Perjalanan Menuju Kebenaran

Posted on Updated on

hazrat-zeynab-4_resize.jpg

Al-Qur’an menjelaskan tiga persyaratan bagi setiap golongan dan agama umat ini yaitu: iman kepada Allah, beriman kepada akhirat dan melaksanakan perbuatan amal shaleh, ayat tersebut berbunyi: “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin[1], siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah[2], hari Kemudian dan beramal saleh[3], mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” [4]Yang menjelaskan persyaratan keselamatan buat mereka. Apakah tujuan ayat adalah sesuatu yang telah mereka pahami? Ataukah dalam bentuk pamahaman yang lain?

Kaum Yahudi dan Nasrani, mereka masing-masing mengatakan bahwa mereka adalah umat yang terbaik. Klaim yang mereka dengungkan ini juga disebutkan dalam al-qur’an, yang berbunyi: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami Ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka Mengapa Allah menyiksa kamu Karena dosa-dosamu?” (kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya dan kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu”)[1].(QS AL-Maidah ayat 18).

Dan dengan kesombongan kaum Yahudi, disebutkan dalam Al-qur’an dalam surat Al-Baqarah ayat 80, yang berbunyi: “Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.”Setelah klaim ini, adalah sebuah kebatilan yang nyata, kelanjutan ayat ini menyebutkan: “Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu Hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”

Ayat diatas menjelaskan akan kelemahan pengetahuan mereka terhadap Tuhan. Dan pengetahuan terhadap Tuhan adalah pengetahuan secara fitrah. Manusia tanpa membutuhkan sebuah pengajaran telah menyadari kebutuhan akan Tuhannya. Oleh karenanya, manusia yang memiliki akal tidak memperoleh pemaafan bila terjadi pengingkaran terhadap Tuhan. Dalil tersebut dapat disebutkan dalam Al-Qur’an, yang berbunyi:.Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)”,Atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami Telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami Ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami Karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?”[2]

Maksudnya adalah agar orang-orang musyrik itu jangan mengatakan bahwa bapak-bapak mereka dahulu Telah mempersekutukan Tuhan, sedang mereka tidak tahu menahu bahwa mempersekutukan Tuhan itu salah, tak ada lagi jalan bagi mereka, hanyalah meniru orang-orang tua mereka yang mempersekutukan Tuhan itu. Karena itu mereka menganggap bahwa mereka tidak patut disiksa Karena kesalahan orang-orang tua mereka itu.

Dari ayat diatas bahwa semua manusia telah mengikat janji dengan Tuhannya dan tidak menghalangi seandainya mereka yang dahulunya musyrik dari keturunan mereka untuk dapat mengenal sebuah kebenaran. Sekali lagi, bahwa pengetahuan akan pengenalan terhadap Tuhan adalah pengenalan secara fitrah. Dalam ayat Allah Swt berfirman .Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui .”[3](fitrah Allah: maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan).

Dari penjelasan ayat diatas bahwa keselamatan tidaklah berkaitan dengan orang non muslim, disebabkan hujjah mereka terhadap Islam telah sempurna dan tanpa usaha pencaharian. Dalam kategori merekahujjah Islam terhadap mereka belum sempurna dan terhalang bagi mereka untuk mendapatkan pengetahuan Islam seperti halnya pengikut Al-Masih yang hanya mengetahui pengajaran nabi Isa dan dengan pengetahuannya ia beramaldan dari muslim yang ia ketahui tidak beramal baik, adalah keselamatan bagi mereka. Dalam hal ini, Allamah Muttahari berkata: “Seseorang bukan dikarenakan namanya kafir menyebabkan ia masuk neraka, juga bukan karena nama (Islam) menyebabkan ia masuk surga. Akan tetapi yang berpengaruh adalah iman dan amal sholeh.”
Namun dalam kategori hujjah mereka telah sempurna, tidak ada jalan keselamatan bagi mereka kecuali menerima Islam.

Dalil diatas kita berbicara terhadap kemungkinan keselamatan bagi seseorang non Islam, bukan penetapan terhadap hukum keselamatan tersebut. Dan dengan dalil ini, apakah keselamatan tersebut menyangkut semua keberadaan golongan dan mazhab Islam? Dalam hal ini persoalan berkisar tentang orang yang beramal atas kebenaran yang ia ketahui. Tentunya dengan informasi yang cukup pada masa sekarang, dapat menilai arti kebenaran tersebut. Kecuali, mereka yang termasuk golongan mustadhafiin. Dan Syekh Makarim Syirazi ketika menafsirkan kaum mustadh’afiindalam surat An-Nisa ayat 97-98, adalah mereka secara pemikiran , jismani dan ekonomi tidak mampu untuk dapat mengenal kebaikan dari kebatilan atau tidak dapat menilai sebuah kebenaran akidah dan dengan keterbatasan lingkungan tempat tinggalnya, tidak dapat melaksanakan tugasnya secara sempurna serta mereka pun tidak mampu untuk berhijrah.[4]

Dalam riwayat lain, seseorang bertanya kepada Imam Musa Bin Ja’far as tentang mustadhafiin. Beliau as, menjawab:“Mustadhaf adalah ketika hujjah dan dalil tidak sampai kepadanya dan tidak mengetahui adanya perbedaan (mazhab dan akidah yang mengacu pada penelitian). Dan ketika mengetahui adanya perbedaan ini maka tidak disebut sebagai mustadhaf.[5]

Dari sinilah, kita dapat menyimpulkan bahwa dalam ayat yang pertama kali kita sebutkan, bukanlah sebuah kelebihan yang diberikan kepada kaum Nasrani dan Yahudi pada masa sekarang, dikarenakan hujjah mereka telah sempurna untuk memperoleh informasi kebenaran. Dan ayat tersebut sebahagian mufasir menyebutkan, adalah berlaku bagi umat yang terdahulu sebelum kebenaran risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saaw. Adapun umat Islam yang tidak termasuk dalam mustadhafiin, harus mencari nilai kebenaran dalam realitas terpecahnya umat Islam dalam berbagai golongan dan mazhab.
By: Abu Aqilah


[1]Shabiin ialah orang-orang yang mengikuti syari’at nabi-nabi zaman dahulu atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa.

[2]orang-orang mukmin begitu pula orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin yang beriman kepada Allah termasuk iman kepada Muhammad s.a.w., percaya kepada hari akhirat dan mengerjakan amalan yang saleh, mereka mendapat pahala dari Allah.

[3]ialah perbuatan yang baik yang diperintahkan oleh agama islam, baik yang berhubungan dengan agama atau tidak.

[4] Surat Al-Baqarah ayat 62

[1] Al-Maidah ayat 18

[2] Al-A’raf ayat 172-173

[3] Ar-Ruum ayat 30

[4] Tafsir Amstal dalam terjemahan bahasa Parsi (Nemune) juz 4 hal 88

[5] Ibid hal 89.


//

Iklan

16 thoughts on “Perjalanan Menuju Kebenaran

    Heri Heryadi said:
    Agustus 20, 2007 pukul 8:36 am

    Mau tanya. Dengan ayat yang paling awal itu mungkinkah orang yahudi dan nasrani pada zaman sekarang dianggap beriman ketika mereka tidakmasuk islam? Apakah iman dan islam bisa dipisahkan? Terima kasih.

    ——————————————–

    @

    Seperti yang telah kami jelaskan diatas, bahwa mengingat pada masa sekarang sarana informasi sudah cukup luas, memungkinkan hujjah terhadap mereka telah sempurna. Jadi tidak ada alasan untuk tidak mencari sebuah kebenaran. Lain halnya ketika informasi yang ia terima salah atau ia dari orang Islam yang tidak mengamalkan ajarannya sedang ia beramal terhadap apa yang ia ketahui. Namun yang pertama seharusnya semaksimal mungkin untuk ia lakukan dengan membuang sifat kefanatikan yang ada jika seandainya informasi yang ia dapat adalah sebuah kebenaran yang dapat dipertangggung jawabkan.
    Alangkah baiknya beriman setelah ia masuk Islam. Wassalam. (Cahaya Islam)

    guss said:
    Agustus 20, 2007 pukul 11:51 am

    bagaimana juga dengan golongan-golongan dalam islam? yang begitu banyak dan masing-masing mengusung keyakinan dan kebenaran versi mereka…
    semoga semua yang Islam diselamatkan dari neraka.. amin

    ——————————————————–

    @

    Kita pada masa sekarang, adalah termasuk golongan yang mampu meraih kebenaran melalui informasi yang ada, melalui berbagai penilaian dan perenungan serta menjauhkan fanatisme golongan dalam usaha penilaian kebenaran tersebut. Tidak ada halangan dalam pencapaian usaha kearah pencaharian kebenaran tersebut. Dan yang perlu kita ingat bahwa ketika baginda mulia Rasul Saaw menjelang wafatnya berpesan kepada umatnya untuk tidak meninggalkan dua pusaka yang berharga ini: Al-Qur’an dan Itrahnya as. Semoga kita termasuk golongan pencari kebenaran…….. yang diselamatkan. Amin. (Cahaya Islam)

    bumgembul said:
    Agustus 21, 2007 pukul 1:15 am

    salam….
    sekedar informasi, saya telah membuat blog media anak muslim degan alamat http://bumgembul.blogspot.com mohon masukan dan komentarnya. Dan utamanya bisa mempromosikan kepada saudara, keluarga, teman, dan kenalan antum.
    Semoga bermanfaat bagi putra/i kita dalam persiapan membangun umat di masa depan.
    terimakasih.

    ———————————————————-

    @
    Waalaikum Salam
    Saya telah buka blognya, sangat menarik sekali. Postingan gambar yang lucu dan jenaka. Sangat cocok bagi pendidikan anak-anak, terutama kisah-kisah mengenai keutamaan keluarga Nabi Saaw dan mengenal lebih dekat. Teruslah berkarya dan sukses selalu. Wassalam. (Cahaya Islam)

    Shalat itu Boleh Di Langgar « Keluarga Sakinah said:
    Agustus 21, 2007 pukul 2:35 am

    […] di Mushola ungkapnya. Jadi bukan di langgar itu pengertiannya boleh untuk tidak dilakukan karena sholat adalah tiangnya Agama dan juga mampu mencegah dari perbuatan keji & mungkar, […]

    —————————————————————
    @
    ………………..hmmm. Boleh juga. Silahkan komentari juga isi makalah kami, mas. Wassalam (Cahaya Islam)

    agorsiloku said:
    Agustus 24, 2007 pukul 12:07 pm

    Alhamdulillah, penjelasan yang jernih. Semoga memberikan cahaya kebenaran bagi yang membaca dan mencarinya…..

    T Mulya said:
    September 6, 2007 pukul 7:02 am

    Sangat menarik apa yang disampaikan dalam tulisan tersebut diatas sekaligus mengingatkan kepada kita bahwa :

    1. Kebenaran harus dicari melalui usaha yang sungguh-sungguh. Artinya janganlah menjadi muslim keturunan (ikut-ikutan). Perhatikan ayat yang berbunyi :”Sesungguhnya pendengaran dan penglihatan akan ditanya/dipertanggungjawabkan…..”

    2. Manfaatkanlah data dan informasi yang melimpah untuk mencapai kebenaran. Janganlah sekali-kali membatasi akses kepada sumber informasi yang lebih luas (cukup puas dengan yang ada).

    3. Kebenaran dan keselamatan di dunia dan akhirat pada akhirnya hanya bisa dicapai apabila kesemua itu bermuara pada Akhlaqul Karimah (Akhlak yang mulia).

    luthfis said:
    September 19, 2007 pukul 9:21 am

    “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin[1], siapa saja diantara mereka yang benar-benar [2], hari Kemudian dan beramal saleh[3], mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” [4]

    yang jadi masalah adalah bahwa ayat ini tidak membatasi pada waktu dan tempat tertentu, misalnya orang kristen sebelum islam dan pada masa islam tapi tidak kenal islam. jadi ayat ini bersifat umum, dan setahu saya kita tidak bisa membatasi suatu ayat kecuali apabila ada keterangan yang mengkhususkannya.

    tinggal mungkin maslahnya mereka musyrik atau tidak? menurut saya selama mereka tidak mensekutukan Allah dengan yang lain, insyaallh mereka termasuk kedalam yang disebutkan ayat ini. (syaratnya kan ada 3: beriman kepada Allah, hari Kemudian dan beramal saleh).

    jadi ada kemungkinan orang Kristen yang tidak menyekutukan Allah seperti Kristen Unitarian akan selamat, begitu pula dengan Yahudi yang Sholeh (bukan Zionis).

    wallahualam.

    jo said:
    September 20, 2007 pukul 8:53 am

    tapi saya kurang sependapat kalau akses informasi yang luas saat ini semata-mata dijadikan alasan bahwa Orang Nasrani maupun Yahudi sudah dipastikan merupakan kaum yang merugi..siapa kita bisa menentukan siapa yag merugi dan siapa yang untung. bukankah kita disini hanya untuk mengebarkan cinta dan kasih Tuhan. Saya apabila punya seorang anak kelak, dan apabila dia tidak merasa puas dengan “ISLAM” maka saya tidak akan mau menghalangi dia untuk mencari sampai dia merasa yakin.

    mungkin saya salah menangkap tulisannya ya..karena saya pernah mendengar cerita yang buat saya sangat dalam maknanya..
    ada seorang murid yang beragama diluar Islam belajar dengan seorang Syeikh dan bertanya “..wahai guru, saya bukan Islam, perlukan saya masuk Islam”, “..tidak, silahkan kau jalani mana yang paling nyaman bagimu..”

    buat saya jawaban itu dingin sekali dan sangat menenangkan hati..karena ISLAM kan seperti kita ketahui pada intinya adalah “berserah diri”, jadi apakah dia sebutannya nasrani, budha, yahudi, katolik, konghucu, atau atheis sekalipun selama dia “menyerahkan dirinya” dia kan ISLAM juga..

    mohon pencerahan mas, kalau saja saya salah menagkap tulisannya diatas.

    mohon kalu berkenan membalas ke email saya juga, terima kasih..

    Cahaya Islam responded:
    Oktober 27, 2007 pukul 3:50 am

    Salam.

    Dalam pencaharian sebuah nilai kebenaran, perlu diperhatikan atas hal-hal yang berkenaan tentang prinsip-prinsip pokok (usuluddin) ajaran tersebut. Kalau sekiranya bertentangan dengan fitrah dan akal sehat manusia maka kita tidak akan menerima sebuah ajaran atau agama tersebut.

    ISlam yang didalamnya juga terdapat banyak aliran2. Salah satu dari aliran yang terdapat ditubuh Islam menerangkan tentang prinsip2 pokok ajarannya (Ketuhanan, Keadilan Tuhan Kenabian, Imamah dan Hari Kebangkitan) sesuai dengan fitrah dan akal sehat manusia.

    Wassalam

    benbego said:
    Oktober 31, 2007 pukul 9:11 am

    Sebenarnya klo kita memahami ayat basmalah saja itu sudah mencakup semua bahasan. Dengan nama Allah Yang maha Pengasih (baik Islam maupun Kafir) lagi Maha Penyayang. (Allah juga tentunya tidak akan menyia-nyiakan keimanan kita, dalam hal ini Allah sayang pada orang yang beriman yang tentunya berislam. Nasrani dan Yahudi pun pada dasarnya Islam tapi konteksnya sudah berubah karena itu diutuslah Nabi Muhammad Saw yang kita ketahui untuk menyempurnakan akidah dan Akhlak)
    Salam kenal dari http://pcmavrc.wordpress.com

    p a b l o said:
    November 26, 2007 pukul 11:08 am

    pembahasan tentang kebenaran bukanlah pembahasan tentang surga dan neraka, dan keselamatan atau kebahagiaan yang dijanjikan oleh suatu agama juga bukan keselamatan “nanti” dan kebahagiaan “disana”.

    kebenaran tidak terlingkup dalam ruang dan waktu.

    —————————————
    @Pablo
    Emangnya kebenaran di alam sana (akhirat) dibatasi oleh ruang dan waktu?

    Boed's said:
    Oktober 20, 2009 pukul 3:59 am

    1.sesungguhnya manusia benar-benar dalam keadaan kerugian, kecuali orang-orang yang beriman , Beramal sholeh, saling menasihati supaya mentaai kebenaran, saling menasihati supaya menetapi keshabaran (Al-Ashr)
    2.sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.(At -tiin; 6-7)
    Berdasarkan Al Qur’an surat AL-Ashr dan At-tiin diatas, saya berpendapat bahwa sesungguhnya seluruh manusia itu diciptakan oleh ALLAH SWT dalam bentuk yang paling sempurna, memiliki akal dan nalar yang sempurna namun demikian manusia akan dalam keadaan rugi dan akan masuk kedalam neraka jika dan hanya jika mereka tidak beriman, tidak beramal sholeh, tidak saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran…wallahualam.

    dithoap said:
    November 6, 2009 pukul 9:18 am

    Hi salam kenal,
    Blognya bagus!!!

    Kunjungin blog saya,

    http://dithoap.wordpress.com

    wijya kusuma said:
    Oktober 14, 2010 pukul 2:28 am

    lailah illallah

    kantoracemaxs said:
    Mei 13, 2013 pukul 8:38 am

    Artikel yang mnejadi pembelajaran nih,,

    indra said:
    Juni 24, 2014 pukul 5:45 am

    Artikel yang mencerdaskan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s