Cinta dan Syafaat Zahra as

Posted on Updated on

images (4)

Benih cinta adalah hal yang terpenting dan harus tertanam dalam jiwa manusia, yang merupakan fitrah manusia yang tak terpisahkan dari kehidupannya dan  selalu dibutuhkan. Islam juga dikenal sebagai agama cinta. Hanya, yang perlu kita perhatikan adalah apakah cinta itu mendatangkan kebaikan kepada diri kita, atau keburukan yang melemparkan kita ke kubangan lumpur. Namun, yang sebenarnya cinta itu indah, penuh berkah dan rahmat.

Al-Quran sebagai sumber rujukan utama dalam agama Islam, menjelaskan berbagai hal berkaitan dengan masalah cinta. Diantaranya ayat yang berbunyi:

وَ مِنَ النَّاسِ مَنْ یَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْداداً یُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَ الَّذینَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ …

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah….[1]

Dari ayat di atas dijelaskan bahwa manusia yang beriman tidak mungkin ia tidak mencintai Allah; yakni  keimanan di hati seseorang tidak akan terealisasi bila ia tidak mencintai-Nya.

Dalam ayat lain Allah Swt berfirman:

وَ لكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ‏ إِلَیْكُمُ الْإیمانَ وَ زَیَّنَهُ فی‏ قُلُوبِكُمْ وَ كَرَّهَ إِلَیْكُمُ الْكُفْرَ وَ الْفُسُوقَ وَ الْعِصْیانَ أُولئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ.

…..tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,[2]

Jadi kecintaan kepada keyakinan agama merupakan hidayah yang diberikan Allah Swt. Selain itu perasaan cinta itu akan melahirkan keridaan Allah Swt. Dalam al-Quran,  dikisahkan Nabi Sulaiman pernah berkata:

فَقَالَ إِنِّيْ أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَنْ ذِكْرِ رَبِّي ….

Maka ia berkata,  “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) karena Tuhanku (dan aku hendak memanfaatkannya di jalan Allah)…..” [3]

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw bertanya kepada para sahabatnya, beliau saw berkata, “Manakah di antara cabang-cabang (tali-tali) keimanan itu yang lebih kuat? Mereka menjawab, ‘Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui jawabannya?’ Namun, di antara para sahabat, ada yang menjawab, ‘Zakat.’ Sebagian lain menjawab, ‘Puasa.’ Sebagian lagi menjawab, ‘Haji dan umrah,’ Juga sebagian lainnya  menjawab, ‘Jihad.’ Dari sini, lalu Rasulullah saw mengarahkan wajahnya kepada sahabatnya dan berkata, ‘Semua yang kalian katakan adalah benar, namun yang dimaksud bukanlah demikian. Yang paling diutamakan dari cabang-cabang keimanan adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah, mencintai orang-orang yang dicintai Allah dan berlepas diri (bara’ah) dari musuh-musuh Allah.’”[4]

Mencintai orang-orang yang dicintai Allah Swt, termasuk mencintai putri Nabi saw, Fathimah as dan beliau adalah salah seorang dari wali-Nya  (orang-orang yang dicintai Allah Swt). Maka, bila kita mencintai para wali Allah berarti kita juga mencintai Allah Swt. Juga tidak diragukan bahwa beliau adalah Sayyidah  al-Nisa al-Alamin (Pemimpin kaum wanita semesta alam).

Nabi saw pernah bersabda, “Wahai Salman, Barang siapa yang mencintai putriku, Fathimah maka ia bersamaku di Surga dan barang siapa yang membencinya, maka ia akan dimasukkan ke neraka. Wahai Salman, mencintai Fathimah, akan meringankan baginya di seratus tempat, di antaranya adalah ketika menjelang kematian, alam kubur, padang Mahsyar, jembatan sirath al-Mustaqim dan ketika di perhitungan amal. Barang siapa yang rida kepada Fathimah, maka membuatku rida kepadanya dan barang siapa yang telah membuatku rida kepadanya, maka  Allah Swt akan rida kepadanya.”[5]

Meraih Syafaat

Dalam al-Quran, Allah Swt berfirman, “Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.”[6]

Hanya orang-orang yang diridai Allah Swt yang memberikan syafaat, misdaq orang yang diridai –Nya dalam ayat ini, tentunya termasuk pada putri Rasul saw, Fathimah as, yang akan memberikan syafaatnya kepada umat  di hari kiamat kelak.

Demikianlah karunia yang dengan itu Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Katakanlah, Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kecintaan kepada Al-Qurba. Siapa yang melakukan kebaikan (dengan mencintai keluarga Rasulullah saw), akan Kami tambahkan baginya kebaikan itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Pembalas kebaikan dengan kebaikan.

Apakah mereka sudah berkata bahwa Muhammad ini sudah berbohong mengatas-namakan Allah (padahal hanya untuk kepentingan keluarganya). Kalau Allah kehendaki Dia dapat mengunci mati hatinya; dan Allah menghapuskan yang batil dan membenarkan yang hak dengan kalimat-kalimat-Nya (al-Quran). Sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala isi hati.[7]

Kita menyakini bahwa amal saleh yang kita lakukan jauh lebih sedikit daripada kesalahan dan dosa yang sering kita perbuat. Tentunya, kita akan menduga bahwa timbangan amal baik kita akan lebih berat dari amal buruk kita. Oleh karena itu, karena kasih-Nya kepada kita, Allah Swt memberi wewenang kepada orang-orang yang diridai-Nya untuk memberi syafa’at kepada kita. Alangkah bahagianya kita, kecintaan kita kepada Sayidah Fathimah, akan berguna bagi kita untuk memperoleh syafaat darinya. Hingga kesalahan dan dosa kita akan menjadi pahala dan rida dari-Nya.

Tidak ada kebahagiaan yang paling besar selain memperoleh syafa’at Sayidah Zahra as. Karena Rasulullah menjanjikan syafaat beliau kepada orang-orang yangmencintai keluarganya, termasuk putri kesayangan, az-Zahra as, sebagaimana beliau saw  bersabda, ”Syafa’atku aku khususkan kepada dia yang mencintai keluargaku diantara umatku.”[8] Lebih jelasnya, siapa saja keluarga Nabi saw yang harus kita cintai? Zamakhsyari meriwayatkan sebuah hadis tentang hal ini; ketika Rasulullah saw membaca ayat, Aku tidak meminta upah darimu kecuali kecintaan kepada al-Qurba. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulallah, siapa  al-Qurba yang harus kita cintai itu? Rasulullah bersabda, ‘Ali, Fathimah, dan kedua anaknya.’”

Inilah mereka yang akan mendapatkan syafaat dari Rasul saw, bila mereka mencintai Fathimah as dan keluarganya. Mudah-mudahan kita memperoleh syafaat Rasulullah saw dengan wasilah kecintaan kita kepada para manusia suci tersebut, termasuk ibunda para Imam kita Fathimah az Zahra as.

 

 

[1] QS. al-Baqarah [2]: 165.

[2] QS. al-Hujurat [49]: 7

[3] QS. al-Shad [38]: 32

[4] Bihar al-Anwar, jil. 1, hal 468 dan 469.

[5] Bihar a-Anwar, jil. 27, bab 4, hal. 116.

[6] QS. al-Anbiya [21]: 28

[7] QS. al-Syura [42]: 23 dan 24.

[8] Tarikh Baghdad,  Khatib Baghdadi , juz 2

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s