Faktor GENETIK Membangun Karakter Manusia?

Posted on Updated on

pic_9_resize.jpg

Manusia adalah makhluk yang bebas dan memilih(ikhtiar), yang bisa mencari jalan nasibnya. Dari sisi lain, manusia ditentukan oleh garis keturunannya. Mereka katakan bahwa orang tua tidak hanya menurunkan sifat-sifat lahiriah pada si anak, namun juga bisa melahirkan karakter si anak yang mencakup sisi kebaikan dan keburukan. Apakah faktor genetik ini mempunyai pengaruh yang dominan membentuk karakter si anak , dan bagaimana pula hubungan dengan kebebasan manusia (ikhtiar) dalam membangun karakternya?

Dan yang terpenting yang dibahas oleh para psikolog disini, adanya sebuah perubahan kepribadian (karakter), Cattel berkeyakinan, satu pertiga perubahan kepribadian dipengaruhi oleh faktor genetik dan dua pertiga yang lain dipengaruhi oleh faktor lingkungan.[1] Namun E. Fromm tidak menyakini bahwa karakter akan statis dimasa usia lima tahun, dan kenyataan selanjutnya bahwa karakter manusia bisa mengalami perubahan[2].

Namun kita katakan bahwa faktor genetik bukanlah sebuah faktor yang menghalangi pengaruh pendidikan. Oleh karenanya, kita tidak melihat dan tidak pula mendengar seorang ibu melarang anaknya untuk mendapatkan pendidikan atau pengajaran, dia akan mempermasalahkan terhadap apa yang diinginkan anaknya atas keberhasilan, bahwasannya pasti tidak akan tercapai, dikarenakan ia beranggapan bahwa si anak telah terwarisi sifat dan akhlaknya. Jadi, selain faktor genetik sebagai faktor yang berpengaruh, juga terdapat faktor lainnya yang sangat bekerja aktif pada diri manusia, diantara yang terpenting adalah: pendidikan, kondisi keluarga, masyarakat, ekonomi, budaya, makanan, udara, iklim dan sebagainya. Dari faktor-faktor tersebut dapat disingkat dengan sebuah kata, yaitu: lingkungan.

Oleh karenanya, pengaruh sifat perubahan lingkungan yang ada pada diri manusia ada dua bentuk pemisalan:

1. Sifat dan kriteria yang nampak dalam bentuk kemampuan dan kesiapan manusia, seperti: penyakit TBC, seorang anak yang dilahirkan dari orang tua yang berpenyakit demikian, akan berpotensi pula akan terserang penyakit tersebut. Akan tetapi jika anak tersebut sudah dipisahkan sejak lahirnya dan dipindahkan ke lingkungan yang sehat, maka memperoleh kesehatannya.

2. Anak yang dilahirkan melalui asal usul genetik yang baik, maka perkembangan anak tersebut nantinya akan beradaptasi dengan lingkungan dimana ia tinggal. Jika ia tinggal dalam lingkungan yang kurang mendukung, maka kemampuannya pun akan pudar. Begitu juga sebagai sesuatu yang mungkin melalui pengaruh iklim dan makanan dapat merubah kondisi badan bagi manusia. Sebagaimana akhlak dan adat setempat dalam sebuah lingkungan akan membuat perubahan pada tingkatan ruh dan kejiwaan manusia.

Akan tetapi saya disayangkan, sebahagian manusia memiliki pandangan keliru, yang lupa akan peranan lingkungan pada kehidupan manusia. Mengekspresikan lingkungan tersebut pada pemikiran mereka, seperti para penyair, dengan membuat pikiran mereka menyatu dengan lingkungan selain hanya bait syair yang mereka sebutkan terasa indah. Seorang penyair berkata:

Sesungguhnya pohon yang jelek jelek pulalah sifatnya

Walau ia tumbuh di taman surga

Yang dapat disimpulkan dari syair ini adalah pohon yang jelek tidak akan memberikan sesuatu kecuali buah yang jelek, kita juga dapat memberikan contoh yang lainnya seperti racun yang ditaburi oleh bahan yang manis (racun di dalam madu), pohon kurma yang hanya membuahkan kurma (tidaklah selain kurma), dan sebagainya.

Dalam Islam diajarkan bahwa seseorang dalam kondisi bebas (memilih) untuk merubah karakternya. Yang memiliki akhlak yang baik, mungkin saja karena atas perintah hawa nafsunya, akan terjerumus ke dalam kenistaan. Dan yang memiliki akhlak yang jelek, melalui penerangan dan bimbingan para ahli ma’rifat dengan berbagai usaha instropeksi diri dapat mencapai puncak kesempurnaan.[3] Lewat pendidikan dan pengajaran inilah adalah sebuah jalan ikhtiar yang dimiliki oleh manusia, dalam merubah dan menemukan jati dirinya. Dalam Al-Qur’an Allah Swt berfirman: “Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.”[4] Disini para psikolog juga mengatakan, bahwa faktor genetik diatas umur tiga puluh tahun adalah sesuatu yang statis dan tanpa perubahan, dan karakter manusia akan selalu berubah disepanjang umurnya disebabkan oleh lingkungan. Syekh Naraqi (almarhum) dalam kitab akhlaknya menyebutkan bahwa nafs manusia mempunyai kesiapan di dalam mensifati adanya kontradiksi antara dua kecenderungan yang berbeda, terhadap sesuatu yang sesuai dengan kecenderungan dan yang berseberangan dengan kecenderungan tersebut. Maka perbedaan masyarakat didalam karakternya bersumber pada pemilihan terhadap bentuk-bentuk luar dari perbedaan tersebut, dan berbagai aktivitas yang berhubungan dengannya. [5]

Adanya sebuah ikhtiar disini, memberikan energi tambahan untuk menuntut sebuah perubahan. Dan ingin menjadikan akhlak yang baik tersebut selalu tertanam (malaka) pada diri kita, juga menjadikannya sebagai adat dalam kehidupan kita. Oleh karenanya, dalam hadist disebutkan bahwa perbuatan baik tersebut dilakukan secara terus-menerus adalah sesuatu yang diharapkan. Dalam kitab hadist Al-Kafi: “Paling dicintai perbuatan disisi Allah Swt, amal yang dilakukan terus-menerus (istiqama) walaupun sedikit.”[6]

Sesungguhnya para nabi tidaklah datang untuk merubah perubahan jasmani atau mengobati penyakit dikarenakan faktor genetik seperti gila, kebodohan dan sebagainya. Tetapi datang untuk keimanan kepada Allah Swt, mendidik dan memberikan pengajaran kepada masyarakat, memahami agama, mendukung kemampuan mereka, menghidupkan akal mereka dan menguasai insting dengan kehendak yang berbeda. Dari sejarah menerangkan kepada kita bahwa para nabi telah membangun kesucian dan kebenaran bagi sebuah realitas budaya manusia dan masyarakat. Untuk menuju ke arah kesempurnaan melalui jalan pergerakan yang suci. Kemunculan Islam sebagai contoh hidup bagi perbuatan yang berharga oleh para nabi yang menghiasi lembaran-lembaran tarikh. Dan masyarakat yang menjauhi ajaran para nabi akan terjadi penyimpangan, dan penyimpangan ini menjadi sebuah akibat bagi keadaan lingkungan dan metode pengajaran. Alhasil, faktor genetik bukanlah satu-satunya yang berpengaruh pada pembentukan karakter manusia. Namun lingkungan dan usaha kita (ikhtiar) untuk memperoleh pengetahuan dan pengajaran ilmu agama (Islam) mempunyai peran penting dalam membangun karakter manusia .

By: Abu Aqilah


[1] Duane P. Schultz dalam edisi Parsi berjudul Nazariye ha sahsiyat oleh tim diketuai Yusuf Karimi. Hal 310

[2] Ibid hal 198

[3] Nasir Makarim Syirazi dalam Akhlak dalam Islam hal 38.

[4] Al-Qur’an Al-Karim surat Ra’d ayat 11.

[5] Mulla Mahdi Naraqi dalam Ilmu Akhlak Islami, terjemah oleh Jalaluddin Mujtabawi juz 1 hal 60.

[6] Kulaini dalam Al-Kafi hal 82.

25 thoughts on “Faktor GENETIK Membangun Karakter Manusia?

    klikharry said:
    Juni 18, 2007 pukul 9:59 am

    menurut saya genetik hanya menjadi faktor predisposisi, justru lingkunganlah yang membangun karakter dan sifat seseorang

    Cahaya Islam responded:
    Juni 19, 2007 pukul 2:39 am

    salam,
    bisa dikatakan demikian, disini lingkungan juga berpengaruh dalam membangun karakter dan sifat seseorang.

    Quito Riantori said:
    Juni 19, 2007 pukul 7:22 am

    Salam. Memang penemuan2 baru tentang Genetika ini sangat mengejutkan banyak orang. Buku2 tentag itu pun laris seperti kacang goreng. Mungkin yang paling penting adalah kita juga perlu berlomba2 mengejar ilmu pengetahuan yang berharga ini. Konon ada yang berspekulasi bahwa konsep Raj’ah ini berhubungan dengan penemuan2 Ilmu Genetika yang luar biasa ini. Wallahu a’lam. Salam

    islam feminis said:
    Juni 19, 2007 pukul 10:41 am

    Assalamualaikum
    Setelah menelaah berbagai sumber yang berkaitan dengan kepribadian manusia dan melihat realita yang ada, dapat dikatakan terdapat tiga faktor yang mempengaruhi terbentuknya kepribadian seseorang; faktor genetik, lingkungan dan ikhtiyar (keinginan) pribadi seseorang itu sendiri. Perbedaan hanyalah terletak pada kafasitas dan prosentase ketika faktor tersebut. Dan ini pula yang menjadi perdebatan para pakar psikolog, apakah faktor genetik, ikhtiyar yang lebih dominan atau lingkungan? Atau sebaliknya?
    Dalam Islam dengan jelas mengisyaratkan akan pengaruh ketiga faktor tersebut pada kepribadian seseorang. Hal ini dapat kita lihat dalam sumber-sumber Islam yang berupa kitab suci al-Qur’an dan Hadis.
    Wassalam

    santribuntet said:
    Juni 19, 2007 pukul 1:37 pm

    Setuju lingkungan itu pengaruhnya besar… Nabi saw kalau tidak salah pernah bersabda: “seorang laki2 yang kuat bukanlah yang mengatakan : ‘inilah bapakku’ tapi atas kepribadiannya sendiri” (benar gak pernah ada hadits seperti ini… mohon korekasi

    Bingungnnya, lingkugnan “agamis” seperti Indoensia, kok tidak mempengaruhi pembumian al quran yaa… tapi masih melangit terus… tapi kadang negara2 non muslim, “ajaran akhlaq” banyak yang berhasil dibumikan…. tanya kenapa?

    Cahaya Islam responded:
    Juni 20, 2007 pukul 2:17 am

    salam, buat Quito…. terima kasih atas kunjungannya.
    Ini harapan kita semua agar lebih mendalami tentang permasalahan ini. Dan mengenai ilmu genetika yang berhubungan dengan konsep Raj’ah, Wallahu a’lam. Juga hal ini belum saya kaji, Wassalam.

    Cahaya Islam responded:
    Juni 20, 2007 pukul 2:42 am

    Waalaikum salam, buat Islam Feminis… terima kasih komentarnya.
    Kamipun menyepakati hal ini, dalam Islam ada tiga faktor yang berpengaruh dalam membentuk atau membangun kepribadian seseorang yaitu, faktor genetik, lingkungan dan diri manusia itu sendiri (ikhtiar) sebagaimana juga seperti yang kami singgung dalam makalah kami diatas, hanya saja kami tidak menarik kesimpulan darinya. Namun ikhtiar disini, sudah kami jelaskan yakni dalam arti usaha kita dalam menggali ilmu pengetahuan agama.Terima kasih atas perhatiaannya disini. Ayat dan hadist-hadistnya pun, sudah cukup jelas. Wassalam.

    Cahaya Islam responded:
    Juni 20, 2007 pukul 3:29 am

    Salam….buat Santribuntet, terima kasih atas kunjungannya.
    Dari ucapan yang anda sebutkan, kalau memang benar itu sebuah hadist. Kandungan hadist lain seperti ini memang ada. Itu menandakan akan pentingnya faktor ikhtiar yang ada pada diri manusia sendiri, yang bebas dalam menentukan sisi kebaikan dan keburukan. Kemudian lingkungan sebagai faktor yang berpengaruh dalam membentuk kepribadian seseorang.

    Islam sebagai ajaran yang sempurna, tentunya semua aturan ada didalamnya, tinggal lagi pelaksanaannya. Untuk negara non muslim, bukan ajaran akhlak yang mereka jalankan. Singkatnya, banyak ketidakadilan yang dijalankan oleh masyarakat non muslim. Mereka hanya menjalankan peraturan yang bersifat umum, yang tidak jelas dan tentunya merugikan banyak pihak. Wassalam.

    safety riding « komuter jakarta raya said:
    September 2, 2008 pukul 2:43 am

    […] dengan berbagai karakteristiknya terbagi dalam berbagai bagian terkait dengan kegiatan mobilitasnya, ada yang berkereta, bermobil, […]

    endah said:
    Oktober 17, 2008 pukul 2:04 pm

    dikatakan dalam QS 3 Ali Imran : 23
    “tidakkah engkau tahu tentang sikap orang2 yang diberi bagian dari kitab. Mereka diajak membuka kitab Allah untuk menyelesaikan persoalan diantara mereka, lalu sebagian dari mereka tidak memperdulikan (menolak kebenaran)”

    Kita mengetahui bahwa AL Quran terbagi menjadi 30 Juz dimana hal tersebut mewakili karakter manusia dimuka bumi ini siapapun mereka. Bila setiap orang diberi bagiannya berarti setiap orang diberi Juz nya,bukan? Bila Al Quran dipakai sebagai pedoman hidup dan petunjuk tentunya tiap orang berpedoman pada Juznya sebagai petunjuk agar tidak tersesat dan sebagai solusi permasalahannya.
    Dengan petunjuk ini apakah hal ini juga berarti karakter manusia terbentuk sesuai dengan Juz yang diberikan Allah kepada mereka ? Kapan diberikan Juz kepada manusia ? Yaitu pada saat janin berusia 3 bulan 10 hari, pada saat ditiupkan ruh dan sekaligus Juznya. Subhanallah…jadi alangkah bangganya kita mempunyai kitab Al QUran…bila bukan diri kita umat Islam yg mengkaji keilmuannya, lalu siapa lagi ??? Dan apakah kita tinggal diam kalau keilmuan Al QUran dinikmati oleh orang lain dan bukan umat islam ???? Bangkitlah dan mulailah membuka kitab milik kita sendiri untuk menggali dan menggali lebih dalam keilmuannya…..bukankah sudah dipermudah Al QUran untuk dipelajari ? Nah….buktikan !

    riwayat said:
    November 6, 2008 pukul 7:29 am

    karakter keislaman perlu dikenalkan sejak dini.

    Saragosa said:
    Desember 19, 2008 pukul 11:11 am

    Bukalah hati dan pikiran untuk memperbaiki Akhlak dan karakter, baca dan pahami Al Qur’an dan hadits Rasulullah S.A.W. dekati orang-orang yang telah diberi Karunia dan Rahmat oleh ALLAH S.W.T, HATI adalah NUR menyimpan banyak Rahasia.
    Kenalilah diri kita dst……

    sunarnosahlan said:
    Januari 6, 2009 pukul 5:50 am

    menurut saya faktor genetis lebih mendominasi pada sisi-sisi fisik. sedangkan yang non fisik yang lebih dominan adalah lingkungan. baik dibentuk sendiri dengan kekuatan hatinya maupun oleh pengaruh lingkungan

    ajoen said:
    September 2, 2009 pukul 7:06 am

    menurut saya, pemahaman tentang karakter manusia itu adalah hal penting. Dengan begitu kita lebih dapat mengenali pribadi kita sendiri dan juga pribadi orang lain. Pembangunan karakter memang harus dilakukan sejak dini karena jika tidak begitu manusia akan selamanya terombang-ambing dalam menjalani hidup. Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan sistem yang sangat rumit ini.

    nurdin said:
    Oktober 8, 2009 pukul 4:15 am

    Manusia mempunyai 2 karakter, karakter lahiriah sebagaimana mahluk lain yang membawa faktor genetiknya (tumbuhan, hewan, dst). karakter ruhaniah sebagaimana ia memahami lahiriahnya dengan pengalaman yang ia lalui dan ia dapati sampai mengenal siapa Tuhannya.

    lhia said:
    November 22, 2009 pukul 8:48 am

    ada brapa cara yg bisa kita gunakan untuk mempelajari genetika manusia??

    bingung banget wktu kakak ku nanya gtu…

    Ifan Iqbal said:
    November 26, 2009 pukul 10:44 am

    Subahanallah…
    Ajaran Islam sangat sempurna dan terbukti kebenarannya. Hanya saja masih banyak kaum muslim di Indonesia yang mau mempelajari, memahami, dan mengamalkannya.

    nor said:
    Mei 18, 2010 pukul 4:48 pm

    Salam, terasa diri ini kecil dan lemah.. semakin banyak bertemu ilmu baru, rasa macam banyak lagi yang ingin dicari..terima kasih,harap dapat membantu.

    samuel adinugraha said:
    Juli 15, 2010 pukul 1:09 pm

    thanks for information:)

    agus_wazza_10 said:
    Juli 18, 2010 pukul 10:04 am

    nice blog

    Mila said:
    Oktober 6, 2010 pukul 11:12 am

    sukrin khasiron for lnform

    tam2 ponorogo said:
    Desember 2, 2010 pukul 3:15 pm

    itu oke…
    seluruhnya bisa berpengaruh pada karakter manusia. bahkan ketika teori itu bisa cocok dengan manusia 1 belum tentu cocok dengan yang lainnya…

    anas said:
    Juli 8, 2012 pukul 3:27 am

    faktor genetik akan tetap ada, pendidikan sebagai proses yg memperbaiki/membangun genetik tersebut, maka pertanyaannya adalah seberapa besar potensi genetik tersebut mampu untuk dibentuk.. sehingga manusia cenderung menjadi dirinya sendiri dalam anugerah keunikan genetiknya..

    Obat Nyeri Dada said:
    Mei 13, 2013 pukul 8:36 am

    Oh,,, jadi gitu yah, terimakasih informasinya sangat bermanfaat banget.

    Auladinasyifaarrahmah said:
    September 24, 2014 pukul 2:15 am

    memang sih benar tetapi mengapa orang orang di sekitar itu ketakutan cengan gaya yg begitu ndahsyat dunia itu sekarang suda memang jaman jahiliah yaaaaaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s