Mungkinkah Melihat Tuhan Di Akhirat?

Posted on Updated on

sky57_resize.jpg Telah ditetapkan melalui dalil akal bahwa Tuhan tidaklah memiliki jasad dan berbentuk, tidaklah menempati sebuah ruangan dan waktu. Hal ini menjadi dalil bahwa Tuhan Yang Agung adalah zat yang tidak dapat dilihat. Namun, sebahagian kalangan penafsir menyatakan bahwa Tuhan akan menampakkan dirinya di hari kiamat, mereka berdalil bahwa hamba-hamba yang soleh akan melihat wujud Tuhan di hari kiamat, melalui ayat yang berbunyi: “Kepada Tuhannyalah mereka Melihat”.[1] Apakah maksud ayat tersebut? Adapun penglihatan adalah terbiasnya cahaya sesuatu pada lensa mata. Ketika proses pembiasan ini bekerja, maka akan terjadi ada ikatan antara yang sesuatu yang dilihat dan mata. Oleh karenanya, menjadikan sesuatu tersebut menempati pada tempat tertentu. Dan segala yang berbentuk membutuhkan sebuah tempat, dan yang membutuhkan yang lain adalah fakir. Dan ini tidak akan memiliki sifat Ketuhanan (Uluhiyah). Dari penjelasan ini maka sekiranya Tuhan bertempat, tidaklah akan melewati kemungkinan berikut ini: 1. Keberadaan tempat tersebut pada awalnya bersamaan dengan wujud Tuhan. Kalau sekiranya tempat tersebut qadim (dahulu), maka keberadaannya sama dengan keberadaan Tuhan Yang Qadim. Jadi, ada dua wujud yang qadim. 2. Sekiranya Allah Swt menciptakan tempat untuk diri-Nya sendiri. Dan kita umpakan Dia (Allah) tidak membutuhkan tempat. Dengan dalil bahwa sebelum dicitakan tempat tersebut, dia telah ada. Dengan gambaran ini, bagaimana Allah Swt tidak membutuhkan tempat , kemudian setelah itu Dia membutuhkan tempat. Dilihat dari makna ayat, maka dapatlah kita jelaskan sebagai berikut: Kata Nadhiro dari ayat tersebut bukanlah mempunyai makna melihat akan tetapi bermakna menunggu atau menanti. Dan maksud dari keseluruhan ayat adalah penantian rahmat dan kasih sayang Allah Swt. Ketika utusan raja Saba’ mengirimkan hadiah kepada nabi Sulaiman as, disebutkan dalam al-qu’an, Allah Swt berfirman: Dan Sesungguhnya Aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan)menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu”.[1] Dan pengertian Nadhiro sebenarnya, bukanlah diartikan penglihatan. Maka kita mencoba penelusuri ayat diatas, dengan mengaitkan dengan ayat sebelumnya dan sesudahnya. Allah Swt berfirman: 1. Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri”. 2. “Kepada Tuhannyalah mereka Melihat“. 3. “Dan Wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram”. 4. “Mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat.[2] Pada keempat ayat diatas, ayat ketiga nampak berlawanan dengan ayat pertama. Dan ayat keempat juga berlawanan dengan ayat kedua. Dan pelu diperhatikan bahwa ayat keempat menghilangkan bentuk kekaburan seperti pada ayat yang kedua. Yang jelas, ayat yang pertama dan ketiga adalah pembagian atas manusia di hari kiamat. Dan ayat kedua dan keempat juga adanya penjelasan nasib perjalanan manusia dalam dua bentuk. Dari sisi lain, maka ayat keempat memaparkan tentang penantian terhadap sebuah azab, dan ayat kedua memaparkan tentang penantian terhadap rahmat Swt. Bukanlah penglihatan dan penyaksian dalam bentuk luar (dhahir). Kesimpulan: Dalil ayat untuk menetapkan kemungkinan Allah Swt dapat dilihat di hari kiamat, akan menyimpang dari pemahaman secara filosofis dan terhadap tujuan yang ada di dalam keempat ayat tersebut. Dari ayat, sebenarnya mengambarkan tentang pelaku ketaatan dan maksiat dan penantian keduanya terhadap nasib mereka dari turunnya rahmat Allah atau azab-Nya. Adapun penafsiran tentang penyaksian zat Al-Haq tidaklah berkaitan dengan ayat ini.


[1] An-Naml ayat 35

[2] Al-Qiyaamah ayat 22 s/d 25


[1] Al-Qiyaamah ayat 23

oleh Abu Aqilah

Iklan

29 thoughts on “Mungkinkah Melihat Tuhan Di Akhirat?

    deking said:
    Juli 9, 2007 pukul 2:03 pm

    Terima kasih atas pencerahannya
    Menurut saya memang ayat2 Al Qur’an tidak bisa begitu saja dimaknai secara tekstual saja

    @ deking
    Terima kasih atas kunjungannya.
    Mudah-mudahan dapat bermanfaat. Alqur’an, ayat-ayat yang tidak dimaknai secara tektual tersebut. Tentunya hal ini ditunjang oleh konteks kalimat yang ada dan ditunjang oleh sumber hukum yang lainnya.

    almascatie said:
    Juli 12, 2007 pukul 5:35 pm

    assalamualaikum,
    maaf kalo saya salah, karena saya masih awam dalam keislaman namun menurut saya, pertama : ayat pertama diatas tidaklah dapat dipahami per kata [contoh:melihat], sebab menurut saya ayat tersebut hanyalah kiasan yang menggambarkan kekuatan hati seorang muslim untuk tetap bersama Allah,jadi saya rasa melihat disini tidak berarti melihat secara mata.
    yang kedua : kenapa yang digunakan adalah bahasa Indonesia, saya rasa dalam menjelaskan alquran sebaiknya jga disertakan bahasa arab nya, karena setahu saya, bahasa arab itu mempunyai banyak arti dalam satu kata, sehingga dalam memaknai ayat tersebut lebih dapat dipahami apalagi yang awam seperti saya.
    yang ketiga : “Tentunya hal ini ditunjang oleh konteks kalimat yang ada dan ditunjang oleh sumber hukum yang lainnya”. wew masih adakah sumber hukum yang lain lagi kah yang bisa disamakan dengan alquran?

    weks panjang amit.. tapi dari pada saya bingun mendingan saya tanya ya.. maaf sekali lagi

    @almascatie
    waalaikum salam,
    Sebelumnya terima kasih atas komentarnya. Yang menjadi poin penting dalam makalah kami adalah menetapkan dari ayat tersebut, kerancuan akan melihat Tuhan di hari kiamat secara mata. Adapun melihat dengan mata hati, akan didukung melalui riwayat lain. Memang ada beberapa penafsir yang mendukung pernyataan penglihatan dengan mata hati. masalahnya adalah sebagian aliran dari mazhab Islam atau sebahagian mufasir disini, mencoba menafsirkan dengan melihat secara mata, bukan melihat dengan mata hati.
    Dengan mengambil kata nadhiro (dari bahasa arab) kami telah menjelaskannya, yang berarti bukan melihat tetapi menunggu.
    Ada sumber lain selain alqur’an disini, seperti riwayat atau hadist. Yang tentunya hadist tersebut sebagai penekanan apa yang disebutkan dalam alqur’an, bukan sama dengan alqur’an, juga akal manusia itu sendiri serta kesepakatan (ijma) dari para ulama.
    Wassalam.

    Nayz said:
    Juli 13, 2007 pukul 10:35 am

    dalem banget tafsirnya. maksih ya pengetahuan baru

    eka dystiant said:
    Juli 13, 2007 pukul 4:23 pm

    …’melihat’ …..

    akbar said:
    Juli 18, 2007 pukul 6:52 am

    Ayat2x Alqu’ran ada yang muhakamat dan ada pula yang mutashabihat, tidak selayaknya bagi manusia untuk menafsirkan ayat yang mutashabihat dengan mendasarkan hanya kepada ilmu pengetahuan yang dimilikinya saja, akan tetapi dikembalikan kepada penjelasanyang telah diberikan oleh Nabi. karena akal itu adalah secuil dari cipttaan Allah, apakah mungkin sesuatu yang diciptakan dapat menghukumi penciptanya?. Tafakkaru fil kholqi wala tafakkaru fil khooliqi!.
    Hanya Allah lah yang mengetahui tafsiran dari ayat tersebut, penafsiran yang salah telah menghancurkan
    kaum yahudi,yaitu ketika mereka menafsirkan ayat2x yang diturunkan kepada mereka,dan mengingkari penafsiran dari nabi mereka.wallahu a’lam.

    @akbar
    Sebelumnya terima kasih atas komentarnya. Ayat ini termasuk ayat yang mutashabihat. Karena sudah terlanjur dari beberapa penafsir menafsirkan ayat ini dengan dapat melihat Tuhan secara mata. Ini tentunya akan mengacu pada penafsiran kriteria tentang zat-Nya itu sendiri, seperti anda katakan: tafakkaru fi khalqi wala tafakkaru fi khooliqi! Tentunya akal kita mempunyai keterbatasan akan hal ini. Adapun tentang sifat Tuhan sangatlah dianjurkan untuk kita kenal. Allah Yang Maha Sempurna , tentunya tidak sama dengan sifat-sifat makhluk-Nya. Dan Tuhan Yang Bertempat, disitu akan memiliki ruang, dan pada akhirnya memiliki keterbatasan. Dan selanjutnya penafsiran tersebut didapatkan dari sumber yang benar.

    guss said:
    Juli 19, 2007 pukul 5:27 am

    aku pernah baca buku tentang topik ini, dan dari situ menurut penulisnya dapat disimpulkan bahwa di surga nanti para penghuni surga akan dapat melihat Allah…
    wallahualam

    @guss
    Dalam hal ini topik ini harus dikaji. Beberapa penafsiran, dalam ayat yang disebutkan dalam makalah kami, melihat dalam arti menanti rahmat-Nya. Dan juga dalam riwayat lain seperti mufasir Fahrur Razi menafsirkan melihat disini dalam arti melihat dengan mata hati.

    peyek said:
    Juli 20, 2007 pukul 2:39 pm

    Ehm… katanya teriakan ahli surga sama dengan teriakan ahli neraka karena mereka tidak dapat bertemu Allah SWT

    @peyek
    Wa Allahu A’lam Kami belum pernah membaca tentang hal ini. Adalah ahli surga akan menemui Allah Swt dengan memperoleh rahmat-Nya. Sementara mereka ahli neraka akan dijauhkan dari rahmat Allah, seperti dalam Al-Qur’an. Allah Swt berfirman, dalam surat Qashash ayat 41 berbunyi: Dan kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.

    musadiqmarhaban said:
    Juli 23, 2007 pukul 6:35 pm

    Salam, artikel ini sungguh menarik! Saya yakin sekali bahwa manusia tidak akan pernah bisa melihat Allah SWT, karena Al-Qur’an mengatakan “lan taraani”, sedangkan kata “lan” berarti never.
    Al-Qur’an adalah kitab yang menjelaskan fushilat ayatuhu, lantas mungkinkah sesuatu yang menjelaskan tapi tidak jelas pada dirinya sendiri?
    Lagipula, tak ada satu ayatpun di dalam Al-Qur’an yang mengatakan bahwa akal manusia adalah terbatas, tapi ayat Al-Qur’an hanya mengatakan bahwa ilmu manusia yang terbatas “wa ma utitum min ilmi illa qalilan”.
    Ilmu manusia takkan pernah mampu menjelaskan seputar ke-apa-an Allah swt, dan menurut hemat saya…itulah makna hadis di atas, yakni “Tafakkaru fil kholqi wala tafakkaru fil khooliqi”…
    Hadis ini jelas menguraikan tentang keterbatasan ilmu manusia seputar ke-apa-an Allah ta’ala, sehingga ketika kita malah yakin bahwa kita mampu melihat Allah swt (entah disini atau di alam akhirat), maka kita justru mirip dengan kaum Yahudi dan Nasrani yang mengukuhkan keterbatasan pada Zat Tuhan karena Dia dapat terlihat. Artinya, menyatakan ketidakmampuan kita di dalam “melihat” Allah jelas lebih aman dan lebih baik akibatnya bagi keimanan kita, karena hal itu merupakan ungkapan tanzih kepada Zat Allah swt dan bukan mentasybih-Nya…
    Saya sangat setuju dengan pendapat Abu Aqilah…

    @musadiqmarhaban
    Terima kasih atas tambahannya. Inilah kebenaran yang nampak dari Al-Qur’an dan AhlulBait as.

    ibn abdilla said:
    Juli 26, 2007 pukul 6:20 am

    salam..
    .. aina maa tuwallu wujuhakum fatsamma wajhullah..
    …….
    sekarang saya sedang melihat Allah melalui artikel antum ini..
    waffaqakumullah.

    @ibn abdilla
    Harus diperjelas, sehingga tidak menimbulkan salah pengertian. Sekadar untuk memperjelas bahwa semua makhluk dan alam adalah tajalli Allah. Tajalli bukanlah Dia. Dia (zat-Nya) tidaklah sama dengan sesuatu.

    Abu Muhammad Abdurrahman said:
    Agustus 24, 2007 pukul 2:48 pm

    Berkata Syaikh Muhammad Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam kitabnya “Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”:”Dan kami beriman bahwasannya seorang mukmin akan melihat Rabbnya pada hari Kiamat”. Allah Ta’ala berfirman (artinya): Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat” (QS.Al-Qiyamah: 22-23). (Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, hal: 18 –dalam Zaad Da’iyyah-).

    Berkata Imam Ahlus Sunnah pada jamannya Syaikh Abi Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Khalaf Al-Barbahari rahimahullah dalam kitabnya “Syarhus Sunnah” pada poin ke-17:”Dan (kita) beriman dengan melihat Allah pada hari Kiamat. Melihat Allah dengan mata (pandangan) dan kepala kita dan hal ini sesuai dengan hisab kita, tanpa adanya hijab (penghalang) dan penerjemah” (Syarhus Sunnah, hal: 64. Tahqiq: Syaikh Kholid Ar-Rodadi hafizahullah).

    Maka sudah menjadi Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah bahwasannya seorang mukmin akan melihat wajah Rabbnya dengan mata kepalanya tanpa adanya penghalang dan penerjemah sebagaimana kita melihat bulan pada tanggal 15 Hijriyah. Hal ini sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih yang dikeluarkan oleh Bukhori dan Muslim. Dan hal ini merupakan pengelihatan yang hakiki bukan pandangan mata hati, barokallah fiik.

    Cahaya Islam responded:
    Agustus 27, 2007 pukul 2:18 am

    Masih menurut Ahlussunnah yang menafikan melihat Tuhan dengan pandangan mata (tanpa hijab):

    1. Shahih Muslim juz 1 hal 110 yang dinukil dari Aisyah: “Barang siapa yang berpandangan bahwa Muhammad telah melihat Tuhannya, maka menisbatkan sesuatu yang tak dibenarkan kepada Tuhannya.”

    2. Nasa’i dalam kitabnya Tafsir Nasa’i juz 2 hal 245, yang dinukil dari Abi Dzar: “Rasululllah Saaw melihat Tuhannya dengan mata hati beliau Saaw, tidaklah melihat-Nya melalui pandangan mata.” Juga tertulis dalam kitab Al-Mathalibul Aliya juz 1 hal 87.

    3. Dalam kitab Al-Jawahirul Al-Hasan Tsaalabi dalam panafsiran ayat: Walaqat roaahu nazlatan ukhro, inda sidratil muntaha (Surat An Najm ayat 13 dan 14) mengatakan: ” Dari Aisyah dan telah dinukil dari mayoritas Ahlussunnah bahwasannya dhomir dalam ‘roaahu’ kembali pada dan tidaklah kepada Nabi Saaw. Dengan ini maka Nabi Saaw tidak dapat melihat Tuhannya.

    4. Syatibi dalam kitab Al-I’tisham juz 2 hal 176 mengatakan: “Para sahabat mengingkari melihat Allah Swt.”

    Inilah keterangan2 dari hadist yang menafikan melihat Tuhan dengan pandangan mata (tanpa hijab). Maka renungkanlah riwayat2 tersebut. Hal ini mendukung dari penyataan2 yang tertulis dalam artikel diatas dan juga sesuai dengan penalaran akal sehat.

    Wassalam.

    Abu Muhammad Abdurrahman said:
    Agustus 29, 2007 pukul 8:41 am

    Setelah kami telusuri dalam kitab Al-I’tishom kami belum mendapatkan perkataan yang dimaksud, kami harap kiranya anda bersedia menuliskan secara lengkap keterangan dalam kitab2 di atas, misal Shahih Muslim dalam kitab apa, hadits no berapa. Kalo bisa ahsan tuliskan aja bahasa arabnya supaya mudah untuk mengeceknya.

    Badari said:
    September 16, 2007 pukul 8:59 am

    Hadis dari ‘Aisyah yg menolak riwayat Nabi Muhammad saw. melihat Allah, saya mendapatinya di:

    1.) Shohih Muslim, kitab “Al-Iman”, bab “Ma’na Qawlu Allahi ‘Azza wa Jalla “wa laqad ra-ahu nazlatan ukhro” wa Hal Ra-a”: No. urut hadis 259. [atau Shohih Muslim, Book 1, Hadith 337].

    2.) Musnad Ahmad bin Hanbal, kitab “Baqiy Musnad Al-Anshor”, bab “Hadits Al-Sayyidah ‘Aisyah”: No. urut hadis 23094.

    3.) Shohih Bukhori, kitab “Tafsir Al-Qur-an”, bab “Wa Qala Mujahid Dzu Mirroh”: No. urut hadis 4477. [atau Shohih Bukhori, Book 6, Volume 60, Hadith 378].

    4.) Shohih Bukhori, kitab “Al-Tawhid”, bab “Qawlu Allahi Ta’ala ‘Alimu al-ghaybi fala yuzhhiru ‘ala ghaybihi ahadan”: No. urut hadis 6832. [atau Shohih Bukhori, Book 9, Volume 93, Hadith 477].

    5.) Sunan Tirmidzi, kitab “Tafsir Al-Qur-an ‘an Rasulillah”, bab “Wa min Suroh Al-An’am”: No. urut hadits 2994.

    Silakan diricek. Mudah2an bermanfaat. Salam ‘alaikum.

    Badari said:
    Oktober 2, 2007 pukul 9:53 am

    Saya mendapati doa dalam buku Shohifah Fathimiyyah yg kurang-lebih memuat kalimat “Ya Allah, karuniailah aku dengan kelezatan memandang pada wajah-Mu (al-ladzdzati al-nazhori ilaa wajhika)”.

    Bisakah Penulis mengulas arti kalimat “memandang pada wajah-Mu” pada doa tsb? Tidakkah kalimat itu bisa membuat banyak kalangan berpikir bhw Allah bisa dilihat/dipandang?
    Salam ‘alaikum.

    Cahaya Islam responded:
    Oktober 7, 2007 pukul 3:22 am

    assalamualaikum,
    Wajah Allah disini bukanlah yang dimaksud dengan arti wajah yang sebenarnya, bisa berarti kekuasaan-Nya. Juga apa yang disebutkan dalam al-Qur,an pada ayat yang berbunyi: Segala sesuatu akan musnah kecuali wajah-Nya. Dan apa yang kita yakini, bahwa mustahil baginya memliki wajah seperti makhluk-Nya.

    goes giri said:
    Februari 5, 2008 pukul 2:00 am

    “melihat tapi tak melihat” “mendengar tapi tak mendengar”
    mata tidak melihat tapi hati yang bersih bisa melihat, firman tak di dengar oleh telinga, tapi jiwa bisa merasakan getarannya.

    Allah Maha Kuasa sekalipun Ia berkehendak mewujudkan dirinya untuk dilihat maka jadilah. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh-Nya…?

    luthfis said:
    Februari 5, 2008 pukul 1:02 pm

    yang jelas Alloh berbeda dengan mahluknya…

    arie k said:
    Februari 19, 2008 pukul 2:18 pm

    @ luthfis

    maaf, maksud anda “makhluk-Nya”?

    Nanokia.Blog « Nanokia’s Weblog said:
    Mei 17, 2008 pukul 8:57 am

    […] Mungkinkah Melihat Tuhan Di Akhirat? […]

    GANDUNG said:
    Juli 19, 2008 pukul 5:23 am

    Salam kenal,….

    @ Goes Giri,
    Allah Maha Kuasa sekalipun Ia berkehendak mewujudkan dirinya untuk dilihat maka jadilah. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh-Nya…?

    saya pikir, kalimat ini akan menimbulkan kontradiksi atas hukum dan pengetahuan yang diberikan oleh Allah sendiri.

    sebesar-besarnya Allah, kalau bisa dilihat mata kepala, bukan maha besar namanya.

    sebesar-besarnya Allah, kalau surga yang terbatas mampu memuati diriNya yang Tak terbatas, bukan maha besar namanya.

    Surga yang disebutkan besarnya sebagai sekian kali kelipatan bumi, atau dikatakan sangat besar, tetap saja surga itu terbatas. ada ruang dan ada waktu disana.

    kesalahan berpikir yang seperti ini, yg didasarkan pada :” Jika sudah kehendak Tuhan”, justru menabrak tatanan dari Tuhan sendiri, mirip kalau tidak mau dikatakan “sama” dengan Nasrani yg bilang :” Jika sudah kehendak Tuhan untuk turun kedunia dan menjelma dalam diri Yesus”. atau :” Jika memang sudah menjadi kehendak Tuhan untuk menyiksa orang taat dan baik di neraka dan memberi kenikmatan surga kepada orang bebal dan bejad, kita mau apa wong sudah kehendak Tuhan..??

    Tuhan menciptakan hukum, dan hukum itu sesuai dengan kehendak Tuhan. maka Tuhan tidak akan berkehendak yang membuat kehendakNYA yang lain tertabrak..!!
    misalnya : Tuhan menghendaki manusia untuk beriman padaNYA dan berbuat baik supaya beroleh rahmatNYA. tatkala manusia sudah melakukan kehendakNYA,… maka apakah Tuhan mempunyai kehendak lain yang bertentangan dengan kehendakNYA sendiri dengan menyiksa manusia beriman tersebut…???
    Jika mengikuti penafsiran semacam ini, saya tak mau repot-repot beribadah, berbuat baik dll, karena siapa tahu nanti Allah mempunyai kehendak lain atas diri saya…?
    hukum Allah menjadi tidak pasti.

    Jika ayat diatas diterjemahkan sebagai melihat Allah dengan mata hati, atau melihat kebesaran dan kekuasaan Allah dengan lebih jelas, maka semua itu menjadi selaras dan tidak bertabrakan dengan hukum Allah. Tidak bertentangan dengan sifat Allah yang Maha Besar, yang Tak terbatas.

    demikian sedikit urun pikir. afwan jika ada kata yang tidak berkenan.

    salam.

    sufimuda said:
    Agustus 6, 2008 pukul 12:27 pm

    Assalamu’alaikum
    Melihat Allah di Akhirat sudah pasti bisa,
    bagaimana kalau melihat Allah di dunia?
    bukankah kita belajar mengenal Allah di dunia ini? bukankah kita harus menyembah sesuatu yang harus kita kenal?
    banyak dalil Al-Qur’an tentang kemungkinan Allah bisa dilihat di dunia, coba baca di :
    http://sufimuda.wordpress.com/2008/07/02/seputar-masalah-melihat-allah/

    hasan said:
    Januari 21, 2009 pukul 2:14 pm

    Saya sependapat dengan sufimuda,

    ahmad said:
    April 11, 2009 pukul 4:38 am

    info dan perkongsian,AlQuran- firman Allah : http://www.islamisukinionline.page.tl/

    Cahaya Islam responded:
    April 23, 2009 pukul 8:31 am

    Melihat Allah dengan mata batin, bukan mata lahiriyah.

    mromi said:
    Juli 24, 2009 pukul 8:54 am

    Assalamu’alaikum
    Bagaimana dengan sebuah hadits tentang pertanyaan seorangshahabat kepada Rosululloh apakah nanti disurga bakal melihat Allah, kemudian dijawab oleh beliau Ya, yaitu seperti kita melihat bulan purnama ?
    Mohon pencerahan…??
    salam ukhuwah
    http://mromi.wordpress.com/

    Riesa said:
    Desember 26, 2009 pukul 4:21 am

    Kita memang dapat melihat Tuhan ketika kita berada di akhirat,dengan mukjizat yang di rikan kpada Qt. Tergantung Qt mau mensyukuri mukjizat itu atau tidak.Allah itu memang berbeda dengan makhluknya. Karena Allahtu Perfect. Allah tak ada tandingannya,walaupun manusia itu sempurna.Thanx

    ibrahim said:
    April 20, 2010 pukul 5:52 pm

    yang pasti melihat tuhan itu adalah nikmat yang paling besar besok dalam syurga. berbicara nikmat syurga tidak ada istilah tunggu/antri namanya aja syurga mana ada pengantrian/penungguan didalamnya. dengan ini saja sudah jelas ma’na nadhirah dalam ayat tidak boleh kita artikan dengan tunggu. dan tidak mesti sesuatu yang kita lihat itu bertempat, itu kalau kita artikan lihat itu adalah seperti penglihatan kita didunia ini. tapi ini kita berbicara menglihat tuhan dalam syurga. Allah akan menjadikan sifat melihat besok yang tidak membawaki kepada ada jihat tempat sebagaimana Allah telah menjadikan sifat mendengar kepada nabi musa saat berbicara dengan Allah yang tiada berjihat darimana datang kalam itu. begitu juga Allah akan menjadikan penglihatan kepada ahli syurga sehingga mereka bisa melihat tuhannya dengan tiada bertempat dan berjihat. sesungguhnya itu sangat mudah pada Allah.. itu aja kok repot.

    ibrahim said:
    April 20, 2010 pukul 6:04 pm

    kita harus sepakat dulu satu satu zat atau sifat bisa dilihat sebabnya apa? pakah karna wujudnya( ada) atau hudusnya ( baharu) atau karna imkannya( sesuatu yang mungkin). hudus adalah ada sesudah tidak ada, imkan sama antara ada dan tiada sebelum ada. kalau sebabnya karana tidak ada pasti salah sekarang tinggallah ada, berarti sesuatu yang bisa dilihat adalah karna memang sesuatu itu wujud (ada) dan Allah itu adalah zat yang pasti ada. jadi sudah pasti bisa dilihat. soal konsekwensi yang menimbulkan tempat dan jihat itu bisa diatasi dengan cara Allah menjadikan penglihatan kepada kita dimana tidak menimbulkan konsekwensi tersebut.,. sesungguhnya itu adalah perkara yang mudah pada Allah… dan itu bukan sesuatu yang mustahil menurut aqal kiat melihat Allah dalam Syurga bukan berati Allah itu dalam syurga. sama seperti kita menyembah allah dalam dunia apakah itu berarti Allah dalam dunia…? tidak khan…?

    HambaAllah said:
    Agustus 29, 2015 pukul 12:58 am

    Menurut sy, melihat, mendengar dan lain2 adalah suatu sistem di dunia fana… fana berarti tak berarti (kecuali ibadah dn brbuat baik)… mungkin sistem didunia ini tidak akan ada di akhirat… didunia 2+2=4 (pasti didunia), mana tw diakhirat 2+2=(bukan empat) dan bukan empat itu salah didunia. (Just coment)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s