Perayaan Maulid Nabi Saw Sebagai Syiar Islam

Posted on Updated on

hazrat-mohamad-10_resize.jpg

Kaum muslim di seluruh dunia memperingati perayaan Maulid Nabi yang bersejarah, untuk menyambut keberkatan dan kebahagian pada hari tersebut. Hal ini merupakan suatu adat (habit) dan syiar Islam yang turun temurun yang telah dilakukan oleh para petua terdahulu. Dalam memperingati hari kelahiran Nabi Saw yang diperingati di seluruh pelosok di Indonesia diadakan sebuah acara tertentu, misalnya dengan melantunkan syair-syair dan qasidah-qasidah pujian, pembacaan maulid, ceramah yang berisikan hikmah keteladanan baginda Rasulullah Saw dan lain sebagainya. Namun sayangnya, kaum wahabi tidaklah memanfaatkan momentum bersejarah ini, dan dianggap sebagai sebuah bid’ah yang sesat.

Islam memberikan hukum yang jelas tentang hal ini, yang mana mereka berpijak pada dalil Alqur’an dan hadist. Di dalam alqur’an Allah Swt berfirman: “Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, Maka Sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS Al-Hajj ayat 32)

Dalam ayat diatas berisi perintah Allah Swt untuk menghidupkan berbagai bentuk dari syiar Allah Swt, sebagai bukti kecintaan dan ketaqwaan pada diri hamba-Nya. Banyak terdapat ayat-ayat lain sebagai bentuk pengagungan syiar agama, diantaranya; dalam surat AlBaqarah ayat 125, Allah Swt berfirman: . “Dan (ingatlah), ketika kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat.”

Yang menjadi pengertian ‘syiar Allah’ disini, bahwasannya Pemilik Syariat (Allah Swt) telah memuliakannya dan tidak menentukannya sebagai bentuk luar (misdaq) yang khusus, dengan melalui perkembangan zaman telah menjadikannya sebagai urf (menurut kacamata pandangan masyarakat), sebagai suatu dalil didalam mengagungkan syiar-syiar agama.

Tentang kemuliaan hari kelahiran Nabi Saw, dalam Shahih Muslim yang dinukil dari Abi Qatadah: “Sesungguhnya Rasulullah Saaw telah ditanya tentang puasa hari Senin, maka beliau berkata: “Pada hari itu aku dilahirkan dan juga pada hari tersebut Al-Qur’an diturunkan kepadaku.” Dan hadist Baihaqi yang dinukil dari Anas : “Sesungguhnya Nabi Saaw setelah kenabiaannya telah mengakikahkan dirinya dengan menyembelih seekor kambing. Dengan melalui riwayat ini, juga terdapat riwayat yang mana Abu Thalib pada hari ketujuh kelahiran Nabi Saaw telah mengakikahkan seekor kambing.”

Disini kaum Wahabisme mengatakan, perayaan maulid tersebut sebagai sebuah bid’ah yang sesat, yang dianggap halal padahal ternyata hukumnya haram. Kita katakan disini bahwa selama kita mempunyai dalil yang jelas tidaklah hal tersebut dianggap sebagai sebuah bid’ah. adanya kerancuan terhadap interpretasi bid’ah yang mereka pahami sebagai sebuah persoalan yang kini belum terpecahkan. Yang hakikat sesungguhnya adalah dalil syar’inya yang sudah cukup jelas. Namun bagaimanapun, argumentasi kita ajukan belumlah dapat menyakinkan mereka. Adanya unsur fanatisme yang hingga kini mereka pertahankan.

Sebuah landasan hukum bagi penyelenggaraan maulid Nabi Saw adalah wujud kecintaan yang tertanam pada hati-hati pencinta Nabi Saaw yang juga diperintahkan Allah Swt dalam firman-Nya:Katakanlah: “Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS Taubah ayat 24).

Namun yang terpenting adalah perayaan maulid Nabi Saw merupakan ajang dakwah yang berpontensial guna mengenang kembali jasa perjuangan dan integritas Nabi Saaw sebagai seorang pemimpin yang mengagumkan, yang memberikan keteladanan bagi umatnya,dalam Al-Qur’an juga disinggung;. “Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab ayat 21). Dan sekaligus membawa pesan-pesan Islami yang berguna bagi seluruh lapisan masyarakat.

By: Abu Aqilah

27 thoughts on “Perayaan Maulid Nabi Saw Sebagai Syiar Islam

    eraalquran said:
    Mei 28, 2007 pukul 11:23 am

    Tulisan yang bermanfaat sekali
    lanjutkan terus cahaya…

    Abu Aqilah responded:
    Mei 28, 2007 pukul 12:10 pm

    Terima kasih, buat sarannya.

    yanu said:
    Juni 1, 2007 pukul 6:42 am

    Disini kaum Wahabisme mengatakan, perayaan maulid tersebut sebagai sebuah bid’ah yang sesat, yang dianggap halal padahal ternyata hukumnya haram. Kita katakan disini bahwa selama kita mempunyai dalil yang jelas tidaklah hal tersebut dianggap sebagai sebuah bid’ah. adanya kerancuan terhadap interpretasi bid’ah yang mereka pahami sebagai sebuah persoalan yang kini belum terpecahkan. Yang hakikat sesungguhnya adalah dalil syar’inya yang sudah cukup jelas. Namun bagaimanapun, argumentasi kita ajukan belumlah dapat menyakinkan mereka. Adanya unsur fanatisme yang hingga kini mereka pertahankan.

    nampaknya sampean berusaha untuk tidak fanatis, demikian juga saya. btw, kalau boleh saya tanya, bagaimana menurut sampean dengan tulisan berikut ?
    http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1156

    apakah tulisan tersebut dapat dikategorikan sebuah kefanatikan ?

    trims

    Cahaya Islam responded:
    Juni 1, 2007 pukul 2:40 pm

    Salam…..
    Saya telah merujuk pada artikel yang anda tujukan, terima kasih. Saya bersumber pada hadist shahih dan qur’an seperti yang saya utarakan. Bagaimanapun berdasarkan dalil Al-Qur’an dan hadist shahih sangatlah jelas, bahwa maulid Nabi Saaw bagian dari pengagungan syiar Islam. Kalau tidak, apa yang menjadi syiar Islam itu sendiri ? Dalam kehidupan sehari-hari, wajar ketika seorang ibu menyambut keselamatan atas kelahiran anaknya. Untuk mengungkapkan kebahagiannya itu melalui jalan sedekah atau mengundang para tamunya untuk makan bersama. Seperti juga Abu Thalib telah mengakikahkan di hari ketujuh kelahiran kelahiran Nabi Saaw dengan menyembelih seekor kambing. Lain lagi bila perayaan maulid Nabi Saaw tersebut melampaui batas syariat, yang dipermasalahkan adalah personalnya.
    Adapun tentang bid’ah semuanya sesat, kami pun sepakat. Namun, maulid Nabi Saaw bukanlah bid’ah akan tetapi sebagai syiar Islam, bentuk kecintaan dari para pecintanya untuk mengenang kembali keagungan kepribadian Rasulullah Saaw dan pelaksanaan perayaan maulid tersebut haruslah tidak melampaui batas syariat. Kalau terjadi pelarangan pelaksanaan maulid tersebut, sama sekali tidak mempunyai dalil hukum yang jelas. Kefanatikan bisa timbul dari seseorang yang sulit menerima pandangan-pandangan lain, dengan masih mempertahankan pandangan pribadi atau golongannya.
    Terima kasih atas komentarnya.

    eraalquran said:
    Juni 4, 2007 pukul 3:43 pm

    Salam
    Terima kasih kepada Abu Aqilah atas artikelnya yang sangat baik sekali. Kalau boleh ana mau nambahin isykalan atas artikel ustadz Ja’far yang ada disitus Salafi itu.

    Terlalu banyak kelemahan artikel itu menurut ana, saya potong-potong aja yah artikelnya.

    Ustadz Ja’far:Hari itu istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan tiga shahabat menanyakan perihal ibadah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sesampainya mereka disana diceritakanlah kepada mereka seperti apa ibadah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, selesai mereka menyimak keterangan para pendamping Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seolah-olah mereka masih menganggapnya belum seberapa. Maka berkatalah salah seorang dari mereka; “Saya akan shalat malam selama-lamanya”. Kata yang kedua; “Kalau saya, saya akan berpuasa dan tidak berbuka”. Yang terakhir menyela; “Dan saya, saya akan menjauhi wanita-wanita dan tidak akan menikah”. Akhirnya nabi marah saat mendengar kisah itu.

    Menurut ana:Dari Hadis Anas ini dapat ditarik kesimpulan bahwa hadis yang mengatakan Ashbai kannujum biayyihim iqtadaitum ihtadaitum. Karena bagimana mungkin kita mengikuti sekelompok orang yang bertentangan keyakinan dan amalnya satu sama lain. Memang sekelompok sahabat diridahi oleh Allah, akan tetapi ada sebagian dari mereka yang disebut fasiq oleh Allah, lihat surah Hujurat, Injaakum fasiqun, ayat ini kan berkaitan dengan salah seorang sahabat dan ayat-ayat yang lain.

    Ustadz Ja’far:Sunnah ada dua; sunnah fi’liyyah dan sunnah tarkiyyah. Yang pertama; setiap yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dimasa hidupnya adalah sunnah bagi kita untuk melakukannya. Dan yang kedua; setiap yang tidak dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dimasa hidupnya adalah sunnah bagi kita untuk tidak melakukannya.

    Menurut ana:Iya, ulasan itu benar, akan tetapi maulid bukan termasuk ajaran sunah Tarkiyah. Karena, pertama kesepakatan para salaf bukan hujjah 100 persen bagi kita, karena ada kemungkinan mereka salah paham seperti dalam hadis di atas. Quran mengatakan, janganlah engkau mengikuti hal yang belum jelas dalil dan faktanya, (jangan norok buntek aja, kata bahasa Maduranya). Nahnu abnauddalil. Kedua tidak ada kesepakatan yang diklaim itu, buktinya ada salaf yang melakukannya. Seperti tampak dalam ungkapan Ibnu Mas’ud. Mereka yang ditegur olehnya juga salaf kok.
    Kalau kita mau mengamati hukum Islam dengan al-Qurannya, maka ajaran2 itu dapat dibagi kepada tiga bagian: Ajaran taisisiyah, takyidiyah dan ibthaliyah. Ajaran pertama maksudnya Islam pertama kali yang mensyariatkan hal tersebut. Kedua taktidiyah, artinya sebelum islam sudah ada ajaran itu, seperti khitanan, potong kuku dan yang lain yang sudah ada pada zaman nabi Ibrahim as. Ketiga ajaran ibthaliyah, artinya ajaran yang sebelumnya ada tapi ditolak oleh islam, seperti hukum riba, haji dengan tanpa busana orang-orang jahiliyah dan yang lainnya.
    Kalau hal ini memang tidak disyariatkan, memang kenapa? Bukankah bayak dalil2 universal yang dari keumumannya dapat mencakup perayaan maulid ini. Maulid nabi dapat dijadikan momen untuk mencari ilmu (yang diwajibkan oleh islam) tentang rasul dan ajarannya. Di sana ada shalawatan yang secara tegas diwajibkan oleh Allah. Lihat surah Ahzab. Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada rasul. Nah selagi tidak bercampur dengan hal-hal yang haram (latalbisul haqqa bil bathil). Maka itu termasuk hal diperbolehkan. Dan kalau memang manfaatnya terlalu sedikit itu berpulang kepada pengelola acaranya, bukan karena acaranya sendiri. Jika tidak, kita juga akan mengatakan, ada orang-orang yang rajin shalat tapi rajin pula mencuri atau berbuat maksiat, dengan demikian shalat harus ditinggalkan? Kalau memang perayaan ini terlalu banyak ishraf, ya jelas dilarang oleh Allah. Akan tetapi sebuah renungan dalam al-Quran disebutkan maka siarkanlah nikmat yang diterima kalian dari Allah. Nah, rasul merupakan wujud nimat terbesar bagi umat islam. Dan syiar kita sebagai seorang pengikut beliau. Kalau meramaikan masjid (dengan shalat dan acaranya yang meriah) dianggap pengagungan terhjadap syiar Allah, maka merayakan dan menyelami hikmah maulid tidak termasuk demikian?

    Ustadz Ja’far: Sanggahannya :
    Bergembira dengan beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kelahirannya, syariat-syariatnya pada umumnya adalah wajib. Dan penerapannya di setiap situasi, waktu dan tempat, bukan pada malam-malam tertentu.

    Menurut ana:Kalau memang, secara umum bergembira dengan kelahiran beliau adalah hal yang wajib kapan saja, maka penerapannya pada waktu dimana beliau dilahirnkan adalah hal yang lebih diwajibkan dan memiliki arti yang lebih baik dan banyak lagi.

    Ustadz Ja’far:Kedua, pengambilan dalil surat Yunus ayat ke 58 untuk melegalkan acara Maulid nyata sangat dipaksakan. Karena para ahli tafsir seperti Ibnu Jarir, Ibnu Katsir, Al Baghawi, Al Qurthubi dan Ibnul Arabi serta yang lainnya tidak seorangpun dari mereka yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan kata rahmat pada ayat tersebut adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, namun yang dimaksud dengan rahmat adalah Al Qur’an. Seperti yang diterangkan dalam ayat sebelumnya.
    “Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (Qs. Yunus; 57).

    Menurut ana:Pertama-tama, Al-Quran itu saling menafsirkan satu sama lain. Jadi nggak bisa kita mengelurkan pendapat Quran hanya dengan melihat satu ayat dan tidak melihat ayat0ayat yang serupa.
    Kedua, Ungkapan para mufasir bukanlah hujjah seratus persen bagi kita mereka juga bisa salah, sama seperti tiga sahabat yang beranggapan berbuat baik dalam hadis Anas ra tersebut. Memang betul al-Quran merupakan rahmat Allah, akan tetapi mungkinkah al-Quran turun kepada orang selain rasul? Tentu tidak karena hanya sosok beliau sajalah yang memiliki kelayakan itu bukan orang yang lain. Oleh karena itu tanpa ragu lagi wujud rasul sendiri merupakan rahmat dari Allah untuk umat manusia, bahkan rajanya rahmat. Karena tanpa beliau Quran tidak akan turun kepada umat islam. Apakah Quran akan turun ke sayyidina Ali seperti yang dituduhkan oleh ahli sunnah kepada Syi’ah? Jelas tidak semua sepakat hanya rasul yang punya kelayakan untuk menerima wahyu ilahi. Dalam al-Quran juga disebutkan: tidakklah Kami mengutusmu (muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi sekalian alam. Dalam surah Nahl ayat 64, dan tidaklah Kami turunkan kitab (Quran) kepadamu kecuali agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang mereka perselisihkan dan hidayah serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
    Dan dalam ayat lain juga disebutkan; tidaklah Aku mengutus kalian kecuali sebagai rahmat bagi sekalian alam dan ayat yang lain.

    Ustadz Ja’far:Hadis:”Setiap bid’ah adalah sesat”. Dan seperti itu pulalah yang disampaikan Ibnu Umar radiyallahu ‘anhuma kepada orang-orang yang memiliki anggapan salah ini, kata beliau; “Setiap bid’ah adalah sesat walaupun orang menganggapnya baik”.

    Menurut ana:Lagi-lagi ini merupakan dalil lain bahwa para salaf (sahabat) tidak semuanya orang-orang yang adil. Dalam hadis disebutkan bahwa yang mencetuskan bid’ah hasanah atau yang serupa adalah ayah ibnu Umar, yang tak lain Umar bin Khatab. Saat beliau mengumpulkan orang untuk shalat tarawih beliau berkata ini adalah senikmat-nikmatnya bid’ah. Lalu apakah kita mau berpatokan kepada mereka dalam segala langkah kita.
    Ustadz Ja’far:Apabila ajaran maulid adalah petunjuk dan kebenaran, kenapa Rasululah SAW dan para shahabatnya, tidak pernah menganjurkannya?! Apakah mereka tidak tahu?! Kemungkinan yang lain, mereka tahu tapi menyembunyikan kebenaran. Dua kemungkinan ini sama batilnya!! Alangkah dzalim apa yang mereka perbuat kepada nabinya dengan alasan cinta kepadanya?!

    Menurut ana:Bukankah dalam hadis yang sahih diatas nabi telah merayakannya melalui puasa. Sedang para sahabat, kita sudah camkan tadi semua sahabat bukan hujjah bagi agama dan ajaran kita, karena alasan2 di atas dan masih banyak lagi sanngahan atas ketidak adilan sebagaian salaf; baik sahabat, tabiin atau para pengikut tabiin. Untuk lebih lengkapnya insya Allah kami akan menulis artikel Maulid Nabi dalan Tinjauan Al-Quran, dalam http://www.eraalquran.wordpress.com.
    wassalam

    Cahaya Islam responded:
    Juni 5, 2007 pukul 6:13 am

    Saya sangat setuju sekali, perincian jawaban yang diberikan oleh eraalqur’an atas sanggahan artilel milik Ustadz Ja’far. Yang juga menurutnya banyak kelemahan. Dan kami disini tiada membatasi bentuk komentar apapun yang masuk pada blog kami, baik itu berupa kritikan atau sanggahan maupun tambahan. Adapun kami hanya memberikan jawaban singkat, yang sekiranya saudara Yanu dapat memahaminya. Pada awalnya, kami mencukupkan jawaban atas adanya dalil yang jelas tentang maulid, kemudian memberikan sanggahan terhadap kesalahan pelaksanaan maulid melalui tindakan personal. Setelah itu kami membantah bahwa maulid tersebut bagian dari bid’ah. Adapun hujjahnya yaitu ketika terdapat dalil yang jelas, ini merupakan dalil atau hujjah bagi kita. Juga kami masih menunggu kembali, jika masih terdapat pertanyaan-pertanyaan dan sanggahan-sanggahan dari artikel Ustadz Ja’far maupun artikel kami. Sekali lagi, terima kasih kembali kepada eraalqur’an atas tambahan sanggahan atas artikelnya Ustadz Ja’far tersebut , maupun artikel kami.

    santribuntet said:
    Juni 19, 2007 pukul 1:27 pm

    Adu dalil tidak menyelesaikan masalah. Mereka benar dengan dalilnya Anda dan yang setuju pun merasa Maulid benar atas dasar2nya. ya sudah nafsi2 saja… koreksi masing2 … saya lebih setuju sukut…

    So what gituloh!
    masih banyak undangan maulid yang harus saya ikuti. Nanti kalau melayani debat terus, ketinggalan nih ikut maulid di rumah Habib Al Kaff di kampung sebelah…. heheh🙂

    salam kenal….. makasih sudah menyambung tali silaturahmi… mari jadi tetangga yang baik..

    Cahaya Islam responded:
    Juni 20, 2007 pukul 3:59 am

    Salam….terima kasih sudah mampir.
    Maaf nih mas, segala perbuatan harus pakai dalil. Kalau tidak ada dalil, nanti dikirain bid’ah seperti pendapatnya Wahabi. Tapi yang jelas bagi kita, dalil tentang maulid cukup jelas, hanya mereka yang kurang peduli. Wassalam.

    Neo Forty-Nine said:
    Juli 12, 2007 pukul 6:52 am

    Salam, gimana dengan bid’ahnya maulid Nabi versi aliran agama lain????? maaf saya ga kasih link soal itu ya.

    @kosongempatsembilan
    Waalaikum Salam, jelas dengan dalil yang disebutkan bahwa maulid bukanlah bid’ah. Dengan beramal pada dalil maka, dapat dipertanggung jawabkan berdasarkan syariat tsb dihadapan Allah Swt. Di karenakan apapun bid’ah akan mengantarkan pada kesesatan.

    Aghifa Ghenadia said:
    Juli 19, 2007 pukul 5:34 am

    Kalian bodoh semua. Nafsirin ayat dan hadits aja pada belepotan….belajarlah dulu ilmu tafsir dan musthalah hadits. Dan kalo mau belajar…belajarlah pada tempat yang benar…mau tahu…?
    1. Jaringan As-Sunnah/Salafy
    2. Ponpes Persis Bangil

    Dan anda akan paham tentang bagaimana memahami dan mengerti tool-tool untuk mengerti hukum Islam.

    —————————————————–

    @Aghifa Ghenadia
    Janganlah memasuki pembahasan yang tidak tahu asal usulnya. Seharusnya perkataan saudara ini diajukan pada kaum Wahabi yang kolot itu yang jelas-jelas melarang perayaan maulid nabi ini. Buktikan dalil anda yang benar untuk membantah klaim-klaim wahabisme itu.

    MataAtthilbab Almahbub said:
    Agustus 28, 2007 pukul 8:01 am

    salam ya akhi ! kami brigade martil mata atthilbab akan siap berjuang membasmi mulut mulut dajjal para kaum wahabi – mu’tazilah – tablighiyah dsb

    MataAtthilbab Almahbub said:
    Agustus 28, 2007 pukul 8:08 am

    kpd Yth yg mulia
    Aghifa Ghenadia

    antum pun membanggakan persis antum apakah sudah lebih m,ulia daripada secercah anak2 jalanan yang sadar lantaran karena maulid diba dan barjanzi dan apakah antum lebih syiqoh dan mafi syaz daripada mufti mekkah imam jumu’ah dan apakah anda sudah berdiskusi dan belajar dari syaikhul imam ahmad al maliki bin syaikh muhammad al maliki dan knp anda tidak adil n jujur knp anda taklid pada persis saja serasa diri anda paling benar sudahkah anda belajar dr seorang ulama dan para habaib atau mungkin hadromaut dan tarim bagi anda adalah hal biasa walaupun disanalah khazanah ilmu
    KAMI MATTA ATTHILBAB AKAN MEMPERTANYAKAN PADA ANDA Aghifa Ghenadia BERAPA TAFSIR YANG ANDA KHOTAMKAN? BERAPA QUTUBUL FIQH YANG SUDAH ANDA TELA’AH? BERAPA PARA IMAM DARI BERBAGAI MAZHAB YANG SUDAH ANDA DATANG DAN TA’LIMI?

    dudukmanis said:
    Desember 4, 2007 pukul 8:11 am

    Jangan tanya berapa!!!…

    Tapi tanya untuk apa setelah tau semua itu, kalo sekedar
    untuk menangkal sanggahan.. “TIDAK ADA GUNANNYA”..

    Agus Irmawan said:
    Januari 28, 2008 pukul 3:26 am

    Saudara kita Aghifa Ghenadia telah mengatakan dengan kasar,
    “Kalian bodoh semua. Nafsirin ayat dan hadits aja pada belepotan…”

    Bolehkah saya dengarkan bagaimana Aghifa Ghenadia menafsirkan dengan cara yang “TIDAK BELEPOTAN”?

    Hanya orang-orang rendah yang bisa merendahkan saudaranya yang lain.

    Astaghfirullah…

    Abu Aqil As-Salafy said:
    Februari 28, 2008 pukul 10:46 am

    Yang termasuk Syiar Agama Alloh adalah, semua ibadah yang memang sudah disyariatkan oleh Alloh, bukannya dengan mengadakan sebuah amalan baru. Dan jika antum berdalil membela bid’ahnya maulid dengan QS. Al-Hajj tersebut, tentunya akan makin banyak amalan2 bid’ah lain.

    Mohon dipelajari lagi antara dua pendapat ini (bid’ah atau sunnahkah perayaan maulidan rosul) ?

    Kian Santang said:
    Maret 18, 2008 pukul 9:13 am

    Merayakan maulid Nabi hukumnya sama dengan mengucapkan “Radiyallahu ‘anhu” di belakang nama sahabat Nabi, sama juga dengan mengucapkan shalawat terhadap para sahabat nabi. Ketiga-tiganya TIDAK PERNAH diperintahkan oleh Nabi, tidak juga dilakukan oleh para sahabat. Tapi karena mengandung kebaikan, maka umat Islam melakukannya.

    Fuad said:
    September 10, 2008 pukul 1:18 am

    Kenapa pada ribut ya..? sudahlah. Pada banyak belajar semuanya. nanti kalau keduanya benar pasti akan ketemu disuatu tempat atau suatu waktu. tenagkan hati dan jiwa… tks. http://www.tahlil-sholawat.blogspot.com

    fachrur rozi said:
    Maret 1, 2009 pukul 12:02 pm

    saya sependapat dengan penulis artikel diatas, bahwasanya sebagai umat muslim sudah sepantasnya kita turut merayakan maulid nabi, ini sebagai bentuk penghormatan kita kepada beliau dan juga sbg ungkapan syukur atas anugerah Allah yang telah mengutus beliau ke dunia ini untuk menunjukkan jalan yang lurus yaitu dinul islam.

      Cahaya Islam II said:
      Desember 4, 2010 pukul 9:00 am

      menghormati Nabi SAW itu dengan menghidupkan sunnah, bukan melakukan Bid’ah Bos…Bid’ah sama dengan melancangi dan melecehkan Nabi, karena secara tidak langsung menciptakan ajaran baru diatas ajaranya/..
      Peace

    sofa said:
    Februari 20, 2010 pukul 9:35 pm

    jangan lah sbuah perbedaan itu menjadikan qt terpecah, jadikan sbuah perbedaan itu sebagai rahmat, toh pada akhirnya hanya satu yg dianggap benar yaitu ahlus sunnah waljama’ah, siapa kah mereka???…. Orang2 yg TAQWA…

      Cahaya Islam II said:
      Desember 4, 2010 pukul 9:04 am

      Setuju, Bu
      tapi Bid’ah bukanlah rahmat bu…
      Peace

    alfiah said:
    Februari 24, 2011 pukul 1:09 pm

    askum..saya mau meluruskan semuax ,ustadz ja’far mgkn ustadz karbitan,ato ngajix blm tamat ato jgn2 dya aliran sesat mgtsnamakan islam,nabi berkata’ man’adzoma maulidi kuntu syafi’an lahu yaumal qiyamah,
    Saidina umar brkata jg,’.man adzoma maulidan nabi faqod ahyal islam,,
    Dan msh bnyk lg hadist2 yg lain tntg maulid,yg ga bisa saya tulis dsini krna kpanjangan,siapa bilang maulid nabi gada dalil yg sahih,ustadz ja,far ajaran sesat jgn d ikuti,fannar aula bihi

    ponpes ta'limul qur'an sukabumi said:
    Februari 24, 2011 pukul 1:32 pm

    wahai saudaraku jgnlah engkau terpengaruh dgn org2 yg melarang maulidan..
    hadist nabi yg sahih yg artinya ”barang siapa mengagungkan(memperingati)hari kelahiranku niscya dya wajib dapat syafa’at dariku nanti di yaumal qiyamah”,(hr bukhori muslim)
    Sahabat ali.ra berkata” barang siapa mengagungkan hari kelahiran nabi muhammad saw,niscya dia akan meninggal dunia dgn membawa iman dan islam,dan bnyk lg hadist yg lainx,
    Buat GAM(gerakan anti maulid)bila blum faham bisa menghubungi ana +6285217667653 ato bisa ketemu lgsg di alamat cisaat-sukabumi-jabar 32/16 ponpes ta’limul qur,an. Wassalam

    jurumiah said:
    Februari 25, 2011 pukul 3:26 am

    Telah di riwayatkan satu hadith Nabi s.a.w. seperti berikut: Artinya: “Barangsiapa membesarkan hari kezahiranku niscaya aku akan menjadi penolongnya pada hari kiamat dan barangsiapa membelanjakan satu dirham untuk Maulidku maka seolah-olah ia membelanjakan emas sebanyak sebuah gunung untuk agama Allah.” Dan telah berkata Saiyidina Abu Bakar As Siddiq radhi Allahu ‘anhu: “Barangsiapa membesarkan Maulid Nabi s.a.w. maka sesungguhnya ia akan menjadi temanku di dalam Surga.” Dan telah berkata Saiyidina Umar radhi Allahu ‘anhu: “‘Barangsiapa membesarkan Maulid Nabi s.a.w. maka sesungguhnya ia menghidupkan agama Islam.” Dan telah berkata pula Saiyidina Utsman radhi Allahu ‘anhu: “Barang-siapa mengeluarkan satu dirham untuk membaca Maulid Rasulullah s.a.w. maka seolah- olah ia mati syahid didalam peperangan Badar dan Hunain.” Dan telah berkata Saiyidina Ali karamallahu wajhahu: “Barangsiapa membesarkan Maulid Nabi s.a.w. maka ia tidak akan keluar daripada dunia melainkan keadaannya di dalam iman.” Dan telah berkata Imam Syafi’i rahimah Ullah: “Barangsiapa mengumpulkan orang-orang Islam untuk menyambut Maulid Nabi s.a.w. dengan membaca Maulid itu dan mengadakan syarahan- syarahan berkenaannya serta menyediakan makanan bagi mereka dan membuat lain-lain kebajikan, niscaya Allah Ta’ala akan membangkitkan mereka di hari kiamat bersama dengan wali- wali, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang saleh dan ia akan berada di dalam Surga yang penuh dengan ni’mat.”

    Umar smp 3 bone_ bone said:
    Februari 21, 2012 pukul 2:58 am

    Adakah ayat yang menjelaskan perintah maulid dan kelahiran nabi

    perpustakaanmie said:
    Maret 7, 2012 pukul 3:46 pm

    askum..,afwan ya akhi…kertinggalan euy….buka link diatas ga ada (not Found), ya jadi nonton dehhh..saran ane kalo sudah tidak ada titik temu nafsi2 aja jangan saling menjatuhkan..jaga ukhwah yaa akhi…ingat ini masalah bukan hal baru….jujur ane alfaqir tidak bisa membantu menyelesaikan masalah makanya jika ada yang ga suka ama maulid Nabi terus menghantam (membidahkan maulid), ane cuma bilang…kapan 2 ane mao main kerumahnya….,ada apa dan apa saja yang yang dia punya…, ntum 2 mo apa hubgnnya ?…itu rahasia…jaga ukhwah yaa afwan

    Informasi Terbaru said:
    Desember 10, 2013 pukul 4:43 am

    Syukur Alhamdulillah, terimakasih wahai Afwan. Ane sungguh terbantu oleh artikel ente. Ane sedang menggali kembali tentang syiar Islam. Sekali lagi, terimakasih banyak ya.

    Askum…

    Twitter: @Ucup_Mardhiono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s