Peran Penting Akal Dalam Konsep Agama

Posted on Updated on

Ikatan antara akal dan agama adalah pembahasan yang cukup mendetail dalam sejarah pemikiran manusia. Banyak cabang pembahasan yang dibahas di dalamnya, di antaranya: bagaimana ikatan antara akal dan iman (dalam pandangan dunia Barat dan Islam)? Masalah yang perlu dilontarkan ikatan antara akal dan iman; keduanya menyangkut tentang keyakinan kita terhadap Allah Swt. Apakah keimanan atau kepercayaan terhadap sesuatu harus dijelaskan melalui dalil akal dan akal memberikan peran penting di dalamnya? Ataukah sudah merupakan hal yang jelas sehingga tidak butuh lagi oleh penjelasan dalil akal. Atau keimanan berdiri di luar garis tatanan akal dan tidak saling terkait? Bagaimana hubungan antara akal dan syariat?

Akal dan Iman

Salah satu pentingnya masalah dalam filsafat agama hubungan antara iman dan akal. Dalam masalah ini pertanyaan-pertanyaan telah diutarakan sebelumnya. Apakah keyakinan beragama yang berasaskan iman merupakan hal yang rasionalitas, perbuatan yang selain itu bertentangan dengan rasio. Jika apa yang kita sajikan tersebut tidak mampu mengklaim atau tidak mampu menetapkan keyakinan agama sesuai dengan akal, apakah itu benar. Sebagai contoh: untuk menetapkan adanya wujud Tuhan melalui sesuatu dalil, dengan itu kita yakin wujud Tuhan sesuatu yang bisa diterima oleh akal? Dalam pandangan agama Nasrani, pembahasan antara hubungan antara iman dan akal, terdapat dua pandangan yang saling bertentangan. Pertama, kesesuaian antara keyakinan-keyakinan agama dengan akal, contohnya; iman terhadap Tuhan sesuatu yang diterima secara akal (Rasionalisme) Salah satu tokohnya adalah Thomas Aquinas (1224-1273) berpendapat bahwa keimanan melalui pengajaran oleh kitab suci dan keseluruhan ajaran atau peraturan yang ada di dalamnya, adalah Tuhan langsung sebagai pengajarnya. Juga tidak diragukan sebagai kitab suci (perkataan Tuhan) yang diyakini adalah sudah merupakan hal-hal yang bersifat rasionalitas. Pendapat kedua, keyakinan-keyakinan agama tidak sesuai dengan akal (Fideisme). Di antara tokohnya adalah Alvin Plantinga (1932-) yang menyerupai fitrah pada diri manusia, dengan mengatakan keyakinan manusia terhadap Tuhan terdapat dalam jiwa manusia tanpa memerlukan dalil akal. Banyak lagi tokoh-tokoh yang mengatas namakan kedua kelompok di atas, juga terdapat pro dan kontra terhadap pendapat-pendapat di atas. Lain lagi yang berpendapat bahwa akal dapat mengganggu ketenangan iman, oleh karenanya tidak ada hubungan antara akal dan iman. Artinya iman akan di putar balikkan melalui dalil akal, sehingga dalil akal akan membahayakan keimanan bagi khalayak awam. Namun, sama-sama kita mengetahui bahwa salah satu kelebihan yang ada pada manusia dibanding dengan makhluk lainnya, jika manusia mengfungsikan akalnya. Banyak persoalan yang ada dalam konsep keagamaan diselesaikan melalui dalil akal. Di sini akal terus berjuang mempertahankan haknya. Dan dalam persoalan syariatpun, dalil akal untuk menopang kesempurnaannya.
Hubungan akal dan agama secara jelas, bahwa akal dan agama merupakan suatu pemberian Allah Swt yang keduanya menyampaikan manusia kepada suatu kesempurnaan. Dalam ayat:; “Sesungguhnya kami turunkan alqur’an dengan bahasa arab supaya mereka berakal.” [1] Dalam Islam akal sangatlah terkait hubungannya dengan iman, yakni melalui akalnya dia akan memahami agama karena akal adalah salah satu sumber syariat Islam. Ikatan keduanya akan menghantarkan manusia ke jalan kebahagiaan. Dalam riwayat Imam Shadiq berkata:”Akal adalah dalil seorang mukmin. Dan petunjuk bagi orang mukmin.”Dalam riwayat lain disebutkan: “ Setiap yang berakal pasti memiliki agama. Dan yang mempunyai agama akan menghantarkan ia ke surga.”[2] Dalam ayat dan riwayat di atas secara tegas Islam sangat mementingkan masalah akal. Namun, ada beberapa pendapat dalam mazhab Islam yang satu dengan yang lainnya saling bertentangan dan ada pula yang mendukung fungsi dan peran akal. Diantaranya: Pendapat Ahlul Hadist ; penggunaan dalil-dalil rasionalitas dalam masalah keimanan dan agama adalah haram. Cukuplah perkara-perkara agama apa yang didatangkan oleh nabi.. Akal tidak mampu menyingkap hukum-hukum Tuhan. Juga mereka berpegang kepada penafsiran yang nampak(dhahir) yang ada pada alqur’an, sehingga adanya pengertian tajsim atau tasybih pada zat Tuhan. Begitu pula mereka mengklaim bid’ah terhadap penafsiran dan takwil ayat-ayat alqur’an. Pendapat kaum Mu’tazilah ; penggunaan dalil-dalil rasionalitas yang sangat berlebihan. Pendapat Syiah Imamiyah untuk menyingkap hukum agama diperlukan dalil rasionalitas baik itu secara langsung maupun tidak langsung.

Akal dan Syariat

Dalam Islam kita lihat bahwa ada sebagian hukum-hukum syariat yang secara rasional tidak bisa kita jelaskan, seperti: mengapa shalat zuhur empat rakaat dan shalat subuh dua rakaat. Dan dalam kategori lain sebagian hukum-hukum syariat dengan dijelaskan alasan dan tujuan dari hukum-hukum tadi berdasarkan dalil akal, contohnya: berdusta adalah perbuatan yang jelek(dalil akal), dikarenakan merugikan orang lain, riba dianggap sebagai perbuatan yang jelek dikarenakan tidak menjaga maslahat kaum miskin, dan penguasaan kekayaan hanya berputar pada orang-orang kaya, membantu orang lain dianggap sebagai perbuatan baik karena memberikan manfaat. Seorang mujtahid menetapkan hukum berdasarkan hukum akal, ketika hukum tersebut tidak kita temukan di dalam al-qur’an dan hadist serta ijma’. Melalui jalan ini dalil khusus tidaklah diketahui, juga dalil yang berasal dari nash yang sahih tidak dapat menetapkan (tidak ada nash). Akal memberikan hukumnya dalam bentuk ikhtiyat(kehati-hatian), bara’ah (berlepas), pemilihan, memberikan fatwa penafian segala bentuk yang berbahaya, dan lain-lain.Namun, kita percaya bahwa semua perbuatan pasti mempunyai tujuan, dan manfaat tersebut akan kembali pada manusia. Dalam syariat pun berlaku demikian. Kita berkeyakinan bahwa semua hukum-Nya (termasuk hukum-hukum yang tidak diketahui manfaat dan tujuan oleh kita) memiliki tujuan dan bermanfaat bagi manusia. Bukan hanya tugas seorang ulama yang menemukan dengan melalui hasil ijtihadnya untuk menjelaskan hukum-hukum syariat tadi, juga tugas dari para pakar sains dan ilmuwan untuk menyingkap tujuan dari hukum-hukum tersebut. Para mujtahid bekerja sama dalam menyingkap hukum berdasarkan dalil-dalil yang didapat dari alqur’an dan hadist. Di sini Islam menentang adanya penafsiran hukum-hukum syariat berdasarkan pendapat sendiri.

Batasan-batasan Akal

Ahli Ma’rifat mengatakan: akal untuk mengenal agama, adalah sesuatu yang lazim, akan tetapi itu tidaklah cukup. Karena apa yang akan dipahami, melebihi atas pemahaman ilmu usuli, apa yang disebut dengan penyaksian (syuhudi), yakni di luar apa yang dipahami oleh akal. Begitu juga apa yang dapat kita rasakan langsung melalui perantara panca indera , setelah melalui proses uji coba, tidaklah memerlukan dalil akal (burhan), akal hanya memberikan hukum general (kulli) terhadap permasalahan tersebut.

Pembelaan Akal terhadap Agama

Jika ditanyakan bahwa apakah permasalahan general(kulli) dan partikular(juz’i) adanya pembelaan akal terhadap agama? Jawabannya adalah: terhadap masalah-masalah partikular, akal tidak berperan di dalamnya, dan tidak memerlukan dalil akal (argumentasi) , juga terhadap masalah partikular alam, partikular syariat. Adapun sebaliknya terhadap masalah-masalah general alam dan syariat, adalah jalan untuk menggunakan dalil akal. Oleh karena itu, akal berperan penting dalam menggariskan hukum-hukum general agama dan syariat, juga hukum-hukum general alam , yakni setelah keberadaan Allah Swt kita yakini, dan Allah Swt dengan ilmu, kehendak, dan hikmah dan semua sifat kebaikan-Nya telah kita kenali, sehingga dapat dipahami bahwa Allah Yang Maha Bijaksana mempunyai tujuan dalam ciptaan-Nya. Dengan kata lain, oleh karena segala perkara, tujuan alam tidak dapat diketahui. Dan dikarenakan alam adalah ciptaan Allah Swt. Pastilah dalam ciptaan-Nya pun mempunyai tujuan dan maksud. Namun perlu diketahui bahwa semua tujuan dan manfaat tersebut kembali pada manusia . Dapat disimpulkan bahwa:

1. Agama bersifat general (kulli), mendapatkan pembelaan akal secara langsung.

2. Partikular agama secara langsung dan tanpa perantara tidak bisa dibuktikan melalui dalil akal, akan tetapi secara tidak langsung dan melalui perantara dengan menggunakan dalil akal.

3. Tidak adanya pembelaan secara akal, tanpa perantara atas partikular agama dikarenakan terbatasnya akal dalam perkara-perkara secara partikular.

4. Setelah merasakan penyaksian kebenaran perkara-perkara partikular, mampu untuk diterangkan melalui dalil akal.

5. Akal dalam menegakkan dalil untuk masalah-masalah partikular sangatlah terbatas dan ukuran kebenaran atasnya tidaklah bisa dipertahankan.

Kebenaran Iman

Beberapa contoh tentang beberapa kemungkinan rasionalitas iman dan tidak mungkinnya rasionalitas iman:

1. Jika yang dimaksud dengan iman di sini adalah perkara-perkara partikular, yang memiliki realitas di luar. Maka di sini akal tidak mampu menerima perkara partikular, dan keimanan tidak dapat diuraikan dengan dalil akal. Contohnya: wujud adanya surga, yang merupakan wujud realitas di luar, dengan dalil akal tidak dapat membuktikannya. Namun apabila surga dengan pemahaman general sebagai sebuah tempat pahala yang akan diterima dari perbuatan baik atau sebagai bentuk luar (misdaq) dari perbuatan pahala perbuatan.

2. Jika yang dimaksud dengan iman adalah hasil dari pengalaman spiritual atau sebuah pengalaman spiritual pribadi yang tertentu, maka dalil akal tidak dapat membuktikannya. Karena dengan pengalaman spiritual pribadi akan mengakibatkan berbagai macam interpretasi dari bentuk keimanan. Oleh karenanya para nabi mengajak kaumnya kepada keimanan dengan dalil akal dan ditopang oleh wahyu dan tidaklah dengan menerangkan hasil dari pengalaman pribadinya tanpa melalui penerangan wahyu.[]

By: Abu Aqilah


[1] .Surat Yusuf ayat 2[2]. Kulaini juz 1 hal 11

29 thoughts on “Peran Penting Akal Dalam Konsep Agama

    Aswaja said:
    April 13, 2007 pukul 12:14 am

    Masya Allah…. tulisannya mantaf ..terus berkarya bib…..

    infosyiah said:
    April 13, 2007 pukul 3:44 am

    Salam,
    Ini baru pembahasan yang berisi, benar-benar mencerahkan.
    Biar kita gak akal-akalan…

    Mansur said:
    April 18, 2007 pukul 9:26 am

    Ah bisa aja Kang Musa …………………….main akal2an, akal setiap manusia kan berbeda & bertingkat2, mana bisa di peran kan kedalam agama?…… Awas!! bisa bisa bid`ah loh…….Kang musa boleh aja mengemas akal sedemikian rupa dgn bumbu2 yg paling sedap & rahasia sekali pun namun anda tdk akan lepas dari fenomena beda & tingkatan2 akal? apalagi org pinter sedikit sedangkan org awam banyak. Bagi org awam hal tsb merupakan lahan yg menjerumuskan kearah jurang bid`ah dan bahkan syirik!!!! Bertaubatlah anda sebelum ajal tiba!!! Tuhan Maha pengampun……..

    Abu Aqilah responded:
    Mei 13, 2007 pukul 2:41 am

    buat Mansur, bukannya akal merupakan modal pemberiaan dari Allah Swt digunakan berfikir, seperti yang Allah jualah perintahkan dalam Alqur,an, biasanya diakhir dari sebuah ayat. Seperti; Apakah kalian tidak Berfikir ? Apakah kalian tidak berakal ? dsbnya. Orang awampun bisa menggunakan akalnya asal ia mau belajar atau menuntut ilmu.

    alfathani said:
    Mei 25, 2007 pukul 4:10 pm

    assl….wah..emang bener deh tapi jangan sampai akal mengalahkan hati , jangan sampai kayak orang2 muktazilah yang menjadikan akal sebagai dasar utama penafsiran nash. saya lebih setuju seperti yang dilakukan ibnu rusyd

    Abu Aqilah responded:
    Mei 25, 2007 pukul 5:41 pm

    waalaikum salam….
    Perimbangan antara akal dan wahyu sangatlah penting, tidak mungkin kita mengandalkan kemampuan akal, sementara wahyu kita abaikan.

    suryadhie said:
    Juli 13, 2007 pukul 8:04 am

    hanya orang-orang yang berakallah yang mampu memahami tujuan dari penciptaan makhluk oleh Allah SWT, artikel yang sangat menarik dan bermanfaat….

    ZakariaMohamad said:
    Agustus 24, 2007 pukul 9:09 am

    Tahniah, tulisan yang baik. Teruskan usaha murni ini. Selamat berkenalan. Salam.

    B Ali said:
    Agustus 24, 2007 pukul 6:08 pm

    Pertanyaan: Apakah Islam agama teroris?
    Jawaban: Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk menjadi teroris.

    Tetapi, di dalam Al-Qur’an, ada banyak sekali ayat-ayat yang menggiring umat untuk melakukan hal-hal yang tidak manusiawi, seperti: kekerasan, anarki, poligami dengan 4 istri, anggapan selain muslim adalah orang kafir, dsb. Sikap-sikap tersebut tidak sesuai lagi dengan norma-norma kehidupan masyarakat modern.

    Al-Qur’an dulu diracik waktu jaman tribal, sehingga banyak ayat-ayat yang tidak bisa dimengerti lagi seperti seorang suami diperbolehkan mempunyai istri 4. Dimana mendapatkan angka 4? Kenapa tidak 10, 25 atau bahkan 1000? Dalam hal ini, wanita tidak lagi dianggap sebagai manusia, tapi sebagai benda terhitung dalam satuan, bijian, 2, 3, 4 atau berapa saja. Terus bagaimana sakit hatinya istri yang dimadu (yang selalu lebih tua dan kurang cantik)? Banyak lagi hal-hal yang nonsense seperti ini di Al-Qur’an. Karena semua yang di Al-Qur’an dianggap sebagai kebenaran mutlak (wahyu Tuhan), maka umat muslim hanya menurutinya saja tanpa menggunakan nalar.

    Sedangkan, tidak ada saksi dan bukti untuk memverifikasi dan memfalsifikasi apakah isi Al-Qur’an betul-betul wahyu dari Tuhan atau bukan? Yang dapat dikaji secara obyektif adalah isi atau ajaran yang dikandung Al-Qur’an itu apakah ia sesuai dengan dan mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, seperti cinta kasih, kesetiaan, ketabahan, rajin bekerja, kejujuran, kebaikan hati atau mengajarkan kebencian dan kekerasan?

    Saat ini, banyak pengemuka muslim yang berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an supaya menjadi lebih manusiawi. Tapi usaha ini sia-sia saja karena ayat-ayat Al-Qur’an itu semuanya sudah explisit sekali. Sehingga tidak bisa ditawar lagi. Disamping itu, pemuka muslim atau siapa saja yang coba-coba memberi tafsiran yang lebih manusiawi tentang Al-Qur’an pasti mendapatkan ancaman terhadap keselamatan fisiknya.

    Pertanyaan atas soal ini, betulkah Tuhan menurunkan wahyu kebencian terhadap sekelompok orang yang memujanya dengan cara berbeda-beda, yang mungkin sama baiknya atau bahkan lebih baik secara spiritual? Bukankah akhirnya ajaran-ajaran kebencian ini menjadi sumber kekerasan sepanjang massa?

    ————————————————————-

    @
    Tentunya berbagai aturan yang Allah Swt tetapkan mempunyai hikmah didalamnya. Terkadang di dalam hukum syariat kita tidak mengetahui hikmah dibalik itu misalnya mengapa dalam shalat zuhur dan asar berjumlah empat rekaat sedangkan dalam shalat subuh hanya berjumlah dua rekaat. Dalam hukum syariat juga kita tidak diwajibkan untuk menggali dalil tersebut dikarenakan kita diperintahkan hanya untuk bertaklid.

    Al-Qur’an mengajarkan beberapa perihal tentang pembentukan jiwa dan nilai kemanusiaan diantaranya:

    1.Kesucian Diri
    “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”(Jumu’ah: 2)

    2. Pengorbanan
    “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya Karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”(Al-Baqarah ayat 207)

    3. Perhatian terhadap perkara kaum muslimin:
    “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain.” (Taubah ayat 71)

    4. Silaturahmi:
    “Dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu.” (Nisa ayat 1)

    5. Tanggung jawab dan manajemen:
    “Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Al-Imran ayat 200)

    Jadi betapa indah nilai kemanusiaan yang diajarkan dalam al-Qur’an. Dan Allah Swt menurunkan Al-Qur’an melalui malaikat Jibril kepada Nabi Saaw untuk memberi hidayah kepada seluruh umat manusia. Dan tetap terjaga melalui penafsiran oleh lisan-lisan suci nabi Saaw dan Ahlul Baitnya as. Tidaklah dalam bentuk penafsiran yang tidak mengetahui hakikat kandungannya.

    sejati said:
    Agustus 26, 2007 pukul 4:46 pm

    “Peran Penting Akal Dalam Konsep Agama”

    Tetapi agama Islam banyak meminjam dogma dari agama-agama lain, bahkan dari komunitas yang disebut penyembah berhala atau kafir. Salah satu dogma utama adalah “pengadilan terakhir” yang dipinjam oleh agama Islam dari agama Zoroaster Persia, seperti yang diuraikan secara objektif di artikel ini. Ini situsnya: http://religi.wordpress.com/2007/03/16/agama-langit-dan-agama-bumi/

    AGAMA LANGIT DAN AGAMA BUMI

    Ada berbagai cara menggolongkan agama-agama dunia. Ernst Trults seorang teolog Kristen menggolongkan agama-agama secara vertikal: pada lapisan paling bawah adalah agama-agama suku, pada lapisan kedua adalah agama hukum seperti agama Yahudi dan Islam; pada lapisan ketiga, paling atas adalah agama-agama pembebasan, yaitu Hindu, Buddha dan karena Ernst Trults adalah seorang Kristen, maka agama Kristen adalah puncak dari agama-agama pembebasan ini.

    Ram Swarup, seorang intelektual Hindu dalam bukunya; “Hindu View of Christianity and Islam” menggolongkan agama menjadi agama-agama kenabian (Yahudi, Kristen dan Islam) dan agama-agama spiritualitas Yoga (Hindu dan Buddha) dan mengatakan bahwa agama-agama kenabian bersifat legal dan dogmatik dan dangkal secara spiritual, penuh klaim kebenaran dan yang membawa konflik sepanjang sejarah. Sebaliknya agama-agama Spiritualitas Yoga kaya dan dalam secara spiritualitas dan membawa kedamaian.

    Ada yang menggolongkan agama-agama berdasarkan wilayah dimana agama-agama itu lahir, seperti agama Semitik atau rumpun Yahudi sekarang disebut juga Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama-agama Timur (Hindu, Buddha, Jain, Sikh, Tao, Kong Hu Cu, Sinto).

    Ada pula yang menggolongkan agama sebagai agama langit (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama bumi (Hindu, Buddha, dll.) Penggolongan ini paling disukai oleh orang-orang Kristen dan Islam, karena secara implisit mengandung makna tinggi rendah, yang satu datang dari langit, agama wahyu, buatan Tuhan, yang lain lahir di bumi, buatan manusia. Penggolongan ini akan dibahas secara singkat di bawah ini.

    Agama bumi dan agama langit.

    Dr. H.M. Rasjidi, dalam bab Ketiga bukunya “Empat Kuliyah Agama Islam Untuk Perguruan tinggi” membagi agama-agama ke dalam dua kategori besar, yaitu agama-agama alamiah dan agama-agama samawi. Agama alamiah adalah agama budaya, agama buatan manusia. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Hindu dan Budha. Mengenai agama Hindu Rasjidi mengutip seorang teolog Kristen, Dr. Harun Hadiwiyono, Rektor Sekolah Tinggi Theologia “Duta Wacana” di Yogyakarta sebagai berikut:

    “Sebenarnya agama Hindu itu bukan agama dalam arti yang biasa. Agama Hindu sebenarnya adalah satu bidang keagamaan dan kebudayaan, yang meliputi jaman sejak kira-kira 1500 S.M hingga jaman sekarang. Dalam perjalanannya sepanjang abad-abad itu, agama Hindu berkembang sambil berobah dan terbagi-bagi, sehingga agama ini memiliki ciri yang bermacam-macam, yang oleh penganutnya kadang-kadang diutamakan, tetapi kadang-kadang tidak diindahkan sama sekali. Berhubung karena itu maka Govinda Das mengatakan bahwa agama Hindu itu sesungguhnya adalah satu proses antropologis, yang hanya karena nasib baik yang ironis saja diberi nama agama.” 1)

    Samawi artinya langit. Agama samawi adalah agama yang berasal dari Tuhan (yang duduk di kursinya di langit ketujuh, Sky god, kata Gore Vidal). Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Dalam bab Keempat dengan judul “Agama Islam adalah Agama Samawi Terakhir” Rasjidi dengan jelas menunjukkan atau menempatkan Islam sebagai puncak dari agama langit. Hal ini dapat dipahami karena Rasjidi bukan saja seorang guru besar tentang Islam, tetapi juga seorang Muslim yang saleh.

    Bahkan dengan doktrin mansukh, pembatalan, para teolog dan ahli fikih Islam mengklaim, Qur’an sebagai wahyu terakhir telah membatalkan kitab-kitab suci agama-agama sebelumnya (Torah dan Injil).

    Bila Tuhan yang diyakini oleh ketiga agama bersaudara ini adalah satu dan sama, pandangan para teolog Islam adalah logis. Tetapi disini timbul pertanyaan, apakah Tuhan menulis bukunya seperti seorang mahasiswa menulis thesis? Sedikit demi sedikit sesuai dengan informasi yang dikumpulkannya, melalui percobaan dan kesalahan, perbaikan, penambahan pengurangan, buku itu disusun dan disempurnakan secara perlahan-lahan?

    Tetapi ketiga agama ini tidak memuja Tuhan yang satu dan sama. Masing-masing Tuhan ketiga agama ini memiliki asal-usul yang berbeda dan karakter yang berbeda. Yahweh berasal dan ajudan dewa perang, yang kemungkinan berasal dari suku Midian, dan dijadikan satu-satunya Tuhan orang Israel oleh Musa. Jesus salah seorang dari Trinitas, adalah seorang pembaharu agama Yahudi yang diangkat menjadi Tuhan oleh para pendiri Kristen awal. Allah adalah dewa hujan yang setelah digabung dengan dewa-dewa lain orang Arab dijadikan satu-satunya tuhan orang Islam oleh Muhammad. Jadi Yahweh, Trinitas dan Allah adalah tuhan-tuhan yang dibuat manusia. 2) (Lihat Karen Amstrong: A History of God).

    Dan karakter dari masing-masing Tuhan itu sangat berbeda. Ketiganya memang Tuhan pencemburu, tetapi tingkat cemburu mereka berbeda. Yahweh adalah Tuhan pencemburu keras, gampang marah, dan suka menghukumi pengikutnya dengan kejam, tetapi juga suka ikut berperang bersama pengikutnya melawan orang-orang lain, seperti orang Mesir, Philistin dan Canaan. Jesus juga Tuhan pencemburu, tapi berpribadi lembut, ia memiliki banyak rasa kasih, tetapi juga mempunyai neraka yang kejam bagi orang-orang yang tidak percaya padanya. Allah lebih dekat karakternya dengan Yahweh, tetapi bila Yahweh tidak memiliki neraka yang kejam, Allah memilikinya. Di samping itu, bila Yahweh menganggap orang-orang Yahudi sebagai bangsa pilihannya, Allah menganggap orang-orang Yahudi adalah musuh yang paling dibencinya.

    Jadi jelaslah di langit-langit suci agama-agama rumpun Yahudi ini terdapat lima oknum Tuhan yang berbeda-beda, yaitu Yahweh, Trinitas (Roh Kudus, Allah Bapa dan Tuhan Anak atau Jesus) dan Allah Islam. Masing-masing dengan ribuan malaikat dan jinnya.

    Pengakuan terhadap Tuhan yang berbeda-beda tampaknya bisa menyelesaikan masalah soal pembatalan kitab-kitab atau agama-agama sebelumnya oleh agama-agama kemudian atau agama terakhir. Masing-masing Tuhan ini memang menurunkan wahyu yang berbeda, yang hanya berlaku bagi para pengikutnya saja. Satu ajaran atau satu kitab suci tidak perlu membatalkan kitab suci yang lain.

    Tetapi disini timbul masalah lagi. Bagaimana kedudukan bagian-bagian dari Perjanjian Lama yang diterima atau diambil oleh Perjanjian Baru? Bagaimana kedudukan bagian-bagian Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang terdapat di dalam Al-Qur’an? Apakah bagian-bagian itu dipinjam dari Tuhan yang satu oleh Tuhan yang lain, yang ada belakangan? Atau persamaan itu hanya kebetulan? Ataukah para penulis kitab-kitab yang belakangan meminjamnya dari penulis kitab-kitab terdahulu?

    Pembagian agama menjadi agama bumi dan agama langit, dari sudut pandang Hindu sebenarnya tidak menjadi masalah. Ini terkait dengan konsep ketuhanan dari masing-masing agama. Agama-agama Abrahamik atau Rumpun Yahudi (nama yang lebih tepat daripada “agama langit”) memandang Tuhan sebagai sosok berpribadi, seperti manusia, yang berdiam di langit (ke tujuh) duduk di atas kursinya, yang dipikul oleh para malaikat. Dari kursinya di langit itu Dia melakukan segala urusan, termasuk antara lain, tetapi tidak terbatas pada, mengatur terbit dan tenggelannya matahari, “menurunkan” wahyu dan lain sebagainya. Dari segi ini benarlah sebutan “agama langit” itu, karena ajarannya diturunkan oleh Tuhannya yang bermukim nun jauh di langit.

    Dalam pandangan agama Hindu, Tuhan bersifat panteistik, yang melingkupi ciptaan (imanen) dan sekaligus di luar ciptaannya (transenden). Menurut pandangan Hindu Tuhan tidak saja lebih besar dari ciptaannya, tetapi juga dekat dengan ciptaannya. Kalau Tuhan hanya ada di satu tempat di langit ketujuh, berarti Ia ada di satu noktah kecil di dalam ciptaannya. Oleh karena itu Dia tidak Mahabesar. Agak mirip dengan pengertian ini, di dalam agama Hindu, dikenal ajaran tentang Avatara, yaitu Tuhan yang menjelma menjadi mahluk, yang lahir dan hidup di bumi – seperti Rama dan Krishna – menyampaikan ajarannya di bumi langsung kepada manusia tanpa perantara.

    Dari segi ini, dikotomi agama langit dan agama bumi tidak ada masalah. Baru menjadi masalah ketika “truth claim” yang menyertai dikotomi ini. Bahwa agama langit lebih tinggi kedudukannya dari agama bumi; karena agama-agama langit sepenuhnya merupakan bikinan Tuhan, yang tentu saja lebih mulia, lebih benar dari agama-agama bumi yang hanya buatan manusia dan bahwa oleh karenanya kebenaran dan keselamatan hanya ada pada mereka. Sedangkan agama-agama lain di luar mereka adalah palsu dan sesat.

    Pandangan “supremasis” ini membawa serta sikap “triumpalis”, yaitu bahwa agama-agama yang memonopoli kebenaran Tuhan ini harus menjadikan setiap orang sebagai pengikutnya, menjadikan agamanya satu-satunya agama bagi seluruh umat manusia, dengan cara apapun. Di masa lalu “cara apapun” itu berarti kekerasan, perang, penaklukkan, penjarahan, pemerkosaan dan perbudakan atas nama agama.

    Masalah wahyu

    Apakah wahyu? Wahyu adalah kata-kata Tuhan yang disampaikan kepada umat manusia melalui perantara yang disebut nabi, rasul, prophet. Bagaimana proses penyampaian itu? Bisa disampaikan secara langsung, Tuhan langsung berbicara kepada para perantara itu, a
    tau satu perantara lain, seorang malaikat menyampaikan kepada para nabi; atau melalui inspirasi kepada para penulis kitab suci. Demikian pendapat para pengikut agama-agama rumpun Yahudi.

    Benarkah kitab-kitab agama Yahudi, Kristen dan Islam, sepenuhnya merupakan wahyu Tuhan? Bila benar bahwa kitab-kitab ini sepenuhnya wahyu Tuhan, karena Tuhan Maha Tahu dan Maha Sempurna, maka kitab-kitab ini sepenuhnya sempurna bebas dari kesalahan sekecil apapun. Tetapi Studi kritis terhadap kitab-kitab suci agama-agama Abrahamik menemukan berbagai kesalahan, baik mengenai fakta yang diungkapkan, yang kemudian disebut ilmu pengetahun maupun tata bahasa. Berikut adalah beberapa contoh.

    Pertama, kesalahan mengenai fakta.

    Kitab-suci kitab-suci agama ini, menyatakan bumi ini datar seperti tikar, dan tidak stabil. Supaya bumi tidak goyang atau pergi ke sana kemari, Tuhan memasang tujuh gunung sebagai pasak. Kenyataannya bumi ini bulat seperti bola. Dan sekalipun ada banyak gunung, lebih dari tujuh, bumi tetap saja bergoyang, karena gempat.

    Kedua, kontradiksi-kontradiksi.

    Banyak terdapat kontradiksi-kontradiksi intra maupun antar kitab suci-kitab suci agama-agama ini. Satu contoh tentang anak Abraham yang dikorbankan sebagai bukti ketaatannya kepada Tuhan (Yahweh atau Allah). Bible mengatakan yang hendak dikorbankan adalah Isak, anak Abraham dengan Sarah, istrinya yang sesama Yahudi. Sedangkan Qur’an mengatakan bukan Isak, tetapi Ismail, anak Ibrahamin dengan Hagar, budak Ibrahim yang asal Mesir

    Contoh lain. Bible menganggap Jesus sebagai Tuhan (Putra), sedangkan Al-Qur’an menganggap Jesus (Isa) hanya sebagai nabi, dan bukan pula nabi terakhir yang menyempurnakan wahyu Tuhan.

    Ketiga, kesalahan struktur kalimat atau tata bahasa.

    Di dalam kitab-kitab suci ini terdapat doa-doa, kisah-kisah, berita-berita tentang kegiatan Tuhan, mirip seperti berita surat kabar, yang ditulis oleh seseorang (wartawan) atas seseorang yang lain (dari obyek berita, dalam hal ini Tuhan). Lalu ada kalimat yang merujuk Tuhan sebagai “Aku, Kami, Dia, atau nama-namanya sendiri, seperti Allah, Yahweh, dll”. Mengapa Tuhan menunjukkan diriNya dengan Dia, kata ganti ketiga? Kata-kata atau kalimat-kalimat pejoratif seperti Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui ini pastilah dibuat oleh manusia, sebab mustahil rasanya Tuhan memuji-muji dirinya sendiri.

    Keempat, ajaran tentang kekerasan dan kebencian. kesalahan struktur kalimat atau tata bahasa.

    Di dalam kitab-suci kitab-suci agama-agama langit ini banyak terdapat ajaran-ajaran tentang kebencian terhadap komunitas lain, baik karena kebangsaan maupun keyakinan. Di dalam Perjanjian Lama terdapat kebencian terhadap orang Mesir, Philistin, Canaan dll. Di dalam Perjanjian Baru terdapat ajaran kebencian terhadap orang Yahudi dan Roma. Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat kebencian terhadap orang-orang Yahudi, Kristen dan pemeluk agama-agama lain yang dicap kafir secara sepihak. Pertanyaan atas soal ini, betulkah Tuhan menurunkan wahyu kebencian terhadap sekelompok orang yang memujanya dengan cara berbeda-beda, yang mungkin sama baiknya atau bahkan lebih baik secara spiritual? Bukankah akhirnya ajaran-ajaran kebencian ini menjadi sumber kekerasan sepanjang massa?

    Bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Bijaksana, Maha Pengasih dan Penyayang menurunkan wahyu kebencian dan kekerasan semacam itu? Di dalam agama Hindu kebencian dan kekerasan adalah sifat-sifat para raksasa, asura dan daitya (demon, devil, atau syaitan).

    Di samping hal-hal tersebut di atas, agama-agama rumpun Yahudi banyak meminjam dogma dari agama-agama lain, bahkan dari komunitas yang mereka sebut penyembah berhala atau kafir. Dogma utama mereka tentang eskatologi seperti hari kiamat, kebangkitan tubuh dan pengadilan terakhir dipinjam oleh agama Yahudi dari agama Zoroaster Persia, lalu diteruskan kepada agama Kristen dan Islam. Legenda tentang penciptaan Adam dipinjam dari leganda tentang penciptaan Promotheus dalam agama Yunani kuno. Bagaimana mungkin tuhan agama langit meminjam ajaran dari agama-agama atau tradisi buatan manusia?

    Swami Dayananda Saraswati (1824-1883), pendiri Arya Samaj, sebuah gerakan pembaruan Hindu, dalam bukunya Satyarth Prakash (Cahaya Kebenaran) membahas Al Kitab dan AI-Qur’an masing-masing di dalam bab XI II dan XIV, dan sampai kepada kesimpulan yang negatif mengenai kedua kitab suci ini. Bahwa kedua kitab suci ini mengandung hal-hal yang patut dikutuk karena mengajarkan kekerasan, ketahyulan dan kesalahan. Ia meningkatkan penderitaan ras manusia dengan membuat manusia menjadi binatang buas, dan mengganggu kedamaian dunia dengan mempropagandakan perang dan dengan menanam bibit perselisihan.

    Apa yang dilakukan oleh Swami Dayananda Saraswati adalah kounter kritik terhadap agama lain atas penghinaan terhadap Hindu yang dilakukan sejak berabad-abad sebelumnya oleh para teolog dan penyebar agama lainnya.

    Kesimpulan.

    Tidak ada kriteria yang disepakati bersama di dalam penggolongan agama-agama. Setiap orang membuat kriterianya sendiri secara semena-mena untuk tujuan meninggikan agamanya dan merendahkan agama orang lain. Hal ini sangat kentara di dalam agama-agama missi yang agresif seperti Kristen dan Islam dimana segala sesuatu dimaksudkan sebagai senjata psikologis bagi upaya-upaya konversi dan proselitasi mereka.

    Di samping itu tidak ada saksi dan bukti untuk memverifikasi dan memfalsifikasi apakah isi suatu kitab suci betul-betul wahyu dari Tuhan atau bukan? Yang dapat dikaji secara obyektif adalah isi atau ajaran yang dikandung kitab suci-kitab suci itu apakah ia sesuai dengan dan mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, seperti cinta kasih, kesetiaan, ketabahan, rajin bekerja, kejujuran, kebaikan hati atau mengajarkan kebencian dan kekerasan?

    Penggolongan agama-agama menjadi agama langit dan agama bumi, jelas menunjukkan sikap arogansi, sikap merendahkan pihak lain, dan bahkan sikap kebencian yang akhirnya menimbulkan kekerasan bagi pihak yang dipandangnya sesat, menjijikan dan tidak bernilai. Di lain pihak penggolongan ini menimbulkan rasa tersinggung, kemarahan, dan akhirnya kebencian. Bila kebencian bertemu kebencian, hasilnya adalah kekerasan.

    Melihat berbagai cacat dari kitab suci-kitab suci mereka, khususnya ajarannya yang penuh kebencian dan kekerasan, maka isi kitab suci itu tidak datang dari Tuhan, tetapi dari manusia yang belum tercerahkan, apalagi Tuhan-Tuhan mereka adalah buatan manusia.

    Berdasarkan hal-hal tersebut di atas disarankan agar dikotomi agama langit dan agama bumi ini tidak dipergunakan di dalam baik buku pelajaran, wacana keagamaan maupun ilmiah. Dianjurkan agar dipergunakan istilah yang lebih netral, yaitu agama Abrahamik dan agama Timur.

    (Ngakan Putu Putra sebagaian bahan dari SATS ; “Semua Agama Tidak Sama” ).

    Catatan kaki:
    I). Prof . DR. H.M. Rasjidi : “Empat Kuliyah Agama Islam pada Perguruan Tinggi” penerbit Bulan Bintang, Jakarta, cetakan pertama, 1974. hal 10) H.M Rasjidi hal 53
    2). Lihat Karen Amstrong : A History of God
    3). Swami Dayananda Saraswati Satyarth Prakash (Light of Truth), hal 648.
    4). Ibid hal 720.

    ——————————————————————————

    @
    Kita sebagai muslim menyakini bahwa Al-Qur’an benar-benar sebagai wahyu Tuhan. Dalam beberapa ayat, Allah Swt menantang manusia dan makhluk apapun untuk berbuat semisal Al-Qur’an dengan berbagai keistimewaannya. Mereka sampai detik inipun tidak mampu untuk berbuat. Adapun anda mengklaim ada berbagai kesalahan dan ketidaksempurnaan Al-Qur’an, ini merupakan sebuah kebohongan besar yang dialamatkan kepada kitab suci Al-Qur’an:

    -Pertama: Kesalahan Fakta
    Contohnya: Bumi adalah hamparan bagaikan papan tulis ataupun tikar, ini penafsiran terhadap zhahir ayat yang dilakukan oleh salah seorang ulama wahaby (Syeikh Ustaimin) yang tidak mewakili nama Islam, Jelas-jelas penafsiran yang sangat sangat keliru dengan hanya memahami dari zhahir ayat. Dan jelas bumi berbentuk bulat.

    -Kedua: Kontadiksi-kontradiksi
    Dalam Al-Qur’an dapatlah kita mengkaji bahwa ayat-ayat Al-Qur’an satu sama lain saling berhubungan dan akan menjelaskan satu sama lain.

    -Ketiga: Kesalahan struktur kalimat atau tata bahasa.
    Masing-masing agama mempunyai perbedaan kata dalam mengenalkan Tuhannya. Tata bahasa yang cocok dalam penggunaan dhomir dalam Al-Qur’an. Adapun Ia mengenalkan dirinya dengan Maha Pengasih, Penyayang, Pengampun, Pemberi Rizki,…………
    Memang Dia sebagai Pemilik Segala Kekuasaan dan Kesempurnaan, berhak menyatakan kesombongan-Nya.

    – Keempat:ajaran tentang kekerasan dan kebencian.
    Tidaklah Al-Qur’an mengajarkan demikian. Contoh-contoh diatas, seperti:

    1.Kesucian Diri
    “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”(Jumu’ah: 2)

    2. Pengorbanan
    “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya Karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”(Al-Baqarah ayat 207)

    3. Perhatian terhadap perkara kaum muslimin:
    “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain.” (Taubah ayat 71)

    4. Silaturahmi:
    “Dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu.” (Nisa ayat 1)

    5. Tanggung jawab dan manajemen:
    “Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Al-Imran ayat 200)
    Yang jelas mencontohkan kehidupan yang harmonis, kedamaian dan jauh dari sifat permusuhan antara satu sama lain.

    Dalam permasalahan pembagiaan agama, kami pun lebih cenderung untuk memilih klasifikasi agama yang anda sebutkan yaitu: agama Abrahamik dan agama Timur. (Cahaya Islam)

    sejati said:
    Agustus 29, 2007 pukul 12:53 pm

    @ Cahaya Islam,

    Terima kasih atas tanggapannya.

    Anda bilang: “Memang Dia (Allah) sebagai Pemilik Segala Kekuasaan dan Kesempurnaan, berhak menyatakan kesombongan-Nya.”

    Saya tidak setuju dengan anda bahwa Tuhan itu sombong. Tapi kalau Tuhan yang dibuat oleh manusia itu bisa saja sombong. Dalam hal ini, Tuhan dibikin sombong oleh pembuatnya/manusia.

    Maaf ya …

    hatinurani21 said:
    September 2, 2007 pukul 7:11 am

    @ Cahaya Islam,

    Dogma-dogma yang ada di Al-Qur’an sudah tidak berlaku lagi. Kita, orang Nusantara, tidak bisa menuruti perlakuan-perlakuan orang Arab waktu jaman Jahiliyah. Apalagi menuruti perlakuan-perlakuan yang sekarang tidak manusiawi dengan kedok Islam.

    Contoh dogma-dogma keliru di Al-Qur’an:

    Soal poligami:

    Umat muslim bilang wanita lebih banyak dari pada laki-laki. Hal ini sangat keliru. Di Cina, dengan politik anak tunggal, orang Cina memilih anak laki-laki, hamilan anak perempuan biasanya digugurkan. Akibatnya, saat ini cowok lebih banyak daripada cewek. Jadi Al-Qur’an tidak berlaku di Cina. Jadi “wahyu” Tuhan yang di Al-Qur’an itu hanya berlaku di Arab saja. Dinisi kebenaran wahyu bisa dipertanyakan.

    Soal halal-haram makanan:

    Umat muslim mengharamkan daging babi. Hal ini sangat keliru. Baru-baru ini telah ditemukan bahwa jantung dan paru-paru babi lebih mendekati jantung dan paru-paru manusia. Jantung atau paru-paru manusia yang sakit bisa diganti/dicangkok dengan jantung atau paru-paru babi. Ini adalah solusi yang ideal karena kelangkaan donor. Berarti Al-Qur’an tidak berlaku lagi disini. Terus bagaimana dengan “wahyu” Tuhan. Disini kebenaran wahyu lagi bisa dipertanyakan.

    Soal ke-najis-an binatang anjing:

    Anjing adalah najis buat umat muslim. Hal ini sangat keliru karena anjing saat ini sangat membantu manusia, seperti: pelacakan narkoba dipakai oleh polisi duana, membantu menyelamatkan orang-orang yang masih hidup yang tertimbun oleh runtuhan bangunan akibat gempa bumi, menyelamatkan pendaki gunung yang ditimbun oleh longsoran salju, teman hidup dan pengantar orang buta, membantu peternak domba untuk mengembala ratusan domba di gunung-gunung, membantu menemukan pelaku kejahatan kriminal, menyelamatkan pemilik anjing yang sendirian yang korban kecelakan di rumahnya sendiri (anjing terus-terusan menggonggong sehingga tetangga datang untuk menyelamatkan pemilik anjing tersebut), dan banyak lagi. Disini, Al-Qur’an sama sekali tidak berlaku. Terus bagaimana dengan “wahyu” Tuhan yang ada di Al-Qur’an. Disini kebenaran wahyu lagi bisa dipertanyakan.

    Dan banyak lagi dogma-dogma lainnya yang keliru yang kita dapatkan di Al-Qur’an.

    Sebagai kesimpulan, kita harus menjawab pertanyaan-pertanyaan ini:
    – Apakah Islam agama universal?
    – Melihat dogma-dogma yang ada di Al-Qur’an sudah tidak berlaku lagi, haruskan kita, orang Nusantara, meniru perlakuan-perlakuan orang Arab waktu jaman Jahiliyah?
    – Haruskah kita, orang Nusantara, menuruti perlakuan-perlakuan yang tidak manusiawi sekarang dengan kedok Islam?

    ——————————————————————————–

    @

    Salam

    -Soal Poligami

    Menanggapi masalah poligami, sah-sah saja dilakukan. Hukum tersebut ada dalam kitab Al-qur’an, dan keabsahannya tidak bisa diganggu gugat. Hanya saja beberapa oknum melakukan kesalahan penafsiran terhadap hukum tersebut. Jangan sampai ia melakukan poligami dengan melupakan kewajibannya terhadap istri pertamanya. Ketika ia merasa mampu menafkahi istri barunya dan selain ia harus berbuat adil. Adil disini dalam pergertian bukan sama rata. Tetapi, dalam arti bisa memenuhi sesuai kebutuhannya dan memenuhi hak dan kewajibannya. dan Tentunya ada hikmah dibalik hukum Allah Swt ini. Diantaranya seorang suami tidak akan berbuat serong, selagi ia mampu memenuhi segala kebutuhannya. Banyak hikmah selain itu, yang tidak dapat kita ungkapkan. Hanya Dialah Yang Maha Tahu. Dan tentunya kita menyadari, bahwa agama Islam adalah agama yang sempurna yang memenuhi segala kebutuhan manusia berdasarkan norma-norma agama yang Allah Swt berikan.

    Lagi pula, anda menghukumi sebuah kota dengan penduduk mayoritasnya adalah kaum laki-laki. Artinya anda membenarkan bagian wilayah kecil dan tidak memenuhi wilayah yang lebih luas. Jadi, tidak membenarkan klaim anda secara universal.

    -Soal Makanan (Hewan) Haram

    Islam memandang semua keberadaan hewan mempunyai sisi kebaikan. Semua ciptaan Allah Swt dipandang dari sisi keberadaannya adalah sesuatu yang baik. Misalnya, hewan sekecil nyamuk itupun memberikan manfaat bagi manusia. Dengan perantara nyamuk, pikiran manusia menjadi berkembang dengan menghasilkan dan memproduksi obat anti nyamuk dan lain sebagainya. Tidak ada sesuatu dari ciptaan Allah Swt yang tidak membawa kebaikan dan manfaat. Salah satu rahasia kebaikan dan manfaat dari ciptaan-Nya terkadang baru terungkap dimasa sekarang seperti apa yang anda contohkan diatas.

    Jadi, agama Islam juga mendukung terhadap perkembangan sains yang ada. Oleh karenanya terkadang diperlukan kerjasama antara seorang mujtahid (yang memilki otoritas hukum) dengan seorang ilmuwan dalam mengungkapkan sebuah hukum. Tidaklah menjadikan dogma-dogma agama disalah tafsirkan menurut pendapat sendiri. Dan diperlukan sebuah keahlian yang mencakup pengetahuan agama dan pengetahuan umum yang cukup dalam menggali sumber-sumber yang ada.

    Banyak rahasia yang terkandung dalam Al-Qur’an yang sampai sekarang para ulama dan ilmuwan belum seratus persen mengetahui rahasia yang terkandung dalam Al-Qur’an. Selain itu Al-Qur’an membawa sebuah pemikiran yang universal dan mencerahkan bagi kemajuan umatnya. Dan dalam beberapa diskusi2 umum, seminar, konferensi mengungkap permasalahan ini.

    Dalam surat Al-An’am ayat 145 dijelaskan: “Katakanlah: “Tiadalah Aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – Karena Sesungguhnya semua itu kotor.”

    Jadi Al-Qur’an benar-benar memperhatikan berbagai aspek kebersihan dan kesehatan, dan terbukti bahwa para ilmuwan juga mengakui bahwa daging babi adalah sumber dari sekitar 70 jenis penyakit. Karenakan babi dikenal sebagai hewan yang jorok, pemakan segala baik daging maupun tumbuhan. Beda dengan kebiasaan makan sapi atau domba yang hanya makan tumbuhan. Namun dalam keberadaannya sebagai makhluk ciptaan Allah swt memberikan sebuah manfaat atau paling tidak berguna bagi perkembangan siklus kehidupan bagi sesama hewan.

    -Akal sehat mewajibkan kita untuk menghindari hal-hal yang berlaku secara tidak manusiawi. (Cahaya Islam)

    Wassalam.

    Just say somethin said:
    Oktober 8, 2007 pukul 1:31 pm

    FIRMAN SIAPAKAH INI ?

    Pada sejarah awal Islam, Sahabat Nabi Muhammad, iaitu Abdullah bin Mas’ud telah pantang menerima beberapa Surah-surah yang ada di dalam al-Quran hari ini. Adalah wajar bagi kita meneliti ayat-ayat tersebut dan sebab-sebabnya ayat-ayat tersebut ditolak oleh salah seorang sahabat karib dan pembantu Nabi sendiri.

    Satu Contoh yang sungguh menarik sekali ialah kandungan Surah Pembukaan yakni Surah al-Fatihah. Ia mengandungi tujuh baris ayat dan diletak di permulaan al-Quran. Ayat-ayat ini juga penting bagi doa-doa Islam. Satu terjemahan dalam Bahasa Inggeris adalah seperti tersebut:

    “In the name of God, the Compassionate, the Merciful!
    Praise be to God, the Lord of the Worlds, the Compassionate,
    the Merciful, the Master of the judgement Day!
    You (alone) we worship and from You (alone) we seek help.
    Guide us to the straight path,
    the path of those on whom You have bestowed bounty,
    not of those with whom You are angry
    and who have gone astray!”

    Dalam bahasa serantau pula inilah terjemahannya:

    “Dengan nama Allah yang Mahapengasih, Penyayang!
    Segala puji bagi Allah, Tuhan (yang mendidik) semesta alam,
    Yang Mahapengasih, Penyayang,
    lagi mempunyai penguasa hari pembalasan
    Hanya Engkaulah (ya Allah) yang kami sembah
    dan hanya kepada Engkaulah kamu minta pertolongan.
    Tunjukilah kami kejalan yang lurus,
    yaitu jalan orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka,
    sedang mereka itu bukan orang2
    yang dimurkai dan bukan pula orang yang sesat.”

    Apakah kata-kata ini sebenarnya firman Tuhan? Mungkin jauh sekali! Daripada kandungan ayat-ayat di atas sudah cukup jelas bahawa mereka adalah daripada kata-kata Nabi Muhammad sendiri. Kerana nas tersebut merupakan pujaan dan pujian kepada Tuhan, perghormatan kepada-Nya dan permintaan doa bagi pertolongan daripada-Nya. Adakah Allah sendiri mengucap:”Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Yang Mahapengasih, Penyayang, lagi mempunyai penguasa hari pembalasan…” kepada diri-Nya ? Jawapannya “Tidak”!

    Masalah ini tidak akan timbul jika Surah al-Fatihah ini dimulakan dengan perkataan Arab “Qul” yang bermaksud “Kata” seperti yang terdapat pada ayat-ayat al-Quran yang lain contohnya

    surah 112 ayat 1: “Katakanlah: Dialah Allah yang Maha Esa…”, atau
    surah 109 ayat 1: “Katakanlah: Hai orang-orang yang kafir…”, atau
    surah 18 ayat 110: “Katakanlah: Sesungguhnya aku seorang manusia seumpama kamu…” dsb-nya.

    Adalah tidak logik lagi tidak masuk akal bagi Allah mengucap: “Tunjukilah kami kejalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang Yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka, sedang mereka itu bukan orang2 yang dimurkai dan bukan pula orang-orang yang sesat.”

    Jadi sudah mustahillah bagi Surah al-Fatihah ini merupai firman Allah kerana segala kandungannya adalah pujaan serta permintaan perlindungan daripada Tuhan, tetapi sebaliknya, nas ini ialah sebenarnya kata-kata Nabi Muhammad sendiri dan satu doa yang telah digubah olehnya.

    Inilah sebabnya-diantara lain, mengapa Abdullah bin Mas’ud telah menolak bukan sahaja Surah-surah seperti surah al-Fatihah, tetapi juga Surah al-Falaq dan surah an-Nas sebagai sebahagian daripada al-Quran. Kedua-dua surah tersebut mengandungi ungkapan-ungkapan “Aku berlindung kepada Tuhan…” Abdullah Mas’ud adalah seorang Sahabat yang akrab kepada Nabi Muhammad dan juga seorang penghafaz dan juga pencatit kandungan al-Quran.

    Di dalam al-Quran terdapat banyak contoh kekeliruan dan juga percanggahan-percanggahan diantara dua sumber ucapan. Satu adalah Tuhan Allah, dan satu lagi Muhammad sendiri, di dalam ayat-ayat yang sama !

    Contohnya di dalam surah al-Israak ayat 1 dimana terdapat satu-satunya cerita mengenai perjalanan malam Nabi Muhammad.

    “Mahasuci Tuhan yang memperjalankan hambaNya pada malam hari, dari masjid il-Haram ke masjid yang amat jauh (Baitul-Makkdis), yang telah Kami berkati sekelilingnya, supaya Kami perlihatkan kepadanya sebahagian ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha melihat.”

    Ungkapan “Mahasuci Tuhan yang memperjalankan…” itu tidaklah diucapkan oleh Allah sendiri oleh kerana Allah tidak memuliakan diri-Nya sendiri! Apakah Allah itu perlu membesar-besarkan diri-Nya? Atau Dia perlu menonjol-nonjol kemuliaanNya dengan sendiriNya? Sebaliknya itu adalah kata-kata Nabi Islam sendiri, diucapkan sebagai ucapan terimakasih kepada Tuhan kerana berkat anugerah-Nya. Ungkapan selepasnya itu yang menceritakan tentang masjid il-Haram ke masjid yang amat jauh (Baitul-Makkdis), yang “telah Kami berkati sekelilingnya…” adalah ucapan daripada Allah. Juga sama seperti ungkapan seterusnya “supaya Kami perlihatkan kepadanya sebahagian ayat-ayat Kami..” Akan tetapi kata-kata penutupnya “Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha melihat” mungkin sekali adalah kata-kata Nabi Muhammad dan bukan kata-kata Allah.

    Ada pun ayat-ayat seperti di atas yang dengan mudah dapat diterangkan. Tetapi ada pula nas-nas lain yang membawa kemusykilan yang tersendirinya. Salah satu diantara yang lain adalah Surah 33 (al-Ahzaab) ayat 21-24. Ayat 21 berbunyi:

    “Sesungguhnya pada rasul Allah(Muhammad) ada ikutan yang baik bagimu. Yaitu bagi orang yang mengharapkan pahala Allah dan hari yang Kemudian, serta ia banyak mengingat Allah.” Sudah tentu jika Allah yang mengucapkannya, ragam ayatnya akan berbedza dan akan berbunyi seperti berikut : “Mereka yang mencari-cari dan mengharapkan Aku (Tuhan) haruslah mengambil rasul-Ku sebagai ikutan (teladan) mereka.”

    Dalam ayat-ayat 22 dan 23 pula, pengikut-pengikut Nabi dipuji kerana bersetia teguh semasa peperangan parit disekeliling kota Madinah tetapi ayat 24 pula menambahkan satu syarat “Supaya Allah membalasi orang-orang yang benar kerana kebenarannya dan menyiksa orang-orang munafiq, jikalau dikehendakiNya atau diterima-Nya taubat mereka. Sesungguhnya Allah Pengampun lagi Penyayang.” Disini, sekali lagi, bukanlah Allah tetapi Nabi Muhammad yang mengucap kata-kata itu. Jika Allah sendiri yang menyatakannya, sudah tentu ia akan berbunyi seperti: “Supaya Kami membalasi orang-orang benar kerana kebenarannya..”

    Satu catatan melapurkan bahawa Nabi Allah, sambil beliau sedang menyiapkan ekspidisinya menyerang umat Roma di negeri Syam pada 8 AH.Beliau telah menanyakan sebabnya mengapa Al-Jadd bin Qais, ketua satu suku kelompok Madinah, tidak peri berperang bersama-sama rombongan mereka tahun itu. Dalam jawabannya, al-Jadd bin Qais berkata kepada Nabi Muhammad, “Ampunilah saya dan selamatkanlah saya daripada godaan! Saya amat berminat kepada para wanita, dan amat risau jika melihat wanita-wanita Bizantium itu, saya tidak dapat menahan godaan saya itu.”

    Ini pula telah membawa kepada turunnya ayat 49 surah 9 at-Tauba yang berkata: “Diantara mereka ada yang berkata : Izinkanlah saya tiada pergi berjuang dan janganlah saya difitnahkan. Ingatlah, sungguh mereka telah jatuh dalam fitnah itu. Sesungguhnya neraka jahannam meliputi orang-orang yang kafir.” Sudah jelas sekali kata-kata ini adalah dari mulut Nabi, bukan daripada Allah, kerana al-Jadd bin Qais telah memohon keizinan daripada Muhammad, dan bukan daripada Allah, supaya dia dikecualikan dari peperangan itu! Jadi Muhammadlah yang telah memberi jawabannya kepada beliau.

    Kewujudan kemusykilan dan kekeliruan di antara kata-kata Allah dan kata-kata rasullulah sudah pun disahkan dan tidak dapat dinafikan sama sekali.

    Adakala ragam ayat dan strukturnya membuktikan bahwa Nabi Muhammad yang berucap dengan meluahkan kata-kata kusyuk dan kesyukurannya kepada Tuhan Allahnya. Pada masa yang lain pula Tuhan sendiri yang berbicara firman-Nya dengan memulakan nas ayat-ayat-Nya dengan ungkapan ‘Qul’ – Katakan.

    Kekeliruan diantara firman Allah dan kata-kata Muhammad jelas lagi terbukti dari ayat-ayat Surah Yunos ayat 99 dan 100.

    “Jika Tuhanmu mengkehendaki, nescaya beriman sekalian orang yang dibumi semuanya. Adakah engkau memaksa manusia, supaya mereka beriman?”

    “Tiadalah seseorang, melainkan dengan izin Allah. Dia menjadikan siksaan atas orang yang tiada berfikir.”

    Ayat 99 adalah firman Allah kepada Muhammad, tetapi sebaliknya ayat 100 ungkapannya merupakan kata-kata Muhammad sebagai satu penglipur bagi dirinya, supaya perasaan keciwa, putus asa serta kemarahan Nabi terhadap para pendengar beliau yang tidak menerima utusannya, dapat dihilangkan. Bagi Tuhan Allah sendiri, yang telah mentakdirkan segelintir manusia supaya menjadi kafir, ketidak-percayaan kelompok manusia ini sememangnya tidak akan mengejutkan-Nya atau pun menyebabkan Tuhan berasa marah!

    Juga, kita sudah pun meneliti kata-kata dari Surah 33 ayat 24 yang jelas berasal daripada Nabi Muhammad (dan bukan Tuhan) yang berbunyi : “Supaya Allah membalasi orang-orang yang benar kerana kebenarannya dan menyiksa orang-orang munafiq, jikalau dikehendakiNya atau diterima-Nya taubat mereka. Sesungguhnya Allah Pengampun lagi Penyayang.”

    Para umat Arab zaman jahiliyyah yang hidup sezaman dengan Nabi Muhammad amatlah tidak stabil pegangan mereka dan senang sahaja terbawa-bawa oleh tiupan angin dari mana-mana haluan. Jadi, tidaklah mengherankan apabila sekumpulan Muslim daripada Mekah telah menganggotai angkatan perang Abu Jahal lalu menentang Nabi Muhammad di Badr. Ketidakstabilan serta ketidaksetiaan golongan ini yang juga amat miskin, telah menimbulkan kemarahan Allah sehingga turunnya surah an-Nisaak ayat-ayat 97-99.

    “Sesungguhnya orang yang diwafatkan malaikat, sedang mereka menganiaya dirinya, malaikat berkata: ‘Dalam apakah kamu berada?’ Mereka menjawab: Kami adalah orang lemah di tanah air kami. Berkata malaikat,’Tiadakah Bumi Allah itu lapang, lalu kamu berhijrah kepadanya?’ Maka tempat mereka itu neraka jahannam dan itulah sejahat-jahat tempat tinggal'(ayat 97).

    “Kecuali umat yang lemah diantara lelaki-lelaki dan perempuan dan kanak-kanak, mereka tiada berdaya dan tiada mendapat suatu jalan. Mudah-mudahan Allah akan memaafkan mereka, dan Allah Pemaaf lagi Pengampun”(ayat 98-99).

    Di kota Mekah sebelumnya peristiwa Hijrah, Tuhan telah turunkan kepada Muhammad perintah yang sopan dan tertib seperti berikut:

    “Serulah manusia ke jalan agama Tuhanmu dengan kebijaksanaan dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan jalan yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui mereka yang sesat dari jalanNya dan Dia lebih mengetahui umat yang mendapat petunjuk.” Surah an-Nahl ayat 126.

    Sebaliknya, beberapa tahun sesudah itu, apabila Islam telah dibangkitnya Muhammad sebagai satu kuasa politik, dia telah berjaya memasuki kota Makkah dengan mengetuai seangkatan perang. Sebaik sahaja pencapaian ini, nada perintah-perintah Allah telah berubah menjadi lebih keras, memaksa dan mendesak. Seperti berikut:

    “Maka apabila telah habis bulan suci, hendaklah kamu memerangi umat-umat musyrik di mana-mana kamu jumpai (mereka) dan hendaklah ambil mereka itu menjadi tawanan dan kepunglah mereka dan duduklah mengintip mereka pada tiap-tiap jalan yang dilalui mereka.” Surah at-Taubah ayat 5.

    Sebagai manusia fana yang memiliki belenggu-belenggu dan ciri-ciri kelemahan yang menghadkan seseorang itu, sudah menjadi satu sifat lazim bagi seorang menunjukkan reaksi atau tindak-balas yang berbedza apabila menghadapi situasi-situasi rumit lagi mencabar daripada situasi sebaliknya; seperti kejayaan dan penaklukan. Tetapi apabila kita mengambil-kira sifat-sifat ilahi Tuhan seperti mahakuasa-Nya serta mahamengetahui-Nya, adalah mustahil bagi Tuhan Allah sama-sama mengalami reaksi-reaksi insaniah seperti diatas ini!

    Walau bagaimanapun, syor bahawa “Tidak ada paksaan dalam agama…”(surah 2/257), yang telah diturun pada tahun 1 selepas Hijrah (AH), telah diikuti satu tahun selepas itu oleh perintah untuk “Perangilah kamu pada jalan Allah…” (surah 2, 190 & 244). Dan juga diikuti oleh amaran bahawa “Tidak sama para Mukmin yang duduk berdiam diri dengan mereka (para Mukmin) yang berjuang pada jalan Allah dengan harta dan jiwanya, kecuali mereka yang ditimpa kemelaratan.” Surah 4 ayat 95.

    Para Muslimin ini diwajibkan berperang bagi perjuangan Allah, di mana sebaliknya setahun sebelumnya mereka ini kononnya tidak boleh dipaksa menganuti agama Islam (QS 2/257), jika mereka enggan berbuat demikian! Juga, ayat-ayat diatas memberitahu pengikut-pengikut Islam bahawa ‘persamaan’ diantara mereka bukanlah sama rata semuanya. Pengikut-pengikut yang hanya mengakui syahadat Islam tidaklah setanding dengan mereka yang juga menderma harta-benda atau wang mereka bagi perjuangan Islam atau dengan mereka yang menghunus pedang-pedang mereka di medan peperangan dalam perkembangannya.

    Di kota Mekah sebelum peristiwa Hijrah Allah telah mengwahyu kepada Muhammad bahawa :

    “Tidak sama perbuatan yang baik dengan perbuatan yang jahat. Tolaklah kejahatan orang dengan jalan yang terbaik, lalu sekonyong-konyong (tidak disangka-sangka) mereka yang ada permusuhan antara kamu dengan dia menjadi sahabat yang karib.” Surah as-Sajdah ay.34.

    Di Madinah pula, Allah telah menurun perintah-perintah yang bertentangan kepada Rasul-Nya iaitu:

    “Maka janganlah kamu lemah dan menyeru kepada pendamaian sedang kamu orang tertinggi dan akan menang! Surah Muhammad ay.35

    Pertentangan-pertentangan yang ketara seperti di atas jarang melepasi perhatian para pengkaji al-Quran. Ada juga contoh-contoh yang lain seperti persoalan yang Tuhan mahakuasa telah menuju kepada.umat Arab di Hijaz. Satu daripadanya ialah persoalan mengenai Air dalam surah al-Waaqi’ah ayat 68-69 : “Adakah kamu lihat air yang kamu minum ? Kamukah yang menurunkannya dari awan atau Kamikah menurunkannya ?”

    Sebaliknya, di nas-nas al-Quran yang lain, Pencipta semesta alam dinampakkan sebagai serba memerlukan, sama seperti insan-insan ciptaan-Nya. Satu petikan adalah daripada surah al-Hadid ayat 25:

    “Dan Kami turunkan besi, untuk mendapat kekuatan yang sangat dan beberapa menafa’at bagi manusia, dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong-Nya (dan agamaNya) serta rasul-rasul-Nya.” Surah al-Hadiid ay.25

    Ayat ini membawa maksud yang merupakan bahawa hanya manusia yang mengunakan pedang di medan perang merupakan umat yang benar-benar menolong Allah dan menyokongNya serta Rasul-Nya.

    Kewujudan ayat-ayat yang dimansukhkan dan yang memansuhkan juga membawa masalah bagi al-Quran. Para pentafsir al-Quran dan juga ahli-ahli Ulamak Islam telah cuba mengumpul dan menjelaskan ayat-ayat mansukh dan nasikh ini. Ayat-ayat yang diwahyukan telah dimansuhkan oleh ayat-ayat lain yang diturunkan selepasnya atau yang mempunyai maksud yang bertentangan dengan ayat yang lebih awal itu.

    Bertukar fikiran dan membatalkan sesuatu keputusan itu adalah satu amalan yang lazim dipraktik oleh manusia yang fana. Kerana mana-mana insan yang fana tidak mampu mengetahui segala-sesuatu fakta-fakta atau faktor-faktor berkenaan yang membawa kesan keatas keputusan dan pilihan yang dibuatnya. Pemikiran, minda dan pancaindera setiap insan adalah terhad daya upayanya dan seringkali terpedaya oleh samaran-samaran yang diada-adakan dan juga oleh tipu muslihat. Walaupun begitu manusia berupaya belajar dari kesilapan-kesilapannya dan mengelak daripada melakukan kesilapan itu di masa depan.

    Jadi, tidaklah mengherankan apabila manusia mengubah fikiran serta membuat pindaan kepada rancangan-rancangan mereka. Sebaliknya pula, adalah amat tidak memasuki akal bagi Allah yang mahakuasa lagi mahamengetahui, untuk ‘memansuhkan perintah-perintah-Nya’ dengan sewenang-wenangnya.Ini menyebabkan musuh-musuh Muhammad tertawakannya dan mengejeknya kerana Muhammad telah memberi satu arahan dan membatalkannya pada hari keesokannya! Ejekan-ejekan mereka telah dijawab oleh surah al-Baqarah ayat 100 :

    “Apa-apa ayat yang Kami ubah atau Kami lupakan kepadamu, Kami datangkan gantinya dengan yang lebih baik daripadaNya atau yang seumpamanya. Tidakkah kamu tahu, bahawa Allah itu mahakuasa..?” Surah al-Baqarah ay.106.

    Pada hakikinyalah kerana Allah itu mahakuasa lagi mahamengetahui; Dia tidak akan mengwahyukan suatu ayat lalu memansuhkannya! Ciri-ciri-Nya diatas adalah zat dan sifat-sifat ilahi-Nya yang abadi, demi itulah Allah tidak terikat kepada kelemahan-kelemahan manusia dan Dia berupaya memberikan arahan-arahan-Nya yang tidak perlu dimansuhkan. Setiap manusia yang menggunakan fikiran harus menanyakan ‘Kenapakah arahan-arahan dan perintah Tuhan mahakuasa itu harus ditarik balik dan dimansuhkanNya?’ Apakah tidak ada percanggahan dan pertentangan dalam ayat surah al-baqarah diatas?

    Kerana Tuhan itu mahakuasa lagi serba mengetahui segala-galanya, dari pangkal ke hujung jalan dan sebaliknya, apakah Dia tidak berdaya memberikan wahyu yang sempurna itu TERLEBIH DAHULU ?? Mengapa tidak?

    Jika al-Quran itu benar-benar firman daripada Tuhan, ia seharusnya tidak dicemari apa-apa kelemahan-kelemahan dan kecacatan yang terdapat dikalangan umat manusia. Tetapi, pertentangan dalam ayat-ayat diatas amat jelas sekali. Sudah tentu Tuhan mengetahui apa-apa wahyu yang diturunkanNya, lebih-lebih lagi sebagai Yang Mahakuasa itu, kenapakah Tuhan tidak berdaya memberikan wahyuNya yang sempurna terlebih dahulu supaya tidak payah ditarik balik lagi? Kenapa Tidak? Sehingga hari ini, Soalan-soalan diatas masih lagi tidak terjawab dengan waras dan memuaskan oleh mana-mana ulamak – ulamak Islam.

    Just say somethin said:
    Oktober 8, 2007 pukul 1:32 pm

    Kupasan Tentang Kecurigaan dan Kemusykilan Jelas Surah 96 al-‘Alaq dalam al-Quran

    Adakah Surah 96 Terdiri dari Tiga Bahagian?

    Berdasarkan kepada tafsir tradisi keislaman mengenai Surah 96, ia terdiri atas tiga bagian: tiga bagian tematis yang masing-masing berdiri sendiri. Keanehan yang musykil ini dipengaruhi oleh dua kerangka kisah-kisah tradisi yang terkenal yang menghadirkan apa yang disebut sebagai “keberadaan pewahyuan” yakni “sebab-sebab untuk wahyu” (asbaabu l-nuzool) untuk bagian pertama sebagaimana juga untuk bagian ketiga secara berurutan (berkesinambungan).

    Kerangka cerita ini tidak memiliki dasar di dalam pengucapan naskah per bagiannya masing-masing. Walaupun begitu, dalam kepercayaan serta tradisi Keislaman sendiri, kedua kerangka kisah-kisah tersebut telah menjadi apa yang dianggap sebagai latar belakang sejarah bagi bagian-bagian yang berkaitan (bersangkutan) di dalamnya.

    Dalam kasus pertama kerangka non-Qur’anic, dimana tafsiran Keislaman secara tradisional mendapatkan pemikiran utamanya dari kisah sejarah fiktif (kisah-kisah buatan) dimana pada saat penunjukan awal karunia Muhammad sebagai rasul malaikat Jibril terlihat olehnya seakan memberikannya satu naskah dan mendesaknya untuk membacanya. Dari kisah ini penafsiran dua imperatif (kata perintah) awal “iqra”, yang diterjemahkan sebagai “baca!”, dalam 96:1-5 ditetapkan. Naskah selanjutnya setelah kedua imperatif ini kemudian diambil untuk naskah yang mana malaikat Jibril persembahkan di depan mata calon rasul untuk diceritakan.

    Namun pembahagian Islam ortodoks dari Surah 96:1-5 yang dalam hal tersebut hanya memberikan kita dua imperatif “baca!” seperti juga yang kononnya diucapkan oleh malaikat Jibril sementara sisanya adalah naskah yang disingkapkan oleh malaikat untuk dibaca oleh calon rasul, adalah suatu pernyataan yang mentah. Bila ini memang adalah suatu kasus mengapa kemudian sama sekali tidak terdapat indikasi terhadap adanya divisi/pembahagian dari naskah ini, sebagai contohnya imperatif yang pertama mungkin setidaknya diketengahkan dengan beberapa kata seperti :

    “Malaikat Jibril berkata kepada Muhammad: ‘Ceritakanlah kata-kata yang engkau lihat ini…'”

    Karena pendahuluan seperti itu tidak terdapat dalam naskah dan karena kerangka-cerita, – diambil atau malahan dibuat dari luar Quran untuk membentuk inti naskah surah 96:1-5, adalah satu-satunya pengganti bagi pendahuluan yang hilang ini untuk kedua imperatif, kita dapat membayangkan betapa lemahnya kerangka-cerita tradisi Islam untuk dikaitkan dengan teks Quran (1).

    Kerangka-cerita lainnya dari Surah 96 dipertalikan oleh pengetahuan Quran muslim kepada bagiannya yang ketiga, ayat 9-19, juga supaya bagian teks ini mendapatkan suatu inti untuk dapat menafsirkannya, adalah berikut ini: Seorang anggota dari umat Muslim Mekah sedang yang berkembang, seorang hamba tidak dikenal (‘abd) atau mungkin Muhammad sendiri diduga telah mencoba untuk melakukan ritual sembahyang, namun disebutkan telah dirintangi dalam melaksanakannya (2). Bagian itu, – secara gramatikal dan lexikografikal (berdasarkan kamus) amat sangat bermasaalah-, menyetujui maklumat hukuman Allah terhadap apa yang dianggap penghujatan dalam menghalangi seorang percaya dalam melakukan ritual atau ibadat sembahyangnya.

    Karena tidak ada tradisi yang spesifik dan khusus mengenai peristiwa seperti itu, kerangka-cerita ini semestinya dianggap semata-mata sebagai tradisi fiktif (buatan) yang dibesar-besarkan untuk menjadikan bagian ini suatu makna baru yang menyimpang dari bacaan asli yang dimaksudkan berdasarkan teks-rasmnya (yaitu menyerupai teks konsonantal, namun dengan ketidak-jelasannya (keambiguitasan) yang lebih besar dengan melihat kenyataan bahwa beberapa konsonan terlihat serupa terlepas dari tanda-tanda baca pembedanya yang telah ditambahkan kemudian – lihat bawah).

    Di antara dua bagian-bagian yang lebih besar, surah 96:1-5 dan 96:9-19 ini, dengan masing-masing kerangka ceritanya yang ganjil akhirnya terdapat bagian yang pendek 96:6-8. Adalah, dengan menilik kepada isinya, dengan arti yang luas seperti itu, dapat dipertalikan bukan hanya terhadap bagian-bagian teks sebelum dan selanjutnya, namun terhadap setiap gagasan keagamaan secara umum. Karena kemudian tidak ada keterkaitan sama sekali yang dapat dilihat antara “kejadian penunjukan rasul” (96:1-5) dan peristiwa mengenai perintangan seorang penganut Muslim yang tidak dikenal ataupun mengenai Muhammad sendiri dari ritual sembahyangnya, isi bagian tengah 96:6-8 ini dapat dipertalikan dengan isi baik dari bagian sebelumnya ataupun selanjutnya, atau bagian tengah ini dapat dianggap terpisah dari keduanya.

    Kepelikannya adalah walaupun bagian tengah ini dapat, karena keterkaitan yang hanya secara umum itu, dengan mudah dipahami sebagai suatu pendahuluan terhadap bagian ketiga, namun sebenarnya itu dikaitkan oleh kepercayaan Muslim dengan bagian sebelumnya, “peristiwa penunjukan awal” itu, dimana sebenarnya lebih tidak cocok, tepatnya karena kemudian ditempatkan dalam posisi yang tertunda. Lebih lanjut, adalah suatu aturan yang aneh dari para ahli tata bahasa Arab (sebenarnya yang disimpulkan dari tafsiran mentah Quranis ini sendiri) bahwa istilah bahasa Arab “kallaa”, “tidak sama sekali”, yang mendahului bagian tengah ini, hanya pernah digunakan sebagai sangkalan dari kalimat sebelumnya. Ini semata memperkuat hubungan yang sulit dimengerti antara bagian tengah Surah 96 dan bagian pertama sebelumnya.

    Dalam melihat masalah-masalah tekstual dan komposisional dari Surah 96 ini dan kenyataan memalukan dari para muffasirin Quran Muslim untuk memusnahkannya, dianjurkan secara tegas untuk mengesampingkan kedua kerangka cerita yang hanya ditambahkan dari luar Quran oleh kepercayaan Muslim untuk membuat pentafsiran-semula menjadi mungkin dan untuk mengikatnya pada teks-rasm Surah tersebut.

    96:1-5: Mulai dengan Abu ‘Ubaidah

    Untuk memahami surah 96:1-5 mari kita memulai dari perkataan tokoh dan ahli pujangga Muslim terkenal Abu ‘Ubaidah (almarhum pada 818 Masehi). Berdasarkan kutipan dari karyanya “Majaz al Qur’an” oleh Al-Farra’ (lihat Noeldeke, Geschichte des Qorans, I, 81) Abu ‘Ubaidah bersikukuh bahwa kata kerja “qara’a” dalam surah 96:1 (yang secara tradisional ditafsirkan sebagai “baca” “ceritakan”) memiliki kesamaan erti dengan kata kerja “dhakara”, yaitu “berseru”, “nyatakan”, “pujikanlah”.

    Teks yang disampaikan kepada generasi selanjutnya adalah sebagai berikut:

    (1) iqra’ bi-smi rabbika lladhee khalaqa
    (2) khalaqa l-insaana min `alaqin
    (3) iqra’ wa rabbuka l-akramu
    (4) lladhee `allama bi l-qalami
    (5) `allama l-insaana maa lam ya`lam

    Dan menurut pemahaman tradisional orang harus menterjemahkannya sebagai berikut:

    (1) Baca di dalam nama Tuhanmu yang menciptakan
    (2) menciptakan manusia dari gumpalan darah [yang diartikan sebagai janin]
    (3) Bacalah! Sebab Tuhanmu maha mulia,
    (4) yang mengajar dengan kalam
    (5) mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

    Sungguh aneh bahwa suatu buku harus menarik pembacanya agar membaca ketika ia memang sedang membacanya – dan bahkan sebanyak dua kali! Karena itu saranan dari Abu ‘Ubaida kelihatannya cukup kuat. Sebagai tambahan, Gustav Weil (1808-1889) dan Hartwig Hirschfeld, yang seangkatan Weil, telah menegaskan mengenai hal ungkapan Ibrani “qaara’ be-shem Yahwe” (“untuk meninggikan nama Yahwe”) yang tersebar dalam kitab Perjanjian Lama sebagai formula dalam upacara ibadah sembahyang demikian dan harus diperhatikan untuk penafsiran surah 96:1.

    Maka kita harus memahami/ menterjemahkan:

    (1) Tinggikanlah nama Tuhanmu yang menciptakan
    (2) menciptakan manusia dari gumpalan darah [diartikan sebagai janin]
    (3) Tinggikan! Sebab Tuhanmu maha mulia,
    (4) yang mengajar dengan kalam
    (5) mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

    Pemahaman dari “iqra’ bi-smi rabbika” dalam konteks upacara, “tinggikan nama Tuhanmu” yang bersifat pemujaan ini semakin dikuatkan berdasarkan pertimbangan berikut: “alladhee” adalah mustahil akan selalu pasti sama untuk “dia yang” (atau “yang mana”), namun dalam banyak kondisi memiliki konotasi sebab-musabab. Sebagai contoh hingga saat ini Khutbah (Sholat/ khotbah Jumaat) mulai dengan kalimat “Al-Hamdulillah alladhee…”; daripada hanya menerjemahkan “Pujilah Tuhan yang [telah menjadikan ini dan itu]” akan lebih baik memahami “Pujilah Tuhan karena [Dia menjadikan ini dan itu]”. Seperti juga sebaiknya bila kita menerjemahkan:

    (1) Tinggikan nama Tuhanmu sebab Ia menciptakan [atau mungkin dalam bahasa yang lebih baik: karena telah menciptakan]
    (2) menciptakan manusia dari segumpal darah [diartikan sebagai janin]
    (3) Tinggikan! Sebab Tuhanmu maha mulia.
    (4) karena Ia mengajarkan [atau: karena telah mengajarkan] dengan kalam
    (5) mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

    Itu sudah (dan masih) merupakan pola yang sangat umum dari tradisi doa (Kristen) dimana seseorang yang berdoa lebih dulu berterimakasih kepada Tuhan atas ciptaanNya dan kemudian untuk wahyuNya. Ungkapan ini, tentunya, takkan mungkin bila “iqra” difahami sebagai “baca!”.

    Sekarang pengulangan “Tinggikan!” terlihat sebagai suatu penggunaan yang disengaja bermaksud untuk menyusun naskah kedalam dua rangkaian dari tiga bagian – rangkaian pertama untuk bersyukur atas ciptaan, yang kedua atas perwahyuan. Untuk menunjukkan susunan ini kita dapat menulis sebagai berikut:

    Tinggikan nama Tuhanmu

    Karena Ia menciptakan [= karena telah menciptakan]

    Menciptakan manusia dari segumpal darah [diartikan sebagai janin]

    Tinggikan! Sebab Tuhanmu maha mulia

    sebab Ia mengajar [= telah mengajarkan] dengan kalam]

    mengajarkan manusia apa yang tidak diketahui nya.

    Atau dalam bahasa Arab:

    iqra’ bi-smi rabbika

    lladhee khalaqa

    khalaqa l-insaana min `alaqin

    iqra’ wa rabbuka l-akramu

    lladhee `allama bi l-qalami

    `allama l-insaana maa lam ya`lam

    Bahwa kita ada di jalan yang benar dengan segera menjadi jelas bila kita mengabaikan bagian-bagian akhir yang sebenarnya (dalam posisi pausa) dsb., sebagaimana yang masih dan pernah lazim dalam bahasa Arab asli, puisi, syair dan nasyid populer dsb.:

    iqra’ bi-smi rabbak

    alladhee khalaq

    khalaqa l-insaana min `alaq

    iqra’ wa rabbuka l-akram

    alladhee `allama bi l-qalam

    `allama l-insaana maa lam ya`lam

    Jelas suatu pola sajak dengan dua bait! Adalah munasabah untuk orang patut bertanya-tanya : Apakah seseorang pentafsir dapat menemukan pola sajak yang sama dalam bagian-bagian surah 96 lainnya?

    Jika pemikiran ini dapat terbuktikan dengan sesungguhnya – dan pasti akan dibuktikan – perkiraan kami di atas akan dikuatkan: Lupakan saja cerita klise (cliché) yang lazim diperkata-katakan, yang dipakai sebagai kerangka kisah bagi surah 96:1-5, tentang “malaikat Jibril mendesak Muhammad dalam gua di gunung Hira untuk kononnya “membacakan” Qur’an, yang dinamakan surah 96:1-5″!

    Pada akhirnya, kami dapat menambahkan usul lainnya: Berlawanan dengan kata benda ‘alaqah, yang adalah nomen unitatis (ism al-waHdah, kata benda untuk bentuk tunggal) dan lazimnya digunakan dalam Qur’an, kata benda ‘alaq adalah merupakan kata benda dengan arti kolektif (nomen collectivum) dan tidak dapat difahami sebagai (bentuk tunggal) gumpalan darah [ditafsirkan sebagai janin]. Pengertian sebenarnya dari ‘alaq adalah hanya “sesuatu yang melekat bersama”. Jadi tidak ada pemikiran jauh bahwa ‘alaq yang terdapat dalam baris ketiga bait pertama yang digunakan daripada kata Arab yang lazimnya Teen untuk “tanah liat”, “lempung”, hanya demi untuk sajak, hingga merefleksikan idea lama bahwa manusia diciptakan dari tanah liat – suatu idea yang tidak terbatas kepada Alkitab (Bible) sahaja.

    Karena itu kita pada akhirnya dapat mengartikan/ menterjemahkan surah 96:1-5 sebagai berikut:

    Tinggikan nama Tuhanmu

    Karena telah menciptakan

    Menciptakan manusia dari tanah liat.

    Tinggikan! Sebab Tuhanmu maha mulia

    karena telah mengajar dengan kalam

    mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

    96:6-8: Membetulkan Serta Mengkoreksi Sejumlah Besar Kesalahan Gramatikal dan Nahu Arab

    Orang patut bertanya-tanya apakah seseorang dapat menemukan pola sajak yang sama dalam bagian-bagian surah 96 lainnya.

    Sekilas terlihat mudah untuk menjawab pertanyaan ini secara tegasnya. Lihat surah 96:6-8!

    Teks Arab saat ini dalam penulisan Bahasa Inggris adalah seperti berikut:

    (6) Kallaa ‘inna-l-‘insaana la-yaTghaa

    (7) ‘an ra’aahu-staghnaa

    (8) inna ilaa rabbika r-rug’aa

    Pola sajak, tentu saja, mengalir. Namun bagaimana tentang rangkaian pemikiran?

    Semua terjemahan Inggris (maupun Jerman) yang kita kenal – apakah dari kalangan muslim atau non-muslim – mengikuti penjelasan tradisional Muslim dan menerjemahkan 96:6-7 sebagai :

    “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup” (Yusuf Ali),

    dan :

    “Tidak, namun sesungguhnya manusia bertidak berlebihan karena ia merasa dirinya bebas” (Richard Bell) atau sama.

    96:8 diterjemahkan sebagai

    “Lihat, kepada Tuhanlah jalan kembali”.

    Jadi, rangkaian pemikiran sepertinya tidak berlanjut pada ayat 6-8. (Sebenarnya, akan terlihat lebih melompat bila kita tetap memakai pengertian tradisional dari ayat 1-5 dengan “baca!” bagi iqraa.) Namun mari kita melihat secara detail!

    Pemahaman/terjemahan ini menafsirkan kata per kata sebagai berikut:

    Kalla “No” – atau saat digunakan untuk sumpah –> “Tentu saja (Indeed)”, “Tidak (Nay)” atau seperti ‘inna “lihat (look)”, seperti “voila” dalam bahasa Perancis – digunakan sebagai “adalah (is)” dengan penekanan

    Al-‘insaana “orang (the man)”, “manusia (the human)”

    La-ya Tghaa “dia (benar) melampaui batas”

    ‘an “itu”, “di situ”

    ra’aahu “ia melihat dirinya sendiri” daripada yang sebenarnya: “ia melihat dia”

    (i)staghnaa “ia menganggap dirinya sendiri kaya (he/she/it considered him/her/itself as rich) [karena itu: bebas, berkuasa]”

    Walaupun pengertian ayat-ayat 6 dan 8, juga, memungkinkan untuk dipertanyakan, saya membatasi diri kepada perbincangan ayat 7. Seperti yang mungkin telah anda duga, pengertian ayat 7 di atas tergantung pada empat kesalahan gramatikal/nahu:

    1. Untuk mengartikan kata sambung konsekutif “an” dengan “karena” adalah tidak tepat. Dalam bahasa Arab yang hakiki, “karena” sebenarnya dinyatakan dengan cara yang lain.

    2. “ra’aahu” adalah kata kerja yang sudah dilakukan (perfect tense), bukan sesuatu yang masih berlangsung/ imperfect tense (atau dalam terminologi tata bahasa Eropa: waktu sekarang/ present tense)

    3. “ra’a ahu” tidak memiliki arti refleksif. Tidak dapat diterjemahkan dengan ” ia melihat dirinya sendiri” atau “ia memikirkan dirinya sendiri”, namun dengan ” ia melihatnya” atau “ia memikirkannya”.

    4. “(i)staghnaa” adalah kata kerja yang sudah dilakukan (perfect tense), bukan arti sesuatu yang masih berlangsung/ imperfect tense (atau dalam terminologi tata bahasa Eropa: waktu sekarang/ present tense)

    Bagaimanapun, ada kemungkinan untuk mengesampingkan permasalahan-permasalahan ini dengan memperhatikan tata bahasa Arab dan dengan menyadari kepelikan huruf Arab, maksudnya bahwa kita kurang lebih hanya dapat mempercayai rasm (kira-kira: huruf konsonantal). Naskah tua Qur’an secara langsung tidak memiliki tanda-tanda huruf hidup dan diakritikal (tanda pengenal). Tanda-tanda huruf hidup dan tanda-tanda pengenal diulas kemudian. Jadi adalah tidak menyimpang lagi amat munasabah bagi kita membaca teks Arab surah 96 tersebut sebagai berikut:

    (6) Kallaa ‘anna-l-‘insaana la-yaTghaa

    (7) ‘in ra’aahu-staghnaa

    (8) inna ilaa rabbika r-rug’aa

    dengan:

    ‘annna “itu” (bila diikuti kata benda)

    ‘in “ketika”, “bilamana”

    Sekarang ayat-ayat tersebut secara sempurna sesuai dengan nahu dan tata bahasa Arab dan diterjemahkan sebagai:

    (6) Tidak, orang itu boleh menjadi sombong,

    (7) bilamana dia (manusia) melihat Dia (Tuhan) sebagai yang berkuasa.

    (8) Lihatlah, kepada Tuhanlah jalan kembali.

    Kesalahan-kesalahan serta kesilapan tata bahasa di atas sekarang dapat diperbaiki:

    1. Kata sambung konsekutif “‘an” digantikan dengan kata sambung konditional “‘in”, yang tidak menimbulkan masalah.

    2. Kata kerja yang sudah berlangsung (perfect tense) dalam “ra’aahu” sungguh cocok lagi sesuai, karena berdasarkan aturan bahasa Arab dalam kalimat bersyarat perfect tense memiliki arti tidak terbatasi waktu (dan dalam hal ini kata kerja imperfek atau kata kerja yang dipakai untuk masa kini/ present tense).

    3. “ra’a ahu” tidak lagi diterjemahkan secara salah sebagaimana menerjemahkan pengertian refleksif.

    4. Perfect tense dalam “(i)staghnaa” sudah benar sebagaimana apa yang disebut sebagai “ramalan sempurna” dalam (tanpa batas masa/waktu) penegasan tentang Allah.

    Dengan mengumpulkan apa yang telah kita capai sejauh ini kita sampai pada pola puisi Arab yang cukup akrab:

    iqra’ bi-smi rabbak

    alladhee khalaq

    khalaqa l-insaana min `alaq

    iqra’ wa rabbuka l-akram

    alladhee `allama bi l-qalam

    `allama l-insaana maa lam ya`lam

    Kallaa ‘anna-l-‘insaana la-yaTghaa

    ‘in ra’aahu-staghnaa

    inna ilaa rabbika r-rug’aa

    Atau dalam Bahasa serumpun kita :

    Tinggikan nama Tuhanmu

    karena telah menciptakan

    menciptakan manusia dari tanah liat.

    Tinggikan! Sebab Tuhanmu maha mulia

    karena telah mengajarkan dengan kalam

    mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

    Tidak, bahwa manusia dapat menjadi sombong,

    Bilamana ia [manusia] melihat Dia [Tuhan] sebagai yang berkuasa.

    Lihat, kepada Tuhanlah jalan kembali.

    Kita mungkin menjadi lebih bertanya-tanya daripada sebelumnya – apakah kita boleh mendapatkan pola sajak yang sama dalam bagian-bagian lain dari surah 96 ?

    Hasil kupasan

    Daripada mengenengahkan semua langkah dan pertimbangan selanjutnya dalam mendapatkan kembali teks dan arti surah 96 yang asli kami akhirnya hanya mengetengahkan hasilnya saja: satu jenis zikir atau nasyid berbait yang indah dalam bahasa Arab asli, yang tidak lagi jatuh ke dalam bagian-bagian yang terlepas dan dengan pola sajak yang jelas:

    Bacaan Tradisional dan yang direkonstruksi (Teks Arab) dari Surah 96

    Bacaan yang direkonstruksi (Teks Arab yang disalinkan kembali) dari Surah 96

    Terjemahan teks asli bahasa Arab dari Surah 96 yang direkonstruksi adalah sebagai berikut:

    Tinggikan nama Tuhanmu

    Yang menciptakan (=karena telah menciptakan),

    menciptakan manusia dari tanah liat.

    Tinggikan! Sebab Tuhanmu maha baik

    yang mengajarkan (=karena telah mengajarkan) dengan kalam,

    mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

    Tidak sama sekali manusia dapat menjadi sombong

    saat pernah ia melihat Dia secara berkuasa bebas!

    Lihat, kepada Tuhanlah tempat perlindungan!

    Pernahkan engkau melihat

    bahwa Ia mengingkari

    seorang hamba (Tuhan) ketika ia sembahyang?

    Pernahkah engkau melihat?

    – ketika ia berpegang teguh pada syahadat?

    – atau berbicara sebagaimana seorang yang takut akan Tuhan?

    Pernahkan engkau melihat

    bahwa Ia menghianati dan berpaling?

    Tidakkan engkau menyadari bila Tuhan melihat?

    Tidak sama sekali! Jika Dia tidak diberikan damai (melalui sembahyang),

    sungguh Ia akan terengut

    dengan gombakNya (= dengan kehormatanNya)!

    (Keterangan terakhir “gombak kebohongan penuh dosa” dibatalkan.)

    Maka berserulah untuk kebesaranNya!

    Engkau kemudian akan memanggil bala malaikat yang tinggi!

    Tidak sama sekali! Jangan memegahkan diri terhadapNya!

    Tunduk (untuk bersembahyang) dan mendekatlah!

    (=Ringkasan atau judul Surah 96)

    Cuba perhatikan sejumlah banyak pengulangan kata-kata sebagai alat penyair yang pintar untuk membuat bagian-bagian berbeda dari syairnya seakan tersusun dengan sengaja dalam hubungan yang rapi antara satu dengan yang lainnya yang dengan demikian menghasilkan jalinan pemikiran yang luarbiasa, yang secara artistik saling berkaitan yang mengikat menyatukan kesemua struktur jenis zikirullah atau sejenis nasyid.

    Dengan mempertimbangkan teks-rasm yang diberikan -yang belum diubah-dan dalam bentuk aslinya, sajak / nasyid yang benar-benar menakjubkan ini tak kan pernah dicapai dengan pentafsiran semula yang disengaja.

    Oleh karena itu sebelumnya sudah dilengkapkan bukti yang tidak terbantahkan bahwa teks-rasm yang diteruskan dalam batas tertentu, dan jika dipertahankan berdasarkan dan oleh karena pentafsiran semula (pentafsiran ulang) yang salah lebih dari satu millenium, mengakui hanya dan cuma tafsiran yang semula memang dimaksudkan.

    Catatan-catatan dan Referensi

    (1) Kerangka kisah penunjukan awal Muhammad sebagai rasul (yang diduga ada pada akhir ayat 96:1-5) sudah diajukan untuk penelaahan secara terperinci oleh Tor Andrae seorang theolog dan ahli Islam dari Sweden pada tahun 1912 dalam artikelnya “Die Legenden von der Berufung Muhammeds” (“Legenda karir Muhammad”), Le Monde Oriental 6 (1912), 5-18. Ini menjadi jelas bahwa kerangka-kerangka cerita yang sama ini menjadi subyek penemuan dan legenda kepercayaan Muslim.

    (2) Muhammad Taqi ud-Din Al-Hilali dan Muhammad Muhsin Khan dalam karya terjemahan Qur’an mereka yang terkenal mengidentifikasikan orang yang diduga perusuh ini sebagai Abu Jahl.

    Just say somethin said:
    Oktober 8, 2007 pukul 1:33 pm

    Sekali lagi tentang Surat Ar-Rum

    Sebelumnya, kami telah memperhati artikel yang membuktikan Nubuatan-nubuatan yang dicuriga atau yang palsu oleh nabi Muhammad.

    Salah satu dari nubuatan gagal itu yang telah disorotkan diambil dari Surah 30:1-4. Berikut adalah apa yang dikatakan nubuatan itu:

    “Kekaisaran Romawi telah dikalahkan – di suatu tempat yang dekat: Namun mereka, (walaupun) setelah kekalahan mereka (ini), akan segera berjaya – di dalam beberapa tahun.”

    Kita dapat melihat mengapa nubuatan ini tidak kuat dan malahan gagal terwujud dalam kerangka waktu yang telah ditetapkan oleh Quran. Secara detail perinciannya dapat dikaji semula di artikel sebelumnya.

    Di sini pula, kita boleh menguji nubuatan tersebut dari beberapa sudut berbeda. Nubuatan ini merupakan contoh yang baik tentang bagaimana sangat membingungkan, tak lengkap dan tak dapat dipahaminya kitab Quran itu.

    Nubuat ini menyatakan bahwa bangsa Romawi telah dikalahkan di suatu tempat yang dekat. Namun begitu, kita tidak dimaklumkan atau diberitahu mengenai siapa yang mengalahkan mereka, kapan (yakni Bila) mereka dikalahkan, dan dimana mereka dikalahkan. Apakah ungkapan suatu “tempat yang dekat” ditujukan kepada kaum Muslim ataukah bangsa Romawi? Jika dikatakan mengarah kepada kaum Muslim maka tetap saja memberikan kita masalah dalam mengidentifikasikan lokasi yang pasti.

    Tempat yang dekat dengan daerah Muslim dapat merupakan rujukan terhadap Medina (jika selama hal ini “dikemukakan” pada saat kaum Muslim masih di Mekah), Mekah, Syria, Turki, Lebanon/Lubnan, Yerusalem, Persia dsb. Jika merujuk kepada bangsa Romawi sendiri, tempat yang dekat itu mungkin saja Turki (Konstantinopel) atau Roma. Bagaimanakah orang dapat mengetahuinya secara pasti?

    Kedua, siapa yang sebenarnya mengalahkan bangsa Romawi dan bagaimana seseorang tahu secara pasti hakikat tersebut?

    Ketiga, bilakah “nubuatan” ini diberikan? Sebelum atau setelah Hijrah? Karena nubuatan menyatakan bahwa bangsa Romawi akan mengalami kemenangan dalam beberapa tahun, maka mengetahui waktu yang pasti dari apa yang dianggap nubuatan ini adalah bagian penting dan integral dalam membuktikan apakah nubuatan ini dapat lulus atau tidak.

    Tetapi, malangnya al-Quran telah gagal untuk menjawab satupun dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Orang harus mencari jawabannya di tempat lain, ke sumber-sumber pendukung yang disusun sekitar 1-200 tahun setelah kematian Muhammad. Ini berarti Quran sesungguhnya bukanlah satu catatan yang lengkap dan untuk memahaminya secara akurat dan tepat, orang harus merujuk kepada sumber-sumber yang sangat diragukan; materi-materi yang belum ditulis selama waktu peristiwa-peristiwa tersebut diduga terjadi. Contoh-contoh lain yang membuktikan bahwa Quran tidak masuk akal ataupun suatu catatan yang tidak lengkap mencakup sebagai berikut:

    1. Quran tidak menyadari fakta bahwa Abraham memiliki lebih dari satu isteri sebab Quran menyebutkan isteri Abraham sahaja, bukan isteri-isteri. Isterinya itu sangat jelas adalah Sarah:

    Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira. Mereka mengucapkan: Selamat! Ia menjawab: Selamat! maka tidak lama kemudian ia menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, ia memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Mereka berkata: ‘Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah yang diutus kepada kaum Luth.’ Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub. Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” Surah 11: 69-73

    “Sudahkah sampai kepadamu cerita tentang tamu Ibrahim yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaamun”. Ibrahim menjawab: “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal.” Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: “Silahkan anda makan.”(Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: “Janganlah kamu takut”, dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim. Kemudian isterinya datang memekik lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata: ” (Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.” Mereka berkata: “Demikianlah Tuhanmu memfirmankan” Sesungguhnya Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Surah 51: 24-30

    Ini memberikan kesan yang salah dimana seakan-akan Ishak dan Ismail datang dari ibu yang sama. Hanya dengan rujukan Alkitab atau kitab-kitab hadis (tradisi) yang muncul kemudian orang dapat mengetahui bahwa ibu Ismail adalah Siti Hagar.

    2. Siapa dan apakah Abu-Lahab? Kita diberitahukan dalam Surah 111: 1-5:

    Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut. 111: 1-5

    Siapakah Abu-Lahab? Ada apa dengan ini semua? Siapakah isterinya dan mengapa mereka terkena kutuk?

    3. Siapa yang bermuka masam pada siapa dan mengapa?

    Dia bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfa’at kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Surah 80: 1-10

    Siapa yang bermuka masam? Dan mengapa ia dapat – siapapun itu – bermuka masam terhadap orang buta? Siapa orang buta itu? Mengapa ia dianggap najis (perlu membersihkan dirinya dari dosa)? Siapa orang yang menganggap dirinya serba cukup?

    4. Siapakah mereka yang membawa kebohongan dari antara kaum Muslim?

    “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga: Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu.

    Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa dari mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam pennyiatan berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu’mini dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak ) berkata: ” Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.”

    Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta! Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatnya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.

    (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar!” Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman. Dan Allah ,menerangkan ayat-ayatnya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

    Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-kangkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

    Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar,- Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji, dan wanita-wanita yang beik-beik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik. Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh orang-orang: bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia.” (Al-Quran, Surah 24:11-26)

    Dapatkah seseorang menjelaskan bahagian ini tanpa merujuk balik kepada S’irah maupun Hadis?

    5. Mengapa Surah-surah ini diungkapkan?

    “Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, Dari kejahatan mahluk-Nya; Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita; Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul; Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”. S. 113:1-5

    “Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, Sembahan manusia,- Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,- Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,- Dari (golongan) jin dan manusia S. 114:1-6

    Siapakah sang pembisik itu? Siapakah mereka yang menghembus pada buhul-buhul?

    6. Akhirnya, dapatkah seorang Muslim menunjukkan hanya dari Quran saja umur Muhammad ketika ia menjadi “rasul” Allah? Dapatkah mereka menunjukkan hanya berdasarkan Quran saja berapa lama karir dan ‘kerjaya’ kerasulannya bertahan dan berapa banyak surah yang telah diwahyukan kepadanya?

    Hal-hal tersebut hanyalah beberapa dari banyak contoh yang menyingkapkan kekacauan struktur, ketidaklengkapan dan ketidaklogisan Al-Quran.

    7. Perkara-perkara amat mencurigakan yang diuraikan di atas amat pantang sekali diakui, terutamanya oleh para pendakwah dan misionaris Islam. Tetapi kendati begitu, terdapat juga pujangga dan alim ulamak Islam yang jujur lagi ikhlas yang sanggup memperakui hakikat masalah, kecurigaan dan kemusykilan ketara yang dikandungi dalam sumber-sumber rasmi Islam-mahupun al-Quran, Hadis, Sirah atau yang lainnya.

    Tetapi, untuk membuat perakuan masalah-masalah didalam al-Quran ini memerlukan sikap jatidiri, kesungguhan dan keberanian yang cukup kental para ulamak-ulamak dan pujangga Islam ini. Salah seorang daripada mereka ialah Ali Dashti, beliau adalah seorang ‘alim Islam yang cukup berilmu dan berpengetahuan, berasal dari rantau timur tengah.

    Dalam Bukunya yang mengkaji karir dan kehidupan Nabi Muhammad berjudul :”23 Years – A Study of the Prophetic Career of Muhammad”, beliau membuat pengakuan tentang al-Quran :

    “Al-Quran mengandungi ayat-ayat yang tidak lengkap serta tidak boleh difahami (tanpa penggunaan Tafsir). Ungkapan-ungkapan asing serta kata-kata Arab yang tidak lazim dikenali. Juga kata-kata yang tidak mempunyai maksud yang biasa atau yang lazim. Kata-kata sifat dan kata-kata kerja yang telah diubahkan bentuk perkataannya tanpa mengikut tatabahasa dan nahu Bahasa Arab yang standar.

    “Banyak juga Kata-kata ganti yang dipakai secara wewenang dan dengan jelas mencerobohi tatabahasa dan ragam nahu Bahasa-contohnya kata-kata ganti tanpa apa-apa objeknya. Predikat (penjelas subjek dalam satu-satu ayat) yang seringkali tidak ada pertalian dengan subjeknya di dalam ayat-ayat yang berangkap.

    “Penyelewengan bahasa dan penyimpangan-penyimpangan seperti tersebut telah sebabkan ramai pengkaji Quran menyangkal keistimewaannya. Masalah-masalah ini juga telah memaksa para mufassirin dan ulamak muslim mencari-cari penjelasan (diluar Quran) dan juga menjadi sumber pertelingkahan dan perselisihan yang hangat di antara mereka.”

    (23 Years – A Study of the Prophetic Career of Muhammad, Ali Dashti, ms.48,49)

    Lepas itu, Ali Dashti melengkapkan kita dengan contoh-contoh kasus yang spesifik penyelewengan-penyelewengan tersebut dengan kajian Quran dari Surah-surah 74, surah 4, surah 2, surah 20, surah 24 dan surah 53.

    Ali Dashti telah membuat kesimpulan yang mengejutkan tentang al-Quran apabila beliau merumus seperti berikut :

    “Sebagai rumusan, ada LEBIH DARIPADA SERATUS PENYELEWENGAN DAN PENYIMPANGAN TERDAPAT DI DALAM AL-QURAN. Ini mengambil kira penyimpangan dari segi tatabahasa dan nahu Bahasa Arab yang lazim dan sempurna.
    Ini telah memaksakan ahli-ahli tafsir al-Quran bergegas-gegas dan bergumul untuk mencari penjelasan ‘yang munasabah’ untuk membenarkan penyelewengan-penyelewengan itu.”

    (23 Years – A Study of the Prophetic Career of Muhammad, 1985,Ali Dashti, ms.50)

    Seorang ahli cendekia seperti Ali Dashti cukup mantap ilmu Islamnya, oleh kerana pelajaran dan pengajian beliau dengan ulamak-ulamak terkenal di pusat-pusat Islam dan madrasah-madrasah di Iraq. Bahasa Arab beliau cukup lancar kefasihannya karena dia juga telah menulis banyak bahan-bahan ilmiah keislaman dan buku-buku kesasteraan lain dari tahun 1936 sehingga 1974, yakni selama sekurang-kurangnya 38 tahun!

    Ali Dashti juga mencapai kejayaan dalam bidang sosio-politik dan berjaya dilantik ke Majlis Parlimen Iran dari tahun 1928 ke 1935. Pada tahun 1941 dan 1943 beliau berjaya dalam pilihan raya berturut-turut, dan dia salah seorang pemimpin yang terkenal Parti ‘Adalat (Keadilan)nya.

    Pada tahun 1948, Ali Dashti telah dilantik Kerajaan Iran menjadi Duta Besar Iran ke Mesir dan Lubnan (Libanon), dan dia juga telah sandang jawatan Menteri Luar Negara Iran. Pada tahun 1954, Ali Dashti dilantik sebagai Senator Parlimen Iran dan telah memegang jawatan ini untuk 25 tahun sehingga 1979 TM.

    Sudah pastilah, seorang pujangga dan alim seperti Ali Dashti di atas, amat layak sekali memberikan satu analisis berilmiah tentang al-Quran, yang telah dipelajari beliau secukup lama dan mendalam. Dan analisis beliau tidak jauh rumusannya dari apa yang telah kita simpulkan dalam kajian Surah ar-Rum di atas.

    Just say somethin said:
    Oktober 8, 2007 pukul 1:34 pm

    Masalah-masalah, Suhuf-suhuf, serta Pembacaan-pembacaan al-Quran yang Bervariasi dan Berbeda-beda
    yang Berleluasa Pada Zaman Awalan Islam

    Koleksi al-Quran pada zaman awalannya sebenarnya mempunyai beberapa versi-versi dan hakikat ini diserlahkan dengan jelas ketara dalam beberapa cara. Selain dari (i) berbeda-beda sesama sendiri, mereka juga (ii) berbeda dengan ketara dari suhuf kalifah Uthman. Terdapat juga (iii) perbedaan-perbedaan dalam bacaan ayat-ayat tertentu, (iv) dalam jumlah dan nama-nama Surah dan juga (v) dari segi susunan fasal-fasal al-Quran. Satu perkara yang cukup ketara ialah, (vi) tiadanya surat al-Fatihah di dalam koleksi Quran Ibn Masud. Sudah ada ENAM perkara yang cukup mencurigakan kesahihan al-Quran dalam sejarah awalnya!

    Hakikatnya, sejak awal-awalan lagi, sifat dan ciri-ciri Al-Fatihah sebagai satu Doa, menyebabkan beberapa pujangga menganggapkan surah ini sebagai suatu tambahan kemudian kepada suhuf Quran asli. Ada juga mashaf-mashaf al-Quran yang lain yang tidak mengandungi surah-surah 113 dan 114 di dalam mashaf kalifah Uthman bin Affan. Mashaf dan suhuf yang lain-seperti milik Ubai bin Kabb, mempunyai surah-surah yang tidak ada di dalam koleksi kalifah Uthman itu!

    Pada hari ini pula, ada dua ilmuwan British, John Wansbrough dan John Burton yang mempersoalkan segala cerita Hadith yang bersabit dengan koleksi al-Quran yang asal, sebagai cerita-cerita sokongan yang diada-adakan sahaja. Burton mendapati bahawa Muhammad sendiri telah menyiapkan sebuah Quran bertulis, sebagai satu bahan peninggalan untuk diikuti dan diimani. Dia mendapati bahawa ahli-ahli fiqah (para fuqaha’) Islam amat tersekat dengan bergantung hanya kepada mashaf Quran tersebut, jadi mereka telah merekakan suhuf-suhuf Quran yang berbeda-beda serta cerita cerita kalifah Uthman dan penyelarasan al-Quran oleh beliau.

    John Wansbrough pula, sebaliknya telah mendapati bahawa kandungan mashaf-mashaf berbeda al-Quran amat longgar (“fluid”)pada zaman awalannya. Dia mendapati bahawa Quran mencapai rupa bentuk muktamadnya hanya pada KURUN YANG KETIGA zaman Islam. Sebabnya ialah pada kurun-kurun sebelum itu, keadaan antara para Muslim dan wilayah-wilayah Islam yang berlainan terlalu longgar lagi bervariasi bagi menghasilkan satu Quran yang harus ditaati oleh semua umat Muslim pada waktu itu. Wansbrough telah mendapati bahwa semua hadith-hadith Islam telah direka dan dicipta untuk mengalihkan Quran kepada zaman yang lebih awal supaya ia menampakkan kewibawaan yang lebih sahih!

    Bacaan-bacaan Quran yang Berbeda-beda. Dalam suhuf-suhuf yang berlainan serta versi-versi yang berbeda-beda, ada jumlah yang besar ayat-ayat yang berbeda antara satu dengan yang lain, yakni pada ayat-ayat Quran yang tertentu. Walau pun suhuf-suhuf atau mashaf-mashaf Quran yang asal dan asli itu semua telah dihapuskan, kita dapat memperolehi cukup banyak maklumat mengenai perkara ini melalui para mufassir Quran seperti at-Tabari atau sumber-sumber sejarah yang lain. Beberapa perbedaan ini tidak bawa kesan ke atas maksud kepada ayat-ayat itu. Ada kes yang hanya bersabit dengan ortografinya, walau pun hal ini cukup janggal di dalam mashaf versi kalifah Uthman. Perbedaan yang lain pula menyentuh cara-cara menyebut ayat yang berbeza-beza, dan ada juga yang bersabit dengan penggantian sinonim bagi perkataan-perkataan tertentu dalam teks versi itu.

    Sebagai satu Contoh, jika satu ayat Quran dibacakan dengan penghujungnya bentuk akusatif berbeda dengan penghujung yang genitif , ini akan bawa akibat merubah cara dan maksud orang berwudu (sebagai contoh) sebelum solat dengan ketaranya – kes yang jelas ialah surah 5 ayat 6! Sepertimana yang telah dibuktikan oleh ilmuwan Ignaz Goldhizer, di dalam kajian beliau Richtungen der Islamischen Koranauslegung, beberapa bahan berbeza-beza itu adalah hasil daripada pilihan-pilihan dan kecenderungan teologi dan ahli-ahli tafsir serta kelompok-kelompok Islam yang tertentu.

    Haruslah diperhatikan bahawa, dari zaman penyelarasan mashaf Uthman bin Affan, BERIBU-RIBU BACAAN-BACAAN YANG BERBEDA-BEDA TELAH WUJUD secara harfiah DAN DIKENALI SEKITAR UMAT ISLAM DI ZAMAN 100-300 HIJRI. Perbedaan-perbedaan ini juga telah mempengaruhi mashaf kalifah Uthman, AKIBATNYA IA TELAH MENJADI SANGAT RUMIT DAN PERKARA SULIT UNTUK MEMBEZAKAN APAKAH BACAAN ASLINYA! Bukanlah hal yang tidak adil atau ‘berat sebelah’ untuk membuat kesimpulan bahawa keadaan yang cukup keliru tentang al-Quran telah wujud pada tahun 300 Hijriah! Keadaan ini disebabkan oleh kerana jumlah bacaan-bacaan berbeda-beda al-Quran yang berleluasa, serta pilihan dan kecenderungan kelompok-kelompok Muslim tertentu bagi mashaf-mashaf al-Quran SELAIN DARIPADA koleksi Uthman bin Affan.

    Ilmuwan dan pakar kajipurba/arkeologi Eropah Dr.Arthur Jeffery telah menghasilkan sebuah karya berjudul: “Materials for the History of the Text of the Qur’an” yaitu “Bahan-bahan Bagi Sejarah Suhuf al-Quran”. Karya ini telah mendokumentasikan banyak bacaan-bacaan berbeda diantara koleksi-koleksi dan mashaf-mashaf yang bersaing pada zaman SEBELUM proses penyelarasan al-Quran yang telah diperintahkan oleh kalifah ketiga, Uthman bin Affan.

    Dr.Jeffery menyatakan bahawa : “Apabila kita meninjau dan mengkaji cerita-cerita penyelarasan mashaf Uthman b.Affan, amatlah jelas sekali kerja beliau tidaklah hanya sekadar menghapuskan kejanggalan bacaan (seperti dipercayai oleh orang Islam), tetapi merupakan satu tindakan polisi bagi menegakkan satu ‘teks/mashaf piawai/standar’ untuk seluruh dunia Islam.”

    Dr.Jeffery meneruskan ulasannya :

    “Terdapat perbedaan-perbedaan yang jauh sangat di antara mashaf-mashaf dan suhuf-suhuf yang telah wujud yang telah dicantumkan ke dalam mashaf /suhuf kota-kota besar Madinah, Mekkah, Basra, Kufa dan Damsyik.

    Akibatnya,

    “Cara penyelesaian Uthman b.Affan ialah untuk beliau menegakkan Suhuf Madinah, dan perintahkan supaya semua suhuf-suhuf yang lainnya UNTUK DIMUSNAHKAN!”

    Dr. Arthur Jeffery menyatakan bahawa:

    “Tidak ada sedikit pun kekhuatiran dan kecurigaan bahwa suhuf yang telah dipiawaikan (ditegakkan) dan dipilih oleh Uthman b.Affan ialah HANYA SATU DI ANTARA BEBERAPA BANYAK MASHAF/ SUHUF-SUHUF YANG TELAH WUJUD PADA ZAMAN BELIAU.”

    Kesimpulan Dr.A.Jeffery ialah :

    “Adalah jelas ketara bahawa Suhuf yang telah dipilih dan diselaraskan oleh kalifah Uthman itu adalah HANYA SATU KOLEKSI ANTARA BANYAK SUHUF-SUHUF YANG BERSAINGAN…dan juga terdapat banyak syak wasangka yang cukup berat bahawa Uthman juga telah merubah dan sunting suhuf pilihan beliau itu.

    “Materials for the History of the Text of the Qur’an” (“Bahan-bahan Bagi Sejarah Mashaf/Suhuf al-Quran”) (Ibid. halaman ix-x; penekanan kami)

    Cendekiawan yang cukup terkenal, W. Montgomery Watt, mengulas perkara bacaan-bacaan yang berbeda-beda di antara suhuf-suhuf Abdullah Ibn Masud dan Ubai Ibn Kabb, dan dia telah menulis :

    “Tidak ada salinan-salinan mana-mana suhuf atau mashaf-mashaf (al-Quran) terawal yang wujud pada hari ini. Tetapi Senarai Bacaan-bacaan berbeda-beda kedua-dua suhuf-suhuf yang disebutkan di atas itu ADALAH CUKUP PANJANG lagi ekstensif, senarai itu berjumlah sebanyak SERIBU LEBIH BACAAN DALAM KEDUA-DUA Suhuf tersebut!”

    (W.M.Watt, Bell’s Introduction to the Qur’an (Pengantar Kajian al-Quran) [Edinburgh: Edinburgh University Press, 1970], hal.45; penekanan kami)

    Cendekia dan tokoh British Sir Norman Anderson telah menyatakan bahawa :

    “Jadi walaupun suhuf Kufa milik Hafsah diterima secara umumnya dalam dunia Islam, kepercayaan umat Islam yang lazim bahawa mereka hari ini mempunyai ipsissima verba atau kata-kata sahih dari Muhammad, tanpa apa-apa penyelewengan, hanya adalah satu kejahilan dan suatu hemat yang berlandaskan kepada kebutaan sejarah, sebenarnya.

    (Sir Norman Anderson, Islam in the Modern World (Islam Di Dunia Moden) [Leicester: Apollos, 1990], hal. 47; penekanan kami)

    Tokoh Islamis Alfred Guillaume telah memperhatikan bahawa :

    “Kedua-dua Al-Kitab dan Al-Quran telah tidak dipeliharakan dengan sempurnanya. Mereka masing-masing memiliki kecacatan dan kesilapan-kesilapan tekstual dan kecelaan suhuf. Terdapat juga pembacaan-pembacaan yang berbeda-beda di dalam suhuf-suhuf terawal…para Kristian dan Muslim yang jujur akan mengakui hakikat ini.”

    Guillaume bersambung ulasannya :

    “Perbedaan jelas di antara al-Quran dan Al-Kitab hari ini, ialah Gereja Kristian telah menyimpan dan memelihara secara rapi, semua bacaan-bacaan (dan suhuf-suhuf) yang wujud…Sebaliknya, para Muslim zaman Uthman b.Affan memutuskan bahwa adalah lebih sesuai sahaja untuk menghapuskan sebanyak-banyaknya suhuf-suhuf serta dalil bacaan-bacaan yang berbeda-beda itu. Ini dilakukan supaya satu dunia Islam akan membaca hanya satu suhuf al-Quran yang telah diselaraskan oleh kalifah Uthman itu.”

    “Fakta-fakta ini senantiasa harus dititik-beratkan bersama-sama latar belakang dalil-dalil dari Hadith-hadith yang menyerlahkan bahawa al-Quran yang ada pada hari ini masih lagi TIDAK LENGKAP.”

    (Dipetik oleh Sir Norman Anderson, hal. 20-21; penekanan kami)

    L. Bevan Jones menggulungkan dengan kesimpulan :

    “…adalah satu hakikat [yang cukup benar] bahawa tidak ada mashaf atau suhuf yang telah mengalami penghapusan dan pemusnahan yang cukup luas dan ketara selain daripada koleksi al-Quran [semasa penyelarasannya].”

    (Jones, The People of the Mosque [London: SCM Press, 1932]

    Adakah ini semua helah dan konspirasi orang Kristian untuk memperkecilkan al-Quran? Jauh sekali! Jika benar-benar begitu, tidak terdapat ilmuwan-ilmuwan Islam sendiri yang akan mengulas dan membentangkan masalah awalan al-Quran ini. Tetapi, hujah-hujah para ilmuwan Barat di atas juga menerima sokongan dari tokoh-tokoh dan ilmuwan Islam sendiri.

    Seorang tokoh Islam agung dan pujangga terkenal, Ibni Khaldun, juga bersetuju bahawa sememangnya ada korupsi di dalam al-Quran disebabkan pencatat-pencatatnya, mahupun hasil daripada kesilapan-kesilapan sengaja atau sebaliknya :

    “Tulisan Bahasa Arab pada zaman permulaan Islam bukanlah sesuatu yang bermutu tinggi atau pun sempurna dari segi ketepatan atau keunggulan. Ia juga bukan bermutu sederhana pun! Oleh sebab orang-orang Arab pada waktu itu bersifat kasar dan keganasan padang gurun dan tidak mahir atau arif tentang kesenian. Hakikat ini boleh dibandingkan dengan apa yang telah terjadi kepada ortografi al-Quran oleh kerana keadaan tersebut di atas. Orang-orang disekeliling Muhammad (termasuk para sahabatnya) telah mencatit al-Quran di dalam gaya tulisan yang masih belum lagi siap sempurna. KEBANYAKAN HURUF-HURUFNYA BERCANGGAH DAN BERTENTANGAN DENGAN CARA ORTOGRAFI YANG WAJIB BAGI PENULIS-PENULIS YANG ARIF DALAM SENI PENULISAN…Akibatnya, gaya ortografik orang-orang di sekitar Muhammad diguna-pakai dan diikuti, dan para ilmuwan yang arif tentang gaya ini telah memerhatikan ayat-ayat tersebut dimana gaya itu telah menonjol.”

    “Dalam hal ini, janganlah hiraukan diri dengan ‘pujangga-pujangga’ yang tidak bertanggung jawab yang berkata bahawa orang-orang disekeliling Muhammad adalah arif dengan seni menulis dan kononnya tidak ada percanggahan-percanggahan di antara karya-karya mereka dengan gaya dan tatacara ortografik yang betul. Contohnya, mereka cuba memberi penjelasan bahawa tambahan huruf alif di dalam “la ‘adhbahannahU”- ‘Saya akan sungguh-sungguh sembelihnya’, bahawa sembelihan itu tidak berlaku ( lA ‘adhbahannahU ). Tambahan huruf ya dalam bi-ayydin ‘dengan tangan (kuasa),’ mereka cuba jelaskan bahawa kuasa ilahi itu adalah sempurna. Ada banyak lagi bahan-bahan yang tidak berasas seperti di atas, yang berlandaskan kepada andaian-andaian yang wewenang dan ngawur semata-mata!

    “Mereka ini percaya bahawa penjelasan-penjelasan seperti di atas akan membebaskan orang-orang di sekitar Muhammad daripada tuduhan yang mereka ini bukanlah penulis dan pencatat yang arif atau sempurna. Jadi, mereka tidak mahu mengakui bahawa pencatit-pencatit ini sebenarnya tidak arif dan tidak pandai dalam cara penulisan.”

    (Al-Muqaddima, Ibn Khaldun, Jilid. 2, hal. 382)

    Petikan dan kutipan-kutipan di atas membuktikan bahawa ahli-ahli ilmuwan dan para cendekiawan Islam sedar akan kewujudan ratusan – malah ribuan, catatan-catatan al-Quran yang bertentangan. Amatlah naïf untuk umat Islam mengandaikan bahawa suhuf-suhuf dan koleksi tekstual Kitab Suci Injil yang berjumlah besar itu mencurigakan kesahihannya, jika begitu tanggapan mereka, mereka juga terpaksa membuat kesimpulan bahawa bacaan-bacaan berbeda-beda bagi al-Quran juga membuktikan bahwa al-Quran sendiri adalah tidak berwibawa.

    Sudah disenaraikan lapan orang para ilmuwan yang pakar dalam bidang sejarah, sejarah mashaf dan suhuf serta ortografi di atas, dan mereka semua mendapati bahawa memang ada asas bagi sangsi-sangsi dan mencurigai kesahihan suhuf atau teks al-Quran yang wujud pada hari ini. Hakikat ini pula dikonfirmasi oleh tulisan Ibni Khaldun, seorang pujangga dan ulamak Islam yang terkemuka.

    Sebagai penutupnya, sesungguhnya Kitab Suci Injil adalah jauh lebih bermutu tinggi daripada al-Quran atau mana-mana kitab kuno. Ini adalah kerana Al-Kitab umat Kristian mempunyai jauh lebih banyak jumlah dalil-dalil dan bukti suhuf dan mashaf dan juga bukti-bukti bersejarah yang mendukung dan menyokong kesahihannya.

    Just say somethin said:
    Oktober 8, 2007 pukul 1:35 pm

    AlKitab/Bible Mampu, Tetapi
    Al Qur’an Tidak Mampu Tahan Uji,

    Menurut Pengakuan Tokoh-tokoh Islam

    Salah satu dasar keyakinan Kristen terhadap keaslian semua teks Alkitab adalah kemampuannya tahan uji selama 2000 tahun terhadap semua lawannya. Sebaliknya, Al-Qur’an dipastikan akan hancur kalau diuji dengan kriteria yang sama. Ternyata Alkitab adalah Firman Allah yang diturunkan – pasti, diuji dan lulus. Sama nyata adalah fakta bahwa Al Qur’an hanya karangan seorang untuk suku bangsanya sendiri yang tidak mampu tahan uji kalau keasliannya dites (diuji).

    Pengaruh Metodologi Bibel Terhadap Studi Alquran
    Laporan : Adnin Armas, Republika 29 November 2004

    Para Orientalis dan pujangga ilmiah keislaman seperti Ignaz Goldziher (m. 1921), mantan mahasiwa al-Azhar, Mesir, Theodor Noldeke (m. 1930), Friedrich Schwally (m. 1919), Edward Sell (m. 1932), Gotthelf Bergstresser (m.1933), Leone Caentani (m. 1935), Alphonse Mingana (m. 1937), Otto Pretzl (m. 1941), Arthur Jeffery (m. 1959), John Wansbrough (m. 2002) dan muridnya Prof Andrew Rippin, serta Christoph Luxenberg (nama samaran), dan masih banyak lagi yang lain, membawa pandangan hidup mereka (world view) ketika mengkaji Islam.

    Mereka mengadopsi metodologi Bibel ketika mengkaji al-Quran. Pendeta Edward Sell, misalnya, menyeru sekaligus mendesak agar kajian terhadap historisitas al-Quran dilakukan. Menurutnya, kajian kritis-historis al-Quran tersebut perlu menggunakan metodologi analisa bibel (biblical criticism). Untuk merealisasikan gagasannya, ia menggunakan metodologi higher criticism dalam bukunya Historical Development of the Quran, yang diterbitkan pada tahun 1909 di Madras, India.

    Senada dengan Pendeta Edward Sell, Pendeta Alphonse Mingana di awal-awal artikelnya menyatakan bahwa:

    “Sudah tiba masanya untuk melakukan kritik teks terhadap al-Quran sebagaimana telah kita lakukan terhadap Bibel Yahudi yang berbahasa Ibrani-Aramaik dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani.”

    Alphonse Mingana, Syriac Influence on the Style of the Kur’an, Manchester Bulletin 11: 1927.

    Noldeke, Schwally, Bergstresser, dan Pretzl bekerja sama menulis buku Geschichte des Qorans (Sejarah al-Quran). Buku yang menggunakan metodologi Bibel ini, mereka tulis selama 68 tahun sejak edisi pertama dan selama 40 tahun sejak diusulkannya edisi kedua. Hasilnya, sampai saat ini, Geschichte des Qorans menjadi karya standar bagi para orientalis khususnya dalam sejarah kritis gubahan dan penyusunan al-Quran.

    Seirama dengan yang lain, Arthur Jeffery mengatakan:

    “Kita memerlukan tafsir kritis yang mencontoh karya yang telah dilakukan oleh orientalis modern sekaligus menggunakan metode-metode penelitian kritis modern untuk tafsir al-Quran.”

    (Arthur Jeffery, Progress in the Study of the Quran Text, The Moslem World 25: 1935).

    Jeffery selanjutnya menumpukan hasratnya untuk membuat tafsir-kritis al-Quran. Salah satu caranya dengan membuat kamus al-Quran. Menurutnya, karya-karya tafsir selama ini tidak banyak memuat mengenai kosa kata teknis di dalam al-Quran. Menurutnya lagi, para mufasir dari kalangan Muslim, masih lebih banyak yang tertarik untuk menafsirkan masih dalam ruang lingkup hukum dan teologi dibanding untuk menemukan makna asal (original meaning) dari ayat-ayat al-Quran.

    Merealisasikan impiannya, pada tahun 1925-1926, ia mengkaji dengan serius kosa-kata asing di dalam al-Quran. Hasilnya, ia menulis buku The Foreign Vocabulary of the Quran (Pengaruh Kosa-Kata Asing di dalam al-Quran), Baroda: Oriental Institute, 1938). Ia berharap kajian tersebut bisa dijadikan kamus al-Quran, sebagaimana kamus Milligan-Moulton, sebuah kamus untuk Perjanjian Baru (The New Testament).

    Tidak berhenti dengan kajian filologis (philological study), Jeffery juga mengadopsi analisa teks (textual criticism) untuk mengkaji segala aspek yang berkaitan dengan teks al-Quran. Tujuannya untuk menetapkan akurasi teks al-Quran. Analisa teks melibatkan dua proses, yaitu revisi (recension) dan amandemen (emendation). Merevisi/recension adalah memilih, setelah memeriksa segala material yang tersedia dari bukti yang paling dapat dipercaya, yang menjadi dasar kepada sebuah teks. Amandemen adalah menghapuskan kesalahan-kesalahan yang ditemukan sekalipun di dalam manuskrip-manuskrip yang terbaik.

    Jeffery telah mendapati, sejarah teks (textual history) al-Quran sangat problematis (bermasalah) karena secara hakiki, tidak ada satupun dari ortografi naskah al-Quran asli dulu yang masih ada pada hari ini (sejak ratusan tahun yang telah berlalu).

    Tidak ada naskah al-Quran yang ada saat ini, yang tidak berubah.
    Sekalipun perubahan naskah itu alasannya demi kebaikan, namun tetap saja, menurut Jeffery, wajah teks asli sudah berubah.

    Manuskrip-manuskrip awal al-Quran, misalnya, tidak memiliki titik dan baris dan ditulis dengan khat Kufi yang sangat berbeda dengan tulisan yang saat ini digunakan.

    Jadi, menurut Jeffery, modernisasi tulisan dan ortografi, yang melengkapi teks dengan tanda titik dan baris, sekalipun memiliki tujuan yang baik, namun telah merusak teks asli. Teks yang diterima (textus receptus) saat ini, bukan fax dari al-Quran yang pertama kali.

    Namun, ia adalah teks yang merupakan hasil dari berbagai proses perubahan ketika periwayatannya berlangsung dari generasi ke generasi di dalam komunitas masyarakat. (Arthur Jeffery, The Quran as Scripture, New York: R. F. Moore: 1952).

    Dalam pandangan Jeffery, tindakan masyarakat (the action of community) yang menyebabkan sebuah kitab itu dianggap suci. Fenomena ini, menurutnya, terjadi di dalam komunitas lintas agama. Komunitas Kristen (Christian community), misalnya, memilih 4 dari sekian banyak Gospel, mengumpulkan sebuah korpus yang terdiri dari 21 Surat (Epistles), dan menggabungkan dengan Perbuatan-Perbuatan (Acts) dan Apokalipse, yang semua itu membentuk Perjanjian Baru (New Testament).

    Ini sama halnya, menurut Jeffery, dengan

    o penduduk Kufah yang menganggap mushaf ‘Abdullah ibn Mas’ud sebagai al-Quran edisi mereka (their recension of the Quran),
    o penduduk Basra dengan mushaf Abu Musa,
    o penduduk Damaskus dengan mushaf Miqdad ibn al-Aswad, dan
    o penduduk Syiria dengan mushaf Ubay.

    Bagaimanapun, mushaf-mushaf tersebut lagi-lagi paralel sekali dengan sikap masing-masing pusat-pusat gereja terdahulu yang masing-masing menetapkan sendiri beragam variasi teks di dalam Perjanjian Baru. Teks Perjanjian Baru memiliki berbagai versi seperti teks Alexandria (Alexandrian text), teks Netral (Neutral text), teks Barat (Western text), dan teks Kaisarea (Caesarean text). Masing-masing teks tersebut memiliki varian bacaan tersendiri.

    Melanjutkan analisisnya, Jeffery berpendapat mushaf-mushaf tersebut merupakan bagian dari mushaf-mushaf tandingan (rival codices) terhadap mushaf Usmani. Ia kemudian berkolaborasi dengan Bergstresser, guru Joseph Schacht merancang untuk membuat al-Quran edisi kritis (a critical edition of the Quran).

    Dua Ilmuan Islam: Mohammed Arkoun dan Nasr Hamid
    Dalam perkembangannya, metodologi tersebut juga sudah diterapkan oleh sebagian pemikir Muslim. Mohammed Arkoun, misalnya, sangat menyayangkan jika sarjana Muslim tidak mau mengikuti jejak kaum Yahudi-Kristen. Dia menyatakan:

    “Sayang sekali bahwa kritik-kritik filsafat tentang teks-teks suci — yang telah digunakan kepada Bibel Ibrani dan Perjanjian Baru, sekalipun tanpa menghasilkan konsekuensi negatif untuk ide wahyu –terus ditolak oleh pendapat kesarjanaan Muslim.”

    Mohammed Arkoun, Rethinking Islam: Common Questions, Uncommon Answers. London: Saqi Books, 2002

    Dia juga menegaskan bahwa studi al-Quran sangat ketinggalan dibanding dengan studi Bibel (Al-Kitab)(“Quranic studies lag considerably behind Biblical studies to which they must be compared”). (Mohammed Arkoun, The Unthought in Contemporary Islamic Thought, London: Saqi Books, 2002).

    Menurut Arkoun, metodologi John Wansbrough, memang sesuai dengan apa yang selama ini ingin dia kembangkan. Dalam pandangan Arkoun, intervensi ilmiah Wansborugh cocok dengan framework yang dia usulkan. Framework tersebut memberikan prioritas kepada metode-metode analisa sastra yang, seperti bacaan antropologis-historis, menggiring kepada pertanyaan-pertanyaan dan sebuah refleksi yang bagi kaum fundamentalis saat ini tidak terbayangkan. (Mohammed Arkoun, Contemporay Critical Practices and the Quran, di dalam Encyclopaedia of the Quran, Editor Jane Dammen McAuliffe, Leiden: Brill, 2001).

    Padahal John Wansbrough, yang menerapkan analisa Bibel, yaitu form criticism dan redaction criticism kepada al-Quran, menyimpulkan bahwa teks al-Quran yang tetap ada baru ada setelah 200 tahun wafatnya Rasulullah (Muhammad). Menurut John Wansbrough lagi, riwayat-riwayat mengenai al-Quran versi Usman adalah sebuah fiksi yang muncul kemudian, direkayasa oleh komunitas Muslim supaya asal-muasal al-Quran dapat dilacak ke Hijaz (Issa J Boullata, Book Reviews: Qur’anic Studies: Sources and Methods of Scriptural Interpretation, The Muslim World 67: 1977).

    Menurut Arkoun, kaum Muslimin menolak pendekatan kritis-historis al-Quran karena nuansa politis dan psikologis. Politis karena mekanisme demokratis masih belum berlaku, dan psikologis karena kegagalan pandangan muktazilah mengenai kemakhlukan al-Quran. Padahal, menurut Arkoun, mushaf Usmani tidak lain hanyalah hasil sosial dan budaya masyarakat yang kemudian dijadikan ”tak terpikirkan” dan makin menjadi ”tak terpikirkan” karena kekuatan dan pemaksaan penguasa resmi. Ia mengajukan istilah untuk menyebut mushaf Usmani sebagai ”mushaf resmi tertutup (closed official corpus)”. (Mohammed Arkoun, Rethinking Islam Today di dalam Mapping Islamic Studies, Editor Azim Nanji).

    Dalam pandangan Mohammed Arkoun, apa yang dilakukannya sama dengan apa yang diusahakan oleh Nasr Hamid Abu Zayd, seorang intelektual asal Mesir. Arkoun menyayangkan sikap para ulama Mesir yang menghakimi Nasr Hamid. Padahal metodologi Nasr Hamid memang sangat layak untuk diaplikasikan kepada al-Quran.

    Nasr Hamid berpendapat bahwa al-Quran sebagai sebuah teks dapat dikaji dan ditafsirkan bukan hanya oleh kaum Muslim, tapi juga oleh Kristen maupun ateis.

    Al-Quran adalah teks linguistik-historis-manusiawi. Ia adalah hasil budaya Arab.

    Adopsi sarjana Muslim terhadap metodologi Bible terhadap al-Quran sangat disayangkan. Jika adopsi ini diamini, maka hasilnya fatal sekali. Otentisitas (kesahihan) al-Quran sebagai kalam Allah akan tergugat.

    Al-Quran akan diperlakukan sama dengan teks-teks yang lain.

    Ia akan menjadi teks historis, padahal sebenarnya (menurut iman & kepercayaan Muslim saja) ia adalah “Tanzil”. Ia jelas berbeda dengan sejarah Bible. Sumbernya juga berbeda. Setting sosial dan budaya juga berbeda. Bahkan bahasa asli Bibel sudah tidak banyak lagi digunakan oleh penganut Kristen. Sangat berbeda dengan kaum Muslimin, yang dari dulu telah, sekarang masih, dan akan datang terus membaca dan menghapal al-Quran dalam bahasa Arab. Oleh sebab itu, mengadopsi metodologi Bibel terhadap al-Quran adalah adopsi dan metodologi yang orang Islam anggapi dan akui sebagai salah kaprah.

    Penulisnya ialah Kandidat Doktor di ISTAC-IIUM, Kuala Lumpur

    Source: Republika Online, Juga paparan di Indonesia Watch dengan seizinnya

    Just say somethin said:
    Oktober 8, 2007 pukul 1:36 pm

    Kenapa Urutan Al-Qur’an Kacau Balau

    Jika kita membaca Al-Qur’an maka kita akan dihadapkan pada sederetan kisah-kisah yang saling tidak menyambung satu dengan yang lainnya. Sama sekali tidak ada satu pola penulisan yang baku, apakah itu kronologis ataupun topikal. Semuanya tercampur baur tanpa adanya kejelasan maupun urutan.

    Richard Bell seorang pakar Islam dari Edinburgh dalam bukunya yang berjudul Bell’s Introduction to The Qur’an mengemukakan sebuah teori menarik tentang keberadaan catatan-catatan ayat-ayat Al-Qur’an dan penyusunannya kemudian yang “ASAL-ASALAN”.

    Sumber :
    Richard Bell : Pengantar Quran
    Direvisi oleh W. Montgomery Watt
    Edinburg University Press, 1970
    Terjemahan Indonesia : INIS, 1998

    Bab VI.3 : Hipotesa Bell Tentang Dokumen Tertulis
    … Teori ini tidak semata-mata bahwa bagian-bagian Quran ditulis pada masa yang cukup awal dalam karir Muhammad, tetapi lebih utama lagi kenyataan bahwa DITENGAH SURAH BISA MUNCUL BACAAN YANG SAMA SEKALI TIDAK BERKAITAN DENGAN KONTEKS harus dijelaskan dengan dugaan bahwa bacaan ini sebelumnya ditulis dibelakang “POTONGAN KERTAS” yang dipakai untuk salah satu bacaan bersebelahan yang memang termasuk dalam surah…….

    Istilah kertas di sini tidak harus berarti kertas seperti yang kita miliki sekarang

    II. PEMBAHASAN MASALAH

    Berikut akan diberikan beberapa contoh kasus.

    A. Contoh Pertama : Q.Surah 5 : 3

    Beberapa ahli menyatakan bahwa ayat QS 5 : 3c adalah ayat terakhir.

    Sumber :
    Sejarah & Pengantar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
    Teungku Muhammad Hasbi ash Shiddieqy,
    Pustaka Rizki Putra, 2000, halaman 39 – 40

    4. Ayat yang Terakhir Turunnya
    Ayat yang terakhir turunnya menurut pendapat jumhur ialah :
    Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu (S. 5 : Al Maidah, 3)

    Jika dilihat keseluruhan ayat QS 5 : 3 dapat dibagi menjadi 4 bagian (a, b, c dan d). Ayat a, b, dan d berisikan tentang halal dan haram yang jelas adalah satu kesatuan. Sementara ayat terakhir yang bertopik kemenangan Islam justru hanya nyelip secara aneh di ayat c.

    Q.Surah 5 : 3
    3a. Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekek, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala
    3b. Dan (diharamkan) juga mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.
    3c. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepadaKu. Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu.
    3d. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    Menyelipnya ayat 3c secara aneh ini jelas hanya dapat diterangkan dengan hipotesa dokumen tertulis sebagai berikut :

    Ayat 3a dan 3b ditulis pada satu lembar kertas sendiri, sementara ayat 3d ditulis pada lembar terpisah. Kemudian ada yang mencatatkan ayat 3c dibalik kertas yang dipakai untuk mencatat 3a dan 3b. Oleh tim penyusun Usman yang mungkin tidak mengetahui hal ini dianggap ayat 3c ini adalah kesatuan dengan 3a, 3b dan 3d sehingga dituliskan berurutan. Padahal jelas-jelas ayat 3c ini memotong kesatuan ayat-ayat tentang halal dan haram tersebut.

    B. Contoh Kedua : Q.Surah 84 : 10 – 25

    Dalam ayat-ayat ini terdapat 2 topik yang dibahas yaitu :

    1. Judul perikop untuk ayat 10 – 15 dalam bahasa Indonesia adalah : ORANG-ORANG DURHAKA MENERIMA CATATAN AMALNYA DARI BELAKANG DAN AKAN DIMASUKKAN KE DALAM NERAKA.

    2. Sementara untuk ayat 16 – 25 judul perikop adalah : MANUSIA MENGALAMI PROSES KEHIDUPAN TINGKAT DEMI TINGKAT

    Namun jika diperhatikan untuk perikop kedua yaitu ayat 16 – 25 ternyata sebetulnya terdiri dari 2 bahasan yaitu :

    * Ayat 16 – 19 berbicara tentang manusia yang mengalami kehidupan bertingkat-tingkat.
    * Ayat 20 – 25 : berbicara tentang nasib orang durhaka yang ternyata adalah kelanjutan dari ayat 10 – 15 sebelumnya.

    Jadi ayat 16 – 19 terkesan terselip begitu saja sehingga memotong keseluruhan ayat-ayat tentang hari kiamat.

    Coba kita susun Q.Surah 84: 10 – 25 menjadi 2 bagian yaitu :

    Bagian pertama

    ORANG-ORANG DURHAKA MENERIMA CATATAN AMALNYA
    DARI BELAKANG DAN AKAN DIMASUKKAN KE DALAM NERAKA

    Q.Surah 84 :

    10 : Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang (thahrihi),
    11 : maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”. (thubooran)
    12 : Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). (saAAeeran)
    13 : Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). (masrooran)
    14 : Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (yahoora)
    15 : (Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya. (baseeran)
    20 : Mengapa mereka tidak mau beriman? (minoona)
    21 : dan apabila Al Quraan dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud, (yasjudoona)
    22 : bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya). (yukaththiboona)
    23 : Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka). (yooAAoona)
    24 : Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih, (aleemin)
    25 : tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya. (mamnoonin)

    Terlihat bagaimana kesamaan rima dari ayat 10 – 15 dan 20 – 25 yaitu n (in, na, an) yang jelas mengindikasikan bahwa ayat-ayat itu semula adalah satu kesatuan yang kemudian terpisah oleh ayat sisipan 16 – 19.

    Bagian kedua

    Adalah ayat 16 – 19 yang berbicara tentang tingkat hidup manusia.
    MANUSIA MENGALAMI PROSES KEHIDUPAN TINGKAT DEMI TINGKAT

    Q.Surah 84

    16 : Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja, (bialshshafaqi)
    17 : dan dengan malam dan apa yang diselubunginya, (wasaqa)
    18 : dan dengan bulan apabila jadi purnama, (ittasaqa)

    Semua rima ayat 16 – 19 berakhiran dengan q yang jelas berbeda dengan ayat 10 – 15 dan 20 – 25 yang berakhiran n.

    Transliterasi diambil dari Divine Islam’s Qur’an Viewer software v2.8

    Menyelipnya ayat 16 – 19 secara aneh ini jelas hanya dapat diterangkan dengan hipotesa dokumen tertulis sebagai berikut :

    Semula Q.Surah 84 : 10 – 15 dan 20 – 25 ditulis dalam 2 lembar kertas terpisah. Kemudian ada yang mencatatkan ayat 16 – 19 dibalik kertas yang digunakan untuk mencatat ayat 10 – 15. Oleh tim penyusun Usman yang mungkin tidak mengetahui hal ini dianggap ayat 16 – 19 adalah kelanjutan ayat 10 – 15 sehingga dituliskan berurutan. Padahal jelas-jelas ayat 16 – 19 memotong kesatuan ayat-ayat tentang nasib orang-orang durhaka tersebut (ayat 10 – 15 dan 20 – 25).

    C. Contoh Ketiga : Q.Surah 75 : 1 – 25

    Dalam ayat-ayat ini terdapat 2 topik yang dibahas yaitu :

    1. Judul perikop untuk ayat 1 – 15 dalam bahasa Indonesia adalah : HARI KIAMAT DAN HURU HARANYA.
    2. Sementara untuk ayat 16 – 25 judul perikop adalah : TERTIB AYAT-AYAT DAN SURAT-SURAT DALAM AL QUR’AN MENURUT KETENTUAN ALLAH.

    Namun jika diperhatikan untuk perikop kedua yaitu ayat 16 – 25 ternyata sebetulnya terdiri dari 2 bahasan yaitu :

    * Ayat 16 – 19 berbicara tentang tertib ayat-ayat Qur’an
    * Ayat 20 – 25 : berbicara tentang hari kiamat yang ternyata adalah kelanjutan dari ayat 1 – 15 sebelumnya

    Jadi ayat 16 – 19 terkesan terselip begitu saja sehingga memotong keseluruhan ayat-ayat tentang hari kiamat.

    Coba kita susun Q.Surah 75: 1 – 25 menjadi 2 bagian yaitu :

    Bagian pertama
    Adalah : ayat 12- 15 dilanjutkan 20 – 25 yang berbicara tentang hari kiamat.

    Q.Surah 75:

    1. Aku bersumpah demi hari kiamat,
    2 dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri) [1531].
    3. Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?
    4. Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.
    5. Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus.
    6. Ia berkata: “Bilakah hari kiamat itu?”
    7. Maka apabila mata terbelalak (ketakutan),
    8. dan apabila bulan telah hilang cahayanya,
    9. dan matahari dan bulan dikumpulkan,
    10. pada hari itu manusia berkata: “Ke mana tempat berlari?”
    11. sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung!
    12. Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali.
    13. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.
    14. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri [1532],
    15. meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.
    20. Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia,
    21. dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.
    22. Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri.
    23. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.
    24. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram,
    25. mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat.

    Terlihat bagaimana penggabungan diatas menghasilkan satu konteks yang lengkap yaitu tentang HARI KIAMAT.

    Bagian kedua

    Adalah ayat 16 – 19 yang berbicara tentang tertib ayat-ayat Qur’an.
    Q.Surah 75

    16. Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya [1533].
    17. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.
    18. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.
    19. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.

    Kesalahan ini diperjelas lagi dengan mengamati rima dari keseluruhan ayat 1 – 25 (sekalipun tidak sejelas contoh kedua diatas) :

    1. Di ayat 1 – 15 terdiri dari : 4 akhiran ti / tun, 4 berakhiran hu dan 7 berakhiran ru / ra. Diayat 20 – 25 seluruhnya berakhiran ta / tun. Jadi mayoritas berakhiran t (10 kali) dan r (7 kali).
    2. Sementara 16 – 19 seluruhnya bearakhiran hu / hi.

    Dalam aksara Arab, huruf dasar t dan r hampir sama yang jelas mengindikasikan ayat 1 – 15 dan 20 – 25 semula adalah satu kesatuan kemudian tersisipkan dengan ayat 16 – 19 yang jelas tidak ada kaitan konteks.

    Menyelipnya ayat 16 – 19 secara aneh ini jelas hanya dapat diterangkan dengan hipotesa dokumen tertulis sebagai berikut :

    Semula QS 75 : 1 – 15 dan QS 75 : 20 – 25 ditulis dalam 2 lembar kertas terpisah. Kemudian ada yang mencatatkan ayat 16 – 19 dibalik kertas yang digunakan untuk mencatat ayat 1 – 15. Oleh tim penyusun Usman yang mungkin tidak mengetahui hal ini dianggap ayat 16 – 19 adalah kelanjutan ayat 1 – 15 sehingga dituliskan berurutan. Padahal jelas-jelas ayat 16 – 19 memotong kesatuan ayat-ayat tentang hari kiamat tersebut (ayat 1 – 115 dan 20 – 25).

    Sangat ironis karena diayat yang menjelaskan tentang tertib Al-Qur’an justru menjadi bukti tidak tertibnya ayat-ayat Al-Qur’an.

    III. SANGGAHAN

    Muslim mungkin akan berargumentasi bahwa penurunan ayat-ayat al-Qur’an adalah sepotong-sepotong disesuaikan dengan kejadian yang dihadapi oleh Muhammad . Namun inipun tidak menjelaskan bagaimana bisa ayat yang sudah lengkap kemudian disisip secara acak dengan ayat-ayat lain yang tidak ada hubungan konteksnya.

    Kontradiksi berikutnya adalah tentang URUTAN SURAH-SURAH AL-QUR’AN

    Pendapat pertama :
    Al-Qur’an sudah disusun menurut ketentuan nabi Muhammad

    Dikutip dari :
    Al Itqan I, halaman 99
    Al Burhan I, halaman 237

    Berdasar sebuah hadis dengan isnad dari Bukhari dan Muslim yang menyebutkan Zaid bin Tsabit berkata, “Di kediaman rasulullah kami dahulu menyusun ayat-ayat Al-Qur’an yang tercatat pada riqa ..”

    Pengertian menyusun ditafsirkan menyusun ayat-ayat dan surah-surah menurut perintah nabi Muhammad.

    Dikutip dari :
    Sunan, Tirmidzi, kitab Al-Tafsir, bab sura 9

    Diriwayatkan oleh Ibn Abbas dari Usman ibn Affan bahwa apabila diturunkan kepada nabi suatu wahyu, ia memanggil sekertarisnya untuk menuliskannya, kemudian ia bersabda “Letakkanlah ayat ini dalam surat yang menyebutkan begini atau begitu”

    Namun uniknya tidak terdapat banyak riwayat tentang nabi menyusun urutan-urutan ayat dan surah-surah Qur’an.

    Pendapat dari Quraish Shihab dalam kata pengantar untuk buku :
    Rekonstruksi Sejarah al Qur’an,
    Taufik Adnan Amal
    FKBA, halaman xvii

    “Namun hampir tidak bisa ditemukan berbagai riwayat yang mengatakan bahwa ayat sekian ditempatkan setelah ayat ini dan sebagainya. Sekiranya ada, maka al Qur’an akan membutuhkan sekian ribu riwayat nabi atau sahabat tentang susunan al Qur’an, mengingat ayat-ayat tersebut diturunkan secara terpisah selama 23 tahun. Karya-karya sedetail Al Burhan dan al Itqan juga tidak menukil riwayat-riwayat tersebut”.

    Pendapat kedua :
    Al-Qur’an disusun berdasarkan kesepakatan para sahabat nabi

    Dikutip dari :
    Al Burhan I halaman 262 karya Zarkasyi :
    Pendapat didasarkan pada hadis dari Imam Malik yang menyatakan :
    “Bahwa urutan surah-surah al Qur’an disusun atas dasar ijtihad mereka (para sahabat nabi) sendiri”

    Urutan surah bukan merupakan hal yang diwajibkan Allah, tapi sesuatu yang berasal dari ijtihad dan kemauan para sahabat sendiri. Karena itu setiap mushaf mempunyai urutan sendiri

    Pendapat ketiga :
    Karena ada 2 pendapat yang bertentangan, maka harus ada pandangan yang berada ditengah-tengah, yaitu urutan Qur’an sebagian berasal dari nabi sebagian berasal dari sahabat-sahabat nabi.

    Dikutip dari :
    Membahas Ilmu-Ilmi Qur’an
    DR Subhi as Shalih
    Pustaka Firdaus, halaman 82
    (catatan : sekalipun Subhi as Shalih tidak sependapat dengan pandangan ini) :
    Al Qadhi Abu Muhammad bin Athiyyah mengatakan, “Semasa hidup rasulullah banyak surah telah diketahui susunan dan urutannya ….. sehingga susunan berdasar kehendak dan petunjuk rasulullah jauh lebih besar, dan yang berdasarkan ijtihad amat sedikit.

    Jadi hampir tidak ada kejelasan sama sekali tentang bagaimana Qur’an disusun.

    Berikut ini diberikan perbedaan susunan 10 sura awal mushaf-mushaf sebelum Usman dan perbandingannya dengan edisi Kairo 1923/24.

    Edisi Kairo Ubay Mas’ud Ibn Abbas Ali b. Abi Talib

    1. Al Fatihah Al Fatihah Al Baqara Al Alaq Al Baqara
    2. Al Baqarah Al Baqarah An Nisa Al Qalam Yusuf
    3. Ali Imran An Nisa Ali Imran Adh Dhuha Al Ankabut
    4. An Nisa Ali Imran Al Araf Al Muzammil Al Rum
    5. Al Maidah Al Anam Al Anam Al Mudatasir Luqman
    6. Al Anam Al Araf Al Maidah Al Fatihah Fush shilat
    7. Al Araf Al Maidah Yunus Al Lahab Adz Dzariyat
    8. Al Anfal Yunus At Tawba At Taqwir Al Insaan
    9. At Tawba Al Anfal Al Nahl Al Ala Al Sajdah
    10. Yunus At Tawba Hud Al Lail Al Naziat

    Sumber :
    Ubay bin Kaab dari Ibn Al Nadim – Fihrist, halaman 61
    Ibn Mas’ud dari Ibn Al Nadim – Fihrist, halaman 57
    Ibn Abbas dari Az Sanjani – Tarikh, halaman 101 – 103
    Ali dari Az Sanjani – Tarikh, halaman 95f

    Terlihat tidak adanya satu keseragaman susunan surah-surah Al-Qur’an pada mushaf-mushaf sebelum Usman. Jadi tampaknya susunah surah itu ditentukan sendiri oleh para penulis mushaf, ada yang mengacu pada panjang – pendek (Ubay dan Mas’ud) ada yang mengacu pada kronologis (Ibn Abbas dan Ali)

    IV. KESIMPULAN

    Dari uraian diatas dapat dikatakan hipotesa Richard Bell sangat masuk diakal.

    Juga dapat dikatakan dengan cukup kepastian adalah :

    1. Penyusunan Al-Qur’an tidak lebih dari sekedar pembundelan catatan-catatan yang dikumpulkan dari berbagai pihak.

    2. Tim penyusun Al-Qur’an tidaklah mengetahui secara pasti kronologis penurunan ayat dan taraf kelengkapannya sehingga ayat yang sudah lengkap dipotong begitu saja ditengah-tengah tanpa adanya kesinambungan cerita.

    3. Klaim Al-Qur’an sudah dihafal luar kepala oleh ratusan/ribuan sahabat nabi tidak lebih hanya ungkapan hiperbolis saja. Jika untuk mengingat urutan saja tidak bisa bagaimana bisa mengingat seluruh Al-Qur’an???

    Just say somethin said:
    Oktober 8, 2007 pukul 1:38 pm

    Apakah Al Qur’an itu Terpelihara?

    Al Qur’an membuat klaim ini:

    “Sesungguhnya, kamilah yang menurunkan Peringatan, dan sesungguhnya, kamilah yang menjaganya.” Q15:9

    Menurut para ahli tafsir Islam seperti Ibn Kathir, Peringatan ini adalah Al Qur’an karena hanya beberapa ayat sebelumnya dalam Surah yang sama kami membaca:

    “Mereka berkata, ‘Kamu, yang Peringatan diturunkan, kamu sesungguhnya telah dirasuk’.” Q15:6

    Umat Islam berkata bahwa, “Kamu, yang Peringatan diturunkan,” mengacu pada Muhammad dan karena itu Peringatan yang disebut di sini pasti adalah Al Qur’an. Umat Islam menyimpulkan bahwa ini adalah janji Allah bahwa Al Qur’an tidak dapat dicemarkan dan “dijaga secara akurat hingga saat kini”.

    Sebagian apologis Kristen menyatakan bahwa Peringatan ini mengacu pada firman Allah, termasuk yang diwahyukan dalam Alkitab. Umat Islam biasanya menolak klaim ini dan mengatakan bahwa Allah hanya menjaga Al Qur’an. Dengan mempertimbangkan segala yang dikatakan Al Qur’an tentang Kitab Suci orang Yahudi dan Kristen, kita dapat berargumen kuat bahwa Al Qur’an mengasumsi (menganggapi) bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen sungguh memiliki wahyu yang asli dan tidak tercemar (lihat artikel ini). Namun, karena umat Islam sering kali tidak mahu menerima argumen ini, tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa posisi mereka menyebabkan serangkaian masalah logika yang serius. Karena itu, demi argumentasi saya akan mengikuti klaim umat Islam ini, dan menelaah apakah kesimpulan dari penafsiran ini jikalau dikaji dengan keyakinan-keyakinan Islam yang lain.

    Di ayat-ayat lain pula, Al Qur’an membuat klaim ini tidak dapat dicela:

    Yang tidak datang kepadanya (Al Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Q41:42

    Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. Q4:82

    Pada saat yang sama, umat Islam percaya bahwa ada ayat-ayat di dalam Al Qur’an yang mengatakan bahwa Wahyu-Wahyu yang lebih awal kononnya sudah tercemar:

    “Hai rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: “Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi, (Orang-Orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong, – dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu. Mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan, ‘Jika diberikan ini (yang sudah diubah-ubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah; dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah!’ Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar,” Q5:41;

    lihat pula Q3:78, Q2:79, Q4:46 and Q5:13.

    Akan tetapi, Al Qur’an memerintahkan umat Islam untuk percaya kepada Wahyu-Wahyu yang lebih awal:

    Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu (Muhammad), dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Q2:4

    Rasul (Muhammad) telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan) :

    “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa) : “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”. Q2:285

    Katakanlah : “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’qub, dan anak-anaknya dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri”. Q3:84

    Wahyu-Wahyu yang lebih awal termasuk antara lain:

    “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerang)” … Q5:44

    “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.” Q21:105

    “Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerang), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.” Q5:46

    Berikut ini adalah ringkasan dari klaim-klaim Al-Qur’an yang disajikan sejauh ini:

    Al Qur’an terpelihara.
    Wahyu Allah sebelum Al Qur’an termasuk Kitab Taurat, Zabur, dan Injil.
    Kitab-Kitab ini merupakan bagian yang besar dari Alkitab.
    Al Qur’an, Kitab Taurat, Zabur, dan Injil semuanya adalah Firman Allah.
    Firman Allah tidak pernah berubah.
    Wahyu-Wahyu sebelum Al Qur’an ‘sudah tercemar’.
    Walaupun umat Islam percaya bahwa Kitab-Kitab sebelumnya ini adalah Wahyu asli dari Allah, namun mereka harus hanya mempercayai Al Qur’an sebagai wahyu yang terakhir dan satu-satunya yang terpelihara.
    Kita sekarang akan menangani logika ini:

    Al Qur’an, Kitab Taurat, Zabur, dan Injil semuanya adalah Firman Allah.
    Kitab Taurat, Zabur, dan Injil yang sekarang sudah ‘tercemar’.
    Firman Allah yang terakhir, Al Qur’an, terpelihara.
    Kesimpulan pertama: Sebagian Firman Allah tercemar.
    Kesimpulan kedua: Sebagian Firman Allah terpelihara.

    Berdasarkan generalisasi di atas kita dapat membuat argumen-argumen di bawah ini sebagai kesimpulan:

    Dasar pikiran utama: Sebagian Firman Allah tercemar.
    Dasar pikiran kedua: Al Qur’an adalah Firman Allah.
    Kesimpulan: Al Qur’an mungkin tercemar.

    Atau kita dapat melakukannya dengan cara lain:

    Dasar pikiran utama: Sebagian Firman Allah terpelihara.
    Dasar pikiran kedua: Kitab Taurat, Zabur, dan Injil adalah Firman Allah.
    Kesimpulan: Kitab Taurat, Zabur, dan Injil mungkin terpelihara.

    Masalah Utama

    Karena Allah memperkenankan Wahyu-Wahyu-Nya yang lebih awal untuk dicemarkan oleh manusia yang lemah, maka disimpulkan salah satu asumsi di bawah ini tentang Allah:

    Allah adalah Tuhan yang lemah; Ia tidak dapat melindungi Wahyu-Wahyu-Nya yang lebih awal. Allah makin lama menjadi makin berkuasa, karena konon Ia sekarang mampu melindungi wahyu-Nya yang terakhir, Al Qur’an.

    Allah tidak peduli bahwa orang-orang disesatkan oleh wahyu-wahyu palsu. Namun Ia tetap akan menghukum orang-orang dengan api neraka karena mereka mengikuti Wahyu yang tercemar sekalipun mereka mungkin tidak menyadari bahwa Allah memperkenankannya untuk dicemarkan. Itu berarti Allah tidak adil.
    Berdasarkan kesimpulan di atas, bagaimana kita dapat percaya bahwa Al Qur’an terpelihara jika tiga Wahyu lainnya tercemar? Bagaimana seseorang dapat percaya bahwa Allah tidak gagal melindungi wahyu-Nya yang konon terakhir, Al Qur’an, padahal Ia terlalu lemah untuk mencegah pencemaran Wahyu-Wahyu-Nya yang lebih awal?

    Mungkin Allah perlu mengirim wahyu yang kelima? Mungkin Ia sudah menurunkan buku kelima ini, dan ini adalah wahyu yang diberikan kepada Baha’ullah, pendiri kepercayaan Baha’i?

    Lebih penting lagi, bagaimana umat Islam Islam merekonsiliasi posisi mereka dengan klaim Allah di dalam Al Qur’an bahwa “tidak ada perubahan firman Allah”?

    Umat Islam, anda harus membuat keputusan dan memilih salah satu alternatif ini:

    Al Qur’an terpelihara dan Wahyu-Wahyu yang lebih awal adalah tercemar. Dalam kasus ini, Allah adalah lemah atau tidak adil. Itu satu-satunya penjelasan untuk pemeliharan Al Qur’an dan pencemaran Wahyu-Wahyu-Nya yang lebih awal.

    Al Qur’an tercemar seperti Wahyu-Wahyu lain. Maka anda sebaiknya tidak membaca Al Qur’an karena anda tidak membaca Wahyu-Wahyu lain yang tercemar, atau mungkin anda sebaiknya membaca Wahyu-Wahyu lain yang tercemar, sama seperti anda juga bertekad membaca Al Qur’an yang tercemar.

    Al Qur’an terpelihara, dan Wahyu-Wahyu yang lebih awal juga terpelihara. Itu berarti anda sebaiknya membaca sendiri Wahyu-Wahyu otentik ini (AlKitab/Bibel/Kitab Suci Injil).

    Al Qur’an tercemar namun Wahyu-Wahyu yang lebih awal adalah terpelihara. Jelas, anda sebaiknya meninggalkan Al Qur’an dan membaca AlKitab/Kitab Suci Injil.
    Tunggu sebentar, saya belum selesai.

    Kalau anda memilih jawaban nomor 3, maka anda akan menghadapi masalah lain. Al Qur’an juga menkontradiksi Wahyu-Wahyu yang lebih awal ini dalam banyak hal penting. Itu berarti bahwa Al Qur’an adalah wahyu palsu yang tidak mungkin berasal dari Allah karena Allah tidak membuat kerancuan. Ia tidak mungkin menurunkan sebuah wahyu yang menkontradiksi atau bercanggahan dengan Wahyu-Wahyu-Nya yang lebih awal!

    Jika anda tidak menyukai alternatif-alternatif ini, silahkan memberitahu saya:

    Apakah yang anda pikir salah dengan pengamatan dan kesimpulan saya di atas?

    Bila anda tidak dapat menerima dasar-dasar pikiran saya dan karena itu menolak kesimpulan saya, maka:

    BUKTIKANLAH KEPADA KAMI BAHWA AL QUR’AN MASIH TERPELIHARA.

    Anda harus melakukannya secara rasional tanpa mengutip daripada Al Qur’an karena itu hanyalah mengulangi klaim, dan bukan merupakan bukti yang kukuh, atau mencoba membuktikan bahwa Wahyu-Wahyu yang lebih awal sudah tercemar karena itu sama sekali tidak membuktikan bahwa Al Qur’an tidak tercemar, atau menyebut mujizat-mujizat ‘saintifik’ (yang saya anggap palsu) di Al Qur’an. Saya ingin anda menyelesaikan masalah filsafat yang digarisbesarkan di atas.

    Tunjukkanlah kepada saya secara logis dan rasional bagaimana klaim umat Islam tentang Al Qur’an yang terpelihara dengan sempurna dan tuduhan mengenai pencemaran Wahyu-Wahyu Allah yang lebih awal bukan merupakan suatu penghinaan kepada keadilan Allah yang sempurna dan kuasa-Nya yang agung

    Just say somethin said:
    Oktober 8, 2007 pukul 1:40 pm

    HADITH – PENGAJARAN NABI MUHAMMAD

    1.Nabi Adam adalah setinggi 87 kaki (60 CUBITS) ! – Hadith Sahih Bukhari IV,no.543. Jika begitu, berapa tinggikah Siti Hawa, isterinya itu? Jika mereka sebenarnya setinggi itu, kenapa cucu-cicit mereka yaitu manusia hari ini TIDAK SETINGGI BEGITU!? Adakah ini mungkin dari segi perubatan mahupun biologis bagi mereka menjadi setinggi itu ?

    2. Nabi Muhammad adalah pembenci anjing. Dalam Hadith tercatat pengajaran Muhammad bahawa Malaikat Tuhan tidak akan masuki ke dalam sebuah rumah jika ada anjing di sana! Juga dia ajar bahawa anjing berwarna hitam itu adalah iblis! Jadi, dia telah mengarahkan supaya anjing-anjing dibunuh, serta ditegah daripada menjual anjing.
    Hadith Sahih Bukhari IV no.539,540; Hadith Sahih Muslim I no.551, 552;HSM II no.3803, 3829

    3. Syaitan dan Iblis menginap di dalam lubang hidung manusia di waktu malam. Ia boleh disembur keluar dengan menghembus air kedalam hidung dan kemudian disembur keluar melalui lubang hidung yang sama.
    Hadith Sahih Bukhari IV no.516, HS Muslim I no.462

    Soalan-soalannya: Betapa besarkah saiznya Iblis itu ?
    Adakah ia menginapi lubang-lubang hidung setiap orang??
    Adakah si Iblis itu wujud di merata tempat pada waktu yang sama ??
    Sesudah dikeluarkan dari hidung-hidung manusia – apakah rupa dan bentuk si Iblis itu?

    4. Muhammad melarang permainan Catur! Larangan pelik ini langsung tidak masuk akal sekali bagi sesiapa pun!
    Hadis Sahih Muslim IV no.5612

    5. Manusia telah diubah ke dalam bentuk Tikus, Babi/khinzir dan juga Monyet-monyet/Kera ! Hadis Sahih Bukhari IV,No.524,627, HS Muslim IV,no.7135.
    Bapa Nabi Ibrahim telah ditukar menjadi seekor haiwan, menurut Hadis Sahih Bukhari IV no.569.

    6. Umat Islam mempunyai SATU USUS, sementara mereka yang bukan Islam mempunyai TUJUH usus!
    Hadith Sahih Muslim III,no.5113-5115

    (Jadi nampaknya orang-orang yang masuk Islam nanti akan mencicirkan usus-usus mereka satu-persatu, kan!?!)

    8. Semasa bersolat, jika sesiapa mengangkat kepalanya menghala ke atas kearah Syurga, matanya akan dicungkil keluar!
    Hadith Sahih Muslim III, no.862-863

    8. Sebelah sayap seekor lalat, beracun tetapi sayap di sebelah lainnya pula terdapat mujarab untuk mengubatinya!
    Hadith Sahih Bukhari vol. IV, no. 537

    (Lalat! Oh lalat…sejak bilakah engkau miliki nilai mujarab? Pakar perubatan sebulat suara mengutuk engkau sebagai penyebar bermacam-macam penyakit dan kekotoran..!)

    9. Kita semua seharusnya meminum air kencing Unta kerana itu adalah satu ubat yang mujarab…!
    Hadith Sahih Bukhari I, no. 234.

    (Kalau begitu ayoh cepat beramai-ramai bikin bisnes mengimpot Unta mendapatkan air kencingnya untuk dijadikan ubat-ubatan…)

    10. Penyakit Demam berpunca dari api neraka, dan ia boleh disejukkan dengan air sejuk! Hadith Sahih Bukhari IV, no. 483, 486.

    Kita semua boleh melihat dari contoh-contoh Hadis-hadis yang ‘sah’ diatas, bagaimana peliknya dan ganjilnya segala-gala seruan dan saranan-saranan semua hadis ini. Sebenarnya ada banyak lagi ‘contoh-contoh’ serta ajaran-ajaran yang janggal dan tidak masuk akal seperti di atas yang dipelopori hadis. Sudah mencukupilah contoh sepuluh kerat hadis di atas sebagai satu selingan yang amat melucukan bagi kita semua.

    Sudah amat jelaslah hakikatnya bahawa koleksi Hadith-hadith itu, mahupun yang ‘Daif’ atau sebaliknya, mustahil sebagai sesuatu yang diilhamkan Tuhan. Masakan Tuhan sendiri atau pun hambaNya yang terbimbing tidak sedar yang hadith-hadith seperti di atas – dan juga koleksi hadith yang sama seperti mereka, adalah karut belaka!

    Tidak hairanlah ada para Muslimin sendiri berasa sangat malu di atas hadis-hadis pelik yang anih dan tidak masuk akal ini, dan kini mereka menyarankan untuk MENOLAK penggunaan Hadis sama sekali. Malangnya, ini akan membawa kepada masalah yang amat besar kepada umat Islam hari ini, seperti yang terdapat di minda pembaca Akhbar mingguan di atas. Para Muslim sudah pun tuduh-menuduh dakwaan ‘Munafik’ dan ‘Kafir!’ sesama sendiri keatas mereka yang tidak mahu menerima ajaran Hadis itu! Ini pun lagi satu bukti bahawa dunia Islam berpecah-belah dan tidak bersefahaman mengenai akidah mereka
    AN SUNNAH NABI MUHAMMAD

    Just say somethin said:
    Oktober 8, 2007 pukul 1:42 pm

    Alkitab – Dibenarkan Oleh Islam?
    Di mana pun saya pergi dalam dunia Islam, saya pasti berjumpa dengan orang Islam yang mahu menempiskan kesaksian saya dengan satu senarai kritikan yang mempersoalkan kedudukan Alkitab(Bible). Satu daripada topik yang sering diajukan ialah kesahihan Alkitab. Ini biasanya usul pertama yang dilemparkan kepada saya. Mereka memberi amaran kepada orang Islam lain supaya jangan membaca Alkitab, kerana ia akan sesatkan mereka. Apabila saya menanyakan mengapa, jawaban yang diberi ialah bahawa buku yang saya miliki bukanlah kitab-kitab yang Allah berikan kepada Nabi Musa, Daud dan Isa.

    Saya tertarik kepada hakikat bahawa tidak ada tempat dalam Al-Quran yang sebenarnya mengatakan Alkitab telah diubah. Pada tahun-tahun awal agama Islam, apabila Alkitab belum ada dalam bahasa Arab, orang Islam tidak pernah membuat tuduhan ini. Tetapi apabila Alkitab bahasa Arab dimiliki dan diselidiki oleh orang Islam, mereka mendapati banyak perbezaan antara kisah-kisah yang diceritakan dalam Alkitab dan Al-Quran. Pada ketika itulah, orang Islam yang pasti bahawa Al-Quranlah buku yang benar, menenunkan tuduhan bahawa orang Yahudi dan Kristian telah mengubah Alkitab.

    Akan tetapi tuduhan ini tidak selaras dengan kesaksian Nabi Muhammad dan Al-Quran mengenai Alkitab. Marilah kita perhatikan beberapa penyataan Al-Quran tentang isu ini (Haruslah saya jelaskan di sini bahawa penggunaan Al-Quran di sini bukan bermaksud penerimaannya sebagai teks yang berwibawa bagi orang Kristian. Sebaliknya, kerana orang Islam menganggap Al-Quran sebagai buku berwibawa dalam hidup mereka, maka adalah kepercayaan saya bahawa mereka mestilah akur kepada kebenaran kesaksiannya tentang kesahihan Alkitab):

    Apakah sebenarnya kenyataan-kenyataan dalam Al-Quran mengenai Firman Allah yang telah diberikan :

    Kata-kata Allah tidak boleh diubah:

    Tidak adalah yang menukar kalimat Allah. Sesungguhnya telah sampai kepadamu berita rasul-rasul itu. (6.Al-Anaam 34)

    Kata-kata yang Nabi Muhammad sampaikan sebagai ilham ilahi sebenarnya bertujuan mengesahkan dan melindungi kitab-kitab sebelumnya:

    Quran ini bukanlah diada-adakan oleh yang lain daripada Allah, bahkan ia membenarkan (kitab) yang dihadapannya dan menerangkan kitab itu. (10.Yunus 37)
    Dan sebelum Quran, ada kitab Musa (Taurat), jadi ikutan dan rahmat. (Quran) ini kitab yang membenarkan (kitab-kitab dahulu itu) dalam bahasa Arab. (46.Al-Ahqaaf 12)

    Nabi Muhammad digalakkan untuk bertanya dengan orang Yahudi dan Kristian:

    Jika engkau syak wasangka, tentang apa yang Kami turunkan kepada engkau (ya Muhammad) hendaklah engkau tanyakan kepada orang-orang yang membaca Kitab sebelum engkau. (10.Yunus 94)

    Orang Kristian disuruh mengambil pendirian mereka dari Alkitab:
    Hai ahli Kitab, kamu bukan atas suatu (kebenaran), kecuali jika kamu turut Taurat dan Injil dan apa-apa yang diturunan kepadamu daripada Tuhanmu. (5.Al-Maa-Idah 68)

    Nabi Muhammad diperintahkan untuk mempercayai kitab-kitab yang diberi kepada Musa, Isa dan nabi-nabi yang lain:
    Katakanlah: Kami beriman kepada Allah dan apa-apa yang diturunkan kepada kami dan apa-apa yang diturunkan kepada Ibrahim, ismail, Ishaq, Yaqub dan anak-anaknya dan apa-apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan nabi-nabi dari Tuhan mereka. (3.Ali ‘Imran 84)
    Koleksi ayat-ayat Al-Quran ini memberi satu pengesahan yang kuat kepada semua kitab-kitab sebelumnya yang terkandung dalam Perjanjian Lama dan Baru (Alkitab) dan nabi Muhammad dihantar untuk mengesahkan kesahihan kitab-kitab ini. Tetapi beserta ayat-ayat ini, kita akan menemui ayat-ayat lain di mana nabi Muhammad meletakkan kata-katanya selaras dan sama nilai dengan teks-teks yang diilhamkan Allah dalam Alkitab.

    Walaupun terdapat rujukan yang banyak kepada kesahihan dan keaslian Alkitab sepertimana ianya ada pada zaman nabi Muhammad, saya masih dapati orang Islam cuba mengelakkan hal ini dengan berkata bahawa orang Kristian pada satu ketika dalam sejarah telah mengubah teks Alkitab. Tuduhan tidak berasas ini adalah satu-satunya cara mereka menjelaskan mengapa ada beratus-ratus perbezaan antara Alkitab dan Al-Quran. Mereka enggan menghadapi kemungkinan bahawa nabi Muhammad telah menyatakan sesuatu yang salah.

    Saya sedar bahawa kesabaran perlu untuk menjelaskan kepada orang Islam bahawa Alkitab orang Kristian boleh dipercayai, diilhamkan Allah, dan terjemahan asli koleksi teks yang awal boleh didapati dengan banyak – kebanyakkan daripadanya sebelum kedatangan nabi Muhammad.

    Alkitab yang dimiliki orang Kristian hari ini masih asli dan serupa dengan semua Alkitab yang ada pada kurun-kurun yang lepas (termasuk yang disalin sebelum kedatangan Islam). Berikut adalah beberapa sebab mengapa orang Kristian mempercayai kenyataan yang baru sahaja saya buat:

    Ada pada hari ini sekurang-kurangnya 30,000 naskah yang ditulis sebelum kedatangan Islam yang sama dengan dan mengesahkan Alkitab milik orang Kristian hari ini.

    Skrol-skrol Laut Mati (the Dead Sea Scrolls), banyak daripadanya menjangkau balik kepada kurun pertama sebelum Isa , adalah pada hakikatnya sama dengan teks bahasa Yahudi yang orang Kristian miliki ada hari ini.

    Tidak ada bukti dari mana-mana masa dalam sejarah Kristian di mana teks Alkitab berbeza dengan apa yang ada hari ini atau pada zaman Nabi Muhammad.

    Banyak daripada teks-teks Alkitab sebelum-Islam ini (dalam bahasa asalnya) ada dipamerkan di muzium-muzium di seluruh dunia.

    Kebanyakkan perbezaan yang wujud antara berbagai teks-teks yang ada secara kasar disebabkan oleh kesilapan semasa penyalinan, dan tidak ada satu akidah Kristian yang telah berubah oleh kerana kesilapan ini.

    Perbezaan dalam banyak terjemahan Alkitab yang ada hanya membayangkan prinsip-prinsip terjemahan yang digunakan oleh penterjemah-penterjemah yang berlainan. Tidak ada kes, di mana pemilihan perkataan yang tertentu semasa penterjemahan mengubah atau mempengaruhi satu-satu akidah Kristian.

    Jika orang Islam tetap berkeras dalam tuduhan mereka bahawa orang Kristian dan Yahudi telah mencemarkan teks Alkitab, baik Perjanjian Lama dan Baru; Taurat mahupun Injil, maka saya percaya adalah tanggungjawab bagi mereka yang bersyak wasangka untuk:

    menampilkan naskah Alkitab yang tulen dan asal
    membuktikan siapa yang telah melakukan perubahan-perubahan yang kononnya telah dilakukan
    menyatakan bila pengubahan itu berlaku dan
    menunjukkan dengan tepat apa yang telah diubah
    Adalah baik untuk diingat bahawa serangan asal Setan ke atas Adam dan Hawa berpusat pada Firman Allah dan bertujuan membuat mereka sangsi akan kebenaran penyataan Allah itu. Isa , apabila menjawab godaan-godaan Setan, menggunakan Firman Allah untuk mengalahkannya. Kita juga mesti mengelakkan diri daripada tidak menggunakan Firman Allah kerana sangsi akan kesahihan dan kuasanya yang luarbiasa. Ingat, “semua yang tertulis di Alkitab diilhami oleh Allah dan berguna untuk mengajar apa yang benar, untuk menegur dan membetulkan apa yang salah, dan untuk mengajar orang supaya hidup menurut kehendak Allah.” (2 Timotius 3:16)

    Mita said:
    Januari 13, 2008 pukul 9:10 am

    Untuk anda yang menulis ‘just say something’. Saya hanya ingin menanyakan apakah anda puas dengan ajaran anda saat ini? Apakah seluruh kehidupan anda saat ini terakomodasi dengan ajaran2 agama anda? Cobalah gali agama anda lebih dalam. Kata-kata anda terlihat seperti belum melakukannya.. Mohon cobalah cari kebenaran dulu dalam agama anda, jangan setengah2 memberikan penjelasan..
    Saya hanya berkomentar, saya sendiri juga masih belajar islam, semakin banyak yang saya tahu, semakin tenang dan semakin kuat rasa keimanan saya.

    Maaf sebelumnya jika menyinggung.. tapi setelah membaca panjang lebar tulisan anda, kenapa saya sekarang jadi lupa sama sekali apa yang anda tulis?? nafsu saya untuk mengomentarinya jadi hilang, karena benar2 lupa, dan yang tersisa hanya rasa kasihan pada anda dan kehidupan anda.

    ^-^

    venus said:
    Januari 21, 2008 pukul 7:41 am

    To Ustad,
    antum kok tdk menyortir isi blog ini? Ini kan wadah diskusi Islam ? Bukan tempat ngomong sampah (say somethin) he..he..
    To say somethin,
    cocok kali kau jadi jubir orang buta hati, mata dan telinga. Tak perlu kenal anda semua tau you siapa, bukan beeegituu?
    wah..wah, kok ?????
    ya Allah ampuni dosa dan khilaf kami dan tunjukan jalan hidayah- Mu kepada hamba yang engkau kehendaki. Amiin..

    Agus Abubakar Arsal said:
    Januari 29, 2008 pukul 7:14 pm

    Luar biasa komentar just say somethin (jss), tp sayangnya sy tdk melihat relevansinya dgn tulisan di blog. Jss nampaknya menggunakan ruang ini & mungkin juga di blog2 lainnya menyampaikan hal2 yang sama yg sebenarnya hanya kutipan atau mungkin jiplakan dr suatu sumber misi agama ttt. Seandainya jss berkenan alangkah eloknya apabila kita bisa mengenal latar belakangnya & jika mungkin berdialog langsung utk membuktikan apakah tulisan tsb adlh hasil kajian pribadi dia.
    Saya percaya kpd Allah Yang MAha KAsih & Maha Adil dia tdk memilah2 hamba2Nya berdasarkan formalitas keberagamaannya tapi DIA melihat isi hati hambaNya. Dia mengawali setiap surat dlm Quran dg menyebut namaNya Yg MAha Kasih (Rahman yaitu kasih yg tanpa pilih kasih dgn memberi sarana, prasarana & kesempatan tanpa membedakan) dan Maha Sayang (yaitu mengasihi dg adil yaitu memberi balasan yg setimpal atas respons hamba2Nya atas nikmat yg telah dikaruniakannya). Saya percaya bhw Tuhan tdk akan secara semena2 memasukkan hambaNya ke neraka krn formalitas agamanya. KeadilanNya tdk perlu diragukan tp pd saat yg sama kita mohon agar kita tdk diperlakukan berdasarkan keadilan-Nya krn jika dmk tdk seorg pun di antara kita yg akan layak masuk surga. Tapi kita mendambakan kasih & ampunan-Nya. Saya percaya sbgmn yg telah diriwayatkan dlm hadits bhw ada 124000 nabi yg sbgn besar tdk disbtkan namanya dlm riwayat2 yg ada. Saya tdk membedakan antara nabi yg satu dg yg lainnya, begitu pula saya percaya kpd semua kitab suci yg diturunkan melalui para nabi. Saya senantiasa memohon kpd Allah agar saya dan semua hamba2Nya (kita semua) dibimbing ke jalan yg lurus, lapang, datar, terang yaitu jln yg paling cepat menghantarkan kita menuju tujuan IA menciptakan kita yaitu beribadah kepada Nya semata dgn tulus ikhlas tanpa menyekutukan-Nya dg siapa pun shg kita jadi manusia manusia merdeka yg tdk diperhamba oleh siapa pun & oleh apa pun dan menjadi hamba yg penuh kasih, adil, prihatin & bertanggungjawab thd sesama sebagaimana jalan orang2 yg telah digembalakan-Nya yaitu jalan para nabi, org2 yg benar (shiddiq), para martyr (syuhada’) dan org2 shaleh (saint, santo) bukan jalan mereka yg dimurkai yaitu yg menyimpang stlh mengetahui kebenaran dan bukan pula jalan mrk yg sesat yg tdk mendpt petunjuk.
    Kpd sdr JSS saya hargai semangat anda, semoga Tuhan membimbing saya & anda. Doa sy menyertai anda. Semoga Allah menyegerakan kehadiran Yesus & Messiah yg akan dtg membawa penjelasan akan kebenaran. Smg kita termasuk di antara org yg mengenalnya dan mengikutinya. Ya Allah tunjukkan kami yg benar itu benar beri kami kekuatan utk mengikutinya dan tunjukkan kpd kami yg salah itu salah karuniai kami kemampuan utk meninggalkannya…Amiin.

    Idris said:
    Juni 29, 2008 pukul 8:34 am

    Salam Kenal….
    Selamat Berpesta di dunia pencerahan….
    selamatkan kita dari……….

    http://www.idrisalabdya.wordpress.com

    ahmads said:
    April 30, 2009 pukul 7:50 am

    info dan perkongsian maklumat : http://www.deeninfo.blogspot.com

    abdullah said:
    Juni 12, 2009 pukul 12:49 am

    wah ini baru seru. kalau kristen ketemu ama Islam … wah pasti rame. ##2@@@@###^^ kayak kucing + anjing = sama-sama buka borok sendiri. ( gelar tikar ,nonton)

    Asier LaOde said:
    Januari 16, 2010 pukul 2:51 am

    sebagai penganut agama islam saya menganngap hal ini positif. persoalannya adakah pengaruh terhadap keimanan kita setelah mebaca hal-hal yang dianggap borok/lemah oleh orang-orang pandai mengkritisi tentang alQuran YM suci ini. saya pribadi makin melihat betapa lemahnya akal manusia ini dalam melihat kebesaran Allah SWT melalui firmanNya.

    HendroBS (@BsHendro) said:
    Oktober 18, 2013 pukul 12:06 pm

    mengkaji keiman dan keyakinan dengan akal secara berlebihan hanya menjadikan kita seperti kaun mu’tazilah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s