Kapan Munculnya Syiah?

Posted on Updated on

images (8)

Pertanyaan: Tentang Syiah dan berbagai pandangan mengenai perkembangannya. Mohon dijelaskan kapan munculnya Syiah atau Tasyayyu’?

Jawaban:

Jenis pertanyaan ini dapat ditinjau dari sisi perkembangan mazhab-mazhab teologis yang muncul sejak wafatnya Rasulullah saw. Dikatakan bahwa kapan munculnya mazhab Asy’ariyah?

Dapat dijawab bahwa mazhab Asy’ariyah adalah mazhab teologi yang didirikan oleh Abul Hasan Asy’ari (260-324H) pada abad ke-4. Sebelumnya telah berdiri mazhab Mu’tazilah oleh Washl bin ‘Atha (80-130H) adalah murid dari Hasan Bashri. Dari sini dapat dikatakan bahwa sejarah mencatat lahirnya mazhab-mazhab teologi tersebut.

Adapun untuk kemunculan mazhab fiqih, sejarah mencatat lahirnya Hanafi oleh Abu Hanifah (80-150H), mazhab Syafi’i oleh Muhammad bin Idris Syafi’i (150-204H), juga mazhab-mazhab fiqih lainnya. Adapun mazhab Syiah adalah sebuah madrasah atau mazhab teologi dan fiqh yang muncul sejak kemunculan Islam dan wafatnya baginda Rasulullah saw.

Syiah dan Islam adalah satu kesatuan. Dalam perkembangannya, syiah adalah Islam itu sendiri, yakni sejak kemunculan Rasulullah saw yang mengajarkan ajaran-ajarannya dan diteruskan oleh para pemimpin atau imam melalui ketetapan yang telah ditentukan oleh Allah Swt dan dikenalkan oleh nabi-Nya. Mereka sebagai tonggak utama sebagai penjamin kemuliaan Islam dan memberikan bentuk esensi ajaran-Nya. Di zaman Rasul saw telah diumumkan (keimamahan mereka) melalui perantara beliau saw sendiri dan sekelompok dari sahabat telah menerima mereka. Setelah beliau saw wafat, masih menyisakan perjanjian ini. Mereka adalah para perintis mazhab tasyayyu’ di zaman Rasulullah saw, hingga setelah beliau wafat.  Adapun kelompok lain, tidak memandang sebelah mata hal ini dan mereka telah memilih seorang pemimpin lainnya.

Tasyayyu’ dengan makna ini bahwa sebuah sejarah tidak lain menyangkut hal-hal yang berkenaan dengan Islam dan tidak ada sebuah kenyataan selain dari agama ini. Atas dasar ini, yakni penentuan pemimpin atau imam dari sisi Allah adalah bagian dari ajaran Islam dan telah dideklarasikan di masa kehidupan Nabi saw.

 Syiah dalam Perkataan Rasul saw

Penamaan bagi para pengikut Ali as adalah Syiah, yang dimulai sejak masa kehidupan Nabi saw. Beberapa riwayat mengkhabarkan hal itu dan beliau saw merekomandasikan nama tersebut bagi para pengikut Ali as. Para ahli hadis dan tafsir menukil ayat,

إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ عَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ أُوْلَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal sholeh adalah mereka sebaik-baiknya kaum.[1]Nabi saw berkata kepada Ali as, “Maksud dari ayat adalah Engkau dan Syiahmu akan memperoleh kebahagiaan di hari kiamat kelak.”

Di hadis yang lain, beliau saw berkata, “Engkau dan Syiahmu. Aku dan engkau akan bertemu di telaga al-Kautsar. Ketika itu akan umat para nabi akan dihisab dan kalian akan mengingat kembali  atas apa yang telah kalian perbuat, saat itu pula cahaya akan memancar dari wajah dan kening-kening kalian.”

Riwayat yang berhubungan dengan turunnya ayat ini adalah Nabi menamakan para pengikut Ali as dengan nama Syiah dan juga terdapat pada riwayat-riwayat lainnya. Dapat kita merujuk pada contoh riwayat-riwayat lainnya.[2]

Karena itu, penamaan para pengikut Ali as sebagai Syiah berasal dari Nabi saw dan hal ini dinilai sebagai pondasi bagi penetapan kepemimpinan (Ali as-penj) dalam pemerintahan Islam setelah beliau saw wafat.

1. Hadis Dar

Tidak diragukan lagi bahwa kedudukan imamah sebanding dengan kedudukan nubuwwah (kenabian). Namun, Nabi sebagai penerima wahyu dan pendiri agama sedangkan imam tidak menerima wahyu dan bukan sebagai pendiri agama. Akan tetapi, tugas Rasulullah saw dalam menafsirkan serta menjelaskan hukum dan pelaksanaannya juga menjadi tanggung jawab para imam. Imam sebagai marja’ dalam hal menjelaskan hukum dan akidah, juga mengatur urusan pemerintahan (negara). Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Suatu hari Rasulullah saw menjelaskan kenabiannya kepada Bani Hasyim, juga mengumumkan seorang wakil dan penggantinya Ali as.” Hal ini menjelaskan bahwa maqam nubuwwah sebanding dengan maqam imamah. Dua kedudukan tersebut berasal dari sisi Allah ditentukan melalui perantara wahyu Ilahi. Dalam riwayat lain disebutkan:

Nabi saw berdakwah secara sembunyi-sembunyi selama tiga tahun. Ketika itu Allah berfirman,

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِيْنَ

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat.”[1] Lebih dari empat puluh kepala rumah tangga dari pembesar Bani Hasyim dikumpulkan, diajak untuk dijamu makan siang. Setelah mereka menyantap hidangan, beliau saw memulai pembicaraannya:

“Tiada seorang pun dari suatu kaum mendatangkan sesuatu yang lebih baik daripada yang aku datangkan untuk kalian. Tuhanku berkata kepadaku bahwa aku akan menyeru kepada kalian untuk bertauhid, mengakui ke-Esaan-Nya dan mematuhi risalah-Nya. Siapa diantara kalian yang akan membantuku untuk menjalankan tugas ini, hingga ia akan menjadi saudara, washi dan penggantiku?”

Nabi saw mengatakan kalimat di atas, lalu diam sejenak dengan memerhatikan siapa di antara mereka yang akan menyambut seruannya.

Tiba-tiba seorang pemuda bernama Ali yang baru berusia 15 tahun memecahkan keheningan dan bangkit, di hadapan Nabi saw, ia berkata, “Wahai Rasulullah, saya akan membantumu di jalan ini.”Ia menjulurkan tangannya sebagai tanda baiat. Ketika itu Rasul saw memeintahkannya untuk duduk dan beliau saw mengulangi perkataannya. Ali kembali bangkit dan menyatakan kesiapannya. Kembali lagi beliau saw menyuruh Ali as untuk duduk. Hingga untuk ketiga kalinya, Nabi saw mengulang perkatannya. Tidak seorang pun yang berdiri dan hanya Ali yang bangkit dan siap mendukung tujuan suci perjuangan Nabi saw. Lalu Rasul saw mengangkat tangan Ali as dan mengucapkan sebuah kalimat di hadapan para pembesar Bani Hasyim tentang Ali as:

“Wahai sanak saudara dan kerabatku! Ali adalah saudara, washi dan khalifah setelahku di antara kalian.”[2]

Hadis ini sangat jelas mengabarkan tentang sejarah syiah di masa kenabian dan imamah dengan pengertian yang telah kita jelaskan. Hal ini bukanlah satu-satu dalil menetapkan kepemimpinan Ali setelah Rasul saw,  juga terdapat dalil lain yang akan kami jelaskan.

  1. Hadis Manzilah

Hadis Manzilah adalah salah satu hadis masyhur yang dinukil dari para sejarawan dan pengamat. Dalam hadis tersebut dipaparkan:

Ketika itu Rasul akan menghadapi sebuah pertempuran dengan bangsa Romawi di wilayah Tabuk. Ali tidak menyertai Nabi saw, disebabkan ia sangat diperlukan untuk mengatasi kaum munafik di Madinah. Akan tetapi, kaum munafik menyebarkan isu bahwa persaudaraan Nabi saw dan Ali as sedang mengalami keretakan, karena itu ia (Ali) tidak dibawa bersama beliau saw untuk berperang. Namun setelah itu Ali pun bergegas bergabung ke pasukan kaum muslimin dan membungkam isu tersebut. Nabi saw berkata, “Mereka telah berdusta, Aku menjadikanmu sebagai penggantiku untuk menjaga rumah dan keluargaku. Jadi penggantiku hendaklah ia berasal keluargaku dan keluargamu. Apakah penggantiku yang paling baik untukku adalah seperti Harun di sisi Musa, dengan satu perbedaan bahwa tidak ada nabi lagi setelahku.”[3]

Hadis sangat jelas menerangkan bahwa Ali as memiliki tanggung jawab sepenuhnya seperti Harun selain dari maqam kenabian. Salah satu dari kedudukan Harun sebagai perwakilan Musa as. Dikatakan,

وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي . هَارُوْنَ أَخِي

Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku.”[4]

Pengecualian atas kenabian dalam perkataan Nabi saw bahwa Ali juga memiliki tanggung jawab seperti Harun dan kedudukan ini tidak hanya dikhususkan pada perang Tabuk, namun untuk tanggung jawab secara keseluruhan. Adapun sebagai ‘pengganti’ di perang tabuk dan jika seorang pengganti hanya dikhususkan pada perang ini, maka tanggung jawab tersebut tidaklah menyeluruh, kecuali pada kenabian.”

3. Hadis Ghadir

Berbagai referensi dalil yang menjelaskan pengokohan wilayah Ali setelah Rasul saw. Setidaknya ada tiga dalil, yakni hadis ‘Yaum al-Dar’, di pertengahan dakwah Islam adalah hadis ‘Manzilah’ dan hadis ‘Ghadir’ di akhir umur Rasul saw. Adapun gambaran umum penentuan pengganti di akhir risalah Rasul saw tersebut adalah:

Nabi saw pada tahun ke-sepuluh Hijriyah melakukan perjalanan untuk menunaikan kewajiban haji dan mengajarkan manasik haji kepada kaum muslimin. Rombongan haji yang ikut bersama Nabi saw sebanyak sepuluh ribu jamaah. Di hari-hari Arafah dan Mina, Rasul berkhotbah di hadapan mereka.

Musim haji telah berakhir, para jamaah haji bergegas untuk kembali ke tanah airnya. Mereka meninggalkan Mekkah. Setelah itu, rombongan besar haji sampai di tempat peristirahatan yang bernama Ghadir Khum. Tiba-tiba sebuah petanda wahyu akan turun dan Rasul saw memerintahkan untuk menghentikan rombongan. Allah Swt berfirman kepada Rasul saw, “

Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.” [5]

Dalam kesempatan itu, setelah berkhotbah di hadapan kaum muslimin, beliau berkata:

“Allahlah yang layak disembah, kita beriman kepada-Nya dan kepada-Nya kita memohon pertolongan serta bertawakkal. Aku berpesan atas kejahatan dan perbuatan buruk yang disandarkan kepada Allah yang tidak lain Dia tidak akan memberikan jalan kesesatan selain ke jalan petunjuk. Allah memberi petunjuk kepada semua manusia. Ini menjadi bukti bahwa tiada Tuhan selain Dia dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.[6]

Wahai manusia, hampir tiba saatnya aku akan dipanggil kembali dan aku pasti memenuh panggilan itu. Aku akan dimintai pertanggung jawaban  sebagaimana kalian pun akan dimintai pertanggung jawaban. ….Wahai manusia, barangsiapa mengakui aku sebagai pemimpinnya, maka dia ini (beliau menunjuk kepada Ali) adalah pemimpinnya juga!

Pada bagian akhir khutbahnya, beliau mengulang selama tiga kali, dengan mengatakan:

“Ya Allah, barangsiapa yang mencintai Ali, Engkau akan mencintainya dan barangsiapa yang memusuhinya, maka Engkau akan memusuhinya. Barangsiapa yang menolongnya, Engkau akan menolongnya. Barangsiapa yang meninggalkannya, Engkau pun akan meninggalkannya. Perlu bagi yang hadir untuk menyampaikan kabar ini kepada yang tidak hadir dan mereka telah mengetahui perkara ini.”

Kini pertemuan besar itu tidak menghasilkan akhir dan ketika itu malaikat pembawa wahyu mengabarkan kabar gembira kepada Nabi mulia saw, bahwa hari ini agamanya telah disempurnakan dan nikmat-Nya juga telah sempurna bagi kaum mukminin.

Hadis Ghadir adalah hadis yang mutawatir. Cukup kita ketahui bahwa hadis ini dinukil oleh 120 Sahabat dari Nabi saw dan 89 orang dari para tabiin, serta selama 14 abad sebanyak 360 ulama dan cendikiawan Sunni telah meriwayatkannya. Jika para ulama dan cendikiawan Syiah kita gabungkan ke dalam periwayatan hadis ini, maka menjadi hadis yang paling besar batas ke-mutawatirannya.[7]

Sikap Sahabat terhadap Hadis Nabi saw

Pesan-pesan dari ketiga hadis di atas  menyebabkan adanya pengakuan sebagian kelompok kepada wilayah Ali as, mereka dikenal sebagai pengikut atau Syiah Ali as. Muhaqqiq Muhammad Kurd Ali dalam kitab Khithath al-Syam menulis:

“Di zaman Nabi saw sendiri terdapat kelompok sahabat terkemuka dikenal sebagai pecinta Ali dan berwilayah kepada beliau as, seperti: Salman Farisi yang mengatakan, ‘Kami membaiat Nabi saw atas dua dasar: mengharapkan kebaikan untuk kaum muslimin serta mengikuti dan mengakui wilayah Ali bin Abi Thalib as.’ Abu Sa’id Khudri mengatakan, ‘Umat diajak kepada lima perkara, akan tetapi mereka hanya mengambil empat perkara dan mengabaikan 1 perkara lainnya. Ditanyakan, ‘Apakah empat perkara tersebut?’ Ia berkata, ‘Salat, zakat, puasa di bulan Ramadhan dan pergi haji ke Baitullah. Di tanyakan pula, ‘Apakah yang mereka abaikan dari 1 perkara tersebut?’ Ia jawab, ‘Wilayah Ali bin Abi Thalib.’ Ditanyakan lagi, ‘Apakah berwilayah kepada Ali merupakan suatu kewajiban seperti kewajiban atas empat perkara tadi?’ Ia menjawab, ‘Benar, adalah kemestian dan kewajiban atas diri mereka, mereka itu adalah  Abu Dzar Ghifari, Ammar Yasir, Khudzaifah Ibn Yaman, Dzu al-Syahadatain  (pemilik dua saksi) Khazimah Ibn Tsabit, Abu Ayyub al-Anshari, Khalid bin Sa’id dan Qais bin Sa’id bin Ubadah.’”[8]

Syiah di Masa Risalah

Syiah mengalami perkembangan di seluruh pelosok negeri Islam. Sebuah kelompok yang mencintai dan berwilayah kepada Ali melekat di kedalaman jiwa, mereka dikenal sebagai Syiah Ali.

Dengan wafatnya Rasul saw, seluruh wasiat dan pesan beliau terjaga melaui para Imam setelah masa risalah. Atau dari sejak di masa permulaan Islam, hingga di sepanjang zaman, Syiah telah tersebar melalui pengenalan secara benar terhadap permasalahan imamah dan seorang imam pengganti, Ali as.

Syiah dimulai di tanah Hijaz dan tempat kelahiran mazhab tasyayyu’. Ketika itu, lalu Imam as mengalihkan kepemimpinannya di tanah Irak. Beberapa tahun kemudian, tasyayyu’ mengalami perkembangan dan tersebar luas ke seluruh pelosok dunia.

[1] QS. al-Syuara’ [26]:214.

[2] Tarikh Thabari, jil.2 hal.319-321 cetakan Darul Ma’arif Mesir; Tarikh Kamil Ibn Atsir, jil.2, hal.36-62 cetakan Darul Shadr Beirut; Tarikh Ibn Asakir, jil.1, hal.65, hadis ke-139-141, cetakan Beirut; Tafsir Khazin, ‘Alauddin Syafi’i, jil.3, hal.371, cetakan Mesir dan selainnya.

[3] Shahih Bukhari, jil.6, hal.3; Shahih  Muslim, bab Fadhail Ali, jil.7, hal.120; Sunan Ibn Majah, jil.1, hal.55; Sirah Ibn Hisyam, jil.2, hal.519-520.

[4] QS. Thaha [20]: 29-30.

[5] Qs. al-Maidah [5]:67.

[6]Man kuntu maula fa Alliyun maula’

[7] Tirmidzi, Shahih,  jil.5, hal.297; Ibnu Majah, Sunan, jil.1, hal.4 5, hadis ke-121; Hakim Nisaburi, al-Mustadrak ala Shahihairn, jil.3, hal.110; Ahmad  Ibn Hambal, Musnad, jil.1, hal, 88, jil.2, hal.672; Nasai, Khashaish, hal.94-95; al-Miskah al-Mashabih, jil.3, hal. 246; Muhibuddin Thabari, al-Riyadh al-Nadhrah, jil. 2, hal. 169 dan lainnya. Mereka yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai para perawi dari sahabat, tabiin dan para cendikiawan muslim lainnya, dapat merujuk ke dalam dua kitab ini: ‘Abaqat al-Anwar, Mir Hamid Husain Hindi (wafat tahun 1306H) dan al-Ghadir, Muhaqqiq Aliqadr Abdul Husain Amini (1320-1390H)

[8] Muhammad Kard Ali, Khithath al-Syam, jil.5, hal.251.

[1] QS. al-Bayyinah [98]:7.

[2] Al-Durr al-Mantsur, jil. 6, hal.589; Nihayah Ibn Atsir, jil.4, hal.106; Manaqib Ibn Maghazili, hal.293 dan selainnya. Yang jelas, Suyuthi di Dur al-Mantsur, telah menukil hadis in dari Tafsir Thabari dan Tarikh Ibn ‘Asakir.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s