‘TRINITAS’ Dalam Pandangan Akal Dan Qur’an

Posted on Updated on

images

Adalah kata ‘pengikutAl-Masih’ dalam kitab-kitab teologi menggambarkan tentang keyakinan Trinitas (Tuhan Bapa, Rahul Kudus, dan Yesus Kristus) dan permasalahan- permasalahan yang mendasar yang bersumber pada akidah mereka.Tidak adanya dalil dari para pengikut Masih atas keyakinan mereka, sementara mereka mengklaim diri mereka telah menyakini monoteisme, dengan pengertian satu dalam kemajemukan. Apakah kesatuan dalam pengertian ini, berhak ada pada zat Tuhan. Sementara independen (kemandirian) terlepas pada zat-Nya dan tidak bertentangan dengan argumentasi akal?

Konsep trinitas bersumber pada ajaran kitab Injil yang diragukan keasliannya, disebabkan bukanlah kitab ‘Samawi’ (bersumber pada wahyu Allah Swt), namun kitab injil tersebut ditulis dan disusun setelah Al-Masih diangkat oleh Allah atau setelah penyalibannya menurut perkiraan orang-orangnasrani. Dan masuknya konsep Trinitas pada agama Nasrani setelah kepergian Al-Masih dan para pengikutnya.

Seorang Yahudi yang bernama Paulus yang mengajarkan ajaran nasrani tersebut, dengan klaim bahwa Al-Masih telah menyatu dalam dirinya, dan ia berkewajiban menjalankan dakwah kepada seluruh masyarakat. Dia juga menyatakan bahwa Isa sebagai tebusan dosa manusia setelah penyalibannya. Adapun syariat, bukanlah suatu kewajiban bagi orang-orang selain Yahudi. Mr. Louis, seorang cendikiawan nasrani menyatakan: “Penjasadan adalah kata darirahasia-rahasia Tuhan, yang akal tidak mampu untuk menalarnya. Namun tidaklah bertentangan dengan argumentasi akal.”[1]

Dan didalamAl-Qur’an Al-Karim telah menerangkan tentang akidah yang diselewengkan tersebut, Allah Swt berfiman:Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al masih itu putera Allah”. Demikianlah itu Ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?[2]

Sanggahan

Ada beberapa sanggahan disini, terhadapkeyakinan trinitas:

 1.Adanya kontradiksi yang jelas, ketika mereka menyakini bahwa setiap satu dari trinitas mempunyaiciri khas tersendiri dari yang lain. Padahal mereka menyakini kemajemukannya adalah suatu yang hakiki. Bagaimanakah sebuah kontradiksi ini dapat diterima akal, atau bersumber dari kebenaran wahyu?

 2.Apa maksud pengertian trinitas berasal dari pengertian Tuhan Yang Satu atau Satu dalam kamajemukan? Hal ini tidaklah sesuai dengan dua pengertian berikut ini:

a.Hendaklah masing-masing dariTrinitas tadi adalah wujud yang independen, yang satu sama lain mempunyai kriteria-kriteria tersendiri , dan yang membedakan dengan yang lain.

b.Hendaklahkeberadaantrinitas terwakili dengan ke-Esaannya, yang menjadikan Tuhan dengan kemajemukannya. Yang sebenarnya adalah zat Allah adalah Tunggal (basit).

3. Menghasilkan bentuk manfaat dalam sebuah penyatuan atau kerjasama antara komponen- komponennya. Keniscayaan Tuhan terhadap apapun bentuk manfaat dan kerjasama.

Sanggahan-sanggahan diatas,adalah bentuk agumentasi yang mendasar, melalui penilaian dalil akal sebagai sumber hukum Islam. Dan sekiranya terjadi sebuah pengaturan alam dengan ketuhanan trinitas dan politeisme, tentunya terjadi multisistem pengaturan disini. Bila masing-masing sistem pengaturan oleh Tuhan-Tuhan tadi berbeda satu sama lain, maka akan menyebabkan kehancuran alam ini. Dalam AlQur’an, Allah Swt befirman:´”Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu Telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.”[3]

Batasan-batasan Ke-Tauhidan Islam

  Menyakini Ke-Esaan Allah Swtmelalui tahapan:

   1.Tauhid dalam zat, terbagi dalam dua bagian:

a.Zat Allah Swt Tunggal (basit); yang tidak memiliki bagian atau komponen (Ahadiyah Al-Zat). Baik komponen dalam bentuk luar maupun komponen yang terindera dalam otak. Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt berfirman:Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa.”(QS Al-Ikhlash ayat 1)

b.Allah Swt yang Satu, yang tidak memiliki keserupaan (Wahidiyyah). Di dalam Al-Qur’an AllahSwt berfirman:Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”(QS Al-Ikhlash ayat 4).

    Tauhid dalam peristilahan filsafat Adalah Tauhid dalam Wujud yang Mesti, tidak ada satu wujudpun yang maujud oleh dirinya sendiri, kecuali Allah Swt.. Wujud yang demikian hanyalah Allah Swt, Yang Maha Tinggi, yang keberadaannya secara substantif merupakan keharusan, dan yang dari-Nya wujud-wujud yang lain maujud.

  2. Tauhid dalam Sifat. Penyatuan antara zat dan sifat. Sifat-sifat yang kita nisbatkan kepada Allah Swt, tak lain adalah Zat-Nya sendiri. Sifat-sifat ini bukanlah hal lain dari Diri-Nya dan ditambahkan kepada-Nya.

   3. Tauhid dalam penciptaan. Artinya, tidak ada pencipta kecuali Allah Swt.

  4.Tauhid dalam manajemen (Rububiyah), yang mengelola alam semesta yang tidak membutuhkan siapapun selain-Nya.

  5.Tauhid dalam penyembahan. Artinya, tak satu pun kecuali Allah Swt, yang patut disembah.

Kesimpulan

Kerancuan konsep Trinitas denganpenjelasan yang cukup jelas melalui dalil akal dan qur’an, terutama pada Ahadiyat dan Wahdaniyat Allah Swt. Ini membuktikan klaim mereka terhadap monoteisme dapatlah dibatalkan.Sementara itu Islam dengan kemurnian ajaran yang dibawa Rasul Saaw dan AhlulBaitnya as telah membuktikan ke-Tauhidan yang hakiki.

By: Abu Aqilah


[1] .Al-Burhan al-sadid fi hakikat al-tastlist al-tauhid hal141.

[2] At-Taubah ayat 30

[3] . Surat Anbiya’ ayat 22.

137 thoughts on “‘TRINITAS’ Dalam Pandangan Akal Dan Qur’an

    azzahra said:
    Mei 31, 2007 pukul 6:51 am

    salam
    tulisan yang bagus.
    silahkan silaturahmi ke kami

    Cahaya Islam responded:
    Mei 31, 2007 pukul 2:09 pm

    salam balik…
    ma kasih.

    islam feminis said:
    Juni 2, 2007 pukul 6:00 pm

    Doktrin: “Imanilah pasti anda akan paham” adalah salah satu cara penyelesaian doktrin trinitas di kalangan kaum Kristiani.

    Cahaya Islam responded:
    Juni 3, 2007 pukul 2:05 am

    Yang menjadi masalah adalah tidak adanya dalil dikalangan mereka sebagai landasan keimanan untuk mengantarkan sebuah pemahaman.

    Luthfis said:
    Juni 9, 2007 pukul 2:03 am

    Kalo semuanya cukup hanya diimani dan dinyatakan sebagai rahasia illahi (kayak kata Paulus) ya udah aja kita bilang Islam benar cukup diimani jangan pake akal, ntar orang budha juga ngomong kayak gitu, hindu, zoroaster, sikh, saman, tao, dll. semua cuman ngomong “ya…gitu aja kok repot udah imani aja, akal kita tuh terbatas”. semunya jadi bener dech, trus kalo udah gitu apa fungsi akal?

    Ingin mengetahui kebenaran? Contohlah Nabi Ibrahim as.!

    musadiqmarhaban said:
    Juni 9, 2007 pukul 5:19 pm

    Ini-lah sanggahan trinitas yang benar…

    Secara tekstual, konsep trinitas memang tidak pernah ada di dalam Injil, bahkan surat-surat Paulus sendiri tidak pernah menyatakan hal itu secara terbuka…

    Ia hanya suatu konsep yang dibangun kemudian, dan bukan orisinill Judaisme…

    Pada dasarnya, konsep Trinitas itu memang lahir dari kekeliruan konsep berpikir, dan bukan dari teks-teks Alkitab; baik PL maupun PB.

    Trinitas harus dia analisa secara rasional dan filosofis.

    Selamat akhina, entry point antum sudah tepat dan tidak terjebak ke dalam polemik teksual, seperti yang terjadi pada perdebatan sebagian ‘kristolog-muslim’ dengan petinggi Kristen; alias kristologi-konvensional (tekstual) versus kristologi-doktrinal (apologi).

    Cahaya Islam responded:
    Juni 9, 2007 pukul 6:54 pm

    Terima kasih buat Luthfis dan saudara Musadigmarhaban atas komentarnya yang oke……… Ini akan membangun kepercayaan kita semua dalam sebuah konsep kebenaran.

    zz said:
    Juni 11, 2007 pukul 4:54 am

    orang kristen juga punya tuhan

    Cahaya Islam responded:
    Juni 11, 2007 pukul 5:14 am

    Tentu. Tuhan yang mana?

    islam feminis said:
    Juni 11, 2007 pukul 2:47 pm

    Yesus dilantik sebagai anak tuhan pada tahun 325 Masehi oleh kaisar Romawi yang kala itu ialah kaisar Konstantin di Nizea. Dan masa pelantikan Yesus sebagai tuhan anak tersebut dikenal dengan konsili (konfrensi) Nizea.
    Yesus ialah manusia yang dipertuhankan oleh manusia. Konsep trinitas telah disinggung dalam al-Qur’an secara gambalng dalam surat al-Maidah ayat 73: “Dan Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah ketiga dari yang tiga (Tuhan bapak,Tuhan anak dan Ruhul-Kudus ); padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain Tuhan Yang Esa”.

    Cahaya Islam responded:
    Juni 12, 2007 pukul 5:28 am

    Terima kasih atas poin penting sejarahnya.

    fertobhades said:
    Juni 13, 2007 pukul 5:42 pm

    hmmmm…. menarik, tapi apakah semua yang berhubungan dengan iman itu bisa dicerna dengan akal ?

    @ islamfeminis :

    konsili nicea bukanlah peneguhan akan ketuhanan yesus, tapi penyelesaian perdebatan yang timbul dikalangan intern kekristenan, yang berujung dengan pernyataan pengakuan keimanan.

    sebelum konsili nicea sudah ada konsili2 antara pemuka agama kristen. konsili nicea hanyalah awal dari penerimaan negara romawi terhadap agama kristen.

    Cahaya Islam responded:
    Juni 14, 2007 pukul 3:53 am

    Yang menyangkut prinsip-prinsip Agama, bisa dijelaskan melalui dalil akal.
    Konfrensi (konsili) di Nizea/ Nicea, dibentuk untuk menyelesaikan perdebatan antara para uskup kota Iskandariah dan seorang pendeta yang bernama Arius (prinsip pemikiran yang dikemukakan Arius mengandung nilai kebenaran, bahwa Isa Al-Masih adalah mahluk Tuhan, dan semua wujud alam penciptaan adalah baru (hadist)). Dengan dihadiri lebih dari 100 orang dari para pemuka Gereja. Hasil dari konfrensi tersebut diputuskan Arius dipihak yang bersalah, disebabkan adanya tekanan dari kekaisaran Romawi. Dua orang uskup yang tidak menyetujui keputusan tersebut, yang berpihak pada Arius. Pada akhirnya kitab-kitab Arius dibakar dan mereka semua digantung berdasarkan keputusan kerajaan Romawi kala itu. Pada perkembangan selanjutnya, pemikiran Paulus yang mendapat dukungan dan Prinsip Ketuhanan (Trinitas) Paulus yang diterima.

    luthfis said:
    Juni 14, 2007 pukul 4:49 am

    yap, kalo ga salah dalam konsili tersebut kedua kelompok (Arius dan Anathasius) diawali dengan perdebatan sengit antara kedua belah pihak. akhirnya karena perdebatan tidak membuahkan hasil, ya udah dech.. ambil tuh pilihan terakhir. Voting!!!

    karena di tempat dilaksankannya konsili, mayoritas menganut athanasius… jadi dech suara terbanyak yang menang.

    Jadi intinya Yesus diangkat jadi Tuhan atas hasil voting.

    luthfis said:
    Juni 14, 2007 pukul 4:55 am

    kenapa dari kedua perdebatan tidak dicapai kata sepakat?

    ya… jelaslah orang yang menggagas konsili tersebut (Konstantin) mengadakannya justru untuk memastikan ajaran mana yang benar, dia udah pusing?>##!! kok dalam satu agama ada dua keyakinan yang jauh beda, Soal Tuhan lagi!

    Niat konstantin baik sih… pengen mencari kebenaran, tapi ya orang dia orang Kafir mana ngerti dia agama kristen. ya jadinya gitu dech…

    Cahaya Islam responded:
    Juni 14, 2007 pukul 4:59 am

    Itulah perdebatan yang tidak menggunakan tolak ukur (sumber hukum) yang jelas , jadi hasilnya tambah sembrawut.

    Biarawati said:
    Juni 26, 2007 pukul 4:20 am

    Assalamualaikum wr wb.
    Konsep Trinitas
    Pertama :
    Kalaulah tidak salah dalam Al-Qur’an sendiri diceritakan bahwa Nabi Isa as. dieperkuat dengan Ruh Al-quds (=Ruhul qudus dalam bahasa Indonesia). Jadi sebenarnya Islampun mengenal istilah Ruh Al Quds. Keterangan-keterangan tentang Ruh Al Quds sering umumnya ditemui dalam karya-karya ulama sufi.
    Kedua :
    pepatah bijak mengatakan Kalaulah hendak memahami suatu ajaran hendaklah melihat kepada sumber aslinya, jangan lihat ummatnya sebab terkadang kedua hal tersebut bertolak belakang. Jadi konsep Trinitas sendiri haruslah dilihat melalui kitab2 yang diturunkan kepada Nabi Isa as. Sebagai seorang muslim saya sendiri tidak akan pernah percaya kalau Nabi Isa as. mengajarkan kepada ummatnya unyuk menyembah illah selain Allah, karena Al-qur’an sendiri mengatakan bahwa beliau adalah seorang hamba Allah. Kalaulah memang beliau yang mengistilahkan dengan Tuhan Bapak, tentunya beliau punya maksud tertentu, mustahil bagi seorang Nabi melakukan Kemusyrikan bukan ? kalaulah dia seorang yang musyrik mengapa Al-Qur’an mengatakan bahwa beliau seorang Nabi?
    Jadi saran saya, baiknya kita melihat ke sumber permasalahannya dahulu, siapa tahu konsep trinitas itu berbeda dengan apa yang jadi pemahaman kita sekarang ini.

    Cahaya Islam responded:
    Juni 26, 2007 pukul 4:23 am

    Salam,
    Terima kasih buat Biarawati atas kunjungannya.

    Pertama:
    Menurut sumber yang saya peroleh, Ruh Al-Qudsi, yang dipakai dalam Al-Qur’an dan di dunia sufi, adalah pencapaian tingkatan derajat seseorang yang sangat dekat dengan Tuhannya. Tetapi hal tersebut, tetap adanya pemisahan secara zat antara Tuhan dan makhluk-Nya. Dan pensucian Khaliq atas sifat makhluk-Nya.

    Kedua:
    Betul pada awalnya Nabi Isa as mengajarkan agama tauhid, namun setelah itu adanya penyelewengan yang dilakukan seseorang yang bernama Paulus, yang mengatasnamakan dirinya sebagai pembawa risalah Isa Al-Masih, dan juga ia sendiri yang menamakan Isa sebagai anak Tuhan. Bukan sebagai hamba Tuhan. Salahnya lagi, doktrin ini terus berlanjut dan menjadikannya sebagai prinsip ajaran Nasrani. Ingat, ketika terjadi konferensi (konsili) yang terjadi di Nicea .
    Dan kitapun akan berpikir bahwa tidak mungkin kita akan menyembah Tuhan yang memiliki sifat-sifat seperti makhluk-Nya dengan sanggahan-sanggahan yang ada dalam makalah kami yang terkait dengan hal ini. Juga, tidaklah Tuhan yang akan disembah menurunkan sebuah syariat yang melampaui jangkauan kemampuan manusia dan nalar yang sehat. Jika seandainya Nabi Isa sendiri, mengetahui apa yang diperbuat oleh umatnya, beliau tidak akan meridhonya, disebabkan karena menyalahi atas syariat yang diembannya yaitu menegakkan agama Tauhid (tiada sekutu bagi-Nya). Dan riwayat mengatakan, nantinya ketika menjelang hari kiamat, nabi Isa pun akan kembali kebumi, untuk meluruskan agama Tauhid yang diselewengkan umatnya. Serta umatnya juga akan menerima kepemimpinan Al-Mahdi as.

    Juga saran saya. mbak pun harus mengkaji hal ini, karena kita tidak boleh membenarkan sebuah konsep yang tidak jelas dalilnya. Ini yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf, sekiranya ada kata-kata yang kurang berkenan.

    Wassalam.

    pekik said:
    Juli 12, 2007 pukul 8:30 am

    Harmoni Islam dan Kristen
    Oleh Abd Moqsith Ghazali
    18/12/2006
    Betapa sikap saling menghargai dan menoleransi, bahkan dalam soal pelaksanaan ritual peribadatan pun, telah dikukuhkan oleh Nabi semenjak awal kehadiran Islam.
    Nabi Muhammad SAW dan Isa al-Masih atau Yesus Kristus adalah dua tokoh yang terlahir dari asal-usul orang tua yang sama, Nabi Ibrahim, walau dari ibu yang berbeda. Jika Isa al-Masih atau Yesus bersambung kepada isteri pertama Ibrahim, Sarah, maka Muhammad SAW memiliki silsilah ke isteri kedua, Hajar. Itu sebabnya, Nabi Muhammad sangat menghargai saudara sepupunya itu. Nabi bersabda, tidak ada orang yang paling dekat dengan Yesus selain aku. Hadits Bukhari menyebutkan, orang Islam yang mengimani Yesus Kristus dan Nabi Muhammad secara sekaligus akan mendapatkan dua pahala [Lihat Shahih al-Bukhary, hadits ke 3446].
    Alkisah, ketika Nabi Muhammad memasuki Mekah dengan penuh kemenangan dalam Fathu Makkah dan menyuruh menghancurkan semua patung dan berhala, termasuk yang bernama Hubal, dia menemukan gambar Bunda Maria (Sang Perawan) dan Isa al-Masih (Sang Anak) di dalam Kakbah. Ia kemudian menyelamatkan dua gambar itu dengan memasukkannya ke dalam jubahnya (Lihat al-Arzaqi, Akhbar Makkah, hlm. 165-169). Patung Maryam yang terletak di salah satu tiang Kakbah dan patung Yesus Kristus di Hijirnya yang dipenuhi berbagai hiasan, dibiarkan berdiri tegak (Kardi Ali, al-Islam wa al-Hadlarah, Juz I, hlm. 123). Tindakan ini diceritakan berbagai sumber sebagai bentuk penghargaan Muhammad terhadap Yesus dan ibundanya.
    Bahkan, penghargaan itu bukan hanya terhadap pribadi Yesus, melainkan juga pada para pengikuttnya. Dikisahkan bahwa Nabi pernah menerima kunjungan para tokoh Kristen Najran yang berjumlah 60 orang. Rombongan itu dipimpin Abdul Masih, al-Ayham, dan Abu Haritsah bin Alqama. Abu Haritsah adalah seorang tokoh yang disegani karena kedalaman ilmu, dan konon, juga kerena beberapa karomah yang dimilikinya. Menunut Muhammad ibn Ja’far ibn al-Zubair, ketika rombongan itu sampai di Madinah, mereka langsung menuju masjid. Saat itu, Nabi sedang melaksanakan salat ashar bersama para sahabatnya. Mereka datang dengan memakai jubah dan surban, pakaian yang juga lazim dikenakan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Ketika waktu kebaktian tiba, mereka pun tak harus mencari gereja. Nabi memperkenankan mereka untuk melakukan sembahyang di dalam masjid [Baca Ibnu Hisyam, al-Siyrah al-Nabawiyah, Juz II, hlm. 426-428].
    Sikap yang sama juga ditunjukkan kalangan Kristen. Ketika umat Islam dikejar-kejar orang-orang kafir Quraisy Mekah, yang memberikan perlindungan adalah Najasyi, raja Abesinia yang Kristen. Ratusan sahabat Nabi termasuk Utsman bin Affan dan istrinya (Ruqayah, puteri Nabi), Abu Hudzaifah bin ‘Utbah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin ‘Auf, Ja’far bin Abi Thalib, secara bergelombang hijrah ke Abesinia untuk menghindari ancaman pembunuhan kafir Quraisy. Di saat orang-orang kafir Quraisy memaksa sang raja untuk mengembalikan umat Islam itu ke Mekah, ia tetap pada pendirian bahwa pengikut Muhammad haruslah dilindungi dan diberikan hak-haknya, termasuk hak memeluk suatu agama.
    Dalam konteks itulah, menurut al-Qurthubiy dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an (Juz III, hlm. 597-598) dan Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Qur`an al-Hakim (Juz VIII, hlm. 3), surat al-Maidah ayat 82 diturunkan. Ayat itu berbunyi, “Sesungguhnya kamu akan jumpai yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang beriman adalah orang-orang yang berkata: ’sesungguhnya kami ini orang-orang Nashrani’.” Waktu raja Najasyi meninggal dunia, Nabi Muhammad SAW pun melaksanakan salat jenazah dan memohonkan ampun atasnya (Ibnu Hisyam, al-Siyrah al-Nabawiyah, Juz I, hlm. 338).
    Penggalan-penggalan cerita di atas sengaja saya kemukakan untuk menunjukkan kemesraan hubungan Islam dan Kristen, yang dilakonkan oleh Nabi Muhammad bersama umat kristiani di masanya. Betapa sikap saling menghargai dan menoleransi, bahkan dalam soal pelaksanaan ritual peribadatan pun, telah dikukuhkan oleh Nabi semenjak awal kehadiran Islam. Sejarah harmoni ini, bagi saya, mestinya menjadi modal berharga dan inspirasi bagi pembentukan kehidupan damai antara Islam dan Kristen di Indonesia yang kini kerap dilanda konflik dan ketegangan. []

    pekik said:
    Juli 12, 2007 pukul 9:18 am

    Selamat Natal Menurut Al-Qur’an

    Oleh: Prof. Dr. Quraish Shihab

    Sakit perut menjelang persalinan, memaksa Maryam bersandar ke pohon kurma. Ingin rasanya beliau mati, bahkan tidak pernah hidup sama sekali. Tetapi Malaikat Jibril datang menghibur: “Ada anak sungai di bawahmu, goyanghan pangkal pohon kurma ke arahmu, makan, minum dan senangkan hatimu. Kalau ada yang datang katakan: ‘Aku bernazar tidak bicara.'”

    “Hai Maryam, engkau melakukan yang amat buruk. Ayahmu bukan penjahat, ibumu pun bukan penzina,” demikian kecaman kaumnya, ketika melihat bayi di gendongannya. Tetapi Maryam terdiam. Beliau hanya menunjuk bayinya. Dan ketika itu bercakaplah sang bayi menjelaskan jati dirinya sebagai hamba Allah yang diberi Al-Kitab, shalat, berzakat serta mengabdi kepada ibunya. Kemudian sang bayi berdoa: “Salam sejahtera (semoga) dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, hari wafatku, dan pada hari ketika aku dibangkitkan hidup kembali.”

    Itu cuplikan kisah Natal dari Al-Quran Surah Maryam ayat 34. Dengan demikian, Al-Quran mengabadikan dan merestui ucapan selamat Natal pertama dari dan untuk Nabi mulia itu, Isa a.s.

    Terlarangkah mengucapkan salam semacam itu? Bukankah Al-Quran telah memberikan contoh? Bukankah ada juga salam yang tertuju kepada Nuh, Ibrahim, Musa, Harun, keluarga Ilyas, serta para nabi lainnya? Setiap Muslim harus percaya kepada Isa a.s. seperti penjelasan ayat di atas, juga harus percaya kepada Muhammad saw., karena keduanya adalah hamba dan utusan Allah. Kita mohonkan curahan shalawat dan salam untuk. mereka berdua sebagaimana kita mohonkan untuk seluruh nabi dan rasul. Tidak bolehkah kita merayakan hari lahir (natal) Isa a.s.? Bukankah Nabi saw. juga merayakan hari keselamatan Musa a.s. dari gangguan Fir’aun dengan berpuasa ‘Asyura, seraya bersabda, “Kita lebih wajar merayakannya daripada orang Yahudi pengikut Musa a.s.”

    Bukankah, “Para Nabi bersaudara hanya ibunya yang berbeda?” seperti disabdakan Nabi Muhammad saw.? Bukankah seluruh umat bersaudara? Apa salahnya kita bergembira dan menyambut kegembiraan saudara kita dalam batas kemampuan kita, atau batas yang digariskan oleh anutan kita? Demikian lebih kurang pandangan satu pendapat.

    Banyak persoalan yang berkaitan dengan kehidupan Al-Masih yang dijelaskan oleh sejarah atau agama dan telah disepakati, sehingga harus diterima. Tetapi, ada juga yang tidak dibenarkan atau diperselisihkan. Disini, kita berhenti untuk merujuk kepercayaan kita.

    Isa a.s. datang mermbawa kasih, “Kasihilah seterumu dan doakan yang menganiayamu.” Muhammad saw. datang membawa rahmat, “Rahmatilah yang di dunia, niscaya yang di langit merahmatimu.” Manusia adalah fokus ajaran keduanya; karena itu, keduanya bangga dengan kemanusiaan. Isa menunjuk dirinya sebagai “anak manusia,” sedangkan Muhammad saw. diperintah:kan oleh Allah untuk berkata: “Aku manusia seperti kamu.” Keduanya datang membebaskan manusia dari kemiskinan ruhani, kebodohan, dan belenggu penindasan. Ketika orang-orang mengira bahwa anak Jailrus yang sakit telah mati, Al-Masih yang menyembuhkannya meluruskan kekeliruan mereka dengan berkata, “Dia tidak mati, tetapi tidur.” Dan ketika terjadi gerhana pada hari wafatnya putra Muhammad, orang berkata: “Matahari mengalami gerhana karena kematiannya.” Muhammad saw. lalu menegur, “Matahari tidak mengalami gerhana karena kematian atau kehahiran seorang.” Keduanya datang membebaskan maanusia baik yang kecil, lemah dan tertindas -dhu’afa’ dan al-mustadh’affin dalam istilah Al-Quran.

    Bukankah ini satu dari sekian titik temu antara Muhammad dan Al-Masih? Bukankah ini sebagian dari kandungan Kalimat Sawa’ (Kata Sepakat) yang ditawarkan Al-Quran kepada penganut Kristen (dan Yahudi (QS 3:64)? Kalau demikian, apa salahnya mengucapkan selamat natal, selama akidah masih dapat dipelihara dan selama ucapan itu sejalan dengan apa yang dimaksud oleh Al-Quran sendiri yang telah mengabadikan selamat natal itu? Itulah antara lain alasan yang membenarkan seorang Muslim mengucapkan selamat atau menghadiri upacara Natal yang bukan ritual . Di sisi lain, marilah kita menggunakan kacamata yang melarangnya.

    Agama, sebelum negara, menuntut agar kerukunan umat dipelihara. Karenanya salah, bahkan dosa, bila kerukunan dikorbankan atas nama agama. Tetapi, juga salah serta dosa pula, bila kesucian akidah ternodai oleh atau atas nama kerukunan.

    Teks keagamaan yang berkaitan dengan akidah sangat jelas, dan tidak juga rinci. Itu semula untuk menghindari kerancuan dan kesalahpahaman. Bahkan Al-Q!uran tidak menggunakan satu kata yang mungkin dapat menimbulkan kesalahpahaman, sampai dapat terjamin bahwa kata atau kalimat itu, tidak disalahpahami. Kata “Allah,” misalnya, tidak digunakan oleh Al-Quran, ketika pengertian semantiknya yang dipahami masyarakat jahiliah belum sesuai dengan yang dikehendaki Islam. Kata yang digunakan sebagai ganti ketika itu adalah Rabbuka (Tuhanmu, hai Muhammad) Demikian terlihat pada wahlyu pertama hingga surah Al-Ikhlas. Nabi saw. sering menguji pemahaman umat tentang Tuhan. Beliau tidak sekalipun bertanya, “Dimana Tuhan?” Tertolak riwayat sang menggunakan redaksi itu karena ia menimbulkan kesan keberadaan Tuhan pada satu tempat, hal yang mustahil bagi-Nya dan mustahil pula diucapkan oleh Nabi. Dengan alasan serupa, para ulama bangsa kita enggan menggunakan kata “ada” bagi Tuhan, tetapi “wujud Tuhan.”

    Natalan, walaupun berkaitan dengan Isa Al-Masih, manusia agung lagi suci itu, namun ia dirayakan oleh umat Kristen yang pandangannya terhadap Al-Masih berbeda dengan pandangan Islam. Nah, mengucapkan “Selamat Natal” atau menghadiri perayaannya dapat menimbulkan kesalahpahaman dan dapat mengantar kepada pengaburan akidah. Ini dapat dipahami sebagai pengakuan akan ketuhanan Al-Masih, satu keyakinan yang secara mutlak bertentangan dengan akidah Islam. Dengan kacamata itu, lahir larangan dan fatwa haram itu, sampai-sampai ada yang beranggapan jangankan ucapan selamat, aktivitas apa pun yang berkaitan dengan Natal tidak dibenarkan, sampai pada jual beli untuk keperluann Natal.

    Adakah kacamata lain? Mungkin!

    Seperti terlihat, larangan ini muncul dalam rangka upaya memelihara akidah. Karena, kekhawatiran kerancuan pemahaman, agaknya lebih banyak ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan kabur akidahnya. Nah, kalau demikian, jika ada seseorang yang ketika mengucapkannya tetap murni akidahnya atau mengucapkannya sesuai dengan kandungan “Selamat Natal” Qurani, kemudian mempertimbangkan kondisi dan situasi dimana hal itu diucapkan, sehingga tidak menimbulkan kerancuan akidah baik bagi dirinya ataupun Muslim yang lain, maka agaknya tidak beralasan adanya larangan itu. Adakah yang berwewenang melarang seorang membaca atau mengucapkan dan menghayati satu ayat Al-Quran?

    Dalam rangka interaksi sosial dan keharmonisan hubungan, Al-Quran memperkenalkan satu bentuk redaksi, dimana lawan bicara memahaminya sesuai dengan pandangan atau keyakinannya, tetapi bukan seperti yang dimaksud oleh pengucapnya. Karena, si pengucap sendiri mengucapkan dan memahami redaksi itu sesuai dengan pandangan dan keyakinannya. Salah satu contoh yang dikemukakan adalah ayat-ayat yang tercantum dalam QS 34:24-25. Kalaupun non-Muslim memahami ucapan “Selamat Natal” sesuai dengan keyakinannya, maka biarlah demikian, karena Muslim yang memahami akidahnya akan mengucapkannya sesuai dengan garis keyakinannya. Memang, kearifan dibutuhkan dalam rangka interaksi sosial.

    Tidak kelirulah, dalam kacamata ini, fatwa dan larangan itu, bila ia ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan ternodai akidahnya. Tetapi, tidak juga salah mereka yang membolehkannya, selama pengucapnya bersikap arif bijaksana dan tetap terpelihara akidahnya, lebih-lebih jika hal tersebut merupakan tuntunan keharmonisan hubungan.

    Dostojeivsky (1821-1881), pengarang Rusia kenamaan, pernah berimajinasi tentang kedatangan kembali Al-Masih. Sebagian umat Islam pun percaya akan kedatangannya kembali. Terlepas dari penilaian terhadap imajinasi dan kepercayaan itu, kita dapat memastikan bahwa jika benar beliau datang, seluruh umat berkewajiban menyambut dan mendukungnya, dan pada saat kehadirannya itu pasti banyak hal yang akan beliau luruskan. Bukan saja sikap dan ucapan umatnya, tetapi juga sikap dan ucapan umat Muhammad saw. Salam sejahtera semoga tercurah kepada beliau, pada hari Natalnya, hari wafat dan hari kebangkitannya nanti.

    sumber: Pustaka Online Media Isnet

    Cahaya Islam responded:
    Juli 14, 2007 pukul 5:19 am

    Salam

    Maaf baru , kami menuliskan jawaban dari komentar anda. Makalah yang cukup panjang yang intinya, memperbolehkan kita mengucapkan selamat natal dan mengikuti ritual ibadah yang mereka jalankan sebagai bentuk toleransi dan keharmonisan diantara dua agama yang terlahir dari nabi yang sama (latar belakang historis yang sama) dan tujuan yang sama. Jawaban yang paparkan disini adalah: mengucapkan selamat natal (yang ditujukan atas dasar hari kelahiran nabi Isa Al-Masih) pada mereka tidak menjadi masalah dengan anggapan bahwa Isa as pun sebagai nabi umat Islam.

    Adapun melaksanakan ritual ibadah yang mereka jalankan adalah tidaklah menjadi maslahat (kebaikan) bagi kita, dikarenakan masing-masing telah diatur, untuk menjalankan ibadahnya masing-masing sesuai dengan perintah agama, sebagaimana disebutkan dalam alqur’an. Allah Swt berfirman surat Al-Kafirun ayat 3 s/d 6: “Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

    Ayat ini pun yang menjadi bentuk toleransi antara umat beragama, artinya dengan bebas melaksanakan ajaran ibadah menurut agama masing-masing, bukan berarti mengikuti ritual keagamaan yang mereka jalankan. Dan dari tinjauan sejarah diatas, tidaklah membuktikan hal tersebut.
    Wassalam.

    pekik said:
    Juli 21, 2007 pukul 5:29 am

    Salam ….
    ketika saya sedang jalan-jalan di internet saya menemukan sebuah artikel yang menarik, yang mengulas tentang trinitas yang menjadi bahan renungan Anda selama ini, semoga apa yang saya copy dari situs http://www.the-good-way.com ini dapat sedikit memberi kecerahan dan pemahaman tentang renuangan akan Trinitas yang sedang Anda cari dan mungkin perlu Anda juga sadari didalam Al Qur’an sendiri jelas tersebut lakum dhinukum wa li’adin maaaaaaf klo kurang pas yang artinya ….. Anda sudah pasti lebih tau dari saya.
    Bagi saya pedoman itu sangat kental akan fahan toleransi beragama. Meski begitu sy mencoba memberi sedikit penjelasan meski itu sy ambil dari hasil jalan-jalan saya diinternet.

    ALLAH ITU ESA DI DALAM TRITUNGGAL YANG KUDUS

    PENDAHULUAN
    Fakta-fakta yang sulit disampaikan kepada seorang anak dengan satu metode yang sederhana dan mudah di pahami. Sejalan dengan dewasanya anak ini dan nalarnya menjadi sempurna, maka dia tidak lagi merasa puas dengan informasi yang diringkas dan disederhanakan. Dia akan berupaya keras mencari ketepatan dan seluk beluk dalam permasalahan-permasalahan, karena akal budinya telah siap dan bersedia untuk menyerapnya.
    Demikian juga halnya dengan manusia. Ketika manusia itu masih kanak-kanak, Tuhan memberinya satu gambaran yang sederhana dan umum tentang diri-Nya dalam batas-batas yang dapat dicerna mereka. Itulah sebabnya rasul Paulus berkata: “Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Al-Masih. Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarang pun kamu belum dapat memberinya”. (I Korintus 3:1-2).
    Apabila masanya telah genap dan mentalitas orang percaya telah bertumbuh, maka Tuhan mulai menyatakan bahwa Dia adalah satu dalam keTritunggalan-Nya yang unik.
    Ia membukakan kepada kita rahasia akbar ini yang tersembunyi bagi manusia ketika berada pada tingkat nalar dan rohani yang masih lemah. Saat Tuhan mengaruniakan karunia Roh Kudus kepada kita, Ia menyatakan hidupNya sendiri dan status ilahiNya kepada kita seperti yang dikatakan rasul Paulus,”Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah” (I Korintus 2:10).
    Paham ini masih tetap merupakan satu rahasia yang tidak dikenal bagi orang duniawi. Mereka menolaknya karena kurangnya pengertian mereka atas kenyataan-kenyataan dari iman yang benar dan rahasia Allah yang masih tersembunyi itu.
    Dengan anugerah Tuhan, saya menuliskan buku ini untuk menyederhanakan dan menjernihkan apa yang mustahil untuk dipahami dan sukar untuk dimengerti. Buku ini ditulis agar setiap orang yang membacanya dapat percaya pada rahasia ilahi ini dan paham betul bahwa keyakinan ini tidak bertentangan dengan akal budi, tetapi memuaskannya, dan dapat memahami termasuk buku-buku yang menyerang keyakinan ini, karena kekurangan pengertian, secara jelas menyaksikan pengakuan iman ini.
    Sebagaimana saya mempersembahkan buku ini sebagai satu penjelasan dari kepercayaan kami yang paling kudus, saya mengarahkan hati saya kepada Tuhan untuk menjadikannya menjadi sumber berkat bagi banyak orang, dan saya berdoa kiranya buku ini dapat membukakan gerbang keyakinan yang benar kepada mereka. Sehingga mereka dapat menikmati kasih Allah, Bapa, dan berkat dari Allah Bapa, Al-Masih dengan persekutuan Roh Kudus bagi-Nya kemuliaan yang kekal. Amin.
    Archpriest Zachariah Buturs Misr-Al-Djadida
    Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.
    I Petrus 3:15

    Pasal I
    KEMAHAESAAN ALLAH DALAM
    KETRITUNGGALAN YANG KUDUS
    Table of Contents
    Kesatuan Allah dalam KeKristenan
    Ketritunggalan yang Kudus dalam Kekristenan
    Perlunya Ketritunggalan dalam Kesatuan

    KESATUAN ALLAH DALAM KEKERISTENAN
    Kami orang-orang Kristen percaya pada satu Allah yang tidak mempunyai teman. Dia tidak terbatas, memenuhi surga dan bumi. Dia Pencipta segala yang ada, Kekal dan Abadi. KerajaanNya tidak berkesudahan.
    Pengakuan iman ini sangat jelas dalam Injil yang kudus. Dasar pengakuan Kristen adalah seperti berikut:
    1. Al-Masih sendiri mengajarkan keyakinan ini ketika seorang Yahudi datang kepadaNya menanyakan tentang hukum yang terbesar. Al-Masih menjawab dia, “Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Markus 12:29-30). Inilah perintah yang pertama. Satu gema dan pembenaran dari Ulangan 6:4-9. Seandainya perintah ini dituliskan dalam bahasa Al Qur’an, maka akan berbunyi “Allah, Allah kita, adalah satu-satunya (unik) Allah, Allah yang kekal.”
    2. Rasul Paulus menegaskan perkataan ini,”Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain! Artinya, kalau ada satu Allah” (Roma 3:29,30).
    3. Dan rasul Paulus mengungkapkan keyakinan yang sama dengan berkata, “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik!” (Yakobus 2:19).
    4. Pengakuan iman Kristen diambil dari ayat-ayat ini bersama ayat-ayat lainnya dalam Alkitab. Gereja telah mengakui keyakinan ini dari generasi pada generasi berikutnya dengan mengatakan, “Sesungguhnya kami percaya pada satu Allah, Pencipta langit dan bumi, dan yang kelihatan dan yang tidak kelihatan.” Jadi saudara-saudara yang kekasih, camkanlah bahwa kami umat Kristen percaya pada satu Allah dan bukan pada tiga dewa. Kami akan lebih menjelaskan tentang arti Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam pembahasan mengenai Ketritunggalan yang kudus dari Kekristenan.

    KETRITUNGGALAN YANG KUDUS DALAM KEKRISTENAN
    Paham Ketritunggalan yang kudus sama sekali tidak berarti adanya tiga allah sebagaimana yang dibayangkan secara salah oleh beberapa orang. Arti dari paham ini ialah bahwa Allah itu satu adanya…..
    Berada dalam diriNya sendiri, Ia menyatakan diriNya sebagai Bapa
    Berbicara dalam FirmanNya. Ia menyatakan diriNya sebagai Anak, yakni Firman.
    Hidup dalam RohNya, Ia menyatakan diriNya sebagai Roh Kudus.
    Adalah tidak boleh kita menarik pengertian dari nama-nama ini bahwa ada satu hubungan jasmaniah sebagaimana lazimnya pada sifat manusiawi, karena hal tersebut memiliki satu pengertian rohani.
    Nama-nama ini tidak ditetapkan atau ditemukan manusia, melainkan adalah kata-kata dari ilham ilahi dalam Kitab Kudus, sebagaimana yang anda dapat lihat pada ayat-ayat berikut ini:
    1. Al-Masih berkata kepada murid-muridNya, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Matius 28:19). Monoteisme jelas sekali dalam kata-kataNya, “baptislah mereka dalam nama”. Dia tidak berkata baptislah mereka dalam nama-nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Namun Ketritunggalan dipaparkan dengan jelas dalam kata-kataNya, “Bapa dan Anak dan Roh Kudus.”
    2. Rasul Yohanes dengan jelas sekali menegaskan pengertian ini, “Dan ada tiga yang memberikan kesaksian di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu” (I Yohanes 5:7).
    Jika anda membandingkan kedua ayat ini maka akan anda temukan nama-nama Tritunggal Kudus; Bapa, Anak dan Roh Kudus. Inilah Tritunggal Kudus dalam satu-satunya Allah yang kepadaNya kita percaya.
    PERLUNYA KETRITUNGGALAN DALAM KESATUAN
    Secara ringkas, perlunya Ketritunggalan dalam Kesatuan sudah jelas dari ayat-ayat dan pembahasan di atas. Satu Allah, Pencipta segala yang hidup dengan sendirinya memiliki satu keberadaan diri secara pribadi. Satu Allah, yang menciptakan manusia dengan kemampuan berbicara, harus Ia sendirilah menyatakan FirmanNya. Satu Allah, yang menciptakan kehidupan dalam setiap makhluk hidup, Ia sendirilah yang hidup dalam roh. Sebab itu, adalah pasti bahwa satu Tritunggal kudus harus berada dalam satu-satunya Allah seperti yang telah kami jelaskan. Inilah kepercayaan kita yang sesungguhnya: Allah adalah satu dalam Tritunggal dan bukan tiga dewa.

    Pasal II
    KESAKSIAN AL QUR’AN ATAS
    KESATUAN DARI KETRITUNGGALAN KUDUS
    Table of Contents
    Kesaksian Al Qur’an tentang kepercayaan Kristen kepada satu Allah saja.
    Kesaksian Al Qur’an tentang Ketritunggalan Kudus Kristen.
    Kesaksian Al Qur’an bahwa Al-Masih adalah Firman Allah.
    Kesaksian Al Qur’an tentang Roh Kudus.
    KESAKSIAN Al QUR’AN TENTANG KEPERCAYAAN KRISTEN KEPADA SATU ALLAH SAJA.
    Al Qur’an menyaksikan bahwa umat Kristen percaya pada satu Allah (Monoteistik) dan bukan kafir. Berikut adalah beberapa contoh dari kesaksian ini.
    1. Surat Al “Ankabut 46 – “Janganlah kamu berdebat (berbantah) dengan ahli kitab (Yahudi, Nasrani dan seumpamanya), melainkan dengan (jalan) yang terbaik,….. dan katakanlah: Kami percaya kepada (Kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu, sedangkan Tuhan kami dan Tuhan kamu hanya satu, dan kami patuh kepadaNya”. Demikianlah Al Qur’an menyaksikan bahwa kami umat Kristen, “ahli kitab”, menyembah satu Allah.
    2. Surat Ali Imran 113-114, ” Mereka itu tiada sama. Di antara ahli kitab, ada segolongan yang lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah waktu malam sedang mereka sujud. Mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian dan menyuruh ma”ruf dan melarang dari yang mungkar, lagi bersegera mengerjakan kebaikan dan mereka itu termasuk orang-orang yang salih”. Ayat ini secara jelas menegaskan bahwa umat Kristen, “ahli kitab”, percaya pada satu Allah: mereka membaca ayat-ayat Allah yang ada di tangan mereka pada masa Muhammad, dan mereka menyembah Allah yang satu dalam ibadah dan doa-doa mereka.
    3. Surat Al Maidah 82 – “Demi, sesungguhnya engkau peroleh manusia yang sangat memusuhi orang-orang beriman, ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Demi sesungguhnya engkau peroleh orang-orang yang lebih dekat kasih sayangnya kepada orang-orang beriman, ialah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya kami orang Nasrani. Demikian itu karena di antara mereka ada alim ulama dan pendeta-pendeta sedang mereka itu tiada sombong.” Disini jelas bahwa umat Nasrani tidak menyembah banyak tuhan (politeistik), karena umat yang menyembah banyak allah dan umat Yahudi adalah musuh keras kaum Muslim, sedangkan umat Nasrani adalah sahabat dekat mereka.
    4. Surat Al Imran 55, “(Ingatlah) ketika Allah berkata: Ya, Isa, sesungguhnya Aku mewafatkan engkau dan meninggikan (derajat) engkau kepada-Ku dan menyucikan engkau dari orang-orang kafir dan menjadikan orang-orang yang mengikut engkau di atas dari mereka yang kafir, sampai hari kiamat.” Jelaslah bagi anda bahwa pengikut-pengikut Al-Masih, atau umat Kristen, bukanlah orang kafir. Sebaliknya, Allah membedakan umat Kristen dari orang kafir dan mengangkat mereka di atas orang kafir.
    Kesaksian Al Qur’an tentang umat Kristen telah membuktikan dengan pasti bahwa mereka menyembah satu Allah dan mereka bukan penyembah banyak tuhan.
    KESAKSIAN AL QUR’AN TENTANG KETRITUNGGALAN KUDUS KRISTEN
    Sahabatku yang budiman, barangkali saja anda heran, bahwa Al- Qur’an menyebutkan Tritunggal dari satu Allah persis sama seperti yang diyakini umat Kristen. Kita telah lihat bersama bahwa Tritunggal Kekristenan itu adalah sifat Allah, FirmanNya dan RohNya. Ini adalah Ketritunggalan yang sama seperti disebutkan Al Qur’an, “Sesungguhnya Al- Masih, “Isa anak Maryam, hanya rasul Allah dan kalimat-Nya, disampaikan-Nya kalimat itu kepada Maryam beserta roh dari pada-Nya” (Surat An-Nisa” 171). Dalam ayat ini jelas bahwa Allah mempunyai: satu pribadi – “rasul Allah”, satu firman – “kalimat-Nya”, satu roh – “beserta roh dari pada-Nya”
    Kesaksian Al Qur’an tentang pengakuan iman menyangkut Ketritunggalan tidak lebih dan tidak kurang sama seperti apa yang kami umat Kristen beritakan. Tidak menyiarkan politeisme, tetapi menyatakan bahwa tidak ada Allah kecuali Dia.
    KESAKSIAN QUR’AN AL-MASIH ADALAH FIRMAN ALLAH
    Al Qur’an menyaksikan dengan jelas sekali bahwa Al-Masih adalah Firman Allah. Berikut ini adalah beberapa ayat Al Qur’an sebagai contoh:
    1. Surat An-Nisa” 171, “Sesungguhnya Almasih, “Isa anak Maryam, hanya rasul Allah dan kalimat-Nya.”
    2. Surat Al Imran, Keluarga Imran: 39 “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan melahirkan seorang puteramu Yahya, yang membenarkan kalimat dari Allah…”
    3. Surat Al Imran 45, “Ingatlah ketika malaikat berkata: Ya, Maryam, sesungguhnya Allah memberi kabar gembira kepada engkau dengan kalimat dari padaNya (yakni seorang anak), namanya Almasih “Isa anak Maryam.” Terjemahan bahasa Inggeris menggunakan kata ganti “whose” menunjukkan kata ganti orang lelaki dalam bahasa aslinya Arab. Terjemahan bahasa Indonesia lebih mengena dengan menggunakan “yakni seorang anak” (whose) untuk “kalimat” (a word). Hal ini menunjukkan satu kenyataan bahwa “kalimat” yang digunakan di sini, bukan berarti kalimat dalam bahasa sehari-hari tetapi menyatakan seorang pribadi. Anda juga akan menemukan hal ini diterangkan dalam perkataan dari salah seorang sarjana Muslim (Al Shaikh Muhyi Al Din al “Arabi), yang berkata:” Kalimat adalah Allah dalam hakekatnya…dan Ia adalah tidak lain dari satu pribadi ilahi” ( dalam buku “Fusus al Hukm”, bagian II, hal.35). Dia juga berkata bahwa “kalimat” adalah pribadi ilahi (hal.13).
    Bukankah hal ini sama benar dengan apa yang dikatakan mengenai Al-Masih dalam Injil Yohanes? “Pada mulanya adalah Firman (kalimat); Firman (kalimat) itu bersama-sama dengan Allah dan Firman (kalimat) itu adalah allah…Firman (kalimat) itu telah menjadi manusia” (Yohanes 1:1,14). Terjemahan bahasa Arab dari ayat ini dalam kecocokannya dengan tulisan asli dalam bahasa Yunani) menggunakan istilah yang sama, “kalimat” dengan kata ganti orang ketiga yang menunjuk padanya. Kalimat menunjuk pada satu pribadi. Hal ini jelas dari perincian-perincian Yohanes: “Firman (kalimat) itu adalah Allah” dan Firman (kalimat) itu telah menjadi manusia.”
    KESAKSIAN AL QUR’AN TENTANG ROH KUDUS
    Ada banyak ayat Al Qur’an yang menyebutkan bahwa Roh Kudus adalah Roh Allah dan hal itu menyokong keterlibatan Al-Masih dalamnya. Hal tersebut nampak jelas seperti berikut ini: Surat Al Maidah 110, “Hai “Isa anak Maryam, ingatlah akan nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu, ketika Aku menguatkan engkau dengan roh suci…., Engkau bercakap-cakap dengan manusia dalam buaian (masih bayi) dan ketika dewasa.”
    Sarjana theologia Al Shaikh Muhammad al Hariri al Bayyuni berkata, “Roh Kudus, adalah Roh Allah” (“Kitab al Ruh wa Mahiyyatuha,” hal.53).
    Saudaraku, dari apa yang telah dipaparkan itu, baik dari kesaksian Al-Qur’an maupun teolog-teolog Islam tentang pengakuan iman Ketritunggalan yang kepadanya kami umat Kristen percaya, sesungguhnya telah menjadi jelas.

    Pasal III
    NAMA-NAMA TRITUNGGAL KUDUS
    Table of Contents
    B a p a
    A n a k
    R o h K u d u s
    NAMA-NAMA TRITUNGGAL KUDUS
    Kita telah belajar dari pembahasan yang sebelumnya bahwa Kekristenan percaya pada satu Allah, yang ada di dalam Tritunggal; pribadi Allah, Kalimat-Nya dan Roh Kudus. Tritunggal ini mempunyai nama lain: Bapa (pribadi Allah), Anak (Kalimat Allah), dan Roh Kudus (Ruh Allah).
    Beberapa orang yang tidak mengerti membuat sanggahan atas pemberian nama ini karena mereka beranggapan bahwa itu berarti memperanak dan hubungan seksual. Allah melarang Kekristenan dari pengertian demikian! Oleh karena itu kita perlu meluruskan maksud penamaan ini.
    BAPA
    Bagi umat Kristen arti dari kata Bapa, tidaklah mengandung arti ayah secara jasmaniah. Pertama, hal ini mengandung arti pelukisan. Allah adalah sumber dan Pencipta semua makhluk. Karenanya Dia disebut Bapa dari semua ciptaan, khususnya ciptaan yang berakal budi. Seperti yang dikatakan oleh nabi Musa, “Bukanlah Ia Bapamu yang mencipta engkau, yang menjadikan dan menegakkan engkau? (Ulangan 32:6) atau seperti kata nabi Yesaya, “..Ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami!” (Yesaya 64:8). Dalam Perjanjian Baru Paulus menyatakan “bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari padaNya berasal segala sesuatu dan untuk Dia kita hidup” (I Korintus 8:6). Kata bapa dalam konteks ini dinyatakan dalam banyak cara sama dengan dalam Bahasa Arab “Bapa penuh rahmat” (Abu al Khair Abu al Barakat) dan “Allah Bapa” (Abu al Fadl), dll. Kesemuanya ini tidak dapat dipahami dari sudut hubungan jasmaniah atau hubungan orang tua tetapi dari sudut metapor (lambang).
    Kedua, ada terkandung pengertian hukum. Dalam kasus mengangkat anak, kata bapa tidak berarti bahwa seorang bapa tersebut memperanakkan anak angkat tersebut, tetapi ia menerimanya sebagai anak dan memberikan kepadanya semua hak-hak menurut hukum. Dia memandang dirinya bertanggung jawab dan berkewajiban kepadanya seperti seorang bapa sesungguhnya. Rasul Paulus membicarakan hal ini, “Tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu Anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru; “ya Abba; ya Bapa”!” (Roma 8:15) dan dalam Galatia 4:5, ia menggunakan istlah “supaya kita diterima menjadi anak.” Dengan demikian kebapaan Allah dalam mengangkat kita sebagai anakNya didasarkan atas hak-hak ilahi yang legal.
    Ketiga, ada pengertian pokok. Ini merupakan arti yang hanya dapat ditujukan pada Tritunggal Allah. Biarlah Dia ditinggikan! Sebagaimana sebuah kalimat keluar dari mulut, anak keluar dari Bapa sebelum dunia ini dijadikan. Al-Masih yang adalah Anak telah menjadi manusia melalui Maria yang diberkati karena Dia yang dari mulanya adalah roh dari Allah yang Roh adanya. Hal ini dinyatakan dalam Injil Yohanes, “Dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” (Yohanes 1:14). Al-Masih melihat Allah sebagai BapaNya, dalam keunikan ini, satu arti penting yang tidak dapat diterapkan pada siapa saja. “Tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya” (Matius 11:27).
    Akhirnya, ada terdapat pengertian rohani. Sesudah Allah mencurahkan RohNya dalam hati semua orang percaya melalui AnakNya, mereka dilahirkan kembali, suatu kelahiran rohani. Mereka diyakinkan dan bertobat oleh pribadi yang sangat bersahabat, yakni Roh ilahi. Orang-orang percaya ini “Orang-orang yang diperanakkan bukan dengan darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.” (Yohanes 1:13). Al-Masih yang telah mengajarkan kita untuk berseru, “Bapa kami yang di sorga. Dikuduskanlah namaMu.” (Matius 6:9). Bukanlah hak setiap orang untuk menyebut dirinya anak Allah dan menyapa Allah sebagai Bapanya, kecuali ia telah mendapatkan pengangkatan anak yang legal. Pengurapan Roh Kudus menyatakan kepada kita nama Allah Bapa. Kami tidak percaya pada kebapaan Allah dari pengertian jasmani, tetapi dalam kemurnian kekudusan, kami percaya pada kelahiran Al-Masih dan turunnya Roh Kudus dan pemenuhan-Nya pada orang-orang percaya.
    ANAK
    Apabila kita mengatakan bahwa Al-Masih adalah Anak Allah, tidak berarti bahwa Al-Masih datang dengan cara lewat hubungan perkawinan. Anak tidak dimaksudkan sebagai satu hubungan jasmani atau kelahiran melalui hubungan suami isteri. Kami hanya dapat mengatakan Al-Masih adalah Anak Allah untuk menunjukkan bahwa Dia sesungguhnya datang dari Allah. Dia tidak dihubungkan dengan bapa jasmani karena Dia dihubungkan kepada Allah. Istilah anak sebagai mana digunakan pada bahasa yang lazim, dalam Al Qur’an, dan dalam pembicaraan yang bersifat nubuat tidak menunjukkan keturunan jasmani.
    Anak dalam Bahasa yang lazim.
    Dalam banyak ungkapan bahasa, istilah anak tidak digunakan untuk menunjukkan keturunan jasmani. Sebagai contoh, kita sering mengatakan para siswa sebagai anak-anak pengetahuan; warga negara sebagai putera bangsa; seorang Mesir sebagai anak Nil dan seorang Arab sebagai anak gurun.
    Anak sebagaimana digunakan dalam Al-Qur’an.
    Istilah anak kadang-kadang digunakan dalam Al-Qur’an tidak dengan pengertian keturunan jasmani.
    Surat Al Baqarah 215 – “Apa-apa yang kamu nafkahkan dari harta, maka untuk dua orang ibu bapa, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang berjalan.” Para penafsir berkata bahwa orang-orang berjalan (Ibn Al Sabil) menunjukkan pengembara. Al Iman Al Nasafi dan Shaikh Hasanayn Makhluf berkata, “Dia disebuat seorang pengembara (Ibn al Sabil) untuk yang tetap mengembara di jalan.” (Al Nasafi, Commentary (Tafsir) bagian!. Hal.86 dan Shaikh Hasanayn Makhluf, “Sufuwwat al Bayan li Ma ani al Kuran” bagian 1.Hal.80).
    Anak dalam Tradisi Muslim.
    Dalam satu tradisi Muslim yang berasal dari Allah (Hadis Kusdsi), dinyatakan, “Orang kaya adalah agen-agenku dan orang miskin adalah anggota keluargaku (putera-puteraku).” Apakah dengan begitu kita artikan bahwa Allah beristeri dan memperanakkan anak-anak yang adalah orang miskin?! Tentu saja tidak!
    Oleh karena itu, istilah putera Allah tidak berarti hasil hubungan dalam pengertian manusia, tetapi ungkapan ini dimaksudkan untuk sifat atau hubungan Al-Masih dengan Allah, dan sama sekali bukanlah ketidak-setiaan atau mempersekutukan dengan Allah. Karena keanakan berasal dalam kebapaan Allah. Allah adalah Bapa dan Al-Masih adalah Anak, hanya dalam satu cara yang khusus, dengan arti yang unik yang tidak dapat diterapkan pada yang lain.

    ROH KUDUS
    Seperti yang baru saja dibahas, Roh Kudus adalah Roh Allah dan disebut dalam Al Qur’an dalam banyak tempat.
    Surat Yusuf 87 – “Sesungguhnya tiadalah yang berputus-asa daripada rahmat Allah, melainkan kaum kafir.” Terjemahan dalam bahasa Inggeris nampaknya lebih tepat. “Do not despair of Allah”s spirit; none but unbelievers despair of Allah”s spirit”, yang dapat diterjemahkan sebagai “Janganlah mendukakan roh Allah, melainkan kaum kafir yang mendukakan roh Allah”.
    Surat Al Bakara,87 dan 253 – “Kami berikan kepada Isa anak Maryam beberapa keterangan, ..dan kami kuatkan dia dengan ruh suci..”
    Al Imam al Nasafi berkata “dengan Roh Kudus artinya, roh yang dikuduskan …..atau nama Allah yang akbar” (Al Nasafi, Tafsir bagian I, hal.56).
    Surat Al Maidah 110 – “Hai “Isa anak Maryam, ingatlah akan nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu, ketika Aku menguatkan engkau dengan ruh suci.”
    Al Sayyid “Abdul Karim al Djabali ber- kata tentang Roh Kudus bahwa Roh Kudus itu tidak diciptakan, dan apa yang tidak diciptakan adalah kekal dan yang kekal hanyalah Allah sendiri (Madjallat Kulliyyat al Adab (Magazine of the Colledge of Arts) 1934.
    Al Shaikh Muhammad al Harira al Bayyumi berkata, “Roh Kudus adalah Roh Allah dan Roh Allah tidak diciptakan (“Al Ruhwa Mahiyyatuha” – The Spirit and Its Nature – hal.53).
    Inilah Tritunggal kudus dalam Allah yang mahaesa yang kepadanya kami percaya, dan di sinilah rahasianya dengan menamakannya sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus.

    Bapa adalah nama dari kebapaan Allah yang hakiki.
    Anak adalah nama dari Kalimat (Firman) Allah yang sudah menjelma menjadi manusia.
    Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri.

    Pasal IV
    TRINITAS PALSU
    Table of Contents
    Trinitas dari Sekte Maryamiyya
    Sikap orang Kristen terhadapTrinitas palsu
    Sikap Islam
    Paham Trinitas Sekte Maryamiyya
    Sebelum Islam dimulai pada abad ke 5 Masehi, satu paham yang sesat telah muncul. (Satu paham yang sesat adalah satu ketidak-benaran dan ajaran yang aneh dari seorang kafir atau sesat). Penganut paham ini berasal dari orang kafir yang memeluk agama Kristen. Sebagai orang kafir mereka biasanya memuja planet Venus dan menyebutnya “ratu surga”. Setelah memeluk agama Kristen mereka berusaha mempersekutukan apa yang disembah mereka dahulu dengan paham Kristen. Mereka menganggap Mariam sebagai “ratu surga” sebagai ganti Venus. Demikianlah mereka menamakan diri penganut-penganut paham Maryam. Mereka kemudian percaya bahwa ada tiga allah: Allah, Maryam dan Al-Masih.
    Sikap Umat Kristen Terhadap Trinitas Palsu
    Gereja Kristen langsung berjuang menentang aliran sesat (bidat) ini sesaat ajaran itu muncul, menentang ajarannya, dan mencabut mereka dari persekutuan iman dan mengucilkan semua pengikut-pengikutnya. Di akhir abad ke 7 Masehi, paham ini telah dihapuskan dan penganut-penganutnya lenyap seluruhnya. Gereja menegaskan lagi keyakinannya yang paling kudus bahwa Maryam hanyalah seorang manusia dan bukan dewi. Gereja terus menerus menegaskan bahwa Allah itu satu adanya, satu dalam hakekat, yang berfirman (kalimat), dan hidup dalam Roh. Firman (kalimat) Allah tinggal dalam tubuh Al-Masih. “Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: “Dia yang menyatakan diriNya dalam rupa manusia” (I Timotius 3:16).
    Sikap Dari Islam
    Tatkala Islam muncul pada abad ke VII mereka juga mendapatkan beberapa pengikut paham Mariamis sebelum paham ini lenyap seluruhnya. Islam menentang keras paham mereka dan trinitasnya (yang bukan Trinitas Kristen). Hal ini jelas dari ayat-ayat berikut ini:
    Surat Al Maida 116 – “Ingatlah ketika Allah berfirman; “Ya “Isa anak Maryam, adakah engkau katakan kepada manusia; Ambillah aku dan ibuku menjadi Tuhan, selain dari pada Allah.?”” Sudah jelas bahwa penolakan disini dimaksudkan menentang pengikut sekte Mariam yang mengatakan bahwa Maria adalah satu dewi, yang juga disangkal oleh Kekristenan.
    Surat Al An”am 101 – “Yang menciptakan langit dan bumi. Bagaimanakah akan ada bagi-Nya anak, sedang Dia tidak mempunyai isteri?” Demikian juga, ayat ini ditujukan pada penganut paham Mariam yang mengajarkan bahwa Maria adalah satu dewi, bahwa ia menjadi isteri Allah, dan melalui dia Allah memperanakkan seorang anak.
    Surat Al Ikhlas 1-4, “Allah yang dituju untuk (meminta hajat). Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan (berbapa). Dan tidak ada satupun yang menyerupaiNya. Ini merupakan jawaban terhadap paham Mariam yang yang berintikan “Adanya tiga allah” – Bapa, ibu dan anak, dan anak disini merupakan hasil hubungan jasmani.”
    Surat Al Maidah 73 – “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah, (Tuhan) yang ketiga dari tiga. Padahal tak adalah Tuhan, kecuali Tuhan yang Esa.” Hal ini menegaskan apa yang sudah dikemukakan dan bantahan terhadap inti ajaran Mariam – tentang adanya tiga allah!
    Anda dapat melihat dengan jelas melalui bahasan ini bahwa sebenarnya Islam tidak menyerang keyakinan Kristen bahwa Allah adalah Esa. Dia mempunyai satu sifat, menyampaikan Firman (Kalimat), hidup dalam Roh, seperti yang dikemukakan Al Qur’an, “Sesungguhnya Al-Masih, “Isa anak Maryam, hanya rasul Allah dan kalimat-Nya, ..beserta roh dari pada-Nya” (Surat An-Nisa” 171). Tetapi Islam menyerang trinitas yang lain, yakni trinitas paham Mariamis. Mereka menyerang yang memandang Maria yang diberkati itu sebagai dewi yang melahirkan Al-Masih dengan cara hubungan jasmaniah setelah Allah menikahinya.
    Kekristenan sangat membenci dan sungguh-sungguh menentang pemikiran ini dan mengucilkan pengikut-pengikutnya. Karena dasar keyakinan Kekristenan, yakni percaya pada satu Allah dalam satu Ketritunggalan; Bapa, Firman (Kalimat) dan Roh Kudus.

    Pasal V
    CAHAYA KARUNIA
    Table of Contents
    Bukti Roh
    Pengelompokan dalam Kegelapan
    Karunia Ilham
    Kasih yang Berkelimpahan
    Cahaya Iman
    Bukti Yang Agung
    BUKTI ROH
    Pembaca yang budiman, sejauh ini pembahasan telah disampaikan dengan bukti-bukti yang logis dan masuk akal dalam melihat kebenaran Ketritunggalan dan monotheisme dalam iman Kristen. Dengan kata lain, hikmat manusia telah digunakan sebagai dasar pembahasan. Namun, rasul Paulus memperlihatkan kepada kita bahwa iman tidak hanya oleh hikmat manusia, tetapi adalah bukti dan kuasa roh. Dia berkata, “Baik perkataanku maupun perbuatanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan tetapi dengan keyakinan akan kekuatan roh, supaya iman kamu jangan tergantung pada hikmat manusia, tetapi kepada kekuatan Allah” (I Korintus 2:4,5). Oleh sebab itu maafkanlah saya, sahabat yang budiman, karena istirahat sejenak dalam menggunakan hikmat manusia dan perkenankanlah saya menyampaikan kepada anda tentang bukti dari roh dan kuasa. Bukti dari roh terletak dalam hati dan bukan dalam akal budi. “Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Roma 10:10). Iman hati adalah akibat dari kasih karunia yang menerangi hati manusia dan memberikan kepadanya rahasia iman, kasih Allah, dan karya-Nya yang akbar bagi dia. Hal inilah yang menjadikan Dia mengambil rupa manusia dan berjalan menuju Kalvari, memikul salib yang hina itu untuk menebus orang-orang berdosa seperti saya ini. Saudara yang budiman, tahukah anda bahwa Tuhan telah siap untuk menyinari hati anda agar menyatakan kepada anda kemuliaan-Nya, karena Dia sungguh mencintai anda tanpa memandang dosa-dosa anda, kejahatan anda, dan penghujatan anda kepadaNya. Ia telah siap untuk mengampuni, memaafkan dan melupakan dosa-dosa anda. Datang saja kepadaNya dalam pertobatan dan penyerahan diri. Serahkanlah hati dan hidup anda kepadaNya. Anda dapat yakin sepenuhnya bahwa Dia tidak akan menolak anda. Dia berkata dalam janji-Nya yang benar, “Barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan Kubuang” (Yohanes 6:37). Datanglah kepadaNya dan buanglah semua dosa anda di hadapan-Nya, dan Dia akan menyucikan anda dari semua dosa anda. “Dan darah Al-Masih, anakNya itu menyucikan kita dari segala dosa” (I Yohanes 1:7). Berdoalah padaNya, “Oh Tuhan, angkatlah kegelapan dari hatiku; terangilah langkahku; tunjukkanlah kepadaku jalanMu; lindungilah aku dari yang jahat, agar tidak menggangguku.”
    Saudara yang budiman, selanjutnya saya akan memaparkan beberapa kenyataan rohani yang saya harap akan digunakan Allah untuk menyelamatkan jiwa anda dan akan menjadi satu berkat untuk hidup anda. Amin.
    PENGELOMPOKAN DALAM KEGELAPAN
    Tidak dapat disangsikan bahwa percaya pada akal budi saja untuk mengerti kenyataan-kenyataan iman adalah mustahil. Ilham ilahi berkata, “Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa? Tingginya seperti langit – apa yang dapat kau lakukan? Dalamnya melebihi dunia orang mati – apa yang kau dapat ketahui? (Ayub 11:7-8).
    Bagaimana mungkin satu pikiran yang terbatas ini mengerti Allah yang tidak terbatas? Orang berbudi berkata, “Engkau menyelidiki Tuhan yang mengatur segala yang ada tetapi engkau tidak akan pernah memahami rahasia hikmat-Nya, karena engkau tidak akan pernah mengetahui dalamnya hati manusia, dan pikiran-pikirannya, karena itu bagaimana engkau menyelidiki Allah yang mencipta segala yang ada dan bagaimana engkau mengetahui rencananya dan mengerti pikiran-pikiranNya?” Kata-kata rasul Paulus menegaskan, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan?” Atau siapakah yang pernah menjadi penasihatNya? (Roma 11:34-35). Seandainya ada beberapa orang yang tidak menyadari hal ini, maka mereka akan tersesat dari iman dan hilang dalam kegelapan pekat. Berikut ini beberapa contoh dari bidang filsafat, Kekristenan dan Islam.

    Filsafat
    Filsafat berdasarkan pikiran dan membicarakan hal-hal yang abstrak, sebab itu kita temui pertentangan-pertentangan dan perbedaan-perbedaan di antara usaha para filsuf (ahli pikir) itu sejak berabad-abad lamanya. Di antara filsuf-filsuf itu ada orang beriman ada yang tidak beriman. Pemikir bangsa Inggeris Carlyle (1795- 1881) merupakan satu contoh dari pengelompokan manusia dalam kegelapan pikiran manusia. Mulanya Carlyle adalah seorang beriman. Kemudian ia membaca filsafat Hume dan lain-lain yang bersifat skeptis. Dia diyakinkan oleh pandangan-pandangan mereka dan imannyapun lenyap. Sementara ia masih berkemauan untuk menyelidiki dan meneliti dengan cermat, dia membaca Shiller, Goethe dan Fichte dan dicegah oleh pandangan mereka, ia berubah sikap dan kembali pada iman. Setelah kembali pada iman, Carlyle menjadi yakin akan kenyataan kekal ini, yang telah dibuktikannya melalui pendalaman dan penyelidikan yang panjang: “Pikiran bukan lagi sumber pengetahuan yang benar, dan hati telah menjadi sumber itu.” (Yusuf Karam, History of Modern Philosophy, hal.322).

    Kekristenan
    Banyak penganut aliran sesat, yakni orang-orang yang telah meninggalkan iman Kristen, ingin memusatkan kenyataan-kenyataan iman pada ukuran akal budi. Mereka membuang diri mereka pada satu keadaan yang sungguh berbahaya. Mereka adalah Arius, Makedonius dan Nestorius. Arius tidak menerima kemungkinan penampakan Allah dalam satu tubuh manusia. Ia menyangkal akan keilahian Al-Masih. Kemudian bapak-bapak gereja dan seluruh pimpinan gereja dari seluruh dunia mengadakan satu sidang dan membicarakan masalah ini berdasarkan ajaran-ajaran Kitab Suci. Mereka menghukum dan membuang Arius. Mereka menolak ajarannya karena bertentangan dengan iman.

    Islam
    Banyak sekte-sekte muncul dalam Islam dengan kepercayaan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, Al Khawaridji, Al Shia dan Al Nusayriyya menganggap Ali ibnu Talib menjadi allah.
    Al Djabriyyah, Al Mutazila dan Al Kadariyya menyangkal kwalitas Allah. Al Asha”ira al Mutridiyya, Al Zaidiyya, al Imamiyya dan al Isma”iliyya, berkata bahwa dunia ini mempunyai dua direktur. Direktur pertama adalah Allah dan yang kedua adalah jiwa, dan mereka mengijinkan masalah-masalah di luar hukum.
    Al Baha”iyya memandang pemimpin mereka adalah Baha”Allah, suatu allah. Kaum Druz menganggap “Al Hakim bin “Amir Allah al Fatimi” sebagai allah.
    Bukankah ke semuanya ini menyatakan bahwa akal budi sangat membutuhkan cahaya rahmat dan cahaya iman?

    KARUNIA ILHAM
    Tidak seorangpun yang sanggup mengenal Allah dengan kekuatan, akal budi atau hikmatnya sendiri. Masalah ini sangat membutuhkan pernyataan ilahi agar dalam kegelapan pikirannya, manusia dapat mengetahui rahasia yang tersembunyi dari terbatasnya pikiran manusia. Beberapa filsuf memahami pentingnya rahmat ini dan menyebutnya teori pencerahan. Seorang filsuf pernah berkata: “Adalah mungkin mengenal Allah dengan mensyukuri terang dari Allah. Allah adalah guru yang tersembunyi. Dia adalah terang yang sesungguhnya yang menerangi setiap manusia di dalam dunia ini.” (Yusuf Karam, History of European Philosopy in the Middle Ages, hal.32).
    Alkitab membicarakan dua masalah ini: ketidakmampuan manusia dan kebutuhan akan ilham. Alkitab menggambarkan ketidakmampuan akal budi memahami hal-hal ilahi dalam kitab Ayub. “Tingginya seperti langit – apa yang dapat kau lakukan? Dalamnya melebihi dunia orang mati – apa yang dapat kau ketahui? Lebih panjang dari pada bumi ukurannya, dan lebih luas dari pada samudera” (Ayub 11:8-9). Ayub juga berkata, “Selidikilah Tuhan, penguasa segala yang ada, maka engkau tidak akan mengerti rahasia hikmatNya…. Bagaimana engkau menyelidiki Allah dan dan mengetahui pikiranNya dan memahami rancanganNya. “Rasul Paulus berkata: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya! Sebab siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihatNya!” (Roma 11:33-34). Sesungguhnya sudah jelas bahwa manusia tidak mampu mengenal hal-hal mengenai Allah.
    Kita sangat membutuhkan rahmat ilham itu atau “terang Allah” untuk mengungkapkan kepada kita rahasia hikmatNya, seperti yang dikatakan dalam Alkitab, “Dan memberitakan kepadamu rahasia hikmat” (Ayub 11:6).
    Saudaraku yang budiman, Allah siap untuk menyatakan diriNya kepada anda. Anda dapat melihat hal ini dalam doa Al-Masih, “Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Matius 11:25). Barangkali anda dapat menangkap dari doa ini bahwa cahaya rahmat dinyatakan pada orang sederhana yang digambarkan sebagai “orang kecil”. Mereka yang rindu memahami rahasia-rahasia tersebut dengan akal budi dan hikmat tidak akan mencapai pengertian. Allah Bapa telah menyatakan rahasia iman ini kepada rasul Petrus. Petrus berkata, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup,” dan Al-Masih menjawabnya, “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan hal itu kepadamu, melainkan BapaKu yang di sorga” (Matius 16:16-17).
    Saudaraku, Al-Masih sendiri bersedia menyatakan sifatNya kepada anda dan menyatakan rahasia iman. Dia berkata, “Dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu” (Lukas 10:22). Anak menyatakan rahasiaNya dengan murah hati kepada rasul Paulus. Paulus berkata, “Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh pernyataan Al-Masih” (Galatia 1:12).
    Roh Kudus dalam rahmatNya yang penuh sekarang ini sedang giat dalam dunia menyatakan jalan iman kepada setiap orang, agar ia dapat menikmati persekutuan rahmat dan mengenal Tuhan dengan baik. Hal inilah yang dijelaskan rasul Paulus dengan berkata, “Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan. Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia. Tetapi seperti ada tertulis: “Ada yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia; semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” Karena kepada kita Allah telah menyatakan oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. Siapa gerangan di antara mereka yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah. Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh. Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani. Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain. Sebab: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasehati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Al-Masih” (I Korintus 2:6-16).
    Ayat-ayat ini menjelaskan kepada anda satu pokok yang sangat penting dan mendasar; adalah perlu mengubah manusia duniawi menjadi manusia rohani supaya dia dapat menerima dan mengetahui seluk beluk Allah. Mohonlah kepada Tuhan untuk menginsafkan anda dan menyatakan diriNya kepada anda, dan pasti Dia akan menjawabnya karena Dia rindu agar semua manusia diselamatkan dan sampai pada pengenalan akan kebenaran.
    KASIH YANG BERKELIMPAHAN
    Seorang filsuf yang terkenal berkata: “Manusia tidak mampu dengan kekuatan alamiahnya untuk mencapai sifat Allah, tetapi Allah, Dialah yang menarik manusia datang kepadaNya dan membangkitkan membangkitkannya pada satu kecemerlangan yang tidak dapat dipahami oleh akal budi” (Yusuf Karam, History of European Philosophy in the Middle Age, p.54). Kenyataannya tidak seorangpun dapat datang kepada Allah kecuali ditarik olehNya.
    Seperti yang dikatakan Al-Masih, terpujilah namaNya, berkata, “Tidak seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa.” Ketika puteri Salomo mengetahui rahasia ini ia berseru, “Tariklah aku dibelakangmu, marilah kita pergi cepat-cepat” (Kidung Agung 1:4). Tuhan menarik kita pada diriNya dengan kasih dan sayangNya. Ketika jiwa manusia teringat akan kepenuhan kasih Allah untuknya, maka ia akan diliputi sukacita oleh kasihNya; rasul Yohanes berkata, “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (I Yohanes 4:19).
    Belumkah anda sadar akan kasih Allah yang telah dikerjakan bagi anda? Rasul Paulus berkata, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Al-Masih telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8). Kasih telah menyebabkan Dia mengambil satu tubuh manusia dan berjalan di jalan menuju Kalvari, sambil memikul salib, untuk membayar semua hutang saya dan anda. Hukuman dosa yang selayaknya menjadi bagian kita adalah maut. Dengan satu rahasia rohani yang mulia, Al-Masih memasuki kubur yang menakutkan itu dan memadamkan api yang menyala-nyala, dan membukakan pintu harapan kepada kita dan jalan kemuliaan. Ketika Dia mengalahkan kuasa maut dan rantai dosa melalui kebangkitanNya, Dia pergi membawa kasih yang agung untuk menyiapkan satu tempat bagi kita dalam kerajaanNya yang akan diberikannya dengan senang hati kepada kita (Lukas 12:32). Kekasih itu akan segera datang menjemput kita, “Supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada” (Yohanes 14:2-3).
    O, kasih ilahi! Sungguh satu hak istimewa yang besar telah diberikan kepada kami dan martabat mulia telah di berikan, dan dengan kasih yang luhur engkau telah menarik kami. Saudaraku, anda tidak akan mengenal Allah kecuali melalui kasih. Ibadah bukanlah sekedar ajaran-ajaran, keyakinan, teori atau tugas-tugas agama, tetapi itu adalah kasih yang sungguh pada tingkat yang tertinggi. Allah bukanlah satu “gambar” yang dibuat atau dikhayalkan oleh pikiran-pikiran manusia. Dia tidak dapat disimpulkan oleh orang soleh dan analisa akal budi dengan teori-teori para ahli pikir (filsuf) dan ahli-ahli teologia dalam batas-batas pandangan dan pengertian mereka. Tetapi seperti yang dikatakan oleh rasul, “Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia” (I Yohanes 4:16). Sudahkah hati anda diikat dengan kasih Allah? Sahabatku yang budiman, janganlah disusahkan oleh teori-teori dan perdebatan-perdebatan, tetapi cukup melakukan apa yang dikatakan orang kudus Agustinus, “Mengasihilah dan lakukanlah apa yang anda kehendaki, karena Allah itu kasih adanya”.
    CAHAYA IMAN
    Apabila kasih karunia menerangi hati manusia, dia akan diterangi oleh cahaya iman. Tidaklah mungkin bagi manusia mencapai iman yang benar tanpa terang kasih karunia, seperti yang ditegaskan Alkitab dalam Yesaya 60:1-3, “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaannya menjadi nyata atasmu. Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit atasmu.”
    Rasul Paulus berkata, “Sebab Allah yang berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!” Ia juga yang membuat terangNya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Al-Masih” (II Korintus 4:6).
    Demikianlah kasih karunia bersinar dan Saul diterangi dengan cahaya iman, dan kemudian dia menjadi rasul Paulus, pemikir Kekristenan.
    Kasih karunia juga bersinar dalam hidup Shaik Mikha”il Mansur. Selanjutnya merupakan ringkasan tentang apa yang ditulis oleh adiknya, Shaikh Kamil Mansur tentang dia. Mikha”il, anak Mansur, dilahirkan di kota Suhadj pada bulan Maret 1871. Ia menerima pendidikan agama dari pemimpin-pemimpin agama. Sesudah pendidikan ini dia menghabiskan setiap malam menyelidiki rahasia-rahasia ilahi.
    Pada tahun 1893 ia mendapatkan satu ide untuk membahas agama Kristen, dan memohon ijin dari guru besarnya untuk bersoal jawab atau berdebat dengan umat Kristen; tetapi dia tidak diijinkan, karena takut nantinya mahasiswa ini akan menjadi besar kepala dan sombong. Pada akhirnya ia memulaikan juga perdebatan dan soal jawab dengan orang-orang yang mengerti agama, dan perdebatan seringkali begitu panjang dan hampa. Satu hari ada seorang berkata kepadanya, “Setiap orang seharusnya memohon bimbingan Allahnya, dan saya sarankan anda untuk memohon kepada Allah untuk membimbing anda pada kebenaran,” tetapi dia menghina kata-kata ini dengan mengatakan kepadanya, “Apakah saya ragu dengan iman saya? Mustahil!” Namun setelah meninggalkannya, ia merenungkan apa yang disarankan orang itu untuk dilakukan, “saya sarankan anda memohon kepada Allah untuk kebenaran.” Kasih karunia Roh Kudus mulai bekerja dalam hatinya. Tingkat keraguan imannya berkembang pada tingkat sehingga ia nampak sebagai seorang yang diganggu karena gangguan jiwa. Ia nampak pucat dan mulai menyerahkan dirinya membaca Kitab Suci, mencari kebenaran ilahi….Sesudah satu jangka waktu, tanda-tanda kesenangan dan sukacita nampak diwajahnya karena cahaya Penebus telah mengalahkannya dan matahari kebenaran telah menerangi jiwanya.
    Al-Masih dengan dalam kemuliaan nampak kepadanya dalam kasihNya yang luar biasa, prinsip-prinsip yang agung, dan keindahan ajaran-ajaranNya. Dia belajar bahwa hanya Al-Masih jalan, kebenaran dan hidup, dan manusia adalah berdosa, bodoh, dan diperhamba, dan hanya dapat diselamatkan oleh Al-Masih. Ingatan saya telah melupakan banyak hal. Namun, saya tidak dapat dan tidak akan melupakan kesukaan yang luar biasa yang memenuhi hatinya, kebahagiaan yang luhur yang terpancar dari wajahnya, dan air mata yang membasahi pakaiannya karena kesukaan yang luar biasa itu, sewaktu pertama kali saya bertanya kepadanya tentang Injil. Benar sekali untuk mengatakan bahwa pada awalnya, saya sendiri merasa malu dengannya, terkadang saya mohon orang lain mendoakannya, agar dia dapat berubah dan berbalik lagi. Sering saya mencari orang-orang pintar dan terpandang dalam pendidikan untuk dibawa kepadanya agar mereka dapat menyadarkan dia kembali. Pernah juga saya menemui beberapa dukun untuk melayani dia. Tetapi yang saya temui bahwa dia tetap teguh bagaikan gunung tinggi dalam Al-Masih, dan menemukan bahwa setiap aniaya dapat ditanggung dalam kasihNya. Saya terus dengan sungguh mempertimbangkan apa rahasianya. Saya tahu dengan pasti bahwa dia tidak mempunyai maksud duniawi. Kesetiaannya kepada Kekristenan telah jelas bagi saya; dan demikian juga, saya menemui diri saya di dorong untuk meminta Kitab Injil darinya, demikianlah ia memberikannya dengan suka-cita. Kami bersyukur kepada Allah karena telah memakai dia membimbing banyak orang berdosa, dan yang pertama di antara mereka adalah saya sendiri, bagi kemuliaan Penebus itu.”
    BUKTI YANG AGUNG
    Apabila manusia ditarik oleh kuasa kasih karunia pada lipatan iman, maka dia tidak lagi membutuhkan satu bukti atau satu bukti logis untuk menguatkan kebenaran-kebenaran iman, karena kesaksian itu sudah ada dalam hatinya, karena ia menyadari bahwa Allah hidup dalam dia, dan Dia telah mengubah hidupnya. Ia tidak lagi mencari Allah di luar dirinya. Agustinus, seorang ahli pikir (filsuf) yang terkenal setelah menerima iman berkata, “Ya, aku telah menemukan dan memahamimu. O, betapa beruntungnya aku dan diberkatinya aku! Tadinya aku mencari engkau dari hal-hal yang ada di luar! Tetapi semuanya hampa, karena aku menemui engkau dalam jiwaku, dalam hatiku sendiri! Dan kini aku sedang memeluk Engkau dan melihat Engkau.” (Agustinus, Confessions).
    Orang percaya (beriman) adalah dia yang telah melihat Tuhan dan dilingkupi Tuhan dalam hidupnya yang dibuatNya sungguh bertobat. Dia mengubahnya dari manusia yang penuh hawa nafsu, menjadi seorang yang rohani, kudus dan menarik. Orang percaya melihat Tuhan dalam hatinya yang sudah dibersihkan dari kotoran dosa, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8). Sesudah pekerjaan kasih karunia, iman bukan lagi sekedar iman akal budi yang mempercayai hal-hal yang tidak kelihatan, yang kekurangan kenyataan dan bukti, tetapi adalah satu iman dari pengalaman, yang mengubah srigala menjadi seekor anak domba; inilah bukti nyata yang paling akbar dari kebenaran iman itu.

    Pengalaman orang Saleh Musa al Aswad.

    Orang saleh Musa al Aswad adalah pembunuh sadis dan pemimpin dari satu kelompok bandit yang kafir. Kasih karunia mulai menerangi hatinya. Kemudian ia menemui seorang bijaksana, orang beriman yang sudah tua dan berkata kepadanya, “Saya dengar bahwa bapak adalah penyembah Allah yang benar; itulah sebabnya saya lari dan menemui bapak, agar Allah yang telah menyelamatkan bapak dapat menyelamatkan saya juga. Ceritakan dan jelaskanlah kepada saya tentang Allah itu.” Orang kudus itu bertanya, “Apakah Allahmu?” Jawabnya, “Saya tidak mengenal satu Allah pun kecuali matahari, sebab apabila aku memandangnya, saya temui bahwa ia menerangi dunia dengan sinarnya; termasuk bulan dan bintang-bintang, yang memiliki rahasia-rahasia aneh; juga lautan dan keperkasaannya…Tetapi kesemuanya itu tidak memuaskan jiwaku, dan saya tahu bahwa ada Allah yang lain yang lebih besar dari semuanya ini yang belum saya kenal. Saya berkata, “Ya, Tuhan! Yang hidup dalam surga, yang mengatur semua ciptaan, bimbinglah hamba kepadaMu sekarang juga, dan biarlah hamba mengetahui apa yang dapat memuaskanMu.” Itulah sebabnya saya menemui bapak, agar bapak dapat menjelaskan kepada saya dan mendoakan saya kepada Allah agar Dia jangan menurunkan murkaNya kepada saya karena perbuatan-perbuatan jahatku.”(Archives of the Coptic Museum, hal.496).
    Orang saleh yang tua itu mulai memberitakan firman Allah kepadanya, dan mengatakan kepadanya tentang penghukuman, keselamatan dan kasih Allah pada orang-orang berdosa. Pekerjaan kasih karunia disempurnakan dalam hatinya, dan Tuhan menyinari hatinya, dan air mata pertobatan mengalir, dan wajahnya memancarkan cahaya iman. Musa al Aswad, seorang biadab, menjadi seorang saleh, salah satu di antara tokoh-tokoh iman yang besar.
    Siapakah yang mengubah srigala ini menjadi seekor anak domba? Sungguh satu pekerjaan kasih karunia yang luar biasa. Siapakah yang membuat dia memahami iman? Allah menembusi hidupnya dan lewat jamahan tanganNya yang Maha Kuasa itu telah mengubah dia secara menyeluruh.

    Pengalaman Jibran

    Jibran dibesarkan dalam satu keluarga yang fanatik dalam agama dan ayahnya bertanggung jawab mengajarkannya asal mula agama. Sesaat sesudah ayahnya meninggal, pemuda ini membuang semua pantangan dari latar belakang ini dan terjun dalam kejahatan. Untuk mengatasi ini, keluarganya menempatkan dia pada satu asrama sekolah. Di sekolah itu ada seorang siswa bernama Mikhael, yang sungguh menderita dalam perlakuan Jibran. Ketika hari perayaan sekolah itu tiba, Jibran, karena ingin menyusahkan Mikhael, merencanakan untuk membuat dia mengangkat semua kursi yang dibutuhkan. Untuk itu ia membuat seolah-olah pimpinan sekolah yang memberikan perintah itu. Kemudian ia menemui Mikhael, dan ia melihat dia sedang melompati tembok sekolah dan masuk ke dalam hutan dekat sekolah itu. Menurut sangkanya, Mikhael ingin menghindari tugasnya. Karena itu ia membuntutinya, dan melihatnya memasuki satu tempat di mana ranting-ranting dibuat menjadi satu pondok kecil.
    Dengan diam-diam Jibran bersembunyi dibalik pohon agar menemuikan rahasia dibalik pondok ini. Tiba-tiba ia melihat Mikhael menyalakan lilin kecil. Kemudian ia berlutut, dan Jibran mendengar dia berbicara dengan suara rendah. Lalu ia melihat dia mengeluarkan sebuah buku kecil dari kantongnya dan membacanya. Selesai membaca, Jibran melihat dia mengangkat wajahnya ke depan, dan dia melihat air mata mengalir dari matanya dan suaranya kedengaran seperti menangis. Sesudah itu ia mematikan lilin dan kembali ke sekolah. Jibran mengikutinya dari jauh.
    Ketika Mikhael memasuki sekolah, Jibran membuntutinya dan mendekap kedua pundaknya dan bertanya kepadanya, “Dari mana kau?” Jawabnya adalah, “Tadi saya menyembah Tuhan saya.” Katanya lagi kepadanya, “Engkau pembohong. Aku melihatmu dan membuntutimu saat kau melompati pagar dan memasuki sebuah pondok kecil dan mulai bernyanyi dan membaca kitab kecil, dan engkau menangis. Ini tanda-tanda kesedihan.” Mikhael menjawab dengan cepat, “Saya tidak sedih, dan saya tidak bernyanyi, tetapi saya sedang bernyanyi untuk Tuhan. Apa yang saya baca adalah Injil. Sesudah itu saya berdoa kepada Tuhan saya untuk mengampuni dosa-dosa saya dan menolong dalam kehidupan saya.” Jibran berkata, “Dapatkah saya melihat Injil itu?” Dia memberikan Injil itu kepadanya, tetapi Jibran sudah belajar dari ayahnya bahwa orang yang menyentuh Injil dari umat Nasrani, maka tangannya akan lumpuh atau akan menjadi gila. Tetapi pemandangan yang baru saja disaksikan Jibran telah mendorong dia untuk mempelajari rahasia penyembahan ini yang mendorong manusia memasuki hutan dan menyembah. Dia menjepit Injil dengan jari-jarinya, sambil berpikir seandainya ia menjadi lumpuh, dia akan membuangnya dan menghindar dari bahaya. Tetapi dia tidak merasakan sesuatu dari apa yang telah diajarkan itu, dan ia mengambil Injil itu dan mohon izin Mikhael untuk membacanya. Jibran membaca Injil itu semalaman tetapi ia tidak dapat mengerti apa-apa.
    Saat matahari terbit ia mendapatkan Mikhael dan membangunkannya dan bertanya tentang yang tidak ia pahami. Mikhael mulai menjelaskan, tetapi tetap saja Jibran tak dapat mengerti. Lalu Mikhael menutup kitab itu dan berkata kepadanya, “Secara singkat saya ingin katakan kepadamu tentang isi kitab Injil.” Kebenaran pertama – Manusia adalah berdosa. Anda dan saya juga orang berdosa. Kebenaran kedua – Hukuman bagi dosa-dosa kita adalah penderitaan kekal di neraka. Kebenaran ketiga – Karena kasih-Nya, Allah mengutus untuk menebus kita dari dosa, dan Dia telah disalibkan ganti kita. Kebenaran keempat – Jika anda percaya ini dan bertobat dari dosa-dosamu maka Tuhan akan menerima anda dan menyelamatkan anda dari api neraka yang kekal.
    Kata-kata ini sederhana tetapi diurapi dengan kasih karunia dan disampaikan dari pengalaman. Di sinilah tangan Allah bekerja dalam hati Jibran, dan terjadilah mujizat. Wajah pemuda itu bersinar, dan dia berkata, “Saya percaya,” dan keduanya berdoa. Peristiwa dan pengalaman silih berganti dalam hidup dari Jibran yang sesakitan itu dan telah mengubah dia menjadi orang yang berhati lembut, hamba yang diberkati di ladang Tuhan. Ia telah menjadi berkat bagi banyak jiwa yang percaya dan orang lain.
    Inilah pekerjaan ajaib dari kasih karunia dan bukti yang akbar dari kebenaran iman kita yang kudus. Kerinduan saya, agar Allah bekerja dalam hidup anda, sahabatku yang budiman, agar anda dapat menjadi seorang anak Tuhan Allah, dan menjadi seorang saksi setia bagi Tuhan yang telah mengasihi dan menebus kita dengan darahNya.

    KESIMPULAN
    Table of Contents
    Saudara yang budiman, barangkali anda telah menangkap arti dari Tritunggal kami umat Kristen. Barangkali juga anda sudah menjadi yakin bahwa kami tidak menyembah tiga allah. Kiranya dijauhkan itu dari kami! Kami hanya percaya kepada satu Allah, berada dalam diriNya, menyampaikan firmanNya (kalimatNya), dan hidup dalam RohNya. FirmanNya (kalimatNya) berdiam dalam Maryam yang diberkati dan telah mengambil darinya satu tubuh manusia, yakni Isa Al-Masih (Yesus Kristus), yang telah hidup di bumi kita ini, dan telah mengerjakan dengan sempurna keselamatan kita.
    Dalam buku kami yang kedua tentang “Al-Masih Anak Allah”, kami akan membahas secara rinci tentang iman kami kepada Al-Masih yang hidup, dan rahasia inkarnasi (penjelmaan) ilahi. Buku yang kedua itu mirip seperti buku ini.

    Saudara yang budiman, saya berdoa kepada Tuhan agar menjadikan terangNya bersinar dalam hati anda, untuk menyatakan kepada anda rahasia ajaib ini, karena hal-hal tentang Allah hanyalah bisa diselidiki oleh Roh Allah. Maukah anda untuk memohon kepadaNya, pertama-tama untuk menyadarkan anda, dan melayakkan anda menerima pekerjaan kasih karunia dalam hidup anda, agar anda boleh menjadi anak Allah, dan menjadi anggota dari sifat-sifat keallahan ini. Kemudian dengan Roh anda akan dapat memahami apa yang tidak dapat di pahami akal budi. Kiranya Allah melindungi dan menyertai anda!

    Cahaya Islam responded:
    Juli 22, 2007 pukul 11:48 pm

    Salam…………

    Artikel yang sangat panjang , cukup sekiranya kami menanggapi persoalan yang dianggap penting untuk dikemukakan. Secara singkat, anda menyatakan menyembah satu Tuhan,tapi kenyataan tidaklah demikian yang kami pahami. Kami belum bisa menangkap arti Tritunggal yang anda paparkan. Selain itu ada beberapa sanggahan lain dari kami tentang pengertian tritunggal ini dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Diantaranya:

    1. Manakah yang dominan memiliki sifat ketuhanan dari tritunggal tersebut?

    2. Saya pernah membaca dalam sebuah artikel, disebutkan ketika Isa disalib(menurut apa yang tertulis dalam injil anda) Isapun meminta pertolongan kepada Tuhannya. Kita bertanya tentang hal ini, mengapa Isa disini butuh pada pertolongan? Bukankah ia sendiri sudah memiliki sifat ketuhanan, masih memerlukan pertolongan? Ketika ia membutuhkan pertolongan berarti ia makhluk bukannya Tuhan.

    3. Mengapa Tuhan hanya menjelma pada tubuh Isa, tidak kepada tubuh yang lain? Atau mengapa Isa telah terpilih menjadi anak Tuhan, tidak nabi-nabi yang lain? Anda menyakini kenabian Ibrahim as. Nabi Ibrahim mendapatkan gelar Al-Khalil yang berarti kekasih Allah. Tidakkah sepantasnya kedudukan nabi Ibrahim as untuk menjadi anak Tuhan? Juga nabi Musa as yang mendapat gelar Kalimatullah. Tidakkah beliau as juga berhak mendapat gelar demikian?

    4. Berada dalam diriNya sendiri, Ia menyatakan diriNya sebagai Bapa. Dalam pengertian kata Bapa, mempunyai ikatan dengan kata anak dan ibu. Dimanakah ibu dalam diriNya?
    Dalam konteks kalimat: Berbicara dalam FirmanNya. Ia menyatakan diriNya sebagai Anak, yakni Firman. Bukan sebagai sifat (dalam pengertian rohani). DiriNyapun akan terpisah dari FirmanNya. Jadi FirmanNya bukan diriNya.
    Hidup dalam RohNya, Ia menyatakan diriNya sebagai Roh Kudus. DiriNya bukan selainNya. Namun Roh Kudus disini, mempunyai makna selainNya.

    5. DiriNya, berbeda dengan selainNya. Terbukti dengan Al-Masih sebagai anak Tuhan bertempat di bumi, yang berbeda tempat dari diriNya.

    6. Diantara Tritunggal, sekiranya Tuhan Bapa sebagai pencipta alam. Apa peran dari anak Tuhan dan Roh Kudus?

    Dalil-dalil dalam artikel yang anda kemukakan, bukannya menunjukkan pengakuan atas monoteisme ajaran nasrani tersebut, melainkan kebatilan ajaran mereka, dan penekanan terhadap kebenaran Islam. Inilah kebenaran dalil tersebut:

    1. Pengertian surat Al –Ankabut ayat 46, yang benar adalah:
    “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan Katakanlah: “Kami Telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami Hanya kepada-Nya berserah diri”.

    yang dimaksud dengan orang-orang yang zalim ialah: orang-orang yang setelah diberikan kepadanya keterangan-keterangan dan penjelasan-penjelasan dengan cara yang paling baik, mereka tetap membantah dan membangkang dan tetap menyatakan permusuhan.

    Disini Islam ingin menyadarkan umat nasrani untuk kembali ke jalan yang benar, dalam pengertian bahwa agama Islam adalah agama tauhid yang sesungguhnya.

    2. Surat Al Imran ayat 113-114, berbunyi: “Mereka itu tidak sama; di antara ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus[1], mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang).
    “Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf, damencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu torang-orang yang saleh”.
    1] Yakni: golongan ahli Kitab yang Telah memeluk agama Islam.

    3. Surat An-Nisa” 171, “Sesungguhnya Almasih, “Isa anak Maryam, hanya rasul Allah dan kalimat-Nya.”171. Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu[1], dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya[2] yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya[3]. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari Ucapan itu). (itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. cukuplah Allah menjadi Pemelihara.
    [1] Maksudnya: janganlah kamu mengatakan nabi Isa a.s. itu Allah, sebagai yang dikatakan oleh orang-orang Nasrani.
    [2] Maksudnya: membenarkan kedatangan seorang nabi yang diciptakan dengan kalimat kun (jadilah) tanpa bapak yaitu nabi Isa a.s.
    [3] disebut tiupan dari Allah Karena tiupan itu berasal dari perintah Allah Swt.

    4. Surat Al-Imran ayat 45:
    (ingatlah), ketika malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat[1] (yang datang) daripada-Nya, namanya Al masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),
    [1] Maksudnya: membenarkan kedatangan seorang nabi yang diciptakan dengan kalimat kun(jadilah) tanpa bapak yaitu nabi Isa a.s.

    Sekiranya cukup sebagai contoh melalui penafsiran secara benar ayat-ayat diatas.

    5. Dalam artikel yang anda sajikan, saudara mengajak untuk menerima keimanan trinitas walaupun diluar batas jangkauan akal. Disini kami katakan, bagaimana mungkin kita tidak menerima argmentasi akal. Karena akal satu-satunya sarana yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk berfikir dan mengemukakan dalilnya. Sebuah contoh realitas dalam kehidupan kita: Seorang hakim ketika menerima tuntutan seorang tersangka, harus mengajukan bukti-bukti (dalil). Tidak mungkin seorang tersangka mengatakan: “Percayailah kami dahulu, baru kami akan mengemukakan dalil-dalilnya”.
    Para nabi dan akal, kedua-duanya sebagai adalah hujjah manusia sebagai sarana untuk menuju ketaatan kepadaNya. Jikalau sarana tersebut ditiadakan, maka Tuhan berlaku zalim terhadap manusia. Mustahil, bagiNya untuk berbuat demikian.

    6. Terhadap sekte-sekte Islam yang menuhankan hambaNya, kamipun menganggap kebatilan sekte-sekte tersebut.

    Inilah jawaban yang dapat kami paparkan, sekiranya cukup untuk mengkaji kembali konsep trinitas yang anda yakini, dan mohon maaf jika kurang berkenan di hati anda. Mengingat artikel yang anda ajukan sangat panjang, jika terdapat poin penting lainnya yang belum sempat kami jawabnya mohon diringkas dan ditanyakan kembali.

    Terima kasih.

    swt said:
    Agustus 5, 2007 pukul 8:54 am

    Syaloom..

    Memang saya akui bahwa Tritunggal sulit di terima oleh akal sehat manusia, karena itu butuh pengertian, kebijaksanaan dari ALLAH tuk mengerti akan hal ini.
    Tritunggal yang di jelaskan saudara pekik tadi sudah benar adanya.

    Tritunggal adalah sifat ALLAH yang sangat tinggi hakekatnya.

    Di dalam Kristen kami tidak mengenal ALLAH itu tiga jika seandainya memang, dengan senang hati saya akan masuk islam.

    Di dalam Kristen kami menganal sifat – sifat ALLAH yaitu, sifat ALLAH sebagai Bapa yang menciptakan Alam semesta, bumi, manusia, dan lain – lain. Sifat ALLAH sebagai Anak atau Firman ALLAH yang datang ke dunia menebus dosa – dosa manusia. Sifat ALLAH sebagai Roh Kudus yang menyertai, memberkati, melindungi, dan menuntun manusia hingga kesudahan jaman.

    Contohnya, air dia dapat berubah wujudnya seperti membeku, mencair, dan menguap tapi tetap aja satu zat

    Memang agak sulit di terima akal manusia tapi itulah kuasa ALLAH, Dia adalah Maha Tahu. Untuk mengerti hal ini jangan kita hanya memandang dari satu sudut pandang saja tapi dari sudut pandang yang berbeda juga dan orang yang ingin mencari atau pengen mengenal Tritunggal bukan karena ingin mencari kelemahan, tapi untuk di mengerti. Karena sekuat – kuat apapun kami kaum Ahli kitab berbicara tentang kebenaran & kasih dari keyakinan kami namun, bila anda mengeraskan hati anda bagaikan batu, bagaimana anda saudara kaum muslim mau mengerti?

    Kita adalah satu keturunan dari Nabi Ibrahim Yahudi & Ahli kitab dari ishak sedangkan Islam dari Ismail.
    Bagaimana mungkin saudara saling menyerang tentang Keilahian ALLAH yang sebenarnya yang kita sembah sama seperti yang Ibarahim sembah yaitu ALLAH yang memanggilnya keluar dari rumahnya.

    Terima kasih bila anda mau mengakui bahwa Kristen tidak menyembah banyak allah namun satu ALLAH Yang Maha Esa.

    Cahaya Islam responded:
    Agustus 5, 2007 pukul 4:24 pm

    Salam,

    Anda mengakui bahwa trinitas bertentangan dengan akal sehat. Kemudian, jika boleh kami mempertanyakan: Apa maksud anda mengatakan bahwa untuk memahami ini perlu adanya kebijaksanaan dari Tuhan? Sedangkan kebijaksanaan dari Tuhan itu sendiri bermakna ketika Ia memberikan sebuah syariat kepada manusia, tidaklah membingungkan dan memberatkan atas diri manusia serta haruslah bisa dipahami dengan akal sehat, sebagai hujjah (petunjuk) yang ada pada diri manusia. Akal sehat merupakan sebuah sarana (petunjuk batin) yang Allah berikan kepada manusia, yang dengannya bisa memahami sebuah ajakan menuju jalan yang benar. Sarana kedua (petunjuk zhahir/luar) yang Allah berikan kepada manusia yaitu diutusnya para nabi untuk umat manusia sebagai mengarahkan manusia menuju jalan yang benar. Dengan kedua sarana petunjuk ini, seorang hamba dapat mengunakannya untuk menuju ketaatan-Nya. Jika seandainya manusia masih membangkang terhadap perintah-Nya setelah sarana tersebut diberikan, Allah berhak menghukum hamba tersebut. Dan jika kedua sarana ini ditiadakan maka Tuhan telah bertindak zalim terhadap menghukum hamba-Nya. Dikarenakan, bagaimana mungkin ia akan menghukum hamban-Nya jika seandainya kedua sarana untuk menuju ketaatan kepada-Nya dihilangkan atau ditiadakan.
    Dan bukankah orang-orang yang bertindak sewenang-wenang dan melakukan kezaliman, sering kita sebut sebagai orang yang tidak menggunakan akal sehatnya?

    Al-Masih bukanlah sifat Tuhan, dikarenakan ia hidup di bumi sedangkan sifat Tuhan Bapa ada ditempat-Nya, keduanya adalah zat yang berdiri sendiri dan masing-masing memiliki ruang dan tempat. Yang disebut dengan sifat , jika disebut Maha Pencipta , Penolong, Memberi Rizki , Penyayang……..dsbnya.
    Jika Tuhan Anak disebut sifat Allah maka kenapa ia membutuhkan pertolongan kepada Tuhan Bapa sewaktu ia disalib? Jadi, Tuhan Anak sendiri tidak mempunyai sifat Ketuhanan?

    Kalau pun perumpamaan Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Ruhul Kudus sebagai sifat2 Tuhan dan pemberian contoh sifat Allah seperti membeku, mencair dan menguap adalah sifat air dan masih disebut air dalam satu zat. Cukup kami memberikan dua dalil untuk membantah hal ini:

    1. Membeku, mencair dan menguap adalah mempunyai sisi perbedaan bentuk dan keadaan. Masing-masing sifat mempunyai sisi perbedaan. Kami katakan bahwa Maha Suci Allah mempunyai sifat demikian. Dan Maha Suci Allah dari perubahan bentuk dan keadaan. Misalnya: terkadang Ia adalah Tuhan Bapa, terkadang Tuhan Anak dan terkadang pula Roh Kudus………..

    2. Membeku atau mencair atau menguap adalah sifat air. Tidak selamanya air akan mengalalami demikian. Kita katakan air di laut bisa berbentuk gelombang, mengalir, …….dsbnya. Demikian juga yang dinamakan Tuhan, tidak selamanya yang hanya memiliki sifat tertentu yang anda bagi menjadi Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus. Maha Suci Allah dari pembagian demikian.

    Memang agama Ibrahim as adalah agama tauhid yang meng-Esakan Allah, juga agama yang dibawa oleh nabi yang datang kemudian. Namun, sampai saat dilakukan penyaliban Isa al-Masih dan konferensi (konsili) di Nicea terjadi berbagai penyimpangan dan perubahan dalam konsep ketuhanan.

    Terima kasih, kalau anda ingin mengkaji kembali tentang konsep trinitas yang anda yakini. Dan anda pun harus berlapang dada, jika dalam argumentasi kami mengandung nilai kebenaran. Serta bersedia menerima ajaran kami (Islam).

    T Mulya said:
    Agustus 14, 2007 pukul 4:59 am

    Untuk swt saya ingin mengomentari pernyataan anda, bukan sebagai seorang muslim, tetapi saya mendudukan diri sebagai seorang pencari kebenaran. Tapi anda tidak mesti menerima pendapat saya ini. Tujuannya hanya untuk perbandingan saja.

    Anda mengatakan bahwa Allah dalam ajaran Kristen memiliki 3 sifat utama :

    1. Allah sebagai Bapa yang mencipta segala sesuatu
    2. Allah sebagai Firman / anak yang datang ke dunia untuk menebus dosa manusia
    3. Allah sebagai Ruhul Kudus yang membimbing dan menuntun manusia.

    Untuk butir no. 1 saya bisa menerimanya. Dalam Islam juga Allah dikenal sebagai Al Kholiq (Pencipta) segala sesuatu di alam semesta ini, sekaligus juga sebagai Pentadbir (Pembina, Pendidik, Pengurus dst) alam semesta ini. Sebenarnya masih banyak sifat Allah yang lainnya, seperti Maha Pemberi Ilmu, Maha Pengampun, Maha Penyantun, Maha Pembimbing dan masih banyak lagi dengan jumlah yang tidak terbatas pada hakekatnya. Secara global sifat2Nya terbagi menjadi dua bagian, yaitu sifat2Nya yang Tsubutiyah (Afirmatif/Wajib menjadi SifatNYa) dan Salbiyah(Negasi) (Sifat2 yang mustahil bisa dikenakan pada-Nya).

    Suatu hal yang prinsip adalah bahwa Sifat2 Allah seperti contoh2 diatas tidak terpisah dari Zat-Nya (bukan sesuatu yang berbeda). ZatNya adalah SifatNya dan SifatNya adalah ZatNya itu sendiri.

    Ketika Allah berkehendak mencipta alam semesta termasuk manusia, secara logika/akal sehat pasti Dia mempunyai tujuan tertentu. Sesuatu yang bersifat kesia-siaan mustahil dapat dikenakan pada DiriNya. Kesia-siaan adalah sifat dari makhluk-Nya.

    Diciptakan-Nya para makhluk seperti Langit dan Bumi, para Malaikat, Kitab2 Suci, para Nabi/Rasul, Setan/Iblis, Surga dan Neraka, kehidupan yang mulia dan hina menyiratkan adanya satu Tujuan tertentu dari penciptaan Alam Semesta ini. Dengan kata lain Allah tidak perlu “repot2” untuk menciptakan sarana2 tersebut kalau memang tidak ada tujuan di balik segala penciptaan ini.

    Artinya manusia sebagai makhluk yang paling mulia dan mendapat amanah mengurus Bumi ini akan diminta pertanggungjawabannya kelak atas apa yang telah diperbuatnya selama hidup di dunia.

    Oleh karena itu saya sangat sulit memahami sifat Allah sebagi Firman /Anak yang turun ke dunia untuk menebus dosa manusia. Sepertinya diturunkannya Kitab2 Suci dan diutusnya para Nabi/Rasul ke muka bumi ini dan adanya surga dan neraka menjadi sia-sia. Dengan demikian hidup ini tak perlu perjuangan dan kosong/tak bermakna, karena kita semua sudah dijamin masuk surga-Nya. Padahal katanya Allah juga punya sifat Ruhul Kudus yang membimbing manusia, yang bermakna bahwa manusia menghadapi pilihan hidup yang akan membuatnya bahagia dan atau sengsara. Bukankah ini kontradiktif (antara Sifat Allah yang berupa Firman yang turun ke dunia dengan Ruhul Kudus yang membimbing manusia) ? Bukankah manusia yang sudah ditebus dosanya tak perlu bimbingan lagi ?

    Disamping itu sifat Allah yang tak terbatas, ketika turun ke bumi menjadi yang berjasad, tidak lagi tak terbatas. Dan ini mustahil dapat dikenakan kepada Diri-Nya.

    Begitu pun pengertian Ruhul Kudus. Ada satu perbedaan yang mendasar antara Ruhul Kudus dalam pengertian Kristen dan Islam. Dalam Kristen seperti yang anda jelaskan, Ruhul Kudus adalah salah satu sifat Allah yang membimbing dan menuntun manusia. Sementara dalam Islam Ruhul Kudus (Ruh AlQuds) adalah suatu utusan yang datang kepada manusia yang mensucikan dirinya untuk mengajar dan membimbingnya.

    Salam

    T Mulya said:
    Agustus 14, 2007 pukul 7:06 am

    Ada sedikit tambahan untuk Ruhul Kudus agar lebih jelas. Yang dimaksud dengan Ruhul Kudus (Ruh AlQuds) sebagai utusan dari Allah (bukan Zat Allah) yang langsung diturunkan ke dalam diri manusia sendiri. Jadi Allah mengutus dua utusan kepada manusia, yaitu utusan yang bersifat zahir/eksternal (para Nabi lengkap dengan Syariat/Kitab Sucinya masing2) seperti nabi Ibrahim, Musa, Isa atau Nabi Muhammad saaw. Sedangkan utusan yang satunya lagi pada prinsipnya sama tetapi bersifat batin/internal (Ruh alQuds). Dua-duanya sangat dibutuhkan oleh manusia. Utusan zahir seperti para Nabi/Rasul (eksternal) tidak sempurna apabila tidak disertai Ruhul Kudus (utusan internal). Keduanya saling melengkapi.

    Terima kasih

    Acing said:
    Agustus 21, 2007 pukul 6:48 am

    Ass Wr Wb

    Sebelum dunia ini ada
    Sebelum dunia ini ada, belum ada apa-apa. Entah wujudnya seperti apa. Mungkin gelap gulita.

    Tiba-tiba, ada pribadi hidup. Entah dari mana asalnya. Dia berkehendak akan menajadikan alam semasta. Dan, Dia berfirman : Kun Fayakun ! jadilah alam semesta. Pribadi itu adalah Allah.

    Dari kisah ini :
    1. Ada Allah ! Tidak nampak. Namun berfikir dan berkehendak. Inilah Allah Bapa !
    2. Kemudian dia berfirman : Kun Fayakun ! Inilah Allah anak !
    3. Allah itu hidup ! Ada Roh Kudus !

    caba fikir :
    1. Jika Allah tidak berkehendak, dia tidak berferman. Dunia tidak dicipta !
    2. Jika Allah tidak berfirman. Allah diam, dunia tidak dicipta !
    3. Jika Allah tidak ber-Hidup=Tidak ber Roh. Dia tidak akan berfirman. Dunia tidak tercipta.

    1. Allah berkehendak, berfikir, belum nampak = Allah Bapa
    2. Firman Allah, Anak Allah, Allah nampak = Allah Putera = Yesus
    3. Allah Hidup, Aktif, Berkuasa = Roh Kudus !

    Allah hanya satu. Dan Trinitas benar adanya !

    Sumber :

    Kej 1:1…
    Yoh 1:!…

    Ws Wr Wb

    Acing said:
    Agustus 21, 2007 pukul 6:55 am

    Bagaimana jika Allah tidak berkehendak (tidak ada Bapa) ? Maka tidak akan pernah ada ciptaan !

    Bagaimana jika Allah berkehendak, namun tidak ada Firman ? Tidak mungkin. Sebab kesaksian Kitab Suci menunjukkan bahwa Allah selalu berfirman ketika berkehendak.

    bagaimana jika tidak ada Roh Kudus ? Tidak mungkin juga. Sebab tanpa Roh, Allah tidak hudup ?

    Jadi yang disebut Allah itu ketiganya ! Allah Bapa, Allah Anak=Firman dan Roh kudus !

    ——————————————————-
    @ Acing

    Salam

    Dialah Yang Maha Pemula dan Maha Akhir, tidak membutuhkan atas perjalanan waktu(zaman) dan tempat.
    Dia adalah eksistensi yang Tertinggi, dan Maha Tunggal. Berkehendak, Hidup dan Ilmu adalah sifat zat-Nya, yang tidak terpisah dari-Nya. Dan firman-Nya adalah perbuatan-Nya dan ciptaan-Nya. Bukanlah zat-Nya. Dikarenakan jika disebut zat-Nya, ada dua eksisitensi yang tertinggi yang kekal dan abadi. Dan telah dikatakan bahwa hanya Ia sebagai wujud yang Tertinggi dan Maha Tunggal.

    Dialah yang menciptakan semua keberadaan (alam dan makhluk) . Dia tidak membutuhkan ciptaan-Nya. Dan tujuan penciptaan tersebut tidaklah bermanfaat bagi zat-Nya. Namun akan bermanfaat bagi makhluk-Nya sebagai perjalanan untuk mencapai kesempurnaan dan bertemu dengan-Nya.

    Dialah Maha Berkehendak. Dan kehendak-Nya tidak akan terjadi pada sesuatu yang mustahil keberadaannya. Contoh: tidaklah Ia menciptakan sesuatu yang serupa dengan-Nya. Dikarenakan Ia tidak membutuhkan sesuatu apapun atau bekerjasama. Jadi potensi keberadaan sesuatu yang sama seperti-Nya adalah sesuatu yang tak akan pernah terjadi (mustahil). Sama seperti Ia berkehendak memasukkan seekor gajah kedalam telur ayam, tanpa merubah keduanya. Dikarenakan potensi telur yang kecil tidak dapat dimasuki oleh gajah tadi. Jadi kehendak-Nya tidaklah terjadi pada sesuatu yang mustahil. Tapi terjadi pada sesuatu yang mungkin dan dapat dicerna melalui akal sehat.
    Dialah Maha Tunggal dan Maha Sempurna, tidak ada selain-Nya yang menyerupai-Nya dari ketinggian nama-Nya dan kesempurnaan-Nya. (Cahaya Islam)

    Acing said:
    Agustus 22, 2007 pukul 1:39 am

    Salam.

    He he, senang mampir di sini, kebetulan lagi main Google. Eh, nemu diskusi (?) ini. Nampaknya diskusi ini cukup sopan dan bersahabat.

    Begini, dari kecil saya bergaul dengan temen-2 muslim. Lebih dari 20 tahun. Saya tahu, keberatan utama sobat-2 adalah karena Tuhan kami, anda sangka ada tiga. Yesus diperTuhankan. Jelas melanggar apa yang disebut Tauhid.

    Tetapi, ketahuilah, bahwa anda salah kaprah dalam memahami Trinity. Coba renungi apa yang telah saya tulis di muka.

    Terus terang, saya tidak dong dengan tanggapan anda. Puisi bukan, ilmiah tidak !

    Kalau emang mau tahu Trinity (boro boro ya ?), nggak percaya boleh, alhamdulillah !, kunjungi ini saja lah :

    http://www.answering-islam.org/Bahasa/index.html

    Apa mau berkunjug ke situ, atau malah sudah diblokir ? Cari aja lewat Google.

    Salam !

    Acing said:
    Agustus 22, 2007 pukul 1:56 am

    Salam

    Dari puisi yang anda tulis :

    Dia adalah eksistensi yang Tertinggi, dan Maha Tunggal. Berkehendak, Hidup dan Ilmu adalah sifat zat-Nya, yang tidak terpisah dari-Nya. Dan firman-Nya adalah perbuatan-Nya dan ciptaan-Nya. Bukanlah zat-Nya. Dikarenakan jika disebut zat-Nya, ada dua eksisitensi yang tertinggi yang kekal dan abadi. Dan telah dikatakan bahwa hanya Ia sebagai wujud yang Tertinggi dan Maha Tunggal.

    Anda sudah dekat sekali dengan Trinity. Ada di depan mata anda, tinggal membuka hati !

    Itulah Trinity. Tuhan itu satu :

    Berkehendak, berfikir : Bapa
    Berfirman, nampak, tergambar, berkarya : Firman/Anak
    Hidup: Roh Kudus

    Hanya satu Allah ! Yesus itulah Rohullah wa Kalimatullah, wajiham Fidunya wal Akhirat ! Dialah Allah yang nampak !

    Salam

    Acing said:
    Agustus 22, 2007 pukul 3:00 am

    Salam.

    Mungkin anda sulit menerima pendapat bahwa FIRMAN itu dapat berpindah tempat dari sumbernya.

    Coba renungkan : Tulisan-tulisan/firman anda yang nampak di layar komputer orang lain, termasuk komputer saya, dari mana asal-usulnya ?

    Pertama-tama, anda BERPIKIR. Ketika itu firman anda belum kelihatan, masih dalam kepala anda kali ya ?. Kemudian anda memerintahkan firman itu keluar. Dan lihatlah, firman anda lahir ke dunia, mengalir lewat tangan dan muncul di ujung jari-jari, dan masuk ke komputer lewat

    keyboard. Kini anda memiliki anak, ya firman yang lahir dari tubuh anda tadi ! Anak, tidak hanya berarti anak dalam arti anak, cucu, eyang itu !

    Firman anda, pada dasarnya adalah satu dengan anda. Firman anda tidak mungkin lahir tanpa kehendak anda, kecuali pas anda nglidur di atas dipan.

    Dan anehnya, Al-Quran katanya berisi Firman Allah. Andaikan Allah ada di tempat tinggi, di atas sana, kok firmannya nempel di halaman-2 Al-Quran ? Kalau begitu, Firman Allah itu bisa berpindah dari asalnya.

    Oleh sebab itu, Isa Al-Masih itu kami sebut FIRMAN ALLAH YANG HIDUP. Artinya Firman Allah yang berujud manusia. Al-Quran, anda yakini sebagai Firman Allah dalam bentuk buku !.

    Karena Isa itu Firman Allah, tidak aneh jika Dia :

    1. Satu dengan Allah Bapa.
    2. Menghidupkan orang mati.
    3. Menyembuhkan penyakit.
    4. Menciptakan burung.
    5. Tidak diciptakan.
    6. Berjalan di atas air.
    7. Dan seterunya…

    Yang semuanya tidak mungkin dilakukan manusia biasa. Izinpun bisa terjadi kalau yang dieberi izin sanggup melakukannya !

    Anda boleh tidak percaya !

    Salam.

    ————————————————————————–

    @ Acing

    Salam

    Senang anda bisa mengomentari kembali pendapat kami. Dengan senang hati kami pun kembali mengemukakan argumentasi lain yang cukup kuat disini, dengan menolak kelemahan dari argumentasi anda.

    Telah kami katakan bahwa Firman Tuhan itu adalah perbuatan-Nya dan ciptaan-Nya, jika itu sifatNya sangatlah mustahil, contoh: Nabi Musa as dapat menghadap dan berbicara dengan Tuhannya melalui sebuah pohon. Jika anda menganggp firman Tuhan sebagai sifat-Nya, maka mengapa tidak menganggap pohon yang dijadikan Tuhan sebagai perantara untuk berbincang dengan-Nya sebagai sifat Tuhan atau anak Tuhan?

    Camkan:
    Aneh sekali menganggap Isa Al-Masih sebagai firman-Nya yang hidup , berjalan, menghidupkan orang mati dn seterusnya …………setelah itu firmanNya dapat menemui ajalnya. Ketika firman itu merupakan kesatuan-Nya berarti bagian dari jiwa Tuhan akan mengalami kematian.

    Firman-Nya , anda tidak mengakuinya sebagai firman-Nya melainkan sifat-Nya berarti ia tidak mengalami kematian. Terbukti Al-Masih pun mengalami kematiannya setelah disalib. Jika mengalami kematian maka berarti tidak akan ada lagi firman-Nya.
    Firman-Nya adalah kalaupun anda mengakuiNya sebagai ciptaanNya, berarti ia adalah makhluk-Nya. Mengapa kemudian anda menyembah-Nya?

    Firman-Nya adalah sifat perbuatan-Nya melalui perantara; sesuatu yang terpisah dari-Nya seperti yang anda contohkan seperti tulisan-tulisan yang berada di dalam computer, tulisan-tulisan tersebut adalah ciptaan anda sendiri. Tentunya ciptaan anda bukanlah anda. Tulisan anda bukanlah anda tapi hasil dari buah pikiran anda. Juga kalau diibaratkan tulisan sebagai sifat Tuhan atau Tuhan anak berarti ia mengalami perubahan (penambahan dan pengurangan). Sangat tidak mungkin (mustahil) Tuhan mengalami perubahan sifat, misalnya terkadang Tuhan melihat dan terkadang tidak melihat, terkadang berilmu dan terkadang tidak. (Maha Suci Tuhan dari hal ini).

    Jadi yang benar adalah firman-Nya adalah bila itu perbuatan-Nya melalui sebuah perantara maka ciptaan-Nya dan makhluk-Nya, bukan sifat-Nya. Dikarenakan sifat tidaklah terpisah dari zat-Nya. Firman-Nya adalah perbuatan yang sesuatu terpisah dari-Nya dan diciptakan, bukan dianggap sebagai Tuhan atau bagian Tuhan yang disembah. (Cahaya Islam)

    Wassalam.

    Acing said:
    Agustus 23, 2007 pukul 3:02 am

    Salam.

    Senang juga bertukar pendapat dengan santun seperti ini. Sebelum jauh bicara soal Yesus yg disembah dan lain-lain, saya ajak untuk merenung dulu.

    A. MASALAH CIPTAAN DAN PENCIPTA

    Mohon anda telaah kembali pendapat anda.

    Begini :
    1. Sesuatu yang belum dicipta, pastilah belum ada (namanya saja belum dicipta).
    2. Menurut anda, Firman Allah adalah ciptaan Allah.
    3. Lalu, dengan cara apa Allah menciptakan FirmanNya itu ? Bukankan ketika Allah mau akan

    menciptakan FirmanNya harus dengan FirmanNya Juga ?

    Atau begini :
    1. Firman Allah adalah (menurut anda !), ciptaan Allah.
    2. Kalau begitu, pada suatu saat, ada kegiatan cipta-mencipta yg dilakukan oleh Allah.
    3. Padahal, Allah mencipta dengan cara berFirman, jadilah jadi ! Kun Fayakun !
    4. Lalu dari mana Firman Allah mula pertama yang digunakan Allah untuk menciptakan FirmanNya itu ?

    B. HUBUNGAN LOGIS
    Firman yang berpisah secara geografis, tidak berarti berpisah secara hakikat. Artinya,

    firman anda, hakikatnya tidak lain adalah anda sendiri !. Cuba jawap :

    “Dapatkan anda menyampaikan fikiran/gagasan/kehendak anda tanpa berfirman/berkata-kata ?”

    “Mengapa ketika anda berbincang-bincang dengan kawan anda, anda harus berkata-kata lewat mulut anda ?”

    Nah cuba tolonglah jelaskan jawapan anda beserta alasan-alasanya ? Ini penting sebelum kita jauh bertukar pikiran dengan laman yang panjang-panjang.

    Salam.

    ——————————————————————
    @Acing
    Salam kembali

    1. Masalah penciptaan

    – Firman-Nya. Maaf, harus dengan ketelitian dan perenungan untuk memahaminya disini. Maka sebenarnya adalah bila dihubungkan dengan zat-Nya maka sifat tersebut adalah zat-Nya. Namun bila dikaitkan dengan perbuatan-Nya melalui perantara itu adalah ciptaan-Nya (sesuatu yang terpisah dari zat-Nya) bukanlah zat-Nya. Seperti Allah berbicara/berfirman melalui perantara sebuah pohon dengan nabi Musa as.

    – Dialah Maha Pencipta, ketika Ia mencipta dengan berfirman: Kun Fayakun, artinya sebuah kata untuk mendekatkan akal kita atas terwujudnya sebuah ciptaan. namun zat-Nya tidak butuh kepada sebuah perantara apapun dalam mencipta, walaupun itu dengan kata-kata. Atau Dia tidak butuh kepada siapapun dalam hal mencipta dan tidak butuh kepada makhluk (hasil
    ciptaan-Nya)

    – Musa as ketika berada di gunung Thur mendengar suara yang datang dari pohon yang berkata kepadanya, Ya Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan Semesta Alam. Dengan mengandaikan bahwa Allah telah menghasilkan suara darinya dan suara itu didengar oleh Musa as. Adalah disini, Allah menggunakan perantara makhluk-Nya untuk berbicara yaitu pohon. Inilah sebuah perantara lain dari firman-Nya.

    -Jadi Dia berfirman tidak hanya melalui kata-kata. Tetapi juga mengungkapkan diri-Nya melalui sebuah perbuatan yang disebut juga ‘berbicara’ dengan perantara sebuah pohon.

    2. Hubungan Logis

    – Firman-Nya adalah sifat perbuatan-Nya, bila melalui sebuah perantara adalah sesuatu yang bisa terpisah dari zat-Nya (ciptaan-Nya). Al-Masih as jika anda sebut sebagai firman-Nya. Maka itu adalah ciptaan-Nya.

    -Anda pun mengungkapkan gagasan anda tidak hanya melalui kata-kata, tetapi melalui tulisan dan perbuatan anda!

    – Seseorang terkadang bisa memahami perihal anda tidak hanya melalui kata-kata anda. Tetapi juga bisa melalui tingkah laku, raut muka,…..dll. Seperti raut muka anda pucat menunjukkan anda sakit…..dsbnya. (Cahaya Islam)

    Wassalam

    Acing said:
    Agustus 23, 2007 pukul 3:07 pm

    As Wr Wb.

    Anda dekat sekali dengan Trinitas. Benar, firman dalam hal ini bukan hanya kata-2. Kata firman itu sinonim dengan kata : sabda, kalimat, word, kalam. Isa Al Masih, disebut juga LOGOS, yang kurang lebih artinya Gambar atau Firman Allah.

    Saya sudah membaca jawapan anda sebelumnya. Namun sepertinya tidak fokus. Anda selalu berbicara sifat, sedang saya fokus pada hubungan sebab akibat. Ada yang perlu anda renungi :

    1. Allah dibantu mahluknya ?
    Anda mengatakan, bahwa Firman Allah adalah ciptaan Allah. Kalau begitu, menurut anda, Firman Allah adalah mahluk. Ada masalah yang sangat serius, begini : Allah menciptakan segala sesuatu dengan berfirman. Karena Firman Allah itu (menurut anda) adalah mahluk. Berarti, Allah meminta bantuan mahluknya (iaitu FirmanNya !) dalam menciptakan segala sesuatu ?

    2. Firman/Anak sehakikat dengan Sumbernya/Bapanya !
    Saya mengatakan, bahwa firman itu bisa berpisah secara geografis, namun tetap satu hakikat dengan sumbernya. Buktinya ? Begini saudara :

    Kita belum pernah bertemu. Saya tidak tahu siapa anda, nama anda, tempat tinggal dan lain sebagainya tentang anda. Demikian juga sebaliknya, anda belum pernah bertemu saya. Anda hanya tahu nama samaran saya Acing.

    Namun lihatlah, anda mengutus anak anda, yaitu firman anda. Demikian juga saya, mengutus anak saya, yaitu firman saya ini. Anda mempercayakan gagasan/pikiran anda kepada firman anda, sebaliknya saya juga demikian. Gagasan/pikiran kita menyatu dalam firman kita masing-masing. Bukankah sangat menakjubkan ? Kita bertemu di Internet, namun kita masing masing diwakili oleh firman/anak kita !.

    Jangan terlampau jauh dahulu. Jangan coba memahami mengapa Isa-Almasih harus mati (Tuhan kok mati), Tuhan kok minta tolong Tuhan dan lain-lain dahulu, sedangkan memahami perihal Firman belum bisa. Kalau hanya 1+1+1=3 mah jelek-jelek begini saya tau.

    3. Dari mana manusia mengetahui bahwa Allah itu ada ?
    Ketika seorang Rasul menerima Firman Allah, tentunya Dia tidak melihat Allah. Namun Dia yakin bahwa yang didengarNya itu adalah Firman Allah. Oleh sebab itu, manusia jadi mengerti apa kehendak Allah !. Karena kehendak Allah itu bersatu padu dengan FirmanNya. Allah yang tidak nampak itu dalam Trinitas disebut Allah Bapa, sedang Allah yang nampak atau dapat didengar itu Firman Allah atau Anak Allah.

    SEKEDAR RENUNGAN

    Mungkin anda heran, mengapa saya mengajak anda untuk berpikir ulang mengenai firman dan sumbernya. Firman atau kalimat yang kita singgung sejauh ini artinya masih sempit. Arti yang lebih luas ialah bahwa firman itu adalah perwujudan dari pribadi yang tidak kelihatan itu.

    Agar anda tenang, saya sampaikan beberapa ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa Isa-Almasih, nabi besar yang coba dikaburkan itu, adalah Firman Allah, bahkan secara tidak langsung Isa disamakan dengan Tuhan !. Maaf Ayat-2 saya potong, agar tulisan ini tidak lebih panjang lagi !

    Quran 3:39. “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat[193] (yang datang) dari Allah”

    Kata dalam kurung sebenarnya tidak ada. Nabi Yahya adalah saksi utama Kalimat Allah, Isa Al Masih.

    Quran 4:171…. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya[384] yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya[385]…

    Isa Al Masih, putra Maryam, adalah Kalimat Allah dan Roh Allah.

    Apa kata Yahya dala Injil ?

    Injil Yohanes/Yahya 1:1. Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

    Jelas-jelas Al-Quran menyebut Isa Al-Masih adalah Firman Allah. Sayang sekali, terjemahan Al-Quran ditambahi dengan kata-kata dalam kurung. Kata ‘(yang datang)’ dan ‘(Yang diciptakan dengan)’ itu sesungguhnya tidak ada dalam teks Arabnya. Percobaan mengaburkan arti, yang dalam hal ini Isa diciptakan dari KalimatNya, bertentangan dengan ayat ini :

    Quran 21: 30. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.

    Isa Al-Masih tidak dicipta dari air tidak pula dari tanah, tapi dari KalimatNya ?

    Apakah Isa itu Tuhan ?

    Quran 31:34 “Sesungguhnya Allah, disisiNya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat…..”

    Quran 43:61 “Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberi pengetahuan tentang hari kiamat..”

    Yang mengetahui hari kiamat itu hanya Tuhan. Tiba-tiba ada pribadi yang benar-benar mengetahui hari Kiamat. Pribadi itu tidak lain pasti Tuhan !!!

    Terkemuka di Dunia dan Akhirat ?

    Quran 3:45. Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat[195] (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),

    Lagi-lagi, terjemahannya ditambah kata dalam kurung, artinya menjadi kabur. Jika dibaca tanpa kata dalam kurung, nampak dengan jelas, Isa adalah Kalimat Allah dan Terkemuka di Dunia dan Akhirat. Tidaklah patut ada mahluk yang terkemuka di Dunia dan Akhirat. Hanya Tuhan saja yang terkemuka di Dunia dan Akhirat.

    Demikian sekedar pendapat saya. Lumayan buat persiapan renungan di Bulan Ramadhan yang insya Allah penuh rohmat dan barokah !

    Amien yarobal alamin !!!

    Ws Wr Wb.

    Acing said:
    Agustus 23, 2007 pukul 3:35 pm

    As Wr Wb.

    Wah, nambah lagi nih.

    Pada comment terakhir anda, sangat menarik, yang ini :

    -Anda pun mengungkapkan gagasan anda tidak hanya melalui kata-kata, tetapi melalui tulisan dan perbuatan anda!

    – Seseorang terkadang bisa memahami perihal anda tidak hanya melalui kata-kata anda. Tetapi juga bisa melalui tingkah laku, raut muka,…..dll. Seperti raut muka anda pucat menunjukkan anda sakit…..dsbnya.

    Begini :

    Kesimpulannya : Perihal pribadi atau seseorang, tidak akan dikenal kalau pribadi itu tidak berfirman ( dalam arti luas).

    Ini dekat dengan Trinitas :

    Allah yang belum dikenal disebut Allah Bapa. Kemudian Ianya berfirman menjadi nampak dan dikenal. Itulah Allah Anak. Allah hanya satu !

    Oleh sebab itu Nabi Yahya/Yohanes :

    Yohanes 1:1 Pada mulanya ada Firman, Firman itu bersama sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah.

    Semoga diskusi ini bermanfaat. Jika anda tidak sependapat, artinya Islam anda semakin kuat. Jika anda sependapat, artinya anda menjadi tahu Trinitas dari sudut pandang kami.

    Demikian Bapak Abu Aqilah….salam hormat saya, Acing. Moga-moga blog anda ini makin rame.

    Ws Wr Wb.

    Cahaya Islam responded:
    Agustus 23, 2007 pukul 5:47 pm

    Salam

    Anda selalu mengatakan dalam komentar anda bahwa pemahaman kami sudah dekat dengan trinitas. Tapi nyatanya, saya kira banyak sekali kerancuan-kerancuan akan konsep trinitas tersebut menurut kami. Beberapa persoalan2 yang anda sendiri dan rekan-rekan sebelum anda belumlah tuntas. Adapun keberatan-keberatan dari persoalan tersebut, diantaranya:

    1. Al-Masih bukanlah sifat Tuhan, dikarenakan ia hidup di bumi sedangkan sifat Tuhan Bapa ada ditempat-Nya, keduanya adalah zat yang berdiri sendiri dan masing-masing memiliki ruang dan tempat. Yang disebut dengan sifat , jika disebut Maha Pencipta , Penolong, Memberi Rizki , Penyayang, Berkehendak, Hidup, Ilmu, Melihat, Mendengar ……..dsbnya. Dan masih banyak lagi sifat2-Nya yang menunjukkan realitas kesempurnaan-Nya. Kalaupun menyebutnya sebagai sifat Tuhan dalam eksistensi yang satu seperti apa yang dicontohkan: air yang membeku, air yang mencair dan yang menguap, tidakkah mengalami perubahan sifat, bentuk dan keadaan? Juga tidaklah anda membatasi sifat Tuhan tersebut berupa: Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Ruhul Kudus. Tidakkah membatasi-Nya dengan sifat demikian?
    Jika Tuhan Anak disebut sifat Allah maka, kenapa Ia membutuhkan pertolongan kepada Tuhan Bapa sewaktu ia disalib? Jadi, Tuhan Anak sendiri tidak mempunyai sifat Ketuhanan?

    2.Aneh sekali menganggap Isa Al-Masih sebagai firman-Nya yang hidup , berjalan, menghidupkan orang mati dn seterusnya …………setelah itu firmanNya dapat menemui ajalnya. Ketika firman itu merupakan kesatuan-Nya berarti bagian dari jiwa Tuhan akan mengalami kematian?

    3.Firman-Nya , anda tidak mengakuinya sebagai zat-Nya melainkan sifat-Nya berarti ia tidak mengalami kematian dikarenakan mempunyai kesatuan wujud dengan Tuhan Bapa. Tapi, nyatanya Al-Masih pun mengalami kematiannya setelah disalib. Jika mengalami kematian maka berarti tidak akan ada lagi firman-Nya?

    4. Mengapa Tuhan hanya menjelma pada tubuh Isa, tidak kepada tubuh yang lain? Atau mengapa Isa telah terpilih menjadi anak Tuhan, tidak nabi-nabi yang lain? Anda menyakini kenabian Ibrahim as. Nabi Ibrahim mendapatkan gelar Al-Khalil yang berarti kekasih Allah. Tidakkah sepantasnya kedudukan nabi Ibrahim as untuk menjadi anak Tuhan? Juga nabi Musa as yang mendapat gelar Kalimatullah. Tidakkah beliau as juga berhak mendapat gelar demikian?

    5. Firman-Nya adalah sifat perbuatan-Nya melalui perantara; sesuatu yang terpisah dari-Nya seperti yang anda contohkan seperti tulisan-tulisan yang berada di dalam computer, tulisan-tulisan tersebut adalah ciptaan anda sendiri. Tentunya ciptaan anda bukanlah anda. Tulisan anda bukanlah anda tapi hasil dari buah pikiran anda. Juga kalau diibaratkan tulisan sebagai sifat Tuhan atau Tuhan anak berarti ia mengalami perubahan (penambahan dan pengurangan). Sangat tidak mungkin (mustahil) Tuhan mengalami perubahan sifat, misalnya terkadang Tuhan melihat dan terkadang tidak melihat, terkadang berilmu dan terkadang tidak?

    6. Seperti sanggahan yang dijelaskan oleh T Mulya (sebelumnya, terima kasih kepada beliau, yang ikut meramaikan diskusi ini): “Oleh karena itu saya sangat sulit memahami sifat Allah sebagi Firman /Anak yang turun ke dunia untuk menebus dosa manusia. Sepertinya diturunkannya Kitab2 Suci dan diutusnya para Nabi/Rasul ke muka bumi ini dan adanya surga dan neraka menjadi sia-sia. Dengan demikian hidup ini tak perlu perjuangan dan kosong/tak bermakna, karena kita semua sudah dijamin masuk surga-Nya. Padahal katanya Allah juga punya sifat Ruhul Kudus yang membimbing manusia, yang bermakna bahwa manusia menghadapi pilihan hidup yang akan membuatnya bahagia dan atau sengsara. Bukankah ini kontradiktif (antara Sifat Allah yang berupa Firman yang turun ke dunia dengan Ruhul Kudus yang membimbing manusia) ? Bukankah manusia yang sudah ditebus dosanya tak perlu bimbingan lagi ?

    Adapun jawaban kami terhadap komentar anda yang terakhir ini, dua diantaranya sudah kami jelaskan dari jawaban2 kami diatas. Perinciannya adalah:

    1. Kami katakan bahwa Dialah Maha Pencipta, ketika Ia mencipta dengan berfirman: Kun Fayakun, artinya sebuah kata untuk mendekatkan akal kita atas terwujudnya sebuah ciptaan. namun zat-Nya tidak butuh kepada sebuah perantara apapun dalam mencipta, walaupun itu dengan kata-kata. Atau Dia tidak butuh kepada siapapun dalam hal mencipta dan tidak butuh kepada makhluk (hasil ciptaan-Nya). Kalaulah Isa dianggap sebagai firman-Nya berarti Tuhan Bapa butuh terdapat sesuatu untuk melaksanakan perintah-Nya? dikarenakan Isa secara zat mempunyai sifat kemandirian.

    2. Firman-Nya, jika dikaitkan dengan sifat perbuatan-Nya, melalui sebuah perantara adalah sesuatu yang bisa terpisah dari zat-Nya atau hakikat-Nya dikarenakan firman itu adalah ciptaan-Nya.

    3. Dari surat Quran 3:39 yang anda katakan, berbunyi: “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat[193] (yang datang) dari Allah”
    Kalimat disini, maksudnya: membenarkan kedatangan seorang nabi yang diciptakan dengan kalimat kun (jadilah) tanpa bapak yaitu nabi Isa a.s.
    Apa dalil anda menyakini kalimat disini berarti Tuhan Anak?
    Tidakkah kalimat dalam arti luas semua penciptaan yang menyangkut alam dan makhluk-Nya?

    Mungkin hanya disini dulu, semoga anda dapat menerima sanggahan- sanggahan kami dengan lapang dada dan penuh rasa persahabatan. Tidak ada jalan lain dalam hal ini untuk pemaksaan kehendak dan keyakinan, kecuali dengan menerima realitas yang ada. Salam hormat kami kepada sahabat kami, Acing.

    Wassalam.

    Acing said:
    Agustus 24, 2007 pukul 3:37 pm

    As Wr Wb.

    Benar, saya katakan, anda dekat dengan Trinity. Ibarat anda sedang menggunakan teropong, dan memandang sebuah bangunan besar yang disebut Trinity. Sayangnya, anda menggunakan teropong itu secara terbalik. Sehingga barang yang seharusnya nampak dekat malah menjadi nampak jauh dan kecil.

    Sekilas Kilas balik

    Jaman dulu,ada beberapa orang penasaran. Oh, ternyata ada fenomena alam begini dan begitu. Misalnya fenomena listrik dan magnet. Mereka kemudian berfikir dengan akal, meneliti dan mencoba. Akhirnya dalam fisika ada rumus P=VI, I=V/R dan sebagainya. Berdasar rumus-rumus itu, akhirnya kini ada listrik di rumah, televisi, radio dan bahkan Internet ini.

    Trinity itu dulu belum disadari. Namun seraya waktu berjalan, orang mulai menyadari. Oh, ternyata Allah itu begini dan begitu (Tentu saja tidak sama dengan penelitian ilmiah dimuka.). Akhirnya lahirlah sesuatu yang disebut Trinity. Bagi sebagian orang, Trinity itu tak nampak. Bagi sebagian yang kain, jelas nampak. Seperti fenomena listrik dan magnet. Bagi sebagian orang nampak, bagi sebagian lain tersembunyi.

    Trinity bukan permainan sulap. Tidak ada gunanya mengada-ada sebuah konsep, apalagi berkaitan dengan Tuhan !. Trinity muncul setelah manusia membaca dan merenungi Kitab Suci. Saya sendiri perlu waktu lama untuk memahami Trinity. Sebab ketika itu saya membayangkan bahwa di atas sana, di surga, ada Sito Gendheng dan Wiro Sableng. Sito Gendheng, gurunya Wiro Sableng, pendekar tua berjubah putih, sakti mandraguna. Itulah Allah. Dan wiro sableng, anaknya, lebih muda dan lincah. Itulah Yesus. Ada sosok satu lagi, seperti angin, bergerak aktif, itulah Roh Kudus. Sehingga, kalau kita berkunjung ke Istana Sorga itu, paling tidak kita akan ditemui dua orang, Sito Gendheng dan Wiro Sableng, Tuhan Allah dan Yesus. Lho kok Tuhan ada dua ya ? 1+1=1 ? Lho …

    Saya bingung dan merasa aneh sendiri. Lho, Yesus kok disebut Tuhan ? Tuhan kok mati ? Kok tidur ? Kok makan ? Kok berdoa ? He he ini pasti dagelan. Terlebih lagi, teman-teman saya yang sering mengolok-olok keyakinan saya. Tambahan lagi, di dipinggir-pinggir jalan dijual buku “Dialog Ketuhanan Yesus”, antara Antonius Widuri dan Pak Kyai Bahaudin Mudhary. Meskipun saya yakin bahwa buku itu hanya dibuat-buat, tapi saya yang memiliki Tuhan Sito Gendheng dan Wiro Sableng itu, jadi seperti orang linglung.

    Bertahun-tahun saya buka tutup Kitab Suci, Kitab yang anda nyatakan hanya tinggal angka-angkanya saja dan sudah rusak itu. Akhirnya, sedikit demi sedikit, rahasia mulai terbuka. Trinity, pernyataan Tuhan Allah kepada manusia yang ajaib dan tepat. Akhirnya, Sito Gendheng dan Wiro Sableng kuusir dari Istana Sorga, tidak patut mereka di sana. Istana Sorga hanya patut bagi Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus !. Sito Gendheng dan Wiro Sableng pun lari, turun ke Bumi, malah sempat main sinetron di RCTI !.

    KEMBALI KE LAPTOP !

    Jika Firman Allah itu ciptaan Allah=mahluk, terpisah sama sekali dengan Khaliknya. Coba renungi “tanya jawap” ini :

    Tanya
    :
    Mengapa anda menjunjung tinggi Al-Quran ?

    Jawap
    :
    Karena di dalamnya Firman Allah !

    Tanya
    :
    Apakah istimewanya Firman Allah ?

    Jawap
    :
    Karena berisi Kehendak dan Perintah Allah !

    Tanya
    :
    Apakah tanpa Firman Allah, kita tidak tahu kehendak dan perintah Allah ?

    Jawab
    :
    Ya ! Allah tidak dikenal kalau Dia tidak berFirman !

    Tanya
    :
    Lalu di mana letak Kehendak dalam Firman Itu ?

    Jawap
    :
    Keduanya bersatu padu !

    Coba renungi “tanya jawap” tersebut. Allah yang berada di Mahligay, di atas sana, kehendak dan perintahnya terbang jauh sampai di planet Bumi. Dan jutaan manusia hakul yakin, bahwa kehendak dan perintah Allah Swt (yg di atas sana) benar-benar ada di dalam Al Quran yang ada di Bumi (semoga termasuk anda). Anda menjunjung tinggi Al Quran, karena itu adalah Firman Allah.

    Banyak pertanyaan saya yang belum/tidak anda jawab, namun anda mengajukan lebih banyak pertanyaan. Anda menganggap bahwa uraian saya rancu. Namun, semua orang tahu, kerancuan perihal apakah Firman Allah itu ciptaan Allah (=mahluk) . Menurut anda, Allah menciptakan FirmanNya.

    Maka, kerancuan timbul, coba renungi :

    Allah hanya cukup ber-Firman dalam mencipta,
    Firman Allah adalah ciptaan Allah
    Maka, harus ada Firman Allah terlebih dahulu untuk mencipta Firman Allah,
    Lah, dari mana asal-usul Firman Allah pertama kali, sehingga dapat dicipta
    Firman-2 Allah yang lain ?

    Ini adalah suatu kerancuan. Pemahaman yang lebih nyata adalah bahwa Firman Allah itu wujud Fikiran atau Kehendak Allah. Bukan ciptaan ! Saya yakin, anda tidak pernah menciptakan firman anda. Firman anda adalah sesuatu yang spontan muncul ketika anda menyampaikan fikiran atau kehendak anda.

    SEBELUM SAYA MENJAWAB

    Dalam menjawab pertanyaan anda, nantinya saya banyak mengutip ayat-ayat dari Kitab Suci saya, yang anda anggap sudah rusak itu. Ini jelas menimbulkan kesulitan lain. Namun saya ingin memastikan bahwa Kitab itu sama sekali tidak rusak. Al Quran sendiri yang mengatakan :

    Quran 5:46. … Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat….

    Al Quran membenarkan Kitab Taurat dan Injil. Artinya, Allah membenarkan bahwa Taurat dan Injil itu Firman Allah.

    Quran 6:34. … Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu…

    1. Taurat dan Injil itu Firman Allah.
    2. Tidak ada yang dapat merobah Kalimat=Firman Allah.

    Kesimpulannya : Taurat dan Injil itu tidak mungkin ada yang dapat merobah !
    Injil dan Taurat asli !

    Oleh sebab itu, anda tidak perlu segan-segan membaca dan merenungi petikan-petikan Kitab-kitab terdahulu, yang mungkin akan muncul di sini. Yakinlah kepada Allah Swt, tiada yang dapat merobah KalimatNya.

    JAWAPAN ATAS PERTANYAAN-2 ANDA

    Menurut kesaksian Kitab Injil, Isa Al Masih adalah Firman Allah, yang tidak bersemayam di atas lembaran-lembaran kertas namun didalam diri sesosok manusia lumrah seperti kita. Makan, minum, tidur, lapar, haus dll.

    Yoh/Yahya 1:1 “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu besama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah.

    Yoh/Yahya 1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

    Ciri-ciri dan hal-hal yang harus terjadi pada diri Yesus, telah diumumkan oleh para nabi sejak purbakala. Pengumuman semacam ini disebut Nubuat. Yesus memang harus mati dan sebelum mati harus berteriak “Allahku, mengapa engkau meninggalkan aku ?”. Teriakan ini, telah dinubuatkan dalam Mazmur/Zabur.

    Mazmur 1:22 “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku ?”.

    Jadi, Allah di sini maksudnya adalah Allah Bapa, sang sumber dari Firman. Dan dapat dipahami pula karena tubuh Yesus itu benar-benar manusia, Ia dapat bercakap-cakap dengan siapa saja.

    Seandainya ketika disalib Yesus diam saja, maka Kitab terdahulu yang menubuatkan teriakan itu menjadi invalid ! Nubuat tidak terbukti ! Coba dinalar : Yesus yang sanggup membangkitkan orang mati, bahkan hanya dengan FirmanNya, apakah tidak mampu menjungkir balikkan serdadu-serdadu Romawi ketika itu ? Dia sangat mampu !

    Anda bertanya, “Kenapa Yesus disebut Tuhan ?, padahal Yesus di Bumi sedang Bapanya di atas sana ?”. Yang disebut Tuhan sebenarnya bukan Tubuh manusia Yesus, melainkan Bapa atau Firman yang ada di dalam Yesus. Andai saja anda mau mengerti bahwa Firman Allah itu wujud dari Kehendak Allah, maka anda akan mengerti mengapa Yesus itu disembah dan disebut Tuhan. Firman itu bisa berpisah dari sumbernya, namun hakikatnya sama dengan sang sumber. Kalau anda membayangkan Bapa dan Yesus itu seperti Sito Gendheng dan Wiro Sableng, memang sulit untuk memahaminya. Lihat kata-kata Yesus:

    Yoh 17:4 Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.
    Yoh 17:5 Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang
    Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

    Lihatlah, bahwa Yesus itu, Firman itu, diutus oleh sumbernya yaitu Allah Bapa, ke dalam dunia. Dan Yesus itu menyatakan dengan jelas bahwa Ia sudah ada sebelum ada mahluk ! Dialah Firman Allah mula pertama, sebelum dunia ini ada !

    Lalu, bagaimana Yesus, Tuhan kok mati !? Kalau kita membaca Injil, maka kita akan tahu, bahwa Yesus itu berperan sebagai Kurban. Menurut saya, ini sudah dinubuatkan dalam peristiwa kurban Nabi Ibrahim yang menyembelih anaknya, yang juga anda peringati sebagai hari raya Kurban.

    Yoh/Yahya 1:29. Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.

    Tubuh Yesus inilah kurban sesungguhnya. Oleb sebab itu, nabi Yahya yang menyatakan bahwa Yesus itu adalah Firman Allah, juga menyatakan bahwa Ia ini domba Allah !.

    Namanya kurban, haruslah mati. Namun jangan berpikir bahwa Allah juga mati ! Yang mati adalah tubuh manusia Yesus ! Allah Bapa tetap ada, Firman Allah tetap ada. Bukankah hal yang wajar tubuh manusia itu bisa mati ? Bisa makan ? Bisa tidur ? Dll…?

    Coba bayangkan, andaikan ada kebakaran. Kemudian tidak sengaja ada Al Quran yang ikut terbakar. Otomatis Firman Allah di dalamnya terbakar pula. Apakah Allah di atas sana ikut mati ? Tidak kan ?

    Firman Allah selalu ada dalam Diri Allah ! Sama seperti Yesus yang mati disalib. Allah Bapa tetap ada, otomatis Firman Allah juga tetap ada ! Dengan mudah pula bagi Yesus untuk bangkit dari kubur !

    Anda bertanya-tanya, mengapa hanya Isa yang dipilih menjadi Anak Allah, mengapa bukan Ibrahim atau yang lain ?. Jawabnya jelas, Isa itu Kalimatullah. Sedang Nabi-2 lain hanyalah manusia yang dicipta dari tanah ! Anda justru harus bertanya lebih jauh : Mengapa Isa dapat menghidupkan orang mati ? Menyembuhkan Penyakit ? Tinggal di Sorga ! Ia satu-satunya Nabi yang tidak pernah berbuat dosa ! Mengetahui pikiran manusia lain ? Malah Al Quran mencertitakan bahwa Isa sanggup menciptakan burung ! Terkemuka dunia akhirat ?

    Anda mestinya curiga, ada apa dengan Nabi Isa. Siapakah Ia ? Sehingga Ia begitu hebat dan sama sekali tidak sebanding dengan nabi lain ? Selanjutnya anda meneliti lebih jauh, dengan memakai teropong yang benar.

    Adapun Isa Disebut anak Allah, sebab Ia keluar dari diri Allah. Seperti kita menyebut ‘anak tangga’, tidak ada dalilnya. Itu hanya ungkapan, sesuatu yang berasal dari induknya, disebut anak !

    Yoh 8:42 Kata Yesus kepada mereka: “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.

    Firman anda, keluar dan datang dari diri anda. Anda adalah bapanya dan firman anda adalah anak anda. Anda akan kehilangan jati diri anda jika anda berani memenjarakan firman anda dalam diri anda ! Coba saja kalau berani. Diam saja terus ! Jika dicoba, barangkali anda akan sadar bahwa firman anda adalah gambaran existensi anda !

    Kesalahan fatal anda sehubungan dengan Trinity adalah bahwa anda mengganggap bahwa Firman Allah itu ciptaan Allah. Des, mendakwa bahwa Isa Al Masih itu ciptaan Allah !. Sedangkan yang benar, sehubungan dengan Trinity, Firman Allah itu adalah wujud fikiran atau kehendak Allah.

    SEBUAH KESIMPULAN

    Trinity itu sama sekali berbeda dengan yang disinggung dalam Al Quran. Dalam Al Quran, Nasrani dikecam karena Allahnya ada tiga. Namun, kami informasikan bahwa Trinity itu bukan seperti itu !. Trinity itu soal Bapa, Firman/Anak dan Roh Kudus. Tuhan itu hanya satu !

    PESAN SAYA :

    Anda saya ajak untuk mengkaji ulang tulisan anda mengenai Tauhid di muka diskusi ini, coba baca kembali.

    Anda mengatakan bahwa firman manusia adalah ciptaan manusia. Ini tidak sesuai dengan konsep Tauhid dalam penciptaan, yang menfatakan bahwa tidak ada pencipta selain Allah Swt. (poin 3)

    Tuhan mengelola Alam semesta ini ternyata dibantu para malaikat. Ada malaikat penjaga neraka, penjaga surga dan lain-lain. Ini tidak sesuai dengan konsep Tauhid dalam manajemen, yang kata anda bahwa Allah tidak perlu siapapun dalam mengelola alam semesta. (poin 4)

    Dalam Quran 20:116 Para malaikat disuruh Allah untuk bersujud kepada manusia. Sujud itu identik dengan menyembah. Sobat sekalian yang biasa Sholat, pasti tahu bagaimana posisi sujud itu ! Sujud itu jauh melebihi sekedar memberi hormat atau memuliakan. Sujud diikuti dengan posisi tunduk dan merendah. Ini tidak sesuai dengan konsep Tauhid dalam penyembahan, yang mengatakan bahwa tiada yang patut disembah kecuali Allah. (poin 5)

    As Wr Wb.

    Cahaya Islam responded:
    Agustus 25, 2007 pukul 3:29 am

    Salam

    Sebelum anda bertanya kembali, coba anda renungi sejenak atas jawaban-jawaban kami diatas dan juga pertanyaan-pertanyaan yang kami lontarkan di atas. Belumlah anda menjawabnya.

    Dari sekian banyak uraian yang anda uraian bukanlah sebuah jawaban dan penjelasan melainkan sebuah cerita. Yang pada mulanya anda kebingungan mengenai apa yang disebut dengan firman-Nya. Dan pada poin terakhir anda meragukan tujuan penciptaan makhluk-Nya.

    Kami akan menerangkan kembali maksud dari firman Tuhan. Firman Tuhan adalah sifat perbuatan-Nya, bukanlah sifat zat-Nya (Ilmu, Berkuasa dan Hidup). Sifat perbuatan-Nya ini dapat kita paparkan melalui dua sisi pandang yaitu:

    1. Jika dikaitkan pada zat-Nya sendiri, Firman itu adalah sesuatu yang tidak terpisah dari-Nya dikarenakan sifat itu adalah zat-Nya sendiri.

    2. Jika dikaitkan pada makhluk-Nya maka Firman itu adalah ciptaan-Nya seperti: semua makhluk dan alam ini disebut juga kalam-Nya atau firman-Nya atau ciptaan-Nya. Seperti Ia berfirman dengan ciptaan-Nya yaitu sebuah pohon kepada nabi Musa as di bukit Thur.

    Juga contoh diatas berupa tulisan-tulisan yang berada di dalam computer, tulisan-tulisan tersebut adalah ciptaan anda sendiri. Tentunya ciptaan anda bukanlah anda. Tulisan anda bukanlah anda tapi hasil dari buah pikiran anda. Juga kalau diibaratkan tulisan sebagai sifat Tuhan atau Tuhan anak berarti ia mengalami perubahan (penambahan dan pengurangan). Sangat tidak mungkin (mustahil) Tuhan mengalami perubahan sifat, misalnya terkadang Tuhan melihat dan terkadang tidak melihat, terkadang berilmu dan terkadang tidak?

    Mengenai tujuan penciptaan makhluk-Nya yang mencakup manusia dan malaikat, anda dapat mempelajari artikel kami yang berjudul: Apa Dibalik Tujuan Penciptaan Manusia ? Hal ini juga berkaitan dengan tujuan diciptakannya malaikat. Yakni mereka pun dalam rangka ingin meraih kesempurnaan. Kesempurnaan yang mereka peroleh, hanyalah dapat menjalankan tugas atau perintah Tuhan.

    Bukanlah berkaitan dengan kesempurnaan zat Tuhan ini berarti bahwa bantuan pekerjaan yang dijalankan malaikat itu berguna bagi kesempurnaan dirinya dalam rangka mentaati perintah Tuhan. Bukanlah manfaat tersebut dikembalikan pada zat Tuhan.
    Juga berkaitan dengan judul artikel yang saya sebutkan. bacalah!

    Adapan malaikat disuruh bersujud pada manusia, di kala itu Dia yang memerintahkan. Sujud dalam arti hormat kepada makhluk yang lebih mulia.

    Sebagai penutup ada sebuah pertanyaan dari kami yang paling penting dan cobalah anda renungkan..!! Apakah Isa Al-Masih beribadat kepada Tuhannya atau tidak? Kalau ia beribadat berarti ia seorang hamba. Kalau ia tidak beribadat……? Mungkinkah ia tidak beribadat? Mudah-mudahan hal ini akan menjadi bahan kajian untuk kita semua.

    Wassalam.

    Acing said:
    Agustus 29, 2007 pukul 4:37 am

    As Wr WB.

    Mohon maaf lama menjawab. Saya tidak selalu online. Btw, terima kasih atas jawapan anda.

    Menjawap dengan cara seperti menjawap ujian di sekolah itu bisa saja dilakukan. Namun, ada hal yang sangat penting yang menjadikan kerancuan.

    Sebelum saya menjawap, cuba jawap dulu yang ini, ini sudah sejak mula saya tenyakan di muka:

    SATU
    Allah hanya cukup ber-Firman dalam mencipta,
    Firman Allah adalah ciptaan Allah
    Maka, harus ada Firman Allah terlebih dahulu untuk mencipta Firman Allah yang lain,
    Lah, dari mana asal-usul Firman Allah pertama kali, sehingga dapat dicipta
    Firman-2 Allah yang lain ?

    Sebelum ada Mahluk, lebih dahulu ada Khalik. Bagaimana Allah mencipta sesuatu ? Dengan berFirman ? Kan Firman itu belum ada !

    Apapun urain saya, sulit untuk anda pahami sebelum anda mengerti jawapan pertanyaan klasik tersebut. Saya sebut klasik, karena tidak ada Muslim yang dapat menjawap, kecuali hanya klaim-klaim : sifat, zat dst….

    Ws Wr WB.

    Acing said:
    Agustus 29, 2007 pukul 5:51 am

    as wr wb.

    Nambah dikit :

    Barusan saya membaca berita, bahwa seorang wasit karate Indonesia dihajar oleh polisi Malaysia. Polisi Malaysia tak tahu bahwa Ianya adalah seorang wasit karate asal Indonesia. Gedebag-gedebug, dihajar tanpa ampun, sampai masuk rumah sakit. Indonesia protes keras, sampai mengundurkan diri dari ajang olehraga tersebut.

    menurut Polisi Malaysia, Ia mirip seorang buronan yang selama ini dicari-cari.

    Ini mirip Trinitas, yang dihajar teman Muslim gedebag-gedebug. “Kafir, musyrik !” Tuhan kok punya Anak ! Jahanam !

    Padahal, Trinitas bukan masalah Tuhan punya anak, tidak pula cucu cicit ! Anak dalam hal ini adalah Firman Allah !

    Nah, terlepas dari benar-salah Trinitas itu sendiri, yang salah sangka (seperti Polisi Malaysia itu !), pasti bukan Tuhan !

    Ws wr wb.

    Cahaya Islam responded:
    Agustus 29, 2007 pukul 6:37 am

    Salam

    Sebelumnya pertanyaan ini sudah kami jelaskan melalui diskusi diatas. Dan rupanya anda belum memahaminya. Jadi, ada dua pembagian sifat Tuhan:

    1. Sifat Zat seperti: Ilmu , berkuasa dan Hidup adalah sesuatu yang berasal dari zat-Nya.

    2. Sifat Perbuatan, seperti: Berfirman, Pencipta, Pemberi Rizki dan Pengatur, sifat-sifat yang dianggap berasal dari-Nya, hanya dalam kaitannya dengan makhluk. Tanpa kita memikirkan benda yang diciptakan, kita tidak dapat mengatakan, Dia adalah Pencipta, atau Dia Pemberi Rizki, tanpa ada seseorang yang perlu diberi rizki.

    Ini berbeda dengan Sifat-Sifat Zat, seperti Berkuasa. Ketika kita mengatakan Dia Berkuasa, tidak ada benda lain yang diperlukan disini. Jika kita menganggap konsep “Pencipta atau berfirman” mencakup “Berkuasa”, yaitu Zat yang mempunyai ‘ Kekuasaan’ untuk menciptakan, ia akan menunjuk pada Sifat Zat. Jadi asal usul pertama kali bahwa diri-Nya terdapat ‘Kekuasaan’ dalam menciptakan. Kemudian Dia menciptakan firman-Nya dalam kaitan dengan makhluk-Nya.

    Kalimat Anda: Maka harus ada Firman Allah terlebih dahulu untuk menciptakan Firman Allah yang lain. Ada beberapa Kerancuan:

    1. Jika anda mengatakan Firman Tuhan sebagai Isa Al-Masih, maka Al-Masihlah yang menciptakan Firman Allah yang lain bukan Tuhan Bapa.

    2. Anda tidak menyakini Firman Tuhan, asal usul pertama kali bahwa diri-Nya terdapat ‘Kekuasaan’ dalam berfirman atau menciptakan.

    3. Sifat Kekuasaan, sebagai sifat zat-Nya, tidak ada dalam kamus keyakinan anda.

    4. Kalimat anda ‘untuk menciptan Firman Allah yang lain’ ? Anda pun menyakini bahwa Firman Tuhan sebagai ciptaan Tuhan, jika berkaitan dengan makhluk-Nya.

    Ceritanya susah nyambungnya….. tidak ada hubungannya dengan pembahasan ini.

    Wassalam

    Acing said:
    Agustus 30, 2007 pukul 1:54 am

    As Wr Wb.

    Sifat Zat dan Sifat perbuatan Inilah perbezaan besar antara saya dan anda. Anda menghubungkan Allah dengan Zat. Terlampau rendah menurut saya. Zat itu kan konotasinya zat cair, zat padat, H2S04, H20 dan lainnya. Pun meski anda menyatakan zat Allah itu tidak diketahui.

    Sedang sifat perbuatan, menurut anda salah satunya berFirman”. Sifat perbuatan itu kan rapi,jahat, baik dll. berfirman itu lebih dekat dengan “PekerjaanNya”, yang tidak lain adalah manifestasi pribadiNya.Sedangkan Allah itu berkuasa, saya kira kita semua setuju.

    Bahwa ketika Allah berkehendak, maka dalam melaksanakan kehendak itu nampak atau direalisasikan dalam FirmanNya dan Firman itu keluar dari dalam Dirinya. Allah yang berfikir dan berkehendak itu kami sebut Allah Bapa dan Firman itu saya sebut Anak. !. Lihat ayat ini :

    Yoh 1:1 :
    “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah !”

    Nah, untuk meninjau lebih jauh tentang Trinity, termasuk keTuhanan Yesus, bagus sekali jika dilihat konteks Alkitabiahnya. Paling tidak, untuk mendukung argumentasi saya, ketimbang hanya membuat statement : Dia bukan Tuhan, dia .., dia … dll.

    Saya pun tidak setuju kalau Allah punya anak, cucu, istri. Kemudian Allah ada dua, tida, atau lima.

    Catatan:
    Saya menyatakan “untuk menciptakan Firman Allah yang lain”, itu dalam rangka mengikuti cara berpikir anda dalam mana Firman Allah adalah Ciptaan Allah.

    Selain itu, pembahasan mengenai Firman Allah adalah sangat-sangat penting dalam memahami Trinity.

    Ws Wr Wb.

    Cahaya Islam responded:
    Agustus 30, 2007 pukul 4:49 am

    Dengan nama Tuhan Pencipta Alam Semesta.

    Salam

    Ini yang perlu anda renungkan:

    1. Anda menyakini Firman Tuhan yang sebagai sesuatu yang independen. Akan memisahkan zat Tuhan Bapa dan Tuhan Anak.

    2. Kami ingin menanyakan, dalam Yoh 1:1 :“Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah !” Firman-Nya dalam istilah anda sebagai Tuhan Anak sebagai awal keberadaan?

    3. Sifat Perbuatan Tuhan, anda mengklasifikasi sifat perbuatan kedalam perbuatan baik dan jelek. Tentulah menjauhkan dan memustahilkan Dia dari perbuatan yang jelek.

    4. Kalimat anda : Nah, untuk meninjau lebih jauh tentang Trinity, termasuk keTuhanan Yesus, bagus sekali jika dilihat konteks Alkitabiahnya. Jadi, tolong anda sebutkan dari naskah al-kitab yang menyatakan Tuhan Anak sebagai sifat Tuhan. Apakah al-Kitab menyatakan demikian?

    5. Anda pun belum menjawab pertanyaan berikut ini:
    Apakah Isa Al-Masih beribadat kepada Tuhannya atau tidak? Kalau ia beribadat berarti ia seorang hamba (makhluk Tuhan). Kalau ia tidak beribadat……? Mungkinkah ia tidak beribadat?

    Kami cukupkan dulu kesempatan ini. Semoga hal ini menjadi kajian bagi kita semua.

    Wassalam.

    Acing said:
    Agustus 30, 2007 pukul 3:41 pm

    As Wr Wb.

    Salam sejahtera…

    Pribadi Yesus dapat dibedakan dalam dua hal. Yang pertama bahwa Ia benar-benar
    manusia. Dilahirkan, dibesarkan, mendapat didikan , makan, tidur, lapar, haus
    dan bahkan mati. Yang kedua, bahwa Allah Bapa, yang tidak nampak itu, berbicara
    melalui diriNya. Jadi, ada sifat Ilahi ada sifat manusia.

    Ibarat sebuah Kitab Suci. Lembaran-lembaran kertasnya adalah manusia Yesus.
    Sedangkan Kehendak dan Perintah, yang tidak nampak, yang terkandung dalam
    Kitab itu, adalah Allah Bapa.

    Jawapan saya :

    1. Sulit membayangkan bahwa Allah dipandang sebagai zat. Apakah Perintah
    dan kehendak itu zat padat, cair atau gas ? Manusia bisa
    berpikir, lah pikiran itu zat macam apa ?

    Katakanlah misalnya, ada firman di pom bensin “Dilarang Merokok”.
    Kehendaknya jelas : semua orang tidak boleh merokok di situ. Di mana
    letak kehendak dan di mana firmannya ?

    Kalau firman itu dipindah, misalkan dipindah di pasar. Maka, kehendak
    yang terkandung juga ikut ke pasar. Keduanya tidak berpisah.

    2. Benar ! Segala sesuatu dicipta Allah melalui FirmanNya. Yoh 1 ayat 1 itu
    mengulangi kisah penciptaan yang tertulis dalam Kitab kejadian 1.

    Yoh 1: 3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada
    suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

    Yesus berkata:

    Yoh 17:5 Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri
    dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

    3. Saya hanya mencoba mengoreksi pendapat anda. Bahwa berfirman itu bukan
    kata sifat, melainkan pekerjaan atau perbuatan. Baik, buruk, cantik,
    indah itu contoh kata sifat. Tidak ada yang mengatakan perbuatan
    Tuhan itu jelek.

    4. Apaka Firman Allah = Anak Allah itu Allah sendiri ? Ayat-ayat ini
    terang-terangan membenarkan.

    Yoh 1:1 Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama dengan Allah
    dan Firman itu adalah Allah !

    Yoh 1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita,
    dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan
    kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

    Yesus berkata:

    Yoh 14:10 Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa
    di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari
    diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang
    melakukan pekerjaan-Nya.

    5. Beribadah itu kurang-lebih : menjalankan perintah di bidang religius.
    Misalnya berdoa, berbuat baik, mengaji, sedekah dll.

    Manusia Yesus, anak Maryam itu juga beribadah !. Namanya juga sedang
    memberi tuntunan, Dianya harus memberi contoh yang baik. Dia berdoa,
    memberi sedekah, menolong orang dll.

    Kalau Yesus mengaku membawa ajaran yang baik, sedangkan Ia sendiri tidak
    beribadah, hampir pasti orang-orang ketika itu tidak akan percaya. Mosok
    orang tidak beribadah layak diteladani !

    Jika anda belum mengerti, silahkan merenung. Tidak ada yang memaksa anda
    untuk menerima atau menolak penjelasan saya ini. Anda membahas Trinity,
    sedang saya memiliki penjelasan mengenai Trinity.

    Trinity itu tidak ada sangkut pautnya dengan Tuhan beranak dan diperanakkan
    dalam arti biologis ! Kalau begitu, yang anda kecam itu Trinity yang mana ?

    Catatan:
    Jika anda belum memahami Trinity, setidaknya pahamilah pekerjaan-pekerjaan
    Yesus, yang mengindikasikan bahwa Ia memang benar Firman Allah, Anak Allah.
    Di dalam Injil, Yesus melakukan perbuatan ajaib yang tidak mungkin dilakukan
    manusia kebanyakan, atau nabi sekalipun !. Melakukannya juga tidak umum
    seperti kebanyakan orang, hanya dengan bersabda !

    Ada orang sakit, lalu ada yang bersabda “Sembuh !”. Dan benar-benar sembuh !
    Jangan-jangan Dia ini Tuhan ! Bukan hanya itu, malah orang mati pun
    diteriaki ‘Bangkit !”, bangkit pula !

    Kalau seorang dokter mengobati pasien dengan obat-obatan itu biasa. Hasilnya
    pun bisa sembuh bisa nggak. Kalau Yesus, hanya bersabda, kun fayakun !
    Terjadilah. Ini benar-benar ajaib !

    Ws Wr Wb.

    Cahaya Islam responded:
    Agustus 31, 2007 pukul 5:10 am

    Dengan Nama Tuhan Pencipta Alam
    Salam

    Kami merasa perlu menanggapi jawaban anda yang harus memerlukan penjelasan kembali. Dan beberapa pertanyaan kami rangkumkan, juga yang lain menyangkut pertanyaan sebelumnya yang belum anda tanggapi.

    1. Zat-Nya adalah sesuatu yang tidak bisa dikenali dengan akal, hanya kita dapat mengenal-Nya melalui sifat-sifatNya.Anda mengatakan bahwa kehendak adalah Tuhan Bapa dan Firman sebagai Tuhan Anak. Namun, terkadang kehendak tidak selalu seiring dengan firman atau tidak selau diaplikasikan dengan firman misalnya: anda pun mengungkapkan gagasan atsu kehendak anda tidak hanya melalui kata-kata, tetapi melalui tulisan dan perbuatan anda! apakah tulisan dan perbuatan juga dianggap sebagai firman? Jika ketiganya (firman, tulisan dan perbuatan) dianggap sebagai anak Tuhan maka akan terjadi pemusnahan dan pemisahan misalnya: jika tulisan yang ada dalam naskah tersebut dibakar maka ia akan musnah. Seperti juga Isa Al-Masih akan mengalami kematiannya?

    2. Yesus berkata:

    Yoh 17:5 Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri
    dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

    Disini, Yesus meminta kemuliaan kepada Tuhan Bapa. Dikatakan kata ‘meminta’ berarti ada kekurangan yang terdapat pada diri Yesus. Sifat kekurangan apa pantas dialamatkan kepada Tuhan Anak? Juga sangat jelas, Yesus seorang hamba (makhluk) ketika ia meminta kemuliaan pada Tuhan Bapa. Atau ketika Yesus meminta pertolongan kepada Tuhan Bapa sewaktu ia disalib? Jadi, Tuhan Anak sendiri tidak mempunyai sifat Ketuhanan?

    3. Bahwa berfirman itu bukan kata sifat, melainkan pekerjaan atau perbuatan. Namun, anda sendiri mengolongkan firman Tuhan sebagai sifat Tuhan? Dan ternyata realitas menunjukkan ada pemisahan antara Tuhan Bapa dan Tuhan Anak sepertia Yesus hidup di bumi sedangkan sifat Tuhan Bapa ada ditempat-Nya, keduanya adalah zat yang berdiri sendiri dan masing-masing memiliki ruang dan tempat.

    4. Anda mengatakan: Yesus, yang mengindikasikan bahwa Ia memang benar Firman Allah, Anak Allah.
    Bukankah ketika Yesus menghidupkan orang yang mati dan menyembuhkan orang yang sakit juga atas izin-Nya?
    Mengapa Tuhan hanya menjelma pada tubuh Isa, tidak kepada tubuh yang lain? Atau mengapa Isa telah terpilih menjadi anak Tuhan, tidak nabi-nabi yang lain? Anda menyakini kenabian Ibrahim as. Nabi Ibrahim mendapatkan gelar Al-Khalil yang berarti kekasih Allah. Tidakkah sepantasnya kedudukan nabi Ibrahim as untuk menjadi anak Tuhan? Juga nabi Musa as yang berbicara dengan Allah yang mendapat gelar Kalimatullah. Tidakkah beliau as juga berhak mendapat gelar demikian?

    5. Seperti sanggahan yang dijelaskan oleh T Mulya: “Oleh karena itu saya sangat sulit memahami sifat Allah sebagi Firman /Anak yang turun ke dunia untuk menebus dosa manusia. Sepertinya diturunkannya Kitab2 Suci dan diutusnya para Nabi/Rasul ke muka bumi ini dan adanya surga dan neraka menjadi sia-sia. Dengan demikian hidup ini tak perlu perjuangan dan kosong/tak bermakna, karena kita semua sudah dijamin masuk surga-Nya. Padahal katanya Allah juga punya sifat Ruhul Kudus yang membimbing manusia, yang bermakna bahwa manusia menghadapi pilihan hidup yang akan membuatnya bahagia dan atau sengsara. Bukankah ini kontradiktif (antara Sifat Allah yang berupa Firman yang turun ke dunia dengan Ruhul Kudus yang membimbing manusia) ? Bukankah manusia yang sudah ditebus dosanya tak perlu bimbingan lagi ?

    Kami cukupkan disini dulu, semoga anda berkenan menerima kritikan kami terhadap konsep trinitas yang anda yakini.

    Terima kasih.

    Acing said:
    September 1, 2007 pukul 2:07 am

    Salam.

    Terima kasih anda masih sabar menanggapi tanggapan saya.

    Jawapan saya:

    1. Karena Zat-Nya tidak mungkin kita kenal. Tidak usah mikir Zat-nya.
    Tubuh manusia Yesus bisa mati, namun Firman tidak pernah mati sebab
    Firman itu masih ada dalam sumbernya, Bapa !

    2. Anda tidak menghiraukan bahwa Yesus itu memiliki tubuh manusia yang
    memiliki perilaku seperti manusia pada umumnya. Anda juga melupakan
    frase “kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada”, yang
    artinya bahwa Dia sudah ada sebelum ada mahluk.Siapa yang sudah ada
    sebelum mahluk ?

    3. Bapa/Kehendak itu bermanifestasi dalam Firman. Jadi pada hakikatnya
    Firman itu satu dengan Bapa. Coba renungi apa yang telah saya
    tulis di muka. Juga ayat-2 Injil yang saya telah tunjukkan.

    4. Sudah saya jelaskan di muka.

    Dan perlu anda ketahuai bahwa anak Allah juga dikenakan bagi
    orang yang suka membawa damai. Namaun istilah Anak Allah
    bagi Yesus, bermakna Firman Allah.

    Tuhan hanya menjelma dalam Tubuh Isa, itu hak mutlak Tuhan. Anda
    tahu tubuh Isa itu berasal dal Kalimat Allah, bukan dari tanah
    spt manusia lain.

    Izin tidak sama dengan pertolongan.Ini sebenarnya hanya kata
    yg digunakan untuk mengkerdilkan Isa.

    5. Betul, Yesus sebagai penebus dosa. Manusia itu tidak akan
    selamat dengan usahanya sendiri, menurut saya. Sayangnya, tidak
    semua manusia mau ditebus ?. Salah satu syarat manusia yang mau
    ditebus adalah dengan menuruti perintah-Nya.

    Dimana nalarnya, jika sudah ditebus akan tetapi tidak mau
    mengikuti ?

    Perlu anda ketahui, bahwa Kitab-2 Suci itu ditulis, salah satunya
    justru dalam rangka mempersiapkan/mengamarkan kehadiran
    Allah dalam Yesus, yang diistilahkan IMMANUEL, ALLAH BESERTA KITA.

    Dalam Kitab kejadian, setelah kejatuhan manusia dalam dosa, Allah
    kemudian mengorbankan binatang untuk diambil kulitnya sebagai
    pakaian/penutup tubuh manusia.

    Inilah kiasan bahwa manusia yang berdosa,keadaannya dosa (telanjang)
    sehigga perlu ditutupi dengan kurban. Dan ajaibnya, kurban itu juga
    digambarkan dalam Kisah Ibrahim yang mengorbankan anaknya. dan
    anda tiap tahun memperingati.

    Sebenarnya Yesus itulah kurban sesungguhnya yang dirayakan. Sehingga
    Yesus disebut Domba Allah !

    Sahabat yang budiman…

    Satu hal yang sangat penting di sini iaitu, bahwa Trinity
    tidak sama dengan Trinity yang disangkakan anda.
    dalam mana, Allah disangka beranak cucu. Ini salah
    satau hal terpenting.

    Renungan :

    Anda menilai Yesus hanya dari satu sisi. Mengapa tidak menilai dari sisi
    lain ?

    Coba sebutkan satu nama binatang galak ! Misalnya anda menjawab harimau.
    Nah, pernahkah harimau bilang kepada anda “Saya galak !”. Pernah ?

    Mengapa anda tidak menilai Yesus juga dari perbuatannya juga ? Dalam
    Injil, banyak bukti nyata bahwa Dia adalah Tuhan !

    Anda susah mengerti, sama susahnya untuk membernarkan atau mempersalahkan
    Injil !

    Salam.

    Cahaya Islam responded:
    September 2, 2007 pukul 3:56 am

    Dengan Nama Tuhan Pencipta Alam Semesta.

    Salam

    Terima kasih, saudara bersedia kembali lagi membahas pembahasan ini. Namun, terus terang banyak sekali keberatan-keberatan kami terhadap jawaban yang anda berikan.

    1.Mustahil kalau seandainya anda tidak menyakini firman-Nya berupa lembaran-lembaran seperti injil yang ada didepan anda sebagai ciptaan-Nya dikarenakan sesuatu yang tidak kekal dan akan musnah.
    Jika anda menyakini lembaran2 dari firman tsb adalah sesuatu yang kekal dan tidak musnah maka akan ada dua wujud yang mempunyai sifat ke-Tuhanan yang sama2 kekal dan tidak mati atau musnah.

    2. Dalam hal ini, kami tidak menanyakan frase kemuliaannnya, melainkan secara logika pengertian kata ‘meminta’ berarti ada kekurangan yang terdapat pada diri Yesus. Sifat kekurangan apa pantas dialamatkan kepada Tuhan Anak? Juga sangat jelas, Yesus seorang hamba (makhluk) ketika ia meminta kemuliaan pada Tuhan Bapa. Atau ketika Yesus meminta pertolongan kepada Tuhan Bapa sewaktu ia disalib? Jadi, Tuhan Anak sendiri tidak mempunyai sifat Ketuhanan?

    3. Kalimat anda:.Bapa/Kehendak itu bermanifestasi dalam Firman. Jadi pada hakikatnya, Firman itu satu dengan Bapa.
    Sudah kami jelaskan bahwa ketika Ketika Bapa/Kehendak itu bermanifestasi dalam Firman dalam bentuk perbuatan, maka ada pemisahan antara zat Tuhan dan zat firman itu sendiri.
    Bagaimana anda mengatakan Firman itu satu dengan Bapa? Bisakah anda mengatakan Tuhan Bapa juga berada dibumi dalam keadaan mengerjakan sesuatu seperti makan, minum, berjalan, tidur………….dsbnya.

    Disini, apakah anda sendiri merendahkan sifat perbuatan dari Tuhan Bapa anda sendiri? Bagaimana kami akan mempercayai sifat ketuhanan yang demikian?

    4. Kalimat anda: Anda tahu tubuh Isa itu berasal dal Kalimat Allah, bukan dari tanah
    spt manusia lain.

    – Jika anda memberi kemulian pada Isa Al-masih sebagai Kalimat-Nya. Mengapa anda tidak memberi kemulian pada Nabi Musa as yang berbicara dengan Allah dan juga mendapat gelar Kalimatullah?

    – Jika anda memberi kemulian pada Isa Al-Masih dikarenakan tidak diciptakan dari tanah. Malaikat dan Iblis yang diciptakan bukan dari tanah. Mereka diperintahkan Allah Swt untuk bersujud kepada Adam as sebagai bentuk penghormatan. Mengapa kemulian tsb, juga tidak anda berikan?

    – Jika kemulian yang anda berikan kepada Isa Al-Masih dikarenakan mampu untuk menghidupkan orang yang telah mati. Kamipun mendatangkan sebuah riwayat bahwa Ali as sebagai washi nabi Muhammad Saaw mampu menghidupkan Syam bin Nuh sebagai washi nabi Nuh as. Tidakkah kemuliaan juga berhak diberikan atas beliau as? Namun, tidaklah demikian. Kami menyakini beliau as hanya sebagai washi setelah Nabi Saaw (penerus risalah Muhammad Saaw). Walaupun segudang keutamaan dimiliki oleh Ali as yang tidak dimiliki oleh sahabat yang lain bahkan para nabi, tetapi beliau as bukanlah nabi. Dengan kebesaran ini beliau (Ali) as tetap menyatakan dirinya sebagai budak Muhammad Saaw.

    5. Kalimat anda: Dimana nalarnya, jika sudah ditebus akan tetapi tidak mau
    mengikuti ?

    Mendapat tebusan dosa artinya: jaminan ampunan terhadap dosa yang ia lakukan. Yesus anda katakan sebagai penebus dosa.
    Nalarnya: dia akan menyalah gunakan perintah tersebut, dikarenakan dosa yang ia lakukan akan mendapat tebusan.
    Kisah pergorbanan Ismail as yang akan disembelih, bukanlah kisah penebusan dosa. Tetapi atas dasar ketaatannya untuk mentaati perintah Allah Swt.

    Catatan:

    -Kalimat anda: Trinity tidak sama dengan Trinity yang disangkakan anda. Ukuran kebenaran apa yang anda pakai? Tentunya dengan tolak ukur akal sehat menyalahi konsep trinitas yang anda yakini.

    – Harimau tidak bisa berbicara. Jadi, tidak berterus terang.

    – Bagaimana kami akan membenarkan Injil. Adakah jaminan bahwa injil yang ditulis sekarang tidak mengalami perubahan? Apa yang dikenal dengan Penjanjian Baru? Bukankah konsep trinitas lahir dari hasil perdebatan antara para uskup kota Iskandariah yang mewakili pemikiran Paulus dan Arius?

    Terima kasih.

    skadela said:
    September 3, 2007 pukul 9:51 am

    alhamdulillah bersyukur kepada allah bagi manusia yang masih hidup

    Acing said:
    September 4, 2007 pukul 12:35 am

    Salam.

    Bagaimana mungkin anda mau memahami Trinity, sumbernya saja anda persalahkan.

    Bagaimana kami akan membenarkan Injil. Adakah jaminan bahwa injil yang ditulis sekarang tidak mengalami perubahan.

    Akan tetapi, Al Quran sendiri yang mengatakan :

    Quran 5:46. … Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat….

    Al Quran membenarkan Kitab Taurat dan Injil. Artinya, Allah membenarkan bahwa Taurat dan Injil itu Firman Allah.

    Quran 6:34. … Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu…

    Taurat dan Injil itu Firman Allah. Tidak ada yang dapat merobah Kalimat=Firman Allah.

    Kesimpulannya, Taurat dan Injil itu tidak mungkin ada yang dapat merobah !

    Dimana Injil yang asli ? Anda punya yang asli ? Opo injil barnabas Itu ??????

    Seandainya saya bapak-bapak Gereja dulu belum merumuskan Trinity, mungkin sekali saat ini akan lahir.

    Lebih membingungkan lagi :

    Ukuran kebenaran apa yang anda pakai? Tentunya dengan tolak ukur akal sehat menyalahi konsep trinitas yang anda yakini.

    He he, wong intinya itu, Trinity yang anda sangka adalah soal Tuhan beranak/diperanakkan itu salah. Trinity itu soal
    pribadi Allah Bapa, Firman dan Roh. Apa mungkin Tuhan salah sangka ?

    Salam.

    Cahaya Islam responded:
    September 5, 2007 pukul 3:09 am

    Dengan nama Tuhan Pencipta Alam Semesta

    Salam

    Benar, itulah injil yang didalamnya mengandung kebenaran bahwa Isa Al-Masih as membawa agama tauhid. Dan belum ada penyelewengan, seperti halnya mengatakan bahwa Isa Al-Masih sebagai anak Tuhan. Dan bagaimana pula penjelasan kitab-kitab injil dalam Perjanjian Baru? Didalamnya terkandung tiga injil yang kesamaaan isi didalamnya yang disebut dengan nama Bible Synotic. Dalam injil-inji tersebut, tidak mengakui tentang ketuhanan Isa Al-Masih atau Al-Masih tidak memiliki sifat ketuhanan dan yang lain Bible Johannes mengakui sifat ketuhanan Al-Masih.
    Dalam surat Al-Maidah ayat 116, Dia berfirman: Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah Aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). jika Aku pernah mengatakan Maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan Aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”.

    Anda berbicara firman dalam perngertian yang luas, adalah sesuatu yang bersifat umum. Kalau dimaksud dengan firman sebagai makhluk atau lembaran-lembaran firman-Nya adalah sesuatu yang bisa berubah dan musnah. Janji-Nya bukanlah firman-Nya. Seperti: Perkataan anda (firman anda) bukan janji anda.

    Al-Qur’an 6:34. … Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.

    Tidaklah semudah itu pengertian kalimat ‘janji-janji Allah’ yang anda maksudkan. Dalam Injil, anda mungkin saja dapat menikmati secara tekstual secara langsung sesuai apa yang tertulis dalam lembaran tersebut. Namun dalam kitab suci Al-Qur’an, untuk menafsirkan ayat-ayat tertentu diperlukan berbagai penguasaan dan wawasan keilmuan baik itu menyangkut persoalan agama maupun persoalan umum. Tidaklah hanya membaca sebuah terjemahan dari kitab suci kami tersebut! Dan kami dapat menikmati hal ini melalui sebuah kitab penafsiran yang ditulis oleh para ulama kami yang terkemuka.

    Janji-janji Allah Swt yang dimaksud adalah ketetapan-Nya, didalam penafsiran kami adalah sesuatu yang tidak mengalami perubahan, yaitu yang menyangkut hukum dan qadha (ketetapan) yang pasti.

    Terima kasih

    T Mulya said:
    September 5, 2007 pukul 10:28 am

    Mas Acing, kelihatannya memang tidak mungkin nyambung dan memang tidak mesti nyambung, karena acuan atau sumbernya juga sangat berbeda yang mengakibatkan sudut pandang yang berbeda pula.

    Saya hanya tertarik atas klaim anda bahwa kitab Bible yang ada sekarang masih asli/orisinal. Benarkah ? Kalau masih asli kenapa bahasa dan hurufnya sudah berubah ?
    Fakta membuktikan bahwa sampai sekarang tidak ditemukan Kitab Bible dengan bahasa aslinya (Ibrani), sehingg sangat sulit untuk melacak makna asli suatu ayat. Yang ada sekarang ini adalah Bible dalam berbagai bahasa. Mungkin Bible yang berbahasa Indonesia diterjemahkan dari Bible versi Inggris. Versi Inggris diterjemahkan versi Yunani dst.nya (terjemahan atas terjemahan). Contohnya kata “firman” (yang berasal dari bahasa Arab) sangat berbeda antara persepsi anda dengan persepsi bung Abuaqilah.

    Sementara AlQuran masih utuh baik huruf maupun bahasanya dari sejak diturunkan sampai saat ini.

    Saya yakin kalau ada aslinya pasti “nyambung”.

    Mungkin itu dulu saja yang perlu anda pikirkan.

    Terima kasih.

      Andhi Dewanto said:
      Agustus 15, 2012 pukul 11:33 pm

      kalau aku sih pilih yang SATU aja ah, ALLAH maha SATU, gak pake embel2 yang mengaburkan makna SATU. Cuma akal akalan manusia (Syathon) aja yang nambah nambahin. Kita tetap bersaudara, saling menghormati masing2 kepercayaan masing-masing. Keimanan gak bisa dipaksakan, cuma nanti saat kita MATI saja yang bisa menjawab mana yang paling benar.

      Muslim said:
      November 18, 2012 pukul 7:52 am

      setuju banget
      Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman
      al-Baqarah ayat 6

    rahmat said:
    September 10, 2007 pukul 6:23 am

    Yang jelas dalam pandangan kristen bahwa Tuhan itu Esa. Disamping Tuhan itu Esa, Tuhan adalah Maha. Dan ingat pengertian MAHA ini yang kadang-kadang sulit untuk dimergerti dan diterima oleh temen-temen yang lain, sebab mereka mencari Tuhan melalui akalnya semata. Siapa bisa larang Tuhan mau jadi Bapa, atau Tuhan mau jadi Anak atau Tuhan mau jadi Roh. Suka-suka Tuhan Dia mau jadi apa, apa dengan berkata seperti ini saya dianggab melecehkan Tuhan ? Tidak, saya memang tidak melecehkan Tuhan, karena saya paham bahwa Tuhan selain Esa juga Tuhan itu adalah Maha. Belum paham juga, kalau Tuhan berkehendak, mau jadi meja, jadilah Dia meja, kalau mau jadi pohon, jadilah Dia pohon. Apakah dengan demikian bisa dikatakan bahwa Tuhan itu lebih dari satu ? ya, tentunya tidak bukan ! Dari perumpamaan ini, temen-temen muslim dapat kiranya leboh dapat memahami Trinitas itu. terima kasih

    Acing said:
    September 13, 2007 pukul 1:33 am

    Salam.

    Kitab-2 yang asli ada dijual di toko kresten.

    TANYA ANDA:

    Bagaimana kami akan membenarkan Injil. Adakah jaminan bahwa injil yang ditulis sekarang tidak mengalami perubahan.

    BEGINI

    Al Quran sendiri yang mengatakan :

    Quran 5:46. … Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat….

    Al Quran membenarkan Kitab Taurat dan Injil. Artinya, Allah membenarkan bahwa Taurat dan Injil itu Firman Allah.

    Quran 6:34. … Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu…

    Taurat dan Injil itu Firman Allah. Tidak ada yang dapat merobah Kalimat=Firman Allah.

    Kesimpulannya, Taurat dan Injil itu tidak mungkin ada yang dapat merobah !

    Dimana Injil yang asli ? Anda punya yang asli ? Opo injil barnabas Itu ??????

    LINKS :

    Klik di sini…

    Sarapanpagi

    Djikalau anda tidak dapat menunjukkan Kitab terdahulu yang aseli, berarti anda menfitnah.

    YANG LAIN :

    Mengapa Quran sekarang ada banyak dan ditambahi tafsiran/terjemahan. Apakah itu aseli ? Yang aseli ada berapa jilid/kitab ?

    Mengapa posting saya tidak pernah ditampilken lagi ?

    Salam.

    Kuru Setra said:
    September 13, 2007 pukul 9:10 am

    Salam,

    Seluruh umat Islam mempercayai kebenaran Injil, Taurat dan Zabur karena al-Qur’an memang membenarkannya. Masalahnya adalah apakah Kitab Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB) yang ada di tangan umat Kristiani merupakan kitab Taurat dan Zabur sebagaimana disebutkan oleh al-Qur’an ? Umat Islam menjawab : Tidak. Karena- secara akal- mustahil mempercayai al-Qur’an sekaligus pada saat yang sama mempercayai secara total PL dan PB sementara banyak isi di antara ketiganya yang saling bertentangan.
    Kalau PL dan PB bukan Kitab Taurat / Injil yang asli, lalau di manakah gerangan kitab-kitab yang asli ? Jelas umat Islam tidak tahu keberadaannya. Jangankan orang Islam, umat Kristiani pun tidak mengetahuinya. Coba saja obrak-abrik seluruh perpustakaan gereja-gereja di dunia, atau perpustakaan di Vatikan, akankah ditemukan Kitab Injil dalam yang ditulis menggunakan bahasa Yesus ketika itu ? Tidak ada.

    Kalau ada orang yang tahu kepalsuan sesuatu tetapi tidak bisa menunjukkan yang asli, ya belum tentu fitnah, sebab yang asli bisa jadi sudah dimusnahkan atau sudah rusak. Ingat SUPERSEMAR yang sempat dipertanyakan keasliannya walaupun hingga kini versi aslinya tidak kunjung ditemukan ? Walaupun begitu, sah-sah saja orang meragukan keaslian SUPERSEMAR.

    Kondisi PL dan PB memang berbeda dengan al-Qur’an. Al-Qur’an telah diterjemahkan ke dalam ratusan bahasa dan telah ditafsirkan oleh ratusan ahli tafsir. Kitab tafsir barangkali sudah berjumlah ribuan jilid. Kendati demikian, setiap terjemahan al-Qur’an PASTI selalu menyertakan teks aslinya, dari dulu hingga sekarang. Demikian juga kitab tafsir. Jadi, walaupun terdapat perbedaan pada tafsir ayat atau terjemahannya, dapat dijamin teks aslinya TIDAK AKAN PERNAH BERUBAH. Sementara teks asli PL dan PB tidak pernah ada yang tahu, padahal periode demi periode selalu ada revisi demi revisi.

    Perbedaan lain dari PL dan PB dengan al-Qur’an adalah bahwa al-Qur’an dihafal banyak orang sejak 14 abad yang lalu. Hafalan mereka menjadi semacam counter check terhadap keorsinilan teks-teks al-Qur’an. Tentu saja PL dan PB pun tidak mustahil untuk dihafal orang. Tapi karena bahasa yang dipakai tidak standar, belum lagi ejaan dan revisi-revisi pada kalimat, membuat orang sangat sulit untuk menghafalnya atau barangkali membuat orang merasa tidak perlu untuk menghafalnya.

    Oh ya, maaf saya pendatang baru dan saya rasa saya perlu “kulo nuwun” khususnya kepada Abu Aqilah. Terus terang, saya sangat menikmati diskusi ini, khususnya antara Sdr. Abu Aqilah dengan Sdr. Acing. Saya banyak menimba ilmu dari kalian berdua.

    Saya sorang muslim, dan tentu saja saya tidak setuju dengan paham trinitas a la Kristen. Namun demikian, ada bagian-bagian tertentu dari tulisan Sdr. Acing yang nampaknya sesuai atau mendekati pemahaman saya tentang Tuhan. Dzat Tuhan tidak mungkin dijangkau dengan akal, tetapi akal mampu mengenal Dzat Tuhan. (Sebagai catatan : dzat dalam bahasa Arab yang sering digunakan oleh Abu Aqilah tidak identik dengan zat dalam bahasa Indonesia sebagai zat cair atau zat padat sebagaimana disinggung oleh Acing).
    Penciptaan makhluk adalah keniscayaan sebagai perwujudan sifat kesempurnaanNya. Bila Tuhan Maha Penyayang, kepada siapa kasih sayangNya harus Dia curahkan seandainya Dia tidak mencipta makhluk ? Kendati Tuhan tidak mencipta makhluk untuk disayang, sifat Maha Penyayang tetap ada pada dzatNya karena sifatNya intrinsik tidak bergantung pada ada-tidaknya makhluk.

    Ketika Tuhan mencipta makhluk, terkhusus yang bernama manusia, sesuai dengan keadilanNya, ada keniscayaan bagiNya untuk membimbing manusia. DipilihNyalah beberapa manusia pilihan untuk mengemban misi membimbing manusia agar hidup sesuai dengan tuntunanNya. Manusia-manusia pilihan ini -yang kemudian dikenal sebagai Nabi- juga harus dapat mengobati kerinduan manusia akan Tuhan. Karenanya manusia-manusia pilihan ini juga -sejauh yang dapat dijangkau oleh makhluk- memiliki sifat-sifat Ilahiah. Bila Tuhan Maha Penyayang, maka seorang Nabi haruslah bersifat penyayang bahkan paling penyayang dibandingkan manusia lain. Bila Tuhan Maha Adil, maka Nabi juga harus memiliki keadilan dan bahkan paling adil. Sehingga tidaklah aneh bila beberapa diantara mereka memiliki kemampuan “adi-alami” seperti mencipta seekor ular dari sebuah tongkat kayu karena Tuhan-pun Maha Pencipta, atau menghidupkan orang mati karena Tuhan-pun Maha Menghidupkan.

    Sampai disini maka keberadaan Yesus dengan segala kemampuan “adi-alami”nya sebagai juru selamat dapat saya pahami, tanpa harus menjadikan beliau sebagai anak “biologis” Tuhan bahkan sebagai Tuhan itu sendiri. Dan tentu saja Yesus tidak sendirian, ada banyak rekan sejawatnya sesama manusia pilihan yang bertugas membimbing manusia ke jalan Tuhan.

    Salam.
    KS

    Acing said:
    September 17, 2007 pukul 4:56 am

    Salam.

    Nampaknya temen-2 bicara soal asli/tidak asli itu soal fisik Kitab semata. Saya sama sakali bukan ahli dalam ini. Yang saya tahu, saya punya Kitab dalam tulisan Ibrani. Saya juga tahu persis ada Kitab-2 dalam bahasa Yunani. Kalau itu temen-2 katakan tidak asli, maka orang lain pun akan berpendapat bahwa Kitab anda juga diragukan keasliannya. Jadi, sebelum temen-2 dapat menunjukkan yang aseli, maka klaim Alkitab adalah palsu, hanyalah klaim kosong semata. Lagi pula, Quran yang anda baca tiap hari itu asli atau tidak ? Bukankan itu hanya cetak ulang ?

    Kalau anda meragukan kebenarannya Alkitab, sedangkan anda tidak tahu di mana yang aseli, itu tuduhan aneh. Apakah Tuhan telah lalai menjaga FirmanNya sendiri ?. Apakah Tuhan telah melakukan sesutau yang mubazir ? Tengok kembali post di muka. Tak tunggu jika temen-2 bisa menunjukkan Alkitab yang asli. Tapi jangan Injil Barnabas wong itu sudah terbukti bertentangan dengan agama anda sendiri. Kalau dalam ini dalam sidang pengadilan, maka tuduhan tanpa bukti jangan-2 akan menjadi bahan tertawaan lho.

    Namun bagi saya, keaslian yang terpenting adalah materi atau kandungannya. Alkitab dalam bahasa Ibrani dan Yunani banyak ! Sekali lagi, silahkan cari di toko buku Kresten.

    Ada tulisan anda yang menarik:

    Saya sorang muslim, dan tentu saja saya tidak setuju dengan paham trinitas a la Kristen..

    Kalau begitu ada dua macam Trinity. Pertama a la Kresten yang kedua a la Islam. Anda dalam posisi sulit. Sebab kalau begitu. Quran menegor Trinity-nya sendiri apa Trinity Kresten seperti yang sudah saya jelaskan di post-2 saya ?

    Akan tetapi, dengan segala kerendahan qolbu, Trinity saya itu sama sekali tidak berbicara tentang Tuhan beranak dan diperanakkan, seperti sangka Quran. Kalau begitu, tak peduli Trinity saya itu masul akal apa tidak, Quran telah salah memahami Trinty.

    Temen-2 sekalian:

    Apakah Tuhan itu tidak tahu maksud Trinitinya orang Kresten ?.
    Bukankah Tuhan maha mengetahui ?

    Soal aseli dan palsu, itu perlu renungan panjang. Saya sendiri sedang menerjemahkan kesaksian orang Timur Tengah, Walid, yang tahu persis bahasa Arab, dan kini jadi Kresten. Saya sih tak peduli. bodo amat mau Kresten apa tidak. Yang menarik, dia mengerti bahasa Arab dan membuat penjelasan yang sangat menarik. Mirip kesaksian murtadin Hamran Ambrey itu. Anda tertarik ?

    Hot links:

    Answering Islam
    Sarapan pagi

    Salam.

    Kuru Setra said:
    September 18, 2007 pukul 8:09 am

    …Tak tunggu jika temen-2 bisa menunjukkan Alkitab yang asli.

    Sdr. Acing yang terhormat,
    Untuk membuktikan sesuatu itu palsu tidak harus selalu menunjukkan yang asli. Sebuah ijazah palsu dapat dengan mudah diketahui kepalsuannya hanya dengan mengenal ciri-ciri yang menerbitkannya. Bila ada orang yang mengklaim memiliki surat wasiat yang ditulis Bapak saya -misalnya- 10 tahun lalu, maka dengan mudah saya dapat mengenalinya sebagai surat wasiat palsu karena Bapak saya meninggal 18 tahun yang lalu, walaupun saya tidak bisa menunjukkan surat wasiat yang asli.
    Bila ada orang mengklaim memiliki kitab suci dari Tuhan yang di dalamnya ada cerita Tuhan bergumul dengan manusia dan si Tuhan dikalahkan, maka dengan mudah saya dapat mengenalinya sebagai kitab suci palsu. Setidaknya cerita itu pasti bukan firman yang berasal dari Tuhan Yang Maha Perkasa, melainkan keluar dari mulut tuhan jadi-jadian yang lemah dan tak berdaya.
    PL dan PB tentu tidak bebas dari kritik semacam itu baik yang dilakukan oleh orang-orang di luar iman Kristen maupun di lingkungan iman Kristen sendiri.

    Kalau Sdr. Acing tidak mengakui keaslian Injil Barnabas, bukankah kami juga berhak bertanya, kalau begitu mana Injil Barnabas yang asli ? Kalau Sdr. Acing bahkan tidak mengakui Injil Barnabas sebagai firman Tuhan, dengan cara yang sama kami pun tidak mengakui Injil Matius dan yang lainnya sebagai firman Tuhan.

    Saya sependapat dengan Sdr. Acing ketika mengatakan “…Namun bagi saya, keaslian yang terpenting adalah materi atau kandungannya…”. Bila demikian maka pertanyaan anda: “…Lagi pula, Quran yang anda baca tiap hari itu asli atau tidak ? Bukankan itu hanya cetak ulang ?…” menjadi tidak perlu dipertanyakan karena pencetakan ulang hanya memperbanyak dari segi fisiknya, sedangkan isinya tak mengalami perubahan WALAUPUN SATU HURUF.
    Sementara Al-Kitab, PL dan PB, selain telah mengalami pencetakan berulang-ulang, juga telah mengalami perubahan demi perubahan yang dari tahun ke tahun pasti makin banyak.

    Saya tertarik dengan klaim Anda bahwa anda mempunyai kitab dalam Bahasa Ibrani. Ada baiknya bila Kitab itu dijadikan standar dalam penerjemahan al-Kitab sehingga kita bisa tahu terjemahan mana yang lebih mendekati kebenaran apakah versi The Children’s Living Bible ataukah The Holy Bible New Intl, apakah al-Kitab yang dikeluarkan tahun 1968 ataukah tahun 1979. Tapi ngomong-ngomong, apakah Injil berbahasa Ibrani yang Anda miliki satu-satunya versi Ibrani yang ada, ataukah ada versi-versi Ibrani lainnya ? Bila ada banyak versi Ibrani, maka yang Ibrani ini pun nampaknya masih perlu distandardisasi.

    Jadi pernyataan Anda bahwa Anda lebih mementingkan materi atau kandungan al-Kitab, nampaknya masih jauh dari terlaksana, karena kandungan al-Kitab ternyata selalu berubah.

    Saya kira diskusi mengenai keaslian al-Kitab ini menjadi sangat menarik tetapi juga memelencengkan topik utama, yaitu masalah trinitas. Kalau boleh saya usul agar Sdr. Abu Aqilah, pemiliki Blog Cahaya Islam ini, membuka thraed baru untuk topik al-Kitab. Tentu saja dalam diskusi nanti Sdr. Acing dapat juga melakukan kritik yang sama untuk menguji keaslian al-Qur’an.

    Naomi said:
    September 18, 2007 pukul 8:17 am

    Salam,
    jika kita benar-benar mencari Jalan Yang Lurus di dunia ini, carilah dengan hati murni dan mohonlah kepada Allah saja. Karena Dialah yang berkuasa untuk membuka mata hati kita. Berdoalah dan mintalah dengan sungguh-sungguh. Allah akan menjawab! Karena Allah Abraham, Ishak dan Yakub adalah Allah yang kekal selama-lamanya.
    “Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas.” (Yesaya 7:11)
    “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
    (Mat 7:7)
    Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah (Hosea 4:6)

    Kuru Setra said:
    September 18, 2007 pukul 8:43 am

    Sekarang saya ingin kembali kepada topik kita semula, yaitu trinitas. Anda menulis: “…Kalau begitu ada dua macam Trinity. Pertama a la Kresten yang kedua a la Islam. Anda dalam posisi sulit. Sebab kalau begitu. Quran menegor Trinity-nya sendiri apa Trinity Kresten seperti yang sudah saya jelaskan di post-2 saya ?…”

    Bagi saya semua keyakinan akan trinitas adalah salah, baik itu a la Islam, a la Kresten, atau a la yang lain seandainya masih ada lagi. Kesalahan konsep trinitas diukur berdasarkan akal, tidak peduli apakah kesalahan konsep ini dinyatakan dalam al-Qur’an atau tidak.

    Menurut akal, niscaya Tuhan adalah SATU. SATUnya tuhan adalah unik sehingga Dia tidak bisa dibandingkan dengan yang lain. Tuhan tak terbatas, karenanya Dia tidak bisa dibagi menjadi beberapa bagian, dan karenanya Dia tidak merupakan gabungan dari beberapa unsur. Karena kalau Dia terbagi, maka berkurang kesempurnaanNya, dan Dia menjadi terbatas. Demikian pula kalau Dia terdiri dari unsur-unsur, maka Dia sangat tergantung kepada keberadaan unsur-unsur pembentukna.

    Dengan demikian, konsep trinitas yang meyakini keterpaduan tiga unsur dalam satu Tuhan, atau keterbagian Tuhan menjadi tiga oknum, mustahil menurut akal.

    Kalau Sdr. Acing tidak setuju, saya tunggu bantahan Anda.

    Salam sejahtera.
    KS

    Accing said:
    September 19, 2007 pukul 4:08 am

    Salam.

    Halo Pak Kuru Setra salam kenal dari saya, Acing, suara akar rumput. Naga-naganya bapak ini gregetan juga mau ikutan diskusi ya.

    Alkitab asli adalah Firman Tuhan dan Quran membenarkan hal ini. Mengapa tidak dijaga dan tunjukkan kepada kami yang asli. Bukankah lebih afdol kalau tunjukkan saja yang asli ? Pilih mana : Tuduhan tanpa bukti dan tuduhan dengan bukti ?.

    “Injil Barnabas” adalah injil palsu. Yang asli adalah Injil Matius, Markus, Lukas dan Yahya.

    Begini bapak:

    1. Trinity tidak masuk akal, akal siapa dulu pak ! Akal anda
    atau akal orang lain ? Apakah orang lain sama akalnya
    dengan anda ?

    Bicara soal akal, maka akal kita akan kedodoran jika
    berhadapan dengan Allah. Dengan kata lain, tidak semua
    yang menyangkut Allah itu bisa dimasukkan ke dalam
    akal.

    2. Katakanlah, misalnya, saya menyadari bahwa Trinity itu
    salah. Akan tetapi ada VERY BIG PROBLEM yang
    selalu temen-2 sekalian hindari. Yaitu:

    Trinity Kresten bicara soal Bapa, Firman dan Roh. Quran
    menyangka bahwa Trinity Kresten itu soal Gusti Allah
    punya anak, hingga harus dilaknat.

    APAKAH GUSTI ALLAH TIDAK TAHU DENGAN APA YANG DIPIKIRKAN
    ORANG KRESTEN ?

    3. Persoalan Trinity tidak lepas dari kesaksian Alkitab.
    Oleh sebab itu mau tidak mau kadang harus bicara
    soal Alkitab. Tentang Alkitab sudah banyak sekali dibahas
    di mana-mana. Antara lain di sini:

    http://www.sarapanpagi.org
    http://www.answering-islam.org
    http://www.the-good-way.com

    Saya ini jelas tidak mampu untuk membuat penjelasan detail tentang Alkitab. Dan kalau bapak memang berhasrat untuk mempelajari (mungkin dalam rangka mendebat), silahkan klik links itu. Tentunya bukan debat kusir. lagi pula, banyak sekali pertanyaan yang diulang-ulang terus.

    Sama seperi bapak, yang menyakatakan seolah Trinity itu “membagi-bagi” Tuhan menjadi tiga bagian. Padahal tulisan di atas jelas tidak bicara soal pembagian. Saya tahu banyak buku-2 dijual tentang kontradiksi Alkitab ! Ada Dialog Antonius Widuri (Elok bagai rembulan ?) dsb !

    Demikian pak komentar saya. Maaf sekali lho pak, seolah saya orang ketus dengan menantang-nantang dengan kata “tak tunggu…dst”. waduh, sama pak Guru je tidak sopan.

    Salam.

    Acing said:
    September 20, 2007 pukul 2:48 am

    Salam.

    Halo Pak Kuru Setra salam kenal dari saya, Acing, suara akar rumput. Naga-naganya

    bapak ini gregetan juga mau ikutan diskusi ya.

    Alkitab asli adalah Firman Tuhan dan Quran membenarkan hal ini. Mengapa tidak dijaga

    dan tunjukkan kepada kami yang asli. Bukankah lebih afdol kalau tunjukkan saja yang

    asli ? Pilih mana : Tuduhan tanpa bukti dan tuduhan dengan bukti ?.

    “Injil Barnabas” adalah injil palsu. Yang asli adalah Injil Matius, Markus, Lukas dan

    Yahya.

    Dalam hal inilah justru saya merenung : Kenapa Injil dipalsukan ? Oh kemungkinan

    sangat-sangat besar karena asli dan bermutu. Mana ada orang memalsukan celana kolor

    murahan. Yang dupalsukan biasanya produk mahal seperti celana jeans yang mahal.
    Dan dibalik si pemalsu itu pasti memiliki motif untuk pribadi atau golongannya.

    Begini bapak:

    1. Trinity tidak masuk akal, akal siapa dulu pak ! Akal anda
    atau akal orang lain ? Apakah orang lain sama akalnya
    dengan anda ?

    Bicara soal akal, maka akal kita akan kedodoran jika
    berhadapan dengan Allah. Dengan kata lain, tidak semua
    yang menyangkut Allah itu bisa dimasukkan ke dalam
    akal.

    2. Katakanlah, misalnya, saya menyadari bahwa Trinity itu
    salah. Akan tetapi ada VERY BIG PROBLEM yang
    selalu temen-2 sekalian hindari. Yaitu:

    Trinity Kresten bicara soal Bapa, Firman dan Roh. Quran
    menyangka bahwa Trinity Kresten itu soal Gusti Allah
    punya anak, hingga harus dilaknat.

    APAKAH GUSTI ALLAH TIDAK TAHU DENGAN APA YANG DIPIKIRKAN
    ORANG KRESTEN ?

    3. Persoalan Trinity tidak lepas dari kesaksian Alkitab.
    Oleh sebab itu mau tidak mau kadang harus bicara
    soal Alkitab. Tentang Alkitab sudah banyak sekali dibahas
    di mana-mana. Antara lain di sini:

    http://www.sarapanpagi.org
    http://www.answering-islam
    http://www.the-good-way.com
    gotquestions.org/international.html

    Saya ini jelas tidak mampu untuk membuat penjelasan detail tentang Alkitab. Dan

    kalau bapak memang berhasrat untuk mempelajari (mungkin dalam rangka mendebat),

    silahkan klik links itu. Tentunya bukan debat kusir. lagi pula, banyak sekali

    pertanyaan yang diulang-ulang terus.

    Sama seperi bapak, yang menyakatakan seolah Trinity itu “membagi-bagi” Tuhan menjadi

    tiga bagian. Padahal tulisan di atas jelas tidak bicara soal pembagian. Saya tahu

    banyak buku-2 dijual tentang kontradiksi Alkitab ! Ada Dialog Antonius Widuri (Yg

    tidak elok bagai rembulan ?) dsb !

    Demikian pak komentar saya. Maaf sekali lho pak, seolah saya orang ketus dengan

    menantang-nantang dengan kata “tak tunggu…dst”. waduh, sama pak Guru je tidak sopan.

    Salam.

    Lion said:
    September 20, 2007 pukul 5:31 am

    Salam Semuanya,

    Maaf saya hanya numpang lewat. Menarik memang perdebatan diatas, dan masih terhitung wajar dan sopan (tidak saling menjatuhkan secara kasar) walaupun banyak sekali forum seperti ini yang bertebaran di dunia maya tapi menurut saya malah membuat perpecahan dan saling membenci (dan saya harap buat yg nulis komen..please jgn dimasukan hati atau jd dendam ya!).

    Saya cuma ingin menulis pendapat saya.
    Kalau tidak salah (maaf saya tidak tau ayat mana di Al-Qur’an) Ada beberapa ayat di dalam Al-Qur’an yg menyebutkan tentang Allah:
    1. Allah dapat menghidupkan orang mati ( Isa Al-Masih juga bisa)
    2. Allah dapat menciptakan ( Isa Al-Masih juga bisa, kalau tidak salah dia mengambil tanah liat dan membentuk burung lalu dia meniupkan dan jadilah burung itu hidup)
    3. Hanya Allah yg dapat mengetahui hari kiamat, bahkan Nabi Muhammad tidak tahu ttg hari kiamat ( Isa Al-Masih tau).
    4. Hanya Allah yang dapat menghakimi manusia (di katakan pada hari kiamat nanti Nabi Isa Al-Masih akan datang dan menghakimi).

    Jadi siapakah Nabi Isa Al-Masih itu?

    Dan kalau tidak salah ttg Nabi Isa Al-Masih putra Maryam paling banyak yg disebutkan dalam Al-Qur’an, juga disebutkan mengenai kelahiran-Nya yg ajaib, karena setiap bayi yang lahir (Nabi Muhammad termasuk) pasti akan disentuh oleh Setan, tapi tidak dgn Nabi Isa Al-Masih.

    Jadi siapakah Nabi Isa Al-Masih itu?

    Terima Kasih boleh nulis di sini…

    Hormat Saya..

    Kuru Setra said:
    September 20, 2007 pukul 7:25 am

    Salam Sejahtera.

    @Sdr. Acing yang saya hormati,

    Sudah saya katakan, sesuatu yang palsu tidak harus dibuktikan kepalsuannya dengan menghadirkan yang asli. Cukup dengan menilai masuk akal atau tidak. Akal siapa ? ya tentu akal kita sebagai manusia. Akal Anda dan saya PASTI sama. Kebenaran akal itu objektif, pasti dapat dikenali oleh siapa pun.

    Bagaimana (atau dengan apa) anda menilai bahwa Injil yang asli hanya empat (plus Surat Paulus, Yohanes, Yakobus, Yudas, Petrus, Kitab Wahyu), sedangkan injil seperti Barnabas (plus Injil Thomas, Andreas, Bartholomeus, Ebionia, Injil Duabelas, Injil Maria, Injil Kebenaran, Injil Philipus, Injil Marcion, dll) adalah palsu ?

    Sdr. Acing mengatakan :
    “…tidak semua yang menyangkut Allah itu bisa dimasukkan ke dalam akal…”
    Saya ingin bertanya, apakah konsep Allah yang menolak paham trinitas dan menolak ketuhanan Yesus dan Roh masuk akal atau tidak ?

    @Naomi,
    Terima kasih Naomi. Saya selalu berdoa kepada Allah agar ditunjukkan kepada JALAN yang LURUS, 17 kali setiap hari.
    Kalau boleh saya bertanya, bagaimana caranya kita mengetahui bahwa Allah telah menunjukkan JALAN ITU ? Bagaimana cara kita dapat mengenali bahwa jalan yang kita tempuh ini adalah JALAN YANG LURUS, bukan jalan yang menyimpang ?

    Kuru Setra said:
    September 20, 2007 pukul 7:34 am

    @ Sdr. Acing menulis : “…Trinity Kresten bicara soal Bapa, Firman dan Roh. Quran menyangka bahwa Trinity Kresten itu soal Gusti Allah punya anak, hingga harus dilaknat…”

    Berarti klaim Sdr. Pekik (Comment No. 22) yang mengatakan : “…Sahabatku yang budiman, barangkali saja anda heran, bahwa Al- Qur’an menyebutkan Tritunggal dari satu Allah persis sama seperti yang diyakini umat Kristen…” adalah salah menurut Anda ?

    Acing said:
    September 24, 2007 pukul 4:51 am

    Salam untuk semuanya, juga Naomi dan Lion !

    Pak Kuru Setra,

    Muslim biasa mengatakan bahwa Quran
    itu dari dulu asli sli, lihatlah tulisannya
    dari dulu sama. Yang ditonjolkan fisik
    kitabnya. Kini giliran ditanya mana Injil
    yang asli, e…, katanya cukup hanya dengan
    menentukan benar salah berdasar akal.
    Ciloko tenan …

    Di post 56, bapak juga mengumpamakan,
    tentang surat wasiat. Ini malah
    mirip kekeliruan Muslim. Katanya Nabi
    Muhammad pernah Mi’raj dari Masjid
    El Aqsa ke hadirat Allah. Akan tetapi
    menurut sejarah, sampai Nabi wafat
    masjid El Aqsa belum dibangun. Ini
    tidak masuk akal.

    Banyak muslim yang menyerang Alkitab
    dan Injil, yang konon banyak kontradiksi.
    Pak kami sudah biasa mendengar itu !.
    Anda bisa lihat di di http://www.answering-islam.org
    untuk membaca hal-2 seperti itu.

    Kebetulan sekali saya sedang menerjemahkan
    kesaksian Walid, yang banyak bicara
    kesahihan Alkitab/Injil dan membandingkan
    dengan Quran.

    Semua akal manusia sama ? Cilakak neh ! Kalau
    memang demikian harusnya anda juga menerima
    Trinity, wong menurut kami Trinity itu masuk
    akal. Menurut saya, akal manusia itu bebeda-
    beda. Kalau semua akal itu sama, pasti tidak
    akan ada diskusi. Senang sekali jika kebenaran
    itu obyektif. Sayangnya nggak, kebenaran itu
    seringnya subyektif.

    Untuk mengerti Trinity, tidak bisa hanya
    mengandalkan akal semata, apalagi okol.
    Diperlukan perenungan dan pembelajaran
    yang kadang perlu waktu panjang.

    Untuk mengklaim apakah Alkitab/Injil itu aseli
    atau tidak, tentu diperlukan penelitian dan
    bukti-2 pendukung. banyak situs yang menulis
    tentang ini seperti http://www.sarapanpagi.org,
    http://www.the-good-way.com dan lain-lain. Di sana
    ada orang-2 yang rela memberi banyak hal
    tentang Alkitab.

    Untuk post Bapak selanjutnya, no 63 :

    Sobat Pekik menurut saya begini : Di beberapa
    surat/ayat Quran itu sebenarnya menulis tentang
    Trinity seperti dalam Injil dan Alkitab.
    Namun sepertinya saudara Pekik juga tahu,
    bahwa temen-2 Muslim gagal memahaminya.

    Jadi, pendapat pak Pekik yang demikian itu
    tidak salah. Yang salah yang nulis Quran
    tentunya. Wong di beberapa ayat tersirat
    Trinity, malah di ayat laen disalahlah
    pahami. BIG PROBLEM !.

    Trinity Kresten bicara soal Bapa,
    Firman dan Roh. Quran menyangka bahwa
    Trinity Kresten itu soal Gusti Allah
    punya anak, hingga harus dilaknat.

    Apakah Tuhan bisa salah sangka ?

    Ini adalah fakta mengherankan. Andaikan saya
    berkata “Oke, ternyata Trinity itu salah
    (misalnya). Namun BIG PROBLEM tidak bisa
    di tutupi. Karena pembicaraan mengenai Bapa,
    Firman dan Roh DISANGKA Quran bicara tentang
    Allah beranak !

    Sulit sekali bagi Muslim untuk secara
    sportif mengakui oooo… TERNYATA Trinity
    itu seperti itu to, bukan masalah Tuhan
    ada 3 dan Tuhan beranak.

    Masalahnya adalah: Kalau mereka jujur
    sportif seperti itu, maka saat itu
    juga menyangkal Quran. Karena Quran
    berpendapat bahwa Trinity soal Tuhan
    ada Tiga, beranak dan diperanakkan !

    Oleh sebab itu tidak heran jika Muslim
    memaksa Kresten agar mengakui bahwa
    Trinity itu soal Tuhan ada 3, tuhan
    beranak dll.

    Kenapa memaksa ? Ya untuk menutupi
    kesalahan Quran dalam memahami
    Trinity.

    Anda bertanya:

    Apakah konsep Allah yang menolak paham
    trinitas dan menolak ketuhanan Yesus
    dan Roh masuk akal atau tidak ?

    Jawab:

    Masuk akal !. Kan manusia ada yang
    akalnya lamban, ada yang akalnya tertutup dll.
    Sehingga diperlukan penjelasan dan dorongan
    agar akalnya lebih terbuka. !!!

    Demikian Pak guru. Sebaiknya BIG PROBLEM
    ini kita bicarakan dulu. Kalau ndak nanti
    tambah ruwet. Apaligai statement-2 pancingan
    bapak untuk bicara kontradiksi Alkitab/Injil.
    Itu tidak akan ada habis-habisnya.
    Mancing ikan saja sana pak….

    Salam.

    Kian Santang said:
    September 24, 2007 pukul 7:00 am

    Salam Sejahtera, terkhusus untuk Saudaraku Acing, Naomi dan Lion.

    @ Lion.
    1. Benar Allah (dan hanya Allah) yang Maha Menghidupkan dari kematian. Bahkan Dia mengadakan segala sesuatu dari tiada. Manusia-mansia istimewa, atas izinNya, diberi mukjizat menghidupkan orang mati. Al Qur’an menyebutkan dua orang, yaitu Musa dan Isa. (Di dalam Al-Kitab malah tulang belulang Elia dapat menghidupkan orang mati).
    2. Allah dapat menciptakan (dan hanya Dia yang Maha Pencipta). Manusia istimewa, atas izinNya, diberi mukjizat menciptakan. Al Qur’an menyebutkan mereka adalah Saleh (unta dari batu), Musa (ular dari tongkat), Isa (burung dari tanah).
    3. Hanya Allah yang mengetahui Hari Kiamat. Tak seorangpun tahu kapan terjadinya Hari Kiamat, termasuk Yesus a.s dan Muhammad saw. (Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu. Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja.” Markus 13, 31-32).
    4. Allah adalah hakim yang Maha adil. Tapi pengadilan atau penghakiman di dunia dilakukan oleh manusia.
    5. Jadi siapakah Nabi Isa Al Masih itu ? Beliau adalah utusan Allah (Markus 9:37), Beliau adalah Rasul / utusan Allah (Maryam : 30)
    6. Kami tidak meyakini bahwa setiap bayi yang lahir disentuh oleh Syetan, Justru kami meyakini setiap bayi yang lahir adalah suci. Islam meyakini Yesus tidak pernah tersentuh Iblis (apalagi syetan). Tapi Al-Kitab justru mempercayai Yesus bukan hanya disentuh malah dibawa oleh Iblis, bukan ketika Beliau masih bayi, bahkan ketika Beliau sudah dewasa (Lukas 4:5)

    Kuru Setra said:
    September 24, 2007 pukul 7:41 am

    @ Acing
    1.
    Saya ulangi lagi pertanyaan saya yang tidak terjawab:
    Bagaimana (atau dengan apa) anda menilai bahwa Injil yang asli hanya empat (plus Surat Paulus, Yohanes, Yakobus, Yudas, Petrus, Kitab Wahyu), sedangkan injil seperti Barnabas (plus Injil Thomas, Andreas, Bartholomeus, Ebionia, Injil Duabelas, Injil Maria, Injil Kebenaran, Injil Philipus, Injil Marcion, dll) adalah palsu ?

    2.
    Setujukah anda dengan pernyataan saya bahwa kepalsuan dapat dibuktikan tanpa kehadiran yang asli ?

    3.
    Kalau akal manusia tidak sama, tidak perlu ada pengadilan karena tidak bisa ditentukan salah dan benar. Osama Bin Laden tak bisa diadili karena akalnya beda dengan akalnya Bush. Tak perlu ada diskusi antara anda dan saya. Akal anda menghakimi kebenaran ada di pihak anda dan saya juga sebaliknya. Pada saat yang sama Anda juga tidak bisa menghakimi saya salah atau sebaliknya.

    Selesai, besok anda masuk agama Hindu atau Budha, tidak akan ada yang menyalahkan anda karena tolok ukur benar dan salah menjadi kabur.

    4.
    Anda sudah menyatakan bahwa konsep yang menyalahkan Trinitas masuk akal. Berarti Trinitas tidak masuk akal.

    5.
    Tidak ada big problem yang Anda selalu sebut itu. Al-Qur’an menolak konsep trinity versi apapun. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan (Anda setuju atau tidak ?). Allah tidak terbagi ke dalam dua atau lebih unsur apa pun namanya unsur itu (Anda setuju atau tidak ?)

    Anda mengatakan: “Untuk mengerti Trinity, tidak bisa hanya
    mengandalkan akal semata, apalagi okol. Diperlukan perenungan dan pembelajaran yang kadang perlu waktu panjang…”
    Bagaimana orang yang tidak menggunakan akal bisa belajar dan merenung.

    6.
    Sebenarnya teman-teman Kristiani menghadapi masalah serius ketika keyakinannya dikonfrontasikan dengan akal. Ada yang mengatakan sulit diterima oleh akal, tidak semua bisa masuk akal, bagi sebagian masuk akal sedangkan bagi sebagian lain tidak, dan lain-lain. Kenapa tidak terang-terangan saja mengakui bahwa keimanan Kristiani adalah meyakini kebenaran sesuatu yang tidak masuk akal ?

    Acing said:
    September 26, 2007 pukul 1:42 am

    Salam.

    Bapak Kuru Setra…
    Seperti judul dialog ini, mari membahas Trinity. Jika
    anda memang benar-2 ingin tahu perihal Alkitab & Injil,
    sekali lagi saya katakan, banyak sekali yang membahas:
    seperti di http://www.sarapanpagi.org, http://www.the-good-way.com
    dan lain-lain.

    Jangan samakan Alkitab dengan Osama Bin Ladin,
    Alkitab itu: Dari Allah, dijaga oleh Allah dan
    seharusnya Muslimpun wajib menjaga. Lihat
    ayat-2 Quran di Muka !. Lagipula, saya yakin
    anda tidak membenarkan pengadilan Amerika itu.
    Bayangkan, jika Allah yang menjaga dan Muslim
    wajib menjaga. Haruslah Alkitab yang asli ada !
    Kalau tidak bisa, Apakah Allah lupa menjaga, atau
    Muslim yang lalai. Lagipula, layaknya Kitab Suci
    itu banyak copynya. Tidak adakah satu salinan saja
    anda mampu menunjukkan ?

    Amerika itu mengadili Osama in absentsia itu jelas
    karena gagal menangkap Osama. Sama dengan Muslim
    gagal mengadili Alkitab karena gagal menagkap
    yang asli ! Ironis !

    Soal akal yang berbeda:
    Barangkali itu jawabnya mengapa ada Sorga dan Neraka.
    Mungkin itu untuk mempersiapkan tujuan akhir manusia
    dengan akal berbeda-beda.

    Bagi saya, akal itu memang penting. Namun perihal
    Allah, iman/percaya itu yang memegang peranan
    penting. Itu bagi saya.

    Bapak Kuru Setra…
    Tidak soal apakah penghuni blog ini mau percaya Trinity
    atau tidak. Namun saya yakin banyak pengunjung yang
    membaca dan mulai banyak merenung.

    Anda menolak Trinity, tidak soal, sah-sah saja.
    Meskipun anda menolak, sama sekali tidak menjadikan
    Trinity itu tidak masuk akal.

    Cara berpikir anda menurut saya keliru. Orang Atheis
    tidak percaya kepada Allah. Bagi mereka Allah itu
    tidak masuk akal. Kita tidak dapat menyimpulkan
    bahwa kepercayaan kepada Allah tidak masuk akal.

    Bapak Kuru Setra …
    Sejauh yang saya tahu, dalam kehidupan ini malah
    temen-2 Muslim yang tidak banyak menggunakan akal.
    Beberapa hari yang lalu, ada pernyataan yang menarik
    di radio. Konon, dari puluhan produk yang digunakan
    manusia setiap hari, hampir semua adalah produk non
    Muslim. Termasuk Hand Phone di saku anda.
    Ternyata non Muslim lebih banyak akal.

    Nah kalau teknologi/hal duniawi yang nampak di mata
    saja anda tidak layak, bagaimana anda mau menggunakan
    akal untuk menilai sesuatu yang tidak nampak ?

    Bapak Kuru Setra …
    Post saya sebelum ini (No 63), menulis BIG PROBLEM.
    Anda tidak mau tahu apa yang saya maksud. Anda bertanya:
    “Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan (Anda
    setuju atau tidak ?) “. Saya sangat setuju !!!.
    JUSTRU Trinity Kresten yang benar itu bukan soal
    Allah beranak dan diperanakkan.

    JUSTRU pikiran Allah beranak dan diperanakkan
    (secara biologis) itu datangnya dari Quran. Itu akibat
    tidak mengertinya pengarang Quran tentang makna Trinity
    yang sebenarnya. Kalau Quran itu benar-2 berasal
    dari Allah, pasti Allah mengerti maksud Trinity. Dan
    Allah tidak akan salah berpikir.

    Coba tanya temen-2 anda tentang maksud pertanyaan
    BIG PROBLEM ini. Pahami dulu maksud pertanyaan
    ini. Tidak perlu menutupi AIB ini dengan melempar
    pertanyaan ini dan itu. Anda bahkan tidak tahu
    pokok persoalannya.

    Bapak Kuru Setra …
    Bagi saya, akal budi itu penting, namun iman/percaya
    itu lebih penting. Sebab Sorga tidak bisa dicapai
    dengan akal semata. Malah justru ‘kegedean akal’
    bisa membawa manusia menjauhi Allah. Charles Darwin
    dengan akalnya, mengadopsi monyet sebagai nenek
    moyang manusia.

    Memang Pak, dalam banyak hal kami harus sampai
    kepada iman/percaya. Contohnya, menggunakan akal
    untuk mencari tahu asal-usul Allah, itu tidak
    akan pernah ketemu. Akhirnya kita harus hakul
    yakin menerima keberadaan Allah dengan iman.

    Salam.

    Natan Budi said:
    September 26, 2007 pukul 10:33 am

    CI: memulis

    2. Saya pernah membaca dalam sebuah artikel, disebutkan ketika Isa disalib(menurut apa yang tertulis dalam injil anda) Isapun meminta pertolongan kepada Tuhannya. Kita bertanya tentang hal ini, mengapa Isa disini butuh pada pertolongan? Bukankah ia sendiri sudah memiliki sifat ketuhanan, masih memerlukan pertolongan? Ketika ia membutuhkan pertolongan berarti ia makhluk bukannya Tuhan.

    Komentar saya:
    Bacalah Zabur 22 ayat pertama.
    Inilah doa yg dirafalkan oleh Sayidina wa Rabbuna Isa / Yeshua Ha Mashiach

    I Korintus 8:6 namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.

    Jadi dlm iman kristen dibedakan antara Ilah dan Gelar Tuhan (Rabb) bagi Isa.

    Salam

    Acing said:
    September 27, 2007 pukul 1:41 am

    Salam Pak Natan…

    Isa Al Masih itu memiliki dua kodrat, pertama
    tubuh manusiawi. Yang lahir dari Maryam, hidup
    lalu mati. Manusia Yesus itu sama dengan manusia
    biasa. Kedua, sifat ilahi, yang bekerja didalam
    manusia Yesus itu.

    Ketika disalib itulah Allah Bapa meninggalkan
    manusia Yesus. Tidak heran manusia itu minta
    tolong. Bahkan teriakan ini sudah dinubuatkan
    ratusan tahun sebelumnya.

    Masalah penyebutan itu saya tidak berhak memaksa
    tafsiran. Namun bagi saya pribadi, Yesus ilahi
    itu termasuk dalam satu lingkatan Trinity. sejauh
    yang saya tahu, Yesus sendiri tidak memaksakan
    sebutan bagi Dia.

    Mengenai I Korintus 8:6, malah disebutkan bahwa:
    Yesus itu menjadikan segala sesuatu dan hidup
    kita. Apakah Dia hanya sebatas mahluk ?

    Salam.

    Kuru Setra said:
    September 27, 2007 pukul 7:07 am

    Salam Sejahtera bagi pemilik dan seluruh pengunjung blog ini, apapun agama Anda.

    @ Acing,
    Sdr. Acing, saya setuju dengan Anda untuk kembali kepada persoalan Trinity, seperti itu juga usulan saya (post 56).

    1. Orang Atheis mengklaim (Keberadaan) Allah tidak masuk, sementara orang beragama mengklaim (keberadaan) Allah masuk akal. Tidak mungkin kalim keduanya benar. Pasti salah satu adalah salah. Untuk mencari jawaban mana yang benar dan mana yang salah, maka kedua klaim harus diuji dengan tolok ukur yang universal. Saya menyebutnya tolok ukur universal itu adalah AKAL.

    2. Kasus di atas sama dengan persoalan trinity. Anda (Kristiani) mengklaim trinity adalah benar. Saya (Muslim) mengklaim trinity adalah keliru. Anda tidak bisa menggunakan al-Kitab untuk membenarkan klaim anda seperti halnya saya tidak bisa menggunakan al-Qur’an untuk membenarkan klaim saya. Klaim kita harus diadu dan diuji dengan tolok ukur yang universal. Lagi-lagi, saya menyebutnya AKAL.

    3. Anda mencampur-adukkan topik diskusi ini dengan sains dan teknologi. Seolah-olah anda ingin mengatakan bahwa umat yang terbelakang di bidang sains dan teknologi adalah umat yang tidak menggunakan akalnya. Anda mesti ingat kemajuan sain-tek di Barat baru berumur 7 abad. 7 Abad sebelumnya kaum Muslimlah yang menguasai. Justru Barat maju karena meninggalkan agama, sedangkan Muslim mundur karena meninggalkan agamanya.

    4. Anda selalu menyebut-nyebut Big Problem, dan nampaknya anda yakin sekali bahwa al-Qur’an tidak menyebut-nyebut trinity yang anda imani itu. Baiklah, saya akan mengutip satu firman Allah:

    “People of the Book, do not exaggerate your relogion. Do not say about ALLAH except the truth. Indeed, The Messiah, JESSUS son of Mary, is only a messenger of Allah and HIS WORD (be) which He gave to Mary, and a (created) SPIRIT by Him. So, believe in Allah and His Messenger and do not say “TRINITY”…..” (QS 4:171)

    Dalam al-Qur’an Jesus disebut sebagai kalimatNya (julukan yang sama juga disemat kepada Nabi Musa as) yang tercipta dari ruhNya (sebagaimana penciptaan Adam). Tetapi Allah menolak dengan tegas bahwa kalimatNya dan RuhNya adalah DiriNYa. KalimatNya dan RuhNya bukan tritunggal dengan diriNya. Konsep al-Qur’an tentang ketuhanan jelas sangat mudah dipahami oleh akal yang dimiliki setiap manusia yang mau menggunakan akalnya. Simple, tidak berbelit-belit. SEGALA SESUATU SELAIN ALLAH ADALAH MAKHLUK. (titik).

    5. Untuk menghilangkan rasa dahaga saya akan kebenaran, maukah Sdr. Acing menunjukkan kepada saya konsep Trinity di dalam Perjanjian Lama ?

    6. Terakhir, Sdr. menulis : “…dalam banyak hal kami harus sampai kepada iman/percaya. Contohnya, menggunakan akal untuk mencari tahu asal-usul Allah, itu tidak akan pernah ketemu. Akhirnya kita harus hakul yakin menerima keberadaan Allah dengan iman…”
    Kalau demikian, apa yang membuat Sdr. mengimani trinity versi Kristen, mengapa Sdr. tidak mengimani trinity versi Hindu ? Atau, mengapa Sdr. tidak beriman kepada Allah versi Islam ?

    (Maaf bila ada kata yang kurang berkenan).

    Kuru Setra said:
    September 27, 2007 pukul 7:54 am

    @ Natan
    I Korintus 8:6 namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.

    Saya sarankan agar frase “yaitu Yesus Kristus” dibuang saja. Karena bila tidak, ayat di atas membingungkan, apakah bercerita tentang Allah, Yesus Kristus, atau keduanya (Allah dan Yesus). Dan supaya tidak membingungkan siapa yang dimaksud “Dia” pada kalimat “..karena Dia kita hidup”. Apakah karena Allah, karena Yesus atau karena Allah dan Yesus. Bila karena Allah dan Yesus, maka kalimat terakhir saya sarankan diganti menjadi “…karena MEREKA kita hidup.”

    @ Acing
    1.
    “…Ketika disalib itulah Allah Bapa meninggalkan manusia Yesus. Tidak heran manusia itu minta tolong….”

    Kalau begitu maka hampir setiap saat Yesus ditinggalkan oleh Allah Bapak. Tidak heran manusia itu merasa lapar (Matius 21:18, Lukas 4:1-2), tidak heran manusia itu merasa sedih dan hampir mati (Matius 28:38), tidak heran manusia itu merasa takut dan gentar (Markus 14:33) bahkan manusia itu takut kepada malaikat (Lukas 22:43-44).

    2.
    Anda menulis: “Mengenai I Korintus 8:6, malah disebutkan bahwa: Yesus itu menjadikan segala sesuatu dan hidup kita. Apakah Dia hanya sebatas mahluk ?”

    Ya dia (Yesus) adalah makhluk, karena dia sendiri menyerahkan nyawaNya kepada Allah Sang Khalik.
    Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring : “Ya Bapa, ke dalam tanganMu kuserahkan NYAWAKU”. Sesudah itu ia menyerahkan NYAWANYA. (Lukas 23:46)

    Acing said:
    September 28, 2007 pukul 3:16 am

    Salam.

    Untuk post No. 70 :

    1. Bapak menentukan segala sesuatu tentang Allah
    hanya dengan Akal. Akal kita itu microscope dan
    Allah itu obyek yang diamati ?.
    Menurut saya kurang pas. Benar sekali akal kita pakai,
    namun percayalah, Allah jauh melebihi akal. Sehingga
    suatu saat pasti kita harus sampai pada iman.

    2. Tidak masalah anda mengkalim Trinity itu keliru, kita
    kan di negara merdeka. Dan saya hormati pendapat anda.
    Masalahnya, Trinity yang anda tidak setujui itu berbeda
    dengan Trinity kami, yang juga anda tidak setuju.

    3. Semua Muslim mengklaim seperti ini. Dan andaikan memang
    dulu Muslim maju, saya turut senang.

    4. Benar saya yakin. Baca jawaban No. 2. Letak permasalahannya
    sama sekali bukan pada apakah Quran menyebut Trinity apa tidak
    pak !

    5. Saya bukan pakar Alkitab. Namun pernah baca Yohanes 1:1..
    paraleh dengan perjanjian lama Kej 1:1…
    Yang entah kebetulan entah bagaimana Quran menyebut bahwa
    Yohanes/Yahya itu adalah saksi KALIMAT ALLAH.

    6. Dasar saya percaya Trinity adalah Alkitab, yang saya imani.
    Mengapa Quran hanya gencar menentang Trinity Kresten, bukan
    Trinity ala Hindu (kalau ada). Adakah Trinity Hindu itu
    ‘luput’ dari pandangan Allah ?

    Bapak juga menyatakan bahwa konsep kuTuhanan dalam Quran
    itu sangat mudah dipahami dengan Akal. Begitu rendahkan
    Tuhan ? Padahal banyak hal dari Tuhan itu akal kita
    tidak sanggup memahaminya. Ini beda dengan saya. Akal budi
    dan Iman harus saling mengisi.

    Untuk post No. 71 :

    Jelas Yesus pencipta segala sesuatu, hanya Allah yang bisa
    melakukannya. Dia memang Firman Allah.

    Yesus mati:
    Alkitab menjelaskan bahwa Firman Allah itu sudah niat jadi
    manusia. Apa-apa yang menjadi sifat manusia haruslah ia
    jalani. Lahir, lapar, haus bahkan mati. Namun Allah Bapa
    yang diam di dalam manusia Yesus tidak mati.

    Lain kalau Firman Allah itu niatnya menjadi manusia pura-pura.
    Tidak lapar, tidak haus, tidak tidur. Lha, itu kan bukan
    manusia jadinya. La manusia apa ? Ya manusia-manusiaan.

    Yg terakhir:
    Anda mengusulkan untuk membuang frase “yaitu Yesus Kristus”
    dalam I Korintus 8:6. Saya juga sarankan, buang saja kata
    kata-2 tafsiran Quran dalam kurung. Aslinya malah nggak ada.
    Dan kelak potret Yesus akan nampak dengan jelas di dalam
    kitab suci anda.

    Sejak semula saya paham, roh anda itu sama saja dengan roh
    pengarang Injil barnabas. Kalau sudah bingung, terus mau
    mengubah-ubah Alkitab. Anda sendiri lho yang punya gagasan
    pengubahan Alkitab, pedual itu benar satau salah.

    Salam.

    Kuru Setra said:
    September 28, 2007 pukul 8:07 am

    Point 71 :

    1.
    Tentang Yesus:
    Sdr. Acing menulis :
    a. Yesus itu menjadikan segala sesuatu dan hidup kita. Apakah Dia hanya sebatas mahluk ?
    b. Lain kalau Firman Allah itu niatnya menjadi manusia pura-pura. Tidak lapar, tidak haus, tidak tidur. Lha, itu kan bukan
    manusia jadinya. La manusia apa ? Ya manusia-manusiaan.

    Kalau begitu, ketika Yesus “menjadikan segala sesuatu dan hidup kita”, apakah ia sedang menjadi manusia pura-pura ?

    2. Dalam al-Qur’an tidak pernah ada tambahan atau pengurangan, satu huruf pun. Dalam TERJEMAHAN al-Qur’an (bukan al-Qur’annya !) dimungkinkan ada penjelasan baik pakai kurung atau tidak, dan setiap orang bisa membuangnya atau membuatnya. Tapi kalau dalam al-Kitab (PL dan PB) bisa saja pihak-pihak tertentu menyisipkan kata-kata yang dia sukai atau malah membuangnya. Jadi sebenarnya saran saya untuk menghapus kata-kata tertentu dalam al-Kitab sebenarnya sudah dilakukan oleh LAI. (Ah, lagi-lagi kita membicarakan keaslian al-Kitab, saya mohon maaf).

    Salam

    Kuru Setra said:
    September 28, 2007 pukul 8:42 am

    Tes

    Acing said:
    Oktober 1, 2007 pukul 5:34 am

    Salam.

    1. Bapak nampaknya betul-2 tidak membaca apa
    yang sudah dibahas di post-2 sebelumnya. Yesus
    itu benar-2 Allah dan benar-2 manusia.

    Jadi tabiat menjadikan segala sesuatu itulah Yesus
    yang ilahi. Kalau ada seorang raja berkakaian
    gembel dan hidup di tengah rakyat, tidak berarti
    dia tidak harus kehilangan jabatan sebagai raja.

    2. Begitulan tafsiran/ terjemahan. Bedanya, tafsiran
    Alkitab dapat berubah bukan untuk menyembunyikan
    sesuatu. Hanya untuk mencari tafsiran yang saat ini
    disadari lebih pas.

    Dalam tafsiran Quran, penambahan itu sangat jelas
    untuk membungkam potret Yesus. Jadi ada perbedaan
    misi.

    3. BIG PROBLEM tetap exist.

    Sekedar tambahan
    Bahwa dari dulu Alkitab begitu adanya. Ada beberapa
    kalimat-2 di dalamnya ada yang sulit dipahami. Bahkan
    ada yang nampaknya seperti kontradiksi antar satu
    kitab dengan yang lain. Anehnya, keadaan ini dibiarkan
    begitu saja. Justru ini membuktikan bahwa dari semula
    tidak ada yang mau mengubah-ubah Alkitab. Mestinya
    Injil juga diubah agar Matius sampai Yahya sama persis.

    Dalam suatu pernikahan, foto yang dibuat oleh banyak
    tukang foto hasilnya bisa berbeda. Foto pertama
    menunjukkan bahwa kostum mempelai berwarna kuning.
    Foto yang kedua menunjukkan bahwa mempelai memakai
    baju hijau. Mana yang salah ? Tidak ada. Masalahnya
    memang pengantin berganti pakaian !. Foto diambil
    pada saat yg berbeda. justru kalau fotonya sama
    persis-sis, malah akan ditanya panitia “Kok fotonya
    sama persis ?”

    Bagaimana dengan Quran ?
    http://www.answering-islam.org/Bahasa/index.html

    Salam.

    Kuru Setra said:
    Oktober 1, 2007 pukul 7:19 am

    Saya selalu gagal posting. Saya coba pecah menjadi beberapa post.

    (Comment saya hilang begitu saja setelah saya klik “submit”, terpaksa saya tulis ulang, maaf kalau doble dengan kalimat yang berbeda, seharusnya ini adalah komen no. 73).

    Salam Sejahtera.
    Saya akan komentari satu-persatu sesuai nomor urut.:

    1. Sdr. Acing menulis :”…suatu saat pasti kita harus sampai pada iman.”. Bagaimana caranya kita sampai pada iman ?

    2. Anda setuju trinity, saya menolaknya. Alat apa yang anda sarankan untuk menguji apakah anda atau saya yang benar ?

    3. Terima kasih.

    Kuru Setra said:
    Oktober 1, 2007 pukul 7:20 am

    Saya selalu gagal posting. Saya coba pecah menjadi beberapa post.

    (Comment saya hilang begitu saja setelah saya klik “submit”, terpaksa saya tulis ulang, maaf kalau doble dengan kalimat yang berbeda, seharusnya ini adalah komen no. 73).

    Salam Sejahtera.
    Saya akan komentari post Sdr. Acing No. 72 satu-persatu sesuai nomor urut.:

    1. Sdr. Acing menulis :”…suatu saat pasti kita harus sampai pada iman.”. Bagaimana caranya kita sampai pada iman ?

    2. Anda setuju trinity, saya menolaknya. Alat apa yang anda sarankan untuk menguji apakah anda atau saya yang benar ?

    3. Terima kasih.

    Kuru Setra said:
    Oktober 1, 2007 pukul 7:23 am

    4. Al-Qur’an sudah membantah konsep trinity yang anda imani itu. Ayat Al-Qur’an yang membantahnya sudah saya postingkan.

    5. Yohanes 1:1… tidak paralel dengan Kejadian 1:1-31. Dalam Kejadian tidak disebut-sebut trinity dalam bentuk Allah (Bapa) , Firman (Anak), Roh, maupun dalam bentuk yang lain. Sebelum anda menyajikan contoh lain dalam PL, untuk sementara saya menduga konsep trinity sebenarnya konsep ketuhanan baru dalam agama Ibrahimik.

    6.
    a. Dasar anda percaya Trinity adalah Alkitab. Lalu apa dasar anda percaya Al-Kitab ?

    b. Seluruh konsep ketuhanan yang bertentangan dengan konsep tauhid ditentang / dibantah oleh al-Qur’an dengan bantahan yang khusus dan umum. Bantahan khusus ditujukan kepada :
    – Trinity dalam bentuk Allah, Jesus, dan Mary
    – Trinity dalam bentuk Allah, Jesus (Firman), dan Roh
    – Ketuhanan manusia atau manusia yang dituhankan (Namruz, Fir’aun, Ezra, Jessus, Mary)
    – Ketuhanan benda-benda mati (matahari, bulan, bintang, api)
    – Ketuhanan patung / berhala (patung anak sapi, Latta, Uzza, Manat)
    – Ketuhanan Allah yang diejawantahkan dalam bentuk berhala (konsep ketuhanan kafir Arab pra Islam).
    Bantahan umum ditujukan kepada seluruh konsep ketuhanan yang menuhankan selain Allah (terdapat dalam berbagai ayat yang bertebaran). Jadi konsep ketuhanan Trimurti a la Hindu atau ketuhanan Dwimurti a la Zoroaster ditentang dengan bantahan umum ini.

    c. Konsep ketuhanan dalam al-Qur’an sangat dipahami akal. Dengan demikian keimanan kepada Tuhan dalam Islam sangat masuk akal dan jauh dari hal-hal yang bersifat dogmatis. Dengan akal-lah Allah disucikan dari adanya sekutu-sekutu yang tidak pantas disandingkan denganNya. Sedangkan dogma-dogma jusru menjatuhkan derajat ketuhanan yang Maha Tinggi ke derajat yang sejajar dengan makhluk. Akal mengantarkan manusia pada iman yang kokoh sejati, sedangkan dogma mengantarkan manusia pada iman yang rapuh dan semu.

    Salam.

    Kuru Setra said:
    Oktober 1, 2007 pukul 7:45 am

    Comment untuk post. 75.
    1.
    Saya sudah membacanya. Berkali-kali. Tapi tetap akal saya tidak menerimanya. Kata Anda : “Ketika disalib itulah Allah Bapa meninggalkan manusia Yesus”. Berarti ketika disalib ada dua unsur : yaitu Allah Bapa yang meninggalkan Yesus, dan Yesus manusia yang ditinggalkan Allah Bapa. Jelas bahwa statement anda “Yesus itu benar-2 Allah dan benar-2 manusia” tidak berlaku, setidaknya ketika Yesus disalib.

    2.
    Ada al-Qur’an (dalam bahasa Arab), ada terjemahan al-Qur’an (dalam bahasa selain Arab). Pertanyaan saya : “Al-Kitab” yang dikeluarkan oleh LAI apakah Al-Kitab ataukah terjemahan al-Kitab ?

    3. Tidak ada big problem. Small problem pun tidak ada.

    petirlangitutara said:
    Oktober 2, 2007 pukul 9:23 am

    Audzubillahhi minassyaitonirrojim
    (Aku berlindung kepada Allah dari godaan seitan yang terkutuk)

    Bismillahirahmanirrohim
    (Dengan menyebut nama Allah yang maha pemurah lagi maha penyayang)

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu
    (Semoga keselamatan, rahmat, dan barokah Allah selalu untukmu)

    Kepada sdr Abu Aqilah dan sdr Acing.
    Sebelumnya saya mohon maaf, jika saya turut serta dalam dialog anda. Semoga anda berdua tidak berkeberatan.

    Pertama-tama saya mengingatkan terutama pada saya sendiri, mari sucikan hati kembali, pastikan bahwa dialog ini tidak menjadi ajang pamer eksistensi diri. Semoga kita bersama bisa dibebaskan oleh Allah swt dari ego pribadi manusia yang pada darasnya tidak mau kalah. Mari mengingat kembali bahwa tujuan dialog ini tentu bukan untuk saling membenci. Maka ketika timbul rasa marah dan benci akibat dari dialog ini, maka berhentilah dahulu, kendalikan dahulu nafsu marah dan benci itu. Jika tidak bisa, maka lebih baik berhentilah berdebat. Tidak perlu merasa kalah atau menang.

    Demi Allah, saya bukan ahli theologi, bukan pula cendikiawan muslim. Saya Cuma hanya ingin mengungkapkan apa yang dapat saya fikirkan dari otak saya yang sungguh sangat terbatas.

    Bahwa benarlah, jika manusia mencari Tuhan dengan akal budinya. Namun akal manusia sangat terbatas. Allah swt tahu benar akan hal itu. Maka Allah memberi manusia petunjuk berupa Taurat, Zabur, Injil, dan Al Quran.

    Maka saya sarankan, ketika akal anda mentok dalam memahami Tuhan, maka lihatlah petunjuk itu. Sementara untuk memahami petunjuk tersebut, kembali gunakan akal anda. Jadi mencari Tuhan adalah melalui akal (yang murni tanpa nafsu merasa benar sendiri) dan petunjuk (yang benar dari Allah swt).

    Al Quran sungguh tidak membenci Nashrani.

    Al-Maidah 82
    “….Demi sesungguhnya engkau peroleh orang-orang yang lebih dekat kasih sayangnya kepada orang beriman, ialah orang-orang yang berkata: ’sesungguhnya kami ini orang-orang Nashrani….”

    Namun sebaliknya Al Quran sungguh menyayangi Nashrani. Maka dalam Al Quran Allah memberi petunjuk atas (mohon maaf) kesalahan yang telah Nashrani lakukan (bagi Nashrani yang ikhlas menerima petunjuk).

    Al-Maidah 72
    Sungguh telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Mariam”. Sedangkan Al-Masih berkata: “Hai bani israel, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan Allah, maka sesungguhnya Allah telah mengharamkan surga baginya…..”

    Al-Maidah 73
    Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah (Tuhan) yang ketiga dari tiga. Padahal tak ada tuhan kecuali tuhan yang esa. Jika mereka tiada berhenti dari perkataan mereka itu, niscaya mereka yang kafir itu akan disiksa dengan siksaan yang pedih

    Al-Maidah 74
    Apa tidakkah mereka taubat kepada Allah dan meminta ampun kepada-Nya? Allah maha pengampun lagi penyayang.

    Al-Maidah 75
    Al-Masih anak Maryam tidak lain, hanya seorang rasul, sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang rasul sebelumnya….

    Al-Maidah 76
    Katakanlah: Hai ahli kitab, janganlah kamu berlebihlebihan dalam agamamu selain dari kebenaran dan janganlah kamu turuti hawa nafsu kaum yang telah sesat sebelum itu, dan menyesatkan kebanyakan (manusia) dan mereka telah sesat dari jalan yang lurus.

    Al-Maidah 116
    Ingatlah ketika Allah berfirman: Ya isa anak Maryam, adakah engkau katakan pada manusia: Ambillah aku dan ibuku menjadi Tuhan selain daripada Allah. Ia menjawab: Maha suci engkau (ya Allah). Tak pantas bagiku, bahwa kukatakan sesuatu yang bukan hakku. Jika kukatakan demikian, tentu engkau mengetahuinya…..

    Dan demi Allah hal itu tertulis dalam Bible (tanpa mempersoalkan dahulu bible masih murni atau telah tercampur dengan tulisan manusia). Yaitu dalam ucapan-ucapan Yesus as, Musa as, Daud as, Sulaiman as:

    Markus 12:28-29
    (Hukum yang terutama)
    (28) Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawaban yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepadanya dan bertanya: Hukum manakah yang paling utama?
    (29) Jawab Yesus: Hukum yang terutama ialah: Dengarlah hai orang israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.
    (nb: Dikatakan oleh Yesus: Tuhan Allah kita. Tidakkah anda menyadari Yesus menyebut Tuhan Allah kita. Dimana kata “Kita” merupakan kata ganti orang pertama jamak termasuk Yesus sendiri yang mengucapkan kata tersebut. Maka jelas sekali Yesus pun bertuhankan Allah)

    Yohanes 17:3
    (Doa Yesus untuk murid-muridnya)
    Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal yesus kristus yang telah engkau utus.
    (nb: disebutkan oleh Yesus: satu-satunya Allah. Bukan Allah yang satu tetapi tiga)

    Matius 4:10
    (Percobaan di padang gurun)
    Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah Iblis, sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, kepada dia saja engkau berbakti.
    (nb: disebutkan oleh Yesus: menyembah Tuhan, Allahmu. Bukan menyembah Tuhan Anak Allahmu [firman?], dan Roh Kudusmu).

    Ulangan 4:35
    (Musa menasehati bangsa itu untuk memelihara hukumAllah)
    Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia.
    (nb: disebutkan oleh Musa: Tuhanlah Allah. Bukan Tuhanlah Anak Allah dan Roh Kudus).

    Ulangan 6:4
    Dan dengarlah hai israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa.
    (nb: Berkali-kali dikatakan Tuhan itu Allah kita, tidak termasuk Anak Allah dan Roh Kudus)

    Dan masih sangat banyak lagi:
    Jika berminat silahkan kaji sendiri.

    ALLAH DAN FIRMAN ALLAH??
    Benarkah Yesus itu adalah Firman Allah itu sendiri? (firman yang hidup?)
    Bagaimanakah sesungguhnya hubungan antara Yesus, Anak Allah, dan Firman Allah?

    Bismillahhirahmanirohim
    Sungguh saya mengikuti perdebatan anda berdua. Kemelut yang anda perdebatkan tentang Allah dan Firman Allah adalah kemelut filosofis setingkat dengan pertanyaan “duluan mana antara ayam dan telur”. Demi Allah tidak akan tercapai kata sepakat.

    Pertama saya akan mencoba ikut berfikir filosofis dengan menggunakan Akal semata. Subhanaallah, saya tidak bermaksud sok pintar. Karena saya sadar fikiran manusia sungguh terbatas.

    Berikut saya petik dari tulisan sdr Acing:

    Allah hanya cukup ber-Firman dalam mencipta,
    Firman Allah adalah ciptaan Allah
    Maka, harus ada Firman Allah terlebih dahulu untuk mencipta Firman Allah yang lain,
    Lah, dari mana asal-usul Firman Allah pertama kali, sehingga dapat dicipta
    Firman-2 Allah yang lain ?

    Sebelum ada Mahluk, lebih dahulu ada Khalik. Bagaimana Allah mencipta sesuatu ? Dengan berFirman ? Kan Firman itu belum ada !

    Apapun urain saya, sulit untuk anda pahami sebelum anda mengerti jawapan pertanyaan klasik tersebut. Saya sebut klasik, karena tidak ada Muslim yang dapat menjawap, kecuali hanya klaim-klaim : sifat, zat dst….

    Duluan mana antara Allah dan firman Allah?
    Duluan mana antar anda dengan ucapan anda?

    Jika Allah belum ada, bagaimana bisa firman Allah ada terlebih dahulu ada.
    Kalaupun anda katakan firman itu sifat Allah, bagaimana mungkin sifat Allah terlebih dahulu ada sebelum Allah ada?

    Saya yakin sdr Acing sangat pintar dan sungguh mudah untuk menjawab hal ini.
    Tetapi tidakkah anda merasa bahwa ini sangat mirip dengan soal “telur dan ayam?”

    Kembali saya petik dari tulisan sdr Acing

    Bahwa ketika Allah berkehendak, maka dalam melaksanakan kehendak itu nampak atau direalisasikan dalam FirmanNya dan Firman itu keluar dari dalam Dirinya. Allah yang berfikir dan berkehendak itu kami sebut Allah Bapa dan Firman itu saya sebut Anak. !.

    Apakah kata-kata yang keluar dari mulut anda, merupakan substansi anda? Tentu bukan. Namun representasi anda saat ini benar.
    Adakah Firman Tuhan itu adalah Tuhan itu sendiri?
    Manakah yang lebih substansial antara Tuhan dan firman Tuhan.
    Firman tuhan jelas representasi Tuhan, tetapi sungguh bukan Tuhan itu sendiri.

    Sekali lagi saya yakin sdr Acing sangat pintar dan sungguh mudah untuk menjawab hal ini. Dan para filosof yang mendengar hal ini akan memperdebatkannya. Ada yang pro ada yang kontra. Sungguh akal manusia terbatas untuk memikirkan hal itu

    Coba mari kita kembalikan dalam Bible:

    Yohanes 1:1&2&14
    (1)Pada mulanya adalah Firman: Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah.
    (2) Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah
    (14) Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita, dan kita telah melihat kemuliaannya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai anak tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

    Kesimpulan sementara:
    Yesus adalah Firman dan otomatis Firman adalah Yesus. Sering pula dikatakan Yesus merupakan firman yang hidup.

    Pertanyaan:
    Sabda siapakah ini. Allah-kah? (tidak ada disebutkan ini firman Allah) Yesus-kah? (Tidak ada juga disebutkan ini sabda Yesus) Atau Yohanes-kah?
    Kemungkinan besar akan dijawab Yohanes atas bimbingan Roh Kudus.

    Coba mari kita kros cek dengan Yang diucapkan Yesus

    Yohanes 17:8
    (doa Yesus untulk murid-muridnya)
    Sebab segala firman yang engkau sampaikan kepadaku telah aku sampaikan pada mereka dan mereka telah menerimanya, mereka tahu benar-benar bahwa aku datang dari padamu, dan mereka percaya bahwa engkau yang telah mengutus aku.

    Mari kita simak:
    “Sebab segala firman yang engkau sampaikan kepadaku…”
    Yesus mengatakan bahwa:
    “firman (representasi Allah) yang engkau (Allah) sampaikan padaku (Yesus)”.
    Dari sini sangat terang bahwa firman itu disampaikan oleh Allah kepada Yesus. Sehingga terang bahwa firman Allah, Allah, dan Yesus, merupakan substansi masing-masing yang terpisah.

    Jika terdapat kesimpangsiuran dalam ayat-ayat Bibel seperti ini, manakah yang akan anda terima? Yohanes 1:1&2&14 (yang tidak dijelaskan itu sabda siapa?) atau Yohanes 17:8 yang terang terang menunjukkan kata-kata yang diucapkan Yesus

    Jika anda berkeyakinan bahwa Yesus itu merupakan firman yang hidup, berarti kata-kata Yesus tersebut dalam Yohanes 17:8 lah yang mesti anda Percaya. Jika anda meragukannya, artinya anda meragukan Kitab suci anda sendiri.

    Coba kita lihat

    Kejadian 20:22
    Lalu berfirmanlah Tuhan kepada Musa: “Beginilah kau katakan pada orang israel…”

    “berfirmanlah Tuhan” kata tersebut menunjukkan bahwa berfirman adalah sebuah kegiatan tuhan bukan merupakan substansi Tuhan

    Sekali lagi mana yang anda percaya Yohanes atau Musa?

    Tidak pernahkah anda berfikir bahwa sebutan Yesus adalah firman yang hidup tersebut berarti bahwa Yesus adalah seorang manusia (nabi) yang diberi firman oleh Allah untuk disampaikan pada manusia. Dan Firman Allah itu ada dalam hatinya, artinya bahwa Kitab Injil yang sesungguhnya adalah apa yang ada dalam hati Yesus, dan terrepresentasikan lewat ucapan-ucapannya. Jadi Injil yang sekarang itu merupakan tulisan manusia (Matius, Markus, Lukas, Yohanes, dll) yang sebagian diantaranya terdapat ucapan-ucapan Yesus (yang merupakan Injil yang sesungguhnya).

    Saran saya: Hati-hatilah, Percayalah pada petunjuk yang benar saja, yaitu apa yang diucapkan Yesus dan nabi-nabi lainnya saja.

    ANAK ALLAH
    Siapakah anak Allah?

    Anda telah setuju sebelumnya bahwa kata “anak” di sini bukan kata “anak” dalam artian verbal. Tetapi “anak” yang cenderung kiasan.

    Kemudian anda menyatakan bahwa:
    (kembali saya mengutip tulisan anda):

    Bahwa ketika Allah berkehendak, maka dalam melaksanakan kehendak itu nampak atau direalisasikan dalam FirmanNya dan Firman itu keluar dari dalam Dirinya. Allah yang berfikir dan berkehendak itu kami sebut Allah Bapa dan Firman itu saya sebut Anak. !. Lihat ayat ini :

    Pernahkah anda menemukan satu ayat saja dalam Bibel yang menerangkan bahwa yang disebut anak Allah itu adalah Firman?

    Yakin.. tidak ada. Yang disebut sebagai anak Allah adalah Yesus (dalam berbagai ayat). Dan Orang-orang yang membawa damai (Matius 5:9), Dan seluruh orang yang mengasihi Allah (Matius 5:44-45), dan Israel (Keluaran 4:22-24), dan Afrain (Irmia 4:22-23), dan Daud (Mazmur 29:27).

    Jika anak Allah merupakan bagian tak terpisahkan dari Allah, maka akan terdapat sangat banyak Tuhan.
    Jika yang dianggap Tuhan hanya anak Allah yang Yesus saja, maka bagaimanakah anak Allah yang lain?

    Dari ayat-ayat tersebut diatas, tidakkah anda berfikir bahwa yang disebut sebagai anak Allah dalam bahasa ibrani adalah seseorang yang dikasihi Allah?

    Subhanallah…
    Demi Allah saya tidak bermaksud sok pintar, atau melecehkan keimanan anda semua yang masih meyakini bahwa Yesus adalah bagian dari Tuhan.
    Saya hanya coba mengingatkan anda-anda sekalian untuk berfikir jernih. Agar anda sekalian diridhoi Allah, dan bersama-sama Yesus as dan Rasulullah Muhammad saw, dan seluruh nabi sebelum beliau berdua, menikmati surga Allah swt.

    Mohon maaf jika sangat banyak kata-kata yang berpotensi menyinggung anda sekalian. Sungguh ini saya lakukan karena kecintaan saya kepada saudara-saudara Nashrani. Demi Allah bukan karena kebencian pada saudara-saudara Nashrani.

    Saya yakin banyak yang akan membantah ini. Dan mohon maaf, seluruh bantahan, sanggahan, dukungan atau apapun, insya Allah tidak akan saya tanggapi. Karena saya takut terjerumus dalam debat berkepanjangan yang hanya menimbulkan rasa saling membenci.

    Cukuplah bagi yang percaya untuk mengimani. Dan yang tidak silahkan menyanggah. Namun pesan saya: Berfikirlah yang jernih, singkirkan nafsu untuk mempertahankan eksistensi diri. Eksistensi konsep pemikiran kita terhadap Tuhan, sungguh sangat tidak berharga dibanding Dia sendiri. Renungkanlah, baik saudara Nashrani maupun saudara Muslim.

    Segala kebenaran milik Allah..
    dan jika terdapat kesalahan tentu karena kebodohan saya..

    wassalamualaikum wr wb

    Stefano Al-Biruni said:
    Oktober 3, 2007 pukul 10:20 am

    Satu hal yang menakutkan bagi orang yang beragama adalah takut berpindah agama. Padahal agama yang kita anut kebanyakan berasal dari agama orangtua kita, bila orangtua beragama A maka keturunannya (kita) akan beragama A, begitu pula bila agamanya B.

    Terkadang kita mempertahankan sesuatu yang belum tentu benar, hanya karena khawatir kalau agama kita disebut agama yang tidak benar.

    Saran saya, carilah kebenaran itu sampai bertemu dengannya. Jangan mencari kebenaran di tempat lain, carilah Injil dan carilah (terjemah) Al Qur’an, lalu bacalah perlahan-lahan. Bandingkan dengan pikiran yang terbuka dan jernih. Percayalah, kau akan menemukan kebenaran sejati, seperti dulu aku menemukannya.

    naldy said:
    Oktober 3, 2007 pukul 6:00 pm

    salam sejatera bagi kita semua

    comment pos 77
    Anda bertanya bagaimana caranya kita sampai pada iman…
    sebelumnya saya ingin bertanya apakah arti iman bagi bapak?
    apakah iman harus dibuktikan?apakah Anda harus melihat secara langsng bagaimana al – Quran di turunkan bagaimana Muhammad Rasul Allah?tapi Anda mengimani dan mempercayai itu.betul tidak?
    Anda percaya al – Quran langsung dari Allah di bawa oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad.apakah Ada Saksi?
    Iman sesuatu yang tidak kita lihat namun kita imani itu pada diri kita masing2 bahwa itu terjadi.
    cara kita mencapai Iman harusnya Anda sudah tau…
    mengapa Anda pertanyakan itu?Anda benar2 tidak tahu?
    iman dimiliki setiap orang.
    Hei lihat orang itu mencuri imannya kurang.bagaimana Anda tahu Iman dia Kurang?apa karena mencuri?lalu bagaimana dengan petinggi2 yang cari muka lalu orang2 berkata wah bapak itu imannya hebat.Dermawan….
    iman adalah bagaimana cara kita memahami Tuhan bukan dengan akal Budi sebab akal manusia terbatas maka dari dengan imanlah kita memahami Tuhan Semesta Alam.
    yang dimaksud Acing harus mencapai Iman bukan bagaimana cara kita memperolehnya namun kita harus memahami Tuhan dengan Iman.

    Ada bertanya alat apa?iman bukan untuk di Uji .Siapa yang salah atau siapa yang benar.Mengapa Anda mau menguji?
    hanya Allah yang benar dan kita mengimani itu.Anda memandang trinity dari Akal budi namun sayang itu tidak cukup.

    naldy said:
    Oktober 3, 2007 pukul 6:06 pm

    Salam Sejahtera,

    comment 79
    2.Alkitab terjemahan????
    Alkitab itu universal bukan terjamahan siapa pun bebas membacanya.entah dalam bahasa Arab,Indonesia,Inggris,dll.
    berbeda dengan Al – Quran yang adalah Dogma yang tidak bisa di ganti ke dalam Bahasa Indonesia.
    oia, apa ada Al – quran dala Bahasa Indonesia tapi tidak ada Tulisan Arabnya?

    naldy said:
    Oktober 3, 2007 pukul 6:18 pm

    Salam Sejahtera,,
    Gantian dunkz saya mau nanya?
    hmmm
    1.di Quran Muhhamad itu masuk Surga atau Neraka kenapa Anda berdoa untuknya?kalau Yesus(Isa) jelas naik ke Surga.
    2.di Quran apa tulisannya AraB semua?wah kalau itu enak yah yang orang asli Arab ga usa belajar2 nulis lagi ata apalin terjemahannya…
    3.Apa Anda Tau semua Isi dari Quran?Tafsirnya dll?
    4.kalau Alkitab di tulis manusia bedasarkan sejarah dan Roh kudus menuntun penulisnya untuk menulis isi dari Alkitab
    lalu apakah al-Quran ada penulisnya?dari mana Anda tau al – Quran benar2 datang dari Allah?anda di sana?hmm jgn2 Anda menjawab hanya dengan iman..wah balik dunkz ke pernyataan saya di atas,^^.
    5.

    naldy said:
    Oktober 3, 2007 pukul 6:52 pm

    salam Sejahtera,

    sekedar tambahan..sebuah illustrasi saya harap Anda membacanya.^^keep smile on ur live day by day,^^

    suatu hari saya berjalan di taman tidak sengaja saya melihat sarang semut yang porak poranda. Saya terdiam dan berpikir duh,kasian Semut2 itu…bagaimana yah saya bisa memperbaiki sarang semut itu..kalau saya suruh semut lain pasti tidak berhasil
    ah saya sendiri saja turun saja kedalam sarang semut dan (berwujud) semut lalu saya bantu para semut itu sehigga mereka mempunyai semangat untuk memperbaiki sarangnya

    begitulah Allah orang Kristen.Allah yang peduli Ia rela turun ke bumi.Ia tidak hanya tidak diam di atas lalu menyuruh manusia memperbaiki dunia. Ia peduli,Ia datang menghampiri kita.Ia tahu tidak ada satu pun Manusia yang bisa mencapai Dia karena Semua Manusia berdosa.Maka itu Ia datang ke Dunia dalam wujud manusia untuk melawat umatnya.Ialah Yesus Kristus. Allah memberi jalan Keselamatan bagi kita dengan mengaruniakan AnakNya yang tunggal (sekali lagi bukan pengertian Biologis)Yoh 3:16 – 18,Yoh 14:6 – 11.
    Adakah Nabi lain yang berkata “Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup tidak ada Seorang pun yang Sampai Kepada Bapa kalau tidak Melaui Aku”.tentu tidak sebab yang bersabda bukan Nabi Tapi Tuhan Yesus. saya Harap Anda mengerti bahwa Yesus dan Allah adalah satu.
    Dalam alkitab Yesus berkata “Kepada-Ku telah diberikan Segala kuasa di Sorga dan dibumi”.tidak hanya atas izin Allah melainkan Telah diberi Kuasa.(mat 28:18)

    naldy said:
    Oktober 8, 2007 pukul 1:22 am
    SIFAT-SIFAT DASAR ‘ISA AL-MASIH FIRMAN DARI ALLAH, ROH DARI ALLAH Firman Allah Kesaksian Muhammad dan Pengesahan Yahya Roh dalam Al-Qur’an Pengertian Kaum Sufi Tentang Dua Gelar Tersebut Firman Allah adalah Kekal Maksud Ayat ‘Kami Perkuat Dia dengan Roh Suci’ Sifat Dasar Roh Suci Kesimpulan ISA AL MASIH DAN INTISARI ALLAH Apa Maksud ‘Anak Allah’? Kiasan-kiasan Tentang ‘Anak Allah’ Tunggul Sebatang Pohon Dua Sifat Dasar Isa Al Masih FIRMAN DARI ALLAH, ROH DARI ALLAH ‘Untuk bagian manakah perwujudannya [Manusia yang Sempurna] itu disamakan? Sebagai manusia, jin atau malaikat?’[1] Pertanyaan-pertanyaan Tirmizi ini masuk akal, karena Isa melintasi bagian-bagian yang berlainan dalam perwujudannya. Di dalam Isa kita temukan satu titik pertemuan antara manusia, dengan malaikat dan dengan Allah Yang Maha Tinggi. Dia sesungguhnya adalah seorang manusia, dan ada mufassirin yang melihatnya sebagai salah seorang dari para malaikat, yang berkedudukan dekat di sisi Takhta Allah. Dia juga, menurut setengah mufasir yang lain, memang menyatakan sifat-sifat pribadi Allah sendiri. Persoalan Tirmizi sesungguhnya membingungkan banyak orang. Dalam bagian ini kita akan melihat ulasan-ulasan yang dibuat oleh para akhli kitab dan karya tulis kaum Sufi (akhli Tasawuf) tentang Isa dalam usaha untuk menjawab pertanyaan Tirmizi mengenai sifat dasar Isa Al Masih Kita awali bab ini dengan melihat dua sebutan yang diberikan kepada Isa dalam Al-Qur’an: ‘Firman Allah (Kalimat Cipta)’[2] ‘Firman dari Allah’[3] dan ‘Roh dari Allah’[4]. Kemudian kita akan mengkaji pernyataan ayat-ayat Al-Qur’an ‘perkuatkan dia [Isa Al Masih] dengan Roh Suci’. Firman Allah Dalam Al-Qur’an, Isa Al Masih pernah dipanggil sebagai ‘Firman Allah’ (yang berarti ‘Kalimat-Nya’, kalimatuhu, yang merujuk kepada Allah),[5] dan dua kali ‘Firman atau Kalimat-Cipta daripada Allah’ (kalimatun-minhu).[6] Razi mengumpul tafsiran-tafsiran yang berlainan dari para akhli kitab Muslim mengenai sebutan ini: 1. Isa disebut sebagai Firman Allah dalam pengertian bahwa ia dicipta dengan kalimat Allah – yakni, dengan kata ‘jadilah!’ (Kon) – tanpa adanya seorang ayah.[7] 2. Isa disebut sebagai Firman Allah karena ia bercakap-cakap di masa kanak-kanaknya, dan Allah telah memberikannya Kitab tersebut di masa ia masih kanak-kanak…justru ia dipanggil ‘firman’ karena, sebagai seorang pengucap, ia mencapai puncaknya, maka dalam pengertian tersebut ia disebut sebagai satu firman/kalimat.[8] 3. Isa disebut sebagai Firman Allah karena, sama seperti firman itu yang membuka rahasia-rahasia dan kebenaran, Isa juga menuntun manusia kepada kebenaran-kebenaran dan Rahasia-rahasia Ilahi.[9] 4. Isa disebut sebagai Firman Allah karena ia memenuhi nubuat-nubuat para nabi mengenainya; sama seperti yang dinyatakan oleh Al-Qur’an, ‘dan firman Tuhan Mu akan dipenuhi’.[10] 5. Isa disebut sebagai Firman Allah karena, sama seperti manusia bisa dipanggil sebagai ‘kebaikan Allah’ dan ‘kemurahan Allah’, begitu juga Isa telah diberi nama yang selayaknya sebagai firman Allah dan roh Allah.[11] Razi juga mengatakan, sama seperti seorang manusia yang benar-benar pemurah bisa dipanggil ‘dermawan’ sebagai satu yang dilebihkan, maka begitu juga Isa dinamakanl sebagai “Firman Allah’ dalam pengertian tersebut.[12] 6. Isa disebut sebagai Firman Allah karena ia adalah manifestasi Firman Allah yang Maha Tinggi dengan banyak mujizat-mujizatnya yang sempurna dan mutlak.[13] Mari kita memeriksa dan mengkaji setiap penjelasan di atas dengan lebih dalam lagi. Alasan pertama yang diberi ialah bahwa Isa dipanggil sebagai Firman Allah karena Allah menciptanya dengan kalimat ‘jadilah!’ (kon). Razi menyatakan: karena dia [Isa] dilahirkan tanpa adanya perantaraan seorang ayah, pengaruh firman Tuhan adalah lebih nyata dan sempurna dalam menciptanya. Sebab itu ia dipanggil sebagai satu Kalimat dari Allah.[14] Jelaslah pengaruh kalimat ‘jadilah!’ itu adalah lebih nyata dan sempurna dalam penciptaan Adam, karena Adam diciptakan bukan saja tanpa seorang ayah, tapi juga tanpa seorang ibu. Dia adalah manusia yang pertama diciptakan dengan kalimat ‘jadilah!’ dan merupakan satu penjabaran yang sempurna kekuasaan penciptaan kata itu. Mengikut alasan yang diberi oleh Razi, sebutan Firman Allah itu seharusnya lebik cocok untuk Adam daripada Isa. Tapi Isa dan bukannya Adam yang dipanggil sebagai Firman Allah. Lagi pula, segala sesuatu dijadikan Allah dengan kalimat ‘jadilah!’ itu. Adam, Hawa dan kita semua, serta dengan hewan dan tumbuhan – semua yang ada di muka bumi ini dijadikan oleh Allah dengan kalimat ‘jadilah!’ itu. Jika ini adalah benar, mengapa Isa saja yang dipanggil sebagai Firman Allah? Atas alasan yang diberikan oleh Razi, segala sesuatu sepatutnya dipanggil sebagai Firman Allah, tapi bukan semuanya; hanya Isa saja yang dipanggil sebagai Firman Allah. Justru seruan terhadap ‘penciptaan’ Isa dengan kalimat ‘jadilah!’ dalam upaya menerangkan mengapa Ia dipanggil sebagai Firman Allah adalah tidak sah. Semua alasan-alasan lain yang diberikan mengapa Isa layak menerima gelar itu mempunyai satu sifat yang sama: Dia dipersembahkan sebagai satu manifestasi sempurna yakni beberapa kualitas yang membedakan dia dari yang lain. Dia sangat tinggi dari sesiapapun yang memiliki aspek-aspek kualitas ini untuk dibandingkan. Oleh karena itu dialah yang dipilih oleh Allah untuk dinamakan sebagai Firman Allah. Demikianlah, saat semua nabi-nabi menyampaikan firman Allah kepada manusia, hanya Isa saja yang menunjukkan kualitas ini dalam cara yang sempurna, jadi dialah yang layak dipanggil sebagai Firman Allah. Atau, sementara Allah memberi yang lainnya hak istimewa untuk memimpin manusia ke jalan yang benar dan membuka beberapa rahasia-rahasia Ilahi, petunjuk dan pedoman Isa kepada kebenaran dan membuka semua rahasia Ilahi adalah lebih sempurna dan lengkap, maka dia terpilih untuk dipanggil sebagai Firman Allah. Dia adalah pembuka pikiran atas kebenaran Allah, dan pembuka rahasia atau wahyu yang sempurna tanpa membiarkan adanya penambahan atau pengurangan. Apabila yang sempurna itu telah datang, tidak ada tempat bagi sesuatu yang tidak utuh. Tafsiran yang keempat memperkenalkan satu penjelasan yang begitu unik mengapa Isa menerima gelar tersebut. Sama seperti yang dinyatakan oleh Al-Qur’an: ‘ dan firman Tuhan-mu akan dipenuhi,’[15] jadi Isa dipanggil sebagai Firman Allah karena firman Allah tentang Isa, yang disampaikan lewat nabi-nabi yang terawal, kini menjadi satu kenyataan atau dipenuhi. Di sini sekali lagi, dialah yang dipilih untuk menerima gelar tersebut. Ada banyak bukti-bukti nubuatan tentang dia dan dia seorang diri yang layak menerima gelar Firman Allah. Namun dalam semua penjelasan-penjelasan yang dikumpulkan oleh Razi, ada dua pra-tanggapan atau perkiraan yang salah. Pertama, ialah Isa diberi gelar Firman Allah itu setelah Isa memanifestasikan beberapa kualitas yang unik. Dengan kata yang lain, dia diberi gelar itu karena dia menunjukkan kualitas tersebut (contohnya, setelah memanifestasikan percakapan yang sempurna, dia kemudian disebut sebagai Firman Allah). Walau bagaimanapun, pra-tanggapan bahwa Isa dipanggil sebagai Firman Allah bahkan sebelum kelahirannya lagi selalu sulit dipersepsi orang sehingga ada kesan seperti orang berjalan dalam lumpur untuk diyakini! Dia dipanggil sebagai Firman Allah sebelum dia mengerjakan mujizat, sebelum memenuhi nubuatan, dan sebelum membukakan kebenaran kepada manusia. Pra-tanggapan yang kedua ialah pertimbangan Allah seolah-olah seperti pemikiran manusia, sehingga ke tahap yang dilebih-lebihkan atau dibesar-besarkan (lihat penjelasan yang ke-5 di atas). Adalah benar bahwa manusia bisa memanggil seseorang itu sebagai ‘kebaikan dari Tuhan’ atau ‘keadilan dari Allah’, tapi Allah sendiri tidak pernah memanggil manusia dengan sebutan seperti itu. Al-Qur’an menggambarkan kata-kata Allah itu sebagai: ‘Telah cukup sempurna firman Tuhanmu yang penuh berisi kebenaran dan keadilan. Tidak ada seorangpun yang dapat merubah firman-firman-Nya itu. Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.’[16] dan ‘…Sedang yang disebutkan Allah adalah yang sebenarnya, dan Dia menunjukkan jalan yang benar’.[17] Allah bersungguh-sungguh akan apa yang dikatakan oleh-Nya, dan apa yang dikatakan-Nya adalah benar: tidak ada yang dibesar-besarkan, tidak ada hal atau keterangan yang dianggap rendah; tapi hanyalah yang sempurna dan tepat. Perlu kita perhatikan bahwa tidak ada manusia yang pernah memanggil orang lain sebagai Firman Allah sebagai satu sebutan atau nama yang pantas, sebelum atau setelah kedatangan Isa. Di samping itu, semua pendapat yang dikumpulkan oleh Razi tidak mempertimbangkan sebutan yang hampir sama yaitu ‘Firman dari Allah’. Apabila kita merenungkan dan mempertimbangkannya, kita akan dapat merasakan aliran pikiran penjelasan-penjelasan akhli-akhli kitab tersebut menuju ke satu kesimpulan yang berbeda. Ia tidak bisa dipanggil sebagai satu Firman/ Kalimat dari Allah karena dia diciptakan dengan kalimat ‘jadilah!’. Gelar ‘Firman dari Allah’ menunjukkan bahwa Isa sama seperti kalimat ‘jadilah!’ yang Allah sabdakan, dan bukannya hasil dari kalimat ‘jadilah!’ itu. Dengan cara yang sama, dia tidak bisa dipanggil sebagai satu ‘Firman/Kalimat dari Allah’ karena dia memenuhi semua perkataan-perkataan yang disebutkan oleh para nabi tentang dia, karena dia adalah lebih menyerupai firman dari Allah kepada para nabi daripada penggenapan segala nubuatan tersebut. Maka kedua ungkapan: “Firman Allah’ dan ‘Firman dari Allah’ memberi pengertian masing-masing, dan semua penafsiran yang dikumpulkan oleh Razi tidak menolak pengertian yang cermat. Roh Dari Allah Sebutan ‘Roh dari-Nya’ digunakan untuk Isa dalam ayat Al-Qur’an berikut: Hai Ahli Kitab, janganlah kamu keterlaluan dalam menanggapi agamamu. Dan janganlah kamu mengatakan mengenai i’tikad terhadap Allah kecuali dengan dalil-dalil yang benar. Sesungguhnya Al Masih putera Maryam itu adalah Rasul Allah, dan terjadinya dengan Kalimat Cipta yang disampaikan dengan perantaraan Roh sesuai dengan perintah-Nya.[18] Sekali lagi, Razi mengutip pendapat-pendapat para akhli kitab mengenai ungkapan tersebut: 1. Adalah menjadi adat kebiasaan manusia jika mereka coba menerangkan sesuatu yang benar-benar suci dan bersih maka mereka sebut ia sebagai roh. Justru karena Isa bukan dibentuk dari sperma manusia tapi dengan hembusan Jibril, maka selayaknya dia [Isa] disebut sebagai ‘roh’. Dan ungkapan tentang ‘dengan perintah-Nya’ itu adalah satu indikasi kemuliaan dan keagungan[19] 2. Dia [Isa] adalah pemberi kehidupan kepada manusia dalam agama mereka, dan siapapun yang seperti itu disebut sebagai roh. Karena sesungguhnya Allah menyatakan dalam Al-Qur’an, ‘dan terjadinya dengan Kalimat Cipta yang disampaikan dengan perantaraan Roh sesuai dengan perintah-Nya’.[20] 3. Roh dari-Nya berarti belas kasih (rahim) dari-Nya.[21] 4. Suatu roh dari roh-roh yang mulia, tinggi dan suci.[22] 5. Roh Suci yang disebutkan dalam Al-Qur’an 2:87 adalah roh yang dihembuskan ke dalam Isa, dan apa yang dikatakan ‘Suci’ itu ialah Allah Yang Maha Tinggi. Maka, Dia [Allah] menghubungkan roh Isa kepada-Nya untuk memuliakan dan meninggikan Isa,sama seperti ada yang mengatakan: rumah Allah, dan unta Allah.[23] Penafsiran-penafsiran ini adalah serupa dengan apa yang dijelaskan untuk gelar Firman Allah. Marilah kita melihat penjelasan ini secara ringkas: Pertama, Adamlah yang diciptakan dengan hembusan secara langsung dari Roh Allah, bukannya Isa. Mengenai penciptaan Adam, Al-Qur’an menyatakan: ‘Lalu disempurnakan-Nya kejadian-Nya, dan ditiupkan-Nya roh ciptaan-Nya kepada tubuhnya, dan dilengkapi-Nya kamu dengan pendengaran, penglihatan dan pemikiran.’[24] Adam merupakan manifestasi yang pertama kekuasaan Allah yang memberi kehidupan. Menurut penafsiran dari penjelasan pertama di atas, sebutan itu lebih cocok untuk Adam daripada Isa. Di samping itu, ungkapan sebutan ‘Roh dari Allah’ itu membuat Isa seperti roh yang ditiupkan sebelum dia dikandung, bukan hasil dari peniupan Roh tersebut. Penjelasan kedua seakan menyamakan Isa dengan Al-Qur’an, yang mengatakan keduanya dipanggil sebagai Roh. Walau bagaimanapun, ada perbedaan di atara keduanya, di mana Isa dipanggil sebagai ‘Roh dari Allah’ sedangkan Al-Qur’an dipanggil ‘Roh dari perintah Kami [yakni perintah Allah]’. Kedua ungkapan tersebut hampir sama, tapi kesamaan itu haruslah sejajar jika penjelasan itu mesti dipertahankan. Penjelasan ketiga memperlihatkan sebutan Roh dari Allah itu berarti ‘belas kasih dari Allah’. Belas kasih Allah bermuara dalam Allah, justru sebutan ‘Roh dari Allah’ juga mengarah ke sumber yang sama sekiranya kita mau tetap konsisten. Jadi seharusnya dikatakan bahwa sama seperti belas kasih dari Allah datang langsung dari Allah, Isa adalah juga datang langsung dari Allah. Penjelasan ini sebagai upaya menghindari kata Roh tersebut, tapi Al-Qur’an menyatakan Roh dari Allah dan bukannya belas kasih dari Allah. Penafsiran selanjutnya menyatakan bahwa sebutan Roh tersebut bermakna ‘suatu roh dari roh-roh yang mulia, tinggi dan suci’. Tapi sebutan itu secara polos menyatakan Roh dari Allah, dan bukan dari kalangan roh-roh yang tinggi dan mulia. Akhirnya, Isa dikatakan sebagai Roh Allah dalam konteks yang sama seperti ada yang memanggilnya ‘rumah Allah’ atau ‘unta Allah’. Tapi penafsiran ini tidak menjelaskan derajat Roh dari Allah. Karena tidak ada seseorangpun yang pernah mendengar ungkapan suatu rumah dari Allah atau seekor unta dari Allah. Ucapan-ucapan seperti unta Allah dan gunung Allah adalah secara linguistiknya bisa diterima, tapi tidak ada suatu rumah dari Allah atau seekor unta dari Allah. Al-Qur’an tidak mengatakan Roh Allah tapi Roh dari Allah. Gelar ‘Roh dari Allah’ tergulung dengan ucapan-ucapan seperti ‘wahyu dari Allah’, ‘belas kasih dari Allah’ dan ‘firman dari Allah’. Semua ini bukanlah permainan kata akan tetapi mengandung arti yang dipunyai secara sah atas satu aras Ilahi. Ungkapan ‘belas kasih dari Allah’ secara automatis mengandung makna sesuatu yang syurgawi, sedangkan ‘unta Allah’ adalah sesuatu yang fana. Menyamakan gelar ‘Roh dari Allah’ dengan ‘unta Allah’ akan hanya tercapai atau disepakati bila kita mengabaikan norma-norma linguistik Bahasa Arab. Ada yang akan membantah kutipan ini seperti yang dikemukakan ayat Al-Qur’an 45:13 ‘Dan ditaklukkan-Nya olehmu segala yang ada di langit dan di bumi, sebagai rahmat daripadanya. Sesungguhnya hal itu menjadi dalil-dalil tentang kekuasaan Tuhan bagi kaum akhli pikir’. Mereka akan memperdebatkan bahwa langit dan bumi adalah dari Allah. Tapi ada salah paham dalam ayat ini, karena apa yang datang dari Allah bukannya langit dan bumi tapi apa yang dikandung oleh langit dan bumi, seperti yang dijelaskan oleh Razi: ‘Apa yang terkandung dalam kedua-dua ini adalah datangnya dari Allah’.[25] Kesaksian Muhammad dan Pengesahan Yahya Adalah penting untuk dibahas kiranya di sini bahwa gelar ‘Firman Allah’ bukanlah satu nama diri tapi satu gelar yang menerangkan Isa dan misi-Nya. Ibn Ishaq mengutip satu surat yang dikirimkan oleh Nabi Muhammad kepada Negus dari Abyssinia, di mana Rasullullah berkata, “Saya bersaksi bahwa Isa anak Maryam, ialah roh Allah dan firman-Nya, yang Dia turunkan kepada perawan Maryam.’[26] Jika Razi benar dalam menyatakan gelar-gelar Firman Allah dan Roh Allah adalah sama dalam menamakan manusia untuk ‘kebaikan Allah’ dan sebagainya, maka gelar-gelar ini tidak akan muncul dalam surat-surat Nabi Muhammad sebagai predikat dalam ayat tersebut. Yakni, Nabi Muhammad tidak akan menyebutkan Isa ialah roh Allah dan firman-Nya. Tapi kewujudan mereka secara fakta sebagai predikat membuatkan mereka sebagai satu sudut iman dan bukan hanya sekadar satu ungkapan dalam kata. Inti kesaksian Muhammad tersebut ialah: Isa Al Masih adalah Roh Allah dan Firman Allah. Bahkan, kata-kata ‘yang Dia turunkan kepada perawan Maryam’ membayangkan sebelum penjelmaan Isa sebagai Roh dan Firman Allah. Untuk mempercayai bahwa Isa adalah Firman Allah dan suatu Roh dari Allah ialah satu prinsip ajaran iman yang dasar, sama seperti mempercayai kenabian para nabi. Untuk benar-benar percaya terhadap Isa Al Masih tidak akan berhenti pada titik dia adalah seorang nabi; tapi mengakui bahwa dia adalah lebih daripada seorang nabi. Dia adalah Firman Allah. Ini juga dapat dilihat dari persujudan Nabi Yahya kepada Isa ketika keduanya masih dalam kandungan ibu masing-masing. Jika gelar Firman Allah itu hanyalah satu metafor semata-mata dan bukannya satu keterangan sebenar Isa dan misi-Nya, maka tidak ada arti dalam persujudan Yahya tersebut. Jika gelar itu hanyalah satu nama, maka ia tidak perlu mendapat respon dari sebarang iman kepercayaan langsung. Yahya tidak sujud karena Isa adalah Anak Maryam, tapi karena dia adalah Firman Allah. Ibn ‘Abbas, salah seorang dari pengikut awal Nabi Muhammad, mengirimkan/menyebar kepercayaan awal bahwa respon yang sepatutnya diberi kepada Isa sebagai Firman Allah ialah bersujud di depan-Nya, dan Nabi Yahya adalah orang yang pertama berbuat demikian dengan bersujud dan mengakui bahwa Isa adalah Firman Allah: ‘Dia bersujud kepada Isa dalam kandungan ibunya adalah sebagai satu ucapan iman kepercayaan kepada Isa.’[27] Roh dalam Al-Qur’an Gelar ‘Firman dari Allah’ dan ‘Roh dari Allah’ adalah sejajar dalam bentuk dan maknanya, yang saling menjelaskan antara satu sama lain. Pemahaman kita untuk istilah yang pertama akan lebih terfokus bila kita memperbincangkan lebih lanjut istilah yang kedua. Untuk memahami apa yang dimaksudkan dengan Roh dari Allah, kita harus melihat bagaimana Al-Qur’an menggunakan kata ‘roh’. Dalam bahasa biasa yang berkaitan dengan manusia, kata roh berbeda sama sekali penggunaannya dari penggunaannya di dalam Al-Qur’an. Di dalam Al-Qur’an, kata tersebut merupakan satu ungkapan ‘tekhnis’ yang menyatakan secara esklusif yang berkaitan dengan Allah. Akhli-akhli kitab yang telah meminta bantuan dari bahasa yang umum mencoba menjelaskan makna gelar ‘Roh dari Allah’ yang diberikan kepada Isa, adalah sangat berbeda dari apa yang dimaksudkan oleh Al-Qur’an. Perkataan roh atau jabarab dari asal/akar katanya ada tersebut sebanyak dua puluh empat kali di dalam Al-Qur’an dan tidak ada satupun yang menghubungkannya dengan manusia. Kata yang digunakan untuk menggambarkan ‘kodrat manusia’ ialah ‘jiwa atau semangat’, dan bukan ‘roh’. Dr. Mustafa Mahmoud mengaris-bawahi satu perbedaan yang nyata antara Roh dan jiwa dalam Al-Qur’an: Menurut bahasa yanag biasa digunakan, kita sering keliru antara jiwa/semangat dan roh. Dan kita sering mengatakan ‘rohnya sudah pergi’, atau ‘rohnya benar-benar merindukan sesuatu’, atau ‘rohnya terasa begitu tersiksa sekali’….Semuanya ini adalah pengungkapan yang kurang tepat dan hanya diperuntukkan jiwa/semangat dan bukannya roh. Karena apa yang meninggalkan dan pergi dari tubuh adalah jiwa/semangat (Al-Qur’an 6:93), dan yang merasakan kematian itu adalah jiwa dan bukannya roh (Al-Qur’an 3:185)…Jiwa/nyawa wujud sebelum kelahiran, dan selama hidup seseorang manusia, dan tetap hidup setelah maut. Roh sebaliknya tidak bisa digoda (Al-Qur’an 5:30, 50:16), tidak iri hati atau bernafsu berahi (Al-Qur’an 91:7 & 8), tidak merasa bosan (Al-Qur’an 9:118) dan tidak akan disiksa (Al-Qur’an 9:55)….Semua ini tergolong dalam jiwa/semangat/nyawa dan bukannya roh.[28] Jadi sementara bahasa biasa ‘bercampur antara jiwa dan roh’, dan menggunakan kedua ini secara silih-ganti, Al-Qur’an tidak memperlakukan kedua kata ini dalam keadaan yang serupa, tapi menggunakan kata ‘roh’ untuk Tuhan secara esklusif. Dr. Mahmoud menyambung: Roh, bagaimanapun, sering diungkapkan dalam Al-Qur’an dengan satu derajat kesucian, kemuliaan dan keilahian yang begitu tinggi. Roh tersebut tidak pernah digambarkan sebagai sesuatu yang azab sengsara atau iri hati, atau berahi, mengingini atau mendambakan, atau dipersucikan atau dinajisi, ataupun naik atau turun atau merasa bosan. Tidak ada dinyatakan dalam Al-Qur’an tentang roh meninggalkan jasad atau menderita maut…Roh tidak ada kaitannya dengan manusia, tapi selalu dinyatakan berhubungan dengan Tuhan (Al-Qur’an 19:17).[29] Mengenai penciptaan Adam Allah berfirman: ‘Apabila Kami sudah membentuknya, dan meniupkan Roh Kami kepadanya… (Al-Qur’an 15:29)’. Allah mengatakan ‘Roh Kami’ dan bukannya ‘roh Adam’; yakni Roh itu adalah dari Allah. Maka Tuhan kita selalu menghubungkan Roh itu kepada-Nya. Dan lagi: ‘..yang disampaikan kepada Maryam dengan perantaraan Roh sesuai dengan perintah-Nya… (Al-Qur’an 4:171).’ Roh dalam ungkapan tadi merujuk kepada Kalimat Ilahi dan perintah Ilahi Allah. Jadi Roh adalah selalu berkaitan dengan Allah, dan dalam gerakan secara tetapt dari Allah dan kepada Allah. Untuk maksud ini Roh digambarkan sebagai suatu deskripsi yang tinggi, megah dan agung. Al-Qur’an memanggil Malaikat Jibril sebagai “Roh Kesucian”…dan ‘Roh yang setia’. Tapi jiwa/semangat adalah sesuatu yang berhubung dengan seseorang, yaitu pemilik jiwanya sendiri. ‘Keuntungan apapun yang kamu peroleh, datangnya dari Allah, dan apapun bencana yang menimpamu adalah karena salahmu sendiri [jiwa]’ (Al-Qur’an 4:79). Dan Dia mengatakan tentang Isa ‘yang disampaikan kepada Maryam dengan perantaraan Roh sesuai dengan perintah-Nya… (Al-Qur’an 4:171).’[30] Berbeda dengan jiwa, Roh tidak mempunyai tempat di Firdaus atau Neraka, tapi Roh adalah nur cahaya dari cahaya Allah dan berhubungan dengan Allah. Roh datang dari Allah. Roh tidak bisa ditakluki oleh cobaan-cobaan atau penghakiman, atau hukuman atau ganjaran, tapi Roh adalah sesuatu contoh tertinggi dalam ayat-ayat Al-Qur’an, ‘Dan Allah mempunyai sifat-sifat yang sangat tinggi. Dia, Maha Kuasa dan Maha Bijaksana’ (Al-Qur’an 16:60) dan ‘Kepunyaan Dialah Citra Tertinggi dan Terindah di seluruh langit serta bumi ini. Dialah yang Maha Perkasa dan Bijaksana’ (Al-Qur’an 30:27). Ini adalah dunia yang penuh dengan terang yang didapati dari kesucian dan terang dari makhluk ‘dari’ Allah dan ‘dari’ perintah-Nya.[31] Menurut Dr. Mahmoud, di dalam Al-Qur’an manusia dikatakan sebagai mempunyai tubuh (jasad) dan jiwa (nyawa), tapi tidak sekalipun dikatakan mempunyai roh. Hanya Allah saja yang memiliki suatu Roh. Jadi untuk menggunakan kata roh dalam menghubungkannya dengan manusia adalah sesuatu yang tidak konsisten dengan apa yang dikatakan oleh Al-Qur’an. Kata roh ialah sesuatu yang esklusif yang Ilahi, sama seperti kata ‘Pencipta’. Setiap kali kata ini disebut, pikiran kita akan ditujukan ke atas. Kata roh selalunya disebut dengan begitu ‘Ilahi yang teramat sangat’ (tanzih), yaitu, tanpa ada sembarang dugaan yang anthropomorfis (yakni Roh itu tidak bisa dibandingi dengan apa-apa atau siapapun jua). Ingatlah, bahwa Allah itu adalah Pencipta, dan Isa hanya yang seorang yang dinyatakan dalam Al-Qur’an sebagai mencipta sesuatu dari tanah liat. Allah saja yang mempunyai Roh, dan satu-satunya manusia yang dikatakan ada kaitan dengan Roh dari Allah ialah Isa Al Masih. Dia tidak mempunyai suatu roh dari Allah, tapi dia ialah suatu Roh dari Allah. Jadi bila kita bertemu dengan kata Roh dalam Al-Qur’an, kita dipaksa oleh kebaikan bahasa Al-Qur’an itu sendiri untuk mengingat akan Allah. Sekiranya kita bertemu dengan kata tersebut di dalam buku-buku yang ditulis dalam bahasa biasa, maka kita bebas untuk memikirkan sama ada ia manusia atau Tuhan, menurut konteks ayat tersebut. Tapi bila gelar Roh dari Allah itu diberikan kepada Isa Al Masih di dalam Al-Qur’an, maka satu-satunya pengertian akan gelar itu ialah Isa kepunyaan Ilahi. Justru bila kita ikuti analisa Dr. Mahmoud, maka, kita akan mempunyai satu makna saja yang tinggal mengenai gelar Roh dari Allah: yaitu identias sebenarnya dan kodrat Isa Al Masih adalah suatu Roh yang dari Allah – suatu Roh yang ‘tidak ada kaitannya dengan manusia, tapi yang senantiasa dihubungkan dengan Allah’[32] Semua saran arti ungkapan yang dikumpulkan oleh Razi adalah tidak benar dalam penggunaan kata roh dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Semua mufasir hanya menumpukan pada apa yang dilakukan oleh Isa, dan bukannya siapakah dia sebenarnya. Jika di dalam Al-Qur’an kata itu sering dikaitkan dengan Allah, seperti yang telah dihuraikan oleh Dr. Mahmoud, maka kita seharusnya mengharapkan definisi gelar ‘Roh dari Allah’ itu pada hakikatnya berkait erat dengan kepribadian Allah Yang Maha Kuasa, dan bukan hanya sekadar manifestasi sifat-sifat Allah, atau tergolong dalam kategori ‘tokoh secara lisan’. Apa yang kita telah pelajari mengenai gelar Roh dari Allah menerangkan juga gelar yang satu lagi, yaitu Firman Allah (atau Firman dari Allah). Apa yang terpakai untuk satu bisa terpakai untuk yang satunya lagi. Kalau ‘Roh itu selalu berkait erat dengan Allah’,[33] begitu juga untuk kata Firman Allah. Maka justru itu, Isa Al Masih senantiasa berhubung erat dengan Allah, karena dia adalah suatu ‘Roh dari Allah’ seperti penyataan dari Al-Qur’an sendiri. Dan jika Roh itu ‘senantiasa berada dalam satu gerakan yang tetap dari Allah dan kepada Allah’,[34] maka begitu juga dengan Firman Allah, yang diturunkan kepada Maryam dari Allah dan diangkat untuk berada di sisi Allah. Dan jika ‘Roh itu tidak mempunyai tempat di Firdaus atau Neraka, roh itu adalah nur cahaya dari cahaya terang Allah, berhubungan erat dengan Allah, dan yang ‘datang dari Allah’,[35] begitu juga dengan Firman Allah. Isa adalah nur cahaya dari cahaya terang Allah. Dia berhubungan erat dengan Allah. Dia adalah datang dari Allah. Sama seperti bahasa dalam Al-Qur’an tidak ada seorangpun manusia yang digambarkan sebagai mempunyai roh, maka para malaikat tidak diberi gelar ‘roh’. Pemahaman yang biasa yang mengatakan Roh Suci ialah Jibril hanyalah satu penafsiran oleh akhli-akhli kitab. Malaikat selalu dipanggil sebagai ‘malaikat’ (malak ataupun mala’ikah). Sekali lagi, tidak ada seorangpun atau sesuatu apapun yang dikatakan sebagai mempunyai roh kecuali Allah dan Isa Al Masih. Jika, mengikuti bahasa Al-Qur’an sendiri, tiada malaikat-malaikat atau manusia yang digambarkan mempunyai roh, tapi Allah dan Isa Al Masih digambarkan sedemikian rupa, maka kodrat Isa bukanlah tergolong kepada kalangan manusia atau malaikat, tapi kalangan Ilahi. Dia semestinya dimiliki dan tergolong kepada Allah. Pengertian Kaum Sufi Tentang Dua Gelar Tersebut Pengertian kita mengenai kedua-dua gelar tentang Firman dari Allah dan Roh dari Allah juga didukung oleh kaum Sufi/Akhli Tasawuf. Ibn ‘Arabi dalam bukunya Fusus al-Hikam menyatakan tentang Isa Al Masih: Suatu roh dari Allah, bukan dari tempat lain, sebab itulah mengapa dia menghidupkan yang mati dan mencipta burung dari tanah liat.[36] Qashani,[37]ketika mengulas ungkapan di atas, berkata: Dia [Isa] ialah satu roh sempurna yang memanifestasikan Nama Allah. Allah-lah yang melakukan peniupan [roh]…dan tidak ada sumber yang lain lagi. Karena dia [Isa] datangnya dari satu Nama yang mengandung hakikat dan bukan datang dari nama yang sekunder di mana didapati terlalu banyak perantara antara Dia dan Allah, sama seperti memiliki roh-roh para nabi yang lain. Walaupun roh-roh mereka adalah datangnya dari hadirat Nama Allah, namun mereka adalah hasil dari banyak perantara penyinaran dari hadirat-hadirat Nama-nama Allah yang lain. Tapi Isa datang dari yang tersembunyi, yang paling dalam (batin) Wahadat Tertinggi (Ahadiyah) dari kesimpulan akhir Kehadiran Ilahi dan karena sebab itulah Allah memanggil-Nya [Isa] sebagai Roh-Nya dan Firman-Nya…. Karena firman itu [Isa] datangnya dari batin Allah yang paling dalam dan sifat dasar tersembunyi-Nya [Isa] datang dari Allah dan Nama Bersifat Jibril. Sebab itulah dia [Isa] ialah Hamba Allah dan penjelmaan Allah, dan keatasnya [Isa] muncullah sifat-sifat Allah, bisa membangkitkan orang yang mati, dan mencipta seekor burung dari tanah liat, serta bisa menyembuhkan orang buta.[38] Di sini kita mendapat satu definisi dari dua gelar tersebut yang tidak bergantung kepada teori-teori ‘tokoh-tokoh lisan’ dan tidak berfokus hanya kepada manifestasi-manifestasi ilahi yang hadir pada Isa, akan tetapi lebih kepada membicarakan tentang sifat dasar dan kodrat Isa Al Masih. Seorang penulis moden telah membuat kesimpulan semua pengertian akhli-akhli Sufi tentang pengertian mereka terhadap sifat dasar Isa, justru gelar Roh Allah diberikan kepadanya [Isa]: Bentuk yang ditentukan (ta’ayyon) Isa Al Masih menembus dimensi kodrat wahadat yang mencakup Keseluruh Sifat Dasar Ilahi, karena itu sebutannya dipanggil sebagai ‘Roh Allah’; karena dia adalah Roh Sempurna yang merupakan satu teophani (mazhar) Keseluruhan Nama Allah yang komprehensif.[39] Sekali lagi di sini kita mempunyai satu definisi atas gelar Roh Allah yang berhubung erat dengan pribadi Isa atas Pencakupan Keseluruhan Nama Allah. Qashani memberikan satu kata dasar alasan bagi kedua gelar yang diberikan kepada Isa yang begitu konsisten dengan temuan Dr. Mahmoud mengenai kata roh dalam Al-Qur’an. Dr. Mahmoud juga menyatakan, ‘Roh itu berada dalan satu panggilan tetap kepada Allah sebagai sumbernya,’[40]dan sama seperti roh itu mempunyai sumbernya dari Allah, begitu juga dengan Firman Allah. Tidak seperti roh-roh yang lain, yang merupakan hasil dari manifestasi-manifestasi sekunder yang saling berkait, kodrat Isa datang langsung dari Allah. Sementara para akhli kitab yang sebelumnya menetapkan bahwa Isa telah diberi gelar-gelar ini karena kemampuannya dalam beberapa pekerjaan tertentu, di mana perbuatannya itu sempurna, Qashani menghubungkan gelar-gelar itu dengan intisarinya. Dia tidak dipanggil sebagai Firman Allah karena dia melakukan beberapa perbuatan ilahi, tapi dia melakukan perbuatan-perbuatan ilahi itu karena dia adalah Firman Allah. Selanjutnya Ibn ‘Arabi membantu kita untuk mempertimbangkannya lebih jauh lagi. Menurutnya, semua ciptaan datangnya dari Allah; segala sesuatu asalnya dari Allah, apakah secara langsung ataupun tidak langsung. Ini berarti kita mempunyai dua pilihan mengenai sumber datangnya Isa. Yang pertama adalah dia datangnya dari satu asal yang sekunder (yakni yang datang dari). Walau bagaimanapun, jika ini merupakan persoalannya, kata-kata Ibn ‘Arabi terdahulu bahwa Isa adalah ‘satu Roh dari Allah, bukan dari sumber yang lain’ tidaklah benar. Tambahan lagi, tidak ada sesuatu yang bisa membedakan Isa dari asalan-asalan sekunder lainnya. Alasan yang kedua ialah Isa datangnya langsung dari Allah dan bukannya dari asalan yang sekunder. Jika Ibn ‘Arabi mengatakan tentang ‘satu roh dari Allah’ dan berhenti di titik itu saja, maka dia mungkin mengartikan bahwa Isa datang langsung dari Allah atau datang dari sumber lainnya. Tapi pengecualian tersebut yang disebut dalam kata-kata ‘tidak dari sumber yang lain’, memaksa kita untuk menyimpulkan bahwa Isa datang langsung dari Allah. Jika kita menimbang kenyataan Qashani tentang mengapa Isa dipanggil sebagai Firman Allah dan Roh Allah, kita dapat membuat tiga kesimpulan mengenai sifat dasar Isa Al Masih: 1. Sifat dasar Isa Al Masih datang dari suatu Nama yang Pokok, bukan hanya dari suatu Nama Sifat. Nama-nama pokok berbeda dari Nama-nama Sifat – misalnya, ‘Yang Esa’ ialah satu Nama Pokok, sedangkan ‘Yang Pengasih’ ialah satu Nama Sifat.[41] 2. Sifat dasar Isa Al Masih datang dari kesimpulan akhir Hadirat Ilahi. Qashani juga mengatakan bahwa, ‘Hadirat Ilahi itu ialah satu kesimpulan akhir dari segala Nama-nama Ilahi. Tidak ada perantara di antaranya dengan intisari Ilahi itu’.[42] Isa datangnya dari suatu Nama Pokok yang mencakup segala Nama-nama Ilahi. 3. Sifat dasar Isa Al masih datang dari kodrat yang tersembunyi Wahadat Tertinggi [Ahadiyah] Hadirat Ilahi itu. Kata Ahadiyah dalam terminologi Sufi bermaksud: Wahadat Tertinggi yang membuat obyek itu tidak ada pengetahuan pribadi yang khusus, karena sifatnya yang demikian, tidak bisa dicapai makhluk semacamnya; hanya Allah saja yang tahu Diri-Nya dalam Ketauhidan-Nya. Sebagai suatu keadaan spirituil, Wahadat memerlukan penghilangan semua bekas-bekas ciptaannya.[43] Jika Isa datangnya langsung dari Ahadiyah tersebut – yakni, dari Nama Pokok yang menyimpulkan segala Nama-nama Ilahi, dengan tidak ada perantara di antara dia dan intisari Allah, yang tidak ada wujud bekas-bekas ciptaan – maka kodrat Isa bukanlah sesuatu makhluk; dalam kodratnya tidak akan ada satu kesan bekas ‘ciptaan’ langsung. Karena inilah sifat dasar semula Firman Allah, Isa dari yang semulanya. Tidak ada perubahan dalam sifat dasarnya. Sifat dasar itu bukan sesuatu yang dia capai. Apa saja yang dicoba untuk dicapai oleh manusia bergantung kepada ‘upaya pribadinya, perjuangan bathinnya, karakter, perilaku dan sifat etikanya’.[44] Isa adalah Firman Allah yang datang dari Wahadat oleh karenanya hanya Allah yang tahu akan Diri-Nya. Sebab itulah mengapa Isa bisa memanifestasikan Allah, karena tidak ada seorangpun yang bisa berbuat demikian. Qashani menyatakan Isa: ‘Ia ialah satu roh yang sempurna yang memanifestasikan Nama Allah’. Dan hanya Roh Sempurna saja yang bisa memanifestasikan Dia Yang Sempurna [Allah]. Hal ini adalah karena Isa datang ‘dari Allah dan bukannya dari sumber lain – ‘dari kodrat Allah’ – sebab itu ia dipanggil sebagai Firman Allah. Dengan alasan seperti inilah ‘Attar terdorong menulis: Jika Dia bukan Firman Allah, Bagaimana harus Isa dihormati sebagai ‘Roh Mutlak dan Benar’?[45] Firman Allah adalah Kekal Apakah hasil Firman Allah berdasarkan waktu atau sesuatu yang kekal? Firman Allah bukan saja dihasilkan atau datang dari Allah tapi juga senantiasa bersama Allah. Anda mungkin bertanya, ‘Bagaimana?’ Jawabannya bisa didapati dari pemahaman orang-orang Muslim dalam sifat dasar Al-Qur’an itu sendiri. Menurut para akhli kitab, Al-Qur’an adalah: Sesuatu yang dibaca atau dilafazkan dengan lidah, ditulis dalam Masahif, diingat dalam hati, namun adalah sesuatu yang Kekal, yang wujud dalam Allah Sendiri, tidak bisa dipisahkan atau terpisah dari Allah dengan cara memindahkannya ke dalam hati atau menulisnya di atas kertas.[46] Dalam keadaan yang sama, kodrat Isa dihasilkan atau datang daripada kodrat Allah dan tetap berada dalam kodrat Allah. Waki’ Ibn al-Garrah yang dikutip oleh anak laki-laki Imam Ibn Hanbal sebagai berkata: Mereka yang mengatakan bahwa Firman-Nya bukanlah datang daripada-Nya adalah orang-orang yang ingkar, dan mereka yang mengatakan bahwa apa saja yang datang dari-Nya [yakni, dari kodrat-Nya] adalah sesuatu yang dicipta adalah orang-orang yang ingkar.[47] Razi menyatakan bahwa ‘Firman Allah, menurut orang-orang Sunnah, ialah satu sifat yang yang cukup lama hadir di dalam intisari Allah’.[48] Ibn Hazm melaporkan Ibn Hanbal sebagai menyatakan, ‘Firman Allah itu ialah pengetahuan abadi Allah dan maka ia bukanlah sesuatu yang tercipta’.[49] Dari semua pernyataan di atas, sudah tentu mengata tentang firman Allah yang bisa ditulis. Tapi prinsipnya yaitu apa saja yang datang dari Allah Sendiri adalah sesuatu yang abadi tetap seperti apa adanya. Apakah Firman Allah hanya merupakan kata-kata dan arti? Kita baca dari Permasalahan 131 dalam buku al-Jawab al-Mostaqim[50] (yang berarti ‘Jawaban yang Lurus dan Benar’), satu koleksi persoalan yang dijawab oleh Ibn ‘Arabi: Apakah Nama utama Allah dimana darinya semua Nama diperoleh? Nama Besar Allah (Al-Ism Al-A’zam)…Dia adalah manusia yang Agung, Manusia yang Sempurna.[51] Di sini Ibn ‘Arabi melihat nama utama Allah, bukan saja sebagai satu nama yang biasa, tapi juga sebagai seorang manusia. Firman Allah bukan saja satu nama yang biasa, atau ayat-ayat, atau satu makna/maksud, tapi adalah satu pribadi. Dan huwiyya, intisari, tentang Isa Al Masih adalah intisari Allah, seperti yang dikatakan oleh Qashani, ‘Huwiyya-Nya [Isa] adalah Allah ‘.[52] Karena segala sesuatu mempunyai huwiyyanya yang tersendiri, yang membuatnya sedemikian rupa.[53] Aliran mistik Islam ini sesungguhnya menyediakan makanan untuk kita renungkan. Dr. Qaradawi menyatakan: Jika pendengaran kita adalah melalui perantaraan udara sampai ke telinga kita. pendengaran Allah berbeda daripada pendengaran kita. Dan jika penglihatan kita mengenali benda-benda melewati indra dan sinar atau cahaya penglihatan kita, penglihatan Allah adalah tidak sama dengan penglihatan kita. ‘’Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar dan Melihat’ [Al-Qur’an 42:11].[54] Jika pendengaran dan penglihatan Allah adalah tidak sama dengan kita, maka firman-firman Allah adalah juga tidak seharusnya difikirkan sama dengan kata-kata kita. Kata-kata kita mempunyai huruf-huruf dan bunyi sebutan, dan mungkin juga adalah benar jika firman-firman Allah juga sedemikian rupa. Tapi mereka pada intisarinya tidak sama dengan kita. Nasafi menyatakan bahwa Firman Allah ‘bukanlah satu permainan huruf-huruf dan bunyi sebutan’.[55] Jika Firman Allah yang mengambil bentuk tulisan adalah tidak sama dengan kata-kata kita, apa lagi Firman-Nya yang juga disebut sebagai Roh-Nya? Firman Allah adalah suatu Roh yang Sempurna, dan sangat berbeda dari firman-firman-Nya. Karena firman-firman-Nya bisa mengambil bentuk huruf-huruf seperti kata-kata kita, walaupun mereka tidak seperti kata-kata kita, begitu juga dengan Firman-Nya yaitu Roh yang Sempurna yang bisa mengambil bentuk manusia seperti kita, walaupun intisari Firman-Nya bukanlah intisari manusia. Maksud Ayat ‘Kami Perkuat Dia dengan Roh Suci’ Al-Qur’an menyatakan: Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab Taurat kepada Musa lalu kami iringi sesudahnya dengan beberapa orang Rasul dan Kami berikan kepada Isa anak Maryam beberapa keterangan-keterangan mujizat, serta Kami perkuatkan dia dengan roh suci.[56] Tidak ada mufasir yang berselisih pendapat tentang Isa satu-satunya yang dikuatkan dengan Roh Suci. Ini disimpulkan oleh Razi dengan komentarnya yang dikutip pada bab terdahulu: Bagian eksklusip Jibril kepada Isa [di dalam teks Al-Qur’an maksudnya ialah Roh Suci , bukan Jibril] ialah satu sifat yang sangat istimewa, agar tidak ada seorang nabipun dari para nabi yang ditonjolkan. Karena dialah yang menyampaikan berita gembira kepada Maryam mengenai kelahiran anaknya [Isa], dan Isa dilahirkan dengan peniupan Jibril; dia [Jibril] membawa dia [Isa] dalam segala situasi, dan ia berjalan bersamanya di mana saja dia berjalan, dan ada bersamanya ketika dia diangkat ke syurga.[57] Tapi apakah yang dimaksudkan dengan ‘ia berjalan bersamanya di mana saja dia berjalan’? Dan apakah yang dimaksudkan dengan ayat Al-Qur’an yang mengatakan ‘Kami perkuatkan dia dengan roh suci’? Mengapa Jibril setiap kali disebutkan, dan bukannya Roh Suci? Penulis buku al-Insan al-Kamel (Manusia Sempurna), Abd-Alkarim Al-Girani,[58] sewaktu menjelaskan beberapa tahap pengalaman spirituil menuju kesempurnaan, menulis di bawah tajuk ‘Roh Suci’: …jika segala kebutuhan dasar umat manusia dan nafsunya untuk menguasai kehidupan seorang manusia, maka rohnya akan menyesuaikan diri dengan apa yang bersifat duniawi dan bisa jatuh…dia menjadi seorang tahanan atas alam dan tabiatnya…di pihak lain, jika makhluk-makhluk spiritual mempunyai tangan atas hidupnya, yang disebabkan oleh adanya pemikiran yang sejajar dan tetap, bukan pada terlalu banyak makan atau tidur atau bercakap, dan menempatkan segala kebutuhan manusia di belakang, maka baitnya akan memperolehi kelemah-lembutan spirituil,sehingga dia bisa berjalan di atas air atau terbang di udara, dan dinding tidak akan menghalangi geraknya, dan jarak yang jauh tidak membuatnya berada jauh. Karena ketiadaan kebutuhan dasar manusia maka dia ada pada tingkat ciptaan yang tertinggi… Dan sekiranya hal-hal yang bersifat Ilahi mempunyai tangan atas kebutuhan spirituil dan manusia itu, sama seperti ia secara tetap bersaksi atas apa yang dipunyai oleh Allah, Nama-nama baik-Nya serta Sifat-sifat tertinggi-Nya, maka ia akan menjadi orang yang kudus. Karena kebutuhan-kebutuhan dasar umat manusia ghairah dan kebutuhan-kebutuhan spirituil penting dan berpengaruh. Maka jika manusia meninggalkan segalanya ini di belakang dan secara tetap bersaksi atas rahasia itu, yaitu asal-usulnya, maka kuasa-kuasa rahasia Ilahi akan dimanifestasikan di dalamnya, dan baitnya akan diangkat dari satu tempat yang rendah dan kebusukan kemanusiaan kepada Kemahaan Keluhuran Ilahi (tanzih [59]). Tuhan menjadi pendengaran dan penglihatannya, menjadi tangan dan lidahnya. Sentuhan tangannya akan menyembuhkan yang sakit dan yang berpenyakit kusta. Pengucapan dari lidahnya akan menyebabkan benda-benda diwujudkan dengan perintah Allah, dan dia menjadi yang diperkuat oleh Roh Suci sama seperti yang Allah katakan dalam kesaksian Isa, sama seperti apa yang dikatakan oleh-Nya: ‘Kami perkuatkan Dia dengan Roh Suci.’ Maka kita akan mengerti bahwa Allah berkata benar, dan menuntun ke jalan yang lurus.[60] Adalah penting dalam pengertian kita terhadap ungkapan ‘Kemahaan Keluhuran Ilahi” di atas sebagai satu ucapan yang ditujukan khas untuk Allah saja. Kata yang digunakan ialah tanzih, yang membawa maksud keterasingan, pemuliaan, pengakuan Kemuliaan Teramat Ilahi; lawan katanya ialah tashbih, yang membawa maksud perbandingan, kesamaan dan pengakuan simbolisme. Kedua kata ini sama-sam ditemukan dalam ayat-ayat Al-Qur’an sebagai ‘Tidak ada yang seperti-Nya (= tanzih)’ dan ‘Dialah yang melihat dan mendengar (= tashbih)’.[61] Menurut Jilani, berada dalam Kemahaan Keluhuran Ilahi ialah makna yang sebenarnya ‘Kami perkuatkan dia dengan Roh Suci’ Dan hanya ada seorang yang diperkuat dengan Roh Suci, yaitu Isa Al Masih Roh Allah. Pada pandangan Jilani, justru, Isa telah mencapai tingkat tertinggi Keilahian (jika ada tingkat-tingkat dalam Keilahian). Karena ungkapan ‘Kemahaan Keluhuran’ membayangkan tidak ada tingkat yang perlu dicapaikan lagi. Dalam arti kata yang lain, tidak ada tingkat yang lebih tinggi dalam Keilahian yang telah dicapai oleh Isa – Kemahaan Keluhuran Ilahi yang dikatakan tentang Isa ialah suatu yang terakhir untuk sepanjang zaman dan dalam kekekalan. Bukan hanya kata tanzih yang penuh dengan konotasi Ilahi, tapi juga kata qods, ‘suci’, yang digunakan untuk menggambarkan tanzih itu. Jilani mendefinisikan kata qods saat menjelaskan tentang tidak diciptakannya Roh Suci, dia menyatakan tentang ‘Roh Kekudusan (qods), yang berbeda dari kecacatan dan kelemahan perwujudan fisik’.[62] Ini menunjukkan kata qods digunakan hanya untuk menerangkan apa yang Ilahi, dan membuat qods at-tanzih setinggi yang mungkin, atau sebagai suatu bentuk tanzih yang mutlak. Sementara kita menyetujui Jilani bahwa Isa adalah Ilahi, kita tidak menyetujui pandangan yang mengatakan bahwa Keilahian itu bisa diperolehi/dicapai. Sebaliknya, kesimpulan kita adalah Keilahian itu bukan diperolehi tapi dipegang oleh sifat dasar. Sifat dasar Ilahi itulah yang sebenarnya dimiliki dan disandang oleh Isa, sebab itu ucapan diperkuatkan dengan Roh Suci bukanlah merupakan satu hasil dari suatu pencapaian. Karena penguatan Isa dengan Roh Suci adalah pengalamannya dari lahir, seperti yang disetujui oleh Baidawi, Jalalyn dan Razi. ‘Ia [Jibril=Roh Suci] berjalan bersama dengan-Nya [Isa] ke mana saja dia pergi.’[63] Jibril [Roh Suci] tidak meninggalkan Isa walaupun hanya satu jam’.[64] Jika penguatan ini adalah pengalaman Isa sejak saat ia lahir, maka penguatannya tidak mungkin dicapai melewati perjalanan masa. Jadi, dari saat pertama Isa berada di bumi sebagai seorang manusia, juga merupakantempo di mana dia berada pada ‘Kemahaan Keluhuran Ilahi’ (dengan andaian asumsi kita seharusnya melihat dari teks Al-Qur’an, di mana ‘Jibril’ diartikan sebagai Roh Suci). Bukan itu saja, tapi sebelum datang dalam bentuk seorang manusia, Isa sudah berada dalam Kemahaan Keluhuran Ilahi yang sukar digambarkan, karena Dia ‘datang dari kodrat tersembunyi Wahadat Tertinggi dari kesimpulan akhir Hadirat Ilahi’[65] Isa tidak perlu bekerja keras untuk mencapai Keilahian, karena sesungguhnya Keilahian itu adalah sifat aslinya sebelum menjelma sebagai seorang manusia. Sifat Dasar Roh Suci ‘Diperkuat dengan Roh Suci’ dimiliki oleh Isa dalam satu cara yang teristimewa sekali sehingga ada setengah mufasir menyatakan bahwa Roh Suci itu ialah roh Isa Al Masih. Pengertian bahwa Roh Suci itu ialah Roh Isa Al Masih bukan sesuatu yang aneh, karena kita telah melihat bahwa Isa juga dipanggil sebagai suatu Roh dari Allah dan itulah satu deskripsi sebenar sifat dasar-Nya. Kita telah ketahui sebelumnya bahwa Roh itu selalunya berkait erat dengan Allah, maka kedua ungkapan “Roh dari Allah’ dan ‘Roh Suci’ adalah berhubung erat dengan Allah. Keduanya tergolong dalam tingkat Ilahi; apa yang benar atas yang satu, adalah benar juga bagi yang satunya lagi. Kita juga telah memperhatikan bahwa Roh itu disebut hanya karena Roh itu berkaitan dengan Allah dan Isa saja. Sekarang apa yang perlu kita tanyakan ialah: Apa hubungan antara Roh itu dengan Allah? Sedikit sekali yang bisa kita ketahui mengenai Roh itu dari Al-Qur’an, seperti ayat yang menyatakan sebagai berikut: Mereka akan bertanya kepadamu tentang Roh. Katakanlah! “Roh itu termasuk urusan Tuhan. Adapun ilmu yang telah kamu peroleh tentang Roh itu masih terbatas sekali!”[66] Bukan saja pengetahuan tentang Roh itu sangat kurang, tetapi keinginan untuk mendapatkan pengetahuan tentang itu juga dilarang keras. Ghazali menyatakan, ‘Pertanyaan yang terlalu mendalam mengenai intisari Roh itu merupakan sesuatu yang dilarang keras oleh Undang-undang Allah’[67] Bagaimanapun, manusia memiliki sifat ingin tahu akan lebih dalam lagi artinya, telah berupaya terus mencari apakah sebenarnya sifat-sifat dasar Roh itu, walaupun dilarang keras oleh agama. Pengertian tradisional mengenai sifat dasar Roh itu terungkap dalam pandangan akhli kitab Al-Baihaqi, yang menyatakan: Allah mencipta Adam sebagai seorang manusia, maka ia berada dalam tubuh yang asalnya dari tanah liat selama empat puluh tahun…dan ketika masanya telah tiba bagi Allah menghendaki roh itu ditiupkan ke dalamnya, Allah berfirman kepada para malaikat…‘Ketika Aku meniupkan kedalamnya Roh-Ku, sujud dan sembahlah dia’.[68] Roh dari mana ditiupkan kepada Adam adalah suatu makhluk dari ciptaan Allah. Allah menyebabkan kehidupan pada tubuh itu dengan roh tersebut. Dia ditambahkan kepada Allah dengan cara ciptaan dan pemilikan; Roh itu bukan bagian dari Allah.[69] Menurut Baihaqi, justru roh itu mengambil bagian dalam pewujudan Adam walaupun Roh itu sendiri adalah suatu makhluk. Lagi pula, peran Allah dalam penciptaan terhad atas pembentukan tubuh yang tidak bernyawa. Kehidupan tubuh itu datangnya dari roh ciptaan itu. Ada permasaalahan yang serius dalam pandangan ini. Pertama, tidak ada makhluk yang bisa mengambil bagian dalam pekerjaan penciptaan; karena pekerjaan itu adalah sesuatu yang Ilahi. Kedua, (walaupun tidaklah demikian halnya), untuk mengatakan bahwa tubuh itu dibentuk oleh Allah sedangkan kurnia hidup datang dari roh ciptaan-Nya memutarbalikan pekerjaan penciptaan itu ‘dari bawah ke atas’, karena pembentukan Adam sebagai suatu ‘tubuh dari tanah liat’ adalah lebih rendah pencapaiannya daripada pemberian nyawa atau kehidupan. Para ilmuwan menyatakan dirinya bisa membentuk satu sel, tapi sel itu tidak bernyawa. Manusia boleh menghilangkan nyawa dengan membunuh atau bunuh diri, dan mereka bisa memindahkan kehidupan dengan cara mempunyai keturunan, tapi itu semua atau apa saja makhluk ciptaan Allah bisa memulainya. Pemberian nyawa atau kehidupan itu adalah satu milik Ilahi dan satu rahasia Ilahi, bukannya satu kebolehan makhluk-makhluk yang diciptakan. Untuk alasan-alasan inilah, pandangan bahwa roh itu yang memberi kurnia kehidupan kepada Adam seharusnya disangkal. Roh itu apakah tidak Ilahi atau tidak ambil bagian sama sekali dalam pekerjaan penciptaan. Walau bagaimanapun, Al-Qur’an menyatakan tentang roh itu mengambil bagian dalam penciptaan Adam. Jadi Roh itu sesungguhnya adalah Ilahi. Secara tradisional roh dalam Islam juga dikenal sebagai Jibril, malaikat Inspirasi itu. Pengenalan seperti itu, jika itu benar, akan menjadikan Roh itu sebagai satu makhluk ciptaan Allah, walaupun ia mungkin merupakan yang tertinggi sekali.[70] Pemahaman berikutnya tentang Roh itu boleh didapati dari tulisan-tulisan Ibn ‘Arabi, akhli mistik Sufi yang percaya bahwa: Jibril tidak seharusnya dikenal sebagai malaikat yang dikaitkan dengan Inspirasi itu….Tapi Jibril ialah suatu Prinsip Kehidupan dari semua yang wujud: Ia adalah Roh secara total – semua yang wujud diserap oleh Roh itu, tanpa mengenal tingkat-tingkat kehidupan yang mereka miliki…Jibril itu sendiri adalah Kebenaran, yang dimanifestasikan dalam Roh Total tersebut.[71] Jadi menurut Ibn ‘Arabi, Jibril bukanlah seorang malaikat tapi adalah seperti apa yang disebut oleh Jilani, (seorang akhli Sufi lainnya), yaitu ‘Roh Suci’. Jilani menulis: Ketahuilah bahwa Roh Suci itu ialah Roh dari segala roh. Dia melebihi dan di atas segala rentang dan jarak perintah daya cipta Ilahi ‘Jadilah!’ (Kon). Ia tidak bisa dipanggil-Nya sebagai suatu makhluk, karena Ia adalah suatu aspek yang istimewa [dalam arti lainnya, muka] dari Kebenaran [yakni Allah] itu. Dengan aspek demikian, wujud menjelma. Penjelmaan itu adalah suatu Roh yang berbeda dari roh-roh lain, karena Roh itu adalah Roh Allah di mana ditiupkan ke dalam Adam, seperti yang dirujuk dalam firman Allah ‘dan meniupkan Roh Aku ke dalamnya’, Maka roh Adam adalah yang tercipta sedangkan Roh Allah tidak dicipta. Ia adalah Roh Suci; yakni, Roh Kesucian yang berbeda dari wujud fisik yang cacat dan kurang sempurna.[72] Jilani percaya bahwa Roh Suci itu bukanlah suatu makhluk. Begitu juga dengan Ibn Hanbal, salah seorang dari empat pimpinan sekolah filsafat Islam, yang menyatakan, ‘tuntutan bahwa Roh Suci itu ialah satu makhluk adalah suatu bid’ah’.[73] Menurut pandangannya, adalah satu bid’ah bahwa Roh Suci itu adalah suatu makhluk, sama saja seperti orang menghina dengan mengatakan Firman Allah itu adalah sesuatu yang diciptakan. Imam Abu al-‘Azayem, seorang lagi akhli Sufi, berkata: Roh itu [yang dihembuskan oleh Allah ke dalam Adam] ialah satu kesimpulan akhir segala kebenaran yang merupakan keterangan yang sempurna.Untuk alasan inilah Allah menciptakan manusia abdi dalam (Kanjeng Gusti) dan membuat para malaikat sujud menyembahnya.[74] Ini adalah suatu pengakuan yang jelas bahwa Roh itu bukanlah suatu makhluk, tapi sesuatu yang Ilahi. Seandainya Roh yang dihembuskan ke dalam Adam itu adalah ilahi, yang membuat para malaikat menyembah Adam dibenarkan, karena itu tidak tergolong kepada penyembahan sesuatu makhluk kepada makhluk lainnya, tapi merupakan penyembahan suatu makhluk kepada Keilahian dalam Adam. Kesimpulan Menurut Dr. Mustafa Mahmoud, tidak ada perbedaan tingkat dalam Roh tersebut. ‘Roh itu senantiasa berhubung erat dengan Allah, dan berada dalam satu gerakan yang tetap dari Allah dan kepada Allah.’ [75] ‘Roh tersebut tidak ada tempatnya di Firdaus atau Neraka, tetapi adalah suatu nur cahaya dari cahaya terang Allah, berhubungan dengna Allah, bersumber daripada-Nya.’[76] Justru pelbagai pernyataan yang merujuk kepada roh – ‘Roh Suci’, ‘Roh yang setia’, ‘Roh dari Allah’, ‘Roh-Nya’, ‘Roh Aku[Allah]’, ‘Roh itu’ – kesemuanya adalah berkaitan dengan Allah. Semuanya itu memiliki tingkat kesucian yang sama dan kemahaan Ilahi. Bukan saja Roh Suci itu ‘melebihi dan di atas segala dan jarak perintah daya cipta Ilahi ‘Jadilah!’ (Kon), tapi juga Roh itu dalam segala kata derivatirnya, di manapun disebutkan dalam Al-Qur’an, adalah melebihi perintah daya cipta itu. Secara kasarnya, Roh itu, bukan saja Roh Suci, bukan suatu yang diciptakan menurut penjelasan dari Al-Qur’an. Jika Roh Suci itu Ilahi, dan jika tidak ada tingkatan-tingkatan dalam hubungannya dengan Allah (karena Roh itu berhubung erat secara langsung dengan Allah, bukan dengan malaikat atau manusia), maka Isa yang disebutkan sebagai Roh Allah itu adalah juga Ilahi. ISA AL MASIH DAN INTISARI ALLAH Apa Maksud ‘Anak Allah’? Kiasan-kiasan Tentang ‘Anak Allah’ Tunggul Sebatang Pohon Dua Sifat Dasar Isa Al Masih Sejauh ini kita telah menempuh tiga jalan yang berbeda dan bebas untuk menegakkan Keilahian Isa Al Masih, Firman Allah dan Roh Allah. 1. Isa Al Masih adalah Ilahi karena dia adalah “Firman Allah’ yang datang dari kodrat Allah. 2. Isa Al Masih adalah Ilahi karena dia diperkuat dengan Roh Suci. 3. Isa Al Masih adalah Ilahi karena dia adalah suatu ‘Roh dari Allah’, dan karena Roh Suci adalah Ilahi, dan ‘Roh’ menurut bahasa Al-Qur’an, adalah kemahaan Ilahi apakah itu mempunyai kata penghubung ‘Suci’ ataupun tidak. Dalam bab ini kita akan melihat hubungan Isa Firman Allah dan Roh Allah itu dengan intisari Allah. Kita akan mengkaji ungkapan yang sering menimbulkan kontrovesi yaitu Isa Al Masih sebagai ‘Anak Allah’. Apa Maksud ‘Anak Allah’? Orang-orang Nasrani, sama seperti orang-orang Islam, memanggil Isa Al Masih sebagai Firman Allah, tapi mereka juga memanggilnya sebagai ‘Anak Allah’. Terdapat begitu banyak kesalah-pahaman mengenai sebutan tersebut, karena ada sebagian orang memikirkannya sebagai satu istilah kegiatan bersifat seksual. Sekali-kali tidak! Teks-teks Al-Qur’an menyatakan bahwa Al-Qur’an mengutuk sekali konsep fisik dan seksual tetapi tidak keputeraan konsep spirituilnya. Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi. Bagaimana Dia akan mempunyai anak, padahal Dia tidak beristeri? Dia menciptakan segala-galanya dan Dia mengetahui segala-galanya.[77] Bahwasanya, Maha Tinggi Kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak pula beranak.[78] Bentuk penyangkalan dan penolakan akan anggapan Allah mempunyai seorang anak dasarnya jelas Allah tidak mungkin mempunyai seorang isteri. Namun di balik ketidak-mungkinan itu, Nabi Muhammad bisa membuat pernyataan luar biasa dengan gampang, bersyarat dan aman: Katakanlah!: ‘Jika benar Tuhan Yang Maha Pengasih mempunyai anak, maka akulah orang yang mula-mula menta’ati anak itu.[79] Bagi Allah mempunyai seorang anak dengan mengambil seorang isteri dalam perlaku biasa manusia adalah sesuatu yang tidak bisa terpikirkan. Tapi kemungkinan bagi Allah mengambil dan memilih seorang putera dilihat sebagai sesuatu yang mungkin dan tidak mengerutkan dahi menurut Al-Qur’an itu sendiri: Seandainya Allah berkenan mengambil anak, tentu Dia memilih mana yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang pernah diciptakan-Nya. Tapi…Maha Suci Allah, dari hal yang serupa itu. Dialah Allah Yang Maha Esa dan Perkasa.[80] Jadi sekiranya konsep bahwa Allah bisa mempunyai seorang anak melalui pengambilan seorang isteri dapat dihilangkan, dan Al-Qur’an menyetujui dan mengakui kemungkinan Allah bisa mempunyai seorang anak melalui pengambilan salah satu daripada ciptaan-Nya. Al-Qur’an justru tidak menolak konsep seorang anak Allah, tetapi menentang keras konsep Allah mendapat seorang anak melalui pengambilan seorang isteri. Adalah menarik untuk diperhatikan bahwa Ibn ‘Arabi tidak keberatan menggunakan satu ungkapan tentang Isa serupa dengan ‘Anak Allah’. Tirimizi, dalam bukunya yang berjudul Kitab Khatm Al-Awliya, menjawab persoalan: ‘Siapakah dia yang layak menjadi segel kesalehan, seperti Muhammad yang layak menjadi segel kenabian?’ Dikutip dari Al-Jawab Al-Mostaqim[81], dia memberi jawaban Ibn ‘Arabi: Dia yang menerima segel itu, ialah seorang manusia yang kelihatan sama seperti ayah-Nya. Dia bukannya berkebangsaan Arab, berwatak sempurna, dia adalah pilihan terbaik dari kalangan manusia. Melalui dia siklus kerajaan disegel, dan melaluinya siklus kesalehan akan disegel. Dia mempunyai seorang pendeta yang bernama Yahya. Segel universal ini yang memiliki keistimewaan spirituil dilihat dari sisi kemanusiaan.[82] (penekanan ditambahkan oleh pengarang) Dalam Al-Fotuhat Al-Makkiah, sebuah buku lain karangan Ibn ‘Arabi, kita diberi lagi jawaban berikut yang lebih jelas:[83] Ada dua segel – satu segel di mana Allah mesegel kesalehan universal, dan satu lagi segel di mana Allah mesegel kesalehan orang-orang Muslim. Segel kesalehan dalam arti kata yang mutlak, ialah Isa Al Masih. Dia ialah orang saleh dari kenabian mutlak di masa bangsa ini….Dia akan datang di akhir zaman sebagai seorang akhli waris dan segel, tidak ada orang saleh setelah dia….Dia ialah Isa Al Masih. Dia datang dari kalangan kita dan Dia adalah gusti panutan kita! Jadi perkara yang pertama adalah seorang nabi,yaitu Adam, dan yang terakhir ialah seorang nabi, yaitu Isa Al Masih.[84] Orang yang dikatakan sebagai menyerupai ayahnya dalam Al-Jawab Al-Mostaqim dijelaskan dalam Al-Fotuhat Al-Makkiah sebagai Isa, gusti panutan kita. Yahya berkedudukan sebagai seorang pendeta atau duta bagi Isa, yaitu segel bagi kerajaan itu. Jadi Isa adalah raja dan Yahya adalah dutanya. Hanya ada satu saja raja, tidak banyak, dan Dia adalah Isa Al Masih, karena itulah arti kata Al Masih seperti yang kita telah bahas sebelumnya. Apa yang penting di sini ialah dia yang menyerupai dengan ayahnya ialah Isa. Siapakah sang ayah itu, karena Isa tidak mempunyai seorang ayah yang berbentuk manusia? Dr. ‘Afifi memberikan satu penjelasan: ‘Jibril adalah seperti kepadanya seorang ayah, dan anak itu ialah satu rahasia ayahnya.’[85] Mari kita kaji pernyataan tersebut: Pertama, perhatikan perbedaan antara kata-kata yang digunakan oleh Ibn ‘Arabi dan Dr. Abu al-‘Ala untuk menerangkan keputeraan Isa. Dr. Abu al-‘Ala keberatan untuk mempertalikan suatu hubungan yang langsung, justru dia mengatakan Jibril adalah seperti seorang ayah (yakni ‘di dalam tempat seorang ayah’) kepada Isa. Ibn ‘Arabi, di lain pihak, dengan terus-terang dan berani menyatakan Isa ‘kelihatan seperti ayahnya’, bukan ‘kelihatan seperti seorang yang kelihatan seperti ayahnya’. Lantas, kita perlu ingat bahwa Jibril, seperti yang dipahami oleh Ibn ‘Arabi, bukanlah Malaikat Jibril. Dia ialah ‘Prinsip Kehidupan di mana segala wujudnya…Kebenaran itu Sendiri yang dimanifestasikan dalam Roh yang total.’[86] Jibril adalah nama lain untuk Roh Suci. Dia bukan suatu makhluk, karena Dia melebihi dan di atas segala rentang dan jarak perintah daya cipta Ilahi ‘Jadilah!’ (Kon).[87] Jadi Roh Total itu, yang merupakan Prinsip Kehidupan dan manifestasi Kebenaran itu, ialah ayah kepada Isa Al Masih. Isa ialah anak kepada Roh Total (yang dipanggil oleh Qashani sebagai suatu ‘roh sempurna’[88]). Dia ialah Anak Roh Kehidupan karena dia memanifestasikan Prinsip Kehidupan dalam cara yang berlainan, dan dalam Dirinya sendiri. Dia adalah anak Roh Kebenaran karena dia memanifestasikan Nama Allah.[89] Maka dalam ungkapan ‘dia kelihatan menyerupai ayahnya’, ayah itu bisa berarti Roh Total, yang merupakan manifestasi Allah. Tapi ia juga bisa berarti Allah secara langsung. Ibn ‘Arabi menyatakan: Adalah layak untuk menganggap Dia [Isa] mempunyai suatu hubungan pertalian dari Tuhannya di mana dia mempunyai satu pengaruh yang mana yang satu tinggi dan yang satu rendah.[90] Apakah sifat dasar ‘hubungan pertalian’ antara Isa dan Allah? Ulasan-ulasan Qashani atas pernyataan di atas adalah sebagai berikut: …ini bermaksud karena dia datang daripada Allah tanpa sembarang perantara, dan bukan datangnya dari siapapun, maka layak untuk menganggap dia mempunyai suatu hubungan pertalian diakibatkan penjelmaan sifat-sifat Allah di dalamnya, dan melakukan pekerjaan pribadi Allah olehnya – membangkitkan orang yang mati dan mencipta burung, dan pengaruhnya dalam derajat bentuk manusia yang tertinggi dengan membangkitkannya, dan dengan pekerjaan yang paling rendah seperti membentuk burung dari tanah liat. Kedua-duanya [membangkit dan mencipta] adalah pekerjaan esklusif Allah, seperti yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an 36: 78, 79: ‘Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami sambil melupakan penciptaannya semula. Ia bertanya: “Siapa pulakah yang dapat menghidupkan kembali tulang-belulang yang telah hancur?” Jawablah: “Yang dapat menghidupkannya kembali, ialah Tuhan yang telah menciptakannya dahulu untuk yang pertama kalinya. Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk”[91] Sifat dasar pertalian itu ialah dia datangnya langsung dari Allah. Inilah alasan paling kokoh tentang kesamaan itu. Sifat tersebut memiliki satu kesamaan dalam sifat dasar. Dan bukti adanya kesamaan dalam sifat dasar itu ialah kehadiran sifat-sifat Allah dan pekerjaan pribadi dalam Isa. Jadi ‘ayahnya’ juga bisa bermakna Allah, karena, sama seperti apa yang dikatakan oleh Qashani, dia datang langsung dari Allah dan bukan dari Roh Total. Adalah lebih tepat menggunakan ungkapan ‘ayah dan anak’ dalam menerangkan pertalian antara Isa dan Allah daripada pertalian antara Isa dan Roh Total. Ini mengungkap kembali ungkapan Ibn ‘Arabi, ‘satu roh dari Allah, dan bukan dari sumber lain’[92] Dia adalah satu roh dari Allah, bukan satu roh dari Roh Allah. Pertaliannya dengan Allah adalah secara langsung. Ini merupakan satu pertalian hubungan derajat pertama, tapi hubungannya dengan Roh Allah adalah pertalian derajat kedua. Maka adalah lebih pantas untuk memanggilnya Anak Allah daripada Anak Roh Allah. Kesimpulan ini cocok dengan kesimpulan di Bab 1, di mana kita melihat (dalam kata-kata Qashani[93] ) bahwa Isa ‘datang dari kodrat Wahadat Tertinggi kesimpulan akhir Hadirat Ilahi itu’, dan karena itu ia dipanggil oleh Allah sebagai ‘Roh-Nya dan Firman-Nya’. Isa Firman Allah itu ‘adalah dari kodrat Allah dan sifat dasar-Nya yang tersembunyi datangnya dari Allah dan Namanya yang berbentuk Jibril’. Sebab itulah Isa dipanggil sebagai ‘Hamba Allah, dan pembuka rahasia Allah, dan diatasnya hadir sifat-sifat Allah’. Dan itulah sebab dan maksud panggilan ‘Anak Allah’ bagi Isa Al Masih. Kiasan-kiasan Tentang ‘Anak Allah’ Kiasan-kiasan ini adalah satu fakta bahwa baik Al-Qur’an maupun Hadis menggunakan citra dan illustrasi hal duniawi untuk mengkomunikasikan perkara-perkara yang berhubung dengan Allah. Al-Qur’an, contohnya, berbicara tentang Tuhan, setelah penciptaan-Nya selesai, sebagai berkata: ‘…lalu Dia bersemayam di atas arasy.’[94] Demikian juga dengan Hadis, yang membuat ungkapan-ungkapan seperti berikut: Allah mencipta tiga benda dengan tangan-Nya; Dia mencipta Adam dengan tangan-Nya, Dia menulis Taurat dengan tangan-Nya, dan Dia menanam Firdaus dengan tangan-Nya.[95] Allah turun ke syurga fisik…[96]
    naldy said:
    Oktober 8, 2007 pukul 1:37 am

    Isa Al-Masih itu ilahi?

    Orang Islam menerima Hazrat Isa sebagai seorang yang baik dan bermartabat tinggi tetapi menolak keilahianNya. Mereka mengatakan bahawa merekalah satu-satunya golongan manusia yang memberi penghormatan yang sesuai kepada Hazrat Isa; tidak seperti orang Yahudi yang mengatakan Hazrat Isa adalah anak luar nikah Siti Maryam atau seperti orang Kristian yang memuji dan memuliakan Hazrat Isa sebagai Allah. Bagi mereka kelakuan sebegini tidak seharusnya dibuat dan merupakan satu penghinaan kepada Hazrat Isa.

    “Akulah Allah”

    Salah satu kritikan yang cuba ditonjolkan oleh orang Islam untuk menyangkal keilahian Hazrat Isa berbunyi begini:

    Di dalam seluruh Alkitab, Hazrat Isa tidak pernah berkata, “Akulah Allah”, atau, “Sembahlah saya.”

    Kalau kita berharap untuk melihat kenyataan di atas dalam Alkitab, sememangnya kita akan kecewa. Memang benar tidak ada catatan dalam Alkitab di mana Hazrat Isa secara terus-terang mengkhabarkan keilahianNya. Hazrat Isa tidak pernah berbuat demikian, menyebarkan kepada umum identiti dan kedudukannya yang sebenar.

    Apabila Hazrat Isa memulakan pelayanannya, Dia berkata bahawa Dia adalah hamba yang datang bukan untuk dilayani tetapi untuk “melayani orang serta menyerahkan nyawa-Nya untuk membebaskan banyak orang” (Markus 10:45). Hazrat Isa telah merendahkan diriNya sebagai manusia supaya Dia dapat melayani mereka. Ini bukan sesuatu yang mustahil. Hal seperti ini ada berlaku di sekeliling kita. Apabila Perdana Menteri kita melipatkan lengan bajunya dan turun ke sawah padi untuk menuai padi yang sudah masak, membuktikan dia berjiwa rakyat, dia tetap Perdana Menteri kita. Walaupun dia buat sementara waktu telah turun ke tahap seorang petani, kedudukannya sebagai pemimpin negara tidak pernah berubah.

    Kita perlu memahami hakikat ini terlebih dahulu, jika kita mahu memahami sebabnya mengapa Hazrat Isa tidak pernah berkata Dia Allah secara terbuka. Pelayanan dan pernyataan Hazrat Isa berasaskan matlamatNya datang ke dunia dan bukan identiti peribadiNya. Kalau begitu, adakah Hazrat Isa akan mengisytiharkan keilahianNya secara terbuka setelah Dia memilih kehidupan sebagai hamba dengan penuh kerendahan hati? Saya rasa tidak! Tambahan pula, bolehkah Hazrat Isa melayani orang yang sakit, berdosa, miskin, tanpa harapan dan memikul beban yang berat jika Dia mengutamakan pengisytiharan identitiNya yang sebenar? Jelas jawapannya tidak! Itulah sebabnya Hazrat Isa sering melarang orang mengheboh-hebohkan identitiNya yang ilahi.

    Dia menyembuhkan semua orang sakit, dan melarang mereka memberitahu orang lain tentang Dia. (Matius 12:15,16).

    Hazrat Isa, walaupun memiliki sifat Allah, tidak memilih untuk mengisytiharkan aspek tersebut tetapi sebaliknya dia mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama seperti manusia. Kalau ini sengaja dilakukan Hazrat Isa, maka tidak masuk akallah jika Dia mengumumkan keilahianNya kerana hal itu tidak sejajar dengan matlamat Dia menjelma di dunia.

    Sebenarnya Dia ilahi tetapi Dia tidak menganggap keadaan-Nya yang ilahi harus dipertahankan-Nya. Sebaliknya, Dia rela melepaskan segala-galanya, lalu menjadi seperti seorang hamba. Dia datang sebagai manusia dan hidup seperti manusia. (Filipi 2:6,7).

    Sebenarnya, adalah mudah bagi manusia percaya sekiranya Hazrat Isa mengakui secara terus-terang identitiNya yang sebenar.

    Oleh itu orang Yahudi datang berkumpul di sekeliling Hazrat Isa. Mereka bertanya, “Berapa lamakah guru mahu membiarkan kami ragu-ragu? Katakanlah dengan terus terang. Adakah guru Penyelamat yang diutus oleh Allah?” (Yahya 10:24)

    Tetapi Hazrat Isa enggan menyatakan identitiNya dengan terus terang kerana kepercayaan yang berdasarkan kenyataanNya tidak memerlukan iman lagi. Iman “bererti yakin sungguh-sungguh akan perkara-perkara yang diharapkan dan mempunyai kepastian akan perkara-perkara yang tidak dapat kita lihat.” (Ibrani 11:1). Mungkinkah Hazrat Isa menyatakan keilahianNya secara tidak langsung supaya kita bebas menilai tindakan-tindakanNya sehingga membawa kepada pertumbuhan iman yang kukuh? Walaupun Dia tidak menyatakan siapa dan apa Dia sebenarNya, saya percaya Hazrat Isa telah memperlihatkan siapa diriNya yang sebenar melalui tingkah lakuNya lalu membiarkan manusia menilai apa yang sebenarnya dinyatakan oleh perkataan dan perbuatanNya.

    Umat Kristian percaya bahawa Hazrat Isa adalah Allah walaupun dia tidak menyatakan ini di mana-mana bahagian Alkitab dengan terus-terang. Cara untuk mengatasi dilema ini bukanlah dengan mencari ayat-ayat tertentu di mana Hazrat Isa berkata dia Allah, tetapi dengan membaca keseluruhan Alkitab, khasnya Perjanjian Baru, dan merenungkan identitinya yang sebenar. Adalah cukup jelas dalam kata-kata dan perbuatannya, bahawa keilahian Hazrat Isa diakui dan tidak dapat dielakkan. Dari kata-kata Hazrat Isa sahaja, adalah sangat menghairankan jika kita berfikir bahawa dia adalah insan biasa sahaja. Keseluruhan rekod Injil menyatakan mesej ini: Hazrat Isa bukan hanya seorang manusia biasa.

    Mari kita lihat beberapa contoh daripada Kitab Injil:

    Hazrat Isa mengakui kewujudannya yang kekal
    Mereka berkata kepada Hazrat Isa, “Umurmu belum lagi lima puluh tahun dan kamu sudah melihat Abraham?” Hazrat Isa menjawab, “Apa yang Aku katakan ini benar: Sebelum Abraham dilahirkan, Aku sudah ada.” (Yahya 8:57-58)

    Hazrat Isa Maha Tahu
    Apabila Hazrat Isa nampak Natanael datang kepadaNya, Dia berkata tentang Natanael, “Inilah orang Israel sejati; tiada kepalsuan padanya!” Natanael bertanya kepada Hazrat Isa, “Bagaimana tuan mengenal saya?” Hazrat Isa menjawab, “Sebelum Filipus memanggil kamu, Aku telah nampak kamu di bawah pokok ara itu.” (Yahya 1:47-48)

    Hazrat Isa menjawab, “Pergilah panggil suamimu lalu kembalilah ke sini.” Wanita itu menjawab, “Saya tidak bersuami.” Lalu Hazrat Isa berkata, “Betul katamu bahawa kamu tidak bersuami. Kamu sudah berkahwin lima kali, dan lelaki yang tinggal denganmu sekarang ini bukan suamimu. Memang benar katamu.” (Yahya 4:16-18)

    Hazrat Isa akan menghakimi segala bangsa
    Bapa tidak menghakimi sesiapa pun. Dia sudah menyerahkan segala kekuasaan untuk menghakimi orang kepada AnakNya. Oleh itu semua orang menghormati Anak sebagaimana mereka menghormati Bapa. (Yahya 5:22-23b)

    Hazrat Isa Maha Kuasa
    Mukjizat-mukjizatNya mengukuhkan kebenaran ini. Memang diakui bahawa nabi-nabi lain juga melakukan mukjizat, tetapi mereka melakukannya dengan memohon kuasa Allah melalui doa. Hazrat Isa tidak melakukan ini kerana sifat keilahianNya berkuasa melakukan mukjizat. Juga perlu dinyatakan di sini bahawa murid-murid Hazrat Isa melakukan berbagai mukjizat dalam nama Hazrat Isa:

    Tetapi Petrus berkata kepadanya, “Aku sama sekali tidak mempunyai wang, tetapi apa yang ada padaku akan aku beri kepadamu: dengan kuasa Hazrat Isa Kristus orang Nasaret itu, berjalanlah!” (Kisah Para Rasul 3:6).

    Hazrat Isa berkuasa mengampuni dosa
    Hazrat Isa melihat bahawa mereka sangat beriman. Oleh itu Dia berkata kepaa orang lumpuh itu, “AnakKu, dosamu sudah diampunkan. Tetapi kepada kamu Aku akan membuktikan bahawa di atas bumi ini Anak Manusia berkuasa mengampunkan dosa. Lalu Hazrat Isa berkata kepada orang lumpuh itu, “Bangunlah, angkat tikarmu, dan pulanglah!” (Markus 2:5,10-11)

    Hazrat Isa mengaku datang dari syurga
    “. . . kerana Aku sudah turun dari syurga bukan untuk melakukan kehendakKu sendiri, tetapi kehendak Dia yang mengutus Aku. Akulah roti yang memberi hidup, roti yang turun dari syurga. Orang yang makan roti ini akan hidup selama-lamanya. (Yahya 6:38a, 51a)

    Hazrat Isa akan membangkitkan semua orang yang mati
    “. . . Aku harus membangkitkan mereka semua pada Hari Kiamat. Memang inilah kehendak BapaKu: Semua orang yang melihat Anak lalu percaya kepadaNya akan beroleh hidup sejati dan kekal, dan Aku akan membangkitkan mereka pada Hari Kiamat” (Yahya 6:39b-40)

    Hazrat Isa berkata kepada Marta, “Akulah yang membangkitkan orang mati dan yang memberi hidup. Sesiapa yang percaya kepadaKu akan hidup, meskipun dia sudah mati.” (Yahya 11:25)

    Kedudukan akhirat semua manusia bergantung kepada tindakbalas mereka kepada identiti Hazrat Isa.
    Itulah sebabnya Aku berkata kepada kamu, bahawa kamu akan mati dalam dosa kamu. Memang kamu akan mati dalam dosa kamu, jika kamu tidak percaya bahawa ‘Akulah Dia yang menyebut diriNya AKU.’ (Yahya 8:24)

    Kesemua hakikat ini menunjuk kepada keilahian Hazrat Isa. Semua yang dinyatakan di atas adalah sifat dan hak istimewa Allah yang juga diakui dalam Islam. Apakah dengan menyatakan semua ini, Hazrat Isa tidak berkata dia itu Allah? Seringkali Dia dituduh menghina martabat Allah apabila menyatakan hal-hal di atas. Walaupun Dia tahu bahawa tuntutNya itu akan membawa kepada hukuman mati dia tidak berganjak daripada pernyataan-pernyataannya yang penuh kontroversi itu.

    Semua orang Yahudi di situ menjawab, “Menurut hukum kami dia harus dihukum mati kerana dia mengaku dirinya Anak Allah.” (Yahya 19:7)

    Jelaslah bagi Hazrat Isa bahawa segala kenyataanNya adalah benar dan diucapkan dengan akal yang waras. Al-Quran memaparkan Hazrat Isa sebagai seorang yang benar, waras dan terhormat. Jadi, adalah mustahil untuk Hazrat Isa berdusta, apatah lagi sanggup mati untuk kenyataan-kenyataan yang Dia sendiri anggap salah! Jika kata-kata ini tidak diucap oleh Hazrat Isa (seperti yang disarankan sesetengah pihak), apakah Hazrat Isa mahu mati untuk kenyataan-kenyataan dusta orang lain tentang diriNya?

    “Sembahlah Saya”

    Pernahkah Hazrat Isa berkata kepada orang ramai, “Sembahlah saya”? Ini adalah satu soalan yang sukar dijawab dan jawapannya berkaitan dengan apa yang telah dibincangkan sebelum ini, iaitu pernyataan Hazrat Isa akan keilahianNya. Jika Hazrat Isa secara umum tidak mengakui diriNya sebagai Allah, apakah patut kita mengharapkan Dia memberitahu orang ramai supaya menyembahNya? Pasti tidak!

    Walaupun begitu, Hazrat Isa menyatakan keilahianNya dengan jelas dalam kenyataan-kenyataan dan perbuatan-perbuatanNya yang luarbiasa. Ketika Dia membuat satu pengakuan atau mukjizat-mukjizatNya ada orang yang menyembah Dia. Terdapat banyak peristiwa di mana orang menyembah Hazrat Isa dan dalam setiap peristiwa Dia tidak pernah menolak atau menghalang penyembahan mereka.

    Kemudian pengikut Hazrat Isa yang di perahu sujud menyembah Hazrat Isa sambil berkata, “Sesungguhnya Engkau Anak Allah!” (Matius 14:33)

    Tiba-tiba Hazrat Isa datang menemui wanita-wanita itu dan berkata, “Sejahtera kamu.” Mereka menghampiri Dia, memegang kakiNya, dan menyembah Dia. (Matius 28:9)

    Apabila mereka melihat Hazrat Isa, mereka menyembah Dia meskipun ada di kalangan mereka yang ragu-ragu. (Matius 28:17)

    Untuk menghargai aspek kehidupan Hazrat Isa ini, marilah kita membandingkannya dengan pengalaman Paulus dan Barnabas. Kedua-dua hamba Allah ini melarang dan mengutuk orang yang menyembah mereka sambil berkata bahawa mereka adalah manusia biasa walaupun mereka berjaya melakukan mukjizat:

    Imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar bandar, datang membawa lembu jantan dan bunga ke pintu gerbang. Dia dan orang ramai hendak mempersembahkan korban kepada rasul-rasul itu. Apabila Barnabas dan Paulus mendengar apa apa yang akan dilakukan oleh orang di situ, mereka mengoyak-goyak pakaian lalu berlari ke tengah-tengah orang ramai sambil berseru, “Mengapakah kamu melakukan hal ini? Kami pun manusia seperti kamu semua! Kami datang di sini untuk mengkhabarkan Berita Baik supaya kamu meninggalkan berhala-berhala yang tidak berguna itu lalu datang kepada Allah yang hidup, Pencipta langit, bumi dan laut serta semua yang ada di dalamnya. (Kisah Para Rasul 14:13-15).

    Sebaliknya, Hazrat Isa tidak pernah menghalang sesiapapun yang datang menyembahNya! Keizinan Hazrat Isa sesungguhNya berkata, “Sembahlah saya!”

    Anak Maryam, Anak Allah

    Semestinya tidak ada bantahan mengenai Hazrat Isa sebagai anak Maryam. Alkitab menunjukkan bahawa orang yang hidup pada masa Hazrat Isa memang mengakui demikian mengenaiNya.

    Bukankah dia ini tukang kayu, anak Maryam dan juga saudara Yakobus, Yoses, Yudas, dan Simon? Bukankah saudara-saudara perempuannya tinggal di sini?” Oleh itu mereka tidak mahu menerimanya. (Markus 6:3)

    Pengertian ini datang dari kehidupan dan rupa Hazrat Isa sebagai manusia. Kerana itu mereka hairan bagaimana Dia, anak seorang wanita biasa dapat melakukan perkara-perkara yang besar. Sememangnya Hazrat Isa seorang manusia, seorang berbangsa Yahudi, anak kepada Yusuf dan Maryam, seorang tukang kayu yang mempunyai beberapa adik-beradik baik lelaki-laki mahupun perempuan. Dia dibesarkan oleh Yusuf dan Maryam dan taat kepada mereka seperti mana-mana anak lain.

    Setelah itu Hazrat Isa pulang bersama-sama mereka (Maryam dan Yusuf) ke Nasaret dan taat kepada mereka.Ibu-Nya menyimpan semua perkara ini di dalam hati. Hazrat Isa bertambah besar dan bujaksana, dan Dia menyenangkan hati Allah mahupun manusia. (Lukas 2:51-52)

    Hazrat Isa mencapai kedewasaan seperti manusia biasa dan menampakkan ciri-ciri biasa yang dimiliki semua manusia. Ini termasuklah:

    Menjadi letih
    Di situ ada sebuah perigi yang dahulunya milik Yakub. Hazrat Isa yang penat kerana perjalanan-Nya, duduk di pinggir perigi itu. (Yahya 4:6)

    Makan dan minum
    Apabila Anak Manusia datang, Dia makan dan minum; lalu semua orang berkata, ‘Lihatlah orang ini! Dia rakus, pemabuk, sahabat pemungut cukai, dan sahabat orang berdosa!’ (Matius 11:19a)

    Menjadi sedih dan menangis
    Apabila Hazrat Isa melihat Maryam menangis dan semua orang Yahudi yang datang bersama-sama Maryam juga menangis, Hazrat Isa sedih hati dan terharu. Hazrat Isa menangis. (Yahya 11:33 dan 35)

    Wafat
    Lalu Hazrat Isa berseru dengan suara lantang, “Ya Bapa, Aku serahkan diri-Ku ke dalam tangan-Mu!” Setelah berkata demikian, Dia pun meninggal. (Lukas 23:46)

    Hazrat Isa adalah seperti manusia dalam hampir semua hal. Dia mengalami apa yang manusia lain alami kecuali dosa.

    Imam Agung kita bukanlah imam yang tidak dapat bersimpati terhadap segala kelemahan kita. Sebaliknya, kita mempunyai Imam Agung yang pernah dicubai dalam segala hal seperti kita sendiri, tetapi Dia tidak berbuat dosa! (Ibrani 4:15)

    Ramai orang Islam membangkitkan isu tentang kemanusiaan Hazrat Isa. Mereka bertanya:

    Sekiranya Hazrat Isa adalah Tuhan, mengapa dia makan? Tuhan tidak makan. Mengapa Dia tidur? Tuhan tidak tidur.

    Sebenarnya pendekatan perbincangan ini salah pada tempatnya. Pendekatan umat Islam tidak sesuai dengan perbincangan tentang amalan Hazrat Isa sebagai manusia. Kesimpulan yang sepatutnya dibuat dengan amalan-amalan Hazrat Isa ini ialah bahawa dia manusia dan bukan sebagai bukti yang Dia bukan Allah. Amalan Hazrat Isa yang dibangkitkan membuktikan Hazrat Isa adalah manusia tulen. Ini juga kepercayaan orang Kristian yang tidak menafikan kemanusiaan Hazrat Isa. Amalan-amalan dan sifat-sifat Hazrat Isa ini tidak menyatakan atau menafikan keilahianNya dan kerana itu tidak boleh dipakai sebagai alasan untuk menolak keilahianNya.

    Saya percaya kita boleh menyimpulkan bahawa Hazrat Isa bukan Allah sekiranya Hazrat Isa tidak pernah memberi apa-apa tanda yang membuktikan keilahianNya. Akan tetapi jika kita boleh tunjukkan bahawa Hazrat Isa telah membuktikannya, maka kita terpaksa mengakui Hazrat Isa sebagai ilahi. Untuk menyatakan bahawa Isa Al-Masih adalah Tuhan tidak semestinya menghalang Hazrat Isa menjadi manusia, lebih-lebih lagi jika Allah yang telah berancang menjelma sebagai manusia. Hal ini sangat ajaib tetapi tidak mustahil jika kita menghargai kuasa Allah yang tidak terbatas.

    Hazrat Isa adalah Tuhan dan manusia. Kedua-dua sifat ini telah disatukan di dalam satu peribadi. Walaupun Dia makan, Dia juga memberi makanan kepada 5000 orang dengan menggunakan lima ketul roti dan dua ekor ikan (Yahya 6:5-13). Dia tidur mengharapkan murid-muridNya percayakan Dia ketika perahu mereka dipukul ombak kerana Dia masih berkuasa walaupun sedang tidur (Markus 4:35-41). Walaupun Dia menjadi letih, Dia mengundang orang ramai untuk datang kepadanya untuk mendapat kelegaan bagi jiwa mereka (Matius 11:28). Walaupun Dia menderita dengan teruk, Dia menyembuhkan orang yang sakit dan membebaskan yang diseksa. Hazrat Isa mati dan bangkit pada hari ketiga. Dengan kebangkitannya, Hazrat Isa tidak lagi letih atau sakit dan Dia hidup selama-lamanya. Kalau itu ialah pengertian anda tentang Hazrat Isa, maka Hazrat Isa – manusia tulen itu adalah juga Allah.

    Penjelmaan Allah sebagai manusia Hazrat Isa adalah satu kenyataan Injil yang jelas. Rasul Yahya seorang Hawari dalam Injil tulisannya dengan jelas menyatakan kepada kita bahawa “pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yahya 1:1). Kita juga diberitahu bahawa “Firman itu sudah menjadi manusia dan tinggal di antara kita” (Yahya 1:14). Oleh itu Firman yang menjadi manusia dan diam di antara kita bersifat jasmani dan ilahi serta mempunyai keberadaan yang kekal bersama Allah.

    Seorang dari anak Allah atau satu-satunya Anak Allah?

    Satu kritikan daripada Islam yang telah muncul menyatakan bahawa Hazrat Isa adalah anak Allah sama seperti semua hamba Tuhan lain yang setia kepada Allah. Dengan ini apa yang ingin disampaikan ialah gelaran ‘Anak Allah’ yang diberikan kepada Hazrat Isa bukanlah sesuatu yang unik.

    Menurut Ahmad Deedat dalam bukunya ‘Al-Masih di dalam Islam’, perkataan ‘anak daripada Allah’ merujuk kepada setiap orang yang setia yang menggenapi kehendak dan rancangan Allah. Penyataan Hazrat Isa sebagai anak Allah mungkin lebih dekat kepada pengertian “telah menjadi anak Allah kerana dia lebih setia kepada Allah berbanding kemampuan setiap daripada kita.”

    Walaupun takrif ‘anak’ yang diberikan oleh Islam (iaitu hamba yang setia dan taat kepada Allah) tidak begitu salah, Islam membuat kesalahan yang besar dalam ilmu Tafsir kerana memberikan maksud ini kepada perkataan ‘anak’ tanpa mengambil kira konteksnya. Penggunaan perkataan ‘anak’ hanya boleh difahami dalam konteks di mana ianya dijumpai. Contohnya:

    Kaum Israel dipanggil anak Allah bukan kerana mereka menggenapi kehendak Allah tetapi kerana mereka dipilih menjadi umat pilihan Allah (Hosea 11:1).
    Raja-raja kaum Israel dipanggil anak Allah kerana Allah telah mentahbiskan mereka dan memberi kepada mereka pimpinan dan keselamatan.
    Adam dipanggil anak Allah kerana dia tidak ada ibubapa dan dicipta oleh Allah (Lukas 3:38).
    Umat Kristian adalah anak Allah kerana mereka percaya kepada Hazrat Isa Al-Masih (Yahya 1:12). Semua golongan manusia semestinya melakukan kehendak Allah tetapi alasan dasar kenapa mereka dianggap anak Allah adalah kerana perhubungan yang Allah sendiri telah tetapkan dengan mereka.
    Jelaslah dari contoh-contoh di atas bahawa definisi Islam bagi ‘anak’ (seperti yang disyorkan Ahmad Deedat) sangat terhad dan tidak berjaya mencakup sepenuhnya skop penggunaan perkataan ‘anak’ dalam Alkitab.

    Seperti yang telah dikatakan, inilah kesalahan asas Islam apabila ia menterjemah dan mentafsirkan setiap penggunaan perkataan ‘anak’ yang dipasangkan dengan nama Hazrat Isa.

    Hazrat Isa memanggil Allah dengan nama yang intim, iaitu ‘Abba’, satu panggilan intim untuk bapa yang dipakai pada zaman Hazrat Isa (Markus 14:36). Adalah sangat penting untuk kita sedar bahawa panggilan ‘Abba’ tidak pernah digunakan oleh orang Yahudi apabila memanggil Allah. Yang menarik, ia hanya digunakan oleh kanak-kanak apabila mereka bercakap dengan bapa kandung mereka. Tambahan pula, apabila merujuk kepada persekutuan dan perhubunganNya dengan Allah dan ketika memanggil Dia, Hazrat Isa menggunakan ungkapan intim ‘BapaKu’ dan bukan ungkapan biasa ‘Bapa kami’. Ini menunjukkan kemesraan perhubungan di antara Hazrat Isa dan Allah, kemesraan seorang anak dengan bapanya.

    Apabila merujukkan Allah kepada orang Yahudi, Hazrat Isa hanya menggunakan ungkapan ‘Bapa kamu’ dan bukan ‘Bapa kita’. Dia menggunakan frasa ‘BapaKu’, BapaKu di syurga’ atau ‘Bapa’ apabila rujukanNya kepada Allah berkaitan dengan diriNya dan ‘Bapa kamu’ apabila bercakap dengan orang Yahudi. Ini tidak bermaksud ada dua Bapa (Allah), tetapi dua perhubungan yang berbeza dengan Allah yang esa.

    Ikatan kemesraan yang tiada bandingnya antara Hazrat Isa dan Allah menjelaskan persekutuan yang lengkap bukan sahaja di dalam tujuannya tetapi juga dari segi kepentingannya. Hazrat Isa menggalakkan murid-muridNya untuk percaya bahawa Dia di dalam Allah dan Allah di dalam Dia.

    Percayalah kepada-Ku, bahawa Aku bersatu dengan Bapa, dan Bapa bersatu dengan Aku. (Yahya 14:11a).

    Inilah sebabnya Hazrat Isa dapat mengaku bahawa perkataan dan pekerjaannya adalah dari Allah:

    Apa yang Allah kerjakan, Dia juga buat (Yahya 5:19).
    Allah membangkitkan orang yang mati dan memberi hidup, Hazrat Isa juga demikian – memberi hidup kepada sesiapa sahaja yang Dia kehendaki (Yahya 5:21).
    Allah memiliki hak istimewa menjadi hakim kepada manusia, tetapi sekarang Allah menyerahkan penghakiman ini kepada Hazrat Isa (Yahya 5:22).
    Allah sedang bekerja, Hazrat Isa pun bekerja (Yahya 5:17).
    Apabila kita melihat Hazrat Isa, ia adalah sama seperti melihat Allah (Yahya 14:9).
    Dalam mengenal Hazrat Isa kita pun mengenal Allah (Yahya 8:19).
    Percaya kepada Hazrat Isa adalah percaya kepada Allah (Yahya 14:11).
    Menghormati Hazrat Isa sama seperti menghormati Allah dan membenci Hazrat Isa ialah juga membenci Allah (Yahya 5:23, 15:23).
    Dalam pengertian orang Yahudi (yang tidak cuba dibetulkan oleh Hazrat Isa), apabila Hazrat Isa memanggil Allah sebagai BapaNya sendiri, Dia membuat diriNya sama taraf dengan Allah. Hal ini sahaja cukup sebagai dasar yang kuat mengapa Hazrat Isa dipanggil Anak Allah.

    Tetapi Hazrat Isa berkata kepada mereka, “Bapa-Ku sentiasa bekerja; Aku pun harus bekerja.” Kata-kata-Nya ini membuat para penguasa Yahudi semakin bertekad untuk membunuh Dia. Bukan sahaja Dia telah melanggar hukum hari Sabat, tetapi Dia berkata bahawa Allah itu BapaNya. Hal ini bererti Dia menyamakan diri dengan Allah. (Yahya 5:17-18)

    Hazrat Isa, apabila ditekan dengan kuat untuk membuktikan diriNya kepada yang berdegil, menjawab ‘Ya’ kepada soalan mereka: “Apakah kamu Al-Masih (Kristus), Anak Allah yang hidup?” (Markus 14:61-62). Dengan pengakuan ini Hazrat Isa dikutuk bukan kerana dia didapati bersalah tetapi kerana orang Yahudi tidak mahu percaya kepada Dia sebagai Anak Allah. Jika, Hazrat Isa dengan tidak sengaja telah menyesatkan orang Yahudi dan sebenarnya bermaksud mengatakan yang Dia adalah anak Allah dalam maksud yang biasa, apakah Dia rela mahu membenarkan diriNya menjalankan hukuman salib yang memalukan itu?

    Bukan Hazrat Isa sahaja yang menggelar dirinya Anak Allah. Ramai lagi memanggilnya dengan gelaran ini:

    Allah sendiri memanggil Hazrat Isa anakNya pada waktu pembaptisan dan penjelmaan Hazrat Isa (Markus 1:9,11, 9:7).
    Natanael apabila melihat Hazrat Isa berkata, “Rabbi, Engkau Anak Allah.” Hazrat Isa mengambil ini sebagai pengakuan iman Natanael berdasarkan pengetahuanNya yang lebih awal mengenai Natanael (Yahya 1:49-50).
    Yahya Pembaptis pada pertemuannya dengan Hazrat Isa mengaku bahawa Yesuslah satu-satunya Anak Allah (Yahya 1:34).
    Tunggal

    Tidak seorang pun pernah melihat Allah. Anak tunggal Bapa yang sama dengan Bapa dan di sisi Bapa, sudah menunjukkan Allah kepada kita. (Yahya 1:18)

    Pengertian mengenai perkataan ‘anak tunggal’ menyebabkan ramai orang Islam tersandung kerana mereka mengaitkan definisi perkataan ini kepada maksud amnya yang melibatkan aspek kelamin/seks. Perkataan ini tidak semestinya membawa pengertian kelamin/seks/biologi. Perkataan ini berasal dari kata Yunani ‘monogenes’ yang boleh bererti ‘hanya satu’ atau ‘satu-satunya’. Kamus Webster pula menerangkan perkataan ini sebagai ‘menjadi bapa kepada’.

    Seseorang itu boleh menjadi anak melalui beberapa cara. Contohnya, di dalam Lukas 3:23, orang Yahudi mengenal Hazrat Isa sebagai anak Yusuf dan Maryam. Yusuf dianggap sebagai bapa Hazrat Isa, bukan secara biologi tetapi berdasarkan perkahwinannya dengan Maryam dan juga kerana kedua-duanya telah memelihara Hazrat Isa Al-Masih. Dalam kes ini, Hazrat Isa dianggil anak Yusuf kerana telah berlakunya penggantian yang sah dan bukan kerana dia keturunan yang sebenarnya.

    Kita telah faham bahawa perkataan ‘anak Allah’ di dalam Alkitab mengambil pelbagai penggunaan dan tidak satupun yang bermaksud ‘anak Allah’ secara jasmani. Perkataan ‘anak tunggal’ mempunyai penggunaan yang pelbagai di dalam Alkitab. Bersabit dengan Hazrat Isa, perkataan ini bermaksud: Allah adalah BapaNya dalam pengertian yang khusus seperti yang telah dibincangkan sebelum ini. Pentafsiran ini adalah sesuai di dalam konteks yang lebih luas mengenai pengakuan Hazrat Isa sebagai Anak Allah. Oleh itu adalah menghairankan bahawa walaupun orang Islam mengerti dengan betul bahawa adanya ramai watak dalam Alkitab yang dipanggil anak Allah dan tiada satupun di antaranya yang merujuk kepada pengertian biologi, tersandung dengan perkataan yang sama apabila digunakan untuk Hazrat Isa kerana mereka menjelaskannya melalui pengertian biologi/jasmani!

    Asal Mulanya

    Pakar agama Kristian yang tinggal di kalangan orang Islam berfikir bahawa perkataan ‘anak tunggal’ walaupun tidak ada kaitan dengan proses biologi, tidak akan mendapat pertimbangan oleh orang Islam. Mereka berfikir adalah lebih sesuai dengan konteks sekeliling untuk menyampaikan Hazrat Isa sebagai anak dalam pengertian asalnya. Ertinya, menyatakan bahawa Hazrat Isa telah diutuskan oleh Allah untuk menggenapi rancangan keselamatanNya. Walaupun Hazrat Isa dinyatakan sebagai yang diutuskan, ini mesti difahami bukan hanya dari segi amanatNya kerana ini boleh menyebabkan Hazrat Isa hanya seperti nabi-nabi lain yang telah diutus.

    Pengutusan Hazrat Isa bererti Dia datang atau berasal dari Allah

    Hazrat Isa menjawab, “Meskipun Aku memberi kesaksian tentang diri-Ku sendiri, kesaksian-Ku benar, kerana Aku tahu dari mana Aku datang dan ke mana Aku pergi. . . Kamu datang dari bawah, tetapi Aku datang dari atas. Kamu berasal dari dunia; Aku tidak berasal dari dunia. . . Seandainya Allah benar-benar Bapa kamu, tentu kamu akan mengasihi Aku, kerana Aku datang daripada Allah. Aku tidak datang dengan kehendak-Ku sendiri, tetapi Dialah yang mengutus Aku. (Yahya 8:14,16,23. Juga lihat Yahya 5:36, 6:46, 8:42, dan 16:27).

    Selepas Hazrat Isa menggenapi misiNya, Dia memberitahu murid-muridNya bahawa Dia akan kembali kepada Allah, ke tempat kediaman asalNya. Inilah sebabnya kenapa Hazrat Isa mengakui pengetahuanNya mengenai Allah adalah ekslusif.

    Aku mengenal Dia, kerana Dialah yang mengutus Aku dan Aku datang daripada-Nya. (Yahya 7:29).

    Ini juga bermakna Hazrat Isa mempunyai keberadaan yang kekal dan memiliki kemuliaan serta kedaulatan bersama dengan Allah bahkan sebelum dunia ini ada! Pengakuan Hazrat Isa ini bukan sahaja menjelaskan penjelmaanNya yang langsung (dari syurga ke bumi) tetapi juga sumber keperibadianNya (terbit daripada Allah).

    Ya Bapa, muliakanlah Aku sekarang dengan kemuliaan yang Aku miliki bersama-sama-Mu sebelum dunia ini dijadikan. (Yahya 17:5)

    Maka, jelaslah Hazrat Isa adalah Allah, kekal bersama Allah, diutus oleh Allah.

    ——————————————————————————–

    Homepej-homepej Bahasa Melayu dan Indonesia
    Answering Islam Main Site (English)

    naldy said:
    Oktober 8, 2007 pukul 1:51 am

    MAKSUDNYA TRITUNGGAL

    Pengenalan

    Lambat-laun sesiapa sahaja yang terdedah kepada agama Kristian akan berdepan dengan perkataan ini: Triniti. Ini adalah satu perkataan yang sering kali di salah-fahami, disalah-sampaikan dan disalah-pakai. Untuk ramai orang, ianya batu sandungan yang menghalang mereka memeluk agama Kristian. Kepada yang lain ianya ajaran sesat mana kala untuk yang lain ianya satu kebodohan. Untuk mendapat idea yang betul tentang apakah sebenarnya intipati akidah ini, seseorang itu perlu kembali kepada kuasa mutlak akidah ini, iaitu Alkitab. Adalah dari sini saya akan berusaha

    menyampaikan satu asas Alkitabiah untuk kepercayaan ini

    menunjukkan apa maksudnya dan

    implikasinya atas mesej agama Kristian dan orang Kristian secara individu.

    Sebelum saya lakukan ini, saya ingin memberi beberapa pendapat dan definisi akidah ini supaya kita memiliki satu pandangan yang luas akan hal ini.

    Definisi

    Perkataan ‘Triniti’ membawa maksud satu Tuhan tetapi yang mengandungi tiga peribadi yang berbeza, bukan dalam sifat atau ‘bahan ilahi’ tetapi dalam jawatan dan perhubungan. Allah satu walaupun tiga. Ryrie menulis: Hanya ada satu Tuhan, tetapi di dalam kesatuan Allah ada tiga peribadi yang kekal dan sama, sama dalam kandungan tetapi berbeza dalam saraan hidup. Ketiga peribadi ini dalam Alkitab diperkenalkan sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Jadi, ada tiga peribadi dalam Allah dan ketiga ini adalah Allah yang sama dalam kandungan, kuasa dan kemuliaan. Adalah perlu dinyatakan di sini bahawa perkataan ‘Triniti’ tidak ada di dalam Alkitab walaupun konsep Allah dalam kesatuan-tiga sangat jelas tampak. Perkataan ‘Triniti’ ialah satu istilah falsafah Yunani yang dipakai untuk Allah seperti mana yang didedahkan dalam Alkitab. Ianya bukan satu istilah yang dipakai Isa Al-Masih mahupun rasul-rasulnya.

    Akidah ini sangat kompleks dan membingungkan-minda tetapi tidak boleh ditolak oleh sesiapa yang mengkaji Alkitab dengan serius. Apabila ini dilakukan maka akan jelas bahawa Alkitab mengajar bahawa adanya satu Tuhan, dan bahawa adanya tiga peribadi, setiap satu adalah Allah. Jadi akidah Triniti ini membuat tiga pengesahan:

    hanya ada satu Allah

    Bapa, Anak dan Roh Kudus setiap satu adalah Allah

    Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah tiga peribadi berbeza.

    Saya percaya bahawa dari beberapa definisi ini, minda kita sukar untuk menangkap maksudnya; sesungguhnya ia satu misteri. Kita perlu sedar bahawa konsep ini melebihi keupayaan kuasa pemahaman manusia (dari segi mempunyai fahaman yang penuh) dan tidak ada persamaan yang sempurna di dunia ini. Konsep Triniti bukannya tiga tuhan yang bekerjasama atau satu Tuhan yang menampakkan diriNya dalam tiga modus yang berbeza. Seterusnya, perlu kita tahu bahawa Alkitab tidak berusaha menerangkan misteri ini; ia hanya mengisytiharkannya!

    Tidak seorang pun dapat menafikan betapa mulianya rahsia kepercayaan kita: Isa Al-Masih menampakkan diri dengan rupa manusia, dan dinyatakan benar oleh Roh Allah, serta dilihat oleh para malaikat. Dia diisytiharkan antara bangsa-bangsa, dan Dia dipercayai di seluruh dunia, dan telah diangkat ke syurga. (1 Timotius 3:16)

    Allah Alkitab ialah Dia yang selalu didedahkan sebagai satu triniti. Marilah kita ke sana untuk memerhatikan kebenaran ini bahawa Allah satu dan Allah tiga.

    Triniti dalam Alkitab

    Adalah dianggap kita percaya akan kewujudan Allah dan kesempurnaan Alkitab apabila kita memeriksa Firman Allah untuk memerhatikan penyampaian akidah ini. Penyelidikan ini adalah untuk menyesuaikan logik kita kepada kepastian Alkitab dan untuk melihat serta bertindak sesuai dengan penemuan kita. Alkitab mempersembahkan dengan jelas fakta-faktanya dan terpulanglah dengan minda manusia untuk berusaha memahaminya (walaupun ini satu perkara yang sukar untuk difahami). Kita akan sekarang melihat empat fakta yang dinyatakan oleh Alkitab; empat fakta yang menjadi tiang-tiang utama akidah ini. Kita juga akan memberi perhatian kepada beberapa contoh dalam Alkitab di mana fakta-fakta ini dinyatakan bersama.

    Fakta Pertama: ALLAH ITU ESA

    Perjanjian Lama dengan tegas menyatakan bahawa Allah itu esa dan tidak ada Allah lain yang benar. Walaupun dikelilingi bangsa-bangsa yang percaya dalam banyak tuhan, orang Israel berdiri teguh mengisytiharkan kewujudan Allah yang esa. Setiap orang Yahudi memulakan doanya dengan melafazkan Ulangan 6:4, yang berbunyi: Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Orang Yahudi menyembah Allah yang esa dan kebenaran ini nampak dalam ayat-ayat lain Alkitab: Ulangan 4:35, Yesaya 44:6 dan Mazmur 86:10. Hanya ada satu Allah dan iman orang Yahudi serta ajaran Perjanjian Lama bersandar atas kebenaran ini.

    Begitu juga dalam Perjanjian Baru. Apabila menjawab satu pertanyaan mengenai perintah manakah yang paling utama, Isa Al-Masih memulakan jawapannya dengan berkata, “Inilah perintah yang paling utama, ‘Dengarlah, hai bangsa Israel! Tuhan Allah kita, Dialah Tuhan Yang Esa.” (Markus 12:29). Rasul Paulus meneruskan idea ini, bahawa Allah itu esa dalam jawapannya kepada jemaat Kristian di bandaraya Korintus. Dia menulis: Kita juga tahu bahawa Allah hanya satu; tidak ada yang lain. Sekalipun banyak yang disebut dewa dan tuhan, baik yang di syurga mahupun yang di bumi, tetapi bagi kita Allah hanya satu (1 Korintus 8:4-6). Yakobus dalam suratnya pula membuat kenyataan menarik ini: Kamu percaya bahawa Allah hanya satu. Bagus! Roh-roh jahat pun percaya akan hal itu dan gementar kerana takut (Yakobus 2:19).

    Jadi jelas Alkitab menyatakan Allah itu esa.

    Fakta Kedua: BAPA ITU ALLAH

    Nabi Yesaya dalam Yesaya 63:16 berkata bahawa Bapa itu Allah: Engkaulah Bapa kami. Nenek moyang kami Abraham dan Yakub tidak mengenal kami, tetapi Engkaulah Bapa kami, ya TUHAN! Engkaulah Penyelamat kami sejak dahulu kala. Allah dipanggil Bapa kerana Dialah yang menciptakan kita semua. Allah yang menciptakan kita dipanggil Bapa: Bukankah kita semua mempunyai bapa yang sama? Bukankah kita semua diciptakan oleh Allah yang sama? (Maleakhi 2:10). Kadangkala ada yang berkata Perjanjian Lama tidak mengenal Allah sebagai Bapa. Ini tidak benar. Ayat-ayat yang baru sahaja dibaca membuktikan ini.

    Idea Allah sebagai Bapa ditemukan dalam Perjanjian Lama dan adalah lebih ketara dalam Perjanjian Baru khususnya dalam ajaran-ajaran dan doa-doa Isa Al-Masih. Doa yang Isa Al-Masih memperkenalkan kepada murid-muridnya bermula dengan kata-kata ini: “Ya Bapa, Engkaulah Allah yang Esa. Semoga Engkau disembah dan dihormati. Engkaulah Raja kami. Semoga Engkau memerintah di bumi”. (Lukas 11:2). Rumah sembahyang Allah dipanggil “rumah Bapaku” oleh Isa Al-Masih (Lukas 2:49). Dalam Yohanes 8:42, Isa Al-Masih dengan jelas menyatakan Allah ialah Bapa: “Seandainya Allah benar-benar Bapa kamu, tentu kamu akan mengasihi Aku, kerana Aku datang daripada Allah.” Terdapat banyak lagi ayat-ayat dalam Alkitab yang memperakui peribadi yang dipanggil Bapa sebagai Allah. Keilahian Bapa biasanya tidak diperdebatkan. Tetapi bagaimana dengan Isa Al-Masih?

    Fakta Ketiga: ANAK ITU ALLAH

    Walaupun ini satu fakta yang sentiasa diperdebatkan dengan hangat, ianya jelas dinyatakan dalam Alkitab: Isa Al-Masih sepenuhnya ilahi. Isa Al-Masih seringkali mengelar dirinya ‘Anak Allah’ dan kerana itu orang Yahudi berusaha membunuhnya, kerana dia menyamakan dirinya dengan Allah. Contohnya dalam Yohanes 5:18 ada tertulis: Kata-kata-Nya ini membuat para penguasa Yahudi semakin bertekad untuk membunuh Dia. Bukan sahaja Dia telah melanggar hukum Sabat, tetapi Dia berkata bahawa Allah itu Bapa-Nya. Hal ini bererti Dia menyamakan diri dengan Allah. Apabila Yohanes dan Yakobus dipanggil “Anak-anak Guruh” dalam Markus 3:17, Isa Al-Masih tidak bermaksud untuk menyatakan bahawa sama ada ibu atau bapa mereka itu guruh, tetapi bahawa sifat dan tindakan mereka seperti guruh. Apabila Isa Al-Masih dipanggil ‘Anak Allah’ ianya TIDAK bermaksud Allah Bapa telah bersetubuh dengan Maryam, yang telah melahirkan Isa Al-Masih. Apa yang dimaksudkan dengan frasa ini ialah bahawa Isa Al-Masih memiliki sifat dan bertindak seperti Allah. Tidak ada manusia yang boleh memiliki sifat-sifat Allah apalagi melakukan kerja-kerja yang khusus bagi Allah kecuali jika dia adalah Allah; dan itulah identiti sebenar Isa Al-Masih!

    Dalam penggunaan orang Yahudi, frasa ‘Anak Allah’ bermaksud sesuatu yang mempunyai kesamaan tahap dan identiti dengan Allah. Jadi, apabila Isa Al-Masih berkata dia ‘Anak Allah’, mereka yang mendengarnya faham maksud penyataannya: dia mengaitkan dirinya dengan Allah dan menyamakan dirinya dengan Allah. Dakwaannya itu disokong dengan berbagai cara: autoritinya, sifatnya, perhubungannya dengan Allah, kekekalannya (Yohanes 8:57-58) dan kuasanya atas maut dan neraka (Matius 12:38-40).

    Sesiapa yang membaca Perjanjian Baru dengan minda terbuka akan mencapai satu kesimpulan yang jelas: penulis-penulis Perjanjian Baru mengisytiharkan Isa Al-Masih sebagai Allah dalam bentuk manusia.

    Fakta Empat: ROH KUDUS ITU ALLAH

    Apabila dua ahli gereja di Yerusalem berbohong kepada Roh Kudus, Rasul Petrus mengingatkan mereka bahawa mereka telah berbohong kepada Allah: Oleh itu Petrus berkata kepadanya, “Ananias, mengapa kamu membiarkan Iblis menguasai hatimu, sehingga kamu berdusta terhadap Roh Allah . . . Kamu tidak berdusta terhadap manusia, tetapi terhadap Allah!” (Kisah Rasul-Rasul 5:3-4). Ini ialah satu daripada kisah paling jelas di mana Roh Kudus dipanggil Allah dan hukuman yang dikenakan atas Ananias (hukuman maut) adalah hukuman yang biasa untuk dosa terhadap Allah. Roh Kudus BUKAN satu kuasa atau pengaruh tetapi satu peribadi yang boleh dilukai dan juga yang membawa kasih, sukacita dan damai. Dia memiliki personaliti dan diperkenalkan sebagai satu peribadi. Yesus memperkenalkan dia sebagai satu peribadi dan menyamakannya dengan Allah bapa dalam doanya: Aku akan mengutus Penolong yang berasal daripada Bapa kepada kamu. Dia Roh yang akan menunjukkan apa yang benar tentang Allah (Yohanes 15:26).

    Jadi, kita sekarang telah sampai kepada satu dilema. Bagaimana Allah boleh SATU tetapi Dia Bapa, Anak dan Roh Kudus? Apakah penjelasan yang paling sesuai untuk menjelaskan empat fakta ini tanpa membingungkan atau menyesatkan seseorang yang ingin memahami kenyataan Alkitab tentang diri Allah? Sememangnya ia satu misteri walaupun ada banyak contoh dilema ini dalam Alkitab. Seterusnya kita akan memberi perhatian kepada beberapa contoh Allah Triniti dalam Alkitab.

    Contoh-Contoh Triniti

    Penglibatan Triniti dalam penciptaan dunia

    Allah Bapa

    Dalam masa enam hari Aku, TUHAN, telah menciptakan bumi, langit, laut, dan semua yang ada di dalam segalanya itu, tetapi pada hari ketujuh Aku berehat. (Keluaran 20:11)

    Allah Anak

    Allah menjadikan segala sesuatu melalui Dia (Isa Al-Masih). Tiada sesuatu pun di semesta alam ini yang dijadikan tanpa Dia. (Yohanes 1:3)

    Allah Roh Kudus

    Roh Allah telah menciptakan aku, dan nafas Yang Maha Kuasa memberi hidup kepadaku. (Ayub 33:4)

    Penglibatan Triniti dalam pembaptisan Isa Al-Masih dalam air

    Setelah Isa dibaptis, Dia keluar dari air sungai itu. Tiba-tiba langit terbuka dan Isa nampak Roh Allah turun seperti burung merpati ke atas-Nya. Kemudian terdengar suara Allah berfirman, “Inilah Anak-Ku yang Aku kasihi. Dia menyenangkan hati-Ku.” (Matius 3:16,17)

    Terdengar suara Allah Bapa.

    Isa dipanggil oleh Allah “Anak-Ku”.

    Roh Allah turun ke atas Isa Al-Masih.

    Triniti dalam formula baptisan air

    Baptislah mereka dengan menyebut nama

    Bapa

    Anak, dan

    Roh Allah (Matius 28:19)

    Triniti dalam contoh yang diberi Rasul Paulus dalam Efesus 4

    Roh Kudus

    Hanya ada satu tubuh dan satu Roh . . . (ayat 4)

    Anak (perkataan ‘Tuhan’ atau ‘Lord’ sering dipakai untuk Isa Al-Masih)

    Hanya ada satu Tuhan, satu iman, satu baptisan . . . (ayat 5)

    Allah Bapa

    . . . dan satu Allah, Bapa semua orang. Dialah Tuhan semua orang, yang bekerja melalui orang, dan tinggal di dalam semua orang. (ayat 6)

    Triniti dalam doa pemberkatan

    Tuhan Yesus Kristus memberkati kamu,

    Allah mengasihi kamu, dan

    Roh Allah menyertai kamu semua. (2 Korintus 13:13)

    Ini hanya beberapa contoh di mana ketiga-tiga peribadi Allah dilihat bersama, setaraf dan sama-kekal (Kisah Para Rasul 2:33). Contoh-contoh kewujudan Allah yang bersifat esa tetapi tiga yang banyak dalam Alkitab menjadikan akidah ini satu akidah utama iman Kristian. Setakat ini kita sudah melihat bahawa Allah esa dan adalah tiga peribadi. Ketiga peribadi ini bukan tiga Allah yang berasingan mahupun satu Tuhan yang menyatakan (atau menjelma) diriNya dalam tiga rupa atau oknum. Yang pasti, ada perbezaan di antara ketiga peribadi Allah khususnya dalam perhubungan dan kerja mereka. Seringkali para Muslimin dan muslimat telah membuat salah tanggapan bahawa umat Kristian itu menyembah ‘tiga Tuhan’ iaitu “Tri-theisma” dan ini adalah jauh sekali dari hakikatnya yang sebenar! Umat Kristian mempunyai pegangan yang teguh kepada KEESAAN ILAHI sepertimana yang telah diajar oleh Hazrat ‘Isa serta hawarii dan pengikut2-Nya sendiri.

    Perbezaan Dalam Triniti

    Walaupun setiap peribadi Allah itu berbeza mereka masih bersatu. Perkataan ‘peribadi’ dalam konteks Triniti membawa maksud walaupun setiap peribadi ini sedar-kendiri dan arah-kendiri, mereka tidak berfungsi bersendirian atau bertentangan dengan satu sama lain. Ada tiga peribadi yang berbeza dengan identiti tersendiri dalam sifat-sifat dan tugas-tugas mereka. Alkitab mengakui adanya perbezaan yang jelas antara ketiga peribadi Allah ini. Seorang guru Kristian, Kevin Conner, menyatakannya begini:

    Anak menyedari Allah sebagai peribadi yang berbeza darinya (Yohanes 5:32,37)

    Bapa dan Anak dibezakan sebagai Yang Memberi dan Yang Diberi (Yohanes 1:14-18, 3:16)

    Anak sedar bahawa Dia dihantar oleh Bapa dan bahawa Roh Kudus akan dihantar dari Bapa melalui Anak (Yohanes 10:36, 14:16f, 15:26)

    Maka ada satu kemajmukan tugas di mana ketiga-tiga peribadi mempunyai tugas yang berbeza tetapi bekerjasama dalam kesatuan, setiap satu bergantung kepada yang lain.

    Ada juga satu tahap penundukan: Bapa dahulu, Anak kedua dan Roh ketiga. Bapa bekerja melalui Anak oleh Roh. Sifat-sifat ini tidak berubah dan menjadi tanda-tanda jelas perbezaan peribadi-peribadi dalam Allah. Bapa selalu dipaparkan sebagai penyebab segala sesuatu (Kejadian 1:1), yang memulakan proses keselamatan (Yohanes 3:16) dan yang mengutus (Yohanes 1:10-12). Anak dilihat sebagai Firman yang kekal (Yohanes 1:1-3), anak Allah yang tunggal (Kolose 1:19, 2:9) dan wahyu Allah yang nampak dalam bentuk manusia (Ibrani 1:3). Roh Kudus ialah yang keluar dari Bapa melalui Anak (Yohanes 15:26), Dia yang menginsafkan manusia akan dosa mereka (Yohanes 16:8-11) dan yang bersaksi bahawa kita ialah anak-anak Allah (Roma 8:15-16).

    Sebagai kesimpulan, marilah kita membaca apa yang ditulis Dr. Dale pada kurun kesembilan belas: “Dari kekekalan hingga kekekalan Allah ialah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Bapa ialah Allah tetapi bukan tanpa Anak atau Roh Kudus. Anak ialah Allah tetapi bukan tanpa Bapa atau Roh Kudus. Roh Kudus ialah Allah tetapi bukan tanpa Bapa atau Anak. Hanya ada satu Allah tetapi di dalam Allah ada tiga peribadi. Mereka bukan tiga Allah, tetapi di dalam kehidupan dan kewujudan Allah, ada tiga pusat kesedaran, kehendak dan aktiviti, dan mereka ini kita kenal sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus.”

    Ilustrasi-ilustrasi Triniti

    Maka adalah jelas bahawa Triniti itu satu fakta jelas dalam Alkitab. Tetapi seperti yang dinyatakan diawal tulisan ini, ianya satu misteri dan satu kebodohan kepada ramai orang. Maka dalam berkomunikasi banyak ilustrasi telah dihasilkan untuk membantu minda manusia yang terhad untuk memahami kebenaran ini (walaupun ianya tidak berjaya dilakukan sepenuhnya). Perlu saya katakan di sini bahawa banyak daripada ilustrasi yang telah diberi adalah salah dan telah membantu mengeruhkan fahaman orang tentang akidah ini. Berikut adalah beberapa contoh yang lebih logik dan boleh membantu pemahaman.

    Perkataan-perkataan untuk Allah yang esa

    Kali pertama nama Allah disebut dalam Alkitab (Kejadian 1:1) perkataan Ibrani ‘Elohim” ialah perkataan yang dipakai. Perkataan ini bermaksud Allah tetapi dengan erti kemajmukan dalam kesatuan.

    Perkataan Ibrani untuk perkataan ‘esa’ pula, yang dipakai untuk menyatakan Allah itu satu dalam Alkitab, bukanlah perkataan ‘yachead’ yang bermaksud ‘angka satu’ tetapi ‘echad’ yang bermaksud ‘satu sebatian atau kesatuan terkumpul yang terdiri dari lebih satu peribadi.” Satu contoh biasa penggunaan perkataan ini ialah dalam Kejadian 2:24 di mana dikatakan pasangan yang sudah berkahwin telah menjadi satu (echad). Pengertian yang sama juga boleh ditemui dalam Perjanjian Baru di mana perkataan ‘heis’ digunakan dan bukan ‘monos’. ‘Heis’ bermaksud “satu metafora untuk menyatakan kesatuan dan kerukunan.” Jelaslah bahawa dari perkataan-perkataan yang dipilih, konsep satu kesatuan lebih disukai daripada angka satu.

    Dalam Kejadian 1:26 kemajmukan Allah dinyatakan apabila dicatat: Sekarang Kita akan mencipta manusia yang akan menjadi seperti Kita dan menyerupai Kita . . . Penggunaan perkataan ‘Kita’ di sini membawa maksud majmuk (seperti dalam Bahasa Arab, perkataan Ibrani untuk ‘kita’ bermaksud tiga atau lebih). Ketiga-tiga peribadi Allah terlibat dalam penciptaan manusia. Perlu saya nyatakan di sini bahawa di dalam Al-Quran pun, penggunaan perkataan majmuk ketika Allah bercakap sering dipakai. Contohnya dalam Surah Maryam 19:67 di mana ada tertulis: Tiadakah manusia ingat, bahawa Kami telah menjadikannya dahulu, sedang dia belum ada suatupun.

    Contoh-contoh dari Alkitab

    Ada beberapa contoh menarik dalam Alkitab yang boleh dipakai untuk menjelaskan konsep Triniti. Walaupun begitu, harus saya nyatakan bahawa kebanyakan contoh berikut agak lemah dan kurang tepat:

    Bahtera Nabi Nuh. Bahtera itu mempunyai tiga tingkat walaupun hanya satu bahtera. Ini boleh dipakai untuk mewakili ke tiga peribadi Allah dari segi identiti mereka.

    Semak yang terbakar dihadapan Nabi Musa. Suara yang kedengaran mewakili Allah Bapa (Keluaran 3:4-6), semak yang terbakar mewakili Anak, Akar dan Cabang (Yesaya 11:1-2) dan api mewakili Roh Kudus.

    Contoh-contoh dari alam semulajadi

    Dari sejarah, banyak ilustrasi dari alam semulajadi yang telah dipakai untuk menerangkan konsep Triniti. Dalam setiap kes di bawah, kita dapat lihat tiga aspek yang jelas, tetapi setiap darinya lengkap dan menyumbang kepada satu unit (satu kesatuan yang sempurna). Sekali lagi perlu saya nyatakan bahawa kebanyakan contoh berikut agak lemah dan kurang tepat:

    Daun ‘shamrock’ atau ‘clover’ yang mempunyai tiga bahagian pada satu daun.

    Cahaya dan tiga komponennya: kimia, cahaya dan haba

    Air dalam tiga keadaan: gas, cecair dan pepejal

    Komposisi air: Islam memandang Allah sebagaimana orang biasa memandang satu titik air – hanya satu gumpalan cecair. Orang Kristian memandang Allah sebagaimana seorang saintis melihat satu titik air –sebagai persekutuan tiga molekul (2 hidrogen dan satu oksigen). Satu titik air tetapi tiga molekul yang bersatu. Seorang saintis yang mengetahui ini tidak pernah terfikir ada tiga air seperti mana orang Kristian tidak pernah terfikir ada tiga Allah!

    Segitiga – satu tetapi mempunyai tiga sudut

    Satu lelaki tetapi tiga identiti: bapa, anak dan suami

    Satu perempuan tetapi tiga identiti: isteri, ibu dan anak perempuan

    Alam semesta terdiri dari ruangan, benda dan masa

    Masa dalam tiga komponen: masa lalu, masa sekarang dan masa akan datang

    Komposisi manusia

    Bagi saya ini ialah contoh yang paling dekat kepada konsep Triniti dan sesuai dijadikan ilustrasi bagi komposisi Allah yang tritunggal.

    Manusia ialah makhluk majmuk yang mengandungi tiga komponen yang berbeza tetapi saling berkait: tubuh, jiwa dan roh. Dalam 1 Tesalonika 5:23 kita dapat membaca: Semoga Allah menjaga roh, jiwa dan tubuh kamu, sehingga tidak cacat cela pada masa Tuhan kita Isa Al-Masih datang kembali. Manusia adalah satu triniti sama seperti Allah. Ini tidak menghairan kerana Allah dengan sengaja telah memilih untuk menciptakan manusia dalam imejNya – komposisi manusia adalah satu penyataan komposisi Allah kerana manusia telah diciptakan mengikut gambaran Allah. Dari buku Kejadian, yang menjelaskan penciptaan manusia, ada tercatat: Demikianlah Allah menciptakan manusia dan menjadikan mereka seperti diriNya sendiri. Dia menciptakan mereka lelaki dan perempuan (Kejadian 1:27).

    Akhirnya, perlu saya akui bahawa semua contoh-contoh ini hanya satu bayangan yang malap, dan bersama elemen-elemen rohani yang lain, memberi satu gambaran kepada kita bahawa, jika diterokai dengan mendalam, apa yang dimaksudkan dengan Triniti. Triniti sememangnya satu misteri dan tidak ada ilustrasi yang tepat dan sempurna. Kita hanya mempunyai kenyataan-kenyataan yang hebat dan bermisteri dari Alkitab. Walaupun begitu, ilustrasi-ilustrasi ini ada gunanya tetapi pemahaman serta penerimaan kita akan akidah Triniti tidak bergantung atasnya. Allah lebih baik menyampaikan apa yang telah dinyatakan oleh Alkitab dan membenarkan manusia yang beriman kepada Allah membuat pilihan menerima dan mempercayainya.

    Nilai Akidah Ini

    Ada bahayanya akidah ini dianggap satu beban yang perlu ditanggung kerana ianya telah dinyatakan dalam Alkitab. Ini tidak sepatutnya berlaku kerana akidah Triniti adalah satu hal yang penting dan perlu untuk fahaman kita tentang Allah serta implikasinya kepada Kekristianan keseluruhannya.

    Pertama, ini ialah keadaan Allah yang paling masuk akal sejak kekekalan lampau. Jika Allah bukan satu triniti maka adalah sukar untuk melihat bagaimana Allah dengan tiba-tiba mencipta alam semesta dan manusia (satu subjek peribadi) tanpa satu objek peribadi yang wujud sejak kekekalan. Dengan penciptaan manusia dalam imej Allah yang tritunggal, maka masalah ini telah diselesaikan kerana ianya mengimbaskan bagaimana keadaan Allah sejak dari kekekalan dengan sifat-sifat peribadi seperti kasih, persekutuan dan tujuan.

    Kedua, ini adalah satu-satunya cara untuk menjelaskan kerja penyelamatan manusia oleh Allah melalui Isa Al-Masih dalam Yohanes 3:16.

    Allah sangat mengasihi orang di dunia ini sehingga Dia memberikan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada Anak itu tidak binasa tetapi beroleh hidup sejati dan kekal.

    Adalah sukar untuk dibayangkan bagaimana Allah boleh mengosongkan diriNya dan datang sebagai manusia di bumi serta mati tetapi pada masa yang sama merupakan Allah yang sentiasa ada dan memerintah di syurga. Akidah Triniti memberi satu penjelasan alternatif:

    Allah (Bapa) sangat mengasihi orang di dunia ini sehingga Dia memberikan AnakNya (peribadi kedua dalam Triniti) yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya (melalui penginsafan dan bantuan Roh Kudus, peribadi ketiga Triniti, Yohanes 16:8, Efesus 2:8) kepada Anak itu tidak binasa tetapi beroleh hidup sejati dan kekal.

    Ketiga, Triniti memberi satu contoh praktikal bagaimana perintah mengasihi satu sama lain (1 Yohanes 3:1) dilaksanakan datu satu persekutuan. Kasih antara Bapa, Anak dan Roh Kudus serta kesatuan mereka dalam tujuan menjadi satu peringatan yang tetap kepada panggilan Allah kepada kita untuk saling mengasihi. Triniti merupakan asas utama semua persekutuan dalam dunia ini.

    Keempat, Allah yang tritunggal juga bermaksud Allah boleh berkomunikasi. Allah bukan Allah yang bisu. Sejak kekekalan telah ada komunikasi antara peribadi-peribadi Allah. Jika Allah ialah satu persekutuan dengan diriNya, maka Dia boleh membenarkan persekutuan itu keluar kepada ciptaan-ciptaanNya dan Dia sendiri boleh berkomunikasi dengan mereka.

    Kelima, adanya Triniti bermaksud adanya kemajmukan dan variasi dalam alam semesta ini. Ada kepelbagaian dalam Allah dan ciptaanNya menampilkan kepelbagaian Penciptanya. Tidak ada dua pokok atau manusia yang sama – Allah bekerja dalam ciptaanNya untuk memastikan tanda kepelbagaianNya dalam satu unit tetap nampak. Tidak ada kesamaan yang membosankan atau satu skala kesamaan pola yang besar dalam ciptaan Allah kerana alam semesta mencerminkan Pencipta mereka yang bersifat triniti.

    Keenam, Triniti menjelaskan bagaimana Allah boleh tinggal di dalam kita. Allah bukan hanya satu kuasa atau pengaruh tetapi satu Peribadi hidup yang diam dalam kita tetapi pada masa yang sama di sekeliling kita dan memerintah di syurga. Inilah hidup yang sejati – mengetahui bahawa Allah diam di dalam kita.

    Allah sebagai Triniti memberi kepada kita contoh terbaik kesatuan dan persekutuan yang perlu ada dalam gereja dan keluarga. Ianya juga menjelaskan usaha keselamatan manusia oleh Allah khasnya inkarnasi Isa Al-Masih dan pendiaman Roh Kudus dalam orang percaya.

    Kesimpulan

    Anda mungkin berkata, “Jawapan anda tidak masuk akal, tidak logik, tidak waras.” Inilah satu daripada luahan hati ramai orang yang berusaha memahami akidah Triniti. Ini sudah dijangkakan dan sememangnya benar! Banyak yang tertera dalam Alkitab tentang Allah dan tindak-tandukNya tidak masuk akal. Alkitab memberi sebabnya:

    TUHAN berfirman, “Fikiran-Ku bukan seperti fikiran kamu, dan jalan-Ku bukan seperti jalan kamu. Setinggi langit dari bumi setinggi itulah jalan-Ku daripada jalanmu, dan fikiran-Ku daripada fikiranmu” (Yesaya 55:8-9)

    Akidah Triniti dan akidah-akidah Kristian yang lain banyak kali tidak dapat difahami sepenuhnya oleh akal budi manusia. Sesungguhnya minda manusia (selogik dan sebijaknya) sangat kecil, rendah dan terhad – usahanya untuk memahami minda Allah serta memproses maklumat-maklumat mengenai Allah yang maha kuasa akan sentiasa mencapai kebuntuan.

    Mana-mana wahyu yang mengaku sumbernya adalah Allah tetapi isi maklumatnya sangat logik dan senang diterima akal minda manusia tidak sememangnya dari Allah tetapi kemungkinan besar dari satu minda yang setaraf dengan manusia, tidak lebih tinggi, setinggi langit dari bumi.

    Fikiran Allah dan penyataannya kepada manusia akan selalu menghadapi risiko sukar difahami, seperti mana seorang profesor matematik cuba menerangkan teori matematik kepada seorang pelajar darjah satu. Minda kanak-kanak itu tidak dapat menangkap segalanya dan kanak-kanak itu adalah bodoh untuk menolak kenyataan profesor matematik itu atas sebab mindanya tidak dapat memahami penyataan profesor itu; atas alasan tidak logik, tidak masuk akalnya yang dangkal. Tindakan yang lebih bijak ialah mengakui kedangkalan minda yang terhad, mengakui hikmat profesor itu dan dengan sabar cuba mempelajari dan memahami kenyataan-kenyataannya.

    Begitu jugalah tindakan yang sewajarnya bagi setiap insan yang berusaha menyelidiki konsep Triniti yang terkandung dalam Alkitab. Usaha ini sememangnya memerlukan kesabaran dan kerendahan hati untuk diterima. Marilah kita berusaha mengenal Allah dan penyataanNya, yang tidak seperti fikiran dan jalan kita.

    Kita boleh pelajari banyak hal dari akidah ini – ia adalah model untuk manusia sejagat, gereja sedunia dan rumahtangga tempatan. Akidah ini membuat kita kagum dengan kebesaran, misteri dan kehebatan Allah. Banyak akidah-akidah Kristian yang lain sama ada bergantung kepada akidah ini atau dilahirkan darinya.

    Tugas kita bukan untuk menciptakan kebenaran atau mengubah kebenaran supaya ianya senang diterima. Tugas kita adalah untuk bergantung kepada kebenaran-kebenaran Allah yang telah dinyatakan. Akidah Triniti ini akan mengganggu susunan logik yang teratur dalam minda kita, tetapi kenyataannya ialah bahawa ianya diajar dalam Alkitab. Janganlah kita mengubahsuai Alkitab tetapi dengan iman menerima kebenaran-kebenarannya termasuk kenyataan bahawa Allah yang esa ialah Allah Triniti.

    ——————————————————————————–

    naldy said:
    Oktober 8, 2007 pukul 1:55 am

    pertanyaan 1

    Kenapa Urutan Al-Qur’an Kacau Balau

    TEORI DOKUMEN TERTULIS

    I. PENDAHULUAN

    Jika kita membaca Al-Qur’an maka kita akan dihadapkan pada sederetan kisah-kisah yang saling tidak menyambung satu dengan yang lainnya. Sama sekali tidak ada satu pola penulisan yang baku, apakah itu kronologis ataupun topikal. Semuanya tercampur baur tanpa adanya kejelasan maupun urutan.

    Richard Bell seorang pakar Islam dari Edinburgh dalam bukunya yang berjudul Bell’s Introduction to The Qur’an mengemukakan sebuah teori menarik tentang keberadaan catatan-catatan ayat-ayat Al-Qur’an dan penyusunannya kemudian yang “ASAL-ASALAN”.

    Sumber :
    Richard Bell : Pengantar Quran
    Direvisi oleh W. Montgomery Watt
    Edinburg University Press, 1970
    Terjemahan Indonesia : INIS, 1998

    Bab VI.3 : Hipotesa Bell Tentang Dokumen Tertulis
    … Teori ini tidak semata-mata bahwa bagian-bagian Quran ditulis pada masa yang cukup awal dalam karir Muhammad, tetapi lebih utama lagi kenyataan bahwa DITENGAH SURAH BISA MUNCUL BACAAN YANG SAMA SEKALI TIDAK BERKAITAN DENGAN KONTEKS harus dijelaskan dengan dugaan bahwa bacaan ini sebelumnya ditulis dibelakang “POTONGAN KERTAS” yang dipakai untuk salah satu bacaan bersebelahan yang memang termasuk dalam surah…….

    Istilah kertas di sini tidak harus berarti kertas seperti yang kita miliki sekarang

    II. PEMBAHASAN MASALAH

    Berikut akan diberikan beberapa contoh kasus.

    A. Contoh Pertama : Q.Surah 5 : 3

    Beberapa ahli menyatakan bahwa ayat QS 5 : 3c adalah ayat terakhir.

    Sumber :
    Sejarah & Pengantar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
    Teungku Muhammad Hasbi ash Shiddieqy,
    Pustaka Rizki Putra, 2000, halaman 39 – 40

    4. Ayat yang Terakhir Turunnya
    Ayat yang terakhir turunnya menurut pendapat jumhur ialah :
    Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu (S. 5 : Al Maidah, 3)

    Jika dilihat keseluruhan ayat QS 5 : 3 dapat dibagi menjadi 4 bagian (a, b, c dan d). Ayat a, b, dan d berisikan tentang halal dan haram yang jelas adalah satu kesatuan. Sementara ayat terakhir yang bertopik kemenangan Islam justru hanya nyelip secara aneh di ayat c.

    Q.Surah 5 : 3
    3a. Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekek, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala
    3b. Dan (diharamkan) juga mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.
    3c. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepadaKu. Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu.
    3d. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    Menyelipnya ayat 3c secara aneh ini jelas hanya dapat diterangkan dengan hipotesa dokumen tertulis sebagai berikut :

    Ayat 3a dan 3b ditulis pada satu lembar kertas sendiri, sementara ayat 3d ditulis pada lembar terpisah. Kemudian ada yang mencatatkan ayat 3c dibalik kertas yang dipakai untuk mencatat 3a dan 3b. Oleh tim penyusun Usman yang mungkin tidak mengetahui hal ini dianggap ayat 3c ini adalah kesatuan dengan 3a, 3b dan 3d sehingga dituliskan berurutan. Padahal jelas-jelas ayat 3c ini memotong kesatuan ayat-ayat tentang halal dan haram tersebut.

    B. Contoh Kedua : Q.Surah 84 : 10 – 25

    Dalam ayat-ayat ini terdapat 2 topik yang dibahas yaitu :

    1. Judul perikop untuk ayat 10 – 15 dalam bahasa Indonesia adalah : ORANG-ORANG DURHAKA MENERIMA CATATAN AMALNYA DARI BELAKANG DAN AKAN DIMASUKKAN KE DALAM NERAKA.

    2. Sementara untuk ayat 16 – 25 judul perikop adalah : MANUSIA MENGALAMI PROSES KEHIDUPAN TINGKAT DEMI TINGKAT

    Namun jika diperhatikan untuk perikop kedua yaitu ayat 16 – 25 ternyata sebetulnya terdiri dari 2 bahasan yaitu :

    * Ayat 16 – 19 berbicara tentang manusia yang mengalami kehidupan bertingkat-tingkat.
    * Ayat 20 – 25 : berbicara tentang nasib orang durhaka yang ternyata adalah kelanjutan dari ayat 10 – 15 sebelumnya.

    Jadi ayat 16 – 19 terkesan terselip begitu saja sehingga memotong keseluruhan ayat-ayat tentang hari kiamat.

    Coba kita susun Q.Surah 84: 10 – 25 menjadi 2 bagian yaitu :

    Bagian pertama

    ORANG-ORANG DURHAKA MENERIMA CATATAN AMALNYA
    DARI BELAKANG DAN AKAN DIMASUKKAN KE DALAM NERAKA

    Q.Surah 84 :

    10 : Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang (thahrihi),
    11 : maka dia akan berteriak: “Celakalah aku”. (thubooran)
    12 : Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). (saAAeeran)
    13 : Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). (masrooran)
    14 : Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (yahoora)
    15 : (Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya. (baseeran)
    20 : Mengapa mereka tidak mau beriman? (minoona)
    21 : dan apabila Al Quraan dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud, (yasjudoona)
    22 : bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya). (yukaththiboona)
    23 : Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka). (yooAAoona)
    24 : Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih, (aleemin)
    25 : tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya. (mamnoonin)

    Terlihat bagaimana kesamaan rima dari ayat 10 – 15 dan 20 – 25 yaitu n (in, na, an) yang jelas mengindikasikan bahwa ayat-ayat itu semula adalah satu kesatuan yang kemudian terpisah oleh ayat sisipan 16 – 19.

    Bagian kedua

    Adalah ayat 16 – 19 yang berbicara tentang tingkat hidup manusia.
    MANUSIA MENGALAMI PROSES KEHIDUPAN TINGKAT DEMI TINGKAT

    Q.Surah 84

    16 : Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja, (bialshshafaqi)
    17 : dan dengan malam dan apa yang diselubunginya, (wasaqa)
    18 : dan dengan bulan apabila jadi purnama, (ittasaqa)

    Semua rima ayat 16 – 19 berakhiran dengan q yang jelas berbeda dengan ayat 10 – 15 dan 20 – 25 yang berakhiran n.

    Transliterasi diambil dari Divine Islam’s Qur’an Viewer software v2.8

    Menyelipnya ayat 16 – 19 secara aneh ini jelas hanya dapat diterangkan dengan hipotesa dokumen tertulis sebagai berikut :

    Semula Q.Surah 84 : 10 – 15 dan 20 – 25 ditulis dalam 2 lembar kertas terpisah. Kemudian ada yang mencatatkan ayat 16 – 19 dibalik kertas yang digunakan untuk mencatat ayat 10 – 15. Oleh tim penyusun Usman yang mungkin tidak mengetahui hal ini dianggap ayat 16 – 19 adalah kelanjutan ayat 10 – 15 sehingga dituliskan berurutan. Padahal jelas-jelas ayat 16 – 19 memotong kesatuan ayat-ayat tentang nasib orang-orang durhaka tersebut (ayat 10 – 15 dan 20 – 25).

    C. Contoh Ketiga : Q.Surah 75 : 1 – 25

    Dalam ayat-ayat ini terdapat 2 topik yang dibahas yaitu :

    1. Judul perikop untuk ayat 1 – 15 dalam bahasa Indonesia adalah : HARI KIAMAT DAN HURU HARANYA.
    2. Sementara untuk ayat 16 – 25 judul perikop adalah : TERTIB AYAT-AYAT DAN SURAT-SURAT DALAM AL QUR’AN MENURUT KETENTUAN ALLAH.

    Namun jika diperhatikan untuk perikop kedua yaitu ayat 16 – 25 ternyata sebetulnya terdiri dari 2 bahasan yaitu :

    * Ayat 16 – 19 berbicara tentang tertib ayat-ayat Qur’an
    * Ayat 20 – 25 : berbicara tentang hari kiamat yang ternyata adalah kelanjutan dari ayat 1 – 15 sebelumnya

    Jadi ayat 16 – 19 terkesan terselip begitu saja sehingga memotong keseluruhan ayat-ayat tentang hari kiamat.

    Coba kita susun Q.Surah 75: 1 – 25 menjadi 2 bagian yaitu :

    Bagian pertama
    Adalah : ayat 12- 15 dilanjutkan 20 – 25 yang berbicara tentang hari kiamat.

    Q.Surah 75:

    1. Aku bersumpah demi hari kiamat,
    2 dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri) [1531].
    3. Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?
    4. Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.
    5. Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus.
    6. Ia berkata: “Bilakah hari kiamat itu?”
    7. Maka apabila mata terbelalak (ketakutan),
    8. dan apabila bulan telah hilang cahayanya,
    9. dan matahari dan bulan dikumpulkan,
    10. pada hari itu manusia berkata: “Ke mana tempat berlari?”
    11. sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung!
    12. Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali.
    13. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.
    14. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri [1532],
    15. meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.
    20. Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia,
    21. dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.
    22. Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri.
    23. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.
    24. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram,
    25. mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat.

    Terlihat bagaimana penggabungan diatas menghasilkan satu konteks yang lengkap yaitu tentang HARI KIAMAT.

    Bagian kedua

    Adalah ayat 16 – 19 yang berbicara tentang tertib ayat-ayat Qur’an.
    Q.Surah 75

    16. Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya [1533].
    17. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.
    18. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.
    19. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.

    Kesalahan ini diperjelas lagi dengan mengamati rima dari keseluruhan ayat 1 – 25 (sekalipun tidak sejelas contoh kedua diatas) :

    1. Di ayat 1 – 15 terdiri dari : 4 akhiran ti / tun, 4 berakhiran hu dan 7 berakhiran ru / ra. Diayat 20 – 25 seluruhnya berakhiran ta / tun. Jadi mayoritas berakhiran t (10 kali) dan r (7 kali).
    2. Sementara 16 – 19 seluruhnya bearakhiran hu / hi.

    Dalam aksara Arab, huruf dasar t dan r hampir sama yang jelas mengindikasikan ayat 1 – 15 dan 20 – 25 semula adalah satu kesatuan kemudian tersisipkan dengan ayat 16 – 19 yang jelas tidak ada kaitan konteks.

    Menyelipnya ayat 16 – 19 secara aneh ini jelas hanya dapat diterangkan dengan hipotesa dokumen tertulis sebagai berikut :

    Semula QS 75 : 1 – 15 dan QS 75 : 20 – 25 ditulis dalam 2 lembar kertas terpisah. Kemudian ada yang mencatatkan ayat 16 – 19 dibalik kertas yang digunakan untuk mencatat ayat 1 – 15. Oleh tim penyusun Usman yang mungkin tidak mengetahui hal ini dianggap ayat 16 – 19 adalah kelanjutan ayat 1 – 15 sehingga dituliskan berurutan. Padahal jelas-jelas ayat 16 – 19 memotong kesatuan ayat-ayat tentang hari kiamat tersebut (ayat 1 – 115 dan 20 – 25).

    Sangat ironis karena diayat yang menjelaskan tentang tertib Al-Qur’an justru menjadi bukti tidak tertibnya ayat-ayat Al-Qur’an.

    III. SANGGAHAN

    Muslim mungkin akan berargumentasi bahwa penurunan ayat-ayat al-Qur’an adalah sepotong-sepotong disesuaikan dengan kejadian yang dihadapi oleh Muhammad . Namun inipun tidak menjelaskan bagaimana bisa ayat yang sudah lengkap kemudian disisip secara acak dengan ayat-ayat lain yang tidak ada hubungan konteksnya.

    Kontradiksi berikutnya adalah tentang URUTAN SURAH-SURAH AL-QUR’AN

    Pendapat pertama :
    Al-Qur’an sudah disusun menurut ketentuan nabi Muhammad

    Dikutip dari :
    Al Itqan I, halaman 99
    Al Burhan I, halaman 237

    Berdasar sebuah hadis dengan isnad dari Bukhari dan Muslim yang menyebutkan Zaid bin Tsabit berkata, “Di kediaman rasulullah kami dahulu menyusun ayat-ayat Al-Qur’an yang tercatat pada riqa ..”

    Pengertian menyusun ditafsirkan menyusun ayat-ayat dan surah-surah menurut perintah nabi Muhammad.

    Dikutip dari :
    Sunan, Tirmidzi, kitab Al-Tafsir, bab sura 9

    Diriwayatkan oleh Ibn Abbas dari Usman ibn Affan bahwa apabila diturunkan kepada nabi suatu wahyu, ia memanggil sekertarisnya untuk menuliskannya, kemudian ia bersabda “Letakkanlah ayat ini dalam surat yang menyebutkan begini atau begitu”

    Namun uniknya tidak terdapat banyak riwayat tentang nabi menyusun urutan-urutan ayat dan surah-surah Qur’an.

    Pendapat dari Quraish Shihab dalam kata pengantar untuk buku :
    Rekonstruksi Sejarah al Qur’an,
    Taufik Adnan Amal
    FKBA, halaman xvii

    “Namun hampir tidak bisa ditemukan berbagai riwayat yang mengatakan bahwa ayat sekian ditempatkan setelah ayat ini dan sebagainya. Sekiranya ada, maka al Qur’an akan membutuhkan sekian ribu riwayat nabi atau sahabat tentang susunan al Qur’an, mengingat ayat-ayat tersebut diturunkan secara terpisah selama 23 tahun. Karya-karya sedetail Al Burhan dan al Itqan juga tidak menukil riwayat-riwayat tersebut”.

    Pendapat kedua :
    Al-Qur’an disusun berdasarkan kesepakatan para sahabat nabi

    Dikutip dari :
    Al Burhan I halaman 262 karya Zarkasyi :
    Pendapat didasarkan pada hadis dari Imam Malik yang menyatakan :
    “Bahwa urutan surah-surah al Qur’an disusun atas dasar ijtihad mereka (para sahabat nabi) sendiri”

    Urutan surah bukan merupakan hal yang diwajibkan Allah, tapi sesuatu yang berasal dari ijtihad dan kemauan para sahabat sendiri. Karena itu setiap mushaf mempunyai urutan sendiri

    Pendapat ketiga :
    Karena ada 2 pendapat yang bertentangan, maka harus ada pandangan yang berada ditengah-tengah, yaitu urutan Qur’an sebagian berasal dari nabi sebagian berasal dari sahabat-sahabat nabi.

    Dikutip dari :
    Membahas Ilmu-Ilmi Qur’an
    DR Subhi as Shalih
    Pustaka Firdaus, halaman 82
    (catatan : sekalipun Subhi as Shalih tidak sependapat dengan pandangan ini) :
    Al Qadhi Abu Muhammad bin Athiyyah mengatakan, “Semasa hidup rasulullah banyak surah telah diketahui susunan dan urutannya ….. sehingga susunan berdasar kehendak dan petunjuk rasulullah jauh lebih besar, dan yang berdasarkan ijtihad amat sedikit.

    Jadi hampir tidak ada kejelasan sama sekali tentang bagaimana Qur’an disusun.

    Berikut ini diberikan perbedaan susunan 10 sura awal mushaf-mushaf sebelum Usman dan perbandingannya dengan edisi Kairo 1923/24.

    Edisi Kairo Ubay Mas’ud Ibn Abbas Ali b. Abi Talib

    1. Al Fatihah Al Fatihah Al Baqara Al Alaq Al Baqara
    2. Al Baqarah Al Baqarah An Nisa Al Qalam Yusuf
    3. Ali Imran An Nisa Ali Imran Adh Dhuha Al Ankabut
    4. An Nisa Ali Imran Al Araf Al Muzammil Al Rum
    5. Al Maidah Al Anam Al Anam Al Mudatasir Luqman
    6. Al Anam Al Araf Al Maidah Al Fatihah Fush shilat
    7. Al Araf Al Maidah Yunus Al Lahab Adz Dzariyat
    8. Al Anfal Yunus At Tawba At Taqwir Al Insaan
    9. At Tawba Al Anfal Al Nahl Al Ala Al Sajdah
    10. Yunus At Tawba Hud Al Lail Al Naziat

    Sumber :
    Ubay bin Kaab dari Ibn Al Nadim – Fihrist, halaman 61
    Ibn Mas’ud dari Ibn Al Nadim – Fihrist, halaman 57
    Ibn Abbas dari Az Sanjani – Tarikh, halaman 101 – 103
    Ali dari Az Sanjani – Tarikh, halaman 95f

    Terlihat tidak adanya satu keseragaman susunan surah-surah Al-Qur’an pada mushaf-mushaf sebelum Usman. Jadi tampaknya susunah surah itu ditentukan sendiri oleh para penulis mushaf, ada yang mengacu pada panjang – pendek (Ubay dan Mas’ud) ada yang mengacu pada kronologis (Ibn Abbas dan Ali)

    IV. KESIMPULAN

    Dari uraian diatas dapat dikatakan hipotesa Richard Bell sangat masuk diakal.

    Juga dapat dikatakan dengan cukup kepastian adalah :

    1. Penyusunan Al-Qur’an tidak lebih dari sekedar pembundelan catatan-catatan yang dikumpulkan dari berbagai pihak.

    2. Tim penyusun Al-Qur’an tidaklah mengetahui secara pasti kronologis penurunan ayat dan taraf kelengkapannya sehingga ayat yang sudah lengkap dipotong begitu saja ditengah-tengah tanpa adanya kesinambungan cerita.

    3. Klaim Al-Qur’an sudah dihafal luar kepala oleh ratusan/ribuan sahabat nabi tidak lebih hanya ungkapan hiperbolis saja. Jika untuk mengingat urutan saja tidak bisa bagaimana bisa mengingat seluruh Al-Qur’an???

    ——————————————————————————–

    Indeks Utama

    Kuru Setra said:
    Oktober 8, 2007 pukul 6:32 am

    Salam Sejahtera.

    1.
    Saya kutipkan sebagian dari post. Sdr. Naldy No. 88:
    ——————
    “Saya percaya bahawa dari beberapa definisi ini, minda kita sukar untuk menangkap maksudnya; sesungguhnya ia satu misteri. Kita perlu sedar bahawa konsep ini melebihi keupayaan kuasa pemahaman manusia (dari segi mempunyai fahaman yang penuh) dan tidak ada persamaan yang sempurna di dunia ini…..”
    —————–
    Kalau konsep trinity adalah sebuah misteri diluar pemahaman manusia, apakah konsep ketuhanan a la Islam juga diluar pemahaman manusia ?
    (Nampaknya saudara-saudara Kristiani punya dilema yang besar untuk menjawab pertanyaan sejenis ini, apakah jawabannya “ya” atau “tidak”. Sampai sekarang saya belum pernah mendapat jawaban yang tegas atas pertanyaan ini)

    2.
    Pertanyaan berikutnya yang juga tidak ada jawabannya adalah : adakah konsep trinity disebutkan dalam Perjanjian Lama dan di sounding oleh Nabi-nabi seperti Ibrahim, Ishak, Musa, dan lain-lain sebelum Yesus ?

    (Saya akan fokus pada masalah Trinity sesuai dengan judul thread)

    ridwan simanullang said:
    Oktober 8, 2007 pukul 8:30 am

    test

    ridwan simanullang said:
    Oktober 8, 2007 pukul 8:32 am

    H2O saja bisa kok melakukan TRINITY

    H2O beku : Es
    H2O cair : Air
    H2O gas : Uap

    ridwan simanullang said:
    Oktober 8, 2007 pukul 8:40 am

    katakanlah sebuah karya tulis telah ada, kemudian 500 tahun berikutnya keluar satu karya tulis yang isinya sangat banyak sama dengan karya tulis terdahulu namun bagian bagian tertentu telah diputarbalikkan atau dimanipulasi.

    karya tulis manakah yang akan anda percaya?

    Just say somethin said:
    Oktober 8, 2007 pukul 5:25 pm
    comment post 90 1.)Jelas saya juga sukar menerima konsep pemahan islam tentang ketuhanan… pertama saya sukar menerima prinsip keTuhanan yang Anda miliki karena dalam Alkitab dan Al-Quran tertulis Bahwa Isa adalak Kalimah-Nya….(Firman-Nya).bisa dipisahkan kah Firman Allah dengan Allah sendiri?karena Firman berasal dari Allah dan Isa adalah Firman Allah yang Hidup. Firman Yang Hidup?kenapa saya bilang begitu karena saya lebih percaya akan hasrat2 yang Isa miliki sedangkan Nabi – nabi yang lain tidak. Memang Isa tidak pernah berkata “Sembalah Saya!”tapi coba lihat dari hasrat (Kekuasaan yang Isa miliki).Sungguh saya bisa mengetahui bagaimana Bapa (Allah) dari Hazrat yang Ia miliki. Hazrat Isa mengakui kewujudannya yang kekal Mereka berkata kepada Hazrat Isa, “Umurmu belum lagi lima puluh tahun dan kamu sudah melihat Abraham?” Hazrat Isa menjawab, “Apa yang Aku katakan ini benar: Sebelum Abraham dilahirkan, Aku sudah ada.” (Yahya 8:57-58) Hazrat Isa Maha Tahu Apabila Hazrat Isa nampak Natanael datang kepadaNya, Dia berkata tentang Natanael, “Inilah orang Israel sejati; tiada kepalsuan padanya!” Natanael bertanya kepada Hazrat Isa, “Bagaimana tuan mengenal saya?” Hazrat Isa menjawab, “Sebelum Filipus memanggil kamu, Aku telah nampak kamu di bawah pokok ara itu.” (Yahya 1:47-48) Hazrat Isa menjawab, “Pergilah panggil suamimu lalu kembalilah ke sini.” Wanita itu menjawab, “Saya tidak bersuami.” Lalu Hazrat Isa berkata, “Betul katamu bahawa kamu tidak bersuami. Kamu sudah berkahwin lima kali, dan lelaki yang tinggal denganmu sekarang ini bukan suamimu. Memang benar katamu.” (Yahya 4:16-18) Hazrat Isa akan menghakimi segala bangsa Bapa tidak menghakimi sesiapa pun. Dia sudah menyerahkan segala kekuasaan untuk menghakimi orang kepada AnakNya. Oleh itu semua orang menghormati Anak sebagaimana mereka menghormati Bapa. (Yahya 5:22-23b) Hazrat Isa Maha Kuasa Mukjizat-mukjizatNya mengukuhkan kebenaran ini. Memang diakui bahawa nabi-nabi lain juga melakukan mukjizat, tetapi mereka melakukannya dengan memohon kuasa Allah melalui doa. Hazrat Isa tidak melakukan ini kerana sifat keilahianNya berkuasa melakukan mukjizat. Juga perlu dinyatakan di sini bahawa murid-murid Hazrat Isa melakukan berbagai mukjizat dalam nama Hazrat Isa: Tetapi Petrus berkata kepadanya, “Aku sama sekali tidak mempunyai wang, tetapi apa yang ada padaku akan aku beri kepadamu: dengan kuasa Hazrat Isa Kristus orang Nasaret itu, berjalanlah!” (Kisah Para Rasul 3:6). Hazrat Isa berkuasa mengampuni dosa Hazrat Isa melihat bahawa mereka sangat beriman. Oleh itu Dia berkata kepaa orang lumpuh itu, “AnakKu, dosamu sudah diampunkan. Tetapi kepada kamu Aku akan membuktikan bahawa di atas bumi ini Anak Manusia berkuasa mengampunkan dosa. Lalu Hazrat Isa berkata kepada orang lumpuh itu, “Bangunlah, angkat tikarmu, dan pulanglah!” (Markus 2:5,10-11) Hazrat Isa mengaku datang dari syurga “. . . kerana Aku sudah turun dari syurga bukan untuk melakukan kehendakKu sendiri, tetapi kehendak Dia yang mengutus Aku. Akulah roti yang memberi hidup, roti yang turun dari syurga. Orang yang makan roti ini akan hidup selama-lamanya. (Yahya 6:38a, 51a) Hazrat Isa akan membangkitkan semua orang yang mati “. . . Aku harus membangkitkan mereka semua pada Hari Kiamat. Memang inilah kehendak BapaKu: Semua orang yang melihat Anak lalu percaya kepadaNya akan beroleh hidup sejati dan kekal, dan Aku akan membangkitkan mereka pada Hari Kiamat” (Yahya 6:39b-40) Hazrat Isa berkata kepada Marta, “Akulah yang membangkitkan orang mati dan yang memberi hidup. Sesiapa yang percaya kepadaKu akan hidup, meskipun dia sudah mati.” (Yahya 11:25) Kedudukan akhirat semua manusia bergantung kepada tindakbalas mereka kepada identiti Hazrat Isa. Itulah sebabnya Aku berkata kepada kamu, bahawa kamu akan mati dalam dosa kamu. Memang kamu akan mati dalam dosa kamu, jika kamu tidak percaya bahawa ‘Akulah Dia yang menyebut diriNya AKU.’ (Yahya 8:24) Kesemua hakikat ini menunjuk kepada keilahian Hazrat Isa. Semua yang dinyatakan di atas adalah sifat dan hak istimewa Allah yang juga diakui dalam Islam. Apakah dengan menyatakan semua ini, Hazrat Isa tidak berkata dia itu Allah? Seringkali Dia dituduh menghina martabat Allah apabila menyatakan hal-hal di atas. Walaupun Dia tahu bahawa tuntutNya itu akan membawa kepada hukuman mati dia tidak berganjak daripada pernyataan-pernyataannya yang penuh kontroversi itu. Jelaslah bagi Hazrat Isa bahawa segala kenyataanNya adalah benar dan diucapkan dengan akal yang waras. Al-Quran memaparkan Hazrat Isa sebagai seorang yang benar, waras dan terhormat. Jadi, adalah mustahil untuk Hazrat Isa berdusta, apatah lagi sanggup mati untuk kenyataan-kenyataan yang Dia sendiri anggap salah! Jika kata-kata ini tidak diucap oleh Hazrat Isa (seperti yang disarankan sesetengah pihak), apakah Hazrat Isa mahu mati untuk kenyataan-kenyataan dusta orang lain tentang diriNya? Hazrat Isa menyatakan keilahianNya dengan jelas dalam kenyataan-kenyataan dan perbuatan-perbuatanNya yang luarbiasa. Ketika Dia membuat satu pengakuan atau mukjizat-mukjizatNya ada orang yang menyembah Dia. Terdapat banyak peristiwa di mana orang menyembah Hazrat Isa dan dalam setiap peristiwa Dia tidak pernah menolak atau menghalang penyembahan mereka. Kemudian pengikut Hazrat Isa yang di perahu sujud menyembah Hazrat Isa sambil berkata, “Sesungguhnya Engkau Anak Allah!” (Matius 14:33) Tiba-tiba Hazrat Isa datang menemui wanita-wanita itu dan berkata, “Sejahtera kamu.” Mereka menghampiri Dia, memegang kakiNya, dan menyembah Dia. (Matius 28:9) Apabila mereka melihat Hazrat Isa, mereka menyembah Dia meskipun ada di kalangan mereka yang ragu-ragu. (Matius 28:17) Untuk menghargai aspek kehidupan Hazrat Isa ini, marilah kita membandingkannya dengan pengalaman Paulus dan Barnabas. Kedua-dua hamba Allah ini melarang dan mengutuk orang yang menyembah mereka sambil berkata bahawa mereka adalah manusia biasa walaupun mereka berjaya melakukan mukjizat: Imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar bandar, datang membawa lembu jantan dan bunga ke pintu gerbang. Dia dan orang ramai hendak mempersembahkan korban kepada rasul-rasul itu. Apabila Barnabas dan Paulus mendengar apa apa yang akan dilakukan oleh orang di situ, mereka mengoyak-goyak pakaian lalu berlari ke tengah-tengah orang ramai sambil berseru, “Mengapakah kamu melakukan hal ini? Kami pun manusia seperti kamu semua! Kami datang di sini untuk mengkhabarkan Berita Baik supaya kamu meninggalkan berhala-berhala yang tidak berguna itu lalu datang kepada Allah yang hidup, Pencipta langit, bumi dan laut serta semua yang ada di dalamnya. (Kisah Para Rasul 14:13-15). Sebaliknya, Hazrat Isa tidak pernah menghalang sesiapapun yang datang menyembahNya! Keizinan Hazrat Isa sesungguhNya berkata, “Sembahlah saya!” Anak Maryam, Anak Allah Semestinya tidak ada bantahan mengenai Hazrat Isa sebagai anak Maryam. Alkitab menunjukkan bahawa orang yang hidup pada masa Hazrat Isa memang mengakui demikian mengenaiNya. Bukankah dia ini tukang kayu, anak Maryam dan juga saudara Yakobus, Yoses, Yudas, dan Simon? Bukankah saudara-saudara perempuannya tinggal di sini?” Oleh itu mereka tidak mahu menerimanya. (Markus 6:3) Pengertian ini datang dari kehidupan dan rupa Hazrat Isa sebagai manusia. Kerana itu mereka hairan bagaimana Dia, anak seorang wanita biasa dapat melakukan perkara-perkara yang besar. Sememangnya Hazrat Isa seorang manusia, seorang berbangsa Yahudi, anak kepada Yusuf dan Maryam, seorang tukang kayu yang mempunyai beberapa adik-beradik baik lelaki-laki mahupun perempuan. Dia dibesarkan oleh Yusuf dan Maryam dan taat kepada mereka seperti mana-mana anak lain. Setelah itu Hazrat Isa pulang bersama-sama mereka (Maryam dan Yusuf) ke Nasaret dan taat kepada mereka.Ibu-Nya menyimpan semua perkara ini di dalam hati. Hazrat Isa bertambah besar dan bujaksana, dan Dia menyenangkan hati Allah mahupun manusia. (Lukas 2:51-52) Isa Al – Masih tidak Perlu berkata “Sembahlah Saya!” tetapi Isa memberikan Teladan dan menunjukkan Hazrat Ilahi-Nya. YOHANES 10:30 /Aku dan Bapa adalah satu.”(sekali lagi Ia berkata bahwa Ia dan Bapa (Allah) adalah satu.) dan Isa berkata “Akulah Jalan Kebenaran dan hidup tidak ada seorangpun yang sampai kepada BAPA(Allah)kalau tidak melalui AKU(Isa).” (Yoh 14:6). ayat selanjutnya dikatakan bagaimana Ia satu dengan Bapa(Allah).kalau bukan Dia siapa lagi Jalan untuk menuju Allah? Justru Al-Quran menulis hazrat – haszrat yang dimiliki Isa akan KeIlahianNya. Hazrat Isa dalam Al -Quran Dan sebelum Quran, ada kitab Musa (Taurat), jadi ikutan dan rahmat. (Quran) ini kitab yang membenarkan (kitab-kitab dahulu itu) dalam bahasa Arab. (46.Al-Ahqaaf 12) Hanya Isa Anak Maryam yang langsung masuk Syurga kerana Dia suci. (Maryam, 19:19) Bahkan Dia terkemuka di dunia dan di akhirat … (Al Imran, 3:45) Indinash shiraathal mustaqiim” Tunjukilah kami jalan yang lurus … (Al Fatihah, 1:6) Siapa Jalan Lurus bagi kamu? Jawab “Wa innahu la’ilmu lis saa’ati fa laa tamtarunna bihaa wa tabi’unni haadzaa shiraathum mustaqiim…” Dan sesungguhnya Isa itu benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat kerana itu janganlah kamu ragu tentang hari kiamat itu dan ikutlah Aku. Inilah jalan yang lurus … (Az Zukhruf, 43:61) Isalah Jalan Lurus itu Wa lammaa jaa-a ‘Isa bil bayyinaati qaala qad ji’tukum bil hikmati wa li ubayina lakum ba’dhal ladzii tathtalifuuna fiihi fat taqullaaha wa athii’u…” Dan tatkala Isa datang membawa keterangan. Dia berkata sesungguhnya Aku datang membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian yang apa kamu perselisihkan tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaKu… (Az Zukhruf, 43:63) “Dzaalika ‘isabnu Maryama qaulal haqqil ladzil fiihi yamtaruum…” Itulah Isa putra Maryam yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenaranNya… (Maryam, 19:34) “Inamal Masihu ‘isabnu Maryama rasullahi wa kalimatuhu …” Sesungguhnya Isa Al Masih putra Maryam itu utusan Allah dan FirmanNya… (An Nisa, 4:171) Jelas Isa Kalimah Allah Yang Hidup menurut saya. “Isa faa innahu Rohullah wa kalimatuhu…” Isa itu sesungguhNya Roh Allah dan FirmanNya (Hadis Anas bin Malik hal.72) Nah loh Isa dikatakan Roh Allah.Roh Allah berasal dari Allah.Allah Adalah Roh dan Ia ada dalam Isa. “… arsalnaa ilaihaa ruuhanaa fa tamatstsala lahaa basyaran sawiyya.” …Kami mengutus Roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya menjadi Manusia yang sempurna… (Maryam, 19:17) Lebih jelas lagi kan…. “Laa mahdia illa isabnu Maryama…” Tidak ada Imam MAHDI selain Isa putra Maryam… (Hadis Ibnu Majah) Isa AS lahir, mati dan dihidupkan kembali “Wa salaamu ‘alayya yauma wulittu, wa yauma amuutu, wa yauma ub’atsu hayaa.” Dan sejahtera atasNya pada hari Dia dilahirkan, pada hari Dia wafat, dan pada hari Dia dibangkitkan hidup kembali.” (Maryam, 19:33) Kematian dan Kebangkitan-Nya jelas tertulis. “Idz qalatil malaikatu yaa Maryama innallaaha yubasyiruki bi kalimatim minhus muhul masihu ‘isabnu Maryama wajihan fiddun-yaa wal akhirati wa minal muqarrabiin.” Ketika malaikat berkata, hai Maryam sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan Kalimah daripadaNya namannya Al Masih putra Maryam, terkemuka di dunia dan di akhirat dan orang yang paling dekat pada Allah. (Al Imran, 3:45) Hazrat Isa AS yang paling berkuasa dan terkemuka di dunia dan di akhirat. Hasrat Isa AS adalah petunjuk kepada jalan yang lurus. Pengikut-pengikut Hazrat Isa AS dipilih atas orang-orang kafir. Jadi ikutlah Hazrat Isa AS pasti anda akan masuk ke Syurga. Begitu penting Hazrat Isa AS sehingga di dalam Al Quran nama Hazrat Isa AS disebut sebanyak 97 kali. “Wal Iadzii nafsii bi layusyikanna ayyanzila fil kumubnu Maryama hakaman muqsithan” Demi Allah yang jiwaku di tanganNya, sesungguhnya telah dekat masanya ‘Isa Anak Maryam akan turun di tengah-tengah kamu. Dia akan menjadi Hakim yang Adil … (Hadis Shahih Muslim 127) Siapa yang jadi Hakim?Muhammad kah? jelas Isa – Almasih… “Laa mahdiya illa isabnu Maryama” Tidak ada Imam MAHDI selain Isa putra maryam (Hadis Ibnu Majah) … Isa itu Rohullah, Rasullah dan Kalimatullah. (Anas bin Malik hal. 72, An Nisa, 4:171) Maka “Teman Yang Maha Tinggi” itu adalah Isa Al Masih Anak Maryam. “… wattabi’unni haadzaa shiraathum mustaqiim.” …ikutilah Aku, inilah jalan yang lurus. (Az Zukruf, 43:61) Tentang Mujizat,Menurut Anda Isa di beri Mujizat untuk menghidupkan orang mati atas izin Allah…kalau bukan Allah siapa yang punya hak atas menghidupkan orang mati? YOHANES 10:38 /tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.”* (Isa Al- Masih tidak perlu berkata Sembalah Saya” tapi lihat apa Yang Ia lakukan dan Hazrat Illahi yang Ia miliki.) YOHANES 8:23 Lalu Ia berkata kepada mereka: /”Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini.* (Isa Almasih datang dari Allah) YOHANES 8:24 /Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.”* (jikalau kamu tidak pecaya Akulah Dia,saya rasa Anda mengerti bahwa Isa Al – Masih berkata bahwa Ia dan Bapa adalah satu.) Ketahuilah bahwa ‘dengan izin Allah’ (izn) bermakna pemberian kekuasaan/wewenang Allah terhadap hamba-Nya untuk melakukan…apa yang hanya merupakan milik Allah…juga bermakna bahwa hamba itu telah ditugaskan diberi kuasa dari kekekalan, dan telah dibedakan atas kebolehannya. Maka ia adalah sabda Allah dari kekekalan bahwa intisari hamba itu secara alami diturunkan untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut. Dan itulah kepedulian Allah atas hamba-Nya itu. Sebab itulah Al-Qur’an menceritakan pekerjaan-pekerjaan Isa membangkitkan orang mati serta mencipta dari tanah liat itu dengan kata ganti orang pertama: ‘Aku dapat membuat [mencipta]…Aku tiup ke dalamnya…[Aku] menghidupkan orang yang mati’: Aku in datang kepadamu membawa tanda mujizat dari Tuhanmu yaitu aku dapat membuat dari tanah liat ini rangka burung untuk kalian, kemudian aku tiup lalu menjadi seekor burung dengan izin Allah. Dan aku sanggup menyembuhkan orang buta, penyakit sopak [kusta], dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah. Lagi pula aku dapat memberitahukan kepada kalian apa yang kalian makan dan apa yang kalian simpan di rumah kalian masing-masing. Semua ini adalah menjadi tanda buat kalian, kalau kalian benar-benar beriman Sejak penciptaan Adam, Allah memilih hanya seorang dari antara milyaran orang yang telah hidup, dan ratusan nabi-nabi yang Dia telah utus untuk diangkat naik ke sisi-Nya. Al-Qur’an mengatakan: Hai Isa! Aku akan mewafatkan engkau, dan mengangkat derajatmu di sisi-Ku. [155] Bagaimana seorang manusia biasa bisa diangkat ke sisi Allah sendiri? Bagaimana bisa seorang manusia biasa berdiri di depan Kemuliaan, Kuasa dan Kesucian Yang Maha Tinggi? Razi mengulas bahwa dalam ayat di atas Allah seraya berkata: ‘Aku mengangkatmu ke dalam Hadirat Kehormatan Ku’. Tapi bagaimana suatu makhluk bisa diangkat ke tempat Kehormatan Allah? Untuk hampir 2000 tahun sejak dia berjalan di bumi ini, Isa telah tinggal bersama Allah, jauh lebih tinggi dari para malaikat dan manusia, menikmati wajah Allah dan dikasihi oleh Allah. Dengan pengangkatan Ilahi,Isa sesungguhnya lebih tinggi dari segalanya. Dia hidup dan bersama Allah. Inilah hormat yang tertinggi sepanjang masa, zaman dan abadi. Al-Qur’an menyatakan: Tidak sama orang yang buta dan orang yang melihat. Tidak pula sama gelap gulita dengan cahaya. Tidak pula sama yang teduh dengan yang panas terik. Tidak pula sama orang yang hidup hati nuraninya. Sungguh Allah dapat membuat siapa saja yang Dia kehendaki mampu mendengar. [156] Jika di sini dan waktu ini, di bumi ini di mana yang hidup itu tidak sama dengan yang mati, apa lagi apabila yang hidup itu hidup bersama Allah! Untuk hidup di sini adalah satu hal; dan untuk hidup bersama Allah adalah hal yang berlainan sama sekali. Karena bagi dia yang hidup bersama Allah harus memiliki kebolehan untuk hadir dalam tingkat hidup yang tak bisa dibayangkan. Dia mesti mempunyai kualitas hidup dalam dirinya yang membuat dia begitu biasa dengan Kemegahan dan Kekudusan Allah. Jika seorang insan itu tidak layak untuk berada dalam hadirat Allah, dia akan menarik diri dengan sukarela, jika tidak dia akan dimusnahkan oleh Kemegahan Allah. Isa memiliki baik kebolehan maupun kualitas untuk bersama dengan Allah. Bukhari menyebut Hadis berikut yang disahkan oleh ‘Aisha: Siapa saja yang menggugat bahwa Muhammad melihat Tuhannya melakukan satu kesilapan besar, bahwa dia [Muhammad] hanya melihat Jibril dalam bentuk aslinya di mana dia telah diciptakan. [157] [Perhatikan bila Hadis menyebut tentang Jibril, ia bermaksud Malaikat Jibril] Mengenai kemungkinan bagi seseorang melihat Allah, Al-Qur’an menyatakan: Tatkala Musa datang pada waktu yang telah Kami tetapkan itu dan Tuhanpun telah berbicara langsung dengannya, berkatalah Musa: Wahai Tuhanku! Perlihatkanlah diri-Mu kepadaku, agar aku dapat melihat-Mu. Allah berfirman: “Di dunia ini tidak mungkin engkau dapat melihat Aku. Tetapi baiklah, lihatlah bukit itu! Kalau bukit itu masih tetap tegak di tempatnya semula mungkin engkau dapat melihat Aku”. Tatkala Tuhan mula menyingkap nur-Nya kepada bukit itu, dengan serta-mesta hancur luluhlah bukit itu. Musapun tersungkur jatuh pingsan. Setelah Musa sadar kembali berkatalah ia: “Maha Suci Engkau! Aku bertobat kepada-Mu! Aku orang yang pertama mula beriman.” [158] Menurut ayat ini Allah menjawab permintaaan Musa dengan satu kenyataan dan satu illustrasi. Keduanya adalah begitu terang sekali, meyakinkan dan sempurna. Kenyataan itu ialah “Engkau tidak bisa melihat Aku’. Illustrasi itu ialah penglihatan-diri yang Allah tunjukkan kepada bukit tersebut. Pengajarannya ialah: jika Allah menunjukkan diri-Nya kepada Musa dan bukannya bukit itu, Musa mungkin akan hancur lebur menjadi debu. Penterjemahan bagi kata ‘sa’akan’ dalam ayat di atas ialah ‘jatuh pingsan’ sebenarnya tidak memberi arti yang sebenarnya. Kata dasar bagi kata itu berarti ‘mati’, menurut satu kosakata (lexicon) Al-Qur’an. [159] Maka penterjemahan yang lebih tepat ialah Musa jatuh tersungkur seolah mati. Allah tidak menampakkan diri-Nya kepada Musa tetapi kepada bukit; namun walaupun begitu, Musa jatuh seolah mati. Jika ini hanyalah satu kesan sampingan penampakan Allah kepada bukit, apa yang akan terjadi jika Allah menampakkan diri-Nya kepada Musa seperti yang dipintanya itu? Jika hanya untuk melihat Allah begitu mustahil sekali untuk seorang nabi besar seperti Musa, siapakah Isa, yang bukan saja melihat Allah, tetapi juga diangkat naik ke sisi Allah? Dan bukan untuk sehari, tetapi sudah hampir 2000 tahun! Dari Tanah ke Tanah atau Dari Allah ke Allah Hanya dia yang datang dari Allah yang mampu untuk bisa bersama Allah. (Ingatlah, Al-Qur’an menyatakan bahwa Isa ialah ‘Roh dari-Nya’ [160] ) Hanya dia yang datang dari Allah bisa balik untuk bersama-sama dengan Allah. Hanya Firman Allah, Isa, yang bisa mencari kembali tempatnya di dalam Allah, secara sah dan alami. Manusia lain adalah dari tanah dan kepada tanahlah mereka pergi, tapi Isa ialah dari Allah dan kepada Allah dia pergi, dan untuk bersama Allah dia pergi. Ini hanya mungkin terjadi jika Isa ialah Firman Allah yang Kekal. Sekali lagi kalau kita perhatikan hal ini adalah konsisten dengan interpretasi di mana Isa diperkuat dengan Roh Suci. Jika Isa berada dalam Kemahaan Keluhuran Ilahi yang sukar digambarkan ketika dia berada di bumi, maka adalah alami baginya untuk berada di Kemahaan Keluhuran Ilahi yang tidak bisa digambarkan di dalam hadirat Allah. Razi mengulas ayat Al-Qur’an, 4:158 bahwa: Pengangkatan Isa kepada Allah sebagai satu taufik adalah lebih besar dari Firdaus dan segala yang ada di dalamnya dan kenikmatan-kenikmatan fisiknya. [161] Isa tidak perlu menunggu untuk diberi ganjaran, seperti manusia-manusia lain yang terpaksa menunggu hingga Hari Kiamat. Nabi Idris diangkat ke suatu tempat tinggi menunggu Hari Kiamat, tapi ganjaran Isa ialah yang segera, dan merupakan kehormatan yang tertinggi sepanjang zaman dan abadi. Karena Allah itulah taufiknya. Semua manusia lain akan menghadapi Hari Kiamat untuk menerima balasan dan hukuman mereka. Tapi menurut ayat ini, bagi Isa sendiri tidak ada Hari Kiamat. Karena tidak ada apa-apa yang perlu dihakimi untuknya. Sama halnya bila kita meningat kembali penemuan Dr. Mustafa Mahmoud yang mengatakan: Roh tersebut tidak mempunyai tempat di Firdaus ataupun Neraka, tapi ia adalah nur cahaya dari terang Allah, berhubungan dengan Allah. Roh datang daripada-Nya. Ia tidak boleh tunduk kepada percobaan atau penghakiman, atau hukuman atau ganjaran, tapi ia adalah contoh tertinggi dalam ayat-ayat Al-Qur’an, ‘Allah mempunyai sifat-sifat yang sangat tinggi. Dia Maha Kuasa dan Bijaksana’ (16:60) dan ‘Kepunyaan Dialah Cita Tertinggi dan Terindah di seluruh langit serta bumi ini. Dialah yang Maha Perkasa dan Bijaksana’ (30:27). Ia adalah dunia sinar pancaran kesamaan yang didatangkan dari sinar serta kesuciannya bersama dan ‘dari’ Allah dan ‘dari’ perintah-Nya. [162] Adalah tidak aneh untuk menemukan bahwa Isa, tidak takluk kepada pencobaan atau penghakiman; dan tidak juga aneh untuk menemukan bahwa dia tidak berada di Firdaus tetapi bersama Allah. Karena dia datang dari Allah. Pengangkatan Isa ialah kata terakhir Allah ke atas Keilahian Isa, Firman-Nya dan Roh-Nya itu. Dia Tidak Berdosa Dari mulai Adam sampai kepada kita di zaman ini, semua manusia telah berdosa. Ghazali mengatakan bahkan ‘para nabi, yang tertinggi di kalangan manusia, secara terus-menerus meminta ampun dan menyesali dosa-dosa mereka’ [163] . Ada yang sudah bertobat dan meminta pengampunan dari Allah. Dari Adam sampai kepada Muhammad dan sesudahnya semuanya telah berdosa. Bukhari mencatatkan doa Nabi Muhammad berikut: Ya Allah! Ampunilah kesalahan-kesalahanku dan kelalaian serta perbuatan-perbuatanku yang melampaui batas kemuliaan; dan ampunilah apa saja yang Engkau mengetahui lebih daripada aku sendiri. Ya Allah! Ampunilah kesalahan yang aku telah lakukan samada secara berolok-plok atau serius, dan ampunilah kesilapan-kesilapanku baik yang disengajakan ataupun tidak, dan segala yang ada pada diriku’ [164] Hanya ada satu pengecualian saja yaitu Isa. Dia tidak pernah berdosa. Dia tidak pernah melakukan satupun kesalahan. Dia tidak pernah melampaui batas Allah baik secara sukarela maupun ketidaktahuan, sengaja atau tidak sengaja, secara berolok-olok ataupun serius. Dia tidak pernah meminta ampun. Dia tidak pernah menyesali perbuatannya. Bukhari menyebutkan tentang satu Hadis di mana manusia pergi kepada nabi-nabi yang berlainan untuk berdoa sebagai perantara bagi mereka, dan bagi mereka semua Hadis menyatakan mereka berdosa kecuali Isa Al Masih. [165] Bukan saja orang-orang beriman di waktu terdahulu seperti halnya Bukhari percaya bahwa Isa tidak menpunyai dosa. Seorang penulis moden menulis: Oleh karena itu Isa bebas dari noda-noda kejahatan dan kotoran….Kesucian ini, sejak Adam ada sampai dia disentuh oleh jari Syetan yang berakibat ia kehilangan kesucian tersebut, sekarang hanya tersisa ada pada Isa saja. [166] Jadi, tidak seperti Adam, yang telah dikalahkan oleh Syetan, Isa mengekalkan kesuciannya sepanjang hidupnya, dan dengan itu mengalahkan Syetan dengan kesetiaan yang sempurna kepada Allah. Di dalam keseluruhan Al-Qur’an, kita tidak pernah diberitahu bahwa Isa telah disuruh menjadi seorang Muslim atau Isa adalah seorang Muslim. Masalah ini cukup jelas (signifikan) karena ada dua sebab: Pertama, menjadi seorang Muslim menunjukkan iman kepada satu Allah yang tidak kelihatan. Syarat untuk beriman tersebut mengandung arti ada kekurangan pengetahuan tangan pertama. Karena tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah, hanya dengan iman kita tahu akan Dia. Ini berlaku bagi semua manusia. Tapi tidak demikian halnya dengan Isa, karena Dia datang dari kodrat Allah. Pengetahuannya terhadap Allah adalah langsung dan dari tangan pertama. Kedua, menjadi seorang Muslim bermaksud menyerah kepada Allah tetapi itu tidak terjadi pada Isa. Isa tidak diperintah untuk menjadi seorang Muslim karena dalam sepanjang hidupnya, tidak perlu membuatnya menyerahkan diri pada Allah. Dia adalah sempurna dalam segala hal. Seperti yang Tirimizi tuliskan: ‘Allah telah menambatkan hatinya sepanjang hayatnya…Dia adalah kepunyaan Allah di bumi-Nya!’ [167] Perhatikan juga bahwa dalam petikan awalnya yang membicarakan tentang Roh sebagai tergolong dalam ‘dunia kesamaan terang yang mendapatkan kesucian dan nur cahaya “bersama dan dari” Allah’ [168] , Isa digolongkan ke dalamnya oleh Dr. Mustafa Mahmoud. Penjelasan tentang Roh oleh Dr. Mustafa Mahmoud ini benar bagi Isa karena Isa adalah “Roh Allah” itu. Dia kepunyaan dan tergolong dalam dunia kesamaan terang Allah, dengan segala kesucian, ketinggian dan kesempurnaannya. Jilani mengatakan bahwa ‘ketidak-taatan ialah satu yang tidak dapat dielakkan [hasil] dari kegelapan, dan ketaatan ialah satu yang tidak dapat dielakkan [hasil] dari terang’ [169] . Kelakuan dan kehidupan Isa di bumi adalah sesuatu yang tanpa cela dan noda dan ketaatannya adalah lengkap dan penuh. Dia memanifestasikan kodrat Allah, yaitu Terang dari Terang. Di dalamnya tidak ada kegelapan langsung. Di dalamnya tidak ada bayangan gelap dan terang, hanya terang yang sempurna. Allah adalah Sempurna dan Isa adalah Sempurna. Persamaan ini cukup mudah dimengerti, tetapi sungguh kuat dalam menetapkan bahwa Isa Al Masih adalah Firman Allah yang Kekal dan Sempurna. Ketiada-dosaan Isa ditunjukkan oleh kebersamaan-Nya dengan Roh itu Perhatikan bahwa keterangan di atas adalah konsisten dengan Isa sebagai satu-satunya orang yang ‘diperkuat dengan Roh Suci’. Kebersamaan yang kekal antara Roh Suci dan Isa itu menyatakan kepada kita sesuatu yang sangat penting mengenai pribadi Isa. Jilani menekankan bahwa Roh Suci itu ialah ‘Roh Kekudusan, yang berlainan dari wujud fisik yang bercela dan lemah’. [170] Dalam kata lain, Roh Allah itu ialah satu Roh kebenaran dan kesucian, dan oleh karena itu tidak boleh dikompromikan atau hadir bersama dengan dosa sekecil apapun. Namun, Roh Suci ini adalah kekal berserta Isa. Ini adalah satu bukti bahwa Isa telah menjalani satu hidup yang murni dan tidak bernoda, dan bahwa dia layak menerima penyataan Al-Qur’an gelar mubarak (yang diberkahi). [171] Jika sekiranya terdapat satu perbuatan atau pikiran dalam diri Isa yang tidak disenangi Allah, Roh Suci itu sudah tentu telah meninggalkan Isa sekurang-kurannya untuk seketika selama ketidak-taatannya itu, tapi ternyata tidak begitu halnya dengan Isa. Kemurnian dan kesucian pribadi Isa adalah dalam satu kesatuan dengan Roh Allah, Roh kesucian itu. Keharmonisan total antara Isa dan Roh Allah itu tidak pernah dialami oleh siapapun. Isa adalah satu-satunya orang yang memenuhi syarat untuk berhubungan dengan Roh yang sempurna, tidak ada tandingan dan tidak terganggu. Seharusnya demikian jika dia adalah manifestasi Allah dalam dirinya. Tidak ada siapapun yang bisa berada dalam satu keharmonisan total dengan Roh Allah kecuali dia yang datang dari Allah. Sebab itulah Isa dilahirkan tanpa dosa – untuk melayakkannya diperkuat oleh Roh Suci secara kekal dari awal hidupnya, agar dia dapat menyatakan Allah Yang Sempurna itu kepada umat manusi Isa tidak Berdosa lalu mengapa Ia tidak berdosa?karena Ia adalah Roh Allah yang berasal dari Allah.sedangkan Nabi lain tidak. MATIUS 28:18 Yesus mendekati mereka dan berkata: /”Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.* (hanya Isa Al-Masih yang diberi segala kuasa di sorga dan dibumi) MATIUS 28:19 /Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,* MATIUS 28:20 /dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”* Kemudian saya Mengimani Kristus karena Ia adalah Rahmat Allah Bersumber dari Jabir, beliau bersabda: “Aku mendengar Nabi saw. Bersabda: “Tak seorangpun diantara kalian dimasukkan oleh amalnya ke dalam surga dan tidak pula diselamatkan dari neraka begitu pula aku, kecuali dengan rahmat dari Allah. (Hadits Shohih Muslim Oleh KH.Adib Basri Mustafa hal. 819 no. 77) Bandingkan dengan Alkitab: “Sebab karena kasih karunia (rahmat Allah-red) diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah”. (Efesus 2 : 8) Jelas Tak seorang pun yang dapat dimasukkan amalnya ke dalam Surga kecuali RAHMAT Allah.Keselamatan hanyalah karena Kasih karunia Allah dan kami percaya bahwa Allahlah yang menyelamatkan kami lewat Isa Al-Masih yang penuh dengan Roh Allah. YOHANES 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Maryam berkata, “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezinah!” Jibril berkata: “hal itu adalah mudah bagiku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal ini itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.” (QS. 19 Maryam 20-21) Isa adalah RAHMAT Allah sendiri yang datang kepada manusia.dan itu sudah diputuskan!! Karena Isa Al-Masih adalah Suci dan tidak berdosa Ketiada-dosaan Isa Ditunjukkan dengan Dia Diangkat ke Sisi Allah Kita diberitahu bahwa Isa telah diangkat ke sisi Allah, namun bila dia ada dosa dia pasti tidak akan dapat bersama Allah. Karena jika Isa telah melakukan satu dosa atau mengabaikan satu perbuatan baik, dia tidak boleh hadir di dalam hadirat Allah yang Maha Suci. Kehidupannya yang tanpa dosa itu bukanlah satu yang relatip tetapi satu kesempurnaan yang Ilahi. Kesempurnaan ini bukanlah dinilai atau diukur oleh standar-standar manusia tetapi dengan standar Ilahi, karena standar-standar manusia tidak akan melayakkan siapapun untuk diangkat ke sisi hadirat Allah. Pengangkatan Isa ialah suatu bukti bahwa hidupnya yang tanpa dosa dipunyai oleh tingkat Tertinggi itu. Al-Qur’an menyatakan bahwa Isa ialah ‘hamba Allah’ (‘Abdu’llah) itu [173] . Akhli-akhli Sufi percaya bahwa hamba ini: Merupakan penganut yang sempurna, di mana keatasnya Yang Maha Kuasa telah memanifestasikan semua Nama-nama-Nya; bahwa dia adalah lambang atau ringkasan kesemua yang perlu ada pada seorang ‘penganut’; dan dengan menyadari Nama-nama Allah, yaitu nama yang tertinggi dan meliputi semua Sifat-sifat Ilahi, dia mencapai tahap ketenteraman dan derajat kesempurnaan yang paling luhur yang bisa dicapai oleh manusia. [174] Kesucian dan kesempurnaan ini ialah sesuatu yang berlainan dari apa yang dimiliki oleh para malaikat, karena tidak ada satu malaikatpun Yang Maha Kuasa manifestasikan atas semua Nama-nama-Nya. Dan di atas semua itu, tidak ada satupun dari kalangan para malaikat yang telah “menyadari” Nama Allah, yaitu nama yang tertinggi. Sifat hamba Isa ini tidak terganggu sejak dia dilahirkan sampai dia diangkat. Dia adalah seorang penganut yang sempurna sejak dari buaian. “Kesadarannya” akan Nama Allah tidak datang dari proses usaha dan perjuangan dalaman pribadinya, tetapi adalah kepunyaannya dengan kebajikan sifat-sifat dasarnya, dari keabadian sebagai Firman Allah yang Kekal itu. Sekarang jika, dari saat-saat pertama kehidupannya di bumi, dia sudah berada di dalam derajat kesempurnaan yang paling luhur yang bisa manusia capai, apa lagi yang perlu dicapai olehnya sepanjang hayatnya itu? Tidak ada! Dia sudah diberi derajat kesempurnaan yang paling luhur. Dengan menyadari bahwa tidak ada seorangpun yang telah memanifestasikan Nama Ilahi seperti Isa (walaupun ada yang menggugat telah bebbuat demikian, tapi tanpa bukti-bukti yang bisa disyahkan), kita akan lantas bertanya: Mengapa perlu yang lain berusaha keras untuk mencapai dan mengekalkan satu tingkat kesucian yang terbatas, sedangkan Isa telah diberi kesempurnaan sejak lahir? Jika Isa tidak Ilahi dengan Keilahian yang mutlak, maka manifestasinya akan Nama Allah yang cukup luas [175] tidak mungkin benar. Karena jika Keilahiannya itu tidak mutlak tetapi relatip (jika persoalan tersebut memungkinkan), ia akan kekurangan kebesaran Allah, lalu ia adalahmerupakan perwakilan Allah yang tidak benar. Karena tidak ada yang relatip bisa mewakili dan menunjukkan apa-apa yang mutlak. Relatip hanya bisa menunjukkan yang relatip dan mutlak menunjukkan yang mutlak. Ada orang yang mungkin membantah bahwa Isa mencapai hanya derajat kesempurnaan paling luhur itu saja yang bisa dicapai oleh manusia, maka itu berbeda pencapaiannya dari yang ilahi. Jika kita melihat akan semua sifat-sifat ilahi yang Isa manifestasikan, kita akan dapati bahwa dia tidak memanifestasikan mereka pada tingkat manusia tertinggi, tetapi dia memanifestasikan sifat-sifat Allah itu. Sebagai contohnya, bila dia berhadapan dengan orang mati, dia tidak memberikan satu penyelesaian tingkat manusia setinggi apapun yang mungkin. Tidak. Dia membangkitkan orang mati dengan satu ucapan, sama seperti yang Allah akan lakukan. Begitu juga dengan perbuatannya dalam mencipta, bukan satu pencapaian tertinggi yang bisa seorang manusia capai, tetapi ia adalah satu penciptaan ilahi, daripada tanah dan dimasukkannya nyawa dengan cara penghembusan, sama seperti yang dilakukan oleh Allah. Adalah penting juga untuk kita perhatikan bahwa Isa dalam kehidupannya yang suci dan tanpa dosa tidak menunjukkan kesempurnaan tertinggi malaikat atau manusia, tapi memanifestasikan Nama Allah yang cukup luas itu. [176] Jika kesuciannya hanya bisa dibandingkan dengan apa yang dimiliki oleh para malaikat, dia pastinya akan jauh daripada manifestasi Nama Allah yang cukup luas itu. Tetapi sebaliknya, kesucian Isa adalah terlalu besar sehingga dialah sumber berkah kepada para malaikat. Dr. Mustafa Mahmoud dalam memetik al-Hasan al-Basri, mengatakan: Allah mengingini dia [Isa] untuk bersama dengan para malaikat agar mereka mencapai berkahnya (baraka), karena dia ialah Firman Allah dan Roh-Nya. [177] Jadi Isa ialah sumber berkah di syurga dan juga di bumi. Kesempurnaannya bukan sesuatu yang pasif tetapi sesuatu yang aktip, agar kedua-dua malaikat dan manusia menimba dari berkahnya. Kesimpulan Menurut akhli-akhli Sufi, ‘setiap insan mempunyai satu nafs-e nasut, yakni satu nafsu jiwa manusia yang dikendalikan. Ahli-ahli filsafat memanggilnya sebagai “roh hewan” (ruh haiwaini), dan dasar jiwa manusia inilah yang menghalangi penyatuan manusia dengan alam Ilahi’ [178] Dr. Javad Nurbakhash menulis: Jika hanya anda bisa memerdekakan diri anda dari jiwa manusia dan nafsu-nafsunya, dengan cara bertapa sebagai bentuk penyangkalan-diri dan penghapusan-diri, barulah anda secara otomatis bisa mencapai keadaan suatu tingkat, seperti Al Masih, kediaman paling dalam istana Ilahi (Lahut), yaitu tahap Wahadat Intisari Ilahi, dan menjadi diberkati dengan keabadian. [179] Pencapaian ini tidak pernah menjadi satu realitias sejarah kecuali dalam Isa. Jelaslah tidak ada orang yang melakukan seperti yang dilakukan oleh Isa. Kehidupannya yang tanpa dosa dan kesuciannya tidak dibantu oleh siapapun, sehingga membuat penyair ‘Attar menyeru kepada Allah untuk membersihkan jiwanya, dengan Isa Al Masih menjadi model didepan matanya: Bersihkan aku, Ya Tuhan, dari jiwa yang ternoda ini, Agar aku bisa mencapai kesucian abadi untuk diriku, seperti Isa. [180] Penyatuannya dengan Intisari Ilahi dan keabadiannya bukanlah keputusan dari petapaan penyangkalan-diri, tapi adalah kepunyaannya sejak lahir. Sepanjang hidupnya ketaatannya kepada Allah adalah lengkap dan sempurna. Dan dengan itu Isa menghormati Allah dengan hormat yang layak bagi Allah itu. Dia adalah Manusia Sempurna dalam Sifat hamba yang lengkap, dan melalui kemanusiaan dan Sifat hambanya, Keilahiannya memancar. Muhammad Mahmoud Taha, dalam bukunya The Second Message of Islam mengatakan: Adalah lengkap ditegakkan bahwa tiada seorangpun yang akan menghormati dan takut akan Allah seperti yang Dia layak dihormati dan ditakuti kecuali Diri-Nya Sendiri. Dan maka Dia [Sendiri] ialah tangga yang menuju kepada Tuhan semua tangga-tangga dalam tempat Kemuliaan-Nya, melalui Sifat hamba, kerendah-hatian dan kepatuhan….Sifat hamba adalah suatu yang kekal…sama seperti Ketuhanan itu kekal….Sifat hamba mutlak menuntut pengetahuan akan Allah secara mutlak, dan ini [pengetahuan akan Allah secara mutlak] kepunyaan hanya bagi Allah… [181] Kemanusiaan dan ketaatan tidak melambangkan ketidak-hadiran yang Ilahi; tetapi, jika dijumpai dalam ukuran sempurna mereka, mereka adalah satu bukti Keilahian. Karena ketaatan mutlak menuntut pengetahuan akan Allah yang mutlak, dan pengetahuan mutlak akan Allah itu hanya kepunyaan Allah semata. Kesempurnaan Isa di bumi ialah satu bukti pengetahuan mutlaknya akan Allah yang berada di syurga, begitu juga sebaliknya hal itu merupakan satu bukti Keilahiannya. Sekali lagi, kesimpulan ini adalah konsisten dengan semua yang telah kita sebutkan atau bahaskan sebelumnya, terutamanya mengenai kepercayaan bahwa Isa adalah satu-satunya yang datang dari Allah, yang mempunyai sifat-sifat dasar Allah dan tahu Allah dalam arti kata yang mutlak. Kesempurnaan Allah diperkuat lagi dengan Al-Qur’an, Hadis dan tulisan-tulisan Sufi. Ia adalah satu ciri pribadinya yang menakjubkan. Jika pembaca ditanya untuk menamakan seorang yang tidak pernah berdosa dalam satu perkarapun (katakan, iri hati) sepanjang hayatnya, pembaca tidak akan bisa menamakan siapa seseorang itu. Hadis mengatakan ‘Syetan bercokol di dalam pikiran manusia seperti aliran darah di dalamnya.’ [182] Satu lagi Hadis mengatakan Muhammad selalu ‘meminta ampun dan berpaling kepada Allah di dalam pertobatan lebih dari tujuh puluh kali sehari’ [183] Dengan kata lain, tidak ada seorangpun yang sempurna dalam satu cara pasif (yakni tidak melakukan apa-apa kesalahan dalam hidupnya). Isa bagaimanapun, adalah sempurna dalam cara pasif di semua aspek kehidupannya; setiap hari dalam hidupnya. Sekali lagi, jika pembaca disuruh menamakan seorang yang sempurna dalam hanya satu sifat kebajikan (yakni melakukan sesuatu kebajikan dengan aktip) hanya sehari dalam hidupnya, anda pasti tidak bisa mencari orang seperti itu. Mungkin ada beberapa ukuran sifat kebajikan dalam diri beberapa orang tertentu tetapi tidak akan sampai ke satu tahap kesempurnaan. Dalam kata lain, tidak ada seorangpun yang sempurna dalam cara yang aktip walau hanya untuk sehari saja. Al Masih sebaliknya, adalah sempurna dalam satu cara aktip dalam setiap sifat kebajikannya sepanjang hidupnya di bumi. Bila para olahragawan-olahragawati berdiri di garis pacu untuk bertanding dalam acara Olimpiade seperti perlumbaan lari, mereka harus diuji dirinya sebelum mendapat tempat. Prestasi yang bisa dicapai diperbandingkan antara peserta lomba. Perbedaan di antara peserta lomba mungkin hanya beberapa saat saja untuk sampai di garis. Apabila kita membandingkan Isa, tidak ada seorangpun yang layak berdiri di sisinya. Tidak ada seorangpun yang bisa menandinginya. Tidak ada seorangpun yang sempurna walau dalam satu bagian untuk melayakkan diri dalam pertandingan tersebut. Ini sungguh menakjubkan. Sebab itulah dia saja yang layak untuk bersama Allah. ‘Terpujilah bagi dia yang tidak berdosa, dan bebas dari kesalahan’ [184] , begitulah bunyi satu ungkapan terkenal. Ungkapan ini melebihi semua makhluk yang tercipta. Dan bukan hanya ditujukan kepada Allah, tetapi juga kepada Isa. Hanya Allah yang sempurna dan tidak berdosa. Dan begitu juga dengan Isa Firman-Nya. Jadi Isa adalah kepunyaan Yang Ilahi Sempurna dan bukannya orde tercipta. SIFAT-SIFAT DASAR AL-MASIH ISA : PENGESAHAN BUKTI-BUKTI (II) Firman Kehidupan Kekal Ada Bersamanya Kuasanya untuk Menghapus dan Mengampuni Dosa-dosa Manusia Dia Adalah Pengetahuan Tentang Hari Kiamat Ciri-ciri Penghakiman Isa Dia yang Memusnahkan Si Dajjal Gambaran-gambaran Isa Al-Qur’an, atau Kitab Allah Nama Keagungan Allah Wajah Kehidupan Yang Akan Datang Kesimpulan Dalam bab ini kita meneruskan perbahasan kita tentang kesimpulan bahwa Isa Al Masih adalah Firman Allah yang Kekal itu. Firman Kehidupan Kekal Ada Bersamanya Kerinduan manusia untuk Kehidupan Kekal itu sama usianya dengan kehidupan manusia itu sendiri. Namun Adam telah diperdaya dan mengingkari Allah. Akibatnya, bersama-sama dengan Adam seluruh umat manusia kehilangan Firdaus. Al-Qur’an mengatakan: Lalu Syetan memperdayakannya seraya berkata: “Hai Adam! Maukah engkau ku tunjukkan pohon Khuldi, dan sebuah Kerajaan yang tidak akan pernah runtuh?” Lalu keduanya Adam dan Hawa memakan buah pohon itu, maka terbukalah kemaluannya, lalu keduanya menutupi dengan daun-daun kayu syurga. Adam tidak mematuhi pesan Tuhannya, karena itu dia tersesat. [185] Allah berfirman: “Turunlah kalian dari syurga itu bersama iblis sekalian, sebagianmu menjadi musuh oleh yang lain. Nantilah sampai datang petunjuk daripada-Ku! Siapa yang menuruti petunjuk-Ku itu, niscaya dia tidak akan sesat dan sengsara!” [186] Tapi jika musuh Allah itu ialah seorang pendusta, maka Allah adalah benar. Dialah yang sebenarnya memberi Kehidupan Kekal dan sebuah kerajaan yang tidak akan pernah runtuh. Al-Qur’an menjanjikan: Sesungguhnya mereka yang sudah lebih dahulu mendapat taufik dari Kami, mereka dijauhkan dari neraka itu, bahkan mendengar deru api neraka sajapun tidak. Mereka berketerusan menikmati kebahagiaan yang dingini oleh dirinya. Mereka tidak digentarkan oleh kejutan dahsyat pada hari kiamat, bahkan mereka disambut mesra oleh malaikat dengan ucapan: “Inilah Hari-bahagiamu yang pernah dijanjikan kepadamu dahulu”. [187] Razi memberitahu kita bahwa ketika Isa memanggil pengikut-pengikutnya, dia berkata kepada mereka: ‘Sekarang kalian menangkap ikan, tapi jika kalian mengikut aku kalian akan menangkap manusia untuk Kehidupan Kekal.’ Lalu mereka meminta satu mujizat darinya. Simion telah coba menangkap ikan semalaman tapi tidak dapat seekorpun. Isa menyuruhnya menabur jalanya sekali lagi, dan sekarang mereka dapat menangkap begitu banyak ikan sehingga jala mereka hampir koyak. Lalu mereka meminta bantuan dari sebuah perahu yang berdekatan, dan kedua perahu itu sarat dengan ikan. Lalu merekapun percaya akan dia. [188] Pengikut-pengikut itu menginginkan bukti agar jika mereka mengikuti Isa mereka akan menangkap manusia untuk Kehidupan Kekal. Isa menyediakan bukti itu – bukti yang dilihat oleh mata mereka dan disentuh oleh tangan mereka sendiri. Bukti ini begitu berlimpah-ruah sehingga ia menegangkan jala mereka dan berlimpah-ruah sampai ke tetangga-tetangga mereka. Mereka menyadari bahwa mereka mendapatkan hak istimewa bukan saja ditangkap oleh Isa bagi Kehidupan yang Kekal, tapi juga untuk menangkap orang lain bagi Kehidupan dengan firman-firmannya. Isa adalah nelayan yang teragung. Dia mengajar pengikut-pengikutnya, yang kebanyakannya bekerja sebagai nelayan, bagaimana caranya menangkap manusia untuk Kehidupan Kekal. Seorang nelayan meninggalkan daratan untuk turun ke laut dengan satu tujuan utama untuk membawa hasil ikan. Dan segera setelah dia dapat menangkap ikan, dia akan kembali ke daratan. Isa datang dari Keabadian untuk membawa kembali manusia ke Keabadian. Baidawi mengatakan, ‘Dia dipanggil sebagai roh karena dia pernah membangkitkan tubuh yang mati dan hati yang mati kepada kehidupan’. [189] Dia juga mengatakan Isa dipanggil sebagai Firman Allah karena ‘dia seperti Kitab Allah’, [190] karena dengan kata-katanya agama menjadi hidup, jiwa manusia menjadi hidup kekal, dan manusia dibersihkan dari dosa-dosanya. [191] Dengan Isa tidak akan ada kata-kata ‘jika’, ‘tetapi’ atau ‘mungkin’. Bila seseorang itu sudah tertangkap, dia akan tertangkap selama-lamanya. Kepastian Kehidupan Kekal yang diberikan melalui firman-firmannya itu diperkuat dengan pembangkitan Isa akan orang-orang mati dengan izin Allah. Jadi Isa bukan saja membangkitkan tubuh dan hati yang sudah mati kepada kehidupan; dia juga memberi Kehidupan Kekal kepda jiwa manusia dengan kata-katanya. Ingatlah: kenyataan Baidawi bahwa jiwa manusia hidup selama-lamanya oleh kata-kata Isa telah dibuat dalam konteks Isa diperkuat dengan Roh Suci, di mana Razi menyatakan: Pemberian esklusif Jibril kepada Isa [dalam teks-teks Al-Qur’an menyatakan Roh Suci, bukan Jibril] ialah satu ciri yang paling istimewa, agar tidak ada seorang nabi lain dikalangan para nabi yang diperbedakan. [192] Dengan kata lain, menurut Razi dan Baidawi sebagian dari pemberian esklusif Roh kepada Isa ialah kuasa yang diberikan kepada kata-katanya untuk memberi Kehidupan Kekal kepada jiwa-jiwa manusia. Ini adalah satu daripada ciri-ciri ‘agar tidak ada seorang nabi lain di kalangan para nabi yang diperbedakan’. Jika Allah, dengan memberi Isa kuasa untuk membangkitkan orang mati, adalah secara sengaja untuk menyatakan bahwa Isa bukan dari kalangan orde tercipta tapi dari Allah yang Hidup, sampai berapa besar bukti pemberian-Nya kepada Isa kuasa untuk memberi Kehidupan Kekal kepada jiwa itu? Sekali lagi kesimpulan itu tidak bisa dielakkan: Isa benaR-benar sempurna dari Firman Allah yang Ilahi. Kuasanya untuk Menghapus dan Mengampuni Dosa-dosa Masalah dosa [193] telah melanda manusia sejak zaman Adam lagi, dan akan terus terjadi demikian sampai pada masa yang ditentukan oleh Allah tiba. Dalam setiap insan ada satu kecenderungan ke arah kejahatan, seperti yang dinyatakan oleh Al-Qur’an: ‘karena memang nafsu itu selalu merangsang untuk berbuat kejahatan, kecuali nafsu yang disayangi oleh Tuhanku.’ [194] Dan Hadis menyatakan: ‘Syetan bercokol di dalam pikiran manusia seperti aliran darah di dalamnya.’ [195] Tapi akibat kejahatan itu bukanlah satu perkara yang ringan: Sebenarnya barangsiapa yang berbuat dosa, sedang dosanya itu telah melilit sekujur tubuhnya, merekalah penghuni neraka. Mereka kekal didalamnya. [196] Supaya manusia keluar dari sifat yang hina di Hari Kiamat, dosanya harus diampuni: Ya Tuhan kami! Ampuni dosa-dosa kami, dan hapuskan kesalahan-kesalahan kami, serta wafatkanlah kami dengan nilai amal yang sama dengan orang-orang berbakti. Wahai Tuhan kami! Berikanlah kepada kami apa yang Engkau telah janjikan dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. [197] Terdapat banyak bukti-bukti dalam isi Al-Qur’an bahwa Ibrahim, Musa, Daud dan Muhammad telah berdosa. Ibrahim menyatakan perlunya untuk diampuni ketika dia berkata tentang Allah: Yang menciptakan aku, dan Dialah yang menunjuki aku…Dia yang mematikanku, kemudian Dia pula yang menghidupkanku kembali di akhirat. Dialah yang sangat kuharapkan sudi mengampuni kesalahanku pada Hari Perhitungan. [198] Musa, di mana Allah memilihnya untuk berbicara dengannya secara langsung [199] , juga menemukan dirinya perlu mendapat pengampunan setelah dia memukul dan membunuh seorang kebangsaan Mesir: Musa berdoa: “Ya Tuhanku! Bahwasanya aku telah berlaku aniaya terhadap diriku sendiri, karena itu ampunilah aku”. [200] Begitu juga Daud yang ‘meminta ampun kepada Tuhannya sambil menyungkur sujud dan bertobat’. [201] Maka ketiga-tiganya : Ibrahim, Musa dan Daud, tau bahwa mereka memerlukan pengampunan dari Allah. Muhammad juga menemukan dosa-dosanya sebelum kerasulannya terlalu berat untuk dipikul. Ini yang dinyatakan dalam Al-Qur’an: Bukankah Kami telah melapangkan dadamu? Dan Kami telah menurunkan bebanmu yang telah melentikkan punggungmu. [202] Beban yang membuat punggung Muhammad melentik bukan secara fisik, tapi secara spirituil. Kata Wezr yang diterjemah sebagai beban dalam ayat di atas ialah satu kata istimewa yang membawa maksud dosa-dosa dalam bahasa Al-Qur’an. Contohnya dalam Surah 16:25 menyatakan: ‘supaya mereka memikul dosanya (awzar, jamak bagi wezr) sepenuh-penuhnya pada hari kiamat (lihat juga Al-Qur’an 6:31, 6:164, 17:15, 20:100, 35:18). Sedang Al-Qur’an menyatakan dosa-dosa yang lalu dalam hidup Muhammad sebagai satu fakta, ia juga menyatakan tentang dosa-dosanya ‘yang akan datang’: Supaya Allah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dan memimpinmu ke jalan yang lurus. [203] Ini juga ditegaskan oleh Hadis yang mengatakan Muhammad biasa ‘meminta ampun dan berpaling kepada Allah dalam pertobatan lebih dari tujuh puluh kali sehari’ [204] Bukhari mencatat doa Muhammad seperti berikut: Ya Allah! Ampunilah kesalahan-kesalahanku dan kelalaian serta perbuatan-perbuatanku yang melampaui batas kemuliaan; dan ampunilah apa saja yang Engkau mengetahui lebih daripada aku sendiri. Ya Allah! Ampunilah kesalahan yang aku telah lakukan samada secara berolok-olok atau serius, dan ampunilah kesilapan-kesilapanku baik yang disengajakan ataupun tidak, dan segala yang ada pada diriku’ [205] Sesungguhnya dia terus meminta ampun sampai hembusan nafasnya yang terakhir. [206] Dalam bab terakhir kita menyingkap penyair Sufi yang menyeru: Bersihkan aku, Ya Tuhan, dari jiwa yang ternoda ini, Agar aku bisa mencapai kesucian abadi untuk diriku, seperti Isa. [207] Ini bukan hanya satu jeritan seorang penyair tetapi jeritan semua orang-orang yang jujur dan tulus hati dalam setiap generasi. Berita baiknya ialah: seperti yang Baidawi nyatakan kepada kita, kata-kata Isa ‘…menyucikan [manusia] dari dosa-dosa’. [208] Ini artinya ialah seorang yang bukan saja tidak berdosa tetapi menyucikan orang lain dari dosa-dosa mereka. Ini sesungguhnya adalah benar bagi kehidupan: hanya dialah yang bersih bisa dipercayai untuk melakukan penyucian. Yang tercemar dan yang dicemar tidak bisa melakukannya. Isa menyediakan manusia untuk Hari Pembalasan. Dia membersihkan mereka dan mempersembahkan mereka tanpa dosa kepada Allah. Sama seperti Isa membangkitkan orang mati dengan izin Allah, begitu juga dia membersihkan mereka dari dosa-dosa mereka dengan izin Allah. Membuat dosa dan diampuni, kemudian berdosa lagi dan meminta ampun LAGI, dan berdosa lagi…ialah satu lingkaran Syetan. Tapi dibersihkan dari dosa-dosa adalah sesuatu yang menakjubkan! Inilah pengalaman spirituil yang termegah. Mengalami beban rasa bersalah kita dihilangkan dan noda-noda dosa dibasuh bersih tidak kurang dari satu pengalaman syurgawi di bumi. Kenyataan Baidawi bahwa kata-kata Isa membersihkan dosa-dosa, sama seperti kenyataannya bahwa semua jiwa manusia hidup kekal abadi karena kata-kata Isa, yang juga dibuat dalam konteks Isa diperkuat dengan Roh Suci (lihat bagian sebelumnya). Maka kuasa membersih kata-kata Isa ialah satu lagi aspek pemberian Roh kepadanya, yang juga merupakan satu lagi aspek ciri-ciri-cirinya yang istimewa. Ibn ‘Arabi, segel bagi pengikut-pengikut setia Muhammad, berhutang pertobatannya kepada Isa. Coba dengar kata-katanya: Saya bertemu dengannya [yakni, Ibn ‘Arabi sering bertemu dengan Isa]; Dia lah yang menyuruh aku dan membantu aku untuk bertobat [secara harfiah: ke dalam tangan-Mu aku bertobat]. Dia meminta pemberkahan Allah dalam penyetujuanku supaya aku dapat teguh dalam iman dalam hidup ini dan yang akan datang; dan dia memanggilku sebagai kekasih, dan memerintahku untuk menyangkal dunia dan menjadi seorang petapa. 209] Ungkapan ‘ke dalam tangannya’ membawa arti bahwa tidak ada seorangpun kecuali Isa yang bertanggungjawab untuk perubahan hati dan pertobatan Ibn ‘Arabi. Tanpa bantuan tangan Isa, Ibn ‘Arabi mungkin akan terus tinggal dalam lingkaran Syetan dan bergumul dengan dosa-dosanya, tidak bisa memulai kehidupan berimannya. Allah telah memberi Isa Al Masih kuasa untuk membersihkan manusia daripada dosa-dosa mereka. Tapi kuasa itu hanya kepunyaan Allah sendiri saja. Dan ini adalah satu lagi bukti bahwa Isa Al Masih adalah Firman Allah yang Ilahi itu. Dia Adalah Pengetahuan Tentang Hari Kiamat Merenung kembali penemuan-penemuan kita di Bagian Pertama, kita juga bisa mengerti sifat Isa dari aktivitas-aktivitasnya sebelum Hari Kiamat. 1. Dia akan memulihkan dunia ini kepada keadaan asalnya, yaitu sama seperti sebelum keingkaran Adam. Seperti yang dinyatakan oleh Hadis: Pohon-pohonn akan berbuah seperti di zaman Nabi Adam, supaya sekumpulan manusia akan berkumpul di sekeliling syetangkai buah anggur dan dikenyangkan, atau sekeliling sebiji buah delima dan rasa lapar mereka akan dipuaskan. [210] Upaya-upaya untuk memulihkan dunia ini seperti keadaan asalnya ialah satu sifat Ilahi, sama seperti kebolehan untuk membangkitkan orang mati itu satu sifat Ilahi: ‘…siapa pulakah yang dapat menghidupkan semula tulang-belulang yang hancur? Jawablah: “Yang dapat menghidupkan kembali, ialah Tuhan yang telah menciptakannya dahulu untuk yang pertama kalinya.” [211] Isa telah diberi kuasa untuk membangkitkan orang mati dan memulihkan seluruh alam kepada keadaan asalnya semasa ia pertama kali dicipta, karena dia ialah Firman Allah yang Abadi. 2. Untuk menghormati kedatangan kembali Isa, mesjid-mesjid akan miring. Pergerakan bangunan-bangunan yang demikian merupakan tindakan yang terdekat kepada manusia bersujud untuk menyembah. Jika seorang nabi besar seperti Yahya bersujud kepada Isa semasa masih berada dalam rahim ibunya, apa lagi dengan ‘mesjid-mesjid…yang miring menyambut lagi kemunculan Isa, karena dia akan datang kembali…dan mereka yang hidup sampai masa kedatangannya akan percaya kepadanya’. [212] Jika Yahya percaya bahwa Isa adalah Firman Allah dan menunjukkan imannya dengan cara bersujud, begitu juga dengan mereka yang sempat hidup hingga ke kedatangannya. Mesjid-mesjid, para nabi dan sekalian manusia akan sujud kepadanya hanya jika dia adalah Ilahi. 3. Penghakiman Isa adalah satu dengan penghakiman Allah, karena Hadis mengatakan: Dan mereka yang menyentuh Isa anak Maryam akan menjadi antara mereka yang paling tinggi di kalangan manusia. Dan menyentuh Isa akan dipandang tinggi. Dia akan mengusap [air mata atau kesedihan] dari wajah manusia [atau, akan mengusap wajah mereka], dan akan memberitahu mereka derajat mereka di Firdaus. [213] Isa akan memberitahu manusia derajat mereka di Firdaus sebelum Hari Kiamat. Penilaiannya ke atas manusia bukan saja sama dengan penilaian Allah tetapi adalah yang final/akhir. Dia mengetahui takdir abadi manusia. Semua ini bisa mungkin jika dia adalah Firman Allah yang Ilahi itu. 4. Penghapusan Isa terhadap kuasa-kuasa kejahatan yang diwakili oleh si Dajjal ialah satu tindakan secara langsung Penghakiman Ilahi. Jilani menulis tentang kemunculan semula Isa: Dan Isa Roh itu akan turun dan tombak kemenangan berada dalam tangannya. Maka dia akan membunuh si Dajjal. Karena Isa ialah Roh Allah yang bertakhta [roh Allah al-Malek] dan bila kebenaran itu datang, kepalsuan akan lenyap [Al-Qur’an, 17:81] dan pemerintahan yang palsu serta penipuan akan hancur. [214] Kata malek yang digunakan untuk menggambarkan Isa di atas juga didapati dalam pembukaan Al-Qur’an: Segala puji kepunyaan Allah, Tuhan semesta alam. Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Yang menguasai (malek) Hari Pembalasan… [215] Konteks yang Jilani gunakan untuk kata malek itu ialah satu penghakiman, dan penghakiman yang dirujukkan itu ialah yang berkaitan dengan Hari Pembalasan, yaitu yang memiliki pengetahuan itu ialah Isa. Demikian juga kata yang digunakan di dalam Al-Qur’an merujuk kepada Allah yang menguasai Hari Pembalasan, Hari untuk penghakiman. Dari sini kita bisa memperhatikan bahwa hak istimewa Ilahi sebagai Penguasa hari penghakiman terakhir itu dipunyai bukan hanya oleh Allah tetapi juga Isa. Isa ialah Penguasa Hari Kiamat. Sama seperti Allah telah berikan kepadanya kuasa untuk membangkitkan orang mati, yang merupakan sifat Ilahi, begitu juga Dia telah memberi kuasa untuk menjadi malek Saat itu – untuk menghakimi semua manusia. Penghakiman Isa adalah total dan final. Penghapusannya atas semua yang palsu dan penipuan adalah sempurna. Allah adalah malek Hari Kiamat. Kenyataan Isa akan melaksanakan penghakiman itu, bahwa dia memanifestasikan ciri-ciri malek, hanya bisa mungkin jika dia adalah Ilahi. Karena penghakiman untuk semua ialah satu daripada sifat pribadi Allah yang tidak dibantu oleh manusia. Kata malek juga bisa ditemukan dalam Al-Qur’an 3:26: ‘Katakanlah: Wahai Tuhan yang mempunyai semua kekuasaan (malek)…”. Di sini kata itu membawa maksud ‘raja tertinggi’. Jadi gambaran Jilani mengenai Isa sebagai Roh Allah al-Malek juga bisa diartikan sebagai Isa adalah Roh Allah yang memerintah sebagai raja. Dan sesungguhnya, Isa dalam kemunculan semulanya akan memanifestasikan kerajaan Allah. Melaluinya Allah akan memerintah seluruh dunia. Sesungguhnya inilah penemuan kita akan gelar Al Masih: Isa ialah Raja atas semuanya untuk selama-lamanya. Ungkapan ‘Roh Allah yang malek’ berarti bahwa Isa ialah Penguasa Hari Penghakiman atau Penguasa (Raja) kerajaan itu atau kedua-duanya, tidak dapat disangkal lagi bahwa kedua gelar ini adalah gelar-gelar Ilahi. Dan Isa memanifestasikan keduanya. Semua ini hanya mungkin bila Isa adalah Ilahi. 5. Semasa pemerintahan Isa, kematian akan menjadi tidak aktip dan tanpa kuasa: ‘Tidak seorangpun yang akan mati, dan tidak seorangpun akan sakit’ [216] . Isa bukan saja membangkitkan yang mati tetapi juga akan menghancurkan kuasa maut. Penguasaannya ke atas maut adalah total. Tirimizi, ketika menjawab persoalan: ‘Apakah gambaran tentang dia yang layak [segel golongan orang beriman]?’, memetik Ibn ‘Arabi dari Al-Jawab Al-Mostaqim sebagai mengatakan: Dia dicirikan dengan kesetiaan, karena dalam tangannya adalah kunci-kunci nafas manusia. Dia [juga] dicirikan dengan penolakan dan pergerakan. [217] Tirimizi kemudian memetik komentar lanjutan Ibn ‘Arabi [218] bahwa jawaban itu ialah satu keterangan atas Isa [219] . Ungkapan ‘karena dalam tangannya adalah kunci-kunci nafas manusia’ ialah satu penterjemahan secara langsung yang bermaksud bahwa Isa berkuasa atas jiwa-jiwa manusia. Ini dapat dibandingkan dengan satu lagi ungkapan yang dinyatakan dalam Hadis, ‘Oleh dia yang memegang nafas [jiwa] aku’: Oleh dia yang memegang jiwaku dalam tangannya, Isa anak Maryam akan turun di antara kamu seorang hakim yang saleh dan seorang pemimpin [imam] yang adil. [220] Di sini Dia yang memegang jiwa-jiwa manusia dalam tangan-Nya ialah Allah. Tapi Ibn ‘Arabi juga mengatakan Isa bahwa ‘dalam tangannya ialah kunci-kunci nafas [jiwa] manusia’. Sifat sebagai menguasai jiwa-jiwa manusia, yang dipunyai Allah, juga adalah kepunyaan Isa hanya bila dia adalah Ilahi. Ciri-ciri Penghakiman Isa Hadis yang mengatakan tentang Isa datang untuk menghakimi dan memerintah seluruh bumi adalah banyak dan terkenal, seperti contoh-contoh di atas. Persoalan yang perlu kita jawab ialah: Bagaimana seorang manusia biasa menghakimi seluruh dunia – dan bukan hanya menghakimi antara bangsa-bangsa tetapi di kalangan bangsa-bangsa, bahkan antara individu-individu? Bagaimana seorang manusia biasa menghakimi milyaran di muka bumi ini? Dan bagaimana keputusan penghakiman seorang manusia bisa menjadi begitu sempurna sehingga dia bisa mendirikan satu dunia yang sempurna? Adakah ini pekerjaan suatu makhluk tercipta? Mari kita lihat beberapa ciri-ciri penghakiman Isa. Pertama, penghakimannya adalah penghakiman untuk semua. Untuk menghakimi semua ialah satu ciri istimewa hanya dipunyai oleh Allah. Kedua, ia adalah penghakiman untuk setiap individu, setiap kelompok sosial, politikal dan agama, serta setiap suku bangsa. Tambahan pula, ia adalah yang spontan, tanpa membuat pertimbangan yang panjang, tanpa melalui semua dokumen-dokumen sejarah, dan tanpa saksi mata. Dan ia mempunyai keputusan yang sempurna. Semua ini memerlukan tidak kurang dari pengetahuan Allah. Ketiga, dalam setiap penghakiman, bagaimanapun adil hakim tersebut, ia selalu ada rasa dendam, rasa sakit hati, serta bujukan demi bujukan. Tapi penghakiman Isa Al Masih adalah final. Penghakiman akan diterima dan tidak akan ada ‘kebencian atau rasa dendam’ [221] Bagaimana dia melakukannya? Adakah dengan kuasa yang ringan saja? Bagaimana kedua pihak senang dengan keputusan penghakimannya? Siapakah dia di mana setiap manusia sanggup menyerah kepada penghakimannya? Isa melakukan ini dengan maju ke arah akar permasalahan kebencian dan menghapuskan akar permasalahan tersebut. Maka semua kesan sampingan akan hilang. Masalah kebencian dan dendam yang timbul sejak zaman Adam, ketika Adam mengingkari Allah dan menurut nasihat Syetan. Karena bila hubungan vertikal dengan Allah terputus, hubungan horisontal dengan sesama manusia juga terputus secara otomatis. Tapi bila Isa datang dan kata-katanya membersihkan manusia dari dosa-dosa, hubungan mereka dengan Allah akan dipulihkan dan pada akhirnya kebencian dan dendam dihapuskan. Ketika Isa diberi satu-satunya hak istimewa Allah untuk menjadi Hakim bagi semua manusia; ketika Isa menyelesaikan masalah-masalah sejarah suku-suku bangsa yang berakar dalam dan membawa keputusan-keputusan agung satu ciptan baru; ketika Isa memerintah satu dunia di mana Syetan tidak lagi mempunyai tempat di dalamnya – hanya ada satu kesimpulan yang boleh dibuat. Isa Al Masih adalah Firman Allah yang Abadi. Dia yang Memusnahkan Si Dajjal Seperti yang sudah kita lihat di Bagian Pertama, si Dajjal akan datang ke dunia dan mengaku dirinya sebagai Allah yang Maha Tinggi bahkan (dengan izin Allah) memanifestasikan beberapa kuasa kemahakuasaan Allah. [222] Dalam cara ini Al Masih palsu akan menipu manusia. Manusia akan merasa kagum dan seluruh dunia akan mengikut dia, tapi orang-orang yang beriman akan merasa kebinggungan. Apakah dia Allah Yang Maha Tinggi? Apakah kita harus menyembahnya? Dr. Qaradawi mengatakan: Si Dajjal akan memenuhi dunia ini dengan ketidak-adilan dan penindasan, sehingga tidak seorangpun dapat lari daripada hasutannya kecuali mereka yang Allah kasihani. Sehingga akhirnya rahmat Allah mencapai mereka, dan Isa turun ke bumi; dan dengan tangan-Nya menghancurkan si Dajjal, keselamatan bagi manusia dari kesengasaraan dan penindasan akan dipenuhi. [223] Siapa yang bisa bertahan menentang orang yang memanifestasikan beberapa kuasa kemahakuasaan Allah itu? Hanya dia yang memanifestasikan semua kuasa kemahakuasaan Allah, dengan izin Allah. Hanya seorang saja yang Allah percayakan dengan segala kuasa-kuasa kemahakuasaan-Nya: Isa Firman Allah. Maka dari itu dia saja yang layak menghancurkan kekeliruan dan penipuan. Untuk menjadi penyelamat bagi semua orang sama seperti menjadi hakim bagi sekalian manusia. Kehormatan seperti ini hanya ada pada Allah melalui Isa Firman Ilahi-Nya. Dalam terang pengertian bahwa Isa Al Masih itu ialah orang yang Ilahi, Kekal dan Bukan Tercipta, barulah kita bisa melihat mengapa Hadis berkata tentang Al Masih palsu berpura-pura mengaku sebagai Tuhan dan mengaku dirinya Ilahi. Ini adalah karena Al Masih yang benar ialah Ilahi sebab itulah si Dajjal mengaku dia juga Ilahi. Kebijaksanaan Allah dalam membenarkan si Dajjal untuk memanifestasikan beberapa kuasa kemahakuasaan, dan lantas mengutus Isa untuk memusnahkannya, ialah untuk mendirikan secara t
    Just say somethin(naldy) said:
    Oktober 8, 2007 pukul 5:36 pm

    Hanya seorang saja yang Allah percayakan dengan segala kuasa-kuasa kemahakuasaan-Nya: Isa Firman Allah. Maka dari itu dia saja yang layak menghancurkan kekeliruan dan penipuan. Untuk menjadi penyelamat bagi semua orang sama seperti menjadi hakim bagi sekalian manusia. Kehormatan seperti ini hanya ada pada Allah melalui Isa Firman Ilahi-Nya.

    Dalam terang pengertian bahwa Isa Al Masih itu ialah orang yang Ilahi, Kekal dan Bukan Tercipta, barulah kita bisa melihat mengapa Hadis berkata tentang Al Masih palsu berpura-pura mengaku sebagai Tuhan dan mengaku dirinya Ilahi. Ini adalah karena Al Masih yang benar ialah Ilahi sebab itulah si Dajjal mengaku dia juga Ilahi.

    Kebijaksanaan Allah dalam membenarkan si Dajjal untuk memanifestasikan beberapa kuasa kemahakuasaan, dan lantas mengutus Isa untuk memusnahkannya, ialah untuk mendirikan secara tegas keabadian, sifat dasar Ilahi Isa; bahwa dia adalah Tidak Dicipta, tapi Firman Allah yang Mencipta.

    Gambaran-gambaran Isa

    Isa adalah satu-satunya orang yang mempunyai identias yang terangkat secara misterius, sehingga para mufasir dipaksa menggunakan segala ungkapan-ungkapan yang tinggi dan unik untuk menggambarkannya. Mereka katakan dia seperti Al-Qur’an, [224] atau seperti Kitab Allah, [225] atau seperti Nama Agung Allah. [226] Satu koleksi gambaran yang begitu hebat!

    Al-Qur’an, atau Kitab Allah

    Kita telah mengkaji kesamaan Isa dengan Al-Qur’an dalam Bab 2, di mana kita melihat tentang ulama-ulama Muslim percaya bahwa Al-Qur’an itu:

    Sesuatu yang dilafazkan dengan lidah, ditulis dalam Masahif, diingati dalam hati, namun adalah sesuatu yang Kekal, yang wujud dalam Allah Sendiri, tidak bisa dipisahkan atau terpisah dari Allah dengan cara memindahkannya ke dalam hati atau menulisnya di atas kertas. [227]

    Razi sendiri percaya bahwa ‘Firman Allah itu…adalah suatu sifat yang cukup lama hadir dalam intisari Allah’, [228] tapi dia menyangkal bahwa Isa adalah Firman Allah. Mengapa? ‘Karena,’ katanya, ‘adalah mustahil bagi Isa untuk menjadi sebagai Firman dari Allah!’ [229] (Penitikberatan ditambahkan)

    Tapi apakah kriteria untuk menentukan Kebenaran itu? Apakah dogma yang mengawali pengertian kita, atau bukti itu adalah suatu fakta yang kokoh dan utuh?

    Firman Allah adalah satu fakta bahwa Isa ‘biasa membangkitkan tubuh dan hati yang mati kepada kehidupan’ dan dengan demikian ‘dia dipanggil sebagai Roh’. [230] Ini satu fakta bahwa dengan kata-katanya ‘agama hidup, jiwa manusia hidup secara kekal, dan membersihkan [manusia] dari dosa-dosa’, [231] dan dengan itu ‘Dia adalah seperti Kitab Allah’ dan dipanggil sebagai Firman Allah. [232]

    Razi sendiri setuju bahwa Isa dipanggil sebagai Roh Allah ‘karena melaluinya Allah membawa manusia kepada kehidupan dan keluar dari penipuan, sama seperti manusia hidup oleh karena roh itu’. [233] Pendapat bahwa roh itu yang menyebabkan kehidupan bagi seseorang insan bukanlah satu metafor tetapi satu fakta. Dia juga mengatakan :

    Isa adalah pemberi kehidupan kepada manusia dalam agama mereka, dan sesiapa yang seperti itu dipanggil sebagai roh. Karena sesungguhnya Allah menyatakan dalam Al-Qur’an, ‘dan terjadinya dengan Kalimat Cipta yang disampaikan dengan perantaraan Roh sesuai dengan perintah-Nya’[Al-Qur’an, 42:52] [234]

    Sama seperti manusia tanpa roh adalah mati, begitu juga dengan agama tanpa Isa adalah mati. Seperti manusia tanpa roh adalah mati, begitu juga manusia tanpa Isa mati dalam tipu muslihat Syetan dan tidak bisa mendapat Kehidupan Kekal. Isa membuktikan dia bisa membangkitkan hati-hati yang mati dan justru memberi Kehidupan Kekal kepada mereka dengan membangkitkan yang mati. Apakah orang yang datang dengan bukti-bukti yang begitu jelas seperti seorang yang tidak mempunyai bukti langsung?

    Sayangnya, dengan menggunakan banyak gambaran-gambaran agung dan megah mengenai Isa, para mufasir telah mencoba mengelak daripada mengakui bahwa Dia ialah Firman Allah, sama seperti yang disetujui oleh Al-Qur’an sendiri. Mereka menggatakan dia seperti itu dan ini, dan yang lainnya daripada menyatakan langsung dia ialah Firman Allah.

    Tidak ada orang dalam sejarah manusia yang telah disamakan sengan ‘Kitab Allah’ atau ‘Al-Qur’an’. Persamaan antara roh Isa dengan Kitab Allah ialah suatu yang tidak bisa disangkal lagi, bukan saja dalam terminologi tapi juga dalam bukti-bukti yang berkesan dan jelas, kecuali satu perkara: kita tidak pernah mendengar Kitab Allah itu membangkitkan orang mati.

    Maulvi Muhammad Ali, dalam catatan kakinya untuk ayat Al-Qur’an, 6:156 menjelaskan makna perkataaan ‘mubarak’(diberkati) sebagai satu gambaran tentang Al-Qur’an, mengatakan:

    Perlu menjadi perhatian bahwa ketika Al-Qur’an disebut bersama-sama dengan wahyu-wahyu yang lain, kata mubarak itu ditambahkan sebagai menunjukkan satu pemberkatan yang kekal seterusnya tentang yang dimiliki oleh benda itu. [235]

    Namun menurut Al-Qur’an itu sendiri. [236] kata itu juga digunakan untuk menggambarkan Isa. Ada banyak benda yang sama-sama gambarannya dengan Al-Qur’an, tapi hanya ada satu manusia, yaitu Isa Al Masih. Al-Qur’an menyatakan bahwa ‘kalimat Allah adalah yang tertinggi,’ [237] begitu juga Isa Firman Allah itu, bukan satu tokoh percakapan tapi dalam kenyataan. Dia ada bersama Allah.

    Jika Al-Qur’an dipanggil mubarak, begitulah juga Isa.

    Jika kalimat Allah adalah yang tertinggi, begitulah juga dengan Isa.

    Jika Firman Allah menyebabkan manusia mendapat Kehidupan Kekal, begitu juga Isa. Dan kita bertanya: Bagaimana sesuatu yang bersifat sementara bisa memberi sesuatu yang kekal? Akhirulkalam, jika Firman Allah itu kekal, begitu juga Isa Al Masih.

    Nama Keagungan Allah

    Isa juga disamakan dengan Nama Keagungan Allah. Dalam mencoba menerangkan identias Roh Suci dalam ungkapan Al-Qur’an “Kami perkuatkan dia dengan Roh Suci”, para mufasir mengatakan Roh Suci ialah Nama Keagungan Allah. Baidawi contohnya, mengulas :

    ‘Dengan Roh Suci’ diartikan Jibril, atau roh Isa…atau Nama Keagungan di mana Isa sebagai yang membangkitkan orang mati. [238]

    Mengapa mereka memilih Nama Keagungan Allah sebagai arti kepada Roh Suci? Karena Nama Keagungan Allah mempunyai kuasa yang melekat untuk membangkitkan orang mati. Dan Isa juga telah memanifestasikan kekuasaan itu.

    Jika para mufasir telah menyatakan bahwa ‘diperkuat dengan Roh Suci’ itu berarti roh Isa dan berhenti di sana, kita akan mengerti bahwa kuasa membangkitkan orang mati itu kepunyaan pribadi Isa, dan dia adalah sumbernya. Jadi untuk menerangkan bagaimana Isa bisa membangkitkan orang mati jika kuasa itu bukan melekat dalam rohnya, mereka mengatakan bahwa Isa mempunyai jalan ke Nama Keagungan Allah (yang sebenarnya lebih mulia dan tinggi lagi daripada jika Isa mempunyai kuasa itu melekat pada dirinya).

    Kita bisa merasakan dilema yang dialami oleh para mufasir mengenai sumber kuasa Isa. Razi mengatakan:

    Adakah mungkin untuk mengatakan bahwa Allah memberi kepada roh Isa satu ciri istimewa, supaya setiap kali Isa menghembus kepada sesuatu, nafas itu akan pasti menyebabkan kehidupan kepada benda itu? Atau untuk mengatakan bukan begitu, tetapi bahwa Allah yang Maha Tinggi itulah yang menciptakan kehidupan di dalam tubuh yang ditiup oleh Isa…sebagai satu cara untuk melakukan mujizat? Pendapat yang kedua adalah benar atas kata-kata Allah (Dia mencipta kematian dan kehidupan). [239]

    Kita setuju dengan Razi seratus peratus. Dalam pribadi Isa, Allah yang Maha Tinggi itulah yang mencipta kehidupan di dalam benda-benda yang Isa tiupkan. Dalam pribadi Isa, Allah yang Maha Tinggi itulah yang membangkitkan orang mati atas perintah Isa kepada orang mati itu.

    Dalam pribadi Isa, Allah yang Maha Tinggi itulah yang membersihkan manusia dari dosa-dosa mereka atas ucapan kata-kata Isa kepada mereka. Dalam pribadi Isa, Allah yang Maha Tinggi itulah yang memberi Kehidupan Kekal kepada manusia atas janji Isa kepada mereka. Dalam pribadi Isa, Allah yang Maha Tinggi itulah yang dimanifestasikan dan dinyatakan kepada umat manusia. Sebab itu tidak heran bahwa Isa disamakan dengan Nama Keagungan Allah, karena Nama Allah menyatakan Allah kepada umat manusia.

    Sekali lagi, perhatikan bagaimana fakta ini datang bersama dengan hasil kajian kita lainnya. Kepercayaan bahwa Isa diperkuat dengan Nama Keagungan Allah disebut dalam konteks dia diperkuat dengan Roh Suci. Razi memberitahu kita bahwa ‘pemberian esklusif’ Roh Suci kepada Isa merupakan ‘ciri yang paling istimewa’. Penguatan itu adalah berkesinambungan, karena Roh Suci berjalan dengan Isa ke mana saja dia pergi [240] dan tidak meninggalkannya walaupun untuk sejam. [241] Karena itulah kita bisa mengerti bahwa Isa tidak saja mempunyai satu jalan mencapai Nama Keagungan Allah secara periodik, tetapi secara berkesinambungan sepanjang hidupnya.

    Sekarang, bagaimanakah Nama Keagungan Allah (yaitu yang tidak dicipta dan seperti Al-Qur’an) merupakan abdi dari kehendak Isa, jika Isa hanyalah satu makhluk biasa? Jika Isa bukan Ilahi tetapi tercipta, bagaimana dia, satu makhluk biasa, dapat ‘menggunakan’ Nama Keagungan Allah yang tidak tercipta itu? Kemampuan Isa untuk menggunakan Nama Keagungan Allah itu mengandung arti satu kebebasan kehendak untuk menggunakan kuasa Keagungan yang terbesar itu.

    Hanya yang tidak tercipta saja yang bisa menggunakan atau mengendalikan yang tercipta, bukan sebaliknya. Jadi pemakaian kuasa Nama Keagungan Allah oleh Isa itu hanya bisa mungkin jika dia berada satu tingkat yang sama dengan Nama itu, yakni yang tidak tercipta.

    Kita harus bertanya: Siapakah dia yang Allah percayai dengan kuasa yang paling berkuasa di dalam seluruh alam ini? Al-Qur’an menyatakan tentang ‘manusia yang tidak signifikan’ – bila dipercayakan dengan satu derajat kuasa yang begitu terbatas, dia menyalah-gunakannya dan justru menjadi musuh Allah.

    Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami telah menciptakannya dari setetes air mani, tetapi kemudian menjadi musuh Kami seterang-terangnya? [242]

    Tapi ini tidak benar bagi Isa. Kuasa yang paling berkuasa dalam seluruh alam bukanlah satu yang dia upayakan dengan kerja keras untuk mendapatkannya. Tidak. Kuasa miliknya secara alami dari keabadian, seperti Qashani mengatakan ketika mengulas makna ‘dengan izin Allah’. [243] Kemampuan Isa menggunakan Nama Keagungan Allah hanya bisa menjadi satu yang mungkin jika Isa Al Masih adalah Ilahi.

    Wajah Kehidupan Yang Akan Datang

    Dalam memperbincangkan tentang pengetahuan akan Allah, Ghazali mengatakan, ‘Tidak ada seorangpun yang bisa mengerti akan seorang raja kecuali seorang raja’. [244] Memang Ghazali mengatakan kita semua adalah raja-raja miniatur, [245] dan sebab itu kita mempunyai hak untuk mengetahui Allah.

    Tapi bolehkah seorang raja benar-benar mengenali Raja segala raja? Ini adalah seperti seorang raja yang primitif yang berkuasa atas masyarakat yang makan daging manusia, yang tidak mungkin akan mengerti raja-raja moden yang penuh kebesaran dan beradab.

    Kita semua berada dalam derajat spirituil rasa bersalah yang berlainan makan daging manusia; seperti yang dinyatakan oleh Al-Qur’an:

    Hai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan prasangka buruk. Sesungguhnya kebanyakan prasangka buruk itu, adalah dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang, dan janganlah bergunjing antara sesamamu.Adakah sesorang di antaramu yang mau makan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu hal itu menjijikkan kepadamu. [246]

    Hal ini dan banyak lagi bentuk dosa yang lain mencemarkan jiwa kita dan menghitamkan ciptaan baik Allah, membuat kita menjadi tahanan penjara nafsu dan kebiasaan. Sesungguhnya kita adalah debu; dan apa kaitannya debu dengan Raja segala raja?

    Namun ketika kita semua hidup dalam kerendahan bumi yang membusuk, ada seorang yang tinggal sepanjang hidupnya di ‘Kemahaan Keluhuran Ilahi’ [247] , walaupun dia berada dalam bentuk manusia. Inilah raja yang mengetahui Allah Raja itu. Dalam dua perkara dia seorang saja yang layak untuk menyatakan Raja itu dan membela atau menjadi penengah di antara manusia dengan raja itu.

    Pertama, tidak ada orang yang bisa membela di depan Raja itu kecuali dia yang kenal akan Dia seperti yang Dia harus dikenali. Dan tidak ada seorangpun yang kenal Raja itu kecuali seorang raja, yakni yang datang dari Raja dan tinggal bersama Raja itu.

    Kedua, tidak ada orang yang bisa membela karena manusia tidak tahu kodrat dan sanubari seorang manusia. Tidak ada seorang pun yang seperti Isa mematuhi Allah dan melawan untuk Allah serta sengsara bagi Allah. Pengetahuannya tentang kesengsaraan manusia serta sifat hambanya yang sempurna, melayakkannya untuk menjadi wakil umat manusia, sama seperti pengetahuannya tentang Allah melayakkannya untuk menjadi wakil Ilahi.

    Mereka yang melanggar peraturan Raja itu tidak boleh membela orang lain. Hanya dia yang telah memelihara dan mematuhi semua peraturan yang bisa mempunyai jalan untuk ke hadirat Raja. Dan sesungguhnya, seperti yang telah kita lihat, inilah tempat di mana Isa kini berada – yakni di dalam hadirat Allah untuk membela, berdoa syafat dan menengahi bagi pihak umat sejati-Nya.

    Al-Qur’an menggambarkan Isa sebagai ‘…orang terhormat di dunia dan di akhirat, dan termasuk orang-orang yang dekat kepada Allah’. [248] Komentar Baidawi bahwa ‘keunggulan di kehidupan ini adalah nubuat, dan di kehidupan akan datang ialah doa syafat’ [249] yang diulas lebih lanjut oleh Razi:

    Isa dibedakan (wajih) dalam kehidupan dunia ini, karena permohonannya dikabulkan. Dia bisa menghidupkan orang yang mati dan menyembuhkan yang buta dan kusta dengan doa-doanya. Dia besar atau megah (wajih) di kehidupan akhirat karena Allah membuatnya bisa membela dan menyelamatkan umatnya yang benar dan Allah menerima segala doa syafatnya bagi mereka [250] .

    Jika Isa bukannya Ilahi dia pasti tidak dapat membela/berdoa syafat, karena tidak ada orang yang bisa berdoa syafat kecuali dia yang seorang raja dari Allah. Sesungguhnya, itulah yang dimaksudkan dengan gelar ‘Al Masih’. Mufasir Qasemi mengatakan:

    Maksud asal gelar itu [‘Al Masih’] ialah seperti berikut: menurut hukum mereka yang dinyatakan, siapa saja Imam [pemimpin agama] mengurapi dengan urapan suci, akan menjadi suci, layak untuk kerajaan itu dan pengetahuan dan derajat orang saleh yang tinggi, dan diberkati. Maka Allah Yang Maha Tinggi telah nyatakan, dengan gelar itu, bahwa Isa adalah berada dalam keadaan yang senantiasa diberkati akibat dari pengurapan tersebut, walaupun dia tidak diurapi secara fisik. [251]

    Isa sememangnya diurapi Allah, bukan oleh manusia. Dia ialah raja atas segala kerajaan Allah. Dia adalah satu-satunya orang yang layak untuk menjadi pendoa syafat (perantara) di depan Allah bagi pihak umat manusia, dan sebab itulah dia adalah orang yang memastikan kehidupan datang kepada manusia.

    Kesimpulan

    Jalan Allah adalah jelas, lurus dan konsisten. Tujuan Allah tidak bergantung pada terkaan tipis dan halus. Bila Allah membuat satu hal, Dia membuat satu yang kuat yang tidak bisa digerakkan, karena takdir keabadian manusia bergantung kepadanya.

    Jika Isa hanyalah seorang manusia biasa seperti Musa dan Ibrahim dan Ishak, mengapa Allah memberkahi dia dengan segala kualitas Ilahi? Jika dia hanyalah satu makhluk, mengapa Allah tidak membiarkan saja dia dilahirkan secara alami dengan persetubuhan antara pria dan wanita? Dan mengapa Allah tidak membenarkan dia berdosa dan bertobat dan meminta ampun sepanjang hayatnya seperti nabi-nabi yang lain? Atau memberinya kuasa untuk menyembuh sebagian orang tapi tidak dengan kuasa untuk membangkitkan orang mati atau kuasa untuk mencipta? Mengapa Allah tidak membiarkan dia wafat seperti kita semua agar jasadnya kekal di dalam kubur? Mengapa Allah tidak melakukan sedemikian rupa? Jika Dia melakukan demikian, tidak ada orang yang berani menganggap Isa lebih penting dari yang biasa, apalagi ilahi.

    Bila Allah mencipta Adam, Al-Qur’an memberitahu kepada kita Dia berfirman kepada para malaikat:

    Setelah Aku sempurnakan bentuknya dan Aku tiupkan roh ciptaa-Ku kedalamnya, hendaklah kalian tunduk, bersujud kepadanya. Maka bersujudlah malaikat itu semuanya kecuali Iblis, ia enggan sujud bersama-sama dengan mereka. [252]

    Jika seseorang yang dihembus ke dalamnya Roh Allah (yang bukan satu makhluk ciptaan) menyebabkan kehidupan manusia hadir di dalam Adam, apa lagi dengan penguatan secara berterusan Roh Suci yang menyebabkan Kehidupan Allah hadir di dalam manusia Isa?

    Kehidupan manusia disebabkan oleh satu nafas dalam Adam sampai ke hari akhir, agar Adam kembali kepada tanah. Tapi Kehidupan Ilahi yang disebabkan oleh penguatan secara langsung Roh Suci dalam Isa tidak ada habisnya, dan Isa kembali kepada Allah. Nafas yang diberikan kepada Adam telah menyebabkan kehidupan manusia berlanjut sampai ke zaman kita dalam keturunan Adam, walaupun setiap generasi berakhir dengan kembali kepada tanah. Tetapi penguatan yang kesinambungan dengan Roh Suci kepada Isa berlanjut sampai ke zaman kita dalam keturunan spirituil Isa, dan akan terus sepanjang keabadian untuk setiap orang yang menyerahkan hidupnya kepada Allah melalui Isa Al Masih.

    Isa adalah Firman Allah, Kuasa Allah dan Penghakiman Allah. Selama lebih dari 2000 tahun (sejak kedatangannya yang pertama) dia sudah berada bersama Allah, di atas semua malaikat dan manusia, menikmati wajah Allah dan dikasihi oleh Allah. Kini masanya untuk kembali sudah dekat. Mampukah setiap orang untuk tidak menghiraukannya? Apakah anda mampu tidak menghiraukan orang yang akan datang menghakimi seluruh umat manusia, seperti yang seringkali dinyatakan oleh Hadis? Apakah anda mampu untuk tidak menghiraukan orang yang memegang di dalam tangannya kunci-kunci bagi setiap jiwa manusia?

    Pada suatu hari ada seorang yang membeli ikan di pasar yang terletak di tepi pantai yang nampak satu jenis yang dia sukai. Untuk memastikan kesegaran ikan itu, dia membelah perut ikan itu untuk melihat kesegarannya. Ada orang di sekitar tempat itu tersenyum sementara yang lainnya mentertawakannya. Baru dia sadari ikan itu meronta-ronta dalam tangannya karena ikan itu masih hidup.

    Semua upayanya adalah sia-sia belaka. Gerakan ikan itu merupakan bukti yang kuat bahwa ikan itu lebih baik daripada ikan lainnya yang sudah mati di seluruh pasar itu. Dengan seekor ikan yang masih hidup anda tidak perlu menjadi seorang pakar untuk memberitahu apakah ikan itu segar atau tidak; anda bisa membuat pilihan walau dengan mata yang tertutup.

    Isa Al Masih bukan saja hidup tetapi juga memiliki kualitas Kehidupan yang membuatnya bisa berada bersama Allah yang Maha Kuasa. Anda tidak perlu menjadi seorang pakar dalam teologi atau perbandingan agama untuk membuat keputusan hidup anda mengenai dia. Anda tidak perlu mempunyai pelajaran yang tinggi atau cerdik-pandai untuk mengikut Isa Al Masih. Allah telah membuat segalanya mungkin bagi umat manusia, dari yang terkecil sampai yang terbesar, untuk memilih kehidupan.

    Jika kemampuan untuk mencari kebenaran itu hanya terbatas bagi yang terpelajar, mereka yang tidak berpelajaran akan mempunyai alasan, dan Allah akan dikenali sebagai Allah orang-orang ‘terpelajar’ saja. Tapi Allah membuatnya mungkin bagi semua orang untuk memilih kehidupan.

    Bukti Allah mengenai keilahian Isa Firman-Nya itu begitu jelas. Allah telah menekankan keilahian Isa dalam semua cara yang mungkin: Pertama, dengan gelar-gelar yang Dia berikan kepada Isa. Kedua, dengan perbuatan-perbuatan Isa. Ketiga, dengan sifat-sifat Isa. Keempat, dengan keadaan dan kedudukan Isa. Satu titik dalam Geometri dibuat bila dua garis bersilang. Satu titik dalam satu pertikaian dibuat bila alasan utama dibuktikan berkali-kali dengan cara yang berlainan. Begitu juga Allah telah menegaskan keilahian Isa Firman-Nya itu dalam banyak cara yang berlainan seperti yang ditunjukkan dalam diagram di bawah. Sepuluh garisan di bawah bersilangan pada satu titik. Allah Yang Maha Kuasa itu telah berulang-kali membuat satu alasan/titik mengenai sifat dasar Isa Firman-Nya. Titik itu ialah: Isa Al Masih datang dari Allah, Isa Al Masih adalah Ilahi.

    Allah yang Maha Tinggi sendiri memberi putusan-Nya dan membangkitkan Isa untuk bersama ke sisi-Nya. Logika Allah itu berkuasa dan berterus-terang. Allah dalam mengangkat Isa untuk bersama dengan-Nya, telah mengangkatnya ke tempat terhormat, layak disembah seperti Allah Sendiri. Setiap kali seseorang membungkukkan lututnya untuk menyembah Allah, dia juga sebenarnya membungkukkan lututnya kepada Isa Firman Allah itu. Tindakan-tindakan Tuhan adalah final, agar tidak ada seorangpun memandang ringan tindakan terakhir-Nya (yaitu kemunculan Isa Al Masih).

    Kepada mereka yang enggan mengakui Isa sebagai Firman Allah yang Abadi, akan juga membungkukkan lutut mereka pada Isa di masa kemunculannya nanti. Inilah realiti.Tidak ada seorangpun yang dapat berdebat dengan Allah. Apakah putusan anda sama dengan putusan-Allah? Isa Al Masih adalah hidup bersama Allah.
    _____________________________________________

    [117] Al-Qur’an, 15:29.

    [118] Al-Qur’an, 21:91 dan 66:12.

    [119] Qashani, mengulas Fusus al-Hikam, hal. 172.

    [120] Al-Qur’an, 3:49 dan 5:110.

    [121] Qashani, mengulas Fusus al-Hikam, hal. 178.

    [122] Ibid.

    [123] Suyuti, mengulas ayat Al-Quran, 3:39, berkata: ‘seorang pemanggil dari Syurga berkata bahwa Yahya adalah di antara mereka yang terbesar yang dilahirkan oleh wanita’

    [124] Al-Qur’an, 3:39.

    [125] Jalalyn, mengulas ayat Al-Qur’an, 3:39.

    [126] Razi, al-Tafsit Al-Kabir, mengulas ayat Al-Qur’an, 3:39.

    [127] Ibn Kathir, mengulas ayat Al-Qur’an, 3:39. Lihat juga ulasan Tabari atas ayat yang sama.

    [128] Razi, Al-Tafsir Al-Kabir, mengulas ayat Al-Qur’an, 19:7.

    [129] Al-Qur’an, 22:73

    [130] Al-Qur’an, 3:49 dan 5:110

    [131] Al-Qur’an, 20:17-20.

    [132] Al-Qur’an, 27:10.

    [133] Al-Qur’an, 7:117.

    [134] Al-Qur’an, 2:60.

    [135] Al-Qur’an, 26:63.

    [136] Al-Qur’an, 3:39.

    [137] Ibn ‘Araby, Al-Fotuhat Al-Makkiah, 2:51, 52.

    [138] Ibid.

    [139] Al-Qur’an, 2:260.

    [140] Ungkapan ini hadir dua kali dalam Al-Qur’an, 3:49 dan empat kali dalam Al-Qur’an, 5:110.

    [141] Untuk rujukan, sila lihat ayat-ayat berikut dalam Al-Qur’an, 14:43; 35:32; 58:10; 2:213; 3:14 dan 166; 7:58.

    [142] Al-Qur’an, 35:32.

    [143] Al-Qur’an, 2:249.

    [144] Al-Qur’an, 59:5.

    [145] Al-Qur’an, 14:25.

    [146] Qashani, ulasan atas Fusus al-Hikam, hal. 175.

    [147] Al-Qur’an, 3:48. Lihat juga 5:110.

    [148] Qashani, ulasan atas Fusus al-Hikam, hal. 173.

    [149] Al-Qur’an, 36:78, 79.

    [150] Abd Al-Karim Al-Jilani, al-Insan al-Kamel (The Perfect Man), Jilid 2, hal. 8. Al-Matba’ah Al-Azhareiah, Cairo, 1328H.

    [151] Qashani, mengulas Fusus al-Hikam, hal. 181.

    [152] Ibid.

    [153] Abd Al-Karim Al-Jilani, al-Insan al-Kamel (The Perfect Man), Jilid 2, hal. 9. Al-Matba’ah Al-Azhareiah, Cairo, 1328H.

    [154] Al-Tirimizi, Kitab Khatm Al-Awliya, Disunting oleh Othman I. Yahya, Imperial Catholoque, Beirut, hal. 457-458. Dipetik dari Nawader Al-Osul, hal. 157-158.

    [155] Al-Qur’an, 3:55.

    [156] Al-Qur’an, 35:19-22.

    [157] Sahih Bukhari, Arabic-English, Dar al-Fikr, Jilid IV, Hadis no. 457. Lihat juga Jilid IX, Hadis no. 477.

    [158] Al-Qur’an, 7:143.

    [159] ‘Abd ‘Al-‘Aziz ‘Ezedin Assirawan, Al-Mo’gam al-Game’ la-Garib Mofradat al-Qur’an al-Karim, Edisi Pertama, Dar Al-‘Elm Lelmalayeen, Lebanon, 1986, hal. 240.

    [160] Al-Qur’an, 4:171.

    [161] Razi, Al-Tafsir Al-Kabir, ulasan atas ayat Al-Qur’an, 4:158.

    [162] Ibrahim Al-Qatan, mengutip Dr. Mustafa Mahmoud, Taysir Al-Tafsir, Jilid 3, hal. 6.

    [163] Ghazali, The Alchemy of Happiness, John Murry, London, 1910, hal. 41.

    [164] Sahih Bukhary, Arabic-English, Dar al-Fikr, Jilid 8, Hadis no. 408.

    [165] Iibid., Jilid 6, Hadis no. 236.

    [166] Ayoub, Mahmoud M, ‘Towards an Islamic Christology II’, Yhe Muslim World, Jilid LXX, No.2, April 1980, hal. 93.

    [167] Al-Tirimizi, Kitab Khatm Al-Awiliya, Suntingan Othman I. Yahya, Imperial Catolique, Beirut, hal. 457-458. Dipetik oleh Nawader Al-Osul, hal. 157-158.

    [168] Ibrahim Al-Qatan, Taysir Al-Tafsir, Jilid 3, memetik Dr. Mustafa Mahmoud, hal. reh dari huruf Arab.

    [169] Abd Al-Karim Al-Jilani, The Perfect Man, Jilid 2, hal. 37.

    [170] Abd Al-Karim Al-Jilani, al-Insan al-Kamel (The Perfect Man), Jilid 2, hal. 8.

    [171] Al-Qur’an, 19:31.

    [172] ‘Abd Al-Tafahum, The Muslim World, Jilid XLVI, No.2, April 1956, hal. 133.

    [173] Al-Qur’an, 19:39: ‘Bayi itu berkata: “Sesunnguhnya aku ini seorang hamba Allah, akan diberi-Nya Kitab Injil kepadaku, dan akan dijadikan-Nya aku seorang Nabi! Dan dijadikan-Nya pula aku seorang Pembawa Bahagia dimana saja aku berada.”

    [174] Nurbakhash, Javad, Jesus in the Eyes of the Sufis, Khaniqahi-Nimatullahi Publications, London, 1983, hal. 32.

    [175] Ibid., hal. 26.

    [176] Nurbakhash, Javad, Jesus in the Eyes of the Sufis, Khaniqahi-Nimatullahi Publications, London, 1983, hal. 32.

    [177] Ayoub, Mahmoud M, Towards an Islamic Christology II, The Muslim World, Jilid LXX, April 1980, No.2, hal. 109.

    [178] Nurbakhash, Jesus in the Eyes of the Sufis, hal. 27.

    [179] Nurbakhash, Jesus in the Eyes of the Sufis, dipetik dari ‘Attar Diwan, hal. 27.

    [180] Nurbakhash, Jesus in the Eyes of the Sufis, hal. 53-54.

    [181] Mohamoud Muhammad Taha, The Second Message of Islam, Sudan, hal. 136.

    [182] Sahih Bukhari, Arabic-English, Dar al-Fikr, Jilid IV, Hadis No. 501.

    [183] Sahih Bukhari, Arabic-English, Dar al-Fikr, Jilid VIII, Hadis No. 319. Berikut ialah satu contoh Muhammad meminta pengampunan: “Ya Allah! Basuhlah dosa-dosa aku dengan air dari salju dan hujan batu, dan bersihkanlah hatiku dari segala dosa seperti sehelai jubah putih yang dibersihkan dari kotoran, dan biarlah adanya satu jarak yang jauh antara aku dan dosa-dosaku, seperti Engkau meisahkan Timur dari Barat.” Sahih Bukhari, Arabic-English, Dar al-Fikr, Jilid VIII, Hadis No. 379.

    [184] Ibn al_khatib, al-Furqaan, Dar al-Kutub al-‘Elmeiah, Beirut, hal. 12.

    [185] Al-Qur’an, 20:120-121..

    [186] Al-Qur’an, 20:123.

    [187] Al-Qur’an, 21:101-103.

    [188] Razi, Al-Tafsir Al-Kabir, mengulas ayat Al-Qur’an, 3:52.

    [189] Baidawi, mengulas ayat Al-Qur’an, 4:170.

    [190] Baidawi, mengulas ayat Al-Qur’an, 3:39.

    [191] Baidawi, mengulas ayat Al-Qur’an, 5:113.

    [192] Razi, al-Tafsir al-Kabir, ulasan atas ayat Al-Qur’an, 2:87.

    [193] Dalam Al-Qur’an terdapat beberapa kata-kata yang berlainan yang boleh diterjemahkan sebagai dosa. Mereka adalah sinonim antara satu sama lain, jika tidak diampuni maka hukumannya ialah Neraka seperti yang didapati dari rujukan ayat berikut. [Lihat Al-Qur’an 3:16 dan 55:39 Zanb; 3:178 dan 4:48 Ethm; 2:81 dan 71:25 Khati’ah; 27:90, 4:18 dan 42:48 Saye’ah].

    [194] Al-Qur’an, 12:53.

    [195] Sahih Bukhari, Arabic-English, Dar al-Fikr, Jilid IV, Hadis no. 501.

    [196] Al-Qur’an, 2:81.

    [197] Al-Qur’an, 3:193,194.

    [198] Al-Qur’an, 26:78-82.

    [199] Al-Qur’an, 4:163.

    [200] Al-Qur’an, 18:16.

    [201] Al-Qur’an, 38:24.

    [202] Al-Qur’an, 94:1-3.

    [203] Al-Qur’an, 48:2. Lihat juga Al-Qur’an, 40:55, 4:106 dan 47:19. Al-Qur’an, mencatatkan beberapa dari dosa-dosa ini. Lihat Al-Qur’an, 9:43 dan 80:1.

    [204] Sahih Bukhari, Arabic-English, Dar al-Fikr, Jilid VIII, Hadis No. 319. Berikut ialah satu contoh Muhammad meminta pengampunan: “Ya Allah! Basuhlah dosa-dosa aku dengan air dari salju dan hujan batu, dan bersihkanlah hatiku dari segala dosa seperti sehelai jubah putih yang dibersihkan dari kotoran, dan biarlah adanya satu jarak yang jauh antara aku dan dosa-dosaku, seperti Engkau memisahkan Timur dari Barat.” Sahih Bukhari, Arabic-English, Dar al-Fikr, Jilid VIII, Hadis No. 379.

    [205] Sahih Bukhari, Arabic-English, Dar al-Fikr, Jilid VIII, Hadis No. 408.

    [206] Sahih Bukhari, Arabic-English, Dar al-Fikr, Jilid V, Hadis No. 715: ‘Ya Allah! Ampunilah aku, dan limpahkanlah berkat-mu ke atasku.’

    [207] Nurbakhash, Jesus in the Eyes of the Sufis, hal. 53.

    [208] Baidawi, mengulas ayat Al-Qur’an, 5:113.

    [209] At-Tirimizi, Kitab Khatm Al-Awliya, Disunting oleh Othman I. Yahya, Imperial Catolique, Beirut, hal. 162.

    [210] Hendy, Jilid 17, Hadis No. 919.

    [211] Al-Qur’an, 36:78,79.

    [212] Hendy, Jilid 18, Hadis No. 803.

    [213] Hendy, Jilid 18, Hadis No. 814.

    [214] Abd Al-Karim Al-Jilani, The Perfect Man, Part II, hal. 52.

    [215] Al-Qur’an, 1:2-4.

    [216] Suyuti, mengulas ayat Al-Qur’an 6:158.

    [217] Fotuhat Makkiah,2:49-50.

    [218] Fotuhat Makkiah,2:49-50.

    [219] At-Tirimizi, Kitab Khatm Al-Awliya, hal. 162.

    [220] Hendy, Jilid 17, Hadis No. 1018.

    [221] Hendy, Jilid 17, Hadis No. 1020.

    [222] Hendy, Jilid 18, Hadis No. 791; Lihat juga Sahih Muslim, Kitab Al-Fitan Wa Ashrat As-sa’ah (Edisi Arab), bagian 20, nota kaki 4.

    [223] Yousef Al-Qaradawi, ‘Elewah Mostafa dan ‘Ali Gammar, At-Tawhid, Qatar, 1968, hal. 167-168.

    [224] Razi, at-Tafsir al-Kabir, mengulas ayat Al-Qur’an,4:171.

    [225] Baidawi, mengulas ayat Al-Qur’an, 3:39.

    [226] Baidawi, mengulas ayat Al-Qur’an, 2:87.

    [227] Sabaki, Al tabaqat al shafe’eiah al Kubra, Jilid 6, hal. 235.

    [228] Razi, at-Tafsir al-Kabir, mengulas ayat Al-Qur’an,3:39.

    [229] Razi, at-Tafsir al-Kabir, mengulas ayat Al-Qur’an,3:39.

    [230] Baidawi, mengulas ayat Al-Qur’an, 4:170.

    [231] Baidawi, mengulas ayat Al-Qur’an, 5:113.

    [232] Baidawi, mengulas ayat Al-Qur’an, 3:39.

    [233] Razi, at-Tafsir al-Kabir, mengulas ayat Al-Qur’an,3:39.

    [234] Razi, at-Tafsir al-Kabir, mengulas ayat Al-Qur’an,4:171.

    [235] Maulvi Muhammad Ali, The Holy Qur’an, Edisi 2, Ahmadiyya Anjunam. I. Ish’aat.I.Islam, Lahore, Punjab, India, catatan kaki no.844,1920.

    [236] Al-Qur’an, 19:31.

    [237] Al-Qur’an, 9:40.

    [238] Baidawi, mengulas ayat iAl-Qur’an, 2:87.

    [239] Razi, at-Tafsir al-kabir, ulasan ayat Al-Qur’an 3:49.

    [240] Razi, at-Tafsit al-Kabir, ulasan ayat Al-Qur’an, 2:87. Lihat juga ulasan Jalalyn atas ayat yang sama.

    [241] Razi, at-Tafsit al-Kabir, ulasan ayat Al-Qur’an, 3:52-55.

    [242] Al-Qur’an, 36:77.

    [243] Qashani, mengulas Fusus Al-Hikam, hal. 175.

    [244] Ghazali, The Alchemy of Happiness, John Murry, London, 1910, hal. 35.

    [245] Ibid.

    [246] Al-Qur’an, 49:12

    [247] Perkataan Arab ini bermakna ‘pengasingan elemen anthropomorfis dari konsep ketuhanan’ (The Hans Wehr Dictionary of Modern Written Arabic, suntingan J M. Cowan, Edisi 3, Spoken Language services, Ithaca, New York, 1976).

    [248] Al-Qur’an, 3:45.

    [249] Baidawi, mengulas ayat Al-Qur’an, 3:45.

    [250] Razi, at-Tafsir al-Kabir, mengulas ayat Al-Qur’an, 3:45.

    [251] Qasemi, mengulas ayat Al-Qur’an, 3:45.

    [252] Al-Qur’an, 15:29-30.

    kemudian Karena dalam konsep TriTunggal saya diperkenalkan akan KASIH SETIA ALLAH pada umatNya

    Nas Lukas 15:11-24 –

    11 Isa berkata seterusnya, “Ada seorang yang mempunyai dua orang anak lelaki. 12 Anak bongsu berkata kepada bapanya, ‘Ayah, berilah saya sekarang bahagian harta yang akan menjadi pusakaku.’ Lalu bapa itu membahagikan hartanya kepada kedua-dua anaknya itu. 13 Tidak lama kemudian, yang bongsu itu menjual hartanahnya dan merantau ke negeri yang jauh. Di situ dia memboroskan wangnya dengan hidup berfoya-foya. 14 Setelah dia menghabiskan kesemua wangnya, suatu kebuluran yang teruk berlaku di negeri itu dan dia dalam keadaan serba kekurangan. 15 Dia pergi bekerja dengan seorang penduduk negeri itu dan disuruh menjaga babi di ladangnya. 16 Dia ingin mengisi perutnya dengan sekam kacang yang dimakan oleh babi tetapi tiada seorang pun yang memberikan apa-apa kepadanya. 17 Akhirnya, dia sedar dan berkata, ‘Semua orang gaji bapaku dapat makan hingga kenyang, tetapi aku ini hampir mati kelaparan! 18 Aku hendak kembali kepada bapaku, dan aku akan berkata kepadanya, ‘Ayah, saya telah berbuat dosa kepada Allah dan kepada ayah. 19 Saya tidak layak disebut sebagai anak ayah. Jadikanlah saya ini sebagai salah seorang gaji ayah.’ 20 Dia pun kembali kepada bapanya. Semasa dia masih jauh lagi, bapanya nampak dia. Hati bapanya penuh dengan belas kasihan dan dia berlari menemui anaknya. Bapanya memeluk dan menciumnya. 21 Anak itu berkata kepada bapanya, ‘Ayah, saya telah berbuat dosa kepada Allah dan kepada ayah. Saya tidak layak disebut anak ayah.’ 22 Bapa itu menyuruh hamba-hambanya, ‘Segeralah ambil pakaian yang terbaik dan pakaikannya kepada anakku. Sarungkan sebentuk cincin di jarinya dan pakaikan kasut pada kakinya. 23 Pilihlah anak lembu yang tambun, sembelihnya dan marilah kita menyambut kepulangan anakku dengan mengadakan jamuan. 24 Anakku ini telah mati tetapi hidup kembali; dia telah sesat tetapi sudah ditemui sekarang.’ Lalu jamuan itu dimulakan.

    Kasih Allah yang sebenar dan sejati itu sentiasa mencari-cari mereka yang berdosa, supaya pendosa-pendosa ini diberikan peluang dan boleh kembali ke pangkuan Allah, tanpa apa-apa syarat!
    Menurut sayidina Isa a.s., Allah diibaratkan sebagai Ayah dan Bapa yang telah diingkari oleh si anak yang bersifat biadab itu. Walaupun begitu, Si Ayah tiada memarahi atau menghukum anaknya itu, malah dia akan berhari-hari menunggu-nunggu akan kembalinya si anak yang ingkar ini.

    Nas Matius 18 : 14 –

    14 Begitu juga kehendak BapaKu yang di Syurga, Dia tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak yang kecil ini binasa.

    Nas 2 Petrus 3 : 9 –

    9b Tetapi Tuhan panjang sabar terhadap kamu, kerana Dia tidak mahu ada seorang pun yang binasa, melainkan supaya SEMUA INSAN datang kepada pertaubatan.

    Nas Lukas 15 : 4 – 7 –

    4 “Jikalau seorang antara kamu mempunyai seratus ekor kambing lalu kehilangan seekor, apakah yang akan dilakukannya? Dia akan meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor kambing di padang lalu pergi mencari kambing yang hilang itu sehingga ditemukannya. 5 Setelah dia menemukannya, dia akan memikul kambing itu di atas bahunya dengan sukacitanya. 6 Setibanya di rumah, dia memanggil sahabat-sahabat dan jiran tetangganya lalu berkata, ‘Bergembiralah dengan saya kerana saya telah menemukan kambing saya yang hilang itu.’ 7 Aku berkata kepadamu bahawa begitu juga akan ada kegembiraan di Syurga kerana seorang yang berdosa bertaubat, lebih daripada kegembiraan kerana sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak perlu bertaubat.

    Kasih Allah yang sebenar dan sejati tidak akan menyesatkan atau memesongkan dan menyelewengkan mana-mana insan di alam Dunia ini. Walau apa pun keadaan kesesatan mereka dan bagaimana ingkar mereka terhadap Allah swt. Tuhan akan tetap menyayangi mereka!

    Menurut sabda sayidina Isa al-Masih di atas, Allah diibaratkan sebagai Pemilik kambing itu. Walau pun salah satu ekor kambing (daripada 99 ekor) yang telah hilang dan sesat, Si Gembala yang Baik itu akan turun mencari domba yang sesat itu SAMPAI DAPAT KEMBALI! Inilah Kasih dan Sayang Allah Bapa yang asli, sebenar lagi sejati!

    Sebaliknya, kami mahu tanya, apakah kasih sayang Allah yang diajari oleh al-Quran merupakan kasih dan sayang Allah swt yang sejati?

    Sebenarnya, terdapat nas dan ayat-ayat al-Quran ada menyatakan tentang sifat dan tindakan Allah ‘yang tidak mengasihi manusia dan insan’ seperti berikut :

    “Allah TIDAK MENGASIHI MEREKA yang ‘melampaui batas'” Surah al-Baqarah 2/190.

    “Allah TIDAK MENGASIHI TIAP-TIAP ORANG yang ‘kafir dan berdosa'” QS 2/276.

    “Allah TIDAK MENGASIHI MEREKA yang ‘aniaya'” QS 3/57 & 140.

    “Allah TIDAK MENGASIHI MEREKA yang ‘sombong dan bermegah'” QS 4/36. Dll

    Dan banyak lagi ayat-ayat Quran yang lain, sama seperti di atas!
    Sudah sangat jelaslah bahwa ‘kasih-sayang’ Allah agama Islam itu amat bersyarat lagi terbatas kerana terdapat ramai insan yang tidak dikasihi atau disayangi oleh Allah!

    Juga, amat jelas sekali, bahawa kasih sayang Allah agama Islam sungguh jauh sekali dan TIDAK SETANDING DENGAN KASIH-SAYANG Allah Ta’ala seperti mana yang telah diajari oleh Sayidina Isa a.s.yang tidak bersyarat lagi sejati itu.
    Kitab Suci Injil telah menyatakan tanpa apa-apa kemusykilan bahawa “ALLAH ITU KASIH” – 1 Yahya 4:16. Dan Kasih Allah ini TANPA SYARAT dan juga mengasihi SEMUA INSAN tanpa berbeda-beda.

    Sebaliknya, lebih mencurigakan dan bercanggahan lagi dalam al-Quran, ialah hakikat bahawa Allah agama Islam itu MEMESONGKAN MANUSIA DAN MENYESATKAN INSAN YANG TELAH DICIPTAKANNYA!

    Surah 14 / 4 – “Maka Allah MENYESATKAN SIAPA yang dikehendaki-Nya, dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya…”

    Surah 2 / 26 – “Allah MENYESATKAN KEBANYAKAN ORANG dengan perumpamaan itu..”

    Surah 61 / 5 – “Maka tatkala mereka terpesong, ALLAH TELAH MEMESONGKAN HATI mereka…”
    Surah 4 / 88-89 – “BARANG SIAPA YANG DISESATKAN OLEH ALLAH, maka engkau tiada memperoleh jalan untuk menunjukinya.”.
    Serta di dukung oleh banyak ayat-ayat al-Quran lain yang mirip dengan ayat-ayat di atas!

    Jikalau Allah swt itu benar-benar bersifat ar-rahman dan ar-rahim (yakni “Pengasih” dan “Penyayang”), mengapakah al-Quran sendiri ada menyebut bahawa Tuhan tidak mengasihi umat tertentu?

    Lebih-lebih lagi, kenapa juga al-Quran ada menyatakan bahwa Allah menyelewengkan manusia dan menyesatkan hati manusia supaya mereka tidak dapat memperoleh apa-apa bimbingan dan petunjuk di atas Bumi ?

    Amat jelaslah bahwa, tindakan Allah seperti ini bertentangan dan bercanggah secara langsung dan ketara dengan nama-nama-Nya yaitu “ar-rahman” dan “ar-rahim”. Kedua-dua sifat-sifat tersebut dengan jelasnya sudah dibatalkan dan ditentang oleh tindakan-tindakan Allah seperti mana yang disabdakan dalam Surah 14/4, surah 2/26, surah 61/5, surah 4/88-89 Dan ayat-ayat lain.al-Quran seperti itu!

    Jelaslah daripada sumber al-Quran sendiri, Allah agama Islam itu, sememangnya menyesatkan orang, dan memesongkan hati mereka daripada jalan yang lurus! Jalan yang menghala ke hidup yang sejati dan kekal abadi. Adakah itu sifat-sifat Pengasih dan Penyayang yang sebenar dan yang sejati? Jauh sekali!

    Sesungguhnya ayat-ayat al-Quran di atas semuanya membatalkan dan bercanggah secara terus terang dengan dua ‘nama Allah’ itu yaitu ‘ar-Rahman’ serta ‘ar-Rahim’!

    Sebaliknya, ayat Al-Kitab (yakni Kitab Suci Injil) pula berbunyi demikian :

    “Ketika kita masih lemah, pada saat yang telah ditentukan oleh Allah, Al-Masih telah mati bagi kita, orang-orang fasik.

    “Sukar sekali seseorang mahu mati untuk seorang yang saleh, sekali pun untuk orang yang baik budinya barangkali ada orang yang berani atau rela mati.

    “Akan tetapi, ALLAH TELAH MENYATAKAN KASIH-NYA KEPADA KITA, kerana Al-Masih Isa telah mati untuk kita, KETIKA KITA MASIH BERDOSA.”
    Roma 5 : 6 – 8.

    Alangkah begitu indah dan manisnya Kasih sayang Allah swt yang sejati dan tulen itu!

    Firman Allah meneruskan :

    “Lebih-lebih lagi sekarang, setelah kita ditebuskan oleh darah-Nya! Tentu Dia akan menyelamatkan kita dari murka Allah.

    “Kerana jika waktu kita masih menjadi seteru Allah, kita sudah didamaikan dengan Dia melalui penebusan Putera yang telah datang daripada Allah, lebih-lebih lagi sekarang, setelah kita berdamai! Sudah tentu kita akan diselamatkan oleh hidup-Nya.”

    Roma 5 : 9 – 10.

    Jika anda masih mencari-cari untuk mengenali dan menghayati kasih sayang Allah swt yang sebenar dan sejati, sahutlah seruan Hawari Yahya, Rasul Sayidina Isa a.s. yang akrab, yang telah bersaksi seperti berikut:

    “Inilah kesaksian yang benar itu, bahwa Allah telah mengurniakan kepada kita hidup yang kekal, dan kehidupan itu ada di dalam Putera yang telah datang daripada Allah.

    “Sesiapa yang menerima Sang Putera itu, ia menerima kehidupan dan (sebaliknya) orang yang tidak menerima Putera yang telah datang daripada Allah, ia pun tidak menerima hidup.

    “Aku sudah menuliskan hal ini kepadamu supaya kamu tahu bahwa kamu sudah menerima kehidupan yang kekal, yaitu kamu yang percaya kepada Nama Sang Putera yang datang dari Allah.”

    1 Yahya 5 : 11 – 13.

    Sayidina Isa a.s. sendiri, juga telah menyatakan tentang apakah kasih-sayang yang tulin dan yang sejati itu :

    “TIDAK ADA KASIH yang lebih besar daripada kasih seseorang yang menyerahkan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”

    Yahya 15 : 13

    Dan Baginda sendiri telah mengkabuli dan menjadi tauladan teragung bagi sabda baginda di atas, apabila baginda telah berfirman seperti berikut:

    “Anak Manusia (Isa al-Masih) telah datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, dan memberikan nyawanya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

    Matius 20 : 28

    Itulah sebabnya amat tidak hairan sekali mengapa Hawari Yahya boleh menyatakan dengan penuh yakin dan kepastian bahwa:

    “..Mereka yang tidak mengasihi, tidak mengenal Allah, kerana ALLAH ITU KASIH adanya..”

    1 Yahya 4 : 8.

    Masih perlu lagikah saya tulis sesuatu tentang Isa Al -Masih yang kami kenal?yang kami Imani sebagai satu kesatuan pada TRINITAS?
    masihkan Anda mengatakan kami umat Kristiani mengalami dilema?
    Inilah yang Kami Imani Isa Al-Masih SANG PENYELAMAT.

    Sungguh tiada Nabi yang seperti Dia sehingga Dia menjadi Tuhan bagi kami.Roh Allah yang bersemayam dalam tubuh ANAK MANUSIA yaitu Isa Al-Masih, Roh Allah yang kami puja dalam Isa Al – Masih.
    Kami berdosa pada mulanya itu sebabNya kami butuh Sang Penyelamat karena Isa Al-Masih dalah RAHMAT dan KASIH KARUNIA KARUNIA dari Allah Bapa yang sanggup membawa kami Kedalam Kerajaan Allah(Surga) Tiada lain selain Dia yang Berasal dari Surga dan Naik KeSurga yang bisa menyelamatkan kami. Sebab tak ada orang lain yang Berasal dari Surga dan Naik KeSurga Selain Dia dan tak ada Jalan Kebenaran dan Hidup untuk sampai kepada Bapa selain Dia.
    Roh Allah(Roh Kudus) adalah Allah sebagaimana mestinya Isa Al-Masih yang penuh dengan Roh Allah dan suci bebas dari dosa.

    MATIUS 5:3-14
    Ucapan Isa Al-Masih tentang Kebahagian
    Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.*
    Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.*
    Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.*
    Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.*
    Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.*
    Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.*
    Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.*
    Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.*
    Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.*
    Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”*
    “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.*
    “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.*

    Terima Kasih Salam Sejahtera…..

    Cihu'i said:
    Oktober 11, 2007 pukul 1:22 am

    Post sdr Acing tak pernah ditampilkan lagi ?
    Kenapa pdhal banyak mempost lagi

    NH Soewignyo said:
    Oktober 15, 2007 pukul 12:21 am

    Sekedar meluruskan pemahaman saudara T Mulya tentang penciptaan, setan dan neraka.

    Penciptaan
    dapat dibaca dalam kitab Kejadian 1:1; Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. dst sampai pada penciptaan manusia; Kej 1:26 Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita (Allah dan malaikat2nya), supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”
    1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
    Allah menciptakan manusia tanpa dosa.

    Rancangan Tuhan untuk manusia (Yeremia 29:11)
    Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
    Tuhan tidak merancang neraka untuk manusia.

    Setan
    Siapakah setan? Setan adalah sejumlah malaikat yang memberontak. Ada di 2 Petrus 2:4; Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman; Yudas 1:6;
    Dan bahwa Ia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar.
    Neraka dirancang untuk setan.

    Mengapa manusia berdosa (menjadi jahat)
    Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat. 1 Yohanes 5:19
    Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; Efesus 6:11
    Dapatkah manusia melawan iblis? “tidak dapat” kecuali “mengenakan perlengkapan senjata Allah”.

    Gambaran Allah yang ternoda;
    Manusia diciptakan Allah serupa gambarNya, tetapi menjadi rusak oleh karena dosa (setan) melalui ketidak-taatan manusia pertama (dosa) sehingga hubungan Allah yang kudus dengan manusia terputus.
    Manusia tidak akan pernah mampu untuk megembalikan keserupaannya dengan Allah. Manusia tidak dapat menolong dirinya sendiri. Allah berinisiatif untuk menolong manusia, dengan jalan merendahkan diriNya menjadi manusia.

    Mengapa Allah tidak langsung saja menolong manusia?
    Ini akan sangat mudah dilakukanNya tetapi berlawanan dengan hakekat dan hukum2 Allah yang adil. Dosa bisa dibayar dengan pengorbanan darah, tetapi korban tidak dapat mengembalikan gambaran Allah pada diri manusia.

    Yesus adalah satu-satunya jalan.
    Yesus adalah korban penebusan dosa manusia, juga mengembalikan gambaran Allah yang ada pada manusia.

    Jalan ke Sorga
    Semua usaha manusia untuk mencapai ALlah adalah sia-sia. Allah menawarkan diriNya melalui Yesus sebagai satu-satunya jalan untuk manusia datang kepadaNya.
    Segala usaha manusia untuk memohon pengampunan dosa belum cukup jika tidak melalui Yesus. Karena di dalam Yesus, manusia menjadi sempurna seperti ciptaan semula.
    Allah itu kudus adanya. Untuk datang kepadaNya, manusia harus kudus. Hanya Yesus yang tidak berdosa. Di dalam Yesus manusia dikuduskan dan diterima Allah.

    Penghakiman
    Yesus akan datang ke dua kalinya ke dunia sebagai Hakim Yang Agung. Mengapa bukan nabi-nabi lainnya? Karena Dialah Tuhan.
    Yoh. 1:1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

    Petir Timur said:
    Oktober 25, 2007 pukul 2:33 am

    @Post 80

    Ayam dan telur menurut saya dulu Ayam. Tuhan mencipta alam semesta ini termasuk binatang, bukan telur. Kalau diciptakan telur, siapa yang mengerami ?

    Anda mencoba menerangkan/mempertanyakan hal-hal yang sudah banyak di bahas. Sama sekali tidak ada lebihnya dengan klaim-klaim temen-temen anda.

    Kalau mau tanya di sini:

    http://www.sarapanpagi.org
    http://www.answering-islam.org/Bahasa/index.html
    http://www.the-good-way.com

    Tenk yu …

    Cahaya Islam responded:
    November 19, 2007 pukul 9:17 am

    Bagi saudara-saudara yang masih berkenan mengikuti diskusi kami ini, diharapkan tidaklah keluar dari pembahasan inti kita, yakni pembahasan tentang trinitas itu sendiri. Mungkin anda sendiri menyaksikan beberapa komentar diatas, diantaranya saudara @Naldy @Ridwan Simanulang, @Just say somethin, @NH Soewignyo @Petir Timur…………..yang kami kira keluar dari jalur pembahasan. Marilah kita kembali mengadu argumen untuk membahas masalah trinitas tersebut.

    abu lahab said:
    Desember 23, 2007 pukul 12:06 pm

    kenapa orang islam memaksakan ajarannya tentang tauhid menurut quran??kenapa islam tidak mendalami quran kitabnya yang tidak jelas itu?misalnya isa di beri kitab,ada buktinya?

    ahmed said:
    Desember 23, 2007 pukul 2:24 pm

    Assalamualaikum Wr.Wb
    Mungkin saya kurang pandai dalam hal agama, tapi saya akan mencoba menanggapi tentang sifat Allah SWT.
    Kita dan seluruh semesta alam ini adalah pancaran dari sifat Allah, tapi kita bukanlah Ia. Kita mempunyai banyak kecenderungan sifatnya tapi kita tak sesempurna Ia. Kita mempunyai sifat lembut, halus, sopan dll dan hampir menyerupai dengan asma2 Allah yang 99 itu. Tapi mungkin hanya itu sifat yang Ia tunjukkan kepada kita di muka bumi ini, karena mungkin hanya itu yang kita perlukan untuk hidup di bumi ini. Ada sifat Allah yaitu “berbeda dengan ciptaannya”.Jika merunut kepada trinitas maka Jesus adalah sosok yang yang manusia sedangkan roh kudus adalah perantaraan Allah yang bisa jadi seorang malaikat. Tentunya kedua ciptaan Allah itu tak sepadan dengan Allah Yang Esa karena Dia tak seperti ciptaannya meskipun ia banyak memiliki sifat-Nya.
    Asmaul Husna yang 99 menunjukkan sifat2-NYa tanpa membedakannya dalam 99 wujud. Sedangkan Jesus dan Roh Kudus adalah wujud tersendiri.Berarti tak menyatu dengan Allah SWT.
    Jesus dan Roh Kudus adalah wujud dari bayangan/pancaran Allah di alam semesta. Bayangan tak pernah sama dengan aslinya, karena pasti kanan sama dengan kiri dan begitu pula sebaliknya. Pancaran-Nya tak pernah sama dengan sumbernya bisa lebih dingin dari pusatnya.
    Saat kita berdoa kita diizinkan menggunakan asma Allah yang 99 yang merupakan sifatnya. Misalnya seorang jabatannya adalah kepala kampung di rumahnya, direktur di tempat ia bekerja, dan ustad di masjidnya. Seorang yang satu itu kita panggil ia menurut kapasitasnya di lokasi setempat. Sedangkan jika menganggap Jesus, Allah Bapa dan Roh Kudus adalah satu dan kita panggil Ia berbeda karena lokasinya hal itu sangatlah berbeda dengan analogi si kepala kampung, direktur dan ustad di atas.Hal itu disebabkan tidak adanya perbahan wujud pada jasmaniahnya begitu pula dengan Allah yang tak pernah dalam wujud yang berbeda namun hanya kita panggil Dia dengan nama lainnya. Sedangkan Jesus sudah jelas berwujud manusia, ruhul kudus adalah malaikat dan Allah Bapa adalah dzat yang berbeda.
    Allah menciptakan dengan kun fa ya kun lalu terjadilah!!
    Lalu mengapa untuk menciptakan diri-Nya sendiri harus melalui perantaraan seorang Maria dalam wujud Jesus.Bagaimana induk ayam lahir dari telur yang ia telurkan sendiri!!
    Allah adalah Maha Kuat dan Raja Segala Raja.Raja tak perlu turun sendiri ke atas dunia untuk mengabarkan kebenaran “meskipun ia mampu”. Ia hanya perlu menyuruh “pesuruh2nya”.Kalaupun ada yang menyatakan bahwa betapa sayangnya Allah kepada kita sehingga Ia akan turun sendiri ke dunia untuk memberi peringatan!!Saya kira saat2 inilah yang waktu yang tepat bagi Allah untuk turun lagi ke dunia karena sudah banyak terjadi kerusakan di muka bumi ini.Tapi saya tidak tahu Tuhan turun di mana dan apakah jika dia memang berada dunia apakah itu benar Ia!!
    Apakah tidak cukup bagi kita untuk merenungi semua ciptaan Allah yang ada di bumi dan mengambil hikmahnya demi berjalannya suatu kebaikan dan kebenaran daripada Allah yang harus turun sendiri ke dunia dalam wujud Allah putra.
    Menurut tafsiran Al Quran yang saya ketahui: Allah menciptakan nabi yang bernama Isa Al Masih (Jesus) dengan menyuruhkan Malaikat Jibril (Ruh kudus) untuk meniupkan ruh yang merupakan ciptaan Allah ke dalam rahim Maryam (Maria) tanpa perlu di buahi. Hal itu sama dengan waktu saya yang saat di dalam kandungan berwujud janin ditiupkan ruh oleh malaikat.Sedangkan ibu saya di buahi oleh ayah saya dan ruhnya datang dari Allah SWT. Apakah dengan demikian saya adalah putra dari ayah saya dan juga putra dari Allah SWT!!bukan kan!!Karena dalam Surat Al Ikhlas, Allah tak berputra dan tak diputrakan !!
    Wassalam.Wr.Wb.

    juz say somethin said:
    Februari 25, 2008 pukul 11:42 am

    justru itulah yang menjadi perbedaan mendasar antara kaum kristiani dgn muslim…
    kalau kaum muslim yang memiliki agama untuk di Selamatkan ALLAH SWT dgn cara ALLAH “menyuruh” orang kepercayaanNya tetapi tidak dengan kaum kristiani yang Diselamatkan karena ALLAH lah yang berinisiatif untuk menyelamatkan manusia karena ALLAH tau bahwa semua manusia telah berdosa dan takkan ada yang bisa mencapi RUMAHNYA sebab yang tidak sempurna tidak akan dapat mencapai yang sempurna! bukan begitu?
    karena itu kaum kristiani dalam perihal keselamatan itu semata2 adalah KASIH KARUNIA ALLAH yang terlebih dahulu mengasihi kita dengan memberi Jalan untuk MENUJU RUMAHNYA. AGAMA KRISTEN adalah sebuah tanggapan dari inisiatif ALLAH karena mau menyelamatkan kita terlebih dahulu! BUKAN KITA YANG MEMILIH ALLA TAPI ALLAH YANG MEMILIH KITA TERLEBIH DAHULU.

    juz say somethin said:
    Februari 25, 2008 pukul 11:44 am

    masalah surat al – ikhlas tentang ALLAH tidak berputra dan diputrakan jangan kalian anggap itu adalah hub biologis seperti layaknya manusia. tetapi suatu JABATAN sama dengan AL-MASIH yang dimana tak ada NABI lain yang MENYANDANG GELAR INI…

    Petir Barat said:
    Maret 28, 2008 pukul 3:08 am

    Ass Wr Wb

    Makasih Bung Abu Aqilah..
    Yang masih mau menanggapi diskusi ini dan membiarkan link
    ke situs besar lain.
    Justru ini yang akan membawa pemahaman banyak orang akan pengenalan pribadi Yesus yang wajiham fidunya wal akhirat ! Termasuk temen-2 muslim, diam-2 mulai banyak membaca situs-2 Nasrani, justru dari link-2 di situs ini.

    Ws Wr Wb

    pecinta saifah said:
    April 13, 2008 pukul 2:37 pm

    mari-mari…….. diskusi bersama kami dengan tampilan yang lebih menarik di http://www.gemapembebasan.or.id

    di tunggu lho semuanya…….

    cumanmobenerin said:
    April 18, 2008 pukul 6:31 am

    gini aja konsepnya trinitas yg udah disebutin di atas (baik itu apakah hubungan bapa-anak atau hanya sekedar sebutan teserah-Tuhan mo jadi apa).
    Bagi gw kedua gak masuk akal.
    – Untuk hubungan bapa – anak
    logikanya gene… kalo gw bilang anak pasti ada bapak kan?
    begitu juga sebaliknya

    nah kalo di trinitas ngomongin bapa-anak, mnurut gw ini yg paling pas dimaksud dengan trinitas yg telah dibicarakan orang banyak & mungkin ini terjadi karena Nabi Isa a.s. dilahirkan tanpa ayah. dan disalah artikan sebagai firman yg hidup. (padahal Nabi Adam a.s lebih aneh lagi tanpa ayah & ibu).

    trus kalo pake pikiran semau Tuhan mo jadi apa, pertama kalo ketiganya sama dan dibilang sama, kok pakek dijelasin 3 dalam 1. Kenapa gak SATU aja? Bapa… ya Bapa… Tuhan… ya Tuhan.. trus maksudnya ini apa yah “Eli, Eli, lama sabachthani” (Tuhan mengapa engkau meninggalkanku). Kenapa gak “waduh mampus gua” atau “cape dehhh” “kok bisa geneh” kok malah mengungkapkan kekecewaan terhadap orang lain yg ia anggap sebagai penolongnya.

    sekian

    sudah bener said:
    Mei 2, 2008 pukul 2:31 am

    TUHAN tidak mungkin kita kenal jika dia tidak BERFIRMAN. Dan FIRMAN itu tidak mungkin LAHIR jika Tidak BERKEHENDAK. Sudah dijelasin diatas, anda tidak mampu memahaminya.

    Anda baru mampu memahami 1+1+1=3. Kami sudah sampai pada 1x1x1=1 !

    Khalisa said:
    Mei 12, 2008 pukul 8:27 am

    mas juz say somethin, itulah perbedaan yang mendasar antara Islam dan Nasrani versi anda. Dalam agama Nasrani versi anda Tuhan berinisiatif menyelamatkan manusia dari dosa karena manusia sejak lahir sudah mewarisi dosa turunan dari Adam. Dengan kata lain seorang manusia (versi Nasrani) baik yang berbuat saleh maupun yang jahat dalam hidupnya akan diselamatkan oleh Tuhan. Dengan kata lain manusia tanpa perlu berjuang untuk menjadi baik sudah dijamin masuk surga karena Tuhan melalui “anaknya” telah mengurbankan dirinya untuk menebus dosa manusia.

    Sedangkan dalam Islam, Tuhan berkehendak agar seluruh manusia selamat dan masuk surga. Tapi keselamatan itu harus digapai atau dicapai melalui suatu perjuangan seumur hidup melawan hawa nafsu dengan metode/petunjuk yang disampaikan Tuhan melalui para utusan-Nya. Dalam Islam manusia adalah makhluk yang mulia dan paling tinggi derajatnya dibanding makhluk2 lainnya, yakni bahwa manusia dianugerahi akal dan kebebasan untuk memilih yang baik dan atau yang buruk. Itulah yang membedakan manusia dan binatang yang tidak punya akal dan pilihan.

    Adalah suatu kesia-sia yang fatal dalam penciptaan Tuhan ketika suatu makhluk yang paling sempurna jasad dan akalnya tidak diberi suatu TANGGUNGJAWAB untuk menggunakan segala karunia yang diberikan Tuhan kepadanya untuk digunakan di jalan-Nya atau mengabdi pada-Nya dan kemudian Tuhan MEMINTA ERTANGGUNGJAWABANNYA kelak di akhirat apa yang sudah diperbuatnya di dunia.

    Dalam ajaran Islam Tuhan mustahil melakukan perbuatan yang demikian. Semua perbuatan-Nya memiliki tujuan dan tidak ada sedikitpun kesia-siaan.

    Sengaja saya tidak mengutip satupun ayat atau hadis, karena pasti akan tabrakan dengan ayat/dalil yang anda bawa. Dan sampai kapanpun tidak akan ketemu. Saya lebih cenderung menggunakan dalil akli. Mudah-mudahan dengan menggunakan akal sehat kita akan menemukan kebenaran.

    Satu hal pula yang harus diperhatikan bahwa dalam Islam dan juga secara hukum akal, Tuhan sebagai Pencipta mustahil sama dengan yang diciptakan-Nya (makhluk). Ketika Tuhan Yang Tidak Terbatas karena sangat cintanya kepada manusia, maka Dia harus “menjadi manusia” yang serba terbatas untuk mengorbankan dirinya, maka Dia menjadi terbatas dalam segala hal. Dan ini mustahil dan bertentangan dengan akal sehat. Dialah Sang Pembuat Hukum dan mustahil Dia Sendiri yang melanggar hukum-Nya Sendiri. Coba renungkan.

    sudah bener said:
    Mei 13, 2008 pukul 6:01 am

    Untuk post 108 :

    Anda keliru. Tuhan berinisiatip untuk menyelamatken manusia. Syaratnya, si manusia itu harus ikut si penyelamat itu. Ibaratnya, harus mengikuti kemana si juru selamet itu berjalan atau pendek kata, nurut perintahnya.

    Kalau mau ikut, pasti selamat, wong si juru selamet itu rumahnya di surga, pulangnya ke surga, bukan di kuburan !

    Jadi tidak kok semua orang tiba-2 mengaku ki juru selamet lalu selamet gitu. Ada syaratnya.

    naldy said:
    Mei 24, 2008 pukul 9:51 am

    nah itu dia, kenapa kalian selalu berpikir menggunakan akal sehat dan logika.

    padahal iman dan akal sehat atau logika g bisa nyatu…
    Anda pikir Anda bisa membongkar rahasia TUHAN?
    manusia terbatas…saya juga merasa percuma menjelaskan trinitas seprti perumpamaan MATAHARI BULAN BINTANG dan perempumaan yang lain itu semua PERCUMA kalau Anda hanya menangkap secaraq logika.bukan akal sehat yang menjawab tapi keyakinan Anda.Anda berpikir mustahil Tuhan yang TAK TERBATAS itu menjadi manusia yang merasa sakit dan menderita…Tapi DIA TUHAN. Tersera DIA mau jadi apa yang IA kehendaki. DIA mau jadi JENDRAL PERANG ATO MAU JADI MANUSIA DALAM WUJUD YESUS/ISA. TERSERAH DIA. DIA kan MAHA KUASA. MASA IYA ANDA berpikir TIDAK mungkin TUHAN melakukan itu??memang ANDA BISA selangkah lebih maju dari pada TUHAN?

    ITU adalah rahasia ILLAHI jangan Anda sangkut pautkan dengan logika atau akal sehat…

    satu lagi bukan bearti UMAT NASRANI tidak perlu berusaha…
    UMAT NASRANI juga berusaha karena JAMINAN keselamtan yang di berika YESUS bisa hilang kalau kita dtidak mempercayai dan melakukan perbuatan baik. kita berbuat baik dan melakukan amal bukan untuk mencari SURGA tapi sbg rasa TRIMAKASIH karena YESUS sudah menyedikan tempat bagi Kami di SURGA. kenapa bisa YESUS ngomong gitu? KARENA DIA BERASAL DARI SANA!!!!!

    tetntu saja JAMINAN Keselamatan itu bisa hilang kalau kita sbg umat NASRANI TIDAK MELAKUKAN PERBUATAN BAIK.

    Nb : jangan berpikir dalam logika dan akal sehat mengenai YANG MAHA KUASA tapi dengan Iman Anda saja yang menjawab itu semua dan pertolongan dari ALLAH tentunya.
    KARENA TURUNNYA al quran ke dunia ini saya rasa itu tak bisa Anda jawab dengan akal sehat juga kan?masa Iya TUHAN nulis buku mpe bejubel gtu pke bhs ARAB lagi? kepikir g pke logika?g kan? sama begitu juga Anda berpikir MASA TUHAN SENDIRI DATANG KEDUNIA INI dalam wujud manusia?

    alamak said:
    Juni 10, 2008 pukul 6:28 am

    Sebaiknya kita semua kembali ke sejarah awal agama-agama dunia. Buku yang menurut saya baik adalah “History of GOD” tulisan Karen Armstrong. Buku ini bisa dibeli di Amazon.com, bisa juga beli versi bahasa Indonesia-nya “Sejarah Tuhan” dari internet.

    GANDUNG said:
    Juli 19, 2008 pukul 10:53 am

    whaduhh……
    pembicaraan melenceng kemana-mana, saya yang udah ngikutin dari awal, jadi puyeng dengan postingan yang panjangnya sak arat-arat dari saudara naldy dan yang lain-lain.
    posting-posting itu mengaburkan fokus. Anggap saja saya ini atheis dan hendak memilih agama untuk diri saya. Tentu saja saya tidak mau berdasar pada salah satu kitab.
    lalu apa perangkat dasar yang saya miliki untuk menalar tentang Tuhan…? yang diberikan kepada manusia sehingga manusia BERBEDA dengan yang selainnya..?? adalah SANG AKAL. Apakah mungkin Tuhan mengenalkan dirinya kepada manusia dengan konsep yang tak dimengerti manusia…?
    AKAL….. wahai betapa oentingnya.

    tolong dong mas Cahaya Islam, mas Acing, Mas Kian Santang, mas T Mulya…. diskusi anda mencerahkan. saya sudah nggelar tikar ini, nyiapin kopi dan cemilan. lanjuuttt doong…..

    sebenarnya kalau boleh berharap,… seperti artikel diatas, tidak terjebak pada klaim dari kitab masing-masing, tapi murni dari penalaran sebagai tolok ukur.

    GANDUNG said:
    Agustus 5, 2008 pukul 7:21 am

    Mas kurusetra,…. manna lagi tulisannya…? saya tunggu loh,…
    suerr,… ulasan- anda muantab.

    Dono. said:
    Agustus 6, 2008 pukul 11:13 am

    Ass.wr.wb.
    Sebelum saya menceritakan pengalaman saya yang berikut ini, saya memohon agar kita sebagai muslim agak sedikit melapangkan dada untuk menerima atau tidak menerima cerita saya berikut ini.Apakah ini suatu kenyataan ataukah tidak terserahlah kepada yg mendengarnya, kalau seandainya bapak keberatan untuk menerimanya dan menghapusnnya, untuk pribadi saya, juga saya tidak ada masalah,karena menurut hakikat saya,mendengar atau melihat cerita ini akan menimbulkan kebencian, penghasutan, pencacian dll,jadi saya serahkan saja kepada akal manusia yg sehat untuk menimbang baik atau buruknya.

    Beginilah ceritanya:
    Pada tanggal 3 bulan juli th 2008 masuk bulan rajab malam jumaat lalu setelah maghrib muncul makhluk bersayap yg sayapnya seperti mutiara-mutiara yg bertebaran di muka bumi ,begitu besarnya beliau dari pandangan saya,yg berjarak kira-kira 5 meter dari hadapan saya,keindahaan beliau tidak terlukiskan.
    Perkataan beliau yg pertama adalah: Tuliskan!lantas sekali lagi Tuliskan!
    Saya cepat mengambil kertas dan pena kemudian duduk kira-kira satu meter dari hadapan beliau.
    Perkataan beliau yg kedua:Assalamualaikum.
    Saya jawab wallaikumsalam.
    Perkataan beliau yg ketiga:saya Jibril,Tuliskan!
    Saya akan datang bersama Isa almasih kedunia bersama sembilan wali-wali dan bersama 200 lebih malaikat-malaikat.
    Waktu sudah sangat singkat, mulai tahun 2010 banyak kejadian yg akan merampas jiwa manusia.
    Perkataan beliau yg keempat:apa yg engkau inginkan? menyebarkan firman-firman Allah S.W.T, jawab saya.
    Perkataan beliau yg kelima:ada lagi?InsyaAllah, Allah S.W.T akan memberikan petunjuk kepada kami,jawab saya.
    Perkataan beliau yg keenam:baiklah! lantas beliau mengambil kedua belah tangan saya,beliau menyuruh saya berzikir.
    -Allahhuakhbar33x
    -Subhanallah33x
    -Alhamdulillah33x
    -Allah S.W.T33x
    -Laillahhailallah33x
    -Laillahhailallahmuhammadarasulallah33x
    Perkataan beliau yg kesepuluh:ingat!
    1.jangan engkau sombong
    2.bersabarlah
    3.sayang kepada kedua orang tua
    4.jangan engkau membuat kesalahan
    Beliau tunduk sejenak, lantas beliau berkata,saya musti kembali dan menyapa saya assalamualaikum, saya jawab wallaikumsalam Jibril a.s, dia membuka sayapnya lantas terbang begitu cepatnya.

    Saya beranggapan bahwa ini hanyalah sebagai amanah.
    Marilah kita menyimak cerita ini bersama dengan akal yg sehat menurut Alquran dan hadits-hadits rasulallah Muhammad S.A.W.

    Apakah kita sudah bersiap atas kedatangan tanda-tanda akhir zaman?

    Wassalam.

    zzzz said:
    Agustus 8, 2008 pukul 6:49 pm

    oke, akal memang pentink…

    tetap saja akal manusia takkan pernah menjawab rahasia ILLAHI dan mendeskripsikan bagaimana ALLAH…

    lalu dengan apa seorang manusia mendeskripsikan ALLAH?

    ya hanya dengan IMAN saja…

    Anda melihat Anda percaya itu pikiran akal sehat manusia…

    Anda tak melihat namun Anda percaya dan meyakini…

    itu adalah IMAN…(FAITH)

    Mr. Nunusaku said:
    Agustus 30, 2008 pukul 8:03 am

    Apa yang tidak mungkin bagi manusia (karena keterbatasan akal kita) itu mungkin bagi Allah.
    Memang tentang trinitas kresten, bagi akal manusia islam
    tidak mampu memlihat kekuasaan Allah dan manusia muslim
    tidak mampu melihat.

    Seperti saya memberikan contoh; Wahyu yang datang dari Goa Hira kepada Muhammad, walupun tiada saksi satupun untuk membuktikan hal tersebut, tetapi muslim tetap ngotot percaya melalui iman yang buta.

    Contog kedua; Jika seorang muslima dia diperkosa oleh seorang lelaki, lalu dia membawa hal tersebut kemakamah
    pengadilan, mengapa mereka menuntut harus ada saksi dua orang untuk membenarkan hal itu terjadi.

    Mengapa mereka menunut harus ada dua saksi untuk membenarkan perkosaan tersebut…?
    Apakah mereka tidak percaya hal itu terjadi…?

    Demikian pulah dengan wahyu di Goa Hira kepada Muhammad….tanpa saksi….harus diimani….?

    zzzz said:
    September 3, 2008 pukul 7:49 pm

    Pada tanggal 3 bulan juli th 2008 masuk bulan rajab malam jumaat lalu setelah maghrib muncul makhluk bersayap yg sayapnya seperti mutiara-mutiara yg bertebaran di muka bumi ,begitu besarnya beliau dari pandangan saya,yg berjarak kira-kira 5 meter dari hadapan saya,keindahaan beliau tidak terlukiskan.
    Perkataan beliau yg pertama adalah: Tuliskan!lantas sekali lagi Tuliskan!
    Saya cepat mengambil kertas dan pena kemudian duduk kira-kira satu meter dari hadapan beliau.
    Perkataan beliau yg kedua:Assalamualaikum.
    Saya jawab wallaikumsalam.
    Perkataan beliau yg ketiga:saya Jibril,Tuliskan!
    Saya akan datang bersama Isa almasih kedunia bersama sembilan wali-wali dan bersama 200 lebih malaikat-malaikat.
    Waktu sudah sangat singkat, mulai tahun 2010 banyak kejadian yg akan merampas jiwa manusia.
    Perkataan beliau yg keempat:apa yg engkau inginkan? menyebarkan firman-firman Allah S.W.T, jawab saya.
    Perkataan beliau yg kelima:ada lagi?InsyaAllah, Allah S.W.T akan memberikan petunjuk kepada kami,jawab saya.
    Perkataan beliau yg keenam:baiklah! lantas beliau mengambil kedua belah tangan saya,beliau menyuruh saya berzikir.
    -Allahhuakhbar33x
    -Subhanallah33x
    -Alhamdulillah33x
    -Allah S.W.T33x
    -Laillahhailallah33x
    -Laillahhailallahmuhammadarasulallah33x
    Perkataan beliau yg kesepuluh:ingat!
    1.jangan engkau sombong
    2.bersabarlah
    3.sayang kepada kedua orang tua
    4.jangan engkau membuat kesalahan
    Beliau tunduk sejenak, lantas beliau berkata,saya musti kembali dan menyapa saya assalamualaikum, saya jawab wallaikumsalam Jibril a.s, dia membuka sayapnya lantas terbang begitu cepatnya.

    Saya beranggapan bahwa ini hanyalah sebagai amanah.
    Marilah kita menyimak cerita ini bersama dengan akal yg sehat menurut Alquran dan hadits-hadits rasulallah Muhammad S.A.W.

    Apakah kita sudah bersiap atas kedatangan tanda-tanda akhir zaman?

    Wassalam.

    syalom,

    menarik sekali pengalaman Anda jika memang benar,

    biarlah ini menjadi renungan buat kita sesama manusia.

    bukan aku atau kamu tapi kita…

    adi said:
    Oktober 4, 2008 pukul 8:43 am

    anda tampaknya bener2 tidak memahami keanekaragaman paham trinitas.

    trinitas yg dikritik islam (lebih tepatnya, trinistas yg dipahami Muhammad) itu berbeda dng trinitas yg diyakini gereja roma.

    trinitas yg sampai ke arab adalah trinitas dari gereja timur. perbedaannya apa, silahkan dipelajari dng baik.

    hasan said:
    Oktober 22, 2008 pukul 7:16 am

    Saya mau tanya apakah maksud/arti sebutan “Kami” (sebutan saat Allah berfirman) yang ada di dalam Quran?
    itu kok mirip di Alkitab sebutan “Kita”. Kalau Kristen bilang “Kita” itu menunjuk Tritunggal itu.

    ALI Z.A ALAYDRUS said:
    Maret 11, 2009 pukul 7:29 am

    Maaf kalo saya sih pilih Tuhan yang satu ALLAH AZZA WA JALA, kalo yang lain ada plihan lain silahkan aja..tp ingat jgn protes di akhirat nanti

    macintosh said:
    April 12, 2009 pukul 10:59 am

    1. ORANG NASRANI SAHABAT DEKAT ORANG MUSLIM

    “….wa latajidanna aqrabahum mawaddatal lilladziina aamanuul ladziina qaaluu innaa nashaaraa…”

    * “….dan sesungguhnya akan engkau dapati orang yang akhrab kasih sayangnya terhadap orang-orang yang beriman, ialah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani….” ( Juz 6 Al-Maidah surat 5 ayat 82).

    “Innal ladzina amanu wal ladzina hadu wash shabiuna wan nashara man amana billahi walyaumil akhiri wa `amila shalihan falahawfun `alaihim walahum yahzanun

    # “Sesungguhnya mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang penyembah bintang, orang-orang Nasrani, siapa saja yang beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian serta berbuat saleh, maka tidak akan merasa takut dan merasa sedih. (Juz 6 Al-Maidah surat 5 ayat 69)

    2. MUHAMMAD SAW. LEBIH DEKAT DENGAN ISA AS.

    “Ana aulan nasi bi ‘isabni maryama fiddunya wal akhirati wal anbiya-u ikhwatul li’allatin ummahatuhum syatta wa dinuhum wa hidun.”

    * “Saya yang lebih dekat dengan Isa anak Maryam di dunia dan di akhirat, semua nabi-nabi itu bersaudara kerana seketurunan, ibunya berlainan sedangkan agamanya satu.” ( HSB. 1501)

    3. SESEORANG TTDAK DIPANDANG BERAGAMA BILA TIDAK MENEGAKKAN AJARAN TAURAT DAN INJIL

    “Qul ya ahlal kitabi lastum ‘ala syai-in hatta tuqimut taurata wal injila….”

    * “Katakanlah, ‘Hai ahli kitab, tidaklah kamu berada dalam kebenaran hingga kamu menegakkan (ajaran-ajaran) Taurat dan Injil….” (Juz 6 Al-Maidah surat 5 ayat 68).

    4. ISA AS. WAFAT DAN DIANGKAT, DAN PENGIKUT PENGIKUT ISA A.S. MENGATASI ORANG KAFIR HINGGA HARI KIAMAT

    “Idzqalallahu ya ‘isa inni mutawafika wa rafi`uka ilayya wa muthahiruka minal ladzina kafaru wa ja`ilul ladzinat taba`uka fauqal ladzina kafaru ila yaumil qiyamah…”

    * “Ingatlah tatkala Allah berfirman: ‘Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu, dan mengangkatmu kepada-Ku dan akan mensucikan engkau dari orang-orang kafir dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas mereka yang kafir hingga hari kiamat…” (Juz 3 Ali-Imran surat 3 ayat 55)

    5. KAFIR KALAU MENOLAK ISA AS.

    “Wa bi kufrihim wa qaulihim `ala maryama buhtanan `azhima”

    * “Dan kerana kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina)” (Juz 5 An-Nisa surat 4 ayat 156)

    6. ISA AS. SUCI TAK BERDOSA

    “Qala inma ana rasulu rabbika li ahaba laka ghulaman zakia”

    * “(Jibril) berkata, “Aku hanyalah utusan Tuhanmu untuk memberikan kepadamu seorang anak laki-laki yang suci.” (Juz 16 Maryam surat 19 ayat 19).

    7. ISA AS. TAK DISENTUH SETAN

    “… Yaqulu ma mim bani adama mauludun ila yamassuhusy syaithanu hina yuladu fayastahilu sharikhom mim massisy syaithani ghaira mayama wabniha”

    * “Setiap anak Adam yang baru lahir, disentuh oleh setan ketika lahirnya itu, lalu ia memekik menangis kerananya, kecuali Maryam dan anaknya.” (HSB. 1493)

    8. HANYA ALLAH SWT. PENCIPTA MAKHLUK HIDUP

    “… innal ladzina tad`una min dunillahi lay yakhluqu dzubabaw wa lawijtama`u lahu….”

    * “….Sesungguhnya yang kamu seru selain Allah, mereka tidak sekali dapat membuat lalat walaupun mereka berhimpun untuk itu….” (Juz 17 Al-Hajj surat 22 ayat 73).

    9. ISA AS. TELAH MENCIPTA MAKHLUK HIDUP

    “Inni akhluqu lakum minath thini kahai-atith thairi fa anfukhufihi fayakunu thaira”

    * “Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu bahwa aku membuat untukmu dari tanah berbentuk burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi burung.” (Juz 3 Ali-Imran surat 3 ayat 49).

    10. HANYA ALLAH SWT. YANG MENGETAHUI HARI KIAMAT

    “Innallaha `indahu `ilmus sa`ati…”

    * “Sesungguhnya Allah disisi-Nya ilmu kiamat….” (Juz 21 Lukman surat 31 ayat 34).

    11. ISA AS. JUGA MENGETAHUI HARI KIAMAT DAN ISA AS. ADALAH JALAN YANG LURUS

    “Ihdinash shirathal mustaqim”

    * “Tuhan tunjukkanlah kami jalan yang lurus” (Juz 1 Al-Fatihah surat 1 ayat 6).

    “Wa innahu la`ilmul lis sa`ati fa la tamtaruna biha wat tabi`uni hadza shiratum mustaqim”

    * “Dan sesungguhnya Isa itu benar benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat, kerana itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutlah jalan yang lurus.” (Juz 25 Az-Zhukhruf surat 43 ayat 61).

    12. ISA AS. ROH ALLAH SWT. DAN BERKUASA ATAS ALAM SEMESTA

    “Wal lati ahsanat farjaha fanafakhna fiha mir ruhina waja`alnaha wabnaha ayatal lil`alamin.”

    * “Dan anak dara itu yang telah memelihara kehormatan dirinya, lalu Kami tiupkan pada dirinya roh Kami, untuk Kami jadikan dia dan anaknya sebagai bukti (kekuasaan Allah) bagi semesta alam.” (Juz Al-Anbiya surat 21 ayat 91)

    13. ISA AS. ITU UTUSAN ALLAH SWT. DAN FIRMANNYA

    “Inamal Masihu `isabnu Maryama rasullullahi wa kalimatuhu”

    * “Sesungguhnya Isa Almasih putra Maryam itu utusan Allah dan firman-Nya (kalimah).” (Juz 6 An-Nisa surat 4 ayat 171)

    “Innal ladzina yakfuruna billahhi wa rasulihi wa yuriduna ayyufarrifu bainallah wa rasulihi wa yakuluna nu`minu biba’diw wa nakfuru biba’di…..”

    * “Sesungguhnya orang-orang kafir terhadap Allah dan para Rasul-Nya dan mereka yang membezakan antara Tuhan dan para Rasul-Nya dan mengatakan, ‘ Kami percaya kepada sebagian para Rasul (utusan), sedangkan kepada yang lain kami tidak percaya….” (Juz 6 An-Nisa surat 4 ayat 150)

    14. ISA AS. ADALAH ROH ALLAH SWT. DAN FIRMANNYA

    “lisafa innahu ruhullah wa kalimatuh”

    * “Isa itu sesungguhnya roh Allah dan firman Allah” (H. Annas Ibnu Malik hal 72)

    15. ISA AS. ADALAH ROH ALLAH SWT. YANG MENJELMA MENJADI MANUSIAYANG SEMPURNA

    “fat takhadzat min dunihim hijaban fa arsalna ilaiha ruhana fa tamatstsala laha basyaran sawiya”

    * “Maka dia mengadakan pembatas dari keluarganya, lalu Kami mengutus Roh Kami kepadanya, lalu dia menyerupakan dirinya di hadapannya sebagai manusia sempurna.” (Juz 16 Maryam surat 19 ayat 17)

    “Wassalamu `alaiya yau ma ulidtu wa yauma amutu wa yauma ub`ashu haiya.”

    * “Selamat sejahtera bagiku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku diwafatkan dan pada hari aku di bangkitkan hidup kembali.”

    16. ISA AS. TERKEMUKA DI DUNIA DAN DI AKHIRAT

    “…. Ismuhul masihul isabnu maryama wajihan fid dunya wal akhirat….”

    * “…. Namanya Almasih Isa putra Maryam yang terkemuka di dunia dan di akhirat…” (Juz 3 Ali-Imran surat 3 ayat 45)

    17. ALLAH SWT. HAKIM YANG ADIL

    “Maliki yaumid din”

    * “Yang menguasai hari pembalasan” (Juz 1 Al-Fatihah surat 1 ayat 4)

    “A laisallahu bi ahkamil hakimin”

    * “Bukankan Allah seadil adilnya hakim?” (Juz 30 At-Tin surat 95 ayat 8)

    18. ISA AS. HAKIM YANG ADIL

    “Wa im min ahlil kitabi illa layu’ minan nabihi qabla mautihi, wa yaumal kiyamati yakunu `alaihim syahida.”

    * “Dan adalah di antara ahli kitab, beriman kepada Isa sebelum matinya; dan pada hari kiamat, Ia menjadi hakim.” (Juz 6 An-Nisa surat 4 ayat 159)

    “Wal ladzil nafsi biyadihi layusyikanna ay yanzila fikumubnu maryama hakaman muqsithan….”

    * “Dan demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya telah dekat masanya Isa anak Maryam akan turun di tengah tengah kamu. Dia akan menjadi hakim yang adil….” (HSM. 127)

    dona said:
    Juli 12, 2009 pukul 7:31 am

    semua analisa/pandangan kalian tentang trinitas SEMUA SALAH BESAR!!!.tidak ada satupun yang benar!. sedangkan konfirmasi tentang konsili Nicea yang beredar diantara kalian sendiri pun simpang siur, yang hanya menunjukkan bahwa sebenarnya kalianpun tidak berpatokan pada sumber aslinya. Jadi wajar disana-sini kalian membuat argument yang tidak berdasar. Hanya orang yang rendah hati mencari kebenaran akan menerima kebenaran.

    wassalam

    kusdjono /john koeswoyo said:
    Agustus 27, 2009 pukul 2:03 pm

    Allah Maha Besar _ segala dan semuanya ada didalam Allah Maha Besar. Waktu dan ruang dan segala isi dan gejalanya ada didalam Tuhan Yang Maha Esa. Esa bukan SATUm sebijim sebatang, sebutir melainkan seluruh dan mencakup segalanya. Tetapi Allah Maha Kuasa kalai Dia mau menjadi kecil sampai ghaib, siapa melarang?

    Jadi orang daging dan tulang tidak usah macam-macam. Kaji saj surat al An’aam Q.S. 6: 38; dan an Nuur.Q.S. 24: 41jika bebnar faham maka tak ada alasan lagi untuk mengkafir-kafirkan sesamanya. Bukankah semua sudah tahu TAASBIH dan SHOLATnya nasing-masing? Dan PERANG itu kewajiban setiaop makhluk mulai didalam perit sampai mati, kewajiban sendiri masing-masing, bukan main amuk-amukan dipimpin manusia yang diilhami SETAN. s. al A’raaf Q.S. 7: 27. Firman Allah didalam al Quran dan kitab-kitab suci sebelumnya WAJIB dikaji dengan baik-baik al Maidah Q.S., 5: 66, 67, 68 suopaya orang tidak malkah menjadi semakin DURHAKA dan KAFIR. Apakah kita membiarkan diri dalam persekutuan dengan AZAB
    dan BENCI kepada Firman-Nya. s az Zukhruf Q.S. 43: 39, 78. ???
    Mengapa kita tidak segera meninggalkan PERIBADATAN yang main-main dan senda-gurau kasar dan munafik? s al An’aam Q.S. 6: 70.?
    Afalaa takqiluun? Mau ibadah? Ini ayatnya s. Sabak Q.S. 34: 46. ( SATU ajaran Allah.) Mau menghadap KIBLAT? al Baqarah Q.S 2:115; 148; Orang yang mengiungkari FirmanNya akan binasa tanpa disadari s. Ibrahim Q.S. 14: 15, 16, 17; s al A’raaf Q.S. 7: 168, 181, 182. Apakah kita mau mengunjungi neraka bersama-sama? s Maryam Q.S. 19: 71. Kertetapan Allah ? s al Ab’aam Q.S. 6: 115; s. Aaki Imran Q.S. 3: 45 -59; s Maryam Q.S. 19: 21; s.ash Shaff Q.S. 61: 14; s.al Mujaadilah Q.S. 58: 22. dan… s. al A’raaf Q.S. 7: 159. ?
    Apakah kita akan mengalami SESAL KEMUDIAN TAK BERGUNA ? al Ahzaab Q.S. 33: 67 ? Mengapa banyak orang yang ” hoovardig en alles beter weet.’? s. al Alaq Q.S. 96: 6, 7.? Mengapa tidak segera berTOBAT, sepent, bekeren dan taat kepada PERINTAH Allah ayang suvbstansial s. anNahl Q.S 16: 90. ( inti deklarasi HAM?) dan ekonomi global dengan asas KEMITERAAN s az Zukhruf Q.S. 43: 32.
    Firman Allah adalah DATA-BASE untuk membetulkan membereskan jalan manusia yang ruwet dan simopang-siur karena disesatkan IBLIS s. az Xukhruf Q.S. 43: 37. SEKARANG adalah saatnya orang saling berwasiat dengan benar dan sabar, dengan sabar dan KASIH-SAYANG.
    s al Ashr Q.S.103 : 4, 5. dan s.al Balad Q.S. 90: 17. ” Thuis is the era of humanistic communitarian socialism.” kata Erich Fromm.

    Tetapi Rencana Agung Allah harus terjadi juga s. al A’raaf Q.S. 7: 168. dan waspadalah banyak penyebar AQIDAH kedengkian dimana-mana s. al Falaq Q.S.113: 4,5. peniu UQOD buykan sekedar tukang sihir , dukun majik, melainkan penyebar AQIDAH, KOIDAH, AQOUD yang penuh kedengkian antar sesamanya.

    Burgess said:
    Februari 24, 2010 pukul 5:53 am

    I am glad I found your blog on digg. Thanks for the sensible critique. Me and my friend were just preparing to do some research about this. I am happy to see such great info being shared for free out there.
    Regards,
    Agilard from Las Vegas city

    helmi muhipan said:
    Maret 29, 2010 pukul 10:54 am

    Ass Wr Wb Disini bukan mengurui hanya tukar pendapat (diskusi) Didalam AL- QURAN Kata ALLAH 2 NAMA :1.ALLAH Sebagai Pencipta 2ALLAH (Aturan).ALLAH(AL-QURAN) Benar ALLAH yg menciptakan langit dan bumi serta isinya tentu melalui aturannya dimana aturannya di AL-QURAN Didalam AL-QURAN ALLAHmemiliki nama Asmaul husna (Q.S. 17.110) menurut Imam Buqari :Berpikirlah kamu tentang ciptaan ALLAHdan jangan berfikir tentang ciptaannya karna sesungguhnya kamu tdk dapat menjakaunya lihat Q.S 21.23 artinya dia tdk ditanyai tentang apa yang diperbuatnya dan merekalahyg ditanyai .dan baca Q.S 92.11 Q.S10.108 Q.S17.110 . Kesimpulan AL-ZUMAR :23 Termakasih bWs Wr W

    helmi muhipan said:
    Maret 29, 2010 pukul 11:25 am

    Ass Wr Wb Disini bukan mengurui hanya tukar pendapat (diskusi) Didalam AL- QURAN Kata ALLAH 2 NAMA :1.ALLAH Sebagai Pencipta 2ALLAH (Aturan).ALLAH(AL-QURAN) Benar ALLAH yg menciptakan langit dan bumi serta isinya tentu melalui aturannya dimana aturannya di AL-QURAN Didalam AL-QURAN ALLAHmemiliki nama Asmaul husna (Q.S. 17.110) menurut Imam Buqari :Berpikirlah kamu tentang ciptaan ALLAHdan jangan berfikir tentang pencipta karna sesungguhnya kamu tdk dapat menjakaunya lihat Q.S 21.23 artinya dia tdk ditanyai tentang apa yang diperbuatnya dan merekalahyg ditanyai .dan baca Q.S 92.11 Q.S10.108 Q.S17.110 . Kesimpulan AL-ZUMAR :23Termkasih Ws Wr Wb

    jabon said:
    Agustus 22, 2010 pukul 2:20 am

    by jabon

    saya menjadi bnyak pengetahuan … terimakasih ya atas sharingnya

    panginapan di jakarta said:
    Maret 8, 2011 pukul 3:07 am

    yang benar yang akan masuk surga gtu aja q

    Laillahailallah said:
    Juni 5, 2012 pukul 9:34 pm

    Ass. Wr. Wb.

    Menarik sekali perdebatan diatas. Saya adalah seorang Muslimah. Alhamdulillah. Dan semoga Allah SWT akan memelihara “keimanan islam” saya hingga ajal memanggil. Namun, karena pengetahuan saya Islam masih minim, saya mohon maaf jika saya tidak menyebutkan atau mengutip ayat-ayat/ surat-surat yang ada dalam Kitab Suci Al Qur’an.

    Saya hanya ingin mengajak saudara-saudara saya yang Muslim untuk merenung dan mempertanyakan: apa perlu kita berdebat panjang lebar tentang “trinitas” dengan kaum Nasrani? Apa perlu…???

    Demi Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kita sayang kepada mereka karena Allah SWT mewajibkan kita untuk menyayangi semua makhluk ciptaannya yang ada di seluruh alam semesta ini. Kita dengan tulus ingin mengajak mereka ke “jalan yang benar” (the true path) tentunya sesuai dengan yang kita yakini bahwa jalan yang benar HANYALAH ISLAM, bahwa hanya Islam, agama Tauhid, penerus “wahyu illahi” dari Nabi Ibrahim A.S., bahwa Al Qur’an mengandung seluruh ajaran yang telah disampaikan a.l. oleh Nabi Musa A.S., oleh Nabi Daud A.S., oleh Nabi Isa A.S. dan oleh Rasul yang terakhir sebagai penutup wahyu illahi, yakni Nabi Muhammad SAW. Dengan kata lain, kalau mau cari AGAMA YANG BENAR SATU-SATUNYA DAN MAU SELAMAT DUNIA AKHERAT ya hanya ISLAM, serta jika ingin mencari mana TAURAT MUSA, ZABUR DAUD, INJIL ISA YANG BENAR/ASLI, ya AL QURAN itu!!!

    Lagi-lagi untuk apa kita memaksa mereka – dalam hal ini – baik mereka yang mengaku Nasrani maupun yang nonmuslim lainnya untuk menerima ajaran Tauhid Islam? Jika mereka mengakuinya tentunya mereka akan pindah agama masuk Islam! Memang, yang sesungguhnya disebut “Nasrani” adalah yang mereka yang mengakui “ke-Rasullan Isa”, bukan sebagai Tuhan ataupun anak tuhan, dan juga percaya akan “ke-Rasullan Muhammad SAW”, sehingga mereka pastinya akan memeluk Islam!! Sesungguhnya, sejak Nabi Adam A.S. hingga Nabi Muhammad SAW., semuanya adalah MUSLIM = mengajarkan tentang “Tauhid”. Manusia-manusialah yang dari zaman ke zaman banyak yang mengingkari, menyimpang, mengubah, mengurangi, menambah firman-firman Allah, sesuai dengan keinginnannya.

    Mata hati mereka memang tertutup… Mereka akan tetap meyakini bahwa agama mereka adalah yang benar, bahwa kitab yang mereka baca itu adalah betul yang datang dari Nabi Isa (yang mereka yakini bukan sebagai Nabi/Rasul tapi sebagai Tuhan/Roh kudus/anak tuhan entah apalah).
    Apa kita tidak sia-sia bicara dengan mereka…? Kalau hati sudah tertutup… Malah di mata mereka kita kan adalah “domba yang sesat”…
    Hanya Allah SWT yang bisa membuka hati mereka. Masih banyak juga orang-orang yang diberikan “hidayah”, yang terketuk hatinya oleh-Nya sehingga menjadi muallaf. Allahuakbar!
    Kita doakan saja mereka – semua yang tidak mengakui Nabi Muhammad dan Al Qur’an – semoga dosa-dosa mereka mendapat ampunan dari Allah SWT. Allahualam………………………

    Wass. Wr. Wb.

    islamisthetruereligion said:
    Agustus 11, 2012 pukul 2:45 pm

    Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatu
    salam kenal kepada saudara2 ku semua ,,
    ketika saya melihat situs “Cahaya Islam” sungguh saya sangat tertarik .. melihat berbagai diskusi yang sudah berlangsung.. Alhamdulillah.. dengan melihat dn membaca diskusi2 ini membuka wawasan saya lebih luas.. apa lagi tentang konsep Trinitas ini..

    Sedikit ingin saya berargumen tentang Trinitas, sebagai seorang muslim saya ingin menyampaikan apa yang seharusnya saya sampaikan yakni firman Allah Subhanahu Wata’ala

    “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?.” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” Al-Maidah:116

    Ketika saya sedang berselancar di internet saya menemukan ini. Mari kita lihat:
    http://yesaya.indocell.net/id1004.htm

    1. Para penulis besar abad pertama seperti St. Ignatius dari Antiokhia, St. Yustinus Martir, St. Ireneus, dan lain-lain telah menulis dan mengakui bahwa Maria adalah Perawan dan Bunda Allah. Setelah Konsili Nicea (325 CE), tulisan-tulisan tentang Bunda Maria makin berkembang, bukan hanya di Gereja Timur melainkan juga di Gereja Barat. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari kontroversi tentang Kristus sebagai Allah yang secara tidak langsung berhubungan dengan Maria sebagai Bunda Allah. Perkembangan akan cinta dan devosi kepada Kristus dan BundaNya memberikan Maria tempat yang istimewa dalam liturgi dan hal ini semakin nyata setelah Konsili Efesus.

    2.Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah
    Perayaan ini dirayakan umat Katolik pada tanggal 1 Januari. Pengakuan akan kebundaallahan Maria merupakan unsur sentral dalam penghormatan umat Katolik terhadap Bunda Maria. Dasar pengakuan ini terutama Kitab Suci yang menyebutkan bahwa Yesus dilahirkan dari Santa Perawan Maria. Kalau mengakui Yesus sebagai Allah, maka harus juga mengakui Maria sebagai Bunda Allah.

    Untuk lebih lengkapnya silahkan baca di sini:
    http://yesaya.indocell.net/id1004.htm

    bukti di atas cukup membuktikan bahwa benarlah firman Allah dalam surah Al-Maidah:116 “Hai Isa putera arMaryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?

    Menurut penafsiran Ibnu Abbas, penggalan ini merupakan ancaman bagi kaum Nasrani dan sebagai celaan serta cercaan terhadap mereka di depan para saksi utama.Penafsiran Qatadah ini didasari atas firman Allah Ta’ala,” Ini adalah suatu hari yg bermanfaat yg benar kebenaran mereka.”Sehubungan dg penafsiran itu, diriwayatkan pula sebuah hadist marfu’ oleh al-Hafizh Ibnu Asakir dalam biografi Abu Abdullah, budak Umar bin Abdul Aziz, dan Abdullah merupakan orang yg terpercaya. Abdullah berkata, saya mendengar Abu Burdah menceritakan kepada Umar bin Abdul Aziz dari ayahnua Abu Musa al-Asyari, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda,” Jika hari kiamat tiba, maka para nabi dan umatnya diseru. Maka diserulah Isa. Allah Ta’ala menuturkan nikmat yg telah di anugerahkan kepadanya dan Isapun mengakuinya. Allah berfirman, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menolak bahwa dirinya mengatakan demikian. lalu di tampilkanlah kaum nasrani lalu di tanya. Maka mereka menjawab, “benar, isa menyuruh kami berbuat demikian. Nabi bersabda,’maka rambut Isa menjadi panjang. lalu setiap malaikat memegang rambut kepala dan bulu tubuh Isa. kemudian isa menjadikan kaum nasrani duduk memeluk lutut di hadapan Allah selama seribu tahun sebelum di tegakkan hujah yg mengalahkan mereka, di angkat ke tiang salib, dan di giring ke neraka.

    Mohon maaf jika ada salah2 kata..
    Semoga Penjelasan yang singkat ini bisa bermanfaat untuk kita semua,

    Wassalam

    Awesome issues here. I am very happy to see your post. Thank you so much and I’m taking a look forward to touch you. Will you kindly drop me a e-mail?

    Muslim said:
    November 18, 2012 pukul 8:12 am

    Assalamualaikum warahmtullahi wabarakatuhu

    cukuplah ISLAM agamaku, agamamu, agama kita semua, agama semesta alam
    tauhid-lah yang kita yakini tanpa perlu menjadikan trinitas sebagai tauhid
    percayalah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala
    suci dari segala bentuk penyerupaan apalagi dikaitkan dengan makhluk ciptaan-Nya sendiri
    tauhid bahwa Allah itu Esa tidak ada duanya dan tidak pula ada yang menyamai-Nya dan jangan sekali-kali kita membuat pernyataan yang tidak benar mengenai-Nya
    sesungguhnya yang demikian itu adalah perbuatan orang-orang kafir dan bagi mereka adalah adzab / siksa yang amat pedih.
    trimakasih

    Inspirasi Dan Motivasi said:
    Mei 9, 2013 pukul 1:20 am

    I like your post its good…

    snowlyjam said:
    Juli 8, 2013 pukul 1:36 pm

    hello

    brooo.. said:
    Oktober 9, 2014 pukul 12:29 pm

    “fides querrens intellectum” . i like your opinion but you must understand of christians perspectif
    .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s