa manusia diciptakan? Apa tujuan dari penciptaanya? Dengan kata lain; apa diballik tujuan penciptaan manusia? Tidakkah hal ini berarti bahwa<span>  </span>Dia (Allah Swt) adalah wujud yang melalui tujuan penciptaan manusia<span>  </span>membutuhkan atas sesuatu?<span>   </span>Kalau seandainya tidak mempunyai tujuan, berarti perbuatan Allah Swt<span>  </span>tsb adalah sia-sia?</font></p>
<p><font face="Calibri">Untuk mengatasi persoalan diatas, tidaklah terlepas dari dua pokok proposisi:<span id="more-33"></span></font></p>
<p style="text-indent:-0.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 0.5in;" class="MsoListParagraphCxSpFirst"><span><span><font face="Calibri">1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></font></span></span><span dir="ltr"></span><font face="Calibri">Allah Swt, sebagai <em>Wujud Yang Maha Sempurna</em>, dan tidak membutuhkan, juga bagiNya tidak mempunyai<span>  </span>tujuan dalam pencapaian suatu kebutuhan.</font></p>
<p style="text-indent:-0.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 0.5in;" class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span><font face="Calibri">2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></font></span></span><span dir="ltr"></span><font face="Calibri">Perbuatan<span>  </span>Allah<span>  </span>Swt tidaklah menuju kesia-siaan, haruslah bagiNya<span>  </span>meraih tujuan. Tujuan tersebut berkenaan dengan tindakan <em>(objek),</em>bukanlah bagi pelaku perbuatan<em>(subjek).</em></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Mereka yang memaparkan persoalan ini, tentunya menyakini bahwa perbuatan Allah sama seperti mahlukNya dan menggambarkan bahwa Allah Swt sebagai <em>Maha Sempurna Yang Absolut </em>yang tidak memiliki kekurangan , haruslah bertujuan dibalik tindakan<span>  </span>perbuatanNya.<span>  </span>Dikarenakan, ketika perbuatan Allah Swt tanpa tujuan, akan melahirkan sebuah tindakan yang sia-sia.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Allah Swt Maha Kaya dan Sempurna, tidaklah memiliki kekurangan yang mendasari sebuah tindakan untuk <span> </span>mencapai <span> </span>tujuan. Sebagaimana <em>ulama’ teologi </em>berkata: “<em>Sesungguhnya <span> </span>perbuatan Allah tidaklah didasari oleh tujuan.”</em><span>  </span><span> </span>Pengertiannya <span> </span>adalah; sesungguhnya manfaat dan tujuan tersebut bukanlah akan kembali pada zat Allah, dikarenakan bagaimana mungkin Dia sebagai <em>Pemilik Kesempurnaan<span>  </span>yang Absolut</em> menjadikan dan menutupi diriNya dengan kekurangan.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Namun, seandainya kita katakan bahwa Allah Swt tidaklah mempunyai tujuan dalam penciptaan makhluk dan alam, berbeda kalau kita katakan bahwa hasil ciptaannya adalah perbuatan yang sia-sia. Disini adanya perbedaan antara lain kaum<em> materalisme</em> berpendapat tidaklah mempunyai tujuan dari penciptaan alam dan manusia. Adapun dalam kalangan muslim mengatakan dibalik penciptaan alam dan manusia dari sisi Allah Swt dibalik hikmah penciptaan adanya maksud dan tujuan,dan dengan keyakinan yang jelas menyatakan adanya maksud dan tujuan dibalik semua perubahan dan pergerakan alam sekitar. Dalam alqur’an Allah Swt berfirman: “<span style="font-size:10pt;line-height:115%;"> </span><em>Maka apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada </em>Kami?(QS Al-Mukminun ayat 115) dalam surat lain, Allah Swt berfirman:<span style="font-size:10pt;line-height:115%;">. “…………..</span><em>Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): &#8220;Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka</em>.”(QS Al-Imran ayat 191), juga dalam ayatNya : <em>“ Dan tidaklah kami ciptakan Iangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main”. </em>(QS Anbiya’ ayat 16)</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Maksud dan kandungan ayat-ayat <span> </span>diatas bahwasanya <span> </span>Allah Swt <span> </span>menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya itu adalah dengan maksud dan tujuan yang mengandung hikmat. Poin penting adalah tidaklah<span>  </span>maksud dan tujuan tersebut kecuali untuk kesempurnaan makhluk tidaklah bagi kesempurnaan zatNya (Allah Swt). Oleh karenanya, tujuan dari penciptaan, menyampaikan pada semua makhlukNya akan kesempurnaannya, tanpa manfaat bagiNya sehingga tidaklah menjadikan perbuatanNya sia-sia.<span>  </span></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Dan manusia akan meraih kesempurnaan dirinya melalui jalan ibadah dan beramal, dan di dalam ibadah dan amal itu sendiri mengandung sifat kesempurnaan, dan kesempurnaan ini akan dicapai manusia setelah kematian menjemputnya. Yang merupakan kehidupan yang terbaik dari sisi jasmani dan rohani. Dengan kata lain,<span>  </span>dunia tempat bercocok tanam<span>  </span>dan akhirat tempat memetik hasilnya.</font></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;"><span style="color:red;"></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuaqilah.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuaqilah.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuaqilah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuaqilah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuaqilah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuaqilah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuaqilah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuaqilah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuaqilah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuaqilah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuaqilah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuaqilah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuaqilah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuaqilah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuaqilah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuaqilah.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=33&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/05/17/apa-dibalik-tujuan-penciptaan-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/956702eba1ad2fb0bb13a940c2e58d8d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Cahaya Islam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Efek Dosa Dalam Kehidupan Manusia</title>
		<link>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/05/05/30/</link>
		<comments>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/05/05/30/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 May 2007 05:17:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahaya Islam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuaqilah.wordpress.com/2007/05/05/30/</guid>
		<description><![CDATA[Saint Augustine(354-430), seorang filosof &#38;cendikiawan nasrani menyakini bahwa perlakuan sebuah ‘dosa’ akan menghalangi untuk memperoleh ma’rifat. Ini adalah sebuah ungkapan yang penuh makna dan mengandung sisi kebenaran dari konteks kalimatnya. filosof yang telah kita tinggalkan sekian abad lamanya, namun pandanganya masih terdengar baru di telinga kita. Namun secara de fakto, filosof ini mendapatkan sebuah ilham [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=30&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><font face="Calibri">Saint Augustine(354-430), seorang filosof &amp;cendikiawan nasrani menyakini bahwa perlakuan sebuah ‘dosa’ akan menghalangi untuk memperoleh ma’rifat. Ini adalah sebuah ungkapan yang penuh makna dan mengandung sisi kebenaran dari konteks kalimatnya. filosof<span style="color:#29303b;"> yang  telah kita tinggalkan sekian abad lamanya, namun  pandanganya masih terdengar baru di telinga kita. Namun secara  <em>de fakto, </em> filosof ini mendapatkan sebuah ilham pemikiran tersebut masih dalam sebuah tatanan doktrin ajaran gereja, yang berpijak pada semua kesalahan dan dosa yang pernah mereka lakukan adalah hasil dari dosa dan kesalahan yang diperbuat oleh Adam sebagai bapak manusia. Juga berkaitan dengan permasalahan pensaliban <em>Isa Al-Masih</em> dianggap sebagai tebusan terhadap dosa manusia. Yang pada akhirnya, kitapun menyangsikan kebenaran pandangannya. <span id="more-30"></span></span></font></span><span style="font-family:'Times New Roman','serif';"></span><span style="font-family:'Times New Roman','serif';"></span><span style="font-family:'Times New Roman','serif';"></span><span style="font-family:'Times New Roman','serif';"></span><span style="font-family:'Times New Roman','serif';"></span><span style="font-family:'Times New Roman','serif';"></span><span style="font-family:'Times New Roman','serif';"></span><span style="font-family:'Times New Roman','serif';"></span></p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri"><span>Manusia di dunia ini dengan akal sehatnya, sebetulnya dapat membedakan antara perbuatan baik dan buruk, jikalau ia mau berfikir bahwa perbuatan tersebut adalah baik, pasti ia akan lakukan dan sebaliknya. Namun sayangnya, manusia sering mengikuti hawa nafsunya yang memang kurang terkontrol. Itu sebabnya, seandainya saja pelaku kejahatan tersebut menjelma menjadi hewan yang ganas sebangsa buaya (baca; aligator) atau menjadikan raut muka yang seram, pasti ia takut untuk berbuat dosa. Di sini kitapun pernah menyaksikan lewat perumpamaan di dalam buku-buku komik bergambar tentang orang-orang yang berbuat dosa dan disiksa di neraka jahannam, tergambar misalnya orang yang perutnya buncit dalam keadaan terbelenggu rantai, menggambarkan balasan terhadap orang yang makan harta anak yatim dan harta haram ketika di dunia. Ini merupakan bagian dari balasan terhadap para pelaku dosa di alam akhirat, sebagai tempat balasan. Namun memang benar, ada riwayat di dalam Islam yang mengatakan bahwa ketika ia mengibah seseorang. Kejahatan sudah dapat menjelma seperti orang yang memakan daging saudaranya sendiri di alam <em>misal </em>(antara alam dunia dan akhirat). Untuk dosa tersebut tidaklah langsung merasakan akibatnya di dunia.             </span><span style="font-family:'Times New Roman','serif';"></span></font></p>
<p><font face="Calibri"><span>Islam sebagai agama yang sempurna, melalui ajaran Rasul Saaw dan Ahlul Baitnya as, menjelaskan perintah-perintah dan menyuruh umatnya agar selalu menjaga kesucian. Oleh karenanya, sangatlah ditekankan seorang hamba Allah ketika ingin menuntut ilmu, haruslah terlebih dahulu menjaga kesucian jiwanya, seperti yang Allah Swt ajarkan kepada orang-orang mukmin, Di dalam al-Qur’an Allah Swt berfirman: <em>“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah (As Sunnah) dan mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (Surat Al-Baqarah ayat 151). </em>Di samping itu, Islam memperingatkan untuk tidak meremehkan sebuah dosa meskipun kecil, karena hal itu barangkali merupakan satu dosa besar dihadapan Allah Swt. Sebagaimana riwayat yang kita temui, yang telah dinukil dari Musa bin Ja’far yang mengatakan: “Pada hari kiamat para malaikat membawa seorang pendusta ke padang mahsyar, lalu pendusta itu disiksa oleh para malaikat dengan tongkat yang terbuat dari api neraka. Para malaikat datang membawanya, lalu memasukkan tongkat itu ke dalam dadanya dan mengeluarkan dari punggungnya, lalu memasukkan tongkat itu lagi dari satu sisinya dan mengeluarkannya dari sisi yang lain. Lalu para malaikat berkata, “Inilah balasan bagi orang yang suka berdusta.” </span></font></p>
<p><font face="Calibri"><span>Dalam sebuah masyarakat, mereka sebagai pelaku dosa tidaklah menyadari bahwa akibat dari perbuatannya akan merugikan kepentingan bersama. Dan faktanya, mereka yang berbuat dosa secara riil (nyata) akan menjadikan malapetaka bagi kehidupan sosialnya, misalnya sebagai seorang pejabat yang menyala gunakan uang pajak rakyat <span> </span>untuk kepentingan pribadi, masyarakat akan memberikan penilaian yang sangat buruk terhadapnya,dan dianggap bukanlah bagian dari individu masyarakat tersebut. Dalam hal ini, tentunya masyarakat menginginkan individu-individu yang bermanfaat sehingga akan menciptakan <span> </span>sebuah kehidupan masyarakat yang penuh dengan kerukunan dan kedamaian.</span></font></p>
<p><font face="Calibri"><span>Dalam Islam, banyak kita temui perkara-perkara yang menganjurkan kita untuk menjauhi perbuatan dosa, untuk menghindari atas efeknya yang ada. Diantaranya, menghindari dosa sebagai syarat terkabulnya do’a, dari Imam Ja’far Shadiq as, berkata,”Jangan engkau berbuat dosa, niscaya ketika itu engkau dapat melihat betapa doamu mustajab.” </span><span style="font-family:'Times New Roman','serif';"></span></font><font face="Calibri"><span>Al-Qur’an mengatakan bahwa kehidupan seorang manusia yang berdosa rawan tertiup angin. Tidak mempunyai sebuah kehidupan yang tenang dan bahagia. Rumahnya tidak ubahnya seperti penjara baginya. Inilah kehidupan yang dialami manusia pendosa. Ayat tersebut berbunyi: <em>“Dan orang-orang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri”.(ar-Ra’d ayat 31). </em>Dan para pendosa senantiasa merasa takut, dan pada akhirnya mendatangkan keraguan, hingga hati mereka tercabik berkeping-keping, di dalam ayat yang berbunyi: <em>“Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Surat at-Taubah ayat 110).</em></span></font></p>
<p><font face="Calibri"><span></span><span style="font-family:'Times New Roman','serif';"></span></font><font face="Calibri"><span>Betapa indah periwayatan yang dinukil dalam kitab-kitab do’a Ahlul Bait as, diantaranya di dalam do’a Kumail, yang beirisi pengakuan terhadap dosa, sekaligus meminta pengampunan darinya, hal ini berkaitan langsung dengan sendi kehidupan umat manusia. Di dalam do’a tersebut, seorang muslim berkata: <em>“Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang meruntuhkan penjagaan. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang mendatangkan bencana. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang merusak nikmat. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang merintangi doa. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang menurunkan bencana.” </em></span></font></p>
<p>By: Abu Aqilah</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuaqilah.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuaqilah.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuaqilah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuaqilah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuaqilah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuaqilah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuaqilah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuaqilah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuaqilah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuaqilah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuaqilah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuaqilah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuaqilah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuaqilah.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuaqilah.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuaqilah.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=30&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/05/05/30/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/956702eba1ad2fb0bb13a940c2e58d8d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Cahaya Islam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menanti Kedatangan Sang Imam as</title>
		<link>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/05/04/menanti-sang-imam-as/</link>
		<comments>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/05/04/menanti-sang-imam-as/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 May 2007 03:07:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahaya Islam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisa]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuaqilah.wordpress.com/2007/05/04/menanti-sang-imam-as/</guid>
		<description><![CDATA[Keberadaan zaman seiring dengan keberadaan Imam (hujjah Allah). Keberadaan Imam sebagai hujjah di muka bumi ini, adalah keberadaan para nabi dan para ma’sum. Kekosongan seorang Imam di zamannya akan menyebabkan kesesatan bagi para umatnya. Seperti halnya nabi Musa as hanya meninggalkan umatnya, ketika ingin bermunajat dengan Allah di gunung Thur selama 40 hari, menyebabkan umatnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=27&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2007/08/emam-zaman-11_resize_resize.jpg" title="emam-zaman-11_resize_resize.jpg"><img src="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2007/08/emam-zaman-11_resize_resize.thumbnail.jpg?w=500" alt="emam-zaman-11_resize_resize.jpg" /></a></p>
<p><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';">Keberadaan zaman  seiring dengan keberadaan <strong>Imam</strong><em> (hujjah Allah).</em> Keberadaan Imam sebagai hujjah di muka bumi ini, adalah keberadaan para nabi dan para ma’sum. Kekosongan seorang Imam di zamannya akan menyebabkan kesesatan bagi para umatnya. Seperti halnya nabi Musa as hanya meninggalkan umatnya, ketika ingin bermunajat dengan Allah di gunung Thur selama 40 hari, menyebabkan umatnya meninggalkan risalah nabinya. Bagaimana kita akan meninggalkan seorang <strong>Imam </strong><em>(hujjah Allah) </em>selama sepanjang masa?</span><span></span><span></span><span></span><span></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span><span></span><span></span></p>
<p style="background:white none repeat scroll 0 50%;line-height:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"></span></p>
<p><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"><font face="Times New Roman"><span id="more-27"></span> </font></span></p>
<p><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"><font face="Times New Roman">Ketika kita berbicara tentang sosok seorang Imam kita menyakini bahwa tugas yang diembannya sangatlah berat, membawa umat kearah hidayah dari kelanjutan amanah yang di bawanya setelah meninggalnya nabi saaw. Di sini kita melihat betapa pentingnya eksistensi seorang Imam ditengah-tengah masyarakat. Ketika tidak ada Imam, umat akan tersesat. Dan keberadaannya pun tidak mengenal suatu zaman, dengan kata lain setiap zaman membutuhkan seorang Imam. Ini berarti bahwa meninggalkan kepemimpinan seorang Imam akan terjerumus ke dalam kebatilan.</font></span><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"></span><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"></span><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"></span><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"></span><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"></span><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"></span></p>
<p style="background:white none repeat scroll 0 50%;line-height:18pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"><font face="Times New Roman">Kepercayaan tentang <strong>Imam Mahdi as</strong>, sebagai <strong>Imam Zaman</strong><em> </em>adalah kepercayaan yang di yakini oleh seluruh umat yang ada di muka bumi ini. Bukan saja dikalangan umat Islam melainkan umat di kalangan agama lainpun mengenai akan bangkitnya seseorang yang akan menyelamatkan bumi ini dari kehancuran. </font></span><span style="color:#29303b;font-family:'Georgia','serif';"></span></p>
<p><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"><font face="Times New Roman">Di kalangan umat Islam secara garis besar menyebutkan bahwa Imam Mahdi as masih ditunggu kelahirannya, sementara yang lain mengatakan beliau telah lahir hanya saja kini adalah masa ke-<em>ghaibannya</em>, dan pada saat tiba waktunya akan tiba kemunculannya.</font></span></p>
<p><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"></span><span style="color:#29303b;font-family:'Georgia','serif';"></span><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"><font face="Times New Roman">Manusia berakal menyakini tentang sebuah maslahat besar bagi alam menuju pada tahapan-tahapan kesempurnaan pada semua sisi kehidupan, artinya dengan ke-<em>hadirannya</em> sebagai penyempurna ke arah kesempurnaan sejati dan sebagai lambang penegak keadilan setelah tersebarnya kemungkaran dan kerusakan di muka bumi ini. Logikanya, Imam senantiasa ada, namun <em>ghaib </em>dari pandangan kita. Disebabkan maslahat tertentu, kuasa Allah menuntut ke<em>-ghaibannya. </em>Seperti halnya dengan nabi Isa as,  Allah Swt mengangkatnya dan memanjangkan umurnya sampai hari Kiamat.<em> </em></font></span></p>
<p><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"></span><span style="color:#29303b;font-family:'Georgia','serif';"></span><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"><font face="Times New Roman">Masalahnya adalah ketika kita ingin mengikuti seorang pemimpin (semoga Allah mempercepat kemunculannya) haruslah merupakan seorang figur yang diteladani baik dari sisi keilmuaanya maupun dari sisi amal perbuatannya. Secara tidak langsung, istilah <strong>‘maksum’</strong> pantas kita sandarkan atasnya. Dan secara jelas, ketika sesorang mengikuti pemimpin yang salah, sama halnya dengan mengikuti seseorang yang tidak tahu jalan kebenaran, menisbahkan sebuah kebenaran yang relatif tanpa dalil akan menunjukkan ketidakmurnian ajarannya. Dalam ayat al qur’an Allah Swt mengkafirkan orang-orang yang tidak mengikuti perintah-Nya : <em>“Barangsiapa yang menghukum tidak dengan apa yang telah diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.</em> (Surat Al-Maidah ayat 44).</font></span></p>
<p><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"></span><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"><font face="Times New Roman">Dari ayat tersebut, dilarang kita untuk mengikuti para pemimpin yang tidak tahu arah kebenaran. Sesuatu yang menjadi kebenaran relatif hanya mendapatkan petunjuk dari Imam. Sebagai contoh; benar tidaknya sebuah perkara, benar dalam satu sisi, salah dalam sisi yang lain. Haruslah mendapatkan arahan dari Imam. </font></span><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"></span><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"><font face="Times New Roman">Jadi seorang imam adalah pemimpin sejati bagi umatnya, yang menjaga al-qur’an dengan segala pemahamaannya (lahiriyah dan batiniyah), menegakkan hukum syariat, menegakkan keadilan, mendirikan pemerintahan Islam, memecahkan segala persoalan hukum sesuai dengan tuntutan zaman, dan lain-lain.</font></span><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"></span><span style="color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"><font face="Times New Roman">Itulah sosok kepemimpinan diatas dengan segala macam atributnya dengan sifat-sifat yang terpuji yang akan diikuti oleh umatnya. Menuntut sifat-sifat mulia juga dari para pengikutnya. Karena bagaimanapun, sifat terpuji seorang pemimpin akan mengekor pada pengikutnya sebagai lambang kesetiaan dan kecintaan terhadapnya. Alhasil, penantian akan kemunculan <em>Sang Imam </em>adalah menyangkut kesiapan kita untuk menjadi pengikutnya.</font></span></p>
<p>By: Abu Aqilah</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuaqilah.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuaqilah.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuaqilah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuaqilah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuaqilah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuaqilah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuaqilah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuaqilah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuaqilah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuaqilah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuaqilah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuaqilah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuaqilah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuaqilah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuaqilah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuaqilah.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=27&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/05/04/menanti-sang-imam-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/956702eba1ad2fb0bb13a940c2e58d8d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Cahaya Islam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2007/08/emam-zaman-11_resize_resize.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">emam-zaman-11_resize_resize.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nilai Pengorbanan Yang Lestari</title>
		<link>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/04/25/25/</link>
		<comments>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/04/25/25/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2007 06:42:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahaya Islam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisa]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuaqilah.wordpress.com/2007/04/25/25/</guid>
		<description><![CDATA[Mempelajari sejarah akan membuat kebaikan bagi kita di masa mendatang, dengan itu akan mengambil ibarat atas kejadian di masa lampau sebagai suatu &#8216;pesan&#8217; berharga di masa yang akan datang. Juga memberikan cerminan langkah-langkah yang positif dan cemerlang setelahnya. Menggali sejarah terhadap naskah-naskah literatur Islam yang sepertinya ortodoks, tidak tersentuh oleh kajian-kajian yang memadai,yang akan membuat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=25&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span dir="rtl"></span></p>
<p align="left"><strong><span style="color:#ff6600;"><span></span></span></strong><a href="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2007/08/emam-hosain-17_resize_resize.jpg" title="emam-hosain-17_resize_resize.jpg"><img src="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2007/08/emam-hosain-17_resize_resize.thumbnail.jpg?w=500" alt="emam-hosain-17_resize_resize.jpg" /></a><span><span dir="ltr"><font face="Times New Roman"><span dir="ltr"></span></font></span></span></p>
<p align="left"><span><span dir="ltr"><font face="Times New Roman"><span dir="ltr">Mempelajari <em>sejarah</em> akan membuat kebaikan bagi kita di masa mendatang, dengan itu<span>  </span>akan <span> </span>mengambil ibarat atas kejadian di masa lampau sebagai suatu &#8216;pesan&#8217;<span>  </span>berharga di masa yang akan datang. Juga memberikan cerminan langkah-langkah yang positif dan cemerlang setelahnya. Menggali <span> </span><em>sejarah <span> </span></em>terhadap naskah-naskah literatur Islam yang sepertinya <span> </span><em>ortodoks, </em>tidak tersentuh oleh kajian-kajian yang memadai,yang akan membuat kemandekan bagi riset perkembangan sejarah <span> </span>Islam.  </span></font></span></span></p>
<p align="left"><span><span dir="ltr"><font face="Times New Roman"><span dir="ltr"></span></font></span></span></p>
<p align="left"><span><span dir="ltr"><font face="Times New Roman"><span dir="ltr"><span id="more-25"></span> </span></font></span></span></p>
<p align="left"><span><span dir="ltr"><font face="Times New Roman"><span dir="ltr">Dalam sejarah, bukannya kita mengenal kebohongan, melainkan sebuah <span> </span>kenyataan.<span>   </span>Artinya dengan merekayasa sebuah sejarah tadi menghasilkan sebuah ideologi <span> </span>yang disimpangkan menurut kepentingan-kepentigan pihak tertentu, misalnya: </span><span dir="ltr">kejadian <strong>Holocaust</strong>, kisah terbunuhnya enam juta etnis Yahudi selama PD II, disini terlihat fakta bahwa kaum<em> Zionis </em>membesar-besarkan kejadian tersebut dengan tujuan </span><span dir="ltr">menyokong sempati dunia<span>  </span>terhadap kaum Yahudi. Mereka setelah itu melarang kejadian tersebut untuk dilirik kembali. Adalah sebuah<span>   </span>kebohongan yang<span>  </span>tersimpan dibalik kisah tersebut, dan mereka tidak<span>   </span>menceritakan<span>  </span>sebuah realitas yang sesungguhnya. Dan mereka tidak ingin selain mereka dan <em>kontra Zionis</em> menimbang ulang kejadian<span>  </span>yang dianggap &#8216;keramat&#8217; terse but. Di dalam Islam, kita temui beberapa kisah pada zaman <em>Bani Umayyah </em>dan <em>Bani Abbas,</em>perlu dikaji kebenarannya.<em> </em></span></font></span></span><span><span dir="ltr"><font face="Times New Roman"><span><span dir="ltr"></span></span></font></span></span><span><span dir="ltr"></span></span><span><span dir="ltr"></span></span><span><span dir="ltr"></span></span><span><span dir="ltr"></span></span><span><span dir="ltr"></span></span><span><span dir="ltr"></span></span><span><span dir="ltr"></span></span><span><span dir="ltr"></span></span><span><span dir="ltr"></span></span><span><span dir="ltr"><font face="Times New Roman"> </font></span></span></p>
<p><span><span dir="ltr"></span></span><span><span dir="ltr"></span></span><span><span dir="ltr"></span></span><span><span dir="ltr"></span></span><span><span dir="ltr"></span></span><span><span dir="ltr"></span></span><span><span dir="ltr"></span></span></p>
<p style="text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal" align="right" dir="rtl"><font face="Times New Roman"><em><span dir="ltr">Sejarah </span></em><span dir="ltr"><span> </span>adalah sumber penting bagi ilmu pengetahuan, dalam alqur&#8217;an selain modal dasar bagi ilmu pengetahuan, seperti: akal dan hati, juga kita memiliki <em>sejarah sebagai sumber pengetahuan. <span> </span></em>Terbukti alqur&#8217;an mengajak kita untuk mempelajari dan mengambil ibarat dari umat-umat sebelumnya. Didalam surat Al-Imran ayat 37, <em>Allah Swt </em>berfirman: <em>&#8221; Sesungguhnya telah berlalu setelah kamu sunahsunah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah<span>  </span>bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).&#8221;</em></span></font></p>
<p style="text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal" align="right" dir="rtl">&nbsp;</p>
<p style="text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal" align="right" dir="rtl">&nbsp;</p>
<p style="text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal" align="right" dir="rtl">&nbsp;</p>
<p style="text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal" align="right" dir="rtl"><span dir="ltr"></span></p>
<p style="text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal" align="right" dir="rtl"><span><span dir="ltr"><font face="Times New Roman">Dari ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa kejadian sejarah<span>  </span>merupakan <em>sunah</em> Allah yang sudah ditetapkan dan tidak akan pernah berubah. Namun yang menjadi pertanyaan adalah penetapan sebuah landasan ideologi yang ada dalam sejarah dapatkah mengalami sebuah perubahan. Mengingat bahwa sejarah bagian dari waktu dan zaman, keduanya selalu mengalami sebuah perubahan, serta didasari dari sebuah<span>  dalil</span> bahwa semua ideologi tidak selamanya akan bertahan, seperti halnya penetapan sebuah landasan hukum di figh. Seorang <em>mujtahid </em><span> </span>yang mempunyai otoritas hukum memberikan fatwa hukum yang berdasarkan dalil-dalil dan maslahat yang disesuaikan menurut tuntutan zaman. Artinya, hukum asli mengalami sebuah perubahan dengan menyadarkan hukum berdasarkan maslahat tadi.</font></span></span></p>
<p style="text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal" align="right" dir="rtl">&nbsp;</p>
<p style="text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal" align="right" dir="rtl">&nbsp;</p>
<p style="text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal" align="right" dir="rtl">&nbsp;</p>
<p style="text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal" align="right" dir="rtl"><span dir="ltr"><span dir="ltr"><font face="Times New Roman">Berdasarkan pendapat kalangan <em>Marxisme,</em> adanya penetapan dalam sejarah, artinya kejadian sejarah tidaklah berubah <em>(jabr al-tarikh)</em>. Mereka menyakini  kehidupan manusia yang berpijak pada keinginan-keinginan materi, yakni keinginan dan tujuan dasar manusia<span>  </span>dalam kehidupannya untuk sebuah manfaat . Apapun yang kita pikirkan mengenai : budaya, akhlak, agama, keahlian, semuanya bukanlah sebuah asas bagi manusia.<em> Jabr al-tarikh,</em> di sini diartikan<em> </em>merupakan<span>  </span>sebuah keharusan dan kelaziman dari tarikh tersebut. Disini dicontohkan: hubungan <em>kausalitas, </em>yang mengharuskan akibat selalu membutuhkan sebab. Syahid Murtadha Muthahari, dan kalangan Islam, tidak menafikan adanya <em>jabr al-tarikh,</em> tidak hanya terbatas pada sisi materi, namun yang dapat dipelajari dalam sebuah tarikh adalah sisi maknawi yang berupa kebebasan, kemuliaan, ketulusan, dsbnya.</font></span></span></p>
<p style="text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal" align="right" dir="rtl">&nbsp;</p>
<p style="text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal" align="right" dir="rtl">&nbsp;</p>
<p style="text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal" align="right" dir="rtl">&nbsp;</p>
<p style="text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal" align="right" dir="rtl"><span dir="ltr"><span><font face="Times New Roman">Sejarah </font></span></span><span dir="ltr"><span dir="ltr"><font face="Times New Roman"> yang sarat akan nilai maknawi ini dapat kita lihat dalam peristiwa <em>Karbala </em>(kejadian terbunuhnya Imam Husein as dan keluarga beserta famili dan sahabatnya), walaupun kita tidak menafikan sejarah budaya lain yang mempunyai sisi-sisi maknawi. Di situ diajarkan tentang kesabaran, perjuangan, pergorbanan, ketulusan, kecintaan, dll.</font></span></span></p>
<p style="text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal" align="right" dir="rtl">&nbsp;</p>
<p style="text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal" align="right" dir="rtl">&nbsp;</p>
<p style="text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal" align="right" dir="rtl">&nbsp;</p>
<p style="text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal" align="right" dir="rtl"><span dir="ltr"><span dir="ltr"></span></span><span dir="ltr"><span dir="ltr"><font face="Times New Roman">Peristiwa <em>Karbala </em>adalah sebuah peristiwa yang mempunyai keitimewaan dan kelebihan tersendiri yang terlukis di dalam sejarah, bukanlah di dalamnya hanya menceritakan sebuah peperangan sebagai sebuah tragedi yang harus diingat seperti halnya mereka melakukan sebuah peperangan yang didalamnya saling membunuh dan terbunuh, namun nama mereka terkubur dalam buku sejarah. Para peneliti harus membuka halaman demi halaman buku sejarah. Setelah banyak halaman yang ia lampaui, ia baru dapat menutupnya dan menarik kesimpulan darinya. Namun peristiwa <em>Karbala </em>senantiasa menjadi nominasi dalam buku-buku sejarah dan selalu akan tetap lestari.</font></span></span></p>
<p style="text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal" align="right" dir="rtl">&nbsp;</p>
<p style="text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal" align="right" dir="rtl">&nbsp;</p>
<p style="text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal" align="right" dir="rtl">&nbsp;</p>
<p style="text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal" align="right" dir="rtl"><font face="Times New Roman"><span dir="ltr"><span><font face="Times New Roman"><span dir="ltr">Mengenai kepribadian Imam Husein sendiri, bahwa kehidupan beliau seluruhnya <em>irfan.</em> Dalam ucapan beliau: <em>&#8220;Aku tidak melihat kematian kecuali kebahagiaan, dan kehidupan bersama kaum zolim<span>  </span>adalah sebuah kehinaan.&#8221; </em></span><em><span></span></em></font><span dir="ltr"><font face="Times New Roman">Oleh karenanya, banyak hikmah yang kita ali dalam sejarah, khususnya ketika kit abaca pristiwa atau tragedi &#8216;<em>Karbala</em><em>&#8216;</em> yang senantiasa menimbulkan sebuah acuan dan semangat perjuangan melawan orang-orang zalim. Juga memberikan pelajaran-pelajaran yang berharga lainnya.</font></span></span></span></font></p>
<p style="text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal" align="right" dir="rtl">&nbsp;</p>
<p style="text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal" align="right" dir="rtl">&nbsp;</p>
<p style="text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal" align="right" dir="rtl">By: Abu Aqilah</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuaqilah.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuaqilah.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuaqilah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuaqilah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuaqilah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuaqilah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuaqilah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuaqilah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuaqilah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuaqilah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuaqilah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuaqilah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuaqilah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuaqilah.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuaqilah.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuaqilah.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=25&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/04/25/25/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/956702eba1ad2fb0bb13a940c2e58d8d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Cahaya Islam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abuaqilah.files.wordpress.com/2007/08/emam-hosain-17_resize_resize.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">emam-hosain-17_resize_resize.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agama Untuk Manusia Atau Manusia Untuk Agama?</title>
		<link>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/04/13/18/</link>
		<comments>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/04/13/18/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 06:13:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahaya Islam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuaqilah.wordpress.com/2007/04/13/18/</guid>
		<description><![CDATA[Mereka menyadari akan tuntutan di masa modern, yakni manusia menginginkan  segala  sesuatu. Termasuk  manusia menginginkan agama. Padahal menurut pandangan klasik, mereka memandang manusia untuk agama. Mereka mengatakan bahwa didalam pandangan klasik terhadap agama, manusia memandang  tinggi agama dan akidah. Dengan dalil ini, manusia menjunjung tinggi akidah dan menjadikan jiwa lahiriyah mereka tiada  bernilai, serta dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=18&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Times New Roman"><span>Mereka menyadari akan tuntutan di masa modern, yakni manusia menginginkan<span>  </span>segala <span> </span>sesuatu. Termasuk<span>  </span>manusia menginginkan agama. Padahal menurut pandangan klasik, mereka memandang manusia untuk agama. Mereka mengatakan bahwa didalam pandangan klasik terhadap agama, manusia memandang<span>  </span>tinggi agama dan akidah. Dengan dalil ini, manusia menjunjung tinggi akidah dan menjadikan jiwa lahiriyah mereka tiada <span> </span>bernilai, serta dengan mudah mereka akan mengorbankan jiwanya itu demi agama. Adapun di masa modern, manusia menempatkan dirinya lebih tinggi atas akidahnya. <span> </span>Ini tidak berarti bahwa manusia akan mengorbankan dirinya demi akidahnya, juga tidaklah menjadikan jiwanya terbunuh atas dasar akidah yang dianutnya. </span></font><strong><span><font face="Times New Roman"> </font></span></strong><strong><span><span><font face="Times New Roman"><span>          </span></font></span></span></strong><strong><span><span><font face="Times New Roman"><span>  </span></font></span></span></strong></p>
<p><strong><span><span><font face="Times New Roman"><span>          <span id="more-18"></span></span></font></span></span></strong></p>
<p><strong><span><span><font face="Times New Roman">Tiada diragukan di masa modern bahwa manusia lebih terhormat atas pemikirannya. Hal ini dapat ditinjau dari: <em>Pertama,</em> argumentasi apa yang meletakkan manusia lebih terhormat atas pemikirannya? <em>Kedua, </em>apakah juga demikian halnya menurut pandangan klasik atau bertentangan? Adapun di masa modern manusia telah menemukan kehormatan dirinya dan meletakkan kedudukan rendah atas pemikirannya, dari sisi akibat<span>  </span>perkara yang terlupakan oleh manusia.<span>  </span>Dari sisi lain, sebagai akibat dari pengetahuan manusia yang telah hilang kebenarannya. Manusia modern, <span> </span>menyakini pengetahuan yang nisbi, hingga tidak mungkin berharap pemikirannya tersebut akan bernilai dan akan sampai pada titik terendah dari manusia. Jika<span>  </span>manusia<span>  </span>menemukan sebuah hakikat dari pemikirannya, akan mengantarkannya pada kemuliaan dan <span> </span>terjaga kehormatannya. Hingga mungkin akan menjadikan pemikirannya lebih mulia dari dirinya.</font></span></span></strong><strong><span><span><font face="Times New Roman">Adapun pemikiran klasik yang tersebar, telah menemukan nilainya yang sangat berharga dalam sejarah manusia. Tidaklah hal tersebut berlaku atas pemikiran di masa modern. Oleh karenanya, terdapat sebuah kesalahan atas misi pengajaran yang disampaikan di masa modern, yakni pada masa sebelum pembaharuan Eropa, mempengaruhi<span>  </span>misi pengajaran yang disampaikan<span>  </span>atas semua budaya dan negara. Sehingga akan memaksakan kesulitan yang sama atas semua hukum yang berlaku di Eropa pada abad pertengahan. Ini adalah hasil sebuah makar yang diciptakan oleh para atheis, yang menjadikannya sebuah fenomena di dunia modern, yang mengharuskan penyelesaiannya.</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></span></strong></p>
<h1><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span></h1>
<h1><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span></h1>
<h1><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Tujuan Agama <span> </span></span></h1>
<p><span><span><font face="Times New Roman">Kami di sini tidak mampu mengisyaratkan berbagai pemikiran klasik. Tetapi, kami akan menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan pemikiran klasik menurut pendapat kami. Pada masa datangnya budaya Islam, turunnya kitab-kitab suci dan diutusnya para Rasul yang mengantarkan manusia menuju jalan kesempurnaan. Hal ini sangatlah jelas, bahwa agama adalah petunjuk Tuhan Yang Penyayang dan Pemberi Hidayat kepada manusia hingga menyampaikan manusia pada kesempurnaan yang diinginkan. Tujuan agama adalah memberikan petunjuk pada manusia, sehingga dengan kekuatan petunjuk agama akan menyampaikannya menuju <em>ke-haribaan </em><span> </span>Ilahi.</font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Jika demikian, maka agama adalah perantara dalam<span>  </span>membantu tugas<span>  </span>manusia untuk merealisasikan tujuan mulianya. Dengan dasar ini, tidaklah mungkin<span>  </span>digambarkan bahwa bagaimana mungkin ketika agama muncul manusia menjadikan tebusan dan pengorbanan pada dirinya. Jika seandainya manusia tidak berpegang pada prinsip agama, tidak menjadikan kesempurnaan kekuatan ruh agama. Maka tidak akan menyampaikannya ke tujuan agama. Jika manusia <span> </span>tanpa memperdulikan petunjuk agama dan agama hanya sebagai identitas lahirnya akan menjerumuskannya ke jurang kehancuran, dan yang pantas di sebut atheis. Dalam pandangan Islam yang murni, agama sebagai jalan kebenaran dan keselamatan. Agama sebagai jalan menyampaikan pada tujuan<span>  </span>dan kesempurnaan<span>  </span>realitas wujud yang paling tinggi.<span>  </span>Agama sebagai rantai dan penyambung antara <em>Alam Malaikat</em> dan <em>Alam Malakut</em>. Agama datang, hingga menjadikan manusia yang berasal dari kedalaman<span>  </span>tanah menuju ke singgasana langit. Agama sebagai pengobat rasa takut kita. Agama sebagai pelindung terhadap berbagai kesulitan yang mendasar dari alam natural. Agama adalah bagian penting dari kehidupan manusia. Agama yang merubah ketakutan akan mati pada manusia <span> </span>menjadikannya sebagai sebuah harapan kehidupan yang abadi. </font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></span><span><span><font face="Times New Roman">Dari sini,<span>  </span>tidaklah kita menjadikan dalil ojektif<span>  </span>diatas,<span>  </span>kita ingin berbicara tentang agama menurut pandangan Islam murni. Mengidentitaskan ikatan agama dengan manusia. Begitu juga dengan memperhatiakan semua permasalahan di atas dengan tujuan manusia. Agama yang membantu tugas manusia untuk keselamatannya. Sebelumnya, terdapat sebuah pertanyaan: jika demikian, mengapa melalui perantara agama, jiwa manusia perlu dikorbankan, dan mengapa melalui penjagaan atas<span>  </span>agama jiwa suci manusia diberikan dan mengantarkannya ke jalan <em>syahadah </em>? dan mengapa ada budaya menjemput <em>syahadah</em> dalam agama, khususnya<span>  </span>agama Islam ?</font></span><span><font face="Times New Roman">  </font></span><span><span></span></span></span><span><strong><span><font face="Times New Roman"> </font></span></strong></span></p>
<p><font face="Times New Roman"><span><strong><span></span></strong></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span><strong><span>Motivasi Manusia</span></strong><strong><span>  </span></strong></span></font></p>
<p><span><strong><span><span><font face="Times New Roman">Sebelum memaparkan hal di atas, perlu untuk memperhatikan beberapa mukaddimahnya. Setiap perkara yang dilakukan oleh manusia, tidaklah terlepas dari<span>  </span>dua hal: apakah perkara yang dilakukan tersebut berdasarkan kebenaran atau berdasarkan maslahat ? Dengan kata lain, <em>motivasi</em> (dorongan) kerja manusia ada dua bentuk: mencari sebuah kebenaran dan berfikir secara maslahat. Ketika saya mengerjakan shalat, apakah saya telah menemukan Tuhan yang memang layak disembah ? atau melalui jalan ini Dia ingin disembah <em>(motivasi mencari kebenaran</em>) atau dengan sebab tadi, shalat akan menjadikan keselamatan baginya <em>(motivasi berfikir maslahat). </em><span> </span><span> </span>Jika saya tidak berkata bohong. Dengan dalil ini, berbohong adalah salah (<em>menuntut kebenaran).</em> Atau dengan dalil tadi, berbohong menyebabkan azab yang pedih <em>(motivasi berfikir secara maslahat).</em> Berdasarkan dua prinsip tadi kita akan memberikan dua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas:</font></span><strong><span><font face="Times New Roman"> </font></span></strong></span></strong></span></p>
<p><span><strong><span><strong><span></span></strong></span></strong><strong><span><strong><span><font face="Times New Roman">1. Mencari Kebenaran</font></span></strong><strong><span><font face="Times New Roman"> </font></span></strong><strong><span><strong><span></span></strong></span></strong></span></strong></span><span> </span><font face="Times New Roman"><strong><span><span>           </span></span></strong></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span>Pencari kebenaran terbentuk dari tiga perkara: <em>1. Kecenderungan 2. Pandangan 3. Metode</em>. Hakekat pencari kebenaran akan ditemukan sesuai dengan tiga bentukan ini: <em>1. Aliran kebenaran. <span>  </span>2. Kebenaran yang yakin. 3. Kebenaran sebagai tolak ukur.</em> Manusia dalam mencari kebenaran melalui tiga bentuk yang berada dalam dirinya, yakni hati sebagai pusatnya niat atau maksud dan mencintai dan membenci manusia. Otak yang mana sebagai pusat pandangan-pandangan manusia. Fenomena sebagai tempat metode-metode amal perbuatan dan tingkah laku manusia untuk menetapkan sebuah hakekat. Cinta dan benci pada manusia hanya berdasarkan kebenaran dan hakekat <em>(aliran kebenaran),</em> selain dari keyakinan-keyakinan yang benar maka iman tidak bisa didatangkan dan juga menerima setiap keyakinan yang benar <em>(kebenaran yang yakin)</em> dan selalu berdiri dengan kebenaran dan sebab-sebabnya. Dan dalam sisi pengamalan, mereka tidak akan berpaling. Dan prilaku mereka hanya berdasarkan atas hakekat <em>(kebenaran sebagai tolak ukur).</em></span></font><span><font face="Times New Roman">  </font></span></p>
<p><span></span><span><span></span></span><span><strong><span><font face="Times New Roman">Ali as sebagai tauladan pencari kebenaran<span>  </span><span> </span></font></span></strong><strong><span><font face="Times New Roman"> </font></span></strong><strong><span><font face="Times New Roman"><strong><span><span>         </span></span></strong></font></span></strong></span></p>
<p><span><strong><span><font face="Times New Roman"><span>Tauladan tertinggi manusia sebagai pencari kebenaran adalah Ali Bin Abu Thalib as, yang mana didalam segala sesuatu berpegang pada kebenaran, dan tidaklah mencintai sesuatu selain kebenaran. Walaupun di dalam kewilayahan dan pemerintahan. Jika hal tesebut bukan sebuah kebenaran, maka atas <span> </span>salah satu bagian dari sepatunya adalah sesuatu yang sedikit lebih berharga (khutbah 33<em>).</em> Setiap seorang akan mengetahui bahwa beliau adalah orang yang paling mulia diantara rakyat yang mana kebenaran di sisinya lebih ia cintai dari segala sesuatu <em>(aliran kebenaran).</em> Tidaklah menghukumi sesuatu menurut keyakinannya selain kebenaran dan kenyataan. Dan mengenal <span> </span>kebenaran setiap saat serta tidak berhenti waktunya di dalam kebenaran (khutbah 4).<em> </em>Dalam sisi amal perbuatan, selalu dalam lingkaran kebenaran. Tidaklah hadir dalam dirinya suatu kebohongan untuk mendapatkan kedudukan khilafah ( dalam musyawarah pemilihaan setelah khilafah kedua), orang-orang kuat di sisi beliau menjadi lemah sehingga mereka mengembalikan<span>  </span>haknya (khutbah 37), beliau mengingatkan dengan bersumpah atas nama Tuhan bahwa untuk kebenaran dan kebebasan dari cengkraman kebatilan. Dan dalam setiap sesuatu yang dicampuradukkan dengan kebatilan, hendaklah hal tersebut diperangi (khutbah 104), dalam tolak ukur kebenarannya hingga dengan perkembangannya terhadap para penuntut hak lebih dan<span>  </span>yang keliru memaksa beliau melakukan tiga peperangan yang tidak inginkan, yang mengakibatkan jiwa beliau sendiri melayang atas dasar keadilan.</span></font><span><font face="Times New Roman"> </font></span></span></strong></span><span><span></span><span><span></span></span><span><span></span><span><strong><span><font face="Times New Roman">Pengorbanan<span>  </span>di<span>  </span>Jalan Kebenaran</font></span></strong><strong><span><font face="Times New Roman"><span> </span></font></span></strong><font face="Times New Roman"><strong><span><span>            </span></span></strong><span>Ini adalah keadaan seseorang yang telah menemukan dan berpegang teguh kebenaran. Jika halnya seseorang telah menemukan kebenaran. Jika ia ingin mendapatkan kebenaran, haruslah juga berbuat demikian. Apakah <span> </span>hakikat nilai penemuan kebenaran tidak ada, sehingga badan manusia perlu dikorbankan? Tentunya kesempurnaan manusia<span>  </span><span> </span>selalu tegar dalam kebenaran dan berperang demi kebenaran ? tidaklah dari sisi kemanusiaan kita mempunyai tolak ukur kebenaran? Manusia adalah pencari kebenaran, kemanusiaan itu sendiri dalam kelompok pandangan kebenaran, kebenaran yang yakin dan kebenaran sebagai tolak ukur. Oleh karenanya, dalam penilaian esensi ini mengorbankan ikatan kemanusian secara materi pada dirinya.</span></font></span></span></span></p>
<p><span><span><span><font face="Times New Roman"><span></span></font><span><font face="Times New Roman"> </font></span></span></span></span><span><span></span><span><span></span></span><span><strong><span><font face="Times New Roman">2. Berfikir maslahat</font></span></strong><strong><span><font face="Times New Roman"> </font></span></strong><strong><span><span><font face="Times New Roman"><span>         </span></font></span></span></strong></span></span></p>
<p><span><span><strong><span><span><font face="Times New Roman">Seseorang yang melakukan perbuaatannya berdasarkan prinsip<span>  </span>maslahat, harus memulai dengan pengenalan terhadap maslahat pribadinya. Kemudian akan mengetahui maslahat apa yang paling baik<span>  </span>bagi rakyat. Dan bagaimana akan mendapatkan maslahat itu, melalui jalan apa yang bisa menjauhkan diri dari perkara yang membahayakan serta akan mendekatkan pada perkara yang menguntungkan. Pada dasarnya, sesuatu apa yang menguntungkan dan permasalahan apa yang merugikan. Seseorang yang berpegang pada agama akan mengetahui bahwa Tuhan Yang Maha Bijaksana dan Penyayang mengetahui maslahat sesuatu dan menginginkannya. Oleh karenanya, paling tingginya<span>  </span>tingkat maslahat pada-Nya akan menjamin suatu<span>  </span>kebaikan dalam ruang lingkup agama. Apabila<span>  </span>bagian dari maslahat ke depan dan yang terlewati tidak diketahui maka lebih diutamakan maslahat di dalam ketetapan agama dan maslahat terhadap amal perbuatan atasnya. Dikarenakan berpegang pada agama sebagai jalan keselamatan dan mengantarkan pada kebahagian dunia dan akhirat. <span> </span><span> </span></font></span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Alhasil, orang beragama akan menanti sebuah pengorbanan untuk mengantarkannya pada keselamatan. Dan ini adalah perbuatan<span>  </span>orang-orang yang berakal dan kemanusiaan. Dikarenakan, akan menjamin maslahat manusia pada jalan ini. Benar, akan hilang sebagian maslahat dunia, akan tetapi akan mendatangkan kebaikan yang abadi. Apakah jual beli dan perdagangan yang lebih besar dan menguntungkan dari hal ini? Allah Swt dalam al-qur’an berfirman: “<em>Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih. Yaitu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.”</em> (Shaf ayat 10 dan11)</font></span></span></strong></span></span></p>
<p><span><span><font face="Times New Roman">Setiap dua individu manusia melalui jalan ini mampu mengantarkan jalan menuju <em>maslahat</em> akhirat dan mendapatkan keselamatan atas dirinya serta dengan dalil ini juga akan mendapatkan ketenangan dunia.</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span><span><span><font face="Times New Roman"><span> </span>Agama seperti tali yang telah disambungkan dari puncak gunung, sehingga para pendaki dengan perantara tali tersebut mampu untuk naik ke atas gunung,<span>  </span>sebagai pengaman dari jatuh atau kecelakaan serta sebagai alat bantu naik. Begitu juga agama sebagai <em>tali Allah</em> yang kuat, dengan berpegang dengannya mampu mengantarkan kepada puncak keselamatan dan mendapatkan<span>  </span>kebaikan-kebaikan <span> </span>yang pasti dan abadi serta telah bergerak pada puncak keamanan dan ke- tenangan jiwa. Yakni, juga seiring dengan ketenangan duniawi serta kebahagiaan akhirat: “ <em>Barang- siapa yang berpegang pada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus&#8230;.” </em><span> </span><em>“Dan berpeganglah kalian<span>  </span>pada tali(agama) Allah dan janganlah bercerai berai&#8230;” </em>(surat Al-Imran ayat 101 dan 103).<span>   </span></font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></span><span><span><font face="Times New Roman"><span>            </span>Adapun jika disandarkan pada <em>maslahat </em>kelompok: Agama, khususnya agama Islam. Adalah agama untuk masyarakat dan juga bermanfaat atas sebuah masyarakat<span>  </span>yang<span>  </span>berjalan menurut maslahat-maslahat dunianya, juga melalui jalan agama<span>  </span>akan menjamin maslahat-maslahat tersebut (alhasil, pembahasan di atas berhubungan dengan agama).</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span><span><span><font face="Times New Roman"><span> </span></font></span></span></span></span></p>
<p><span><span><span><span><font face="Times New Roman"><span></span></font></span><strong><span><font face="Times New Roman">Pengorbanan untuk menjaga maslahat</font></span></strong><strong><span><font face="Times New Roman"> </font></span></strong></span></span><span><span><font face="Times New Roman"><span>   </span></font></span></span></span></p>
<p><span><span><span><font face="Times New Roman">Dari sisi ini mampu diterima secara rasional, yang mana agama akan menjamin maslahat bagi manusia. Pengorbanan pada jalan agama sangatlah berarti. Jika masyarakat ingin memperoleh maslahat ini maka harus berpegang pada agama. Untuk menjaga agama harus memberikan sumbangan yang diperlukan. Terkadang sumbangan itu berupa jiwa manusia. Dari sisi ini haruslah menjaga bahwa sumbangan yang telah diberikan tidaklah harus mendapatkan faedah yang dihasilkan. Seorang komandan pasukan akan berfikir mengenai tujuannya dalam berperang, menjaga jiwa kelompoknya dan menyelamatkan mereka dari serangan musuh. Jika tidak dipimpin, maka pasukannya akan banyak yang terbunuh. Adapun seorang komandan mampu menyelamatkan mereka, dan untuk menyelamatkan mereka semua haruslah menjaga perintahnya. Dan ini adalah rasional, bahwa mereka mengorbankan beberapa oranga dari anggota pasukan untuk menjaga dan menyelamatkan yang lain.dan memikul tanggungjawab penjagaan atas perintah komandan serta menjaga keselamatan dirinya sebelum ajal menjemputnya. Benar, bahwasaanya seorang komandan untuk menyelamatkan pasukannya, tidaklah kebalikannya. Adapun<span>  </span>untuk merealisasikan perkara ini terkadang dianggap perlu yang menjadikan ketaatan beberapa anggota pasukan kepada komandannya, hingga dengan menjadikan ia tetap hidup demi keselamatan pasukannya.</font></span></span></span></p>
<p><span><span><span><font face="Times New Roman">Oleh</font></span></span></span><span><span><span><font face="Times New Roman">karena itu, dengan dasar<span>  </span>berfikir atas maslahat <em>duniawi</em> juga merupakan sebuah aturan yang ada pada agama, juga perhitungan untung dan ruginya haruslah dengan ketelitian, hingga pengorbanan di jalan agama mempunyai makna dan kematian menuju <em>syahadah</em> atas orang-orang<span>  </span>yang dimuliakan di jalan agama, pada dasarnya adalah jalan untuk menjamin maslahat-maslahat manusia. Begitu juga dengan kelanggengan agama ini dapat menjamin maslahat-maslahat mereka. Untuk itu, dorongan memperkuat sisi <span> </span>ruhani <em>syahadah</em> bukanlah dengan pengertian penilaian yang tidak berharga atas jiwa manusia. Akan tetapi, mempersiapkan pada diri manusia untuk menjamin maslahat atas dirinya </font></span></span></span></p>
<p><font face="Times New Roman"><span><span><span><strong><span>Kesempurnaan manusia melalui jalan pengorbanan.</span></strong><strong><span><span><span>  </span>Oleh karenanya, tidak ada satu ketetapan atas dalil yang disebutkan yang mampu mengklaim bahwa jiwa manusia tidak bernilai.<span>  </span>Atau manusia melakukan pengorbanan demi agama. Atas dasar ini bahwa yang mengatas namakan agama, bukanlah dengan dalil lain sebagai sebuah kebenaran atau maslahat atas diri manusia.</span><span><span>      </span>Jika menjadikan pengorbanan di jalan agama sebagai sebuah wasiat. Dalam kenyataannya, hal tersebut dalam berwasiat untuk kesempurnaan dirinya dan menyampaikannya menuju jalan kebahagiaan. Permintaan atas <em>syahadah </em><span> </span>bukanlah tanpa nilai. Akan tetapi, sampai pada satu tingkatan hingga batasan yang mana Tuhan dengan dalil ruhaniyah <em>syahadah </em>ini, membanggakannya atas para malaikat. Para syahid dan pembela di jalan agama, mereka sendiri akan mendapatkan kebahagiaan yang abadi, bumi terjaga, juga kelestarian agama serta akan mempersiapkan kepada kebahagiaan yang lain.<span>     </span><span>     </span><span> </span><span> </span></span></span></strong></span></span></span></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuaqilah.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuaqilah.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuaqilah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuaqilah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuaqilah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuaqilah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuaqilah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuaqilah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuaqilah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuaqilah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuaqilah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuaqilah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuaqilah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuaqilah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuaqilah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuaqilah.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=18&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/04/13/18/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/956702eba1ad2fb0bb13a940c2e58d8d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Cahaya Islam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peran Penting Akal Dalam Konsep Agama</title>
		<link>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/04/11/17/</link>
		<comments>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/04/11/17/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2007 12:35:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahaya Islam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuaqilah.wordpress.com/2007/04/11/17/</guid>
		<description><![CDATA[Ikatan antara akal dan agama adalah pembahasan yang cukup mendetail dalam sejarah pemikiran manusia. Banyak cabang pembahasan yang dibahas di dalamnya, di antaranya: bagaimana ikatan antara akal dan iman (dalam pandangan dunia Barat dan Islam)? Masalah yang perlu dilontarkan ikatan antara akal dan iman; keduanya menyangkut tentang keyakinan kita terhadap Allah Swt. Apakah keimanan atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=17&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';">Ikatan antara akal dan agama adalah pembahasan yang cukup mendetail dalam sejarah pemikiran manusia. Banyak cabang pembahasan yang dibahas di dalamnya, di antaranya: bagaimana ikatan antara akal dan iman (dalam pandangan dunia Barat dan Islam)? Masalah yang perlu dilontarkan ikatan antara akal dan iman; keduanya menyangkut tentang keyakinan kita terhadap Allah Swt. Apakah keimanan atau kepercayaan terhadap sesuatu harus dijelaskan melalui dalil akal dan akal memberikan peran penting di dalamnya? Ataukah sudah merupakan hal yang jelas sehingga tidak butuh lagi oleh penjelasan dalil akal. Atau keimanan berdiri di luar garis tatanan akal dan tidak saling terkait? Bagaimana hubungan antara akal dan syariat?</span><span dir="rtl"></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"><span dir="rtl"></span> <span id="more-17"></span>                          </span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"> </span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"></span></p>
<p style="background:white none repeat scroll 0 50%;line-height:18pt;text-align:justify;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';">Akal dan Iman </span></strong><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';">           </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';">Salah satu pentingnya masalah dalam filsafat agama hubungan antara iman dan akal. Dalam masalah ini pertanyaan-pertanyaan telah diutarakan sebelumnya. Apakah keyakinan beragama yang berasaskan iman merupakan hal yang rasionalitas, perbuatan yang selain itu bertentangan dengan rasio. Jika apa yang kita sajikan tersebut tidak mampu mengklaim atau tidak mampu menetapkan keyakinan agama sesuai dengan akal, apakah itu benar. Sebagai contoh: untuk menetapkan adanya wujud Tuhan melalui sesuatu dalil, dengan itu kita yakin wujud Tuhan sesuatu yang bisa diterima oleh akal? Dalam pandangan agama Nasrani, pembahasan antara hubungan antara iman dan akal, terdapat dua pandangan yang saling bertentangan. Pertama, kesesuaian antara keyakinan-keyakinan agama dengan akal, contohnya; iman terhadap Tuhan sesuatu yang diterima secara akal (Rasionalisme) Salah satu tokohnya adalah Thomas Aquinas (1224-1273) berpendapat bahwa keimanan melalui pengajaran oleh kitab suci dan keseluruhan ajaran atau peraturan yang ada di dalamnya, adalah Tuhan langsung sebagai pengajarnya. Juga tidak diragukan sebagai kitab suci (perkataan Tuhan) yang diyakini adalah sudah merupakan hal-hal yang bersifat rasionalitas. Pendapat kedua, keyakinan-keyakinan agama tidak sesuai dengan akal (Fideisme). Di antara tokohnya adalah Alvin Plantinga (1932-) yang menyerupai fitrah pada diri manusia, dengan mengatakan keyakinan manusia terhadap Tuhan terdapat dalam jiwa manusia tanpa memerlukan dalil akal. Banyak lagi tokoh-tokoh yang mengatas namakan kedua kelompok di atas, juga terdapat pro dan kontra terhadap pendapat-pendapat di atas. Lain lagi yang berpendapat bahwa akal dapat mengganggu ketenangan iman, oleh karenanya tidak ada hubungan antara akal dan iman. Artinya iman akan di putar balikkan melalui dalil akal, sehingga dalil akal akan membahayakan keimanan bagi khalayak awam. Namun, sama-sama kita mengetahui bahwa salah satu kelebihan yang ada pada manusia dibanding dengan makhluk lainnya, jika manusia mengfungsikan akalnya. Banyak persoalan yang ada dalam konsep keagamaan diselesaikan melalui dalil akal. Di sini akal terus berjuang mempertahankan haknya. Dan dalam persoalan syariatpun, dalil akal untuk menopang kesempurnaannya.<br />
Hubungan akal dan agama secara jelas, bahwa akal dan agama merupakan suatu pemberian Allah Swt yang keduanya menyampaikan manusia kepada suatu kesempurnaan. Dalam ayat:; “<em>Sesungguhnya kami turunkan alqur’an dengan bahasa arab supaya mereka berakal.”   <a name="_ftnref1" title="_ftnref1"></a><a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1" title="_ftnref1"><strong><span style="color:#909d73;text-decoration:none;">[1]</span></strong></a>        </em> Dalam Islam akal sangatlah terkait hubungannya dengan iman, yakni melalui akalnya dia akan memahami agama karena akal adalah salah satu sumber syariat Islam. Ikatan keduanya akan menghantarkan manusia ke jalan kebahagiaan. Dalam riwayat Imam Shadiq berkata:”<em>Akal adalah dalil seorang mukmin. Dan petunjuk bagi orang mukmin.”Dalam riwayat lain disebutkan: “ Setiap yang berakal pasti memiliki agama. Dan yang mempunyai agama akan menghantarkan ia ke surga.”<a name="_ftnref2" title="_ftnref2"></a><a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2" title="_ftnref2"><strong><span style="color:#909d73;text-decoration:none;">[2]</span></strong></a> Dalam ayat dan riwayat di atas secara tegas Islam sangat mementingkan masalah akal. Namun, ada beberapa pendapat dalam mazhab Islam yang satu dengan yang lainnya saling bertentangan dan ada pula yang mendukung fungsi dan peran akal. Diantaranya: Pendapat Ahlul Hadist<strong> </strong>; penggunaan dalil-dalil rasionalitas dalam masalah keimanan dan agama adalah haram. Cukuplah perkara-perkara agama apa yang didatangkan oleh nabi.. Akal tidak mampu menyingkap hukum-hukum Tuhan. Juga mereka berpegang kepada penafsiran yang nampak(dhahir) yang ada pada alqur’an, sehingga adanya pengertian tajsim atau tasybih pada zat Tuhan. Begitu pula mereka mengklaim bid’ah terhadap penafsiran dan takwil ayat-ayat alqur’an. Pendapat kaum<strong> </strong>Mu’tazilah ; penggunaan dalil-dalil rasionalitas yang sangat berlebihan. Pendapat Syiah Imamiyah untuk menyingkap hukum agama diperlukan dalil rasionalitas baik itu secara langsung maupun tidak langsung.</em></span></p>
<p><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"></span><em><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"> </span></em><strong><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';">Akal dan Syariat</span></strong></p>
<p><strong><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"></span></strong><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';">Dalam Islam kita lihat bahwa ada sebagian hukum-hukum syariat yang secara rasional tidak bisa kita jelaskan, seperti: mengapa shalat zuhur empat rakaat dan shalat subuh dua rakaat. Dan dalam kategori lain sebagian hukum-hukum syariat dengan dijelaskan alasan dan tujuan dari hukum-hukum tadi berdasarkan dalil akal, contohnya: berdusta adalah perbuatan yang jelek(dalil akal), dikarenakan merugikan orang lain, riba dianggap sebagai perbuatan yang jelek dikarenakan tidak menjaga maslahat kaum miskin, dan penguasaan kekayaan hanya berputar pada orang-orang kaya, membantu orang lain dianggap sebagai perbuatan baik karena memberikan manfaat. Seorang mujtahid menetapkan hukum berdasarkan hukum akal, ketika hukum tersebut tidak kita temukan di dalam al-qur’an dan hadist serta ijma’. Melalui jalan ini dalil khusus tidaklah diketahui, juga dalil yang berasal dari nash yang sahih tidak dapat menetapkan (tidak ada nash). Akal memberikan hukumnya dalam bentuk ikhtiyat(kehati-hatian), bara’ah (berlepas), pemilihan, memberikan fatwa penafian segala bentuk yang berbahaya, dan lain-lain.Namun, kita percaya bahwa semua perbuatan pasti mempunyai tujuan, dan manfaat tersebut akan kembali pada manusia. Dalam syariat pun berlaku demikian. Kita berkeyakinan bahwa semua hukum-Nya (termasuk hukum-hukum yang tidak diketahui manfaat dan tujuan oleh kita) memiliki tujuan dan bermanfaat bagi manusia. Bukan hanya tugas seorang ulama yang menemukan dengan melalui hasil ijtihadnya untuk menjelaskan hukum-hukum syariat tadi, juga tugas dari para pakar sains dan ilmuwan untuk menyingkap tujuan dari hukum-hukum tersebut. Para mujtahid bekerja sama dalam menyingkap hukum berdasarkan dalil-dalil yang didapat dari alqur’an dan hadist. Di sini Islam menentang adanya penafsiran hukum-hukum syariat berdasarkan pendapat sendiri. </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"></span><strong><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';">Batasan-batasan Akal</span></strong></p>
<p><strong><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"></span></strong><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';">Ahli Ma’rifat mengatakan: akal untuk mengenal agama, adalah sesuatu yang lazim, akan tetapi itu<em> </em>tidaklah cukup. Karena apa yang akan dipahami, melebihi atas pemahaman <em>ilmu usuli</em>, apa yang disebut dengan penyaksian (<em>syuhudi</em>), yakni di luar apa yang dipahami oleh akal. Begitu juga apa yang dapat kita rasakan langsung melalui perantara panca indera , setelah melalui proses uji coba, tidaklah memerlukan dalil akal (<em>burhan</em>), akal hanya memberikan hukum general (<em>kulli</em>) terhadap permasalahan tersebut. </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"></span><strong><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';">Pembelaan Akal terhadap Agama</span></strong></p>
<p><strong><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"></span></strong><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';">Jika ditanyakan bahwa apakah permasalahan general(<em>kulli</em>) dan partikular(<em>juz’i</em>) adanya pembelaan akal terhadap agama? Jawabannya adalah: terhadap masalah-masalah partikular, akal tidak berperan di dalamnya, dan tidak memerlukan dalil akal (argumentasi) , juga terhadap masalah partikular alam, partikular syariat. Adapun sebaliknya terhadap masalah-masalah general alam dan syariat, adalah jalan untuk menggunakan dalil akal. Oleh karena itu, akal berperan penting dalam menggariskan hukum-hukum general agama dan syariat, juga hukum-hukum general alam , yakni setelah keberadaan Allah Swt kita yakini, dan Allah Swt dengan ilmu, kehendak, dan hikmah dan semua sifat kebaikan-Nya telah kita kenali, sehingga dapat dipahami bahwa Allah Yang Maha Bijaksana mempunyai tujuan dalam ciptaan-Nya. Dengan kata lain, oleh karena segala perkara, tujuan alam tidak dapat diketahui. Dan dikarenakan alam adalah ciptaan Allah Swt. Pastilah dalam ciptaan-Nya pun mempunyai tujuan dan maksud. Namun perlu diketahui bahwa semua tujuan dan manfaat tersebut kembali pada manusia . Dapat disimpulkan bahwa: </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">    </span></span></span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';">Agama bersifat general (<em>kull</em>i), mendapatkan pembelaan akal secara langsung. </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">    </span></span></span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';">Partikular agama secara langsung dan tanpa perantara tidak bisa dibuktikan melalui dalil akal, akan tetapi secara tidak langsung dan melalui perantara dengan menggunakan dalil akal.</span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Georgia','serif';"> </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Georgia','serif';"></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"><span>3.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">    </span></span></span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';">Tidak adanya pembelaan secara akal, tanpa perantara atas partikular agama dikarenakan terbatasnya akal dalam perkara-perkara secara partikular.</span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Georgia','serif';"> </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Georgia','serif';"></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"><span>4.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">    </span></span></span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';">Setelah merasakan penyaksian kebenaran perkara-perkara partikular, mampu untuk diterangkan melalui dalil akal.</span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Georgia','serif';"> </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Georgia','serif';"></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"><span>5.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">    </span></span></span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';">Akal dalam menegakkan dalil untuk masalah-masalah partikular sangatlah terbatas dan ukuran kebenaran atasnya tidaklah bisa dipertahankan.</span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Georgia','serif';"> </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Georgia','serif';"></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"></span><strong><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';">Kebenaran  Iman</span></strong><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';">      </span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';">  </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';">Beberapa contoh tentang beberapa kemungkinan rasionalitas iman dan tidak mungkinnya rasionalitas iman: </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">    </span></span></span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';">Jika yang dimaksud dengan iman di sini adalah perkara-perkara <em> </em>partikular, yang memiliki realitas di luar. Maka di sini akal tidak mampu menerima perkara partikular, dan keimanan tidak dapat diuraikan dengan dalil akal. Contohnya: wujud adanya surga, yang merupakan wujud realitas di luar, dengan dalil akal tidak dapat membuktikannya. Namun apabila surga dengan pemahaman general <em> </em>sebagai sebuah tempat pahala yang akan diterima dari perbuatan baik atau sebagai bentuk luar (<em>misdaq)</em>  dari perbuatan pahala perbuatan.</span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Georgia','serif';"> </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Georgia','serif';"></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">    </span></span></span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';">Jika yang dimaksud dengan iman adalah hasil dari pengalaman spiritual atau sebuah pengalaman spiritual pribadi yang tertentu, maka dalil akal tidak dapat membuktikannya. Karena dengan pengalaman spiritual pribadi akan mengakibatkan berbagai macam interpretasi dari bentuk keimanan. Oleh karenanya para nabi mengajak kaumnya kepada keimanan dengan dalil akal dan ditopang oleh wahyu dan tidaklah dengan menerangkan hasil dari pengalaman pribadinya tanpa melalui penerangan wahyu.[]</span></p>
<p>By: Abu Aqilah</p>
<p style="background:white none repeat scroll 0 50%;line-height:15.6pt;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Georgia','serif';"></span></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" /><a name="_ftn1" title="_ftn1"></a><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"><a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1" title="_ftn1"><span style="color:#909d73;font-family:'Times New Roman','serif';text-decoration:none;">[1]</span></a></span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';"> .Surat Yusuf ayat 2</span><a name="_ftn2" title="_ftn2"></a><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"><a href="http://abuaqilah.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2" title="_ftn2"><span style="color:#909d73;font-family:'Times New Roman','serif';text-decoration:none;">[2]</span></a>. Kulaini juz 1 hal 11</span><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Georgia','serif';"> </span><sup><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Verdana','sans-serif';"></span></sup><span style="font-size:9pt;color:#29303b;font-family:'Times New Roman','serif';" dir="ltr"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuaqilah.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuaqilah.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuaqilah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuaqilah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuaqilah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuaqilah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuaqilah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuaqilah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuaqilah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuaqilah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuaqilah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuaqilah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuaqilah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuaqilah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuaqilah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuaqilah.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuaqilah.wordpress.com&amp;blog=927956&amp;post=17&amp;subd=abuaqilah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuaqilah.wordpress.com/2007/04/11/17/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/956702eba1ad2fb0bb13a940c2e58d8d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Cahaya Islam</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
