Apakah Kita Telah Berpuasa Secara Benar?

Posted on Updated on

images (6)

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa seperti juga yang telah diwajibkan kepada umat sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertakwa. (QS al-Baqarah, 183).

Inilah ayat yang mewajibkan kita berpuasa.  Diakhir ayat disebutkan “…agar kamu menjadi orang bertaqwa.”  Sedangkan makna ‘tagwa’ di sini adalah sesuai dengan hadis Imam Ali bin bi Thalib, “Al-Muttaqi limani taqa anil maksiah wa istm (Orang bertakwa adalah orang yang menjaga dirinya dari perbuatan maksiat dan dosa.”  Jadi bagaimana yang Allah kehendaki dari para hamba-Nya yang berpuasa, supaya mereka bertakwa?

Terlebih dahulu kita sering mendengar tiga kelompok/tingkatan orang berpuasa:

Pertama, disebutnya sebagai kelompok/tingkatan puasanya orang awam (orang kebanyakan). Tingkatan puasa ini menurut Al-Ghazali adalah tingkatan puasa yang paling rendah, kenapa? Karena dalam puasa ini hanyalah menahan dari makan, minum, dan hubungan suami istri. Kalau puasanya hanya karena menahan makan dan minum serta tidak melakukan hubungan suami isteri di siang hari, maka kata Rasulullah saw puasa orang ini termasuk puasa yang merugi yaitu berpuasa tapi tidak mendapatkan pahala. Hal ini lah yang diwanti-wanti oleh Rasulullah Saw dengan sabdanya: Kam min Shaimin laisa lahu min shiyaamihi illa al-Juu’ wa al-‘Athas, artinya “banyak orang berpuasa tapi tidak mendapatkan pahala berpuasa, yang ia dapatkan hanya lapar dan dahaga.”

Sedangkan yang kedua adalah puasa khusus, yaitu di samping menahan yang tiga hal tersebut, juga memelihara seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat. Maka puasa ini sering disebutnya dengan puasa para Shalihin (orang-orang saleh). Menurut Ghazali, seseorang tidak akan mencapai kesempurnaan dalam tingkatan puasa kedua ini kecuali harus melewati enam hal sebagai prasayaratnya, yaitu 1) menahan pandangan dari segala hal yang dicela dan dimakruhkan; 2) menjaga lidah dari perkataan yang sia-sia, berdusta, mengumpat, berkata keji, dan mengharuskan berdiam diri, menggunakan waktu untuk berzikir kepada Allah serta membaca Al-Quran; 3) menjaga pendengaran dari mendengar kata-kata yang tidak baik; 4) mencegah anggota tubuh yang lain dari perbuatan dosa; 5) tidak berlebih-lebihan dalam berbuka, sampai perutnya penuh makanan; 6) hatinya senantiasa diliputi rasa cemas (khauf) dan harap (raja) karena tidak diketahui apakah puasanya diterima atau tidak oleh Allah.

Bahkan dikatakan dalam sebuah hadis “Iza sumta falyasum sya’ruka wa jilduka (jika kamu berpuasa hendaklah (berpuasa juga ) rambutmu dan kulitmu.” Apa maknanya? Orang berpuasa harus menjaga rambutnya (bagi perempuan hendaklah memakai penutup (jilbab) dan kulitnya (untuk tidak bersentuhan dengan non-muhrim).

Tingkatan puasa yang ketiga adalah puasa khusus yang lebih khusus lagi yaitu, di samping hal di atas adalah puasa hati dari segala keinginan hina dan segala pikiran duniawi, serta mencegah memikirkan apa-apa selain Allah Swt (shaum al-Qalbi ‘an al-Himam ad-Duniyati wa al-Ifkaar al-Dannyuwiyati wakaffahu ‘ammaa siwa Allaah bi al-Kulliyati). Menurut Al-Ghazali, tingkata puasa yang ketiga ini adalah tingkatan puasanya para nabi , Shiddiqqiin, dan muqarrabin.

Sudahkan kita melaksanakan kewajiban puasa kita secara benar? Sesuai dengan tuntunan-Nya agar kita menjadi insan yang bertakwa?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s