Kesucian dan Hijab dalam Pandangan Fathimah as

Posted on Updated on

images (1)

Islam mengajarkan aturan tertentu bagi kaum wanita yang berkaitan dengan pakaian, perhiasan, bergaul dengan lak-laki di sekelilingnya untuk menghindari hal-hal yang diharamkan. Allah Swt berfirman:

Hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu, dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sungguh, Allah bermaksud menghilangkan dosa kalian, hai ahlul bait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.[1]

Dari permasalahan yang berkaitan dengan ayat di atas, persoalan hijab adalah permasalahan yang paling menyita publik sekarang ini, khususnya mereka yang menyuarakan persamaan gender antara kaum laki-laki dengan kaum wanita. Mereka mengatakan bahwa pakaian menutup rapat anggota tubuh wanita tersebut sangatlah merepotkan dan bertentangan dengan kebebasan bagi hak-hak kaum wanita. Namun Islam menghendaki bahwa hijab sebagai perwujudan suatu sistem yang mengatur tindakan tidak atau boleh dilakukan dalam sosialisasi antara pria dan wanita. Hijab tak terbatas pada perintah bagi wanita untuk menutup kepala dan wajah saja.

Islam berperan mendidik setiap anggota masyarakat, pria maupun wanita, untuk menjadi manusia yang bertakwa, disiplin dan menjaga kesucian mereka. Seorang muslimah dituntut menjaga kedisplinan dalam hal melaksanakan tugas syariat berhadapan dengan kecenderungan mereka terhadap lawan jenis dalam aturan hijab. Dengan aturan tidaklah serta merta menjadikan para wanita merasa dibatasi ruang aktifitasnya, namun aturan ini lebih memunculkan budi pekerti yang mulia dalam hal menjaga kesucian dan kehormatannya.

Hijab dan Keteladanan Fathimah as

Fathimah as adalah ummu (ibu) para Imam Ahlubait Nabi saw, adalah seorang wanita yang dalam setiap gerak kehidupannya merupakan teladan yang patut ditiru, figur seorang istri yang salehah dan penyabar dalam menjalin hubungan sosial, serta teladan kaum ibu dalam mendidik putra-putrinya.

Keteladanan Sayidah Fathimah as mencakup berbagai dimensi kehidupan, bukan hanya disebabkan ia adalah putri Rasulullah. Apa yang membuat pribadinya menjadi begitu luhur dan dihormati, lantaran akhlak dan kepribadiannya yang sangat mulia. Juga kedalaman dari ilmu pengetahuan dan tutur kata yang beliau ucapkan. Di samping itu, kesempurnaan dan keutamaan yang dimiliki Sayidah Zahra as sebagai manusia Ilahi mengungkapkan sebuah hakikat bahwa beliau adalah teladan umat dalam menjaga nilai-nilai insaniah.

Sayidah Fathimah telah mengenal konsepsi kehidupan di rumah risalah Ilahiah dan mendengarkan ajaran hikmah yang disampaikan oleh sang Ayah kepadanya. Sehingga beliau telah mewarisi keindahan dan kelezatan ilmu-ilmu Ilahiah tersebut melalui kesucian dan cintanya  kepada Allah Swt.

Rasulullah saw, begitu menghormati Sayidah Fathimah. Begitu mulianya akhlak Sayidah Fathimah itu, sampai-sampai Rasulullah saw senantiasa memujinya dan menyebut keutamaannya. Sebuah menyebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Wahai Zahra, Allah Swt telah memilihmu, menghiasimu dengan pengetahuan yang sempurna dan mengistimewakanmu dari kaum perempuan dunia lainnya.” Juga diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Rasulullah bersabda, “Putriku Fathimah adalah bidadari dalam rupa manusia. Dia tidak tercemar oleh (darah) haid dan kotoran. Diberi nama Fathimah karena Allah Swt melindunginya (Fathimah) dan pengikutnya dari api neraka.”[2]

Sayidah Fathimah adalah contoh wanita teladan, seorang istri dan ibu yang penuh pengorbanan. Beliau as sebagai manusia sempurna yang seluruh wujudnya penuh dengan cinta, iman, dan makrifah. Beliau as tidak hanya mulia secara personal, maupun di lingkungan keluarga dan sosialnya, serta menjadikan beliau sebagai manifestasi nyata nilai-nilai Islam, di saat beliau dilahirkan di tengah masyarakat yang tidak mengenal nilai-nilai luhur Ilahi, penuh dengan kebodohan dan khurafat. Beliau as hidup dalam tradisi yang menganggap hina kelahiran bayi perempuan, hingga menguburkan mereka hidup-hidup, pertumpahan darah dan peperangan menjadi budaya yang telah berakar dalam tradisi masyarakat Arab jahiliah saat itu. Karena itu, Rasulullah saw pun akhirnya bangkit menyuarakan pesan-pesan suci Islam, menentang tradisi jahiliah dan diskriminasi gender. Di tengah masyarakat terbelakang semacam itulah, kehadiran Fathimah, putri Rasulullah menjadi tolok ukur perempuan muslim.

Selain itu, berkenaan dengan bahan hijab, ada riwayat yang menyebutkan bahwa Sayidah  Fathimah menggunakan hijab dari tenunan kulit pohon kurma. Dari sisi kesederhanaan hijab Sayidah Fathimah as adalah contoh yang terbaik di masa itu, tidak lagi berbicara mengenai bahan dan gaya (style) yang menjadi tren di masa sekarang. Menarik kesimpulan bahwa secara tidak langsung kita meneladani kehidupan beliau as dari sisi kesederhanaannya, tidak bergantung pada mahal tidaknya bahan yang digunakan dalam kaca mata masyarakat modern.

Hijab dalam Pandangan Sayidah Fathimah as

Dalam pandangan Zahra as, wanita yang derajatnya paling dekat di sisi Allah Swt adalah yang menjaga pandangan mereka dari kaum pria yang bukan muhrimnya, mendidik anak-anak mereka dan menjaga kehormatan suaminya. Imam Shadig as menukil dari perkataan Zahra as, beliau berkata, “Wanita yang memiliki derajat agung di sisi Allah Swt adalah wanita yang mendiami rumahnya (melaksanakan pekerjaan rumah dan mendidik putra-putrinya).”

Jelas, seorang wanita muslimah agar tidak melupakan perintah Allah Swt, maka harus menjaga kemuliaan dan kesuciannya, serta disepanjang hidupnya menjaga auratnya yang tertutupi oleh pakaian syar’inya sebagai mutiara yang berharga. Ini merupakan pesan yang disampaikan oleh Sayidah Fathimah dalam perkataan az-Zahra as yang terkenal, beliau berkata, “ Sebaik-baiknya perbuatan bagi wanita adalah ia tidak melihat lelaki (yang bukan muhrim) dan mereka pun (lelaki selain muhrim) tidak melihatnya.”[3]

Penutup

Pentingnya menjaga pakaian syar’i bagi kaum wanita di hadapan laki-laki yang bukan muhrinya. Dan bagi kaum muslimin hendaklah memahami bahwa pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan adalah larangan Islam. Karena itu, janganlah menganggap budaya ketelanjangan merupakan sesuatu yang lazim di tengah-tengah masyarakat. Hal ini bukan hanya membuat ketidaknyamanan dalam melanggar norma-norma agama, namun akan membuat sedih dan marah Sayidah Zahra as. Na’uzdubillahi mindzalik. Kita semua tahu bahwa beliau as adalah wanita teladan semesta alam.

[1] QS. al-Ahzab [33]:33.

[2] Teladan Abadi Mahawanita Fathimah Zahra oleh The Ahl-Ul-Bayt World Assembly, hal. 65.

[3] Kasyf al-Ghummah, jil. 1, hal. 466

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s