Al-Quran dan Karomah Para Wali

Posted on Updated on

images 2

Al-Quran menukil tentang karomah para wali Allah sebagai pengaruh dari kesempurnaan ruhani, dengan izin Allah yang mampu mengendalikan alam takwini. Contoh para wali yang memperoleh maqam demikian adalah:

Kemampuan Yusuf Menyembuhkan Mata Ayahnya.

Disebabkan karena berpisah dengan Yusuf as, Ya’kib as selalu menangis di sepanjang tahun dan mengalami kebutaan di akhir masa kehidupannya. Setelah melewati beberapa tahun, Yusuf as mengutus salah seorang prajuritnya untuk pergi ke Kan’an. Beliau as memerintahkan kepadanya untuk mengusapkan baju beliau ke wajah ayahnya, Ya’kub as agar memperoleh kesembuhan.

Al-Quran mengatakan:

 “Tatkala Telah tiba pembawa kabar gembira itu, Maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya’qub, lalu kembalilah dia dapat Melihat.”[1]

Tidaklah diragukan bahwa adanya pengaruh ‘sebab hakiki’ Allah Swt. Namun, yang menjadikan ‘sebab’ Allah itu tidak lain adalah kehendak Yusuf as, yang telah diberi kemampuan tersebut. Jika (seorang hamba) menghendaki sesuatu, maka dia akan berbuat sesuatu untuk mewujudkan keinginannya  Yusuf as telah melakukan ‘perbuatan yang luar biasa’ dengan sebab yang sederhana (mengusapkan baju beliau ke wajah ayahnya). Hal ini menunjukkan bahwa mukjizat dan karomah dapat diterima melalui perantara perkara yang sederhana, hingga umat tidaklah mengasumsikan bahwa perbuatan tersebut dilakukan atas dasar pengetahuan dan penciptaan (Allah Swt)

Kemampuan Yang Diperagakan oleh Para Pembantu Sulaiman as.

Seperti kita ketahui bahwa Nabi Sulaiman as berhasil mendatangkan kerajaan Saba’, namun sebelum itu Sulaiman as telah hadir sebuah pertemuannya, belian berkata:

قَالَ يَاأَيُّهَا المَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِيْنَي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِيْنَ

 (….”Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”).[2]

Salah satu dari para jin itu mengatakan:

قَالَ عِفْريتٌ مِنْ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّيْ عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِيْنَ

(……..”Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; Sesungguhnya Aku benar-benar Kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”).[3]

Salah seorang di antara mereka bernama Ashif bin Barkhiya’ seorang wakil Sulaiman menyatakan bahwa ia mampu mendatangkan singgasana tersebut dalam sekejap mata, seperti yang difirmankan Allah Swt:

قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنْ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَ مَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَ مَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيْمٌ

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba Aku apakah Aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia“.[4]

Kalau kita perhatikan ayat di atas, bahwa apakah faktor perbuataan yang luar biasa (mendatangkan singgasana Ratu Balqis dari ribuan kilometer jaraknya dari majelis Sulaiman)? Apakah faktor perbuatan luar biasa itu secara langsung dari Allah? Atau faktor perbuatan ini seperti halnya faktor dari ribuan perbuatan orang biasa dengan kekuatan Ilahi. Sesuatu atau kekuatan ini berasal dari Allah dan dengan dorongan kekuatan Allahlah sebagai faktor dari perbuatan luar biasa ini. Zhahir dari ketiga ayat di atas akan menegaskan pandangan yang kedua.

Pertama: Sulaiman menghendaki mereka untuk melaksanakan perbuatan ini dan mereka memiliki kemampuan dan kekuatan untuk melakukan perbuatan tersebut.

Kedua: Seseorang telah berkata, “Saya dapat mendatangkan singgasana Balqis sebelum Sulaiman berdiri dari tempa duduknya, ia mengatakan, ‘Aku benar-benar kuat untuk membawanya, lagi dapat dipercaya.’”

Meskipun keberadaan orang ini dan kemampuannya tidak berpengaruh, maka tidak ada dalil yang menyatakan bahwa ia berkata, “Aku benar-benar kuat untuk membawanya, lagi dapat dipercaya.”

Ketiga: Seorang lainnya berkata, “Saya dapat membawanya dengan kedipan mata.” Perbuatan luar biasa ini tidaklah dinisbatkan kepadanya dan dikatakan, “Aku akan membawanya kepadamu.”

Al-Quran telah menjelaskan hakekat ini jiwa-jiwa para wali, kehendak dan keinginan mereka dan orang-orang mulia lainnya memberikan pengaruh terciptanya mukjizat-mukjizat, karomah-karomah dan hal-hal luar biasa lainnya. Bagaimana mungkin dikatakan kaum skeptisisme di zaman tersebut menolak dan mentakwilkannya.

Keempat: Allahlah sebagai sumber yang mendatangkan perkara yang mendatangkan keajaiban pada makhluk yang memiliki kemampuan tersebut dan Dia mengetahaui ilmu al-kitab. Hanya sedikit yang dikaruniai ilmu demikian dan hanya diperoleh oleh hamba-hamba-Nya yang khusus. Allah Swt berfirman:

قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنْ الْكِتَاب…

“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab…”

(Sumber: Disadur dari buku Rahnema-e Hakekat -Syekh Ja’far Subhani)


[1] QS. QS. Yusuf [12]:96.

[2] QS. al-Naml[27]:38.

[3] QS. al-Naml [27]:39.

[4] QS. al-Naml [27]:40.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s