Apakah Kebenaran Itu Milik Mayoritas?

Posted on Updated on

images (7)

Pertanyaan: Jika Syiah adalah mazhab yang hak (benar), mengapa para pengikut Syiah adalah kaum minoritas? Dan para pengikut Ahlusunnah adalah mayoritas?

Jawaban: Ke-mayoritas-an tidaklah identik dengan kebenaran, dan ke-minoritas-an tidak pula identik dengan lawan kebenaran. Di sepanjang era dakwah para nabi, hingga masa Nabi Nuh as dan Rasul saw, kaum mukmin di masa itu sebagai kaum minoritas.

Al-Quran menyebutkan hal tersebut, yakni jumlah mereka yang mengimani Nuh as selama lima ratus lima puluh tahun,[1] dikatakan,

وَ مَنْ آمَنَ وَ مَا آمَنَ مَعَهُ إِلاَّ قَلِيلٌ

Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.”[2] Di ayat yang  lain, disebutkan:

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

Dan sedikit sekali dari hamba-hamba Ku yang berterima kasih.[3]

Allah memperingatkan kepada nabi-Nya dalam hal mengikuti mayoritas sebuah kelompok, Al-Quran menyatakan,

وَ إِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي اْلأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيْلِ اللَّهِ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”[4] Juga pada ayat,

وَ مَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَ لَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِيْنَ

Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya.[5]

Di dalam ayat-ayat al-Quran lainnya, Allah Swt menghukum manusia kebanyakan (mayoritas) disebabkan karena mereka tidak berpikir. Dengan beberapa ungkapan seperti, “afalâ ta’qilun”, “afalâ tatafakkarun”, “afalâ yatadabbaruna al-Qur’ân”, Allah Swt mengajak mereka untuk berpikir dan menggunakan akalnya.

Kita lihat bahwa jumlah penduduk yang paling banyak di permukaan bumi berada di negara Cina, sekitar 1,3 milyar jiwa dan India berjumlah 1 milyar jiwa. Kebanyakan dari mereka sebagai kaum materialis dan penyembah patung. Jika keseluruhan kaum muslimin di muka bumi  berjumlah 1,3 milyar dinisbatkan kepada jumlah penduduk bumi yang berkisar 5 milyar jiwa, maka jumlah kaum muslimin tidak terhitung sebagai kaum mayoritas.

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as dalam perkataan beliau tentang mengenal kebenaran dan kebatilan, menjelaskan: Dalam perang Jamal, seorang sahabat bertanya kepada beliau as, “Apakah engkau akan memerangi Thalhah dan Zubair, padahal mereka adalah temasuk sahabat-sahabat yang terkemuka?” Imam menjawab, “Engkau keliru, kemuliaan dan kebesaran seseorang tidaklah menunjukkan atas kebenaran atau kebatilan, Kebenaran itu dikenali oleh pemilik kebenaran tersebut. Kenalilah kebatilan itu ketika engkau ingin mengenal pemilik kebatilan tersebut.”[6]

Diketahui bahwa jumlah pengikut Syiah adalah minoritas dari jumlah kaum muslimin secara keseluruhan. Namun, mereka sebagai penduduk mayoritas dan berpengaruh di negara-negara Islam, seperti: Iran, Irak, Azerbaijan, Bahrain dan Lebanon. Adapun di negara-negara Islam lainnya sebagai kaum minoritas, sebagian mereka memiliki sarana pendidikan, masjid dan program-program budaya Islam tersendiri.

Perlu dikaji bahwa kaum Syiah hanya dikenal oleh sebagian orang sebagai kaum oposisi dan memiliki aturan-aturan politik yang berseberangan dengan pemerintah, bahkan menggelari mereka dengan panggilan ‘rafidhah’, sebagai contoh: Muhammad Raznawi, setelah ia berkuasa di wilayah Timur Khurasan, ia berupaya memberantas dua mazhab, yakni Syiah dan Mu’tazilah; dengan memberangus berbagai karya ilmiah dan perpustakaan mereka. Ia memperkuat hubungan dengan kelompok Ahlulhadis dan Karamiah dan bermusuhan dengan kelompok Syiah dan Mu’tazilah.

Salahuddin al-Ayubi setelah ia berpaling dari Daulah Fatimiyah, memutuskan untuk melakukan pembunuhan massal kaum Syiah, hingga menyebabkan banyak korban kaum Syiah atas pembantaian tersebut.[7]

Pada masa pemerintahan Daulah Utsmani, di masa kekuasaan Sultan Salim, disebabkan oleh fatwa seorang ulama Hanafi dengan nama Nuh, melakukan pembantaian atas kaum Syiah di Turki, sebanyak 40.000 pengikut Syiah tewas.

Terjadi pula pembunuhan massal dan pembakaran buku-buku Syiah di masa pemerintahan Jazzar di Lebanon di Jabal Amil.[8]

Adapun dari sisi tersebarnya budaya Syiah yang kokoh, memiliki ulama dan para cendikiawan terkemuka di berbagai dimensi keilmuan Islam adalah sebuah mukjizat Ilahi dan limpahan karunia-Nya.

[1] QS. al-Ankabut [29]:14.

[2] QS. Hud [11]:40

[3] QS. Saba’[34]:13

[4] QS. al-An’am [6]:116.

[5] QS. Yusuf [12]: 103.

[6] Dinukil dari kitab Ali wa Banuhu, oleh DR.Thaha Husain.

[7] A’yan al-Syiah, jil.2, hal.30; Mudhaffar, Tarikh Syiah, hal.192.

[8] Dairah al-Ma’arif  al-Libnaniah, Fuad Bastani, Syarh Hal Ibrahim Yahya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s